Minnie Chwangie Presents

CONFUSED

Cast : Shim Changmin, Jung Yunho, Choi Siwon, Choi Se7en, and others

Genre : Drama, School Life

Lenght : Chaptered

Disclaimer : Para cast adalah milik Tuhan, agensi, dan diri masing-masing. Saya hanya meminjam nama dan ide cerita murni dari kepala saya

Warning! : Typo bertebaran, Yaoi, membingungkan

Ide cerita berasala dari pengalaman pribadi pas SMP walau banyak permak sana-sini.

Hope u enjoy ^^

"A...aku... kalau aku sih sebenarnya menyukai..."

Minho, Kyuhyun dan Jonghyun langsung mendekatkan wajah mereka pada Changmin, tentu saja agar bisa mendengar lebih jelas suara yang makin mengecil itu. Posisi mereka sekarang adalah di belakang kelas, tepatnya di kursi paling belakang, kursi yang tak terpakai.

"Aku menyukai ketiganya." Cicit Changmin.

"MWO!?"

Dalam sekejap, empat sekawan itu sudah menjadi pusat perhatian dikarenakan teriakan tiga namja selain Changmin. Tapi siapa peduli?

"Yang benar saja... kalau begitu pacari saja ketiganya sekaligus..." -Minho

"Eh? Mana mungkin..."

"Kan kamu suka ketiganya..."-Kyuhyun

"Stop!" Jonghyun mengangkat sebelah tangannya, yang lain langsung diam. "Biarkan Changmin menjelaskan kenapa dia bisa menjawab seperti itu."

Kyuhyun dan Minho berpandangan, lalu mengangguk dan langsung memasang sikap siap mendengar.

"Gomawo Jonghyun-ah. Begini... kalian tau tidak kalau aku ini juga menyukai kalian? Hey, apa kalian tidak mengenalku?" Tiga sahabatnya kelihatan bingung dan kaget, tapi tetap membiarkan Changmin melanjutkan.

"Aku suka semua orang yang aku kenal dan menjadi temanku, aku menyukai semua orang sebagai teman. Apalagi jika orang itu baik padaku. Jadi... tidak salahkan jika aku bilang begini..." Changmin menarik nafas dalam.

"Aku suka Siwon, karena dia baik padaku. Dan aku tak pernah bilang kalau aku tak suka Se7en. Aku suka Se7en. Dan..."

Ucapan Changmin menggantung ketika sudut matanya menangkap Yunho sedang berbincang dengan teman-temannya.

"A..aku... aku juga suka Yunho."

Mata Changmin terpejam, entahlah, dia malu sekali mengatakan semua hal barusan.

"Aku mengerti." Mata Changmin terbuka lagi dan kini menatap Kyuhyun. "Kamu memang anak kecil, Changmin. Kamu nggak boleh bilang suka pada sembarang orang, ya. Banyak yang bisa salah paham, lho.." Bibir Changmin langsung mempout, dibilang anak kecil jika sudah menjadi siswa SMA siapa yang tak kesal?

"Tapi, apa kau ada bilang kau juga menyukai mereka?" Mereka yang dimaksud Minho tentu tiga namja tertampan itu.

"Ani, eh kayaknya ada ya? Ahh... aku lupa... kepalaku teralu pusing!"

Changmin langsung menjatuhkan wajahnya diatas meja, dan ketika mengangkatnya lagi, matanya langsung bertemu dengan obsidian Yunho yang juga sedang melihat padanya. Tak tau harus melakukan apa, bel masuk pun menyelamatkan Changmin.

.

Pulang sekolah

Bruk

"Haaaah..."

Changmin baru saja menghempaskan tubuhnya ke kasur yang empuk. Sungguh, tak ada yang lebih nyaman dari kasurmu sendiri kan?

"Untung saja hari ini berjalan dengan baik." Gumam Changmin sembari bangkit untuk duduk diatas kasurnya. Tersenyum manis menoleh pada jendelanya yang terbuka lebar.

