disclaimer. Shingeki no Kyojin © Isayama Hajime.
warnings. Shoujo-ai/yuri, fluffy-angst.
Annie pulang dengan Reiner sehabis itu, menghabiskan dirinya lagi dalam buku bacaan sementara Reiner tengah menghela nafas lega. Untungnya karena kedatangan Annie, ia tidak menjadi bulan-bulanan Eren, Jean dan Armin yang menganggapnya sebagai anak SMA Titan yang menyulik Mikasa. Setelah menjelaskan kekacauan, mereka akhirnya mengenal Reiner Braun sebagai 'anak baik-baik' yang akan mencegah Mikasa mendapat beban dari SMA Titan lagi.
Senja telah berganti malam di jalan mereka dalam kereta yang cukup sepi. Reiner tengah mendengarkan lagu melalui earphone sementara ia mencuri lirik, melihat teman kecilnya itu tengah membaca buku dengan untaian senyum kecil. Reiner tahu betul, buku yang dibaca oleh Annie tidak pernah buku ringan atau buku yang membahagiakan.
"—Tampaknya kau senang, Annie. Ada apa?"
Rona merah sedikit terlihat di wajah gadis berkacamata itu. Ia menoleh cepat seperti kehilangan dirinya.
"Tidak … kau hanya berhalusinasi saja."
Reiner menyeringai kecil; toh ia tidak ingin membahas lebih jauh, takut-takut malah dirinya yang mati karena rasa penasarannya.
"Benar kau tidak ingin kembali?"
Pertanyaan itu berulang terlontarkan. Annie menutup buku bacaannya dan menatap Reiner dengan pandangan sedatar mungkin. Kali ini Reiner mendengar jawaban yang lain yang sanggup membuatnya membuka mulut sejenak.
.
.
.
"Entahlah." Annie berucap. "Aku—belum berani."
Tiga
Mikasa kembali mengambil kegiatannya di dojo atas pengawasan Jean dan Armin beberapa hari kemudian. Karena Reiner-lah, pengaruh Titan berhasil dihilangkan dari sekitar area stasiun Shiganshina, juga mengembalikan kedamaian di sekitarnya. Sesekali mereka akan bertemu dan bercengkerama; Reiner kini menjadi sosok yang bagai kakak bagi mereka berempat.
Namun, Mikasa sendiri tidak pernah menemui Annie lagi di sekolah, atau di perpustakaan.
Dirinya hanya bisa mengeluarkan ekspresi heran bercampur penasaran mendengar dari Armin bahwa gadis itu tidak menyentuh perpustakaan semenjak hari itu; Krista ataupun Sasha juga bilang ia tidak pernah menemui Annie ketika ia berada di sekolah.
Mikasa—sekedar ingin melihatnya lagi.
Sungguh, ia tidak tahu seberapa banyak ucapan terima kasih yang akan ia lantunkan pada gadis yang sudah menyelamatkan hidupnya saat itu.
Memang, Mikasa sendiri bukanlah seorang yang bisa dibilang terlalu lemah; hanya kebiasaannya untuk mengabaikan sekelilingnya menjadi masalah terbesarnya, membuatnya tidak fokus dan membahayakan dirinya sendiri seperti saat itu. Andai Annie tidak ada di sana, dia—
[Padahal Mikasa kala itu ingin melindungi Annie. Malah ia mendapatkannya.]
"Kenapa, Mikasa?" Reiner tengah berdiri di sampingnya, mereka berdua menunggu Jean dan Eren yang masih berkutat seputar PR Kimia di hadapan mereka. Mereka berempat tengah berada di downtown kota sekedar mencari suasana untuk belajar, ketika mereka bertiga bertemu Reiner.
"… Kau kenal Annie, kan?"
Reiner memutar bola matanya. "Yah—kami teman sejak kecil. Aku sudah pernah bilang, kan?"
"Ia pintar beladiri?"
"Hn… ya, itu dulu. Kami sering berlatih bersama."
"Kau tahu dimana ia sekarang?"
