disclaimer. Shingeki no Kyojin © Isayama Hajime.
warnings. Shoujo-ai, fluffy-angst. nama-nama buku yang muncul merupakan milik penciptanya.
"Mikasa, pokoknya kau tidak boleh ke dojo."
Eren Yeager memperingatkan lagi ketika dia berpapasan dengan gadis bersyal merah itu sepulang sekolah. Untuk mencegah kejadian yang sama terulang, Eren-lah yang menjaga Mikasa sepanjang hari dari pergi hingga pulang sekolah, berharap ia tidak akan menyentuh jalanan dan menarik perhatian. Terutama, kadang Mikasa bisa saja ngotot untuk pergi ke dojo seorang diri. Eren juga mengawasi Mikasa selama yang ia bisa, memastikan ia tidak melakukan kegiatan olahraga berat atau apapun itu di sekolah.
"Boleh aku bertanya sesuatu, Eren?"
"… Hn?"
"Siapa yang sudah menyelamatkanku? Apakah itu kau?"
Mata Eren berputar di tempat. Alisnya sedikit menyatu , berpikir keras. "—Entah, malaikat?" terdengar jawaban skeptis penuh ambigu. "Aku hanya tahu kau mendapat kecelakaan dari Armin dan kami berdua tidak tahu."
(Siapa gerangan?)
Satu.
Mikasa menemukan dirinya tidak melakukan kegiatan apapun sepulang sekolah, itu membuatnya sedikit bingung karena biasanya ia akan melesat menuju ke dojo; ia bisa merasakan pasang mata hijau Eren di mana-mana, larangan sempurna bagi dirinya untuk melangkah pergi. Dirinya pun hanya mengekori Sasha, atau bahkan Krista melihat-lihat ekskul sebelum akhirnya pulang ke rumah. Alih-alih langkahnya ia geser sedikit menuju arah dojo, Eren akan marah besar—atau mungkin badai akan menimpanya.
Kehidupan statis Mikasa pun berulang, lagi, ia tidak pandang bosan mengingat asal keselamatannya terjaga dan ia tidak merepotkan satu orangpun di hidupnya.
Hari itu Krista membawanya ke perpustakaan, mengisyaratkan untuk membantunya belajar hingga waktu perpustakaan ditutup, Krista juga mengajak Ymir—yang malah tertidur seenaknya di tengah jalan—namun tidak mengganggu pembicaraan mereka seputar limit. Mikasa cukup dikenal sebagai pemegang ranking tertinggi di sekolah, banyak yang membuatnya terkenal namun tetap saja itu tidak akan menghindarkannya dari target pem-bully-an.
"Terima kasih, Mikasa!" ucap Krista senang seraya menutup bukunya. "Aku duluan ya, aku ingin ke downtown setelah ini."
Mikasa melepas Krista (yang menyeret Ymir) dengan pandangan statis. Ia tetap duduk di sana bertopang dagu, mulai mengambil buku terdekat untuk dibacanya—L'Etranger.
"—Kau lagi?"
Mikasa sudah hafal dengusan itu, walau ia tidak sering mendengarnya. Sang pemilik syal merah tahu betul siapa yang akan menggerutu begitu di sekolah ini terhadap dirinya. Mikasa mengalihkan matanya untuk melihat gadis pirang pendek berkacamata tengah membawa setumpuk buku bersamanya. Ia lupa bahwa areal itu adalah teritori sang serigala, patut ia beranalogi, serigala yang selalu bermain dalam tundra berisikan pohon buku.
"Memangnya aku tidak boleh ke perpustakaan?" Mikasa berkomentar skeptis seputar sapaan yang disampaikan Annie.
Annie duduk bersama tumpukan bukunya, mulai membuka lembar demi lembar dan tidak sekalipun memandang Mikasa. "Tidak … hanya heran."
"Karena?"
"Tch, sudahlah. Tidak penting. Sana, jangan ganggu aku."
Manik hitam Mikasa tertuju kembali ke buku fiksi yang ia baca, berusaha mengabaikan sosok di sebelahnya. Sesekali ia menaikkan syalnya menutupi mulutnya seraya tersedot ke dalam dunia bacaannya. Buku yang ia baca lebih condong ke psikologis, menarik untuk diikuti. Sementara, Mikasa mendengar suara peralihan buku berulang kali di sebelahnya; tampak gadis kutu buku itu tengah mencari sesuatu, dan kebetulan sekali apa yang ia kerjakan adalah tugas yang tadi ditekuni oleh Krista Lenz.
"… Butuh bantuan?" ujar Mikasa seraya mencuri lirik.
