Sebelumnya terimakasih atas dukungan dan reviewnya dari piguin, EchaNM, dan Rinda Kuchiki. Arigatou atas semuanya..
"Nee, Itachi-kun aku haus..."
"Mau bagaimana lagi, silahkan!"
Sakura melihatnya.. sepasang taring yang menancap di leher itu...
Ketika cairan merah kental itu mulai menjalar...
Tidak salah lagi, mereka vampir dan ia terpikir..
Bahwa suatu saat dia—cepat atau lambat—akan seperti mereka berdua.
What Taste of My Blood
By. Lavena Valen
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Rate : T
Genre : Romance, Family, Hurt/comfort
Warning : OOC, OC, AU dan Typo
Chapter 2 : Fiancee
Sakura berusaha melarikan diri secepat mungkin. Ia menutup rapat-rapat pintu kamar Sasuke. Tubuhnya bersandar dibalik pintu. Sejenak, tubuhnya ambruk ketika membayangkan bagaimana kakak Sasuke itu saling menghisap darah pasangannya. Ia menutupi wajahnya dengan kedua lututnya. Ada cairan bening yang keluar dari sudut matanya.
'aku takut...' batinnya berteriak. Tapi kepada siapa ia meminta tolong. Kepada siapa ia menumpahkan semua ketakutannya. Orang tuanya ada di pihak keluarga Sasuke dan Ino tidak mungkin percaya kalau Sasuke seorang vampir.
CKLEK!
"Eh, buka pintunya. Apa yang kau lakukan di situ?" Sakura menoleh melihat sosok Sasuke mengintipnya dari balik pintu. Ia mengusap air matanya lalu membukakan pintu. "Sasuke?"
"Hn. Ibu bilang kamu harus makan malam di rumah ini dan ada yang ingin dia sampaikan."
"Baiklah. Dimana tante Mikoto sekarang?"
"Dia sedang pergi" Sakura hanya manggut-manggut.
Sasuke membaringkan tubuhnya di tempat tidur sementara Sakura hanya duduk di sebuah kursi. Keheningan berlangsung untuk waktu yang agak lama sampai Sakura menyadari Sasuke tengah menatapnya. "Apa yang kau lakukan di situ?"
"Duduk." Ujar Sakura singkat. "Pergi!"
"Heh? Kenapa aku harus pergi? Bukankah kau bilang tante Mikoto mengun-"
"Pergi dari kamarku!" ujar Sasuke mempertegas.
"Aku tidak mau. Siapa lagi orang dirumah ini yang bisa kuajak bicara?"
"Entahlah. Aku tidak peduli." Sasuke menarik selimutnya sampai membungkus seluruh tubuhnya. Di dalam kegelapan itu, mata Sasuke masih dapat melihat bayangan Sakura. Matanya berubah menjadi merah darah dan tenggorokannya terasa tercekat.
Dalam visi Sasuke, gadis itu tidak beranjak dari tempatnya sedikitpun. 'Dasar keras kepala!' ditambah lagi Sasuke tidak dapat menahannya lebih lama.
Sakura membuka matanya yang terpejam akibat suara langkah kaki. Ia melihat Sasuke menghampirinya dengan tatapan yang haus darah. Matanya memerah dan Sakura dapat melihat betapa runcingnya gigi taringnya. "Sasuke.. apa yang akan kau lakukan?"
Sasuke mengunci pintu kamarnya lalu mendekati Sakura. Sakura segera bangkit dan mencoba menjauh. "Sasuke, tolong jangan macam-macam!"
"Dasar gadis keras kepala. Andai saja kau memilih pergi dari kamarku, aku tidak akan seperti ini."
Sasuke terus melangkah maju, membuat Sakura mundur sampai di belakangnya hanya tersisa dinding. Ia menangkap kedua pundak Sakura yang saat itu gemetar. "Berikan darahmu. Aku haus.."
Sakura menggeleng pelan, "Ak-aku tidak mau menjadi vampir. Ak-aku..."
Sasuke menyeringai, "Menjadikanmu vampir? Jangan sombong! Aku hanya haus.." Ia menyibak rambut pink Sakura yang menutupi leher jenjangnya. Perlahan ia hirup aroma tubuh gadis itu. entah kenapa rasanya begitu harum. Bukan karena parfum yang digunakannya tapi karena darah yang terus mengalir, jantung yang berdetak kencang dan rasa hangat tubuh manusianya.
