What Taste of My Blood
By. Lavena Valen
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Rate : T
Genre : Romance, Family, Hurt/comfort
Warning : OOC, OC, AU dan Typo
Chapter 3 : Level E
"Sasuke? Ada apa?" emerald Sakura menatap lekat-lekat wajah Sasuke yang dingin, matanya yang merah dan gesturnya yang mencurigakan. Ia berusaha memalingkan pandangan ke arah lain, lebih tepatnya mencari sebuah topik baru.
"Apa kamu haus? Ingat, kamu belum minum darah selama seminggu."
'Sial, kenapa aku memilih topik itu...' Kali ini Sakura merutuki dirinya yang berani mengatakan hal 'tabu' bagi dirinya. siapa sih orang yang mau menawarkan darahnya untuk seorang vampir. Sakura rasa tidak ada yang sanggup. Hanya orang gila atau orang tidak waras yang mau menawarkannya.
"Hn." Sasuke menghampiri Sakura, ditatapnya wajah gadis itu secara intens. "biarkan aku meminumnya.." Sasuke menghirup aroma tubuhnya yang harum. Ia menutup matanya, membiarkan instingnya sebagai vampir menuntunnya. Ia menyeringai kecil lalu ditancapkannya sepasang taring. Dalam dan semakin dalam. Sasuke ingin merasakan yang lebih sampai taringnya mampu mengoyak pembuluh darah Sakura.
"Sas..uke.. Sak..ittt!" Sakura mengeluh ketika ia tidak bisa menahan rasa sakitnya lagi. Namun Sasuke tidak mempedulikannya. Ia terus menutup matanya tanpa sekalipun melihat wajah Sakura yang nampak kesakitan.
Di dalam pandangannya yang gelap, Sasuke merasakan sebuah kehangatan. Entah kenapa dunianya, hidupnya dan dirinya yang dingin itu dapat merasakan kehangatan untuk yang kesekian kalinya. Rasanya seperti berendam di air hangat atau seperti berjalan di tengah salju sementara matahari menyinarinya. Rasa ini begitu nostalgia dengannya. Rasa yang sangat ia rindukan sejak lama. Perasaan panas yang membangkitkan nalurinya.
Kira-kira siapa orang yang dapat memenuhi panggilan jiwanya?
Hal pertama yang datang ke pikirannya adalah gadis kecil berambut merah. Mata rubynya yang indah begitu menyilaukan dan senyumnya yang indah sangat menenangkan. Hm, siapa kah gadis itu?
Ah, ia ingat. Gadis itu adalah tunangan pertamanya. Tunangan yang ia cintai.
Tapi sepertinya ia harus bangun dari mimpi itu. karena tunangannya itu sudah tidak ada. Ia berusaha mencari-cari kehadiran gadis itu di pikirannya, tapi yang ada hanyalah orang lain. Siapa dia? Kenapa dia muncul di pikirannya?
Warna merah darah itu digantikan warna musim semi yang lebih kalem. Sepasang mata jade yang memudarkan ruby milik tunangannya. Walau tergantikan, tapi entah kenapa rasanya sama saja. Sasuke bahkan tidak bisa membedakannya.
Apa itu merah atau pink?
Sasuke rasa, itu hanya masalah penyebutan oleh bangsa manusia. Pada akhirnya, apapun itu, yang jelas rasa itu dapat membangkitkan nalurinya.
"A-kari..." Sasuke memeluk tubuh gadis itu lembut. Di tatapnya mata merah—bukan—emeraldnya yang indah.
"Sasuke? Sasuke?" gadis itu memanggil namanya.
"Sasuke-kun... tolong aku!" teriakan kecil itu membangunkannya dari mimpi-mimpinya. Ditatapnya wajah Sakura yang tengah kesakitan. Ia menghentikan kegiatan 'minum' nya. Ia sadar, rasa nostalgia itu lain dari yang sebelumnya. Bahwa gadis yang memberikan darahnyajuga gadis lain.
"Su..dah.. cu..kup?" tanya Sakura dengan nafas yang terengah-engah.
"kenapa harus kau manusia?" tanya Sasuke balik. Ia terlihat kesal ketika melihat Sakura.
