disclaimer. Shingeki no Kyojin © Isayama Hajime.
warnings. Shoujo-ai, fluffy-angst. Sedang mengusahakan fluff #plak

a/n. Halo :3 terima kasih pada para pembaca dan pereview yang telah sampai disini (?), terima kasih juga atas kritik dan saran yang ada!

Dan emm, saya masih gatau mau bicara apa lagi, jadi... stay tuned dan sampai jumpa di chapter berikutnya~


Armin membawa sup untuk Mikasa sore itu, didapatinya Mikasa sedang memandangi langit-langit dengan tatapan datar. Mendengar suara ketukan yang diikuti Armin memasuki ruangan, Mikasa pun menoleh.

"Apa Annie sudah pulang?"

"Iya, baru saja." Armin berbohong, Annie masih bersama Eren di lantai bawah membantunya beres-beres. Pemuda bersurai pirang itu meletakkan mangkuk sup buatan Eren itu di meja terdekat juga segelas air. Mikasa pun mencoba duduk dari tidurnya. Armin membantunya memegang mangkuk (dikarenakan ia tidak mau disuapi), dan Mikasa mulai menghabiskan makanannya perlahan-lahan. "Sudah lebih enakan, Mikasa?"

Mikasa mengangguk, tangannya lalu meletakkan sendok itu di dalam mangkuk dan membiarkan Armin menaruhnya kembali di atas meja.

"—Apa aku sudah melakukan hal yang salah?" gumamnya.


Dua

Libur musim dingin telah berakhir, akhir Januari itu siswa-siswi memasuki sekolah layaknya biasa. Mikasa melingkarkan syalnya sekali lagi menutup erat lehernya; cuacanya sangat dingin, Eren dan Armin yang berjalan di sebelahnya pun ikut menggigil. Nafas yang dikeluarkan semua orang yang tengah berjalan pagi itu putih, jalan-jalan masih dipenuhi salju. Untungnya hujan salju sudah berangsur jarang sehingga suhu semakin naik, tetapi tanda-tanda musim semi belumlah tiba.

"Kenapa kita tidak libur sampai Maret saja?" keluh Eren seraya mengusap-usap kedua tangannya.

"Nanti kau dimarahi kepala sekolah kalau beliau mendengarnya lho, Eren?" Armin mengeluarkan senyum kecil.

Mereka bertiga sampai dipelataran sekolah, ketika mereka melihat sosok dara bersurai pirang itu tengah berjalan sembari membaca sebuah buku di tangannya, turut melangkah masuk.

"… Pagi, Annie!" sapa Eren lantang, sontak sang mata empat menoleh dari bacaannya.

"Oh … kalian. Selamat pagi."

Armin dan Eren tetap pada pembicaraan mereka sementara manik biru itu terhenti di manik hitam. Tatapan itu merupakan sorot yang sama bagi Mikasa; sedingin salju, bak bongkahan es yang tidak kunjung cair.

"Syukurlah kau sudah baikan." komentar gadis berkacamata itu pendek.

Mikasa membalas ucapan itu dengan seutas lengkung di bibirnya, "Terima kasih, Annie."

"—Tidak perlu berterima kasih."

Mikasa memperhatikan tubuh kecil itu berlalu di hadapannya, keadaan hari itu terlintas sejenak di benaknya. Ia merasa tidak pernah dekat dengan Annie, tetapi tidak juga jauh. Mereka minim bicara, lagi menghargai dengan banyak kata; kenapa Mikasa menyuratkan ada sesuatu yang mengganjal? Annie selalu menatap Mikasa dengan tatapan yang sama, dingin—tanpa belas kasihan lagi jeda kehangatan tersiratkan. Seberapapun hal yang dilakukan Mikasa tatkala mengubahnya.

Atau mungkin sebenarnya Annie membencinya?

[Mikasa pun memikirkan untuk menjauhi sang gadis kacamata itu; ia tidak akan pernah menginjakkan kaki di perpustakaan lagi.]

x x x

Annie menaikkan kacamatanya, hari ini ia memutuskan untuk menghabiskan diri lagi di perpustakaan membaca buku. Seingatnya hari ini sekolah akan melakukan pengisian untuk buku literatur klasik, sehingga dengan cepat setelah mendengar bel tanda pulang, ia menuju perpustakaan seorang diri. Matanya menyusuri jejeran buku baru dengan bantuan telunjuk kanannya, melihat rak yang berisi sama ia lalu mencoba menggunakan tangga untuk melihat rak demi rak di atasnya.