Saat Sasuke menancapkan kedua taringnya di leher Sakura, gadis itu menjerit. Namun Sasuke membungkam mulutnya dengan sebelah lengannya. Sakura mencoba mendorong tubuh Sasuke dan rupanya berhasil, tapi justru hal itu membuat luka di leher Sakura sedikit besar dan mencolok.
Sakura berusaha menutupi luka di lehernya dengan sebelah lengannya.
"Darahmu itu sangat panas sampai membakar tenggorokanku." Sasuke berkomentar.
"Aku tidak peduli. Sasuke, keluarkan aku!" perintah Sakura. Ia berjalan menjauhi Sasuke tapi justru Sasuke telah ada di belakangnya. Sasuke mendorong tubuh Sakura ke tempat tidurnya.
"Aku masih belum selesai." Ia kembali menghisap darah gadis itu. ia tidak peduli seberapa besar usaha Sakura untuk memberontak, ia tidak akan pernah melepaskan. Karena itu alasan Sasuke setuju pertunangan ini. Sasuke ingin menghisap darahnya sampai habis. Ia tidak peduli gadis itu mati atau hidup.
Sasuke merasakan tubuh Sakura tidak bergerak sedikitpun. Ia segera melepaskan gigitannya. Ia melihat Sakura pingsan karena kekurangan darah. "menarik" gumamnya.
"Entah kenapa darahnya seperti menari-nari dalam diriku! Yang seperti ini tidak boleh dibiarkan sekali minum." Sasuke membersihkan darah yang tersisa di leher Sakura lalu membenarkan posisi tidurnya yang acak-acakan.
~What Taste~
Sakura membuka matanya, ia megingat-ingat sejenak kejadian yang baru saja ia alami. Sontak ia segera meraba lehernya yang terasa sakit. "Itu bukan mimpi.." gumamnya. Ia beranjak dari tempat tidur Sasuke dan melihat ke arah cermin.
"Ah~ leherku rasanya mati rasa karena digigit. Tepi siapa yang mengobati dan memasang perban ini?" Pikiran Sakura langsung menjurus ke arah 'Sasuke' tapi ia malah menggeleng-gelengkan kepalanya, 'tidak mungkin, si Uchiha arogan itu..'
CKLEK!
"Sasu... –chan?" Sakura menoleh, mendapati seorang wanita muda yang berdiri di ambang pintu. "Sakura-chan rupanya. Sedang apa?"
"Eh, I-Izumi.. san?" Sakura gugup.
Wanita berambut hitam itu menghampiri Sakura. Tiba-tiba hidungnya bergerak-gerak mengendus. "Aroma apa ini? terlihat enak?" Izumi berjalan menuruti instingnya sebagai vampir dan perjalanannya sampai di depan selimut yang bercampur bercak merah darah. "Darahmu?"
Sakura mengangguk pelan. "Sasuke yang melakukannya?"
Lagi-lagi Sakura mengangguk. "Dan kamu masih hidup?"
Sakura memiringkan kepalanya. "I-ya." Dia kelihatan bingung. Izumi segera menghampirinya lalu memeluknya gembira. "itu bagus!"
Sakura mengernyitkan dahinya, "Apanya yang bagus?"
"Sasuke tidak membunuhmu. Itu adalah hal paling bagus. Kamu tahu seberapa lama Sasuke sering ditunangkan? Tapi tunangannya itu selalu meninggal karena digigitnya."
Izumi tersadar Sakura hanya terdiam mendengarnya berbicara, "Ah, maaf menakutimu. Tidak pa-pa, kamu tidak perlu takut." Ia merangkul Sakura. "ngomong-ngomong, dimana Sasu-chan? Kaa-san memanggilnya."
"Aku tidak tahu... Aku pingsan saat dia menghisap darahku."
"Ada apa Izumi?" sebuah suara memecah pembicaraan mereka. Rupanya Sasuke telah berdiri di ambang pintu. Ia melepas jaket dan syal miliknya. "Sasuke, yang benar Izumi nee-san" Izumi mengoreksi.
"Ibu meminta kalian datang ke teras belakang. Kita akan makan malam di sana. Kebetulan cuacanya sedang bagus. Dan Sakura-chan... ayo ikut aku!"