"Apa maksudmu?" Sakura semakin bingung dengan sikap Sasuke. Makin hari semakin aneh saja. Ini tidak seperti Sasuke yang biasanya. Walaupun Sakura tidak terlalu paham tentang Sasuke yang biasanya, tapi ia tahu Sasuke yang biasanya terlihat datar, dingin dan sok cuek. Tapi Sasuke yang ada dihadapannya itu terlihat lebih emosi dan wajahnya dipenuhi kebencian.
"Aku sudah minum banyak. Pergilah, manusia!"
Apa? Dia memanggil Sakura dengan sebutan 'manusia'? iya sih Sakura memang manusia, tapi biasanya kan Sakura atau Haruno. Sakura baru tahu ada sebutan lain untuk dirinya. tapi entah kenapa dia sedikit tersinggung dengan sebutan 'manusia'nya. Terasa seperti ada jurang pemisah antara vampir dan manusia. Atau hanya perasaannya saja?
"Tentu saja, vampir! Aku juga akan pergi tidur. Kau menghisap telalu banyak tahu! Selamat malam, vampir!" Sakura menaiki tangga menuju ke kamarnya dengan perasaan kesal.
~What Sense~
"chi-kun.. Itachi-kun.. bangun Itachi-kun!" Izumi mengguncang-guncangkan tubuh Itachi berkali-kali tapi tetap saja tidak ada respon. Itachi masih terlelap sempurna walau pagi telah datang. Wajar saja hal itu terjadi karena semalaman ia menyelesaikan laporan untuk ayahnya.
'aku menyerah membangunkannya. Dia tidur lelap seperti bayi..'
Ketika Izumi beranjak dari tempat tidurnya, tubuhnya tertahan. "Aku bangun! Ada apa?" ujar Itachi singkat. Izumi tersenyum manis dihadapan suaminya, "bantu aku memilihkan sesuatu, oke?"
"kenapa?" tanya Itachi datar. "karena kamu punya selera yang bagus dibandingkan denganku. Ayolah, aku harus bergegas sebelum mereka berdua pergi. Aku tidak boleh ketinggalan!" pinta Izumi.
"mereka berdua? Siapa? Sasuke?" tanya Itachi dengan nada menyelidik. Namun yang ditanya malah senyam-senyum tidak jelas. "pokoknya, ini perintah dari ibu! Ayo bantu aku!"
Ditariknya Itachi ke ruang penyimpanan pakaian. Selama tiga puluh menit lamanya ia disuruh memilih pakaian ini atau itu, sepatu ini atau itu, bahkan sampai gaya rambut keriting atau lurus. Sentuhan akhir untuk penampilan Izumi adalah kacamata yang membingkai sepasang mata onyxnya.
"Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa pagi-pagi seperti ini kamu.."
TINN...
Bunyi klakson mobil terdengar beberapa kali menandakan Izumi harus turun ke bawah. "Aku buru-buru, kalau begitu sampai jumpa Itachi-kun, selamat tidur!" Izumi memberikan ciuman singkat pada Itachi lalu bergegas pergi. Itachi sendiri hanya terpaku di tempat sambil memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi. 'ada apa Izumi dengan Sasuke dan Sakura?'
~What Taste~
Izumi duduk di bangku bagian belakang pada formasi duduk di kelas. Ia melihat sensei yang tengah menjelaskan mata pelajaran kalkulus pada murid-muridnya. Dilihat dari reaksi murid-muridnya, nampaknya mereka tidak suka atau pelajaran itu sulit dicerna.
Dari tempat duduknya, ia dapat melihat Sakura duduk di bangku paling depan. Selain itu dia juga lebih aktif dan lebih antusias dari murid lainnya. Ia nampak mencatat semua materi yang dituliskan di papan tulis. Dengan senyum tipisnya, ia juga mampu menjawab setiap pertanyaan yang diajukan. Benar-benar gadis yang rajin dan pintar.
'Sakura adalah gadis yang sangat ideal untuk mengendalikan sifat Sasuke yang dingin.'
