"Kagami, kalau besar nanti, kau harus jadi pengantinku!" ucap Aomine kecil dengan cengiran lebar.

"Kenapa harus?"

"Karena aku akan membuatmu menjadi pengantin yang paling bahagia di dunia. Dan hanya aku yang bisa," kata Aomine dengan bangganya sambil merentangkan tangan.

"Aku tidak mau," tolak Kagami kecil.

"Ehhh? Kenapa? Apa aku tidak keren?" tanya Aomine dengan wajah kecewa.

"Aku tidak menyukaimu," jawab Kagami cuek.

"Kalau begitu akan kubuat kau menyukai—"

"Dan kau tidak romantis, Aho," potong Kagami cepat. "Seharusnya kau bilang 'maukah kau menikah denganku nanti saat sudah besar' sambil berlutut dan memberiku bunga dan cincin."

Aomine menghela napas kemudian berlutut dengan sebelah kakinya lalu berkata, "Maaf untuk saat ini aku tidak punya bunga dan cincin, tapi aku punya cinta untukmu. Jadi, apakah kau akan menikahiku nanti?" Tangan Aomine terulur ke arah Kagami.

Kagami melirik Aomine sekilas lalu mengalihkan pandangannya. Ia melipat tangannya di depan dada. Wajahnya agak memerah. "Akan kujawab sepuluh tahun lagi," katanya lalu pergi meninggalkan Aomine.

.

Kuroko no Basket © Fujimaki Tadatoshi

Things I'll Never Say © Bianca Jewelry

Rating : T for Romance

Warning : BL. Alternative Reality. OOC (maybe). Cross!Kagami.

Happy reading!

.

So, will you marry me?

Part 2 : I was finally able to say it

.

Malam itu begitu ramai. Lampu warna-warni menghiasi bangunan yang lapuk dimakan usia. Lagu Natal terdengar dari sudut-sudut kota. Di dekat toko aksesoris, seorang pemuda bersurai biru tua tampak acuh tak acuh menanggapi pemuda bersurai kuning di sebelahnya. Mereka sedang menunggu kedua teman mereka di malam itu. Kemudian pemuda kuning itu melambaikan tangannya ketika ia melihat temannya yang berambut biru langit dan berambut merah gradasi.

"Kurokocchi! Kagamicchi!" panggilnya.

"Halo Kise-kun, Aomine-kun," balas Kuroko sementara Kagami hanya melambaikan sebelah tangannya kepada Aomine dan Kise.

"Jadi kemana tujuan pertama kita?" tanya Kise antusias.

"Terserah kau saja, Kise," jawab Aomine malas. "Aku ingin cepat pulang."

"Mouu~ Aominecchi! Bagaimana kalau kita makan disana?" Kise menunjuk salah satu restoran di ujung jalan.

"Ayo, aku lapar," kata Kagami.

Lalu mereka berempat mampir ke restoran itu.

Jika kalian bertanya apa yang mereka lakukan malam itu, maka jawabannya itu adalah ide dari Kise Ryota. Ia mengajak Aomine, Kuroko, dan Kagami untuk melewati malam Natal bersama. Ingin modus sih sebenarnya. Yah, siapa tahu ia mendapat kejutan dari Aomine. Lagipula Aomine juga belum mempunyai hubungan dengan Kagami. Jadi boleh 'kan dia berdelusi. Oleh karena itu, ia membuat acara yang bisa disebut double date ini. Tapi ternyata takdir berkata lain. Setelah makan, mereka mampir ke berbagai toko dan Kise terus menggelayuti lengan Aomine. Aomine risih, ditambah dengan Kuroko yang memberikan perhatian lebih kepada Kagami membuat Aomine emosi.
"Kise, bisakah kau berhenti menggelayuti lenganku?" tanya Aomine dengan kesabaran yang semakin menipis.

"Tidak mau," katanya sambil melihat etalase toko yang ada di sekitarnya.

Aomine melepas paksa tangan Kise. "Kau tidak malu dilihat orang-orang?!" bentak Aomine lalu menghentikan langkahnya. Kuroko dan Kagami hanya memperhatikan mereka berdua.

