What Taste of My Blood
By. Lavena Valen
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Rate : T
Genre : Romance, Family, Hurt/comfort
Warning : OOC, OC, AU dan Typo
Chapter 4 : Party
"Sasuke!" sahut Mikoto. Sasuke yang tengah berjalan-jalan di depan rumah segera mendekat. Ia sangat-sangat terpaku ketika melihat sosok yang ada di depannya. Gadis berambut pink yang dikenal tomboy, kini tampil bak bidadari turun dari kayangan. Rambut merah muda yang ditata dan diikat dengan hiasan bunga, gaun hijau selutut yang indah serta wajah cantiknya yang memikat. Bibir Sasuke bahkan kelu tak bisa berkata-kata.
"bagaimana? Cantik kan?" tanya Mikoto. tiba-tiba mata emerald Sakura bersirobok dengan onyx miliknya, saat itu Sakura merasa Sasuke memandangnya dengan pandangan yang sedikit berbeda dari biasanya. "apa lihat-lihat!"
"Ibu, aku berangkat!" Sasuke sedikit kesal dengan sikap Sakura padanya. Penampilannya memang menarik, tapi sifatnya tidak menarik sama sekali.
"Hei, kamu mau meninggalkan Sakura-chan disini? Ayo pegang dong tangannya!" komentar Mikoto.
"kenapa harus aku?" tanya Sasuke datar. "karena kamu tunangannya. Jangan buat malu keluarga ini oke? Kamu tahu sepupumu itu orang yang seperti apa?"
Sasuke jadi teringat dengan masa lalu ketika ia kecil. Kakaknya, Itachi dulu adalah seorang pahlawan baginya. Dia kakak yang sangat menyayanginya. Tapi si suatu waktu, ia pernah melihat kakaknya itu marah dan bersedih. Kakaknya yang sangat sabar itu tidak pernah bertingkah seperti itu.
Penyebab utama kakaknya seperti itu karena sepupunya akan ditunangkan dengan orang yang dia cintai. Sungguh, bagi seorang Sasuke kecil, permainan dewasa itu sangat melelahkan dan membuat diri sendiri merasa bodoh. Ia juga bersumpah tidak akan mencintai siapapun sejak saat itu.
"Sasuke, sepupumu itu orang yang seperti apa? Sepertinya Mikoto-baachan sangat khawatir." Sakura membuka pembicaraan.
"Kau akan tahu setelah sampai disana."
Mobil Sasuke terparkir di halaman sebuah mansion bergaya Eropa. sebelum mereka, sudah cukup banyak mobil yang terparkir di sana. Sakura turun dari mobil dan berlari menuju bagian depan mansion. "Indahnya!"
Sampai terkagum-kagumnya, Sakura bahkan melupakan Sasuke yang masih ada di parkiran. Jika bukan karena Sasuke yang datang secepat mungkin, Sakura mungkin akan seperti anak hilang. "perhatikan jalanmu."
Sakura menekuk wajahnya karena diceramahi habis-habisan oleh Sasuke. "Ingat, ini pesta vampir, bukan manusia. Tetap berada di dekatku!" Ia menarik lengan Sakura dan melingkarkan ke lengannya. "Ya.." Jawab Sakura malas.
Apa yang dikatakan Sasuke itu ada benarnya juga. Kenyataannya berbicara saat mereka berdua memasuki mansion. Gemerlap lampu pesta menerangi seluruh ruangan. Di sana-sini terlihat bavnyak vampir, tidak ada dari mereka yang sejenis dengannya. Terlebih lagi, di depan Sakura, mereka berterus terang ingin mencicipi darahnya.
"kelihatannya enak..." "nona, boleh kuminta darahmu?" "Oh, tapi dia sudah menjadi milik vampir tampan dari keluarga Uchiha."
Sakura mengeratkan pegangan tangannya pada Sasuke. Ia takut. Sangat-sangat takut ketika membayangkan kerumunan vampir itu menghisap darahnya. Ia tidak bisa, tidak mau. Ia tidak ingin vampir lainnya menghisap darahnya selain Sasuke.
"Wah, wah kalau begitu kasihan gadis kecil itu, menjadi salah satu mainan keluarga Uchiha."