Sementara itu di sudut lain kelas, tepatnya di bangku pojok belakang yang disamping jendela, ada seorang siswa yang tengah duduk santai dan memejamkan matanya. Dia tampak tidak peduli dengan keadaan sekelilingnya, bahkan untuk kakak iparnya.
'dia memang selalu acuh, apalagi padaku.'
Izumi ingat ketika pertama kali bertemu dengan Sasuke kecil beberapa puluh tahun yang lalu. Tanpa basa-basi saat itu Sasuke bilang Izumi sangat tidak cocok untuk kakaknya tersayang. Atau kata lain seperti, hisap saja sana darah kambing atau domba, daripada darah kakaknya yang dihisap. Sasuke kecil terus menyangkal kehadirannya. Tapi sekarang sudah berbeda ya.
Pada jam istirahat, Sakura pergi ke kantin bersama temannya yang berambut pirang dari kelas sebelah. Kadang ada laki-laki berambut jabrik dan satu lagi temannya yang berambut gelap ikut bergabung. Mereka dari kelas berbeda tapi mereka berteman baik. Itulah pengamatan terakhir Izumi. Ia menutup handycamnya dan mulai menyicipi makanan yang telah ia pesan.
"lihat, si Sakura masih bisa tertawa setelah semua kejadian itu." ujar seorang perempuan berambut ikal yang duduk tidak jauh dari Izumi. "aku masih tidak menyangka dia berpacaran dengan Sasori-senpai. Aku berharap mereka putus. Nanti kan Sasori-senpai bisa pacaran sama aku." Tambah teman yang duduk di sampingnya.
"Hei, hei. Kamu mau membuat ketua kita meneror rumahmu selamanya?" goda temannya.
"Hehehe... tapi kan kesal, apanya yang bagus dari Haruno coba? Cantik, cantikan ketua atau siapapun. Seksi, dia tidak seksi sama sekali. Pintar, kita punya Megumi-senpai yang pintar sekali."
"Aku setuju. Tapi walau bagaimanapun kita harus menerima. Hei, cepat habiskan makananmu. Sebentar lagi pelajaran Kakashi-sensei."
'Oh, jadi Sakura sudah punya pacar? Pantas saja sikap Sasuke agak aneh belakangan ini.'
Penyelidikan berlanjut. Pukul 13.09.
Terik sinar matahari terasa membakar kulit Izumi. Izumi jadi harus tetap terjaga di bawah tempat yang teduh agar tidak terkena sinarnya. Sesekali Izumi meneguk ludah bila ada orang lewat. Ia harus tetap menahan rasa hausnya sampai ia meminum darah Itachi.
'aku harap Itachi-kun menjemputku.' Gumamnya.
Sementara Izumi yang berjuang menahan kehausan dan kepanasan, di kejauhan sana, tepatnya dibawah pohon ek yang tumbuh sembarang di samping lapangan, Sasuke tengah duduk santai atau malahan tidur siang dengan nyenyak. 'enaknya jadi Sasuke.'
Begitu Izumi melihat beberapa murid keluar dari kelas musik, ia segera mencari sosok laki-laki bernama Sasori yang seringdibicarakan itu. 'Itu kah? Tidak, dia terlalu polos. Itu kah? Atau yang itu?' ia masih menebak-nebak mana yang namanya Sasori.
"vampir?" bisik seseorang di telinga Izumi.
Izumi tersentak sejenak lalu menoleh, mendapati seorang laki-laki tinggi tengah menatapnya. 'kenapa dia menyadari keberadaanku?'
"maaf, maaf.. apa aku menakutimu? Aku hanya sedang melamun. Hm... ngomong-ngomong, kamu siapa? Apa sedang menunggu seseorang?"
"perkenalkan, namaku Ami. Aku sedang mencari siswa bernama Sasori, apa dia sudah pergi?"
"Aku adalah Sasori. Ada yang bisa kubantu?" tanya Sasori. "bisakah kita mencari tempat yang lebih nyaman?" pinta Izumi. Sasori mengangguk lalu membawanya ke ruang pertemuan klubnya.
"silahkan duduk."
