What Taste of My Blood

By. Lavena Valen

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Rate : T

Genre : Romance, Family, Hurt/comfort

Warning : OOC, OC, AU dan Typo

Chapter 5 : Fatamorgana

Embusan angin menyapu dedaunan yang menguning di sekitar pepohonan. Dahan saling meliuk-liuk membentuk irama. Suara gemuruh air terjun terdengar menggema. Sasuke menahan beban tubuhnya di sebuah batu yang letaknya di pinggir sungai. "Akari!"

"Sasuke-kun, dibawah..." Akari tidak dapat melepaskan pandangannya ke bawah. "jangan pikirkan! Cepat ke sini." Akari menggenggam tangan Sasuke sementara Sasuke berusaha menariknya ke pinggir.

"Haahhh..." Mereka mengatur nafas mereka ketika sampai di tepi sungai. "tadi itu... hampir saja... kalau tidak..."

"Kenapa kau... keras kepala sekali... menyerahlah... kau bisa beli yang baru!" Sasuke membaringkan tubuhnya diantara rerumputan. "padahal topi itu sangat kusukai! Sekarang bagaimana kita bisa pulang? Kita sudah terseret arus sangat jauh."

"Aku tidak tahu." Ujar Sasuke singkat. Ia masih menatap kesana-kemari, mengamati tempat di sekitarnya. "tempat ini aku tidak tahu. Tapi Nii-san pasti mencari kita. Kita harus menunggu mereka."

Akari duduk di bawah pohon ek yang tumbuh tidak jauh dari tempatnya. Ia hanya bisa menghela nafas, bersabar menanti orang tuanya datang. Ia menatap Sasuke yang sedang tiduran di bawah sana. Wajahnya sangat damai menatap langit sore. Tidak bisa dipungkiri bahwa anak bungsu keluarga Uchiha itu sangat tampan. Namun samar-samar Akari dapat melihat perubahan di mata Sasuke. Mata gelapnya berubah menjadi merah dan semakin merah.

Kerongkonan Sasuke tergerak dan bibirnya bergetar. Ia butuh asupan darah. Ia harus makan, tapi instingnya tidak mendapat satu mamalia pun di sekitarnya, selain Akari. Tidak, tidak! Ia tidak boleh menggigit siapapun. Ibunya hanya membolehkannya menghisap darah mamalia. Tapi rasa hausnya benar-benar tidak bisa ditahan.

"Sasuke-kun, kau baik-baik saja?" Akari menghampirinya. "Hn."

"Kau lapar?" Sasuke hanya diam. "minum darahku. Di sini tidak ada apapun untuk bisa diminum."

"Tapi ibu bilang..."

"Tidak pa-pa. Aku akan bicara pada tante Mikoto. Ayo, minumlah.. aku paling tahu rasa hausmu lebih dari siapapun."

Sasuke menyibak rambut panjang Akari dan mulai menghisap darahnya. Untuk pertama kali dalam hidupnya merasakan darah vampir yang nikmat. Untuk pertama kalinya rasa haus yang menghantuinya sirna seketika dan untuk pertama kalinya, Sasuke merasa dirinya dirantai. Rasanya gadis itu adalah candu untuknya.

~What Taste~

"Sasuke! Sasukeee! Hei tuan vampire! Keluar!" Sakura memukul-mukul pintu kamar Sasuke dengan keras, bahkan Sasuke yang mendengarnya pun sampai tutup telinga berlindung di bawah selimut dan bantal. "Sasukee... kau sudah makan hari ini?"

Sasuke tidak berniat membalasnya. Jangan, jangan buat masalah dengan gadis itu. please, yang Sasuke inginkan hanyalah hibernasi musim panasnya. Ia tidak mungkin meninggalkan Sakura hanya untuk pergi ke puncak. Bisa-bisa sampai di puncak ibunya langsung menceramahinya dan menerornya satu abad.

"Sasuke, buka pintunya, aku ingin masuk!"

Sasuke tetap tidak mau membukakan pintu kamarnya. Diluar terik matahari sangat menyengat. Itu tidak bagus untuk kulitnya. Kalau sampai ia terbujuk kata-kata Sakura, ia tidak akan memaafkan dirinya sendiri.

"Halo, tante Mikoto tolong aku! Sasuke tidak mau membukakan pintu..."

"Cepat masuk!"

Sial! Sasuke malah kepancing hanya karena gertakannya. Sakura menutup ponselnya dan meletakkan buku pelajarannya di atas meja. "Sasuke, kau sudah makan hari ini?"

"Jangan pura-pura baik. Aku tidak butuh apa-apa darimu," Sasuke berjalan ke tempat tidurnya dengan malas. "Tapi aku butuh sesuatu darimu. Sasuke, kau sudah menyelesaikan tugas musim panas?"

No comment. Sasuke pura-pura tidur agar Sakura kewalahan ngomong sendiri. Tapi rupanya pilihan Sasuke untuk diam itu salah besar. Gadis itu dengan resenya membolak-balik meja belajarnya hanya untuk mencari buku pelajaran matematikanya. "hei, jangan sembarangan menyentuh meja belajarku."