"Kenapa aku harus malu?" tanya Kise.

Aomine mendecih. "Kau sudah tahu jawabanku 'kan. Apa perlu aku perjelas?" Suara Aomine makin meninggi.

"Aomine-kun. Kita dilihat orang-orang. Apa tidak sebaiknya kita mencari tempat untuk menyelesaikan masalah kalian?" tanya Kuroko.

Kise menundukkan kepalanya. Benar-benar sudah tidak ada harapan untuknya. "Tidak perlu Kurokocchi," katanya sambil menatap Kuroko. "Aku pulang dulu. Maaf ya, aku yang mengajak kalian tapi aku pulang duluan. Selamat malam," pamitnya lalu menatap Aomine. "Maaf Aomine, selamat tinggal."

Kise membalikkan badannya kemudian berjalan dengan tempo yang semakin cepat. Aomine, Kagami, dan Kuroko hanya menatapnya.

"Aku rasa aku harus mengejarnya. Selamat malam Aomine-kun, Kagami-kun," pamit Kuroko lalu berlari mengejar Kise.

Aomine dan Kagami hanya berdiri mematung beberapa saat sampai Kagami membuka suara. "Kau jahat Aomine."

"Diamlah, Bakagami," kata Aomine. "Apakah ada tempat lagi yang ingin kau kunjungi?"

Kagami hanya menggeleng.

"Ayo kuantar kau pulang," kata Aomine yang berjalan mendahului Kagami.

Kagami yang sedikit terkejut dengan perkataan Aomine butuh beberapa detik untuk menyamakan langkahnya dengan Aomine. Mereka berdua hanya diam dalam perjalanan menuju apartemen Kagami. Sesampainya di apartemen Kagami, Aomine hanya melirik rangkaian daun hijau yang tergantung di depan pintunya.

"Ada apa Aomine? Apakah kau mau masuk?" tanya Kagami bingung.

"Tidak. Apakah itu mistletoe?"

"Ya. Kenapa? Apakah kau baru pertama kali melihatnya?" tanya Kagami sedikit mengejek. Ia baru sadar akan sesuatu saat Aomine mendorongnya ke pintu apartemennya. Wajah Kagami memerah.

"Mungkin ya, mungkin tidak," kata Aomine misterius. "Kenapa Kagami? Wajahmu memerah." Aomine menyeringai.

Kagami mengalihkan pandangannya. Ia gugup.

Aomine menyentuh dagu Kagami dengan ibu jari dan telunjuknya. Lalu ia mengecup bibir Kagami singkat. "Selamat malam." Dan Aomine meninggalkan apartemen Kagami.

.

Setelah kejadian malam Natal itu, sebisa mungkin Kagami menghindari Aomine. Hampir setengah tahun ia menghindari Aomine, sampai hari itu tiba.

"Kagami!" panggil Aomine saat mereka berada di luar kelas.

Kagami kaget, lalu menolehkan kepalanya. "Apa?"

"Nanti malam ke festival?"

"Ah, mungkin. Maaf Aomine aku ada janji," kata Kagami buru-buru.

Aomine menarik tangan Kagami lalu membalikkan badannya. Ia memegang bahu Kagami. "Kau. Harus. Datang," kata atau lebih tepatnya paksa Aomine.

Kagami menatap Aomine. "Kenapa harus?"

"Aku ingin membicarakan sesuatu."

"Apa tidak bisa sekarang?"

"Tidak bisa. Pokoknya nanti malam kau harus datang!" kata Aomine lalu meninggalkan Kagami.

Kagami menghela napas lalu berjalan menuju pintu gerbang. Sesampainya di pintu gerbang, ia dihadang oleh Sakurai.

"Maaf Kagami-san. Apa aku bisa minta tolong?" tanya Sakurai dengan wajah bersemu merah sambil memeluk tas kertas.

"Ada apa Sakurai? Apa kau sakit?" Kagami balik bertanya dengan raut khawatir.

