Kini ia tengah berdiri di perhentian bus menuju mall milik Trost sembari menarik dan membuang nafas seirama, juga sesekali menaikkan kacamata yang merosot seraya waktu berselang.

Setelan kemeja putih polos dengan renda di bagian lengan dan pita biru di bagian tengah, juga rok selutut dengan warna yang senada dengan pita yang ia kenakan. Karena tidak terbiasa dengan pakaian berlengan pendek, ia menutupnya lagi dengan coat berwarna krem. Surai pirang yang biasa ia ikat, kini dibiarkan tergerai, dengan beberapa helai masih menutupi matanya.

Seluruh anjuran Reiner ia gunakan untuk hari ini. Walaupun begitu, Annie Leonhardt masih merasakan bahwa putih bukanlah warna yang cocok untuknya.

—'Kencan'.

Kata-kata tersebut begitu asing baginya, sangat asing. Terutama, kini ia akan dihadapkan oleh sosok yang ia cintai.

(Mikasa Ackerman.)

Kalung berornamen bak Morpho rhetenor helena bersulam argentum senantiasa berkalung di lehernya, menandakan ia tidak akan lupa seberapa dekatnya mereka.

(Mungkin menandakan kupu-kupu yang terbang bebas melingkupi dirinya.)

Telah ditunggu, pemilik syal merah terlihat dari pantulan kacamata—tampilannya sederhana lagi rapi. Mikasa mengenakan kemeja putih polos dan rok panjang hitam. Nafas Annie tercekat sejenak, lidahnya kelu gerak. Tetapi, ia tahu bahwa untai pujian tidak cukup untuk terlontar bagi kekasihnya itu.

"Maaf aku terlambat." Mikasa menghela nafas seusai berlari menuju arah Annie. "Apa kau sudah—lama menunggu?"

"Aku juga baru sampai, kok." Annie berulas senyum kecil. "Ayo kita pergi."

"—Annie."

Sebelum Annie melangkah terlalu jauh mendahuluinya, Mikasa terlebih dahulu menahan pergelangan yang lebih kecil, sebelum akhirnya ia pertemukan jemari itu dengan milik si pemakai kacamata hitam. Sedikit rona merah muncul di kulitnya yang biasa pucat.

"Ayo kita pergi." sambut Mikasa disertai senyum hangat.


Enam.

Mereka berdua terus berjalan bersisian dan berdekatan, terkadang mencuri pandang satu sama lain dan melanjutkan diri berjalan. Bulan April begitu hangat, dedaunan Sakura yang mulai berjatuhan seiring datangnya angin membuat suasana semakin tentram baginya. Inilah musim semi, begitu tampak terasa di udara, juga hari sebelum sekolah kembali dimulai.

Mall itu begitu ramai tampaknya dengan banyak orang berlalu-lalang, tampak kerlap-kerlip lampu penghias menerangi seantero pertokoan. Mikasa memantapkan arah mereka menuju sebuah toko buku tua yang direkomendasikan Armin Arlert kepadanya kemarin.

Annie pasti menyukainya, begitu Armin meyakinkan Mikasa.

Begitu mereka masuk, segera tampak di mata mereka rak buku bersisian membentuk layaknya sebuah gang kecil yang mengarah menuju ruang tengah. Rak-rak tersebut diberi label menurut tanggal juga genre buku, tersusun dengan sangat sistematis. Tidak hanya itu, langit-langit mereka terdekorasi dengan lampu tua gaya Eropa abad Reinasans, bahkan furnitur pelengkap di wilayah untuk membaca pun diberi kesan warna latar sepia dengan sofa berwarna lembut dan meja yang terbuat dari jati kaku.

Tampak Mikasa mendapati manik biru itu mengilat senang melihat dan mengakrabi suasana tersebut. Mikasa pun membiarkan Annie tenggelam dalam dunia baca seraya ia memperhatikannya sambil tertawa kecil. Annie tampak seperti anak kecil yang menemukan mainan baru. Dan menurutnya itu adalah pemandangan yang jarang untuk dilihat. Ingin rasanya Mikasa menangkap adegan tersebut dalam sebingkai foto, tetapi ia tidak membawa kamera milik Eren.

Manik hitamnya menelusuri gerak-gerik Annie dengan seksama di dalam toko buku tersebut, tampak mencari-cari sebuah buku. Mikasa menangkap Annie tidak bisa menjangkau sebuah buku di atasnya, walau ia sudah berjinjit berusaha.

"Mi—"

Pemilik surai hitam itu memegangi pinggang sang penyuka buku, alih-alih merengkuh, menjadikan tubuh Annie sebagai pijakan seraya tubunya mendekat untuk memfokuskan diri dalam mengambil buku yang sang mata empat cari. Annie jelas tersentak dengan sikap Mikasa yang tiba-tiba, rona merah melebar ke seluruh wajahnya.