"Kemana?"
"selagi ini acara keluarga, kenapa kamu masih menggunakan seragam sekolah. Ayo!" Sakura mengangguk.
Sakura tidak menyangka, makan malam yang dimaksud Sasuke adalah makan malam selayaknya manusia. Tentunya dengan makanan manusia. Karena lokasi makan malam di teras belakang, mereka sekalian membuat barbeque.
"ano.. vampir itu... bisa makan?" bisik Sakura. Sasuke tidak merespon. Sakura menyikut lengan Sasuke. "Hn."
"tapi makanan yang masuk ke dalam tubuh kami bukan sebagai nutrisi yang dimaksud manusia. Hm, mungkin bagi manusia seperti junk food atau semacamnya. Pada akhirnya, nutrisi utama kami adalah darah." Jelas Izumi.
"Sakura-chan, ayo duduk di sebelahku." Panggil Mikoto dari kejauhan. Sakura mengangguk lalu duduk di sampingnya. "Sakura-chan, aku dengar kamu tidak menyetujui pertunangan ini karena Sasuke vampir?"
Sakura hanya terdiam, walau dalam hatinya menjawab setuju tapi ia tidak berani mengungkapkannya. "Aku mendengarnya dari ibumu, karena itu aku menyekolahkan Sasuke di sekolah yang sama denganmu. Aku yakin, Sasuke bisa bertindak layaknya manusia."
Mikoto memperhatikan leher Sakura yang tertutup perban. "Apa Sasuke sudah menghisap darahmu?" Sakura mengangguk. "Lalu bagaimana perasaanmu?"
"Aku... agak takut akan mati atau berubah menjadi vampir." Ungkap Sakura. "kenapa begitu?"
"Karena Sasuke menghisapnya sangat dalam dan rasanya semua darah di tubuhku akan hilang diminumnya..." Mikoto hanya tersenyum kecil, "dengar Sakura-chan, aku pastikan kamu akan jadi manusia seutuhnya dan tentu saja hidup. aku tidak akan membiarkan Sasuke membunuhmu, oke?"
~What Taste~
Sakura membereskan buku-buku pelajarannya yang tercecar di meja. Ia melihat bangku sebelah kanannya. Kosong. 'Sasuke pasti pergi saat pelajaran masih berlangsung..' Sakura bangkit dari tempat duduknya menuju kantin.
'Yosh, hari ini aku akan menjelaskannya pada...'
"Lihat anak itu!"
"Siapa? Dia? Ah, dia anak kelas 2-B kan? Namanya Haru-"
"Tch, jangan keras-keras. Kamu tahu, dia berpacaran dengan dua pangeran sekolah kita."
"Eh, bukannya dia memang pacarnya Sasori-senpai?"
"Iya, tapi dia juga berpacaran dengan Sasuke, murid pindahan itu. kemarin katanya ia memutuskan Sasori-senpai di parkiran."
"Ih, kejam banget! Sudah enak bisa dekat dengan Sasori-senpai, dia malah jalan dengan Sasuke, gimana sih!"
Sakura menoleh ke sumber suara. Saat itu siswi-siswi yang bergosip tentang dirinya hanya menunduk dan diam. Sakura kembali fokus pada makanannya. Ia berusaha menelan sandwich namun agaknya kesusahan karena luka di lehernya masih terasa perih. 'Sakura, semangat! Jangan karena Ino tidak ada, kamu jadi lemah begini!'
Sakura tersenyum kecil, mencoba menyemangati dirinya yang sedang terpuruk. Ia tidak bisa terus-terusan bergantung pada Ino. Apalagi sekarang Ino sedang izin karena menjenguk neneknya yang sakit. Sakura kembali memakan sandwichnya.
BUK!
Sakura merasa tubuhnya terdorong sebuah gaya. Punggungnya terlihat lengket dan bau amis menyebar ke seluruh tubuhnya. "Hei, Haruno Sakura! Aku tidak peduli kau senpaiku, tapi jangan mentang-mentang Sasuke-senpai juga suka denganmu, kamu malah meninggalkan Sasori-senpai!"
Sakura menarik nafas panjang. Ia mencoba sabar, 'mereka salah paham padaku. Aku tidak suka dengan Sasuke, Sasuke hanya...'
BUK!