"Apakah boleh memakai ruang klub di jam pelajaran?" tanya Izumi ragu-ragu. "tidak pa-pa. Aku adalah ketuanya, jadi aku yang bertanggung jawab. Selain itu kita tidak bisa berbicara di luar karena pasti tidak nyaman untuk kulitmu, kan?"
"Ya. Aku sangat sensitif pada sinar matahari." Tambah Izumi melengkapi. "Aku tahu itu. kamu sangat kelaparan. belum minum akhir-akhir ini? sayangnya UKS kami belum punya stok darah untuk bulan ini."
Izumi terperanjat kaget, "ke-kenapa aku harus minum darah, aku sudah makan dango tadi"
"Oh, begitu."
Izumi menatap ke arah jendela, mencari-cari sosok Sasuke di bawah sana. "Sasuke sedang ada jam pelajaran sekarang. jadi apa yang ingin dibicarakan? Apa ini hubungannya dengan Sasuke?"
"Tidak." Jawab Izumi cepat. Ia mencoba mengatur nafas, "aku ingin tahu siapa kamu dan kenapa kamu bisa menyadariku? Kamu manusia kan?" izumi berusaha meyakinkan. "setengah iya, dan setengah tidak. Aku adalah darah campuran."
"tapi kamu bukan vampire."
"Ya. Bagaimana menyebutnya, ya. Werewolf, mungkin?" Sasori membuatkan secangkir teh hangat untuk Izumi. "tidak mungkin. Aku tidak percaya di tempat ini ada werewolf yang tidak terdeteksi."
Sasori menyeringai kecil, "mungkin penciumanmu sudah mulai tumpul."
"Aku kemari menanyakan soal hubunganmu dengan Sakura. Apa kamu tidak punya orang lain untuk dijadikan kekasih?"
"Apa pertanyaanmu ini berarti aku harus memutuskan Sakura? Aku tidak akan memutuskannya sampai hari akhir tiba. Hanya dia satu-satunya orang yang akan menjadi calon pengantinku."
Izumi menyesap teh pemberian dari Sasori. "kau tahu, dia bertunangan dengan Sasuke?" lanjutnya. "Aku tahu, karena itu aku semakin tidak melepaskannya. apa kalian tahu seberapa menderitanya Sakura karena setiap beberapa hari sekali ia harus pelan-pelan mengunyah makanannya. Terkadang dia juga mimpi buruk di siang hari hanya karena perlakuan yang didapatnya. Apa menurutmu pantas jika orang yang menderita karena kalian masih kalian jadikan sebagai keluarga."
"Aku tahu itu. aku tahu resiko ketika memilih pengantin dari manusia. Aku tahu bagaimana rasa sakitnya ketika..."
"Tidak, kau tidak akan pernah tahu. Untuk seorang Ami-san, bangsawan vampir yang terhormat, kau hanya mempedulikan tentang status kehormatan, begitu juga dengan si angkuh Uchiha Sasuke." Sasori mengatur nafasnya, "aku akan tetap melindungi Sakura. Jika sampai dia menjadi salah satu diantara kalian, aku tidak akan segan-segan membunuh semua Uchiha yang ada."
~What Taste~
"Iya bu, oke, oke. Mari kita selesaikan pembicaraan kita tentang Uchiha oke? Aku bosen." Celetuk Sakura kesal. Ia tengah berdiri di balkon ruang sejarah seorang diri. dari bawah sana, tepatnya dari area parkir, Sakura melihat seseorang yang familier. Ia mengajak Sakura turun jadi Sakura segera menutup telepon dari ibunya.
"sudah menunggu lama? Maaf aku tadi mendapat telepon." Sakura berargumen. "tidak pa-pa. Ayo naik, aku akan menunjukkan suatu tempat." Sakura mengangguk lalu membonceng motor Sasori.
"Ini adalah tempat yang ingin kutunjukkan dari dulu padamu, Sakura"
Sakura menatap sekelilingnya. Sebuah taman yang indah dan jauh dari keramaian. Tentu saja karena letaknya dibukit dekat hutan. Di sekelilingnya tubuh bunga krisan yang beraneka warna. Juga ada tumbuhan ivy yang merambat sembarang. Ia harus hati-hati melangkah karenanya. Tidak jauh dari hamparan bunga krisan itu tumbuh mawar rambat dan bunga lavender yang khas. Ia bagai berada di dunia peri seketika.