"Oh, biasanya dia akan membaca buku di suatu tempat." Reiner mengaduk es kopi yang dibelinya. "Memangnya kenapa?"
"—Ia sering menuju tempat lain untuk membaca?"
"Biasanya perpustakaan, rumahnya, taman yang sepi atau—" pemuda bertubuh besar itu seakan ingin bicara namun ia mengurungkan niatnya. "—Ah, lupakan saja. Maafkan aku."
Mikasa ingin menginterjeksi lebih lanjut sebelum raut wajah Reiner memuram, gadis bersyal merah itupun mengurungkan niatnya. Pembicaraannya pun diubah haluannya ke tempat lain. Tak lama, ketika jam menunjukkan pukul empat sore, Reiner pun hendak pergi; berkata bahwa ia tengah ada urusan di SMA Titan.
"Mikasa, bukannya hari ini harusnya kau ke rumah sakit untuk check-up?" Eren bersuara cukup lantang, mengingatkan gadis itu. "Aku dan Jean nanti akan menyusul, kau duluan saja bersama Reiner."
Reiner menelengkan kepalanya, "Maksud kalian Rumah Sakit Trost yang ada di dekat SMA Titan?"
Mikasa mengangguk pelan, ia lalu melilitkan syal merahnya hingga menutupi mulutnya dan melangkah pergi. Dara bersurai hitam itu tidak bertukar sapa dengan Reiner sampai mereka tiba di depan Rumah Sakit Trost beberapa saat kemudian. Rumah sakit itu berada antara perbatasan Shiganshina dengan ujung Kota Trost dan Karanese, dan merupakan rumah sakit terbesar di area itu.
"Aku—hanya bisa mengantarmu sampai di sini, tidak apa-apa, kan?" ujar Reiner seraya melambaikan tangan. "Jaa."
x x x
Seusai Mikasa menyelesaikan sesi pemeriksaannya, ia tengah menunggu Eren menjemputnya. Kata Eren, ia akan sedikit lama karena ia harus mencari Armin terlebih dahulu di sekolah untuk urusan PR-nya. Dara itu menghela nafas panjang seraya berjalan menyusuri lorong bercat putih dari ruangan dokter pemeriksanya menuju ruang tunggu di tengah lobby.
Manik hitamnya menangkap keberadaan sosok bersurai pirang berkacamata tengah berjalan menuju lift dan tidak melihat ke arahnya. Gadis itu terhenti, menanti hingga Annie pergi dari sisi matanya sebelum akhirnya menuju lift yang sama.
[Kemana gerangan ia akan pergi?]
Mikasa mencoba menuju lantai 4.
Begitu keluar, ia menemukan penanda lantai yang menandakan bahwa lantai itu berisi kamar perawatan dari nomor 400 hingga 420. Kebetulan sekali, sosok pirang itu tidak jauh dari pandangannya; gadis yang lebih kecil darinya itu menuju kamar tengah dari sayap kiri gedung. Mikasa mencoba untuk mengikutinya tanpa suara.
Kakinya terhenti di depan ruangan bernomor empat ratus tiga belas itu, hanya menatap nama yang terpampang di sana dengan tatapan nanar.
'Bertholdt Fubar'
Mikasa sesegera mungkin pergi dari ujung pintu ketika seorang suster menyapanya.
"Ah, Miss Ackerman, sore yang indah untuk anda." Mikasa ingat bahwa suster itu yang merawatnya ketika ia menjadi pasien kala itu. Suster dengan raut wajah gembira dengan kacamata yang selalu menempel dan surai cokelatnya yang sedikit tertutup beret putih. "Sudah berangsur baik, kurasa?"
"Se-selamat sore, suster kepala Hange Zoe," jawabnya agak terbata, merasa dirinya tertangkap. "Ya … aku sudah merasa sangat sehat. Terima kasih atas terapi dari dr. Smith dan anda, suster."
"Kau kenal dengan gadis yang selalu menjenguk itu?"
Mikasa tersentak sempurna.
