disclaimer. Shingeki no Kyojin © Isayama Hajime.

warnings. Shoujo-ai, fluffy-angst.


"Bertl, aku menyukai—seseorang."

PIP PIP PIP—

Jawabannya hanya suara mesin.

Annie menurunkan kacamatanya sejenak, kata-kata terus mengalir begitu saja dari ujung lidahnya. Sudah lama ia tidak seterbuka ini, walau memang lawan bicaranya hanyalah seorang yang tergolek dalam koma. Biasanya bila Bertholdt Fubar ada pun ia menjadi seorang yang mudah tumpah; Annie Leonhardt tidak suka—atau mungkin—sulit dalam bercengkerama lewat aksara.

["Aku tidak pernah membencimu."]

Kenapa?

["—Aku mencintaimu, Mikasa Ackerman."]

Kenapa ia berkata cinta—sementara ia sendiri tidak bisa mempertanggungjawabkannya?

"Aku menyukai seseorang, umm ..." bibirnya bergetar. "Orang itu bernama Mikasa Ackerman, dia—" ia menggigit bibirnya sendiri. "Dia ..."

Terlintas sejenak kejadian hari itu di mana ia melindungi Mikasa dan—

Apa, hanya itu sajakah keberanianmu, wahai Annie Leonhardt?

Kedua belah tangannya ia gunakan untuk menutupi wajahnya, sementara ia mempertemukan kepalanya itu dengan pahanya sendiri; entah meringis atau mengutuk keadaan.

("Ia membuatku ingin ... kembali.")


Lima.

Kini, Mikasa harus mencari Annie, kemanapun itu. Dirinya sudah mantap dan tujuannya tengah jelas, Eren telah membantu menyadarkannya. Ia tak akan terbata seperti yang ia lakukan pada hari itu, segalanya telah sempurna baginya. Benda yang telah ia siapkan disimpannya baik-baik di kantung kemejanya hingga saat yang tepat bisa tiba.

Pertanyaannya sekarang adalah, bagaimana cara dan di mana gerangan, karena Annie tidak mudah ditemukan. Bukan masalah karena tubuhnya yang kecil atau keberadaannya yang tipis, melainkan karena Annie mungkin menghindari Mikasa sehingga sulit untuk sekedar bertukar sapa. Bahkan, kelas Annie selalu kosong ketika Mikasa ingin singgah.

Kemana gerangan gadis itu—apa ia ada di rumah sakit itu lagi?

Namun, Mikasa sudah mencatat dalam-dalam untuk tidak datang ke rumah sakit itu lagi. Seluruh rangkaian ketidakjelasan ini dimulai dari sana, dan ia tidak mau benang semakin tidak karuan terpintal oleh langkahnya.

Ia berhenti di sekitar kantin sekolah, menghela nafas panjang dan melihat isi hadiahnya untuk kali kedua.

Kalun berornamen perak itu ia beli saat festival musim dingin atas anjuran Sasha, walau ia tidak tahu pada awalnya harus memberikannya atau tidak pada seseorang. Hari ini pun dalam hati ia bertanya-tanya soal motif Annie menyatakan cinta untuknya di malam bertabur kembang api tersebut, dan kini dialah yang menghindar meninggalkan Mikasa dalam bingung. Kali ini, ucapan Eren menyadarkannya untuk memberikan hadiah tersebut.

Pasti—pasti bertemu.

Tekadnya telah bulat, hari ini juga ia akan memberikannya.

Ditariknya syal merah kesayangannya menutupi sebagian wajahnya sebelum ia kembali berjalan mencari—

(Orang bilang kita harus mencari sesuatu yang hilang di tempat di mana kita menemukannya untuk pertama kali.)

—kembali ke perpustakaan.

x x x

Perpustakaan sekolah tidaklah pernah sepi pengunjung, atmosfir sepi dengan hanya beberapa gesekan kertas dan suara derap langkah yang lembut membuat inilah tempat yang pas untuk sembari menjadi pendengar cerita para buku yang bersampul usang atau menjadi mereka yang giat menumpuk kata. Gadis Ackerman itu menyapu pandang ke sekeliling tempat, mencari-cari keberadaan gadis itu di tiap sisi yang terjangkau jarak pandangnya, seraya berharap-harap besar bahwa gadis kecil bermata biru yang dibungkus rapi dengan frame kacamata tipis sewarna surainya itu tengah berkelana di sasana baca.

Kakinya kini yang menelusur, mengintip ke sela-sela pertemuan antara rak satu dan lainnya, dari ujung meja ke tepi meja baca lain—

(—dan, mata mereka bertemu.)

"Annie, akhirnya." terdengar hela lega dari Mikasa.

Gadis yang tengah duduk membaca di meja kosong di tepi perpustakaan pun menutup pintu dunia dan berdiri di samping kursinya, Mikasa pun mendekat perlahan.

"Ada ... apa?"

[Mikasa hari ini berbeda. Hari ini, Mikasa lebih—]

"Bisa tutup matamu sebentar?"

Ulas senyum Mikasa seolah menipu Annie sejenak. Lagi, entah kenapa, tubuhnya samasekali tidak ingin menolak atau kakinya beranjak berlari dari tempat. Diturutinya tanpa elak perkataan pemilik syal merah itu. Ia bisa merasakan kacamata yang bertengger di hidungnya disingkirkan oleh Mikasa dan—

Ah.

Tubuh itu merengkuhnya.

Gerakan sederhana itu membuatnya terdiam.

Mata itu tak ingin terbuka, seakan ia tidak ingin segalanya berakhir.

Segalanya.

"Buka matamu."

Bisikan di telinganya membuatnya mendesir, beruntung ketenangannya masih bisa ia kuasai dan ia dapat membuka matanya dengan normal.

.

"Selamat ulang tahun."

Pupilnya membulat seketika dengan ucapan itu, diliriknya di tangan Mikasa ia tengah memegangi ujung kalung keperakan yang tengah ia kenakan—sebuah ornamen kupu-kupu perak. Mencuri pandang ke arah Mikasa, ia temukan gadis itu tengah tersenyum lagi—senyum terhangat yang bisa ia lihat. Ia tidak tahu darimana dan kapan gadis di hadapannya, seorang asing yang sejak dahulu tak pernah masuk ke hidupnya, tahu hari yang paling tidak ia tunggu.

.

.

.

"Izinkan aku menjawab sesuatu." Mikasa lanjut berujar. "Aku ingin selalu bersamamu."


[tbc.]


endnotes. Ah maaf baru kelanjut dan—pendek. Writer Block cukup lama dan susah disembuhkan—err.
Eniwei, selamat tahun baru dan stay tuned!