"makanya jawab kalau aku nanya. Kau sudah menyelesaikannya belum?"

"Kalau sudah kenapa?" Sakura langsung nyengir, "Mau liat lah.."

Sasuke menghela nafas panjang, "bukannya kamu sering mendengarkan ceramah Kakashi dibanding orang lain. Kau bisa menjawabnya sendiri. Kenapa harus liat padaku?"

"kan kau tahu Sasuke, aku paling tidak suka matematika. Karena itu aku belajar lebih keras. Ah, benar juga daripada liat buku pelajaranmu, mending ajarin aku matematika ya? Kan habis musim panas, Kakashi sensei mengadakan pre-tes untuk bab baru."

"Aku tolak!" Sasuke bersembunyi dibalik selimutnya. "Ayolah, hanya kau satu-satunya orang yang bisa mengajariku. Kau pasti hidup lebih lama dari kakek nenekku artinya, kau pasti hidup saat ilmuwan matematika menuliskan tesisnya. Sepanjang itu, kau pasti hafal semua rumusnya."

Sakura menyingkap selimut Sasuke. "aku tidak mau!" tegasnya lalu menutup selimutnya kembali. "Aku janji, aku akan menyempatkan waktu luang untuk acara minummu, oke?" Sekali lagi Sakura menyingkap selimutnya. "Aku menolak," saat itu juga Sasuke menutup selimutnya.

"Padahal tante Mikoto bilang aku bisa meminta apa saja darimu. Mungkin aku salah, kalau begitu aku..."

"Baiklah. Aku akan mengajarimu. Tapi caraku keras, kalau kau tidak bisa mengikuti, kau akan tahu akibatnya," pada akhirnya Sasuke harus menghilangkan imajinasi tentang hibernasinya hari ini hanya untuk seorang Sakura. "mulai dengan soal ini, jawab dalam waktu lima menit."

Sakura meringis kecut, "Heh? Kan aku masih belum mengerti konsepnya. Tapi baiklah aku coba." Hasilnya, Sakura malah menggabungkan rumus turunan dengan integral. "kenapa hasilnya sama ya?"

Sasuke menggulung buku kecilnya dan menjatuhkannya ke kepala gadis itu. "kau bodoh atau apa? Rumus itu seperti kau berjalan lalu kembali ke tempat semula." Sakura tersenyum masam. "Kan aku sudah bilang, aku masih belum mengerti konsep. Kalau kau disini hanya untuk mengkritik, lebih baik kau mengajariku." Mau bagaimana lagi, Sasuke harus mengajari Sakura tentang matematika mulai dari dasar hingga ke yang paling rumit. Hebatnya Sakura lebih menangkap apa yang diajarkan Sasuke daripada Kakashi padanya.

Tepat setelah Sasuke mendapat sebuah pesan singkat di ponselnya, ia buru-buru mengakhiri pelajaran. "sebaiknya kau kembali ke kamar, cuci kaki dan tidur. Sekarang sudah malam."

"Kau ada janji ketemu dengan seseorang? Dimana? Siapa? Apa itu tante Mikoto?" Sasuke menolak menjawab, ia malah membantunya memunguti semua buku pelajaranya dan mengeluarkannya dari kamar. "Mencurigakan!" gumam Sakura.

Fix. Sasuke benar-benar mencurigakan. Kalau dipikir-pikir kenapa setiap malam Sasuke selalu berangkat entah kemana, lalu kembali ketika fajar datang. Tentu daja dengan mata sedikit memerah akibat kurang tidur lalu ia punya alasan untuk tidur di kelas sepanjang pelajaran. Rutinitas itu selalu berjalan dan tak pernah absen kecuali ketika tante Mikoto mengadakan acara keluarga atau pesta semacamnya. Sakura sendiri tidak tahu Sasuke pergi kemana, tempat seperti apa, keperluan apa, dan kenapa harus setiap hari. Please, jaman sekarang, tempat hiburan apa yang buka malam selain klub dan diskotik. Tapi Sakura jamin, orang seperti Sasuke yang selalu risih dengan keramaian tidak akan mengunjungi tempat seperti itu.

Lalu tempat seperti apa? Mungkin kafe nonstop. Oke, untuk apa? Masa begadang tidak ada tujuannya. Bertemu seseorang kah? Siapa? KRIK. Sakura penasaran tingkat dewa dan hari ini dia harus tahu kemana Sasuke pergi titik.

Tapi baru saja Sasuke keluar dari kamarnya, rapi dengan kaos hitam dan celana panjangnya, Sakura mendapat telepon dari Ino. "Apaan sih, lagi sibuk nih,"

"Ye, kan mau kasih tahu hari ini aku akan pergi ke pertunjukan kembang api. Kau mau ikut tidak? Daripada dirumah menunggu musim panas selesai kan bosen." Sakura menimbang-nimbang boleh juga ide Ino. Tapi ia sadar, Sasuke sudah pergi dari rumah saat Ino berbincang dengannya. "Baiklah, aku akan kesana sekarang."