Jemarinya terhenti di sebuah buku bersampul biru.

"Buku ini—"

Ah.

Annie mengelus sampulnya, benar-benar masih baru. Ia kenal betul buku tersebut, bukan karena ia pernah melihatnya ketika merapikan lemari buku Mikasa beberapa saat lalu, namun karena buku itu adalah buku kesukaan seseorang. Sampulnya biru, dengan satu gambar kapal berlayar putih di tengahnya; tebal buku itu sedang, buku itu berisikan gambar-gambar indah nan eksotis mengenai laut dan cerita-cerita apik di dalamnya, dikemas dalam bahasa lugas lagi menenangkan hati.

Sudah beberapa kali ia melihat buku ini—pertanda apa yang akan dialaminya?

[Sudahkah waktunya ia harus kembali?]

Annie mengepalkan tangan dan mengetukkan ke buku itu sekali, menghela nafas berat. "—Tch."

BEEP

Ia mengeluarkan ponsel di kantung roknya, membaca sms yang masuk barusan. Manik birunya membulat seketika melihat sebaris pengirim dan dua baris isi pesan singkat tersebut.

'Ini aku, Annie.'

x x x

Jean Kirchstein mengetuk-ngetuk pintu kelas Mikasa, ia datang bersama Eren dan Armin. Sekolah baru saja bubar, banyak murid berlalu-lalang di sekitaran lorong bercengkerama atau menuju ekskul. Mereka bertiga lalu mengajak Mikasa keluar kelas, menuju tempat yang cukup sepi di pelataran pekarangan sekolah sebelum akhirnya bicara.

"Sejauh ini tidak ada yang mengganggumu lagi kan, Mikasa?"

Pertanyaan dan nada khawatir Jean menarik kedua alisnya bertautan, pemilik syal merah itu menggeleng.

"Kudengar sekolah itu—Titan, kalau tidak salah—mereka mendapat kejayaan kembali karena kedatangan murid baru." Eren membelalakkan mata. Armin menelan ludah. "Mereka sering berkeliaran di stasiun Shiganshina sekarang."

Artinya, akses Mikasa menuju dojo tiada untuk sementara. Siapapun dari mereka tahu bagaimana sekolah Titan mengincar bocah-bocah oriental seperti Mikasa. Luka Mikasa memang telah pulih, tetapi tetap saja ditakutkan hal yang lebih parah terjadi. Penindasan mereka terhadap ras oriental kurang lebih merupakan bentuk kesenangan semata, selagaknya mereka menganggap diri sendiri bangsa arya. Banyak berjatuhan korban dari sekolah terdekat karena hal tersebut.

"Baik … aku akan berhati-hati." ia tidak boleh merepotkan Eren, atau Armin, atau siapapun itu—keselamatan dirinya harus ia sendiri yang jaga, tidak boleh ada orang lain direpotkan olehnya.

Jean terus berbicara seputar SMA Titan, sebelum sepintas ia melihat emblem sekolah yang lain daripada yang lain melewati pekarangan sekolah tersebut, bersama seorang siswi beremblem SMA Maria. Sosok itu sangat familiar, terlalu sama; seharusnya di saat-saat seperti ini ia tidak pulang dari sarang permainannya.

Annie …?

Tanpa permisi, Mikasa menguraikan diri dari ketiga pemuda itu dan berlari pergi mengikuti arah kepergian Annie dengan sosok dari SMA Titan barusan.

"Tung—KAU MAU KEMANA—MIKASA!?"

Kicauan Eren ataupun Jean tidak menghentikannya.

x x x

Annie memasukkan kedua tangan di saku jaketnya, tampak tidak sabaran—banyak sekali pertanyaan yang ingin ia layangkan tetapi ia belum boleh angkat bicara sebelum sosok yang membawanya itu berhenti bergerak. Sementara sosok itu mengajaknya menuju sekitar stasiun di mana orang-orang, mereka tampak berkubu-kubu, entah wanita atau pria, dengan seragam senada dengannya berada, namun mereka tidak menghiraukan Annie ataupun sosok itu, mereka hanya menembus maju menuju pelataran stasiun dan terhenti di lahan parkiran stasiun tersebut.