Kali ini benda berwarna oranye melekat di bahu Sakura. "Iya, kasian Sasori-senpai."
Murid-murid lainnya, khususnya fangirl-nya Sasori ikut meneriaki Sakura. Tidak sedikit pula dari mereka yang melemparinya dengan telur, tomat bahkan minuman kaleng yang masih ada isinya. "Kemarin aku melihat Sasuke membawanya pergi setelah bertengkar dengan Sasori-senpai"
"Iya, waktu itu aku juga melihat Sakura dan Sasuke di atap."
Sakura hanya duduk diam, bahkan ketika pecahan telur mengenai sandwichnya. Ia menundukkan kepalanya, tidak berani menatap kerumunan siswi-siswi yang melemparinya. Tiba-tiba teriakan, makian dan lemparan mereda. "Apa yang kalian lakukan?"
Suara khas itu, Sakura sangat mengenalnya, itu suara Sasori-senpai. Sakura menatapnya dengan penuh keheranan.
"Sasori-senpai?" "Sasori-kun?"
"Kenapa kalian berbuat seperti ini padanya? Apa salahnya?"
Semua siswi yang ada di sana hanya terdiam, lalu muncul sosok siswi berambut hitam berteriak, "Dia telah menyakiti hatimu, Sasori. Aku, kami semua puas menjadi fansmu, walaupun kami sangat ingin menjadi pacarmu. Ah, kamu sudah punya pilihan sendiri. Kami menghargainya."
"Iya, kami menghargainya bahkan ketika kalian resmi pacaran. Tapi dia malah berselingkuh dengan Uchiha Sasuke, murid pindahan itu."
"Awalnya ini hanya desas-desus. Tapi kemarin kami melihat kalian bertiga di parkiran, dan akhirnya dia malah pergi dengan Sasuke dihadapanmu. Bukankah saat itu dia memutuskanmu?"
"Siapa yang bilang begitu?" tanya Sasori keras. Semua fansnya hanya diam.
Sasori membantu Sakura bangkit dari tempat duduknya. "Dia tidak salah apapun. Dan kemarin hanya salah paham."
"Kalau begitu, kenapa dia akrab sekali dengan Sasuke? Pasti ada apa-apa. Apalagi kemarin dia lebih memilih pergi dengan Sasuke daripada denganmu. Kamu pasti dicampakkan."
"Iya, aku juga melihat wajah Sasori-senpai sangat sedih saat itu. pasti dia memutuskannya!"
"Buktikan kalau dia tidak memutuskannya! Buktikan! Dia pasti malu sendiri!"
"Cukup! Sakura tidak melakukan kesalahan apapun." Ujar Sasori tegas. "dan sebagai bukti kalau dia tidak memutuskanku..." Sasori menarik tubuh Sakura mendekat padanya dan saat itu ia menciumnya dihadapan banyak orang.
Mereka semua sedikit terkejut atas tindakan Sasori sekaligus hanya bisa terpaku. Sasori menjauhkan wajahnya dari wajah Sakura. "Lihat! Masih ada dari kalian yang meragukan?" perlahan kerumunan itu makin menipis dan semua orang pergi.
Dari kejauhan sana seorang laki-laki memandang semua peristiwa yang terjadi begitu saja. Ia menatap gadis bersurai pink yang terlihat bahagia ketika Sasori datang. "Oy, Sasuke! Ke kantinnya nanti beres-"
Sasuke berjalan meninggalkan koridor secepat mungkin.
~What Taste~
Sasori menggerak-gerakkan handuk yang ada di pucuk kepala Sakura. "Ini untukmu!" Ia memberikan sekaleng kopi padanya. "terima kasih."
"Kenapa kamu tidak hanya diam saja ketika mereka meneriakimu?" tanya Sasori pada akhirnya. Ia duduk di samping Sakura. "ak-aku hanya tidak tahu harus bagaimana.. walaupun yang mereka lihat itu hanya salah paham, tapi faktanya aku bertunangan dengan Sasuke. Aku tidak punya pilihan karena orang tuaku menjodohkanku."
Tetes-tetes air mata berlinang membasahi pipinya. "mereka seenaknya mengatus hidupku dengan menjodohkanku. Aku tidak ingin Sasori-senpai tahu masalahku. Aku takut kamu akan meninggalkanku."