"Hm, aku pikir Uchiha itu akan segera membuangnya." "bukannya mereka baru saja bertunangan?" "Aku ingin menyicipi darahnya"
Sakura sedikit terkejut ketika sebuah tangan dingin menggenggam tangannya. "Jangan dengarkan mereka." Bisik Sasuke. Bisikan itu entah mengapa dapat memulihkan kepercayaan Sakura dan menghilangkan ketakutannya.
"Oh, Sasuke kah? Sudah lama tidak jumpa? Berapa tahun? Aku bahkan lupa! Bagaimana keadaan kakakmu?" Seorang pria berambut gelap menghampiri mereka. Ia bersama dengan seorang perempuan di sampingnya menyambut kedatangan Sasuke dan Sakura dengan baik.
"Obito, seperti biasa kau selalu bersemangat." Sindir Sasuke. "aku anggap itu pujian. Kenalkan, ini istriku, Uchiha Rin"
Wanita yang ada di samping Obito menundukan kepalanya dengan anggun. Sakura bahkan terkagum-kagum dengan parasnya yang menawan. Senyumnya juga indah bak bidadari. Lalu sepasang matanya menatap ke arahnya. "manusia ya? Sasuke itu punya selera yang bagus."
Sakura terheran-heran, sementara Sasuke hanya menatap datar. 'Sial! Sasuke malah diam saja lagi!'
"bagaimana dengan bisnis Fugaku-sensei, dia pasti sibuk kesana kemari untuk memperluas usahanya. Yah, Itachi juga jadi ikut sibuk."
"Ayah sedang mengembangkan pendidikan dasar untuk vampir, Itachi palingan jalan-jalan dengan Izumi." Celetuk Sasuke asal. "jangan begitu Sasuke, kamu masih tidak bisa menerima kehadiran Izumi? Kau pasti sangat menyayangi kakakmu." Obito terkekeh, begitu juga dengan Rin yang tersenyum kecil.
Sakura tersenyum lega ketika pembicaraan mereka dapat mencairkan suasana. Tiba-tiba tubuhnya terdorong sebuah gaya yang cukup kuat. "g-gomenasai."
Sakura menatap lekat-lekat seorang gadis kecil yang tidak sengaja menubruk tubuhnya. Gadis kecil itu terlihat sedih sampai air matanya barjatuhan. "hei, hei, ada apa? Kenapa menangis?" Ia mencoba menghibur.
"onee-chan, sepatuku..." gadis kecil itu menunjukkan sepatu sebelah kanannya yang rusak. Bagian alasnya dan talinya terlihat terputus. "tenang saja, itu bisa diperbaiki. Jika di lem pasti akan..."
"..tapi, mama pasti akan marah. Ini hadiah ulang tahunku, kalau aku tidak memakainya malam ini dia pasti..." gadis itu sesekali menatap Rin yang tengah berbicara pada tamu undangan yang lain.
"Baiklah, onee-chan akan bantu memperbaikinya, apa kamu punya perekat?"
Gadis itu mengangguk, "Tapi papa menyimpannya di ruang kerja. Aku selalu dimarahi kalau masuk ke ruang kerjanya." Sakura tersenyum kecil, "tenang saja, onee-chan akan berbicara pada ayahmu, oke?"
Gadis itu mengembangkan senyumannya ketika Sakura membelai pucuk kepalanya yang dihiasi ikat rambut berwarna merah yang senada dengan warna gaunnya. "namaku Kaoru, Uchiha Kaoru!"
"Kao-ru? Namaku Sakura." Tidak lama-lama mereka akhirnya sampai di ruang kerja yang dimaksud Kaoru. Di ruangan itu ada meja kerja dan kursinya, lemari yang berisi dokumen-dokumen, serta sofa untuk bersantai. "kalau tidak salah, papa menyimpan perekat di lemari kerjanya."
"Oke, bantu onee-chan mencarinya ya? Tapi hati-hati, jangan diberantakkan." Kaoru menurut lalu mulai mencari perekat bersama Sakura.
"Ah, ketemu." Sakura bergabung dengan Kaoru yang sudah duduk di sofa. Ia mengambil sepatu milik gadis kecil itu dan mulai memperbaikinya.
"Onee-chan, apa onee-chan menyukai Sasuke-oniichan?" tanya Kaoru tiba-tiba. Sakura menghentikan pekerjaannya, menatap gadis kecil di sampingnya yang antusias. "Hm, bagaimana ya? Sejujurnya aku sendiri tidak tahu."