"Mau sampai mana kau akan membawaku …" Annie mendengus. "Reiner?"

"Maaf. Aku tidak suka dipandang begitu oleh orang-orang satu sekolahmu, Annie." Pemuda tegap bersurai pirang itu berdehem.

Annie mengeluarkan tawa garing, "Buat apa kau repot pindah kesini segala dari SMA Trost? Kau cukup naik kereta sekali ke sini."

"—Aku hanya ingin menyeretmu pulang." ujar Reiner. "Kalau aku tidak memantaumu dari dekat, aku tidak bisa mendekati posisimu."

"Sudah kubilang berulang kali—aku takkan pulang," Annie mengeraskan suaranya. "Karena aku, ayah dan Bertl—!"

"Annie, cukup, itu sudah masa lalu kan? Sudahlah!" Reiner mendecak tidak sabaran. "Kau sering ke Trost kan? Pergi ke depan dojo ayahmu lalu pergi begitu saja? Sampai kapan kau akan terus kabur, Annie?"

Gadis berkacamata mengepalkan tangannya, kekesalan sudah terkumpul di raut wajahnya. Reiner memicingkan matanya, belum mau kalah dari argumen. Belum sempat mereka bertukar pukul, dentuman besi dan kaca dapat terdengar dari sisi lain stasiun.

"—Tch. Titan sampah." Reiner mendecak. "Apalagi, mereka menemukan mainan baru?"

Annie menurunkan kedua tangannya dari sisi pandang tempur Reiner, ia melirik ke arah kejauhan, suara dentuman kaca dan besi itu terdengar banyak, berserakan, lagi dekat.

"Memang apa yang dilakukan mereka?"

"Saat aku pindah kemari, mereka mencari seseorang yang mereka sering bully," pemuda besar itu menggenggam pagar kawat. "Bukan urusanku, aku tidak suka mengikuti kemauan mereka, hanya kalau ada yang tertindas saja." ia melanjutkan. "Biasanya korban mereka dilukai dengan gelas botol bekas bir atau pemukul bisbol besi."

Annie merasakan ponsel di dalam tasnya berbunyi, tertera lima buah miscall dari Armin dan sebuah pesan.

'Annie, kau lihat Mikasa?'

Annie membaca pesan itu dengan wajah kebingungan. Memangnya ia teman Mikasa? Annie merutuk dalam hati dan menutup ponselnya. Reiner masih di dekatnya tidak berkomentar apapun lagi mengenai korban bully itu dan anak-anak Titan yang mungkin telah menghabisinya.

Tunggu.

Seingatnya, sesuatu yang mirip pernah terjadi, dan—

"Reiner … kau tahu gadis yang mereka incar?"

"Hn …?" ia menoleh kea rah Annie. "Kalau tidak salah—Ackerman. Aku tidak hafal namanya."

Baru kali itu Reiner melihat Annie berwajah semarah itu; tidak semenjak kejadian beberapa tahun silam. Tak sempat berkomentar, ia menyaksikan gadis itu pergi ketika ia menunjukkan arah dan sigap mengikutinya.

Tidak akan ada hal bodoh terulang lagi kan, Annie?

x x x

Annie menarik nafas setelah menemui percabangan ketiga di jalanan kosong di luar stasiun. Area itu merupakan bekas pabrik yang dekat dengan sungai, banyak gedung kosong terbengkalai juga banyak tempat yang tidak terduga untuk bersembunyi. Annie tidak tahu-menahu kemana ia harus pergi. Terdapat asap di bangunan kosong tidak jauh darinya, dirinyapun bergegas menuju tempat itu.

Bau amis menusuk hidungnya ketika ia mencoba menggeser pintu besi reot yang menutupi tempat itu. Tujuh orang tergeletak di lantai berlumuran darah sementara Mikasa ada di tengah-tengah kumpulan delapan orang, tampak terengah-engah dan lelah karena kekalahan jumlah dan intimidasi.

(Tidak ada pilihan lain, ya?)

Manik birunya memerhatikan delapan orang sisanya dengan seksama—hampir semuanya membawa senjata; baik itu tongkat kayu, besi berkarat, atau botol bekas bir. Iapun menendang pintu besi sekeras-kerasnya untuk mendistraksi musuh-musuh di depannya mencari asal suara yang bergaung di dalam gudang bekas itu, kemudian melangkah masuk ketika seluruh mata tidak lagi tertuju pada Mikasa.