Ingin tau ceritanya?

Flashback

"Yunho, jawaban nomor lima 4.550 cm3, kan?"

Changmin yang memang duduk didepan Yunho membalikkan tubuhnya, sempat kaget saat menemukan namja itu justru sedang menatapnya intens.

'Ini kan hanya Yunho... tak apa...'

Begitu cara Changmin menenangkan dirinya.

"Ya, memang itu jawabannya." Changmin tersenyum lebar, puas dengan jawaban itu kemudian membalikkan badannya lagi. Mengerjakan soal latiahan selanjutnya.

'Yunho masih kayak dulu kok... ^^'

Hatinya bersenandung senang sambil mencari jawaban soal nomor enam.

Saat jam istirahat

Changmin keluar kelas dengan teman-temannya, dan menemukan Siwon di depan kelas.

"Siwon-ah..."

Kyuhyun menyapa mendahului Changmin dan dijawab dengan anggukan oleh Siwon, dan ketika mereka sudah sedikit melewatinya, Changmin menoleh kebelakang dan tersenyum pada namja yang sering ditertawakan mirip kuda itu.

Siwon membalasnya dengan lambaian tangan dan senyu lebar.

'Siwon juga masih sama... :D'

Dan ketika mereka kembali dari kantin

"Changmin!"

Mata Changmin membulat kaget menemukan Se7en ada didepan kelasnya bersama seorang teman yang tak Changmin kenal.

"Se7en? Ada apa?"

Changmin mempercepat langkahnya menuju tempat Se7en berdiri.

"Changmin, pinjam pena."

"Hah?"

Untuk beberapa saat, Changmin terdiam kaget ditempatnya berdiri.

"Pena ku tak ada. Jadi boleh aku pinjam pena?" Changmin akhirnya tersadar dan mengagguk buru-buru. "Pena ya... tunggu sebentar." Dengan cepat Changmin berlari ke dalam kelas dan membuka kotak pensilnya.

Ada dua pilihan. Pena peberian Jonghyun, atau pena yang kembar dengan Yunho (kebetulan sama), Changmin hanya punya dua pena sekarang. Merasa tak mungkin meminjamkan pena hadiah, dengan agak berat hati Changmin menggenggam pena kembarnya menuju depan kelas.

"Ini." Changmin tersenyum, menyodorkan pena itu.

"Gomawo, nanti akan ku kembalikan!" Se7en balas tersenyum tampan kemudian berbalik menuju kelasnya, Changmin masih tersenyum menatap punggung itu.

"Nugu? Se7en, ya? Ngapain?" Changmin sedikit terlonjak ketika Minho menepuk punggungnya dari belakang. "Pinjam pena, kayanya ga ada teman sekelasnya yang mau pinjamin." Changmin menjawab seaadanya.

"Jelas banget dia modus ke kamu!" Changmin bingung kenapa Minho justru tertawa sekarang. "Masa sih, modus?" Changmin jadi bingung sendiri.

Gak sadar kalau tatapan Yunho dari dalam kelas memancarkan aura cemburu

Pulang sekolah

"Changmin-ah, ini penanya,"

"Ah, ne.."

"Gomawo manis.."

Dengan wajah memerah, Changmin menerima pena itu. Tidak biasa dipuji membuatnya jadi salah tingkah.

Beruntung Kyuhyun langsung mengajaknya pulang dan diperjalanan pulang pun dia sempat berpapasan dengan Siwon yang tersenyum padanya.

Flasback end

.

"Se7en mulutnya suka asal ngomong..."

Sekarang Changmin sedang memakai sebuah kaus, dia tipe yang tak tahan jika harus berlama-lama dengan baju sekolah. Berkutat dengan tugas sebentar, akhirnya Changmin memutuskan untuk tidur siang.

Entahlah, hari ini memang lancar, tapi melelahkan juga..

.

Beberapa jam kemudian

BRAK!