"Tidak." Sakurai menggeleng lalu menyeret Kagami masuk kembali ke dalam ruang kelasnya. "Ini," katanya lalu meyodorkan tas kertas yang tadi dipeluknya setelah sampai di kelasnya yang sudah sepi.

Kagami mengeluarkan isinya lalu mengerjapkan mata.

"Bi-bisakah Kagami-san mendadaniku?" tanya Sakurai dengan wajah lebih merah dari yang tadi.

Kagami melihat yukata berwarna kuning muda beserta alat make up serta wig dan Sakurai bergantian.

"Aku?" tanya Kagami sambil menunjuk dirinya sendiri. "Mendadanimu? Kau tidak salah Sakurai?"

"Maaf, Kagami-san 'kan..." Sakurai berhenti. "Jadi kukira..."

"Biar begini aku tidak bisa dandan, Sakurai. Maaf mengecewakanmu." Kagami menghela napas.

"Lalu bagaimana Kagami-san?" Sakurai tampak ingin menangis.

"Bagaimana dengan Momoi?" tanya Kagami memberi saran.

"A-aku malu," jawab Sakurai dengan suara kecil. Wajahnya kembali memerah.

"Darimana kau dapatkan barang-barang ini?" tanya Kagami penasaran.

"E-etto..." Sakurai melirik ke kanan dan ke kiri. "Da-dari Imayoshi-senpai."

"Oh, kencan?" tanya Kagami sedikit menggoda.

"Bukan!" Sakurai menyangkal dengan wajah kembali memerah.

"Lalu?"

"I-Imayoshi-senpai berkata, kalau aku ingin bersamanya saat festival nanti malam, aku harus memakai ini."

"Oh." Kagami tertawa pelan.

Sakurai menatap Kagami. "Jadi, apa aku harus minta tolong Momoi-san?"

"Jika kau tidak berani aku akan membantumu," tawar Kagami. "Ayo kita cari Momoi."

Kagami dan Sakurai mencari Momoi. Setelah mencarinya di sekolah dan ternyata tidak ada, mereka mampir ke rumahnya. Ternyata Momoi sudah pulang dari tadi, kemudian Kagami meminta pertolongan Momoi dengan sedikit dusta dalam penjelasannya dan Momoi menyetujui untuk mendandani Sakurai. Dan pada sore harinya Momoi mulai mendadani Sakurai.

"Kagamin apa tidak mau dirias juga?" tanya Momoi saat ia memakaikan blush on di pipi Sakurai.

Kagami batuk ditanyai seperti itu. "Eh? Tidak perlu repot-repot Momoi," katanya lalu tertawa canggung.

"Sekalian nih," kata Momoi sedikit memaksa.

"Eh, tidak usah," kata Kagami cepat-cepat. "Aku pulang dulu," pamit Kagami lalu berdiri.

"Maaf, Kagami-san. Aku bagaimana?" tanya Sakurai panik, tidak mau ditinggal sendirian dengan Momoi.

Kagami bergeming. "Nanti kujemput deh."

"Apakah Kagamin juga datang ke festival nanti malam? Bagaimana kalau Kagamin mengambil pakaian lalu kembali kesini?" usul Momoi. "Lalu setelah itu aku bisa meriasmu."

"Baiklah jika kau memaksa. Aku pulang dulu."

"Hati-hati Kagamin!"

.

Malam itu adalah malam Tanabata dan Aomine memaksanya untuk datang tadi siang. Sakurai dan Kagami menunggu di dekat kuil, sementara Momoi meninggalkan mereka untuk melihat stand-stand yang berjualan berbagai macam makanan. Mereka menunggu dua orang yang mengajaknya datang ke festival itu.

"Yo Kagami!" sapa Aomine, yang dibalas Kagami dengan lambaian tangan.

"Sakurai," sapa Imayoshi.

"I-iya, senpai," balas Sakurai.

Imayoshi menatap Sakurai lekat sampai wajahnya kembali merona dan ia mengalihkan pandangannya dari Imayoshi.

