Minnie Chwangie Presents

CONFUSED

Cast : Shim Changmin, Jung Yunho, Choi Siwon, Choi Se7en, and others

Genre : Drama, School Life

Lenght : Chaptered

Disclaimer : Para cast adalah milik Tuhan, agensi, dan diri masing-masing. Saya hanya meminjam nama dan ide cerita murni dari kepala saya

Warning! : Typo bertebaran, Yaoi, membingungkan

Ide cerita berasala dari pengalaman pribadi pas SMP walau banyak permak sana-sini.

Hope u enjoy ^^

Seoul High School

Adalah sekolah khusus namja tempat Changmin mengenyam pendidikan selama hampir dua tahun terakhir ini. Entah kenapa dia menuruti saran kakeknya untuk masuk ke sekolah ini dan tidak ke Dong Bang High School tempat kedua Hyungnya bersekolah dulu.

"Minnie akan bersekolah di Seoul High School! Seperti kata kakek."

Shim Kangta dan Shim Minho

Adalah nama kedua Hyung yang protektif pada Changmin. Padahal selisih mereka hanya dua-dua tahu. Dengan Kangta 4 tahun sedang dengan Minho 2 tahun.

"Minnie, kau harus beritahu kami jika ingin pergi keluar rumah atau terlambat pulang, ok?" –Kangta

"Jika ada yang jahat padamu, bilang saja. Akan kami hajar mereka dengan senang hati." -Minho

Err... ralat, sangat super protektif pada Changmin.

Changmin sendiri merasa biasa saja karena sudah terbiasa. Tidak mau ambil pusing. Toh, itu bukti mereka sangat menyanyanginya. Dan ia juga memiliki tiga sahabat, Cho Kyuhyun, Choi Minho, dan Lee Jonghyun. Sampai sekarang pun mereka masih sekelas.

Saat kelas sepuluh, banyak yang menyatakan cinta pada Kyuhyun dan Minho serta Jonghyun sedangkan tak ada yang menyatakan barang suka pada Changmin sekali pun. Bukannya iri, tapi hal itu membuat Changmin yang polos membuat spekulasi bahwa dia ini jelek, tidak tampan (apalagi manis). (Ceritanya hubungan sesama jenis sudah nggak asing lagi di Korea Selatan)

Baiklah, sekedar tentang Changmin, mari kita membahas hubungan Changmin dengan tiga namja tertampan disekolah ini.

.

.

.

Siwon-Changmin

Dulu, Siwon dan Changmin adalah teman sekelas dikelas X.1, tapi ditahun kedua Siwon tak bisa mempertahankan peringkatnya untuk berada dikelas unggul. Jadi dia tersingkir ke kelas XI.2. Tapi terkadang saat pulang sekolah Siwon sering ada didekat pintu kelas menunggu Yunho yang notabene adalah sahabatnya untuk pulang bersama. Disanalah terkadang Changmin dan teman-temannya sering menyapa Siwon.

"Annyeong Siwon-ah!"

Dan Siwon hanya tersenyum saja sebagai balasan, terkadang mengangguk.

Lanjutan aplikasi chat...

"Err... bajak?"

"Nggak."

"Bohong... sejak kapan?"

"Sejak tk."

"Hah? Aku baru mengenalmu saat SMA ini."

"Tk = telah kenal."

"Eh? Jadi sejak... kelas X?"

"Yup, tepatnya saat kamu pertama kali presentasi IPA didepan kelas."

"Itu... sudah lama sekali..." 'Bahkan itu adalah presentasi pertama dikelas.'

"Ya, saat itu aku masih malu menyatakannya padamu."

"Siwon, apa yang membuatmu menyukaiku?"

"Kamu pintar, cantik, dan baik."

"Tapi Kibum masih lebih pintar dan err... cantik daripada aku. Sebenarnya aku tidak suka dibilang cantik."

"Tapi Kim Kibum sombong. Baiklah, kalau begitu kamu manis."

"Hey, saat Kyuhyun bercanda bilang bahwa aku suka Yunho, ehm... apa kamu cemburu?"

.

.

Flashback

Saat itu pelajaran olahraga lompat jauh, kelas XI.1 memang berbeda jadwa dengan kelas XI.2, karena kelas Chagmin lebih dulu. Tapi Beberapa namja dari kelas XI.2 yang sebelumnya adalah siswa kelas X.1 sudah ada yang datang termasuk Siwon.