"Minnie! Nae dongsaeng! Kau baik-baik saja kan?"

Mata Changmin sontak terbuka, Changmin kaget, rasanya jantungnya ingin copot saat itu juga.

"YA! Kau membuatnya bangun, pabbo!"

Dan suara itu memaksa Changmin untuk membuka matanya lebih lebar, mengumpulkan nyawa secepat mungkin untuk meneriaki siapa saja yang berani menganggu tidur manis-nya.

Perlahan tapi pasti, dia berusaha duduk kemudian menatap dua pelakunya bergantian sebelum...

"Hyung... APA MAU KALIAN?"

Minho dan Kangta kompak menutup kedua telinga mereka ketika dihadiahi teriakan melengking dari Changmin.

"Tidak bisakah membangunkan Minnie dengan normal?" Changmin mengacak rambutnya asal, heran dengan tingkah kedua hyungya yang terlalu over. Bahkan kepalanya sekarang terasa pusing karna dipaksa bangun tiba-tiba. Ah... seharusnya dia tak perlu lagi heran, Hyungya kan memang seperti ini.

"Mianhae Minnie... Hyung tak akan mengulanginya lagi..." Minho langsung menerjang Changmin dengan pelukan, hampir membuat tubuh kurus Changmin terjungkal kebelakang jika saja dia tak memiliki keseimbangan yang bagus.

"Hyung juga minta maaf Minnie..." Dan Changmin sungguh merasa akan kehabisan nafas ketika tubuh besar Kangta juga ikut memeluknya. Jadilah mereka bertiga berpelukan ala teletubies dengan Changmin menjadi objek yang paling menderita.

"Hyung... lepppaAS! Kalian ingin membunuh Minnie ya!" Dengan segenap tenaga, akhirnya peneritaan Changmin berakhir. Tapi rasanya sebal sekali melihat dua wajah tampan itu justru tersenyum dengan bodohnya.

"Tidak, Minnie. Kami mencintaimu."

Kali ini Changmin menjambak rambutnya frustasi

"EOMMA! APPA! SELAMATKAN MINNIE DARI DUA MAKHLUK INI!"

Puk puk Changmin...

.

Makan malam

"Jadi, harimu baik, Minnie?" Leeteuk yang pertama membuka percakapan dimeja makan. Jangan tanya apa kelanjutan teriakan lima oktaf Changmin tadi.

"Ne, semuanya baik, Eomma. Hari ini menyenangkan." Kangta dan Minho lagsung mendelik tidak suka. Hari dongsaengnya menyenangkan bukan karna tiga namja yang adiknya ceritakan baru saja menyatakan cinta itu, kan?

"Menyenangkan karna apa?" Tanya mereka serentak, kompak banget kalau udah berhubungan sama Changmin.

"Hari ini berjalan seperti biasanya, belajar... istirahat.. dan ah, tadi Se7en sempat pinjam pena tapi sudah dikembalikannya lagi. Dan tadi latihan Minnie dapat seratus... terimakasih pada Yunho... hehehe.. dan Siwon juga senyum ke Minnie tadi, kan udah Minnie bilang hari ini menyenangkan..."

Minho dan Kangta merasa tak suka menangkap tiga nama namja lain dicerita Changmin.

"Tak ada yang menggoda Minnie kan, tadi?" Kangta bertanya penuh selidik.

Changmin hampir tersedak, tak mungkin dia menceritakan Se7en mengatakannya manis, bia-bisa kedua Hyungnya itu akan mendatangi rumah Se7en saat ini juga. Sama halnya dengan ia yang merahasiakan perkataan frontal Yunho padanya kemaren.

"Segera perkenalkan kami dengan mereka!" Desak Minho.

"Appa..." Pada akhirnya, Kanginlah yang harus turun tangan meredakan badai ke-protektifan dua Hyung Changmin disetiap keadaan.

"Biarkan adik kalian berkembang. Belum saatnya kalian turun tangan."