"Heh? Kenapa begitu? Onee-chan tidak seru. Mama bilang, manusia tidak bisa menerima kehadiran kami kecuali dia mencintai seseorang dari kami, aku yakin onee-chan pasti mencintai Sasuke-oniichan!"
"benarkah?" Sakura hanya tersenyum kecil, lebih tepatnya senyum-senyum sendiri. 'Lho! Kenapa aku jadi senang? Ini tidak benar! Ingat Sakura, Sasuke memanggilmu manusia, kau tidak lebih dari sekedar tempat untuknya meminum darah.'
"Selesai, pakailah!" Kaoru memasangkan sepatu di kaki kecilnya. Ia mencoba berjalan kesana kemari untuk memastikan bahwa sepatunya benar-benar dapat dipakai dengan nyaman. Ia mengembangkan senyumnya ketika sudah puas dengan uji cobanya.
"terima kasih onee-chan,"
BUK!
SRIIINNGGG!
Kepulan asap membatasi pandangan Sakura. Namun ia tahu pasti bahwa Kaoru tengah meminta pertolongannya. "Onee-chaannnn!" teriak Kaoru. Samar-samar Sakura dapat melihat Kaoru di samping beberapa pria berpakaian serba hitam. Mata mereka memerah memancarkan niat jahat. Mereka menunjukkan taringnya.
Sakura segera berlari menyelamatkan Kaoru yang disandera. Namun salah satu dari mereka mendorongnya hingga tubuhnya menabrak dinding. "Jangan ganggu kami, manusia. Kami tidak punya urusan denganmu."
Di sisi lain ruangan itu Sasuke dan Obito muncul. "Kaoru!" Obito berusaha memanggil. "Papa, tolong aku!" pinta Kaoru dengan penuh air mata. "papa akan menyelamatkanmu!"
~What Taste~
Saat kejadian itu, Obito berhasil merebut Kaoru kembali. Sakura bahkan melihat pertarungannya secara langsung. Ia sempat menatap nanar pemandangan di sekelilingnya, untung saja Sasuke membawanya ke ruangan lain yang jauh dari sana.
"kau tidak pa-pa?" Sasuke berusaha membantu Sakura duduk. "Um," Sakura mengangguk singkat. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa tubuhnya masih belum menerima. Terkadang ia gemetar membayangkan cara Obito membunuh mereka. Sudah pasti ia merasa tidak nyaman bahkan sampai mau muntah, tapi ia tahan.
Sasuke membawakan secangkir teh hangat kepadanya. Aroma harumnya menghilangkan ingatan bau amis darah yang menghantui. Sakura menyesapnya pelan-pelan sampai ia merasa lega. "terima kasih,"
"tunjukkan lenganmu." Ujar Sasuke singkat. Sakura sedikit bingung dengan perintahnya, tapi ia segera mengulurkan lengannya. Tanpa ia ketahui, lengan kanannya berdarah dan lecet-lecet. "sejak kapan aku..."
Sasuke menarik dirinya mendekati Sakura lalu dikecupnya luka memar Sakura. "Ap-apa yang kau lakukan, Uchiha? Seenaknya saja-" belum sampai Sakura menyelesaikan kata-katanya, Sasuke mengunci bibirnya.
DEG! DEG!
Entah kenapa tubuh Sakura terasa berat. Ia tidak punya kekuatan untuk melawan Sasuke. Dari jarak sedekat ini, Sakura dapat merasakan dinginnya wajah Sasuke, bahkan ciuman yang dia berikan sangatlah dingin. Samar-samar pandangan Sakura mulai meredup sampai wajah Sasuke tidak ada dipandangannya.
Saat Sakura terbangun, ia tidak mendapati Sasuke di ruangan itu. ditambah lagi ia mendengar suara tepukan tangan yang meriah menggema di seluruh ruangan. Ia baru menyadari bahwa pesta masih berlangsung. Saat ia menuruni tangga, seorang gadis kecil menghampirinya. "onee-chan! Apa onee-chan baik-baik saja?"
Sakura tidak mengenal gadis kecil itu. siapa? Apa dia pernah bertemu dengannya sebelumnya? Lalu kenapa ia tidak bisa ingat. "maaf, siapa ya? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"
"Kaoru!" Rin dan Sasuke menghampirinya. "Sasuke, apa kau kenal dengan gadis kecil ini?"
