disclaimer. Shingeki no Kyojin © Isayama Hajime.
warnings. Shoujo-ai, fluffy-angst.
Kembang api terus menjalar di udara ketika sentuhan lembut itu usai. Mikasa Ackerman terpana sementara manik biru Annie Leonhardt tak berkata. Gadis yang lebih rendah darinya tersenyum kecil sebelum akhirnya pergi, berlari meninggalkannya. Alih-alih menggapai, tangan itu hanya menginderai udara kosong, lagi matanya tak berkedip menyaksikan punggung itu menghilang di keramaian.
Kembang api terus menjalar, mengeluarkan spektrum warna yang berbeda-beda, menghiasi langit dan menghamburkan percikan api penuh nuansa haru yang semu.
Mikasa menurunkan tangannya, kini meraih ujung bibirnya sendiri.
.
.
.
(—Hangat.)
Empat
Festival musim dingin Shiganshina ditutup dengan sangat manis; kembang api bertaburan di angkasa dan pesta penutupan yang sangat meriah menampilkan berbagai kesenian khas kota. Semua orang, bahkan hingga dua minggu seusai festival turut membicarakan atraksi panggung dan mewahnya acara, juga kebahagiaan yang mereka dapat di sana.
Mikasa pun masih memikirkan hal yang sama sejak saat itu.
Ciuman itu. Pernyataan itu. Ekspresi itu.
Mikasa bertopang dagu lagi di tengah pelajaran Matematika. Sesekali melipat kertas halamannya, atau membuang pandangan ke lapangan lepas.
Ciuman itu. Pernyataan itu. Ekspresi itu.
Hangat dan dingin bercampur jadi satu, bergejolak—membuatnya bingung memilih arah. Apa ucapan itu benar adanya? Apakah ia harus membalasnya? Bagaimana ia akan membalas pernyataan tersebut? Akankah Annie mendengarnya?
Ia mendecak, sebelum dilanjutkan dengan merana dalam diam untuk kesekian kalinya.
(Annie, aku—)
x x x
Kakinya pun hari ini ia gunakan untuk mencari keberadaan si kutu buku. Perpustakaan, bahkan seluruh tempat sepi di lingkungan sekolah telah ia absen. Ia juga sudah memasukkan satu daftar di blacklist-nya untuk tidak mencari di rumah sakit, takut-takut terjadi hal serupa seperti saat ia datang. Sayangnya sang gadis pirang itu tak dapat dilihat dimanapun; sosoknya seperti asap putih di tengah-tengah salju—samar, atau bahkan tiada.
Mikasa melilitkan sisa syal untuk menutupi wajahnya, seraya ia berjalan dengan gontai hendak meninggalkan lingkungan sekolah. Ketika sampai ke gerbang, dirinya malah hendak menuju perpustakaan untuk meminjam buku dan sekedar meminta maaf kepada petugasnya untuk selalu menyisiri dan tidak melakukan apa-apa di sana.
Pencarian hari ini pun tidak membuahkan hasil, nyaris saja bulan berganti ke urutan tiga sebelum ia bisa menemukan gadis itu. Terlalu banyak kata—entah hanya kias atau bual—ingin ia tumpahkan dan sampaikan. Mikasa butuh kejelasan, dan Mikasa pun butuh untuk menjelaskan.
Ataukah; Annie sendiri yang selalu kabur darinya?
Ia menggeser pintu menuju perpustakaan, menemukan Krista dan Sasha tengah berkutat dengan setumpuk tugas Fisika. Krista dan Sasha melambaikan tangan tanpa suara tambahan kepada Mikasa yang mengangguk pelan. Pemilik syal merah itu kini menuju sebuah rak buku berisi fiksi kuno; ia tidak peduli buku apa yang ia pilih, setidaknya untuk mengganjal kehampaannya.
Sebuah buku bersampul cukup tua ia kenali betul tengah menyembul di rak, di antara antero buku-buku usang lain yang cukup terawat. Sampul biru, logo penghias sebuah kapal kertas berwarna putih; Mikasa memiliki buku tersebut di rumahnya, walalu begitu, tetap ia penasaran melihat keadaan buku tersebut.
"—Ah."
Ketika tangannya hendak mengambil, sudah terlebih dahulu tangan kecil lain menyentuh ujung buku; tangan mereka bersentuhan. Suara itu begitu familiar.
"… Annie?"