"Pikirkan masalahmu sendiri." Annie menolak keras.
"Kau terlihat sangat butuh bantuan."
"Bukan urusanmu."
Mikasa menutup bukunya dan menggeser diri menuju ke sebelah Annie. Jemarinya ia taruh di buku sementara Annie melempar pandangan picik ke arahnya—ia tidak peduli.
"Ini kau faktorkan dulu," ucap Mikasa, seraya menuju baris berikutnya. "Pengerjaan ini bukan menggunakan teori persamaan cosinus, tapi kau menggunakan persamaan umum trigonometri."
.
"Kau kenal dengan Annie Leonhardt, Armin?"
Tetapi yang semangat menggebrak meja ruang tamu keluarga Yeager itu adalah Eren. Mereka bertiga tengah bermain seraya Armin melihat membaca buku ketika Annie membawa pembicaraan tersebut. Annie sekelas dengan Armin, jadi dirasanya ia pasti tahu banyak tentang Annie—tapi Eren?
"Annie itu iblis, Mikasa." Eren bersuara. "Dia satu peringkat diatasku ketika ujian akhir, juga ketika kelasku sparring softball dengan kelasnya, ia monster. Hatinya terbuat dari es—"
Eh? Padahal ia kutu buku? –ingin Mikasa menambahkan itu. Eren terus mengoceh seputar kekurangan Annie, terutama sifatnya yang menyendiri, Armin hanya terkekeh mendengarkan pidato menggebu-gebu Eren Yeager.
"I-intinya Mikasa, ia sangat pendiam." Armin menyimpulkan setelah beberapa saat. "Sepertinya ia baik kok. Ia punya teman di kelasmu namanya Mina Carolina."
(Sepertinya baik, ya?)
"Armin, Annie itu monster! Mikasa, kau jangan sekali-kali dekat dengan Annie, ya?"
Mikasa hanya mencatat kata-kata Eren secara temporer, memang Annie tampak bagai musuh masyarakat, mendengar dari pembicaraan Eren, namun Armin berkata lain; sebenarnya siapa yang benar?
Setelah sekian lama, Mikasa tidak bisa melepaskan sosok Annie Leonhardt dari pikirannya. Terkadang ia memikirkan untuk mendekati gadis itu tetapi ia adalah elemen pengganggu—ia adalah sampah di mata Annie. Walaupun ia mengumpulkan informasi sekalipun, gadis pirang itu adalah sosok yang bagai dinding terluar orbit elektron, sesuatu yang tidak dapat tersentuh.
.
[Sama seperti sekarang; ia rasa, ia hanyalah pengganggu.]
Pulpen Annie mengikuti anjuran Mikasa (dengan sedikit enggan); Mikasa menyuruh Annie melihat koordinat cartesius trigonometri sebelum menjelaskan, beberapa saat mengikuti penjelasan, soal tersebut selesai.
"—Bagaimana; mudah, kan?"
Annie membuang muka, Mikasa jelas melihat telinganya memerah. Pemilik surai pirang itu lalu membereskan bukunya dan pergi dari hadapan Mikasa, meninggalkan pengguna syal merah itu kebingungan sekaligus menuai senyum kecil.
Gadis yang aneh.—pikirnya.
x x x
Annie memandang kursi di pelataran perpustakaan yang sepi. Memang, setiap hari perpustakaan minim dikunjungi orang, tempat yang tepat untuk menyendiri dan memfokuskan diri ke bacaan.
(Juga melupakan masa lalu.)
Sesekali matanya menuju ke ponselnya, memeriksa jam kalau-kalau sudah waktunya perpustakaan ditutup. Buku-buku bacaan perpustakaan itu memang menarik, banyak buku lama yang sudah tidak bisa ia beli ada di sana. Sesekali Mina mendatanginya mengajak untuk keluar makan kue bersama, dan kerap kali ia tolak. Bukan berarti ia menolak keramaian, ia hanya merasa tidak ingin, ia merasa tidak pantas.
Kacamatanya merefleksikan layar ponselnya, sebuah wallpaper menggambarkan dirinya di tengah-tengah dua lelaki; ia tersenyum kecil, sosok besar di kanannya mengeluarkan cengiran lebar, sosok tinggi di sebelah kirinya menguar senyum malu-malu. Annie menghela nafas seraya mematikan layar.