Sasuke menatap Rin sejenak, memberinya sebuah sinyal. Rin mengangguk cepat lalu memerintahkan Kaoru untuk memperkenalkan diri. "Kao-ru? Hm, entah kenapa rasanya tidak asing." Pikir Sakura.
"Sasuke-san, aku rasa kamu perlu mengantarkan Sakura-san pulang. Dia pasti lelah." Sasuke mengangguk lalu mengajak Sakura pulang saat pesta masih berlangsung.
~What Taste~
Sungguh, bagi seorang Haruno, ia bingung bagaimana ia menempatkan sebuah ciuman yang diberikan Uchiha padanya. Waktu itu Sasuke menciumnya tanpa sebuah alasan yang jelas, apa laki-laki itu berusaha mempermainkannya? Kalau begitu caranya, itu tidak bisa dimaafkan.
Ngomong-ngomong tentang 'mempermainkan,' Sakura sudah menceritakannya pada Izumi, tentang tunangan pertama Sasuke, namanya Akari. "Hmm, apa Sakura-chan cemburu karena Sasuke pernah mencintai mantan tunangannya?"
"Tidak begitu, Izumi-neesan, tapi entah kenapa nama itu membuatku penasaran. Selain itu, aku tidak tahu apa-apa tentang keluarga ini selain identitas kalian."
"Baiklah, akan kuceritakan sebuah kisah beberapa puluh tahun yang lalu. Kisah ketika Itachi dan Sasuke masih kecil," Izumi mulai bercerita.
Sejak dulu, vampir mempunyai kasta yang sama dengan manusia, mulai dari darah murni, bangsawan, pelayan dan level E. Darah murni adalah keluarga utama vampir. Keluarga itu bebas mengubah manusia sesuai kasta vampir. Jumlah mereka sangatlah sedikit jadi ketika dewasa mereka akan menikahkan anak mereka sendiri. Lalu para bangsawan seperti kami, vampir yang jumlahnya lumayan banyak. Kami bisa mengubah manusia menjadi vampir pelayan atau level E untuk memenuhi kebutuhan kami. Kami akan menunangkan anak-anak kami ketika mereka kecil agar dapat menahan rasa hausnya.
Itachi, Sasuke, Obito, Akari dan Aku sejak kecil bermain bersama sampai orang tua kami mulai menunangkan anak-anaknya. Pada awalnya, Obito menyukaiku dan dia sangat terkejut ketika keluarga Uchiha memutuskan Itachi yang harus menikah denganku. Bagiku, ini adalah takdir ketika hidup bersama Itachi walaupun saat itu Sasuke menentangnya. Menyusul denganku, Sasuke juga ditunangkan dengan perempuan yang dia sukai, Akari namanya. Gadis bermata ruby itu terlihat penuh ambisi, ceria dan bersemangat.
Kamu tahu, bagi makhluk seperti kami yang hidup dalam kegelapan, dia bagaikan matahari.
"Lalu dimana Akari berada?" tanya Sakura.
"Akari meninggal beberapa tahun setelahnya, karena dibunuh oleh manusia yang menemukannya. Aku tidak tahu kejadian yang sesungguhnya, tapi menurut Itachi-kun, dia dibakar hidup-hidup dan Sasuke melihat dengan mata kepalanya sendiri."
Sakura menutup mulutnya yang bergetar. Ia tidak menyangka kejadiannya akan seperti itu. "Sasuke yang dulu ceria berubah menjadi dingin apalagi kepada manusia. Alasan kenapa pertunangan selanjutnya dengan manusia adalah untuk mengatasi kebenciannya. Tapi berapa kalipun dia ditunangkan, perempuan itu pasti meninggal karena dihisap darahnya."
Sakura terpaku. Ia tidak tahu harus berkata apa. Izumi yang menyadari ketakutan Sakura segera menenangkannya. "Tapi itu hanyalah masa lalu, tenanglah Sakura."
"Sakura! Haruno Sakura! Haruno-"
"Ya!" Sakura bangkit dari tempat duduknya, menyadari Kakashi-sensei yang ada di sampingnya tersenyum masam. "Kakashi-sensei?"