(Jarak mereka seakan tiada.)

"Ini, buku yang kau inginkan."

Mikasa menyerahkan buku tersebut. Sementara Annie tidak bisa memandang wajah Mikasa—ia memalingkan muka—jelas telinga yang biasa pucat itu ikut memerah. Mikasa hanya bisa tersenyum ke dirinya sendiri, atau mungkin Annie akan meninjunya.

"Te-terima kasih, Mikasa." Annie mencicit. "La, lain kali kau bilang dulu baru mendekat ..."

Ya, Mikasa hanya bisa tersenyum, menyimpan kegirangannya, serta mimik gadis yang imut barusan, ke lubuk hati terdalam.

x x x

Sehabis waktu mereka melayang di dalam toko buku tua, tangan mereka tetap tidak meninggalkan satu sama lain. Annie membeli sebuah buku dari sana setelah berulang kali menimbang. Mikasa harus berjanji untuk mengajak Annie ke tempat itu lain kali agar mereka bisa pindah, karena ia memikirkan untuk mengunjungi beberapa destinasi lain di sana.

Tempat kedua yang Mikasa ajak Annie kunjungi adalah kafe yang direkomendasikan oleh Sasha Braus, sebuah kafe bernuansa vintage yang terkenal karena kue mereka yang luar biasa. Mikasa memang bukan penggemar hal manis, tapi Reiner pernah menyebutkan bahwa Annie cukup menyukai makanan manis.

Mikasa memilih tempat duduk di pinggir kafe, sementara ia menyuruh Annie untuk melihat-lihat menu. Pemilik syal merah itu memesan kopi hitam terlebih dahulu, dan Annie memesan kue keju—Cream Cheese Fondue—beserta parfait stroberi.

Mikasa, sebagai penonton di latar, memerhatikan Annie lamat-lamat seraya ia tampak menikmati kuenya.

"Kau suka manis?"

"Lumayan ..." seperti biasa anggap Annie datar, walau sekilas manik biru yang dibingkai kacamata hitam di sana memaknai lain. "Cheese Fondue di sini sangat enak."

"Baguslah kalau kau menyukainya."

Jeda berselang, Mikasa memerhatikan refleksi dirinya di atas kopi hitam, diselingi denting halus yang dihasilkan Annie dengan piringnya, sebelum akhirnya suara kecil angkat bicara.

"Mikasa, err ..."

"Hm?"

Annie memotong kuenya sedemikian rupa, kemudian menusuknya dengan garpu. Ia mengarahkannya menuju arah Mikasa. "Kau ingin ... mencoba kue ini?"

Menelengkan kepala, Mikasa bergeming. Sejenak dirinya berpikir, Annie tidak pernah seperti itu sebelumnya. Kini, ia berusaha menjadi lebih dekat—terutama dengannya saat ini. Mikasa akhirnya mengangguk menanggapi jawaban Annie, dengan semburat merah memenuhi pipinya.

Begitu kue Annie sodorkan, Mikasa tidak menuju garpu yang dipegang sang pemilik kacamata, melainkan ia mencuri rasa dari tempat lain. Krim yang tersisa di sekitar bibir Annie ia sapu tanpa pemikiran. Ketika bersentuhan dengan lidah Mikasa, yang ia rasakan adalah sedikit manis dan asin terkecap di lidahnya beserta aroma kuat keju terasa di sana; di lain sisi, ada kelembutan tersendiri ia nikmati.

Tidak lama berselang, Mikasa melepas, kini membersihkan sisi bibirnya sendiri dari sisa krim yang menempel dari kontak barusan. Garpu yang dipegang Annie jatuh dengan denting pelan.

"Manis dan lembut." Mikasa bertutur singkat. "Terima kasih atas kuenya, Annie."

Dan ini yang kesekian kalinya Mikasa menangkap gadis itu dalam semu merah bak kepiting rebus merekah. Annie Leonhardt memang terlalu manis.

x x x

Perlu waktu lama untuk menenangkan Annie yang cukup syok dari kafe tersebut. Sang pemilik kacamata itu tidak memandang wajah Mikasa samasekali dan melihat ke arah bawah, entah karena malu atau degup ragu. Mikasa menemaninya dengan diam, seraya meresapi musim semi dan tangan mereka yang terus bertaut—seakan tidak ingin ikatan itu menghilang.