"Maaf, apakah kita bisa pergi sekarang?" tanya Sakurai, risih ditatap terus oleh Imayoshi. Kegugupan Sakurai membuat Kagami tersenyum geli.

"Oh, iya. Ayo."

"Duluan, Kagami-san, Aomine-san," pamit Sakurai. Kagami dan Aomine hanya menangguk.

Sekarang, gantian Aomine yang menatap Kagami lekat. Sedikit banyak, Kagami yang memakai yukata berwarna merah dengan motif bunga membuat Aomine terpana.

"Apa?" tanya Kagami.

"Ah, tidak. Kau tampak lebih cantik dengan rambut terurai."

Kalimat Aomine sukses membuat Kagami merona.

"Ayo, kita masuk," ajak Aomine. Kagami mengangguk mengiyakan.

.

Aomine dan Kagami menghampiri stand makanan satu per satu. Aomine bersyukur Kagami sudah tidak canggung dan sudah mengajaknya berbicara bahkan bercanda. Saat ini mereka berdua berada di padang rumput yang berada di belakang kuil. Tempat itu cukup strategis untuk melihat kembang api yang sebentar lagi akan diluncurkan.

"Kagami," panggil Aomine.

"Ya?" sahutnya lalu menatap Aomine.

"Kenapa kau menghindariku?"

Kagami diam.

"Kau marah karena aku menciummu?"

Kagami menatap langit yang sudah dihiasi kembang api dan tidak menggubris perkataan Aomine. "Kembang apinya indah, Aomine."

"Kagami..."

"Perlukah aku menjawab, Aho?" tanya Kagami.

Kagami menyangga tubuhnya dengan meletakkan kedua tangannya di tanah berumput. Aomine melakukan hal yang sama setelahnya tak sengaja menyentuh tangan Kagami, meletakkan tangannya di atas tangan Kagami lalu menggenggamnya.

"Aku minta maaf."

Kagami menatap Aomine. Lalu tawanya pecah.

"Apa aku tidak salah dengar?" tanya Kagami lalu tertawa lagi.

"Aku serius."

Kagami berdeham pelan. "Aku juga minta maaf telah menghindarimu selama ini."

Aomine mengeratkan genggamannya. Mereka bertatapan lalu Aomine memajukan wajahnya. Kagami yang diam menatap mata Aomine lalu turun ke bibirnya. Kagami meneguk ludahnya. Akhirnya, kedua bibir mereka bertemu dalam kecupan singkat. Kagami buru-buru menyudahinya dan menutup wajah dengan kedua tangannya. Aomine menyeringai, ia senang. Setidaknya ada kemajuan antara dirinya dengan Kagami.

.

Aomine kembali bersyukur karena Kagami tidak lagi menghindarinya setelah ciuman di malam festival Tanabata itu. Bahkan saat ia mengantarkan Kagami pulang malam itu, ia sempat mencium keningnya juga, yang berbuah umpatan dari Kagami serta wajahnya yang memerah kemudian mengusirnya pulang. Kagami tampak manis saat itu bagi Aomine.

Tak terasa bulan sudah berganti tahun dan tidak ada kemajuan berarti, yah bukan berarti tidak ada satu atau dua hal yang terjadi sih. Misalnya, Aomine sering mengantar Kagami pulang. Atau mereka sering makan di Maji Burger. Itu boleh disebut kencan 'kan? Sebetulnya Aomine tidak mau repot-repot untuk mengantar seseorang pulang. Tapi demi orang yang dicintainya, apapun akan dia lakukan. Dan sebentar lagi hari Valentine. Sedikit banyak ia berharap akan mendapat coklat dari Kagami. Namun ia lebih berharap kata cinta akan keluar dari bibirnya.

"Maaf, Kagami-san," panggil Sakurai.

"Ya?"

"Apakah Kagami-san mau membuat cokelat bersama?"

"Apa?" Kagami merasa ia salah mendengar perkataan Sakurai.

"Maaf, apakah Kagami-san mau membuat cokelat bersama?" tanya Sakurai ketakutan.

Kagami mengerjapkan matanya. "Kau ingin membuat cokelat? Untuk siapa?"