"sedang tidur siang, Haruno-san?" Sakura hanya nyengir, sementara teman sekelasnya menertawakannya. "gomenasai!"
"Baiklah, semuanya. Ini adalah tugas musim panas kalian. Kerjakan dengan baik ya, selain itu aku akan memberitahukan bahwa empat hari di minggu pertama kalian liburan, kita akan mengadakan perjalanan wisata. Jadi siapkan diri kalian, untuk pembagian kamar, silakan ditulis di belakang formulir yang disediakan dan berikan padaku besok. Oke?"
"Haii!" jawab murid sekelas. Tak lama kemudian Kakashi-sensei keluar dari ruang kelas.
Ino menyeruput habis orange juice miliknya, "salahmu sendiri karena melamun di pelajaran sensei gila itu. tidak seperti dirimu." Sakura hanya tutup telinga. "Aku hanya bingung tentang sesuatu."
"jangan bilang tentang Sasori-senpai?"
"Enggak, siapa bilang. Ngomong-ngomong Ino, kau sudah punya teman satu kamar? Di kelasku kurang dua orang lagi nih. Semuanya sudah membuat grup. Kan nggak mungkin satu kamar dengan anak laki-laki."
Ino mengangguk, "kebetulan, Hinata dan Aku juga masih kurang dua orang. Kita bisa satu kamar kan?" Sakura mengangguk setuju. "Yosh, akan kubuat perjalanan wisata kita agar dapat dikenang. Kita akan begadang semalaman membicarakan laki-laki yang kita sukai."
"Hah? Apa maksudmu Ino?"
"Kau ini tidak mengerti, Sakura!"
"Tidak. Aku memang tidak mengerti apa yang kau maksud!"
~What Taste~
Pukul 22.56. Mata emerald Sakura masih berbinar menatap acara televisi yang sedang berlangsung. Padahal ini sudah lewat dari jam tidurnya. Sesekali Sakura tertawa geli melihat aktor di televisi yang sedang bergurau dengan pemeran lainnya. Tidak lupa di sampingnya ada satu toples cemilan yang setia menemaninya.
Tiba-tiba suara pintu terbuka terdengar samar di telinganya. "Sakura-chan? Masih belum tidur?" Sakura menyadari Mikoto hadir di belakangnya. "Ah, aku masih belum ngantuk. Aku sendiri tidak tahu kenapa. Jadi aku menyempatkan waktu untuk nonton televisi."
"Ara, Sasuke dimana?"
"Aku tidak tahu. Dia belum kembali dari tadi siang." Jawab Sakura. Mikoto melepas jaket hitamnya dan meletakkannya sembarang di sofa. "Aku habis dari villa keluarga kita di puncak. Bukankah mulai besok sekolah sudah libur? Nah, kita akan berkunjung ke villa selama seminggu, matahari tidak terlalu cocok untuk kita. Jadi lebih baik kita pergi ke tempat yang minim matahari."
"Kalau itu Sakura tidak bisa. Karena besok sampai empat hari kedepan, angkatan kelas Sakura akan melakukan perjalanan wisata dan semua siswa harus hadir."
Mikoto menarik nafas panjang, "sayang sekali kalau begitu. Mau bagaimana lagi, aku tidak bisa memaksa. Sakura-chan tolong jaga Sasuke ya nanti." Sakura mengangguk cepat.
~What Taste~
KRRIIIINGGG...
Sakura meloncat dari tempat tidurnya. "kukira siapa? Ternyata kau jam!" Ia segera mematikan alarm jam bekernya. Setelah cukup lama Sakura merenggangkan tubuhnya, ia bersiap mandi dan bersiap untuk perjalanan wisatanya. Kediaman Uchiha telah menyepi sejak tadi pagi. Mungkin sekarang mereka semua sudah tiba di villa keluarga yang ada di puncak.
"Sasukeeee! Cepat banguuunn! Kau mau kita terlambat, hah?" teriak Sakura sambil memukul-mukul pintu kamar Sasuke.
"berisik sekali! Apa maumu?" tanya Sasuke setelah dengan kasarnya ia membanting pintu kamarnya. "kau mau sensei membunuhmu? Dia sudah menunggu kita. Kau tidak ingat? Hari ini ada perjalanan wisata."