Dan saat itu kondisinya, Changmin sedang tiduran dirumput bersama beberapa temannya. Menunggu giliran melompat. Dia sekarang berada dipangkuan Heechul, teman sekelasnya. Yang lain asik mengobrol sedang Changmin hanya menutup mata dengan wajah menghadap langit

"Changmin sedang ngapain? Pasti lagi mikirin si-dia ya..." Entah kenapa, Heechul tiba-tiba bersuara dengan nada jahil. "Ya, aku memang sedang memikirkan Hyesung (Hyesung Shinhwa, idola Changmin)" Changmin menjawab disertai tawa kecil.

"Hyesung, Hyesung, selalu saja Hyesung." Cibir Heechul. Tapi tiba-tiba sebuah ide jahil melintas dibenak evil Changmin. "Ah, nggak, Si dia aku Yunho." Semuanya terdiam, sedetik kemudian keadaan berubah heboh.

"Aaahh... ternyata si dia Changmin itu Yunho!" Mata Changmin terbelalak, tak menyangka Heechul akan berteriak seperti itu. Segera dia menoleh kanan-kiri dan menemukan... OMG, Yunho sedang berjalan bersama teman-temannya ke arah Sonsaengnim tepat satu meter disampingnya.

'Dia dengar? Aku bercanda lho...'

"Hey! Hey! Aku hanya bercanda!" Changmin akhirnya bangkit dari posisinya lalu memekik dengan suara cempreng karna tak tahan, sekarang orang-orang mulai menggodanya. Sepertinya yang barusan sudah menyebar layaknya bakteri yang membelah dengan sangat cepat.

"Si dia ku...?" Sorak Heechul sengaja menggantung ucapannya.

"Yunho!"

Bahkan Changmin tak menyangka Kyuhyun dan Minho ikut-ikutan menyorakinya. Uukh... bisakah Changmin menarik kata-katanya barusan? Dia sungguh tak bermaksud apa-apa!

"Wah, Changmin... tak kusangka ya..." Changmin menoleh panik pada Kibum yang juga ikut-ikutan."Aku bilang aku hanya bercanda!" Teriakan terakhir membuat orang-orang itu akhirnya menyerah. "Ya, ya, ya, kamu hanya bercanda. Kami juga kok..." Heechul kembali duduk dengan cuek setelah puas menggoda Changmin.

"Tapi muka mu serius memerah lho..." Ups, ternyata Heechul belum puas menggodanya.

Tiba-tiba, Kyuhyun mendatangi Siwon dan berbisik padanya. Entah apa Changmin tak tau.

"Bilang ke Yunho, ya!" Changmin menatap tak suka pada cengiran aneh Kyuhyun sedangkan Siwon hanya mengangguk-angguk sambil tersenyum. "Kamu bilang apa?" Changmin bertanya dengan nada mengancam pada Kyuhyun yang sekarang berjalan mendekatinya.

Kyuhyun terkikik, ah, Changmin tau ini bukanlah pertanda baik. "Aku bilang padanya 'Tolong bilang pada Yunho bahwa kau menyukainya.'" Mata Changmin tak pernah selebar ini sebelumnya.

Segera saja dia menoleh pada kelompok Yunho dan sudah menemukan teman-teman Yunho termasuk Siwon, tertawa kecil sambil melirik-lirik padanya. Namun tidak dengan Yunho, namja bermata musang itu hanya diam, dengan wajah datar yang... oh sungguh Changmin benci melihatnya.

"Hey Yunho! Itu tidak benar!" Dan walaupun pada awalnya Yunho mengacuhkannya seolah ia tak ada, keesokan harinya dia dan Kyuhyunlah yang menjelaskan kejadian ini. Yah... melihat Chagmin yang hampir menangis lantaran tak digubris Yunho membuat Kyuhyun merasa bersalah.

Untung saja Yunho akhirnya mau mendengarkan mereka

Flashback end

.

.

"Mau dibilang cemburu gimana pula, soalnya Yunho itu sahabat aku."

"Jadi kamu cemburu, kan?"

"Ya, tapi aku tak marah pada Yunho."

"Kau sungguh baik.."

"Jadi, gimana? Kamu nerima aku atau nggak."

"Ehm... nerima sebagai apa?"

"Apa aja."

"Aku nerima kau sebagai apa aja kecuali pacar."

"Wae?"

"Karena aku khawatir dengan keselamatan kamu."

"Kenapa dengan keselamatanku?"

"Aku khawatir dengan keselamatanmu ditangan Hyung-hyung-ku."

"Keselamatanku ada ditangan tuhan."