"—Dia, Bertholdt Fubar, sudah lama ada di sini karena koma." Hange Zoe melanjutkan. "Gadis itu juga baru akhir-akhir ini menjenguk lagi, biasanya hanya lelaki besar berambut pirang itu."
Kedua belah bola mata itu membulat, "Boleh aku tahu … apa yang terjadi?"
Hange Zoe menggeleng, suster itu lalu melengos pergi meninggalkan Mikasa seorang diri menatap lorong. Eren tak kunjung datang lagi mentari senja sudah menjelang.
"—Mikasa?"
[Suara yang familiar itu menohoknya.]
Mikasa melirik untuk menemukan Annie tengah berada di lorong tempat mereka berbicara, terlihat begitu syok, kaget, entah ekspresi apa yang sebenarnya ia pasang. Sepertinya ia sudah lama di sana, mendengarkan pembicaraannya dengan suster itu sedaritadi; Mikasa jelas melihat bahunya bergetar.
"Sedang apa kau … di sini?"
"Aku hanya—melakukan pemeriksaan dan bertanya tentang terapi—" Mikasa menjelaskan seraya melihat tangan itu merayap, mencengkeram syal yang ia kenakan, marah menguasai kilatan mata birunya.
"Kenapa—" suaranya tertahan. "Kenapa kau—"
"Ini cuma kebetulan," ucapnya, memotong pembicaraan. "Aku tidak bermaksud bertanya—maafkan aku, Annie."
Tangan kecil itu lalu melepas cengkeramannya, Mikasa dapat mendengar jelas decakkan lidah dipenuhi amarah itu sebelum sang dara bersurai pirang itu melangkah pergi.
"Annie, tunggu; aku minta maaf."
Pegangan pada pergelangannya dilepas dengan mudah, meninggalkan pemilik syal merah itu dalam sepi. Iris hitamnya terfiksasi ke sosok yang perlahan mengecil dari sisi pandangnya dan menghilang dari lorong putih itu, meninggalkannya sendiri. Bibirnya masih terbuka, alih-alih memanggil tetapi suaranya tertahan di antara tenggorokannya.
Apa—apa yang sudah ia perbuat?; Seenaknya saja masuk ke dalam wilayah orang lain tanpa permisi dan melukainya. Tangannya mengepal keras menggenggam syalnya sendiri; kesal akan dirinya sendiri, geram karena perbuatannya barusan. Lagi, apa yang bisa ia perbuat? Segalanya telah hancur tanpa ia bisa perbaiki lagi.
Ia bukan siapa-siapa gadis kecil itu, juga ia mungkin telah sebebas-bebasnya datang dan malah menuai lubang baru. Tetapi tak sekalipun pernah ia bisa mengusir gadis itu dalam metafora gunungan pikirannya.
"Annie, aku—"
[—telah jatuh.]
.
.
.
Annie menghela nafas panjang setelah berlari keluar dari rumah sakit menuju ruang terbuka hijau sekitar rumah sakit. Ia tidak dapat mengatur nafasnya sendiri, ia menggigit bibirnya dengan frustasi. Sesekali ia mengerjap, menengadah ke arah langit agar air matanya tidak turun.
Bodoh.
Bodoh—sangat bodoh.
Kenapa di saat seperti ini emosinya tidak terkontrol, juga membiarkan Mikasa terkena luapan emosinya?
Annie membuka kacamatanya, perlahan air matanya turun. Isak dan desah kehilangan tak bisa lagi ia bending sejadinya. Gadis itu merutuk, memarahi dirinya sendiri, ingin rasanya ia memukul dirinya sendiri hingga babak belur.
[Kenapa Annie, kenapa? Kau takut melihat dirimu terbuka di hadapan Mikasa? Takut apabila lukanya terbuka, Mikasa akan membencinya?]