"Hei.. hei.." Sasori memutar pundak Sakura berhadapan dengannya. "kenapa aku harus meninggalkanmu? Kita inikan sepasang kekasih." Sasori menghapus air mata yang membasahi pipinya.
"Jadi... kamu harus jujur padaku apapun yang terjadi. Jika ada masalah atau hal yang mengganggu hatimu, cukup katakan. Aku tidak akan marah atau pergi! Kita akan cari solusinya. Oke?" Sakura mengangguk. "Ah, tadi ciuman itu..."
"Kenapa? Ingin lagi?"
"Ap-Apanya yang ingin lagi. Hanya saja, tadi sangat mengejutkanku!" Pipi Sakura merah merona. "Hm, berarti mulai sekarang kamu harus waspada karena kamu tidak tahu kapan aku akan menciummu."
Sakura tersenyum kecil, "terima kasih atas sarannya!"
~What Taste~
Izumi membenarkan letak topi kebunnya. Ia menggali beberapa lubang kecil di kebun di dekat rumah. "Ah, siang-siang begini enaknya tidur. Sayang, aku sudah membeli tanaman ini. sia-sia kalau tidak ditanam."
Dari kejauhan sana, Izumi dapat melihat sosok Sasuke tengah memasuki rumah. 'aneh, tidak seperti biasanya dia terburu-buru masuk ke rumah. Apa ya?'
Rupanya keanehan itu berlanjut sampai hari-hari berikutnya. Sasuke—menurut keluarganya—berubah kembali ke sikap ketika dia tidak mengenal Sakura. "Kaa-san tahu, kenapa Sasuke tidak pernah berkumpul lagi akhir-akhir ini?"
"Ah, aku juga penasaran, kenapa dia lebih sering mengurung diri di kamar. Kalau tidak ya paling ke sekolah dan rumah yang dulu. Izumi, maukah kau menyelidikinya untukku?"
Izumi memiringkan kepalanya, "menyelidiki?"
"Iya, dia pasti ada apa-apa dengan Sakura. Apa dia berteng-" belum selesai Mikoto berbicara tiba-tiba ponselnya berbunyi. "hallo?" Izumi hanya terpaku mendengar pembicaraan Mikoto yang cukup lama.
"-Oke, oke. Sasuke akan melakukannya hari ini. Iya, aku pasti menjaganya. Ah, selamat bertugas!" Klik!
"Siapa bu?" Mikoto melirik ke sumber suara lainnya. Sasuke telah berdiri di kaki tangga. "Ah, itu ibunya Sakura. Sasuke, ambil kunci mobil Itachi dan bawa Sakura kemari. Suruh untuk mengemasi pakaiannya."
"Berkemas? Untuk apa, bu?" kali ini Izumi ikut angkat bicara. "Orang tua Sakura pergi keluar kota untuk urusan bisnis. Jadi mereka menitipkan Sakura pada kita. Sudah cepat pergi Sasuke!" dengan malas Sasuke pergi. Mikoto kembali duduk di sofa, "tentang rencana tadi..."
~What Taste~
Sakura merutuki dirinya sendiri sepanjang perjalanan menuju rumah Sasuke. 'kenapa aku harus tinggal dirumahnya? Ini semua salah otou-san dan okaa-san! Seharusnya mereka membiarkanku sendiri. Atau kalau tidak, bawa saja aku sekalian, biar bisa pindah sekolah' kekesalannya bertambah ketika Sasuke sepertinya menjauhinya.
'kenapa dia tidak bicara? Apa dia sedang stress atau semacamnya? Mencurigakan!'
"Sakura-chan, selamat datang!" Mikoto memeluk Sakura lembut. "Aku senang akhirnya kamu tinggal bersama kami. Sudah lama momen ini kutunggu. Apalagi Sasuke..." Mikoto melirik ke anak bungsunya. Wajah Sasuke tidak menunjukkan ketertarikan akan pembicaraan mereka. Dia malah pergi meninggalkan keluarganya. "Tante, Sasuke kenapa?"
"Eh, Sakura-chan tidak tahu?" Mikoto lebih terkejut lagi ketika Sakura tidak tahu alasannya.
"Tidak. Dia sudah begitu sejak beberapa hari yang lalu. Aku kira dia sedang kelaparan atau semacamnya?" Mikoto hanya tertawa kecil melihat gestur Sakura yang menirukan gaya Sasuke.