"A—Annie?"

Teriakan amarah terdengar bagai paduan suara dari delapan orang yang tersisa dalam bagian orkes sederhana itu, mengerang melihat keasyikannya diganggu. Annie menutup sebelah telinganya, tidak mengindahkan suara-suara bising yang kini mulai berlari menuju arahnya.

Aku samasekali tidak ingin melakukan hal ini lagi. Annie meraih kacamatanya, membukanya. Maafkan aku, ayah; maafkan aku, Bertl.

Orang pertama yang mendekatinya membawa besi karat, melihat tinggi Annie pemuda itu segera mengayun mendekati kepalanya, yang ia antisipasi dengan merunduk dan menyapu kedua kakinya sehingga ia melunur percuma di selusur tanah. Orang kedua dan ketiga tampak tidak ingin mengulang kesalahan temannya, menyerang dari dua arah secara sinkron; sayang dengan ukuran Annie, gadis itu dengan mudah menghindari dua tinju yang mengarah ke wajahnya dan tangannya ia gunakan untuk membanting kedua lelaki yang jauh lebih besar darinya ke belakang.

Kini tersisa empat orang. Iris safir itu menyorot kaku, keempat orang di sekitarnya bisa dengan mudah ia lontarkan bila ia mau; tetapi salah satu diantaranya membawa pisau lipat—terpintas dari gerak-geriknya memegangi kantung celananya. Walau hanya satu, bisa saja luka fatal terjadi bila ia tidak hati-hati. Annie memasang kedua tangannya di depan sisi matanya.

"—Maju."

Empat pemuda itu maju seketika; Annie berhati-hati dengan sisi kanan tempat pisau itu berada.

Mikasa berusaha berdiri, matanya sedikit bengkak akibat menahan pukulan dari gagang besi beberapa saat sebelumnya. Berusaha melihat, lagi terpaku melihat cara bertarung Annie di hadapannya.

Dengan luwes, memanfaatkan badannya yang kecil, kecepatan dan kelincahan; satu orang di kiri ia tendang dengan cepat di arah dagunya, ketika pisau mulai bermain, kedua tangannya menjaga keseimbangan agar ia tidak lengah masih ada dua orang lain di sana. Ketika kesempatan ada, ia lagi-lagi melakukan sapuan, disertai bantingan ke arah murid yang memegang pemukul bisbol. Pemilik pisau itu mundur sebelum akhirnya maju dengan kecepatan penuh. Annie menangkap pergelangan tangan pemegang pisau sesaat pisau itu meleset dari bahunya, kembali menghilangkan mobilisasi dengan membanting segera ke arah lain dan mengambil pisau. Sementara, orang terakhir; melihat Annie mengambil kendali pisau, berlari terbirit-birit melalui jendela.

Gaya bertarung itu pernah ia lihat di suatu tempat.

"… Ayo kita pergi dari sini sebelum mereka memanggil bantuan," suara dingin Annie menyadarkannya dari bisu, "Ayo, Mikasa."

Tidak ada lagi kata-kata yang tertukar di antara mereka hingga mereka kembali ke stasiun.

"Aku permi—"

"Tunggu, Annie." Mikasa menahan tangan Annie, membuat gadis yang lebih kecil terhenyak sejenak. Jemari itu menyentuh pipi Annie, mengusap garis yang dibuat oleh pisau lipat barusan. "—Kau berdarah."

Merasakan jemari yang asing merayap di pipinya; juga tatapan intens yang dipancarkannya, rona semu menguar diantaranya, semoga saja Mikasa tidak melihat.

"Sebentar, aku punya plester." Mikasa merogoh saku kemejanya, mengeluarkan sebuah plester berwarna polos dan menaruhnya menutup luka tersebut. "Ah, ini balasan dariku. Maaf aku selalu merepotkanmu, Annie."

Annie tidak menjawab, ia menelan ludah, kehabisan kata-kata. Rona di pipinya, sentuhan lembut dan hangat, juga debar jantungnya belum kunjung reda.

[Aku tidak pernah merasa direpotkan olehmu, bodoh.]


[tbc.]