Ia menutup kedua matanya dengan kedua belah tangannya, terus meringis tanpa suara di tengah senja.
x x x
Waktu berputar, musim itu mulai menghangat menandakan sebentar lagi musim semi akan datang. Hari ini adalah sepuluh Februari, hari festival musim dingin yang pernah ditunda karena badai salju di awal tahun. Lampion-lampion dan banner bergantungan, menggambarkan semarak musim dingin di antaranya. Kios-kios dan toko berjejer di pinggir jalanan bertahtakan lampu kerlap-kerlip dan hiasan-hiasan penarik mata. Suasananya nyaris sama dengan festival musim panas, bedanya, di festival musim dingin terletak pada jajanannya, juga atmosfir di antaranya.
Mikasa cukup terkaget-kaget dengan kejutan kecil yang sudah direncanakan Eren untuknya pagi tadi di sekolah; sebuah kue, dan ucapan tanpa henti terlantun. Malam inipun Eren mengajaknya untuk menikmati festival musim dingin bersama dengan teman-teman sekolahnya yang lain. Tetap dengan syal merah marunnya, Mikasa mengenakan jaket abu-abu gelap dengan kemeja sewarna darah di dalamnya. Mereka berdua berjalan bersisian menuju keramaian, di mana di sediakan api unggun raksasa di tengah-tengah lapangan kota.
"Wow. Festival Shiganshina benar-benar keren." Eren menyuarakan kekagumannya. "Lihat, Mikasa! Api tahun ini jauh lebih tinggi!"
Manik hitamnya mengikuti apa yang dipandang iris zamrud milik Eren. Festival itu sangatlah penuh dengan orang-orang antara dua kota, terkadang bingung untuk hanya memilih arah jalan. Ketika ingin menghampiri stand-stand yang tersedia, mereka menemui Armin dan Reiner yang tengah menikmati Salzkartoffeln.
"Nanti akan ada peluncuran kembang api raksasa selama sepuluh menit di lapangan utama," ucap Armin diselang menikmati makanannya. "Sekitar tengah malam, masih cukup lama."
Eren mengeluarkan senyum merekah, "Sepertinya menarik, tadinya aku dan Mikasa hanya akan di sini sampai jam sebelas."
"Tenang saja, besok kan kita libur." sanggah Reiner disertai kekehan lebar.
Pembicaraan itu berangsur cukup lama, hingga mereka menambah porsi makan mereka di kedai yang sama.
"Apa Annie datang ke festival ini, Armin?" bisik Mikasa di tengah kentang mereka yang ketiga.
Armin menggeleng, "Tidak, kata Reiner dia paling tidak suka keramaian."
"… Oh," ia mengeluarkan suara kecewa.
Sesekali pandangannya ia alihkan ke langit bertabur bintang di atasnya. Hari itu sungguh hari yang indah lagi hangat bagi Mikasa Ackerman sepanjang perjalanan hidupnya, sayang kekosongan tetap saja tak terisi semenjak saat di mana ia melakukan kesalahan yang bahkan ia tidak mendapat kesempatan untuk meminta maaf.
Gadis itu telah sempurna pergi dari kehidupannya; sama ketika ia datang. Bak semilir angin, bersinggah dalam hitungan yang tak bisa dipahami lagi tak dapat dinikmati.
"Mikasa, apa kau mau menemaniku ke kedai itu?" Sasha menarik baju Mikasa. "Aku ingin membeli sesuatu untuk Jean."
"… Kau bisa romantis juga, cewek kentang?"muncul ucapan sarkasme.
"Aww, kejam sekali kau, Mikasa." Sasha mengeluarkan tawa renyah. "Aku tidak melulu memikirkan kentang saja!"
Kios yang ditunjuk oleh Sasha Braus menjual pernak-pernik secondhand namun masih terlihat mengilap dan tanpa cacat. Kios itu merupakan kios kecil, namun cukup menampilkan banyak aksesoris untuk kaum adam maupun hawa. Sasha melihat di bagian kiri, mencari-cari handband untuk Jean Kirchstein sementara Mikasa menunggu, toh ia bosan melihat-lihat kedai makanan.