Gadis berkacamata itu melirik ke arahnya, melakukan kontak mata sebelum akhirnya menangkis tangan Mikasa dari punggung tangannya. Dengan cepat ia mengambil buku tersebut dan menjauh tanpa berbalas satu hurufpun. Mikasa menahan bahu Annie dari menghindarinya, namun itu juga tidak diindahkannya. Hampir menyerah, Mikasa berusaha menahannya dengan mengunci jalannya ketika mereka menemui rak buku.
"Annie."
Mikasa berusaha mengeluarkan suara serendah mungkin. Melihat dirinya dipojokkan, Annie menghela nafas sederhana, tidak melakukan sedikitpun usaha untuk meronta menolak. Pandangannya begitu bening; tak terlihat satu dusta maupun rasa di dalamnya.
"Apa?" Annie berucap, memecah keheningan. "Kalau kau tidak ingin mengucapkan apa-apa, biarkan aku pergi."
Mikasa merapatkan bibirnya, kedua tangannya kini menjauh dari rak. Gadis yang lebih kecil sesegera mungkin menyelip pergi. Kalimat singkat itu jelas menghentikan segalanya; sebenarnya apa yang ingin ia siratkan dalam kata-kata? Apakah ia ingin menyatakan hal yang sama, atau ingin menolaknya, membiarkan jarak antara mereka yang tak pernah dekat semakin menjauh?
.
[Sejenak musim semi akan menjelang; namun bukan untuknya.]
.
.
.
Ia mencoba berlari sejauh mungkin dari sekolah; entah kemana kaki itu membawanya. Setelah sekian lama menghindar, tidak sengaja pandangan mereka berdua bertemu lagi dan kini ia menyesal.
Untuk apa saat itu kata-kata cinta ia sebut?; Kenapa ia lagi-lagi berlaku seperti pengecut?
Setarik nafas ia embuskan ketika kakinya melangkah menuju ruangan putih milik Rumah Sakit Trost. Dirinya secepat mungkin masuk ke dalam lift dan menuju lantai empat tempat sahabatnya terbujur tidak terbangun.
"Bertholdt."
Sunyi.
"Kenapa aku ini pengecut? Lagi-lagi aku kabur, kau lihat?"
Andai sahabatnya ini siuman, mungkin ia akan bercerita sambil menangis tersedu-sedu akan kebodohannya.
"Sama seperti saat itu aku membiarkanmu—"
Tiada jawab.
"Hei, aku menyukai seseorang sekarang, dan ..." Annie menggigit bibirnya, kacamatanya ia singsingkan dari batang hidungnya. "... Kenapa malah aku yang pergi setelah aku bilang aku suka padanya?"
Sepi.
"Kapan, Bertl, kapan!?" nadanya meninggi. "Kapan aku tidak akan kabur? Kapan!?"
Sunyilah yang menjawab curahan hati yang dilakukan dengan monolog, Annie Leonhardt tengah berbicara dengan tembok.
x x x
Tak terasa, Maret tiba. Februari berlalu cepat, lagi setiap harinya terasa tanpa makna. Maret bahkan nyaris habis, bak tiada isi dalam sebuah toples; kaleidoskop tanpa guratan, atau gelas tanpa cairan. Mikasa tengah membereskan bukunya ketika ia melihat kalung berornamen kupu-kupu masih tergeletak di atas mejanya tanpa makna. Matanya memburam sejenak, gadis itu ingat betul alasan di balik ia menyisihkan sedikit uang untuk sekedar membeli barang yang tidak biasa ia beli;—semata-mata hanya untuk diberikan pada gadis kecil itu. Namun, tak ada kata yang dapat ia tukar padanya, segala huruf menjadi tidak bermakna baginya untuknya, atau sedikitpun harap tersisa untuk bertemu dengannya yang bahkan mencari jarum di tumpukan jerami.
"Kau tidak memakai itu, Mikasa?"
Suara Eren dari belakang mengagetkannya.
"Ini ..."
"Oh, atau itu untuk hadiah?"
Mikasa memutar bola matanya.
"Kenapa tidak cepat kau berikan?" iris zamrud Eren sedikit berkilat. "Nanti percuma, lho?"
"—Bagaimana bisa?" Mikasa bertanya.
"Kau ingat ketika aku memberikan syal itu?" Eren menunjuk syal merah di leher Mikasa. "Aku memberikannya tanpa alasan khusus. Hanya saat itu kau kedinginan."
Mikasa mengambil kalung itu dan memasukkannya ke tasnya, menuai tarikan alis saudara tirinya. Eren menangkap senyum tipis Mikasa sebelum akhirnya ia melangkah terlebih dahulu keluar rumah.
[tbc]