"perjalanan wisata yang kau maksud itu dibatalkan. Mobil yang mereka pesan mengalami kecelakaan." Ujar Sasuke malas. Sakura terkejut, "bagaimana kau tahu? Jangan bilang.. kau..."
"Bukan aku, bodoh! Tadi Naruto menelepon. Apa kau tidak punya orang yang meneleponmu?"
Sakura mengecek ponselnya dan mendapati 15 panggilan tak terjawab. "Sial, ponselku di mode diam. Kenapa kau tidak memberitahuku Sasuke? Kau sengaja ya?" Sakura segera menelepon Ino tanpa mendengarkan penjelasan Sasuke.
"Halo? Ino? Bagaimana perjalanan wisatanya? Benarkah dibatalkan?"
"Um, mereka bilang mobil yang akan kita tumpangi mengalami kecelakaan. Selain itu akses jalannya juga terbengkalai karena hujan." Jawab Ino di seberang sana. "baiklah, terima kasih."
Sakura menghela nafas panjang lalu meletakkan kopernya di lantai. Ia masih tidak percaya perjalanan wisata yang ia dan Ino impikan telah musnah. "kalau begitu selamat tinggal, jangan ganggu aku!" Sasuke menutup pintu kamarnya keras.
"Dasar tidak sopan!" gerutu Sakura. Untuk saat ini Sakura bisa santai sejenak. Ia belum makan dari tadi, mungkin dia akan memasak. Tapi jauh dari kata 'memasak' apa yang Sakura buat itu hanyalah menghabiskan bahan makanan di rumah ini.
"Hei, Saku-" Sasuke terpaku ketika melihat cairan merah mengalir dari ujung jari Sakura. Instingnya bekerja dengan cepat.
"Ada apa Sasuke?" melihat Sasuke terpaku melihat darah di ujung jarinya, Sakura tersadar bahwa Sasuke mungkin mengikuti instingnya sebagai vampir. Sakura mendekatinya lalu mengulurkan lengannya. "jilat ini!"
Sasuke hanya terdiam, ia tidak tahu harus berkata apa. Ia akui setiap kali melihat darah Sakura, entah kenapa ia selalu ingin meminumnya. Tapi tanpa sadar ia juga menjadi lemah karenanya.
Darah itu mengalir menuju telapak tangannya. Sakura semakin mendekatkannya pada wajah Sasuke. "tidak pa-pa. Silakan!" Sasuke meraih telapak tangan Sakura dan memasukan ujung jarinya ke dalam mulut bertaringnya. Sakura dapat merasakan indera perabanya menyentuh taring kecil milik Sasuke. Sasuke menjilati darah yang mengalir di telapak tangannya hingga tidak ada yang tersisa. "aku selesai!"
"Hm. Kau terlihat baik sekarang. kalau kau lapar bilang saja padaku, oke!" Sakura tersenyum kecil. Sasuke terperanjat, "Kau tidak takut padaku?"
"takut. Tapi aku membayangkan kau sama seperti manusia yang memerlukan makanan. Hanya demi mendapat sebuah roti kita bisa saja mencuri dari orang kan? Aku tidak mau kau menyakiti manusia lainnya hanya untuk makan."
Sasuke menghela nafas panjang, "kau berubah." Gumamnya. "Eh? Apa yang kau katakan?"
"Tapi kemampuan memasakmu masih payah. Karena itu aku peringatkan kau untuk tidak menyentuh alat-alat dapur. Kau hanya menghabiskan bahan yang ada!" Sakura menggembungkan pipinya merasa tersinggung. "apa maksudmu Sasukeee? Kau mengejekku, hah?"
Sasuke memalingkan wajahnya, menatap ke arah lain. "Yosh, kalau begitu kuperintahkan kau Sasuke untuk membantuku membuat sarapan. Kau tidak boleh mengkritik orang tanpa memberi solusi."
"Tch, mau bagaimana lagi. Aku akan membuatnya lebih cepat, agar aku bisa tidur lebih awal!" Sasuke mengambil pisau dapur yang tadi melukai Sakura. Ia mulai memotong-motong tomat, wortel dan salada dengan cepat. "Oh, kau terampil juga Sasuke! Sudah berapa lama kau bisa memasak seperti manusia?"
"Jauh sebelum orang tuamu lahir. Tidak, mungkin kakek nenekmu lahir." Celetuknya datar. Sakura menanggapinya serius dan mulai menimbang-nimbang umur Sasuke. "apa benar vampir itu abadi?"