"Bagaimana? Bagus kan?"
Sakura mengangguk cepat. "Benar-benar indah..." ia tak henti-hentinya memandang sekeliling sampai ia tidak sadar sampai Sasori memakaikan hiasan kepala yang terbuat dari rangkaian bunga.
"Cantik..."
Sakura menoleh, menatap Sasori dengan penuh tanya. "Apa ada sesuatu di wajahku? Oh, apa ini?"
Sasori tersenyum kecil. "Sebuah mahkota untuk tuan putri. Kau sangat cantik Sakura." Sasori mengeratkan pelukannya. Tepat saat itu ia mendengar samar-samar langkah kaki.
"Kami mencium bau darah manusia..."
"Waah, waahh.. beruntung sekali kita mendapat darah segar siang seperti ini, dari seorang gadis cantik pula."
Sakura melihat beberapa laki-laki berpakaian hitam mendatangi mereka. Sorot matanya yang gelap kini berubah menjadi merah darah. Sakura mencengkeram bahu Sasori, merasa takut pada mereka.
"Eh, ada werewolf di sampingnya. Apa dia pacarmu?"
Sakura mematung. Werewolf? Siapa? Dimana? Jelas bukan dirinya dan tentu bukan dirinya. Dipastikan orang tuanya pure manusia walau bergaul dengan bangsa vampir seperti keluarga Sasuke. Jadi siapa yang mereka sebut manusia Serigala? Mungkinkah...
"Level E!" Seru Sasori.
"Aku terkesan dengan caramu memandang kami. Memang hebat bangsa srigala itu." Salah seorang dari mereka bahkan menyoraki Sasori dan Sakura yang makin terkepung. Mereka berjumlah empat orang dan masing-masing dari mereka menunjukkan taringnya.
"Vampir..." Sakura bersuara.
"Sakura, tenanglah. Tidak ada yang perlu kau takutkan dengan mereka. Tetap berlindung dibelakangku dan bisakah kamu menutup matamu sejenak?"
"Eh? Untuk apa Sasori-kun?" Sakura mengernyitkan dahinya.
"Aku tidak mau kamu melihat wajah jelek mereka, oke."
Sakura mengangguk menurut.
Sasori menghela nafas panjang lalu memasang kuda-kuda. "Level E, aku akan menghancurkan kalian semua!" secepat kilat Sasori melangkah menuju seorang level E dan memukulnya hingga tubuh pria itu tersungkur diantara pepohonan. Melihat kawannya diserang, level E lainnya berusaha menyerang Sasori.
Sasori menyambut dua diantara mereka dengan serangkaian serangan yang terkoordinir. Ia bahkan mencabik tubuh mereka dan menembus jantung mereka hanya dengan sebelah lengan yang diluruskan.
"jangan bergerak! Jika kau bergerak, gadis ini dipastikan tidak bernyawa lagi!"
Sasori menoleh dan melihat sosok Sakura tengah disandera oleh level E terakhir. "Sakura!"
Sakura membuka matanya dan melihat seorang vampir berdiri di sampingnya. "Sasori-senpai!" Ia berteriak semampunya untuk meminta pertolongan. Sakura pikir ini adalah akhir dari hidupnya. Namun rupanya ia salah besar. Entah kenapa tiba-tiba vampir yang sedang menyanderanya ambruk. Tak lama setelah itu tubuhnya menghilang, menyisakan sekumpulan debu dan pakaiannya.
Sakura sendiri agak terkejut ketika melihat perubahan itu. "nee, sebenarnya apa yang terjadi?" tanyanya. Sasori hanya menjawab dengan sederhana, "tidak ada. Semuanya baik-baik saja."
Jujur saja, Sakura kurang puas dengan jawaban itu. ia ingin mencari jawaban yang sebenarnya. Selain itu entah kenapa akhir-akhir ini Sasori-nya itu terlihat seperti menyembunyikan sesuatu, termasuk fakta bahwa kemungkinan dia seorang werewolf.