~What Taste~

"Jang.. jajang... jjaanggg... Inilah dia, pesta kembang apinya..." Naruto datang dengan membawa satu ember petasan kembang api. Di sampingnya, Sai juga membantu membawa ember lainnya. "Ah... aku kira ada festival ketika kau bilang akan ada pesta kembang api. Dasar penipu kau, Ino!"

"Maaf ya Sakura. Kan aku hanyamemberitahu pesta kembang api, bukan festival." Ino malah terkekeh puas. "Dan disinilah kita, di kolam renang sekolah? Kau gila? Malam-malam seperti ini masuk ke sekolah."

"tenang saja Sakura-chan, semuanya aman terkendali." Ujar Naruto cengengesan. "Aman gimana? Kalau ketahuan sama pak satpam bisa susah urusannya." Sakura berujar dengan nada tinggi. "tenang Sakura, Naruto kan Cuma ingin kita berkumpul. Nikmati saja, santai oke?"

Sakura menarik nafas panjang lalu mengangguk. Baru saja tensinya menurun, sosok yang muncul di depannya justru membuat tensinya kembali naik. "Sasuke! Kenapa kau ada di sini?"

Ino memandang keduanya seperti sudah lama kenal dan dekat. Padahal yang dia tahu, Sasuke hanyalah teman sekelas Sakura, tidak kurang dan tidak lebih. Mereka tidak pernah bicara kalau di sekolah, saling tatap saja ogah apalagi dekat kan, "kalian teman dekat?"

"Tidak. Aku hanya terkejut saja, kenapa dia bisa ada disini? Dia kan orang yang suka menyendiri dimanapun."

Sebenarnya ada alasan lain kenapa Sasuke datang ke tempat ini. "Yaaahhh... aku yang mengajak Sasuke dan dia langsung mau." Naruto kembali terkekeh. "Nah, kalau begitu kita langsung mulai saja pesta kembang apinya."

Ino dan Naruto membakar kembang api yang sudah mereka pegang lebih dulu, disusul Sakura, Hinata dan Sai dan yang paling terakhir Sasuke. Lumayan asik juga bermain kembang api di jam-jam seperti ini apalagi malam ini bintang-bintang bersinar lebih terang dari biasanya. Sakura mengangkat kembang apinya setinggi mungkin lalu membayangkan kalau kembang apinya itu adalah sebuah bintang. "Satu... dua... ti-"

BYUURRR...

Tubuh Sakura terdorong oleh gaya hingga dirinya terjatuh ke kolam renang. Sial, Ino si tukang usil itu sengaja mendorongnya. Tapi bukan Cuma dia saja yang kena getahnya, di sampingnya, Sasuke juga mengalami hal yang sama. "Inoooo..."

"Wuee... bagaimana rasanya Sakura? Seger kan?"

"Seger apanya? Kau gila Ino!" Hinata segera mendekati Sakura yang bergegas menepi. "Sakura-chan tidak pa-pa?" Sakura langsung mengangguk mantap. Di lain cerita, Naruto juga terkena semprot Sasuke. "Aku rasa kalian berdua mirip ya? Gimana kalau pacaran aja?" tanya Sai asal.

"Ide bagus!" tambah Naruto ikut-ikutan. Tapi Ino segera memukul kepala mereka berdua. "Bodoh! Sakura kan sudah jadi pacarnya Sasori-senpai." Semprotnya. "Gapapa kali kalau di duain ehehehe..."Naruto nyengir.

Belum sempat mereka berpesta ria, mereka mendengar suara peluit dikumandangkan dengan jelas. "Hei! Apa yang kalian lakukan disitu!"

"Gawat! Ada pak satpam! Kabuuurrrr..."

Good. Mereka kabur nggak ngajak Sakura. Naruto dengan panik langsung menarik Hinata yang ada di sampingnya. Ino kabur dari awal entah kemana dan Sai juga hilang. Tinggal mereka berdua yang ada di kolam dan dalam keadaan basah kuyup. Sakura berusaha memanjat tangga tapi karena pakaiannya terlalu berat, ia hampir jatuh. Untung saja ia cepat bertindak dan alhasil dia sampai di tepi kolam. Kalau untuk Sasuke, tanpa perlu memanjat tangga lagi, dia sudah bisa naik ke tepi.

Sakura mencoba mengatur nafas lalu memeras air yang meresap ke jaketnya. "Oooo... jadi kalian berdua yang menyalakan kembang api di sekolah hah? Kalau mau pacaran jangan disini! Sana di tempat lain!" Sasuke lantas berdiri dan dengan cepat meraih lengan Sakura dan membawanya pergi.

Sakura dapat melihat pak satpam itu mengejar mereka. "Kenapa aku harus ikut dikejar?"

"Jangan banyak bicara! Lebih baik kau berlari dengan cepat!" saran Sasuke datar. Sakura hanya manyun.

~What Taste~

"Hah... hahhh... Sasuke, berhenti! Aku sudah tidak kuat lagi berlari!" Sakura berpegang pada dinding grafitti yang ada di sisinya. Ia berusaha menghirup oksigen sebanyak mungkin.

"Sepertinya penjaga sekolah itu tidak mengejar lagi."

"Hm. Kita bisa santai kalau begitu." Sakura duduk bersandar di dinding