"kau percaya itu?" tanya Sasuke kembali. Sakura hanya angkat bahu. "semua makhluk pasti akan mati. Kau harus percaya itu. tapi berapa batas usianya, itu yang membedakan. Bahkan untuk ukuran sel, batas mereka berbeda-beda kan?" Sakura mengangguk.
"Kalau begitu Sasuke, dan seluruh vampir juga bisa mati? Sampai umur berapa?" kali ini Sasuke yang angkat bahu. "Aku tidak tahu. Masing-masing vampir khususnya bangsawan punya waktu yang berbeda. Namun yang jelas darah murni hidup lebih lama dari bangsawan."
Sasuke meletakkan semangkuk sup panas di meja makan bersama hidangan lainnya. Sementara itu Sakura menyiapkan piring dan minumannya. "Sasuke, bagaimana dengan werewolf? Apa mereka makhluk abadi dan punya kekuatan hebat seperti vampir?"
Sasuke hanya diam. "aku anggap itu sebuah jawaban. Aku tidak tahu apa yang sedang kalian sembunyikan dariku. Kau, dan Sasori-senpai" Sakura mulai menyesap sup yang dibuat untuknya.
"pembicaraan kita selesai, aku akan kembali ke kamarku. Jangan ganggu aku atau membuat masalah di rumah ini!" Ia melangkah pergi.
"Tunggu, aku punya satu pertanyaan lagi untukmu." Sakura menelan makanannya. "kenapa saat di pesta itu, kau menciumku? Seingatku, kita hanya berdansa dan kelelahan, lalu kau mengajakku ke ruangan lainnya."
"Kau tidak perlu tahu jawabannya." Jawab Sasuke cepat. "Justru itu membuatku semakin penasaran dengan jawabannya. Ayolah Sasuke,"
"Untuk melindungimu" Sasuke segera melangkahkan kakinya tanpa mempedulikan pertanyaan Sakura lainnya. "untuk melindungiku? Apa maksudnya?" ia tidak pernah menemukan jawabannya.
~What Taste~
Villa Uchiha, beberapa puluh tahun yang lalu. Itachi duduk diantara ranting pohon sambil menatap langit biru nan indah. Namun ketenangannya terusik akibat tingkah rewel adik kecilnya. "Nii-san! Aku ingin naik juga. Ajarkan cara memanjat padaku!" teriak Sasuke dari bawah sana.
"Maaf Sasuke. Kau masih belum cukup kuat untuk naik ke atas sini. Lain kali akan kuajarkan padamu." Itachi tersenyum kecil. "Nii-san selalu berkata hal yang sama setiap kali aku memohon. Lalu kau akan mengingkari janjimu."
"Benar, Itachi-kun! Turunlah dan ajarkan pada Sasuke-kun cara memanjat dengan benar." Tambah seseorang di bawah sana. Itachi melihat Izumi datang dengan membawa sebuah tas kecil.
"kau lagi, perempuan gila! Pergi menjauh dari kakakku!" Sasuke berusaha mengusir Izumi namun tidak pernah berhasil karena kakaknya selalu ada di pihak perempuan itu. "hentikan itu Sasuke, Izumi jauh-jauh datang kemari."
"Aku tidak peduli! Dia itu penyihir yang akan menjadikan kakak pelayannya. Lalu dia akan menghisap darah kakak sampai habis dan meninggalkannya. Pergi kau penyihir!"
"Sasuke-kun, aku bawakan makanan untukmu. Bagaimana kalau kita makan bersama?" Izumi menawarkan isi tas kecil yang dibawanya. Sasuke yang sedari tadi mengoceh tidak karuan kali ini hanya terdiam. "sudah kuduga, Sasuke-kun memang doyan makan. Nah, ayo makan!"
"Oh ya, aku dengar Kaa-san akan membawa seorang gadis ke rumah ini. kira-kira siapa?" Itachi menyeruput minuman kaleng berwarna merah.
"Kalau itu aku melihatnya tadi. Dia dan orang tuanya sedang mengobrol di teras depan. Dia sangat cantik loh!" Izumi menerawang. "palingan tidak jauh beda denganmu penyihir! Kau kan jelek!" celetuk Sasuke.