"Sakura, sebaiknya kita pulang, hari sudah menjelang malam. Aku takut akan ada banyak kawanan dari mereka datang. Selain itu kamu pasti kelelahan kan?"
"Sasori-senpai, apa kamu menyembunyikan sesuatu dariku? Werewolf yang mereka bilang itu apa itu kamu?" tanya Sakura ragu-ragu.
Sasori hanya diam. Sejenak ia terperanjat melihat kehadiran seseorang. "Uchiha Sasuke" gumamnya.
Sasuke menghentikan langkahnya. Ia menatap Sakura yang memakai hiasan mahkota. Ia nampak cantik. "aku kemari untuk menjemputnya."
"begitu." Sakura melihat kedua orang di depannya ini saling menatap tajam. Entah apa yang sedang mereka pikirkan tapi ia rasa hanya dengan saling tatap, mereka tahu apa yang sedang mereka bicarakan. "Sakura, pulanglah dengan Sasuke. Oke?"
"Terus Sasori-senpai bagaimana?"
"aku akan baik-baik saja. Aku punya urusan mendadak yang harus diselesaikan."
Sakura mengangguk lalu berjalan ke sisi Sasuke. "Sasori-senpai, sampai jumpa besok!"
~What Taste~
"Sakura-chan... aku senang kamu baik-baik saja. Aku sangat khawatir.." Mikoto memeluk Sakura erat ketika mereka berdua sampai di rumah. Sakura hanya tersenyum kaku pada Mikoto. "Sasuke bilang ada sekumpulan level E yang aktif akhir-akhir ini. jadi aku menyuruhnya untuk menjemputmu. Jangan sembarangan pergi ke tempat berbahaya ya..."
"Iya tante." Kali ini Sakura tersenyum lega. "bagus kalau begitu, tante punya undangan untuk kalian berdua, ulang tahun anak teman Itachi. Tapi Itachi tidak bisa datang karena urusan tugas. Jadi aku ingin kalian berdua pergi ke pestanya. Acaranya malam ini, jadi cepat bergegas ya?"
Sementara Sakura dan Izumi bersiap, Sasuke berjalan-jalan kecil di sekitar rumah. Ia teringat peristiwa tadi sore dimana ia benar-benar mendapati lebih banyak level E tidak jauh dari tempat itu. seharusnya ada aturan di dunianya tentang merubah manusia menjadi vampir, berapa kuotanya, untuk apa, dan resikonya.
'dengan jumlah yang seperti itu, aku ragu mereka hanya dijadikan pengawal. Mereka tentara...'
"Sasuke, kah? Sedang apa disini?" tanya seseorang. "Itachi?"
"aku kemari untuk mengambil dokumen ayah. Kamu masih belum berangkat?" tanya Itachi. "dia lamban." Ujar Sasuke dingin. "dia? Maksudmu Sakura. Kamu harus memakluminya. Selamat bersenang-senang ya, pesanku satu, jangan pernah percaya pada orang itu."
Sasuke menyeringai kecil, "Sainganmu eh?" Itachi hanya angkat bahu lalu pergi tanpa sepatah katapun.
~TBC~
Next Chapter :
"Apa yang kau lakukan, Uchiha? Seenaknya saja-"
"Kao-ru?"
"Tapi itu hanyalah masa lalu, tenanglah Sakura."
"untuk melindungiku?"
"Hei, bukankah kamu sudah minum kemarin?"
"Akari!"
"Sasuke-kun!"
A/N :
fiuuuhhh... akhirnya chap 3 selesai...
disini author nggak ngejelasin tentang sasusaku dulu, karena author akan simpan itu di chap-chap depan.
author sengaja nyempetin waktu untuk update cepat karena sebentar lagi author bakal sibuk dengan dunia perkuliahan.. untuk para reader author minta maaf kalau chap ini agak berantakan dari segi bahasa ataupun cerita, tapi author janji chap berikutnya akan diperbaiki...
Terimakasih untuk semua reviewnya Cherry Jean Uchiha, QRen, EchaNM, Ozora-chan, kakikuda, Firza290, dan semuanya...
Please come and review again!