Reiner, Bertholdt—
—sampai kapan aku akan menolak kehangatan?
x x x
Beberapa minggu berikutnya, setelah nyaris tiga bulan kejadian itu, pada akhirnya Mikasa diperbolehkan Eren (dengan bantuan Jean) untuk mengunjungi dojo sekedar mengobrol dengan master pemilik tempat itu. Seperti sebelum-sebelumnya ia bercerita tentang apa yang terjadi pada pemilik dojo itu kepada dirinya dan alasannya untuk absen sementara. Pelataran dojo itu cukup ramai, merupakan satu-satunya seantero kota itu, dan mengajari beladiri aliran jujitsu dan semacamnya.
"Kau benar-benar seperti anakku, Ackerman."
"… Eh?" manik hitam itu membulat tidak percaya.
"Anakku sudah lama pergi." Pemilik dojo itu menerawang. "Kalian memiliki style yang mirip dalam penerapan beladiri."
Mikasa sudah merasa bersalah untuk mendengarkan pembicaraannya seputar anaknya yang telah tiada dan bagaimana ia mengukir karir. Ia menghabiskan Sabtu sorenya di dojo itu sebelum akhirnya Eren menelpon untuk menyuruhnya pulang.
Dojo itu terletak lumayan jauh, dapat dijangkau dengan sekali naik kereta bawah tanah. Sore itu ia melihat lampion-lampion tergantung menghiasi jalanan—sepertinya sebentar lagi festival menyambut tahun baru akan dilaksanakan di dekat sana. Ketika itu Mikasa menaruh kedua tangan di saku jeans-nya dan berjalan ke dalam stasiun. Sosok familiar tersangkut di sisi matanya seketika ia mencari tempat duduk untuk menunggu.
Gadis yang lebih kecil darinya itu berjalan melewatinya, seperti biasa mengenakan kacamata yang membungkus biru langitnya namun ia tampak berbeda dari biasanya. Surai pirang yang biasa diikat membulat ia biarkan tergerai bebas, setelan jaket bertundung berwarna cokelat muda polos serta celana panjang hitam ia kenakan. Sejenak dirinya—terpaku heran.
"… Annie?"
Tanpa sadar ia memanggil, dan tak sengaja juga suaranya itu membuat sang kutu buku menoleh. Mereka berada berseberangan, terpisahkan oleh rel kereta. Tampak Annie menuju tempat itu.
"—Kau lagi."
Tidak adakah kalimat lain untuk menyapanya?
Pemilik nada ketus itu berhenti mendengar sang pengguna syal merah memanggilnya.
"Ah, umm, tidak. Aku tidak bermaksud memanggilmu."
"… Oh."
Mereka bertukar sunyi.
"Kau terlihat berbeda."
"Ah, begitu?"
Lagi-lagi komentar dingin, seperti ia menghindari pembicaraan. Antara mereka berdua, samasekali tidak ada yang perlu dibicarakan, tidak ada yang perlu disuratkan atau disiratkan. Tidak ada—sama sekali tidak ada. Akan tetapi, Mikasa tidak menyukai hal tersebut, entah kenapa.
"Untuk apa kau kemari?" tanya Mikasa.
Bibirnya terbuka, seakan mengatakan sesuatu. Lalu dengan cepat bibir itu mengatup, seakan menggigit bibirnya sendiri untuk tidak mengeluarkan satupun suara yang tidak perlu. "—Bukan urusanmu."
[Dan lagi, ia lebih dulu yang melangkah pergi.]
x x x
Januari, pertengahan bulan.
Armin Arlert tidak pernah bilang pada Mikasa bahwa ia sendiri adalah orang yang dekat dengan Annie. Perlahan sang lelaki bersurai pirang itu bertanya-tanya akan atraksi sang pemegang syal merah itu kepada gadis bertinggi 153 sentimeter yang tengah mencari-cari buku bacaan di rumahnya. Jenis bacaan yang mereka berdua baca lumayan mirip: sastra klasik, fakta-fakta sejarah, juga fiksi tragis abad pertengahan.
Mikasa kerap kali bertanya soal Annie, lagi sepertinya mereka berdua tidak pernah bertemu. Apakah sebenarnya Mikasa ternyata dekat dengan Annie, walau dilarang oleh Eren?
(Ini bukan waktunya berspekulasi masalah orang, Arlert.)
Armin membawakan dua cangkir teh ke ruang baca milik keluarga Arlert itu, menangkap gadis itu tengah duduk—malah berjongkok di rak bawah dengan elegannya—dengan buku berjudul Divine Comedy di tangannya. Perpustakaan milik kakek Armin sangatlah besar, mencapai dua lantai sendiri; sehingga mungkin gadis kutu buku di sana sangat tertarik untuk datang dan tenggelam di lautan buku.