"terima kasih atas pujiannya Sasuke-kun! Kau benar-benar laki-laki yang baik." Sasuke hanya menatapnya sinis. Ia kembali menyeruput minumannya. Tak lama setelah mereka menghabiskan makan siangnya, Mikoto memanggil mereka bertiga. "perkenalkan, namanya Akari. Dia cantik kan?"
"ha-halo! Namaku Akari. Salam kenal, Itachi-kun, Izumi-chan, Sasuke-kun."
Sasuke hanya terpaku ditempat bak patung batu yang tak bernyawa. Gadis bermata ruby itu benar-benar manis dan cantik, berbeda dengan bayangannya yang selalu mengaitkan wajah jelek Izumi. Dia benar-benar sempurna. Senyumnya begitu indah dan manik rubynya sangat menggemaskan.
"Nah, Akari-chan, mulai hari ini, kamu bisa bermain dengan mereka bertiga. Anggap saja mereka saudaramu." Akari mengangguk mantap lalu bergabung dengan mereka bertiga. Seharian itu mereka menghabiskan waktu di taman. Begitupun dengan hari berikutnya.
"Nii-san, aku lapar. Ayo pulang ke rumah!"
"Hei, bukankah kamu sudah minum kemarin?"
"entahlah, aku sangat lapar. Penyihir itu tidak membawa apapun kemari lagi!" Itachi mengusap rambut gelap Sasuke. "jangan menyalahkan Izumi. Baiklah, ayo kita pulang. Aku akan memberi tahu pada mereka berdua!"
Itachi hanya mendapati Izumi yang sedang duduk di bawah pohon, sementara Akari tidak ada di sana. "kemana Akari?" Izumi hanya angkat bahu, "dia bilang ingin mencari topinya."
"Tch, bisa jadi memakan waktu lama. Izumi, bawa Sasuke pulang. Aku akan pergi mencari Akari!"
"Aku juga ikut, Kak!" Sasuke tiba-tiba nimbrung. "tidak boleh. Kamu masih kecil, biarkan aku yang pergi. Lagipula kamu lapar kan?" Sasuke mengangguk, "tapi aku ingin mencarinya. Aku janji tidak akan membuat masalah oke?"
Itachi dan Izumi saling melirik lalu mereka memutuskan untuk menyetujuinya. Lalu berangkatlah mereka bertiga mencari Akari yang kehadirannya entah dimana. "Akari!" Sasuke sesekali meneriakkan namanya.
Samar-samar ia mendengar sebuah sahutan namanya. "Sasuke-kun!" Ia segera berlari mengejar asal suara itu. langkahnya terhenti ketika ia sampai di ujung daratan. Di depannya hanya ada sungai yang mengalir deras. Di sisi kanannya ada sebuah jembatan kayu yang telah lapuk. Akari memegangi rotan yang menjadi penyokong jembatan gantung itu. "Sasuke-kun, tolong aku!"
Sasuke segera berlari menyelamatkan Akari, namun baru saja tangan mereka menyatu, jembatan gantung itu sudah tidak kuat menahan beban mereka. Tali rotannya putus menyebabkan mereka berdua sama-sama terjatuh ke dalam aliran sungai yang deras. "tolong!"
~TBC~
Next Chapter :
"Sasuke, kau sudah menyelesaikan tugas musim panas?"
"Pertunjukan kembang api?"
"Kenapa aku harus ikut dikejar?"
"Sakura-chan, sejak kapan kau mendapat tanda itu?"
"Tanda apa?"
A/N :
Nyahahaha... akhirnya chap 4 is up juga... tadinya author udh mentok mo nulis apa lagi, tapi krn semangat anti terlambat akhirnya author bisa up-up hari ini juga...
Bagi yg masih bingung Akari-chan itu siapa dan masi hidup kah? jawabannya, tunangan prtama Sasu yg prnah mengisi htinya, tapi udh meninggal. bagi yg nunggu sasusaku moment, author udh mulai ngasih di chap ini. smoga di chap depan masih tetap ada. hehehe *senyum jail.
Oya, author lupa, trma kasih atas review minna-san di chap sebelumnya, echaNM, Firza290, Nurulita as Lita-san, TomatoSwaggy, Himeko Utshumi, DaunIlalangKuning dan Semuanya... Silakan mampir lagi..
Mind to review?