"Ya, ya, yang penting begitu. Intinya... maaf... aku belum bisa nerima kamu. Kita teman aja ya."

"Ya... gitu deh."

Dan berakhirlah chat mereka malam itu dengan keputusan Changmin dan Siwon tetap berteman.

"Hhh... bagaimana mungkin... aku bahkan sangat kaget.." Changmin yang sebenarnya sedang tiduran diatas kasur, menggulingkan badan memeluk boneka dan menaikkan selimutnya, bersiap untuk tidur.

.

.

.

Pagi harinya

"Ada yang ingin Minnie ceritakan? Sepertinya Minnie menyembunyikan sesuatu. Katakan saja." Suara lembut Leeteuk, Eommanya berhasil membuatnya mematung pagi itu, sarapannya memang baru saja habis. Tapi dia makan dengan tidak semangat, dia kira tak ada yang sadar. Ternyata Eommanya sangat peka! "Sarapan Minnie terlihat kurang semangat, pasti ada sesuatu." Ditambah dengan doronga Kangin, sang Appa yang sangat disayanginya.

Dengan mata yang sedikit berkaca-kaca "Semalam ada yang bilang suka pada Minnie." Minho dan Kangta langsung siaga satu mendengar hal itu.

"Mwo? Nugu? Suruh dia kesini! Siapa dia berani sekali!" Minho hampir saja akan menggebrak meja. "Heh, Minnie, minta dia agar datang ke rumah dan menghadapi kami dulu. Dia harus lulus 'ujian' untuk mendapatkanmu." Sedang Kangta terlihat lebih tenang, namun dengan aura iblis pekat dibelakangnya.

Changmin, Leeteuk, dan Kangin hanya bisa sweatdrop

"Eum... namanya Choi Siwon. Dulu dia teman sekelas Minnie. Tidak perlu menyuruhnya datang! Minnie sudah minta agar kita berteman saja kok." Changmin memulai pembelaan.

"Ini tidak bisa dibiarkan! Minnie, hari ini kamu berangkat dengan Hyung ya!" Kangta menggenggam tangan kanan Changmin erat, karena Changmin memang duduk diantara Kangta dan Minho. "Bukannya pagi ini kau kuliah pagi, Hyung? Biarkan aku mengantar uri Minnie!" Minho yang tak mau kalah balas menggenggam tangan Changmin yang satunya.

Tujuan mereka apalagi selain untuk mengetahui yan mana Choi Siwon itu.

"Kalian berdua punya jadwal kuliah pagi, jadi Appa lah yang akan mengantarkan Minnie ke Sekolah sepeti biasa."

Dan begitulah pagi Changmin setelah pengakuan Siwon. Tapi sebelum turun dari mobil, dia mendapat sebuah pesan dari sang Appa.

"Minnie, jika kejadian yang sama terulang, jawaban paling bijak adalah 'semua ada waktunya'"

.

.

.

Se7en-Changmin

Mereka berdua sama-sama atlit Bulu tangkis andalan sekolah. Sejak SMP, mereka sudah sering bertemu sebagai lawan karena berasal dari sekolah yang berbeda. Yang terlintas dalam benak Changmin saat pertama kali melihat Se7en dengan nama asli Choi Dongwook itu adalah

"Namja bermata tajam."

Changmin tidak pernah menang melawan Se7en, dan Changmin mengakui kehebatannya dalam hati. Ya, dalam hati karna mereka tak pernah berinteraksi lebih dari lawan dalam pertandingan. Dan sekarang mereka sudah satu SMA dan mereka menjadi atlit bersama, walaupun Changmin sebenarnya kurang latihan dikarenakan sibuk belajar.

Lanjutan seusai permainan badminton

"Eum... *ragu* pacar?"

"*Mengangguk*"

Mata Changmin membesar, semburat merah sedikit menjalar dipipi mulusnya.

"Ja, jadi kamu... ng... i.. itu... aku?" Changmin menggunakan isyarat tubuh yang tidak jelas, dia masih shock, Se7en hanya mengangguk lagi sambil terkekeh melihat tingkah namja manis didepannya. "Bagaimana?" Tanya Se7en akhirnya.

"Ng... ma, maaf Se7en... aku... tidak bisa.." Changmin menggigit bibir bawahnya, berusaha melihat hal selain Se7en yang duduk didepannya.