Pertanyaan retoris Kagami dijawab oleh rajukan Sakurai. Wajah Sakurai merona.

"Maaf, maaf. Jadi kapan kau ingin membuatnya?"

"Besok?"

"Oke."

.

Keesokan harinya, Kagami dan Sakurai berbelanja bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat cokelat sepulang sekolah. Lalu keduanya membuat cokelat itu di apartemen Kagami. Pertama, mereka memotong cokelat batangan agar lebih mudah meleleh, lalu mereka memanaskan air dan meletakkan mangkuk stainless steel diatasnya, kemudian memasukkan cokelat yang sudah dipotong kedalamnya dan mengaduknya sampai meleleh.

"Boleh aku bertanya?" tanya Kagami.

"Apa?"

"Hubunganmu dengan Imayoshi-senpai itu seperti apa?"

Sakurai gelagapan. Kagami tersenyum tipis, baginya menggoda Sakurai adalah kepuasan tersendiri. Tiba-tiba raut Sakurai berubah, ia mengaduk cokelatnya dengan tatapan sedih.

"Maaf, kami tidak ada hubungan apa-apa."

"Maksudnya?"

"Yah, tidak ada hubungan apa-apa. Kami tidak pacaran atau semacamnya."

Rasanya Kagami salah bertanya, ia jadi merasa tidak enak kepada Sakurai. Lalu ia iseng menyolekkan cokelat ke pipi Sakurai.

"Kagami-san!" seru Sakurai. Lalu membalas colekan Kagami. Kemudian mereka tertawa.

"Maaf, sudah menanyakan hal itu kepadamu."

Sakurai menggeleng. "Kagami-san sendiri... Apa hubunganmu dengan Aomine-san?"

Kagami tertawa. "Tidak ada apa-apa di antara kami," jawab Kagami sambil tersenyum canggung dan membersihkan cokelat yang ada di pipinya.

"Maaf, aku kira Aomine-san menyukaimu?"

Kagami menatap Sakurai. "Mungkin hanya perasaanmu?"

"Maaf, mungkin iya."

"Cokelatnya sudah jadi, ayo kita tuang ke cetakan."

.

Kagami yang kebingungan akan memberikan cokelatnya kepada siapa, akhirnya memberikannya kepada Aomine dan Sakurai. Sebetulnya ia akan memberikannya juga kepada Kuroko tetapi tidak jadi, karena hari itu Kuroko tidak bisa bertemu dengannya. Dan lagi-lagi, Aomine kembali bersyukur karena ia bisa mendapat cokelat dari Kagami, dan ia cukup menikmati ekspresi Kagami dan ketsundereannya saat memberikan cokelat itu untuk Aomine.

.

Satu bulan sudah berlalu dan tidak terasa Kagami akan lulus dari SMA Touou. Hari itu Kagami ingat ada barangnya yang tertinggal di mejanya, kembali menuju kelasnya. Ia mendengar percakapan saat berada di depan pintu kelasnya.

"Aomine-kun, apakah kau pacaran dengan Kagami?" tanya salah seorang murid perempuan.

"Kau bercanda? Mana mungkin aku ada hubungan dengan wanita jejadian seperti dia," kata Aomine lalu tergelak.

"Tapi kami sering melihatmu bersamanya," kata murid perempuan yang lain, tidak puas dengan jawaban Aomine.

Kagami menggeser pintu dengan kasar. Ia memasuki ruangan dengan cepat dan mengambil barangnya. Aomine mematung menatap Kagami sementara gerombolan murid perempuan itu hanya menatap Kagami bingung.

Aomine mengejar Kagami setelah Kagami meninggalkan kelas dengan setengah berlari.

"Kagami," panggilnya. Ia meraih tangan Kagami.

Kagami membalikkan tubuhnya. Wajahnya tampak kecewa. "Kau tidak perlu menghinaku seperti itu karena aku belum memberimu jawaban."

"Ini cuma salah paham," elaknya.