Dan melihat kedua hyungnya sudah tertunduk patuh, membuat Changmin tersenyum geli. Ahh... Changmin benar-benar menyanyangi dua Hyungnya ini walaupun mereka terlalu over.

.

Malamnya, Changmin memutuskan untuk tidur lebih cepat karena capek. Dia sudah berteriak keras dua kali hari ini dan hal itu cukup menguras tenaga.

"Besok gimana ya?"

Sebelum menutup jendelanya, Changmin yang pakaiannya sudah berganti menjadi piyama menatap langit berbintang diatas. Kamarnya memang dilantai dua sih...

"Psst... Changmin..."

Merasa namanya dipanggil, Changmin buru-buru mencari sumber suara dan petapa kagetnya dia saat menemukan Yunho terlihat memanjat balkonnya. Hey, hey, ini lantai dua! Dan bagaimana bisa Yunho masuk ke pekarangan rumahnya? Manjat pagar?

"Changmin... tolong..."

Mau tak mau, Changmin segera keluar dan membantu Yunho naik. Agak susah memang, mengingat balkon jendela seperti punyanya memiliki pagar pembatas dan ini sempit.

"Yunho... apa yang kau lakukan disini?" Setelah Yunho benar-benar menginjakkan kaki dibalkonnya, Changmin bertanya dengan rasa penasaran yang belum berkurang sedari tadi. Balkon yang kecil membuat jarak mereka dekat, tapi Changmin belum menyadarinya.

"Changmin..."

Tubuh Changmin merinding ketika tangan Yunho terangkat dan membelai pipinya lembut. Tangan Yunho dingin, apa karena dia berada diluar sedari tadi.

"Ada apa Yunho? Bagaimana kamu bisa masuk? Hey.. nanti Hyungku tau bagaimana?" Changmin menggenggam tangan dingin Yunho dengan tangan hangatnya sekaligus menurunkan tangan itu dari pipinya.

"Aku tak peduli..." Yunho maju selangkah membuat tubuhnya makin rapat dengan Changmin, Changmin yang tak nyaman berjalan mundur tapi sialnya balkon ini terlalu sempit! "Yu..Yunho... apa yang kau lakukan...?" Changmin sekarang menatap Yunho takut.

"Aku tak akan menyakitimu Changmin..." Dan parahnya lagi, sekarang Changmin bisa merasakan napas hangat Yunho di wajahnya.

"Yunho... aku ingin tidur... sekarang sudah malam... kau juga pulanglah..." Changmin berusaha menjauhkan wajahnya tapi sia-sia, tangan Yunho entah sejak kapan berada ditengkuknya. Menahan kepalanya agar tak bisa lebih jauh dari ini.

"Bagaimana kalau kita... tidur bersama? Hmm?" Yunho berbisik seduktif membuat wajah Changmin memanas.

"M.. mwo? Tidur bersama? Itu tidak mung-mmph!" Tak disangka, Yunho langsung membungkam bibir Changmin. Melumatnya dengan penuh perasaan dan tentu mendatangkan penolakan dari Changmin.

"Emph..Yunh...lepphas..." Changmin mendesah ditengah ciuman itu, namun disaat bersamaan dia juga menitikkan air mata.

'Yunho pasti mabuk!'

Bruk!

"Yunho!"

Seusai mendorong Yunho dengan kekuatan yang tersisa, Changmin mengusap air mata dan bibirnya yang sudah agak membengkak dengan kasar.

Menatap nyalang pada namja bermata musang yang kini terkekeh didepannya.

"Aigoo... kenapa menolak? Bukankah yang tadi itu bisa jadi sangat nikmat?" Changmin sangat yakin yang ada dihadapannya sekarang ini bukanlah Yunho yang asli. Makannya dia langsung meloncat kabur kedalam kamarnya namun terambat!

Tangan Yunho berhasil menangkap lengannya.

"Ayo kita pergi..."