"Kenapa?" Suara Se7en terdengar tidak terima. Changmin meneguk ludahnya, sebelum kembali menatap Se7en

"Kata Appa-ku, masing masing ada waktunya. Sekarang kita sekolah, jadi sekarang adalah waktu untuk sekolah." Changmin sesungguhnya merasa tidak nyaman dengan mata tajam Se7en yang menatapnya begitu intens. Ini terlalu intens!

"Lalu kapan?" Suara berat itu terdengar menuntut. "Ehm... mungkin saat aku kuliah?" Changmin juga tidak yakin dengan jawabannya sendiri. "Benar ya, akan kutunggu kau saat kuliah." Changmin tersentak, Se7en pasti bercanda! "Saat kuliah... siapa tau kamu sudah suka pada yang lain.." Suara Changmin makin mengecil

"Nggak ada yang lain lagi, hanya Changmin."

Blush

Changmin memutar otak, bagaimana ini... dia sangat anti dengan yang namanya pacaran. Lagipula, bagaimana bisa hal ini terjadi? Mana pipinya entah kenapa jadi memanas lagi. "Ehm... apa yang membuatmu menyukaiku?" Changmin masih enggan menatap lawan bicaranya.

"Biasanya orang ngajak pacran karna apa?"

Changmin kembali memutar otak.

"Ehm... teman?" Se7en mendesah keras mendengar jawaban polos itu

"Karena cinta..." Tiba-tiba orang disamping Changmin nyeletuk, membuat mata bambi itu membulat "Hah? Eh,, Aku... tak berpikir sampai kesana. Kupikir seseorang bisa menyukai karna sebelumnya mereka berteman." Changmin menjelaskan dengan panik, kemudian menatap Se7en putus asa.

"Baiklah... alasanku mencintaimu itu... kamu ramah, cantik, baik, dan tidak sombong." Alis Changmin berkedut tak suka mendapati kata 'cantik' dalam list alasan kenapa Se7en menyuka-ani, mencintanya? "Aku tak suka dibilang cantik. Dan.. sejak kapan?" Akhirnya kembali berhadapan dengan mata tajam itu.

"Kau manis. Aku mulai tertarik denganmu saat SMP, saat itu, aku kira aku hanya sebatas kagum saja padamu. Mengamatimu yang begitu lincah ketika bermain, rsanya begitu menyenangkan. Dan di saat SMA inilah aku baru menyadari perasaanku padamu yang sebenarnya."

"Bohong... itu sudah lama sekali..."

'Bahkan lebih lama dari Siwon..'

"Aku tidak bohong." Tukas Se7en mantap. "Sebenarnya... Siwon juga udah... itu ke aku, tapi aku juga nolak." Changmin menatap Se7en untuk sekedar mengetahui reaksinya.

"Begitukah? Kalau misalnya, misalnya ya, kamu dan aku berkencan, apa dia akan masih mengejarmu?" Changmin diam, tak tau harus menjawab apa.

"Yang penting, aku tak bisa menjadi kekasihmu Se7en. Lagipula apa spesialnya pacar? Menurutku Pacar itu nomor dua terakhir dalam tingkatan kedekatan hubungan bagiku." Setelah jeda yang cukup lama, Changmin memulai lagi.

"Memangnya apa?"

"Menurutku, dari yang paling dekat ya, itu saudara-sahabat-teman dekat-teman sekelas-pacar-teman. Jadi pacar urutan dua terakhir, kan. Makannya pacar itu tidak lebih spesial dari sahabat." Changmin terlihat bangga dengan penyimpulan polosnya namun tidak dengan Se7en.

"Itukan hanya menurutmu. Menurutku beda lagi."

"Pokoknya, aku gak bisa terima kamu. Mian, kita... jadi kakak-adik aja kalau begitu. Ini hubungan paling kuat lho!" Changmin bak dapat pencerahan dari langit.

Setelah perdebatan yang cukup lama

"Jadi... kita... kakak-adik?" Changmin mengangguk semangat. "Kebetulan kamu juga lebih tua dariku, kan? Hehehe..." Melihat senyum polos itu merekah dibibir Changmin, mau tak mau Se7en tersenyum juga.

Diletakkannya telapak tangannya diatas kepala Changin kemudian mengusapnya lembut.

"Arasseo."

Dan hubungan kakak-adik menjadi final sore itu.

.

.

.