Sang pemilik rumah hendak memanggil gadis itu untuk menyicipi minum sebelum ponsel di kantung kemejanya berdering.
Incoming Call from Eren Yaeger.
"Ada apa, Eren?"
"Bisa kau datang ke rumahku sekarang, Armin?" nada itu terdengar tergesa-gesa. "Mikasa sakit dan sekarang aku bingung—kau bisa menolongku?"
"Baik, aku akan kesana lima menit lagi."
Iris birunya segera tertuju pada gadis kacamata. Ia ingin membuktikan sesuatu.
"—Ada apa, Armin?"
"Maukah kau ikut denganku ke rumah Eren?" Armin bertanya. "Saudara perempuan tirinya sedang sakit dan ia kebingungan, mungkin kau bisa membantu?"
"… Hah? Tapi, untuk apa? Aku kenal dengan Yaeger, tapi untuk apa aku membantunya?"
Armin memutar otak. "A-aku tidak tahu harus meminta bantuan siapa lagi, Annie. Boleh, ya?"
Entah Annie tidak bisa menolak nada memohon Armin atau memang wibawa Armin menipunya, gadis itu mengiyakan. Mereka berdua berjalan melewati tiga blok sebelum akhirnya sampai di rumah bertingkat sederhana dengan plat nama yang tampak dibuat sendiri.
Yaeger, Ackerman.
Mata birunya membulat—Ackerman? Maksudnya Mikasa Ackerman?
"Tunggu, Armin."
"Ada apa, Annie?"
Namun sepertinya ia sudah tidak bisa menyuarakan penolakan. "Ti, tidak apa-apa."
Armin memencet bel dua kali dan sosok pemuda bersurai cokelat dengan pasang mata zamrud membuka pintu. Terlihat kehabisan nafas setelah berlari.
"—Armin, kenapa kau mengajak dia kemari?"
"Ehh, karena dia perempuan?" alasan itu basi. "La, lagipula kau tidak bisa mengganti baju Mikasa kan, kalau ada apa-apa? Ma, maksudku—aku juga tidak sengaja bertemu dengan Annie dan mengajaknya kemari."
"Ah, terserahlah. Ayo masuk, kalian berdua. Maaf merepotkan."
Perilaku Eren berbeda, pikir Annie. Biasanya pemuda itu akan meledak-ledak tidak jelas dan lupa norma, mungkin tidak kalau di hadapan sebuah masalah—baguslah ia bisa dewasa sedikit. Dari obrolan Eren dan Armin, sepertinya Mikasa mengidap influenza, dikarenakan suhu dingin yang cukup ekstrim dan hujan salju yang tak kunjung usai saat Desember lalu.
"Eren—selain itu Mikasa baik-baik saja, kan?"
Eren menaikkan alisnya, sementara Annie masih bersandar dekat dinding ruang tamu tempat mereka bercengkerama, menjadi pemain pasif.
"… Oh." Eren memalingkan muka. "Tidak kok. Ia tidak … menemui apa-apa lagi setelah itu."
Annie membuang rasa penasarannya untuk tidak berkomentar. Armin menyatakan kalau kamar Mikasa ada di pojokan lantai dua, dan bahwa ia akan membantu Eren bersih-bersih dan menyiapkan makanan untuk Mikasa. Kemungkinan besar, Eren ingin meminta Armin bantuan untuk mengurus pekerjaan rumah selama absennya Mikasa.
Eren menoleh dari kepulan pot, "Oh, bisakah … kau cek dia, Annie?"
Annie menaikkan kacamatanya dan menuju tangga tanpa berkata apa-apa.
x x x
Annie menuju pintu paling ujung lorong, menemukan memang di sana ada nama Mikasa terpampang. Annie mengetuk pintu dua kali,
—Tidak ada jawaban.
Annie memutar pegangan pintu dan berusaha masuk tanpa suara. Menemukan kamar itu cukup berantakan—atau bisa dibilang, sudah terlalu banyak barang berada di tempat yang salah. Annie menaikkan kacamatanya lagi, menghela nafas panjang sejenak. Dara bersurai hitam itu tengah tertidur di kasur dekat dengan jendela, selimut yang menutupinya berantakan.
"… Tch." Ia tidak punya waktu untuk khawatir dengan orang.
Dimulailah ia mengambil segala macam buku pelajaran dan menaruhnya di rak kecil; baju-baju kotor ditumpuk dan nanti akan ia taruh di lantai bawah; segala macam alat tulis, juga kalender—
Ia menyadari ada tanggal yang dilingkari merah di sana. Sepuluh Februari, kalau Annie tidak salah ingat, itu adalah hari festival musim dingin kota Shiganshina—dikarenakan badai salju di awal tahun, kota memilih tanggal sepuluh Februari sebagai hari penggantinya.