Mikasa mencuri pandang seperlunya, menangkap Annie tengah mengatur nafasnya seraya melihat ke arah kakinya; lekukan wajahnya yang terlihat halus, dengan kacamata hitam yang menutupi harta tersembunyi. Sekilas jengit kalung pemberiannya terlihat, perak; serasi sekali dengan diri Annie, dan biru; sama dengan safir yang melihatnya dengan tatapan bosan lagi sorot yang membuatnya tak ingin berpaling.

Tujuan mereka berikutnya, begitu senja tengah membayang, adalah tempat rekomendasi dari Eren Yeager. Mikasa awalnya bingung dari mana Eren tahu akan tempat itu. Mungkin kalau Krista yang menyebutkan tempat itu, Mikasa akan lebih percaya.

Langkah mereka menuju ke beranda mall, tempat taman teras di buat dengan sempurna. Sisi demi sisi banyak pasangan yang berjalan bersama, selayaknya mereka berdua, mengisi kanvas bernama kehidupan dengan tautan jari-jemari, warna-warni hangat lagi polesan ringan. Taman teras itu tidak jauh berbeda dengan taman umumnya, bangku-bangku teduh berada di bawah naungan pohon dan pelukan semak. Hijau klorofil mendayu nanar akibat sinar keemasan senja.

"Annie?"

Gadis itu sontak menoleh begitu namanya terpanggil dengan sebegitu lembutnya.

"Lihat di depanmu."

Langkah mereka berdua terhenti, nyaris bersamaan. Mereka tepat berada di pinggir balkon teras mall, tempat di sana mereka dapat melihat sebuah pohon raksasa—yang merupakan kamuflase—yang terdiri atas susunan dari berbagai macam bunga yang tumbuh di musim semi. Eren menyebutnya sebagai flower fireworks, dan memang benar nama itulah yang pantas diberikan oleh siapapun yang merangkainya. Sayup semilir angin menyapu pelan dedaunan yang ada, menghujani siapapun yang melihatnya dengan alunan nada-nada sepi lagi bersulam tari keindahan sejenak dan semata oleh keping kelopak. Sementara Mikasa menahan syalnya agar tidak menjauh dari dirinya, poni yang biasa menutup sebelah manik biru itupun tersingkap dengan volume angin yang makin menderu lantak.

Termabuk dalam huni nelangsa dalam beberapa sketsa, Mikasa akhirnya angkat bicara.

"Apa kau senang ... ada di sini bersamaku?"

Sungguh pertanyaan retoris, mungkin, namun Mikasa ingin mendengarnya langsung dari pemilik surai pirang itu. Alisnya bertaut, naik tajam—lagi tidak ada jawaban.

Annie menghela nafas. Cengkeraman di tangan Mikasa bertambah.

Senyum melebar dari lengkung bibir pemilik syal merah.

Pertanyaan itu benar-benar retoris. Tetapi ia belum cukup mengecap manis, pandangan Annie lembut lagi sarkastis, ia adalah penyendiri yang tak tertebak lagi taktis, membuatnya harus berlaku selayaknya aktris. Kali ini tangan mereka berdua mendadak kandas,

"Aku—bahagia, aku tidak pernah merasa sebahagia ini. Rasanya seperti ... terlalu bahagia sampai terasa salah."

Mikasa sejurus kemudian memandang cemas, sebelum akhirnya kedua tangan hangat menyentuh pipinya, memandangnya dengan jelas. Mata dengan mata, hati dengan hati, serta nafas dengan nafas. Annie tidak melepas pandangannya setitikpun kedip menggerus. Mikasa bertahan dalam geming, kesabarannya menipis. Ia tidak tahu apa yang ingin dilakukan Annie ketika segalanya terasa pupus. Apakah safir rupawan itu hanya ingin menusuk menindas? Atau ia ingin melakukan sesuatu di luar batas?

"Mikasa?"

Seutas kata berikutnya membuatnya lepas.

"—Bolehkah aku ada lebih dekat?"

Annie-lah yang kemudian membuka inisiatif untuk menghapus jarak mereka, memberi sentuhan lembut di bibir sang pemilik syal berwarna merah.

(Senyum itu hanya untuknya, Mikasa berpikir demikian.)

.

.

.

'Temui aku di rumah sakit.
Atau aku akan membuktikan kepengecutanmu.'

Satu pesan singkat muncul di layar ponsel Annie, tak terbaca;

[tbc.]


notes.

[1] Morpho rhetenor helena itu nama spesies kupu-kupu biru.
[2] Argentum-intinya perak #plak

Halo! Akhirnya setelah sekian lama fanfic ini bisa berlanjut dan maaf kurang memuaskan. Sepertinya perjalanan fanfic ini masih panjang dan-akan banyak adegan manis dan pahit lainnya, mungkin. Terima kasih dan stay tuned!