Yunho-Changmin

Yunho dan Changmin sejak kelas X adalah teman sekelas. Saat kelas X, hubungan mereka bisa dibilang biasa saja, tak ada yang spesial. Yunho adalah ketua kelas dan Changmin adalah anggota kelas. Semua berlalu bak air mengalir, tak disangka mereka menjadi lebih dekat saat kelas XI

Berawal dari sikap jahilnya Changmin yang sebelumnya sangat pendiam dikelas X yang telah berubah menjadi Changmin yang jahil dikelas XI. Semua jadi korban kejahilan Changmin dkk (Kecuali guru) termasuk Yunho yang masih menjabat sebagai ketua kelas. Dan entah dapat ide dari mana, Changmin memilih untuk menjahili Yunho dengan cara bertingkah seperti menyukai namja itu. (Seperti kejadian saat olahraga)

"Kalau aku maunya sama Yunho saja!"

"Cieeeee!"

Satu kelas berhasil dibuatnya salah paham, namun dia tak peduli. Walaupun polos, Changmin tak terlalu bodoh untuk menegerti tentang hal ini. Tak disangka ternyata menyenangkan dan Changmin tak bisa berhenti. Dia menjadi selalu dan selalu ingin berhubungan dengan Yunho.

Terkadang dia sadar Yunho terlihat kesal dan tidak nyaman, disitulah dia terkadang berkata

"Hey,jika aku mengganggumu, jika aku punya salah, maafkan aku ya." Dan Yunho bisa membalas apa lagi kecuali mengangguk. Namun, Changmin sadar kejahilannya yang terakhir itu sangat fatal.

"Eh? Hey... Aku bercanda Loh.."

"Tapi aku serius. Kencanlah denganku."

Changmin menatap Yunho dalam, namja ini tidak sedang balik mengerjainya kan?

"Selama ini aku berusaha menahan diri dengan segala tingkahmu. Sering kali rasanya aku ingin langsung menerkammu dan melumat habis bibir merahmu sampai bengkak. Tapi hal itu tak pernah kulakukan, Karna kau... benar-benar melakukannya karna bercanda."

Changmin melotot horor, apa tadi? Melumat... bi... bibirnya? Sam.. sampai bengkak? Yunho gila!

"A... hahaha... ne... selama ini aku memang bercanda. Iya, bercanda. Kupikir kau tau dan ternyata kamu memang tau kan." Dan Changmin berusaha setenang mungkin! Mereka sudah dekat dengan gerbang sekolah.

"Tapi aku ingin bercandanya sampai disini saja."

Langkah Changmin terhenti "Mian... jika maksudmu kau mau kita berkencan... aku tidak bisa... aku...belum mau." Changmin menatap Yunho meminta pengertian. "Hhh... jika kamu sudah bilang begitu aku bisa apa?" Yunho yang tadi ikut berhenti kembali berjalan, diikuti Changmin.

"Tapi... kita tetap berteman, kan?" Yunho tersenyum, menatap mata bambi yang selalu membuatnya terpesona itu "Tentu saja Changminnie... aigoo... kenapa kamu sangat manis eoh?" Yunho mengacak rambut Changmin kasar, tak menyadari pipi Changmin yang sudah berubah warna.

Yunho adalah satu-satunya yang langsung mengatakannya manis, bukan cantik.

"Ah, aku sudah dijemput. Daaah... sampai besok." Ketika mereka sudah sampai gerbang, Changmin langsung pamit melihat mobil ayahnya sudah standby ditempat biasa. Melambaikan tangan semangat pada Yunho yang tersenyum padanya.

Setelah berbalik, ekspresi Changmin berubah menjadi ekspresi panik bercampur bingung. Apa yang harus dia lakukan? Apa yang harus dia lakukan? Sudah cukup akting sok tenangnya tadi, sekarang aa yang harus Changmin lakukan?

"Teman-teman harus tau ini..."

.

.

.

Keesokan paginya

"APA? Jadi 3 namja tertampan disekolah menyukaimu?!" Changmin mengangguk lesu. "Apa yang harus aku lakukan?"

Shim Changmin dalam keadaan bingung Sekarang.

"Waah... kau pacari saja ketiganya sekaligus, Min! Kan asyik!"

Bletak!

"Kau bodoh, ya?" Minho mengusap-usap kepalanya yag dijitak Kyuhyun. Changmin dan jonghyun juga ikut menatap namja bermata kodok itu tajam.

"Begini Changminnie... kami tau kamu bingung sekarang. Yang perlu dipertanyakan sekarang adalah hatimu. Kamu... adakah yang kamu sukai salah satu dari tiga namja itu?" Jonghyun bertanya dengan lembut.

"A...aku... kalau aku sih sebenarnya menyukai...

TBC

Mind to review?

Salam, Minnie Chwangie