"Mungkin. Tapi kukira dia sudah makan. Sasuke tidak meminta darimu?"
Sakura mengernyitkan dahi, "Aku? Kenapa aku harus memberinya makan?" Mikoto tersenyum kecil, "Karena kamu tunangannya. Tapi aneh... kenapa dia begitu ya?" Sakura hanya bisa menebak-nebak isi pikiran Sasuke.
Suatu ketika Sakura tengah bersantai setelah selesai mengerjakan tugas sekolahnya. "Akhirnya kelar juga. Ngomong-ngomong Sasuke sedang apa ya?"
Sakura beranjak keluar dari kamarnya. Berhubung kamar Sasuke berada di samping kamarnya, ia tidak susah-susah melangkahkan kaki jauh. Sakura mengintip dari lubang kunci. "Aneh.. dia tidak ada di kamarnya."
'Mungkin dia sedang pergi!' pikir Sakura. Ia kembali ke kamarnya dan memutuskan untuk tidur. Tapi dua jam lamanya dia tidak bisa menutup matanya. 'heh, kenapa? Padahal aku tidak minum kopi atau sejenisnya.' Sakura mulai khawatir kondisi tidur larutnya mempengaruhi jam sekolahnya.
'Aku harus menemukan cara agar aku dapat tidur pulas. Ah, segelas susu mungkin bisa membuatku mengantuk.'
Sakura menuruni tangga dan berjalan menuju dapur. Penerangan yang minim di sekelilingnya membuatnya harus meraba-raba rak yang berisi bahan makanan. 'Uwaahh... aku kira vampir hanya minum darah. Tidak kusangka mereka punya persediaan makanan manusia juga'
Sakura mengaduk-aduk gelas susunya. Samar-samar ia mendengar suara. Ia putuskan untuk mengintip sejenak.
"Kamu belum tidur, Sasuke?" Sasuke menoleh ke samping, melihat kakaknya bergabung. "Ada masalah? Izumi bilang akhir-akhir ini kamu sering menyendiri."
"Tidak ada." Jawab Sasuke singkat.
Sakura menyembunyikan dirinya di balik dinding, 'Sasuke dan Itachi-san? Kenapa mereka masih belum tidur.' Sakura bahkan hampir lupa kalau mereka berdua berbeda dengannya. Bahwa mereka terbiasa di dalam kegelapan, mereka makhluk malam yang suka menghisap darah. Mereka vampir.
"Hei, wajahmu menerangkan kalau kau sedang memikirkan sesuatu. Selain itu, darimana saja kamu pergi?"
"Aku ke pergi ke villa yang dulu." Itachi memandang langit malam diatasnya. "jangan bilang kamu masih belum bisa melepaskan kepergiannya." Sasuke mengangguk pelan.
'Kepergian-Nya? Siapa yang Itachi-san maksud?'
"Aku yakin Akari-chan tidak akan tenang kalau kau terus memikirkannya. Lagipula Sasuke, sekarang situasinya telah berbeda. Kamu punya tanggung jawab lain..." Itachi dan Sasuke saling menatap. Lalu Sasuke hanya menghela nafas panjang, "Aku tahu."
Itachi pergi meninggalkan Sasuke seorang diri.
"Sampai kapan kau akan bersembunyi di sana?" Sakura merasa dirinya disinggung langsung keluar dari tempat persembunyiannya. "Ah, maaf aku..." Sakura terkejut ketika Sasuke menatapnya tajam.
"Sasuke?"
~TBC~
Next Chapter :
"Halo, perkenalkan namaku Ami."
"Kami mencium bau darah!"
"Level E? Aku akan menghancurkan kalian semua!"
"nee, sebenarnya apa yang terjadi?"
"Apakah sebenarnya kamu..."
"Sakura!"
"Sasori-senpai!"
A/N :
Chap 2 is update! akhirnya selesai juga...
Di chap ini Sasuke shock banget ketika ngeliat Sakura dengan Sasori-senpa. EchaNM: Sasori-senpai punya peran besar... Sakura juga direbutin CMWIW...
Rinda Kuchiki: Sasuke gak terlalu posesif di chap ini, tapi mungkin di chap depan akan ditambah lagi...
Oke, terimakasih atas reviewnya...