Kenapa tanggal itu dilingkari merah? Sebuah hari spesial?
Udara di luar sangat dingin, ia tidak perlu membuka jendela kamar.
Setelah membersihkan segala yang bisa ia bersihkan dan membuat tempat itu lebih rapi, ia menepi menuju Mikasa yang tengah terlelap, mencoba menarik selimut itu untuk menutupinya.
Ketika tangan itu dengan lemah memegang pergelangan tangannya.
"… Eren?" panggilnya parau, matanya tidak terbuka lagi ia masih berkata-kata.
Mengigau? Entah, ia tidak tahu. Pegangan itu membuatnya kaget dan nyaris terpeleset dari tempat tidur Mikasa. Annie tidak menjawab, juga tidak melepas pegangan tangan itu darinya.
"Eren—tolong, siapapun, jangan pukul aku—"
Ia terdiam. Ia bisa mendengar nafas, guratan lirih Mikasa tidak beraturan dari jarak yang agak jauh, mengulang kata-kata yang sama—mengisyaratkan agar ia tidak terjatuh ke lubang yang dalam.
Annie tidak kuat mendengarnya, akhirnya ia mengeluarkan suara. Tangannya yang bebas meraih pundak Mikasa. "Mi, Mikasa?"
Pelupuk itu akhirnya terbuka, menuai lega dari sang gadis pirang berkacamata. Tampak dara yang sedang sakit itu tersentak dengan keberadaannya di sana, juga karena tangannya masih erat di pergelangan yang lebih kecil. Mikasa melepas pegangannya, namun Annie tak juga bergerak—ia masih terduduk di atas kasur Mikasa, iris birunya tak begitu terlihat karena kacamatanya.
"A-ah, maafkan aku, Annie."
"Itu … bukan salahmu." gadis yang lebih kecil mengelak, ia tidak bisa benar-benar menyembunyikan raut wajah khawatir dari wajahnya. "Kau tidak apa-apa … kan?"
Mikasa menggeleng, "A-aku—tidak. Tidak. Itu semua hanya mimpi."
"—Hn?"
"Bukan apa-apa Annie, sudahlah, kau tidak perlu menghawatirkanku."
"… Serius, tidak apa-apa?" nada Annie terdengar getir adanya.
"Iya, aku baik-baik saja."
Sejenak, yang ia rasa di hatinya adalah nyeri, sakit. Memang, ia bukan siapa-siapa Mikasa, namun melihat penderitaannya tadi, itu sudah cukup membuatnya mendera dalam nestapa; terlebih ia menyembunyikannya. Annie terus merutuk dalam hati bahwa ia bukan siapa-siapa dan tidak akan pernah menjadi siapa-siapa.
Annie memutar bola matanya sebelum akhirnya ia turun dari kasur Mikasa. "Ya sudah. Aku mau pulang."
"Terima kasih kau sudah datang …" Mikasa berucap. "Maaf sudah merepotkanmu."
"…"
[Tidak—kau tidak baik-baik saja.]
.
Annie menutup pintu perlahan. Meninggalkan Mikasa menatap diam. Kenapa Annie ada di sini—apa dia tadi mendengarku…?
.
.
.
"Bagaimana keadaan Mikasa?"
"Ia—tidak apa-apa."
Armin tengah membersihkan ruang tengah ketika Annie turun dari lantai dua. Raut wajahnya tetap datar, namun Armin tahu apa yang salah. Perasaan bersalah yang ia anggap salah. Atau mungkin Armin merasa itu hanya eksepsinya saja. Annie duduk di sofa tengah itu seraya mengalihkan pandangannya dari Armin berpikir keras akan sesuatu.
"Omong-omong, kau mau ikut festival tanggal sepuluh nanti?" Armin memecah keheningan. "Hari itu juga Mikasa berulang tahun ke tujuhbelas."
(Kala itu Armin menyadari ekspresi Annie memudar.)
"Nee, Armin." dara berbalut kacamata itu mendecak. "Boleh aku … bertanya sesuatu?"
[tbc.]
Endnotes. Maaf saya agak setengah webe-jadi mungkin chapternya agak "aneh". Saya belum ada komentar apa-apa sejauh ini; emm, terima kasih untuk para pembaca, siapapun yang telah memasukan fic ini ke daftar bacanya atau mereka yang nge-fave.
Sampai jumpa di chapter berikutnya~ xD