Memperhatikan gerak-gerik Sasha, matanya turut menangkap sebuah benda. Kalung perak dengan ornamen kupu-kupu menggantung; cantik, manis, seperti perangai seseorang.
"Kalau kau suka, beli saja, Mikasa." celetuk gadis penyuka kentang rebus itu. "Sayang lho, kalau terbeli orang."
Atas dasar persuasi, Mikasa membeli kalung tersebut. Ia tidak ingin memakainya, ia ingin saja menyerahkannya kepada Annie.
Alisnya berkerut sejenak, kenapa Annie?—apa ini sekedar bentuk permintaan maaf; bila ia bisa bertemu dengannya setelah sekian kali mencari?
Setengah jam kemudian, dengan akhirnya Sasha menemukan warna yang ia inginkan, mereka keluar dari toko dan bergabung dengan yang lain. Jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas, orang-orang yang berlalu-lalang mulai terpusat di bagian tengah, menanti perakit kembang api melakukan pertunjukkannya. Berbagai tarian jalanan juga sedikit pawai turut mewarnai festival itu, menambah kesemarakan juga ketentraman.
Mikasa mencari tempat yang cukup sepi untuk sekedar duduk, capek menyatu dengan keramaian yang semakin mengeruh. Di tengah sorak-sorai festival, tak ada yang tidak berbahagia. Kursi panjang yang awalnya ia duduki seorang diri diisi oleh orang lain.
"… Annie?"
Gadis di sampingnya sontak menoleh. Mikasa hafal betul, walaupun surai itu dibiarkannya tergerai, agak berantakan dan dijaga sedikit banyak menutupi wajah dan kacamatanya. Tidak disangka Mikasa ia akan berada di sana.
"Mi … kasa?" matanya mengerjap beberapa kali.
Sebelum tangan itu mengayun pergi, segera ia menahannya. "Annie, tolong. Dengarkan aku."
Mikasa menariknya ke sisi sepi lapangan itu, ke dekat bukit tempat mereka bisa melihat pemandangan kota secara keseluruhan. Annie tidak berkomentar lagi menolak ajakan itu. Mereka terhenti ketika mencapai atas bukit, jelas pemandangan lapangan tadi di bawah mereka. Mikasa tidak membiarkan tangan itu pergi darinya, mereka berhadapan, iris kelam memandang biru langit yang muram.
Dara berkacamata itu membuang muka, "—Kau ingin minta maaf? Kau tidak melakukan apapun yang salah."
"Ah …" rasa bersalah tetap tertinggal di hatinya. "Aku … aku tidak tahu ingin berkata apa lagi. Aku tidak ingin membuatmu—marah."
Pegangan di tangannya terlepas. Annie menyibakkan surai pirang yang menutupi wajahnya. Tak dapat berkata dan hanya menjadi pendengar.
"Aku tidak ingin kau membenciku."
Mereka berdua menghening. Manik biru laut itu tetap memandangnya getir, lagi tidak terbaca. Sementara manik hitamnya masih menunggu akan jawaban, entah satu huruf atau satu kata berarti baginya.
{—Sebentar lagi, kembang api akan dinyalakan. Harap hadirin ikut melakukan penghitungan mundur.}
Ingin Mikasa angkat bicara lagi namun nafasnya tercekat melihat gadis itu menutup jarak di antara mereka dan merasakan bibir gadis yang lebih pendek itu menyentuh bibirnya dengan lembut. Kembang api mulai bermain di balik layar, memunculkan warna-warna beragam di tengah malam. Annie lalu melepas jarak di antara mereka.
"Aku tidak pernah membencimu." ia berucap. "—Aku mencintaimu, Mikasa Ackerman."
[tbc.]
endnotes. Tenang, cerita ini belum menemui akhir kok, itu aja yang saya ingin bilang xD maaf pace-nya kerasa cepat.
Terima kasih bagi para pembaca dan semua yang menitipkan review dan masukannya. Sampai jumpa di chapter berikutnya~
Edit 20/10. Makasih untuk DJ-san seperti biasa untuk koreksinya 8D