Kagami mengabaikan Aomine. "Besok... Aku akan kembali ke Amerika setelah upacara kelulusan. Datanglah ke bandara jika kau ingin," katanya lalu pergi meninggalkan Aomine yang mematung.

.

Keesokan harinya, hanya Kuroko yang datang melepas kepergian Kagami.

"Jaga dirimu baik-baik, Kagami-kun," kata Kuroko kemudian memeluknya. "Aku akan merindukanmu."

"Kau juga, Kuroko. Aku juga akan merindukanmu," kata Kagami dan membalas pelukannya.

Kagami melepas pelukannya lalu melambaikan tangan. "Sampai jumpa Kuroko."

"Sampai jumpa."

.

Satu tahun kemudian...

Jujur, Aomine dihinggapi rasa bersalah setelah kejadian itu. Ia datang terlambat di hari kepergian Kagami ke Amerika karena terjadi kecelakaan yang membuat jalanan macet. Ia menyesal tidak sempat minta maaf kepada Kagami. Aomine pun tidak tahu kemana ia harus menghubungi Kagami setelah Kagami berada di Amerika, jadi ia hanya bisa menunggu Kagami pulang. Ia hanya bisa menunggu sampai melihat sosoknya kembali. Dan hari itu, Aomine melihatnya. Tubuhnya yang tinggi semampai dengan rambut yang lebih panjang dari sebelumnya. Kagami tampak anggun dan lebih cantik di mata Aomine. Aomine mengejarnya dan menarik tangan Kagami.

"Kagami!"

Kagami kaget ketika melihat siapa yang menariknya lalu ia tersenyum. "Yo! Aomine."

"Kapan kau kembali?"

"Tadi pagi. Bagaimana kabarmu?"

"Aku ingin bicara." Mengabaikan pertanyaan Kagami, Aomine menariknya menuju taman yang berada di dekat lapangan basket. Kagami pasrah mengikuti Aomine.

.

Hening menemani mereka semenjak Kagami dan Aomine mendudukkan diri di kursi taman itu. Lalu Aomine berinisiatif untuk memecah keheningan itu lebih dulu.

"Aku minta maaf. Aku tidak bermaksud menghinamu waktu itu."

"Sudahlah, Aomine. Yang sudah berlalu biarlah berlalu. Aku juga... Ada yang ingin kubicarakan."

Aomine menunggu Kagami mengatakan apa yang ingin dikatakannya sambil memainkan jarinya.

"Aku... Menerimamu," kata Kagami dengan wajah merona.

Aomine berhenti memainkan jarinya dan membulatkan mata lalu menatap Kagami. "Apa?"

"Aku tidak akan mengulangnya," kata Kagami yang mengalihkan pandangannya.

Aomine tersenyum lalu berdeham. Kemudian ia berlutut di depan Kagami dan menyodorkan kotak beludru merah dengan cincin berhias berlian kecil di tengahnya. "Jadi, apakah kau akan menikahiku?"

Wajah Kagami makin merona lalu Kagami mengangguk. Beruntung taman itu sepi saat itu.

"Jawabanmu Kagami?"

"Apakah anggukan kepala kurang untuk menjawab pertanyaanmu Aomine?" Kagami malu sekali. Sial, Aomine menggodanya.

Aomine hanya menyeringai.

Kagami menghela napas. "Ya, aku akan menikahimu."

.

FIN

.

Ngetik sambil ngantuk-ngantuk dan nyambi baca fict lain lol

Terima kasih untuk reviewnya AoKagaKuroLover serta terima kasih untuk aerishuuu dan hi commc atas sarannya dan semoga ini lebih rapi. Tapi alurnya kecepetan ya kayaknya ini?

Saya berbaik hati untuk gak matiin Kagami kali ini haha /maksudnya

Jika ada yang penasaran soal kelanjutan ImaSaku, dengan berat hati saya katakan, maaf saya tidak akan membuat spin-offnya :D

Jadi, silakan bayangkan sendiri bagaimana kelanjutan hubungan mereka.

Dan terima kasih yang sudah follow dan favorite-in fict ini. Maaf bila ada typo(s).

Terima kasih sudah membaca! :)