"Pergi kema- Hyaaaa!"

Dan Changmin tak bisa tak berteriak ketika Yunho menariknya dan langsung melompat kebawah yang artinya mereka akan melompatdari lantai dua. OMO! Changmin tak mau mati muda!

"Yunhooooooo!"

Akhirnya mereka berdua tenggelam dalam cahaya terang ditanah.

Eh, apa? Cahaya terang?

"Uuukh..." Changmin mengerjabkan matanya beberapa kali ketika cahaya matahari pagi menerobos jendelanya yang terbuka lebar.

Tunggu, apa tadi?

Jendela yang terbuka lebar?

"Hah?"

Buru-buru Changmin bangkit dari tidurnya dan melihat kesekeliling. Jendelanya masih terbuka lebar, dan dia dikamarnya.

Lha?

"Bukannya tadi malam saat aku akan menutup jendela Yunho datang dan..." Changmin berlari menuju cermin untuk memeriksa wajahnya.

Baik-baik saja, tak ada yang salah.

Bibirnya juga tak bengkak, tak ada bekas ci...uman Yunho.

Muka Changmin merah padam mengingat bagian itu.

"Jadi... Cuma mimpi?"

'Tapi kenapa terasa begitu nyata?'

Changmin menyentuh bibirnya, rasanya yang semalam itu sungguh nyata. Bahkan rasa dari bibir kenyal Yunho masih dapat dia bayangkan.

Changmin beralih pada jendela yang masih terbuka, keadaannya sama persis dengan yang semalam. Jadi benar hanya mimpi?

"Ternyata hanya mimpi... hh... untunglah..." Changmin tertawa kecil, entahlah, antara ikhlas dan tidak ikhlas kejadian semalam hanya mimpi. Mengingat wajah tampan Yunho sangat dekat dengannya... aish!

'Bagaimana mungkin aku bisa bermimpi tentang Yunho...'

Mengambil ponselnya dinakas, mata Changmin membulat ketika melihat satu sms masuk. Ah... masuknya tadi malam... mungkin saat dia sudah tertidur, ya..

From : xxxxxxxx

Good night

Alis Changmin berkerut, ini nomor yang tak dikenal. Apa salah kirim ya?

To : xxxxxxxx

Maaf, ini siapa ya?

Membalas seadanya, Changmin kemudian melihat jam berapa sekarang dan mata bambi itu sukses melebar.

"Minnie! Sarapan sudah siap! Ayo makan!"

Itu suara Leeteuk, Eommanya

"Omo! Aku terlambat!" Secepat kilat dia langsung masuk kedalam kamar mandi, namun sebelum menutupnya dia sempat berkata

"MINNIE DATANG EOMMA!"

Blam

"Aigoo... setelah mimpi aneh, malah terlambat lagi..."

Dan Changmin tak terlalu peduli jika mandinya kali ini bersih atau tidak. Yang penting dia tak boleh terlambat!

Disekolah

"Changmin.. tumben telat?"

Changmin memasuki kelas dengan tergesa-gesa karena bel baru saja berbunyi tepat saat dia menginjakkan kaki disekolah. Untung Kangin mengerti keadaannya dan membawa mobil lebih cepat pagi ini.

"Aku... terlambat bangun..."

Setelah sampai ditempat duduknya, Changmin lagsung menghempaskan tubuh disana. Menetralkan napasnya yang tadi sempat memburu.

"Tumben kamu terlambat bangun?" Jonghyun datang dan menyodorkan sapu tangan padanya. "Gomawo." Yang langsung dipakai oleh Changmin untuk mengelap keringat paginya.

"Jadi, kamu begadang ya semalam?"

"Ani... mungkin aku hanya terlalu lelah..."

Mata Changmin terbelalak kaget ketika dia menangkap sosok Yunho yang juga sedang melihatnya.

'Glek! Senyuman itu...'

TBC

Mind to review?

Salam, Minnie Chwngie yang cinta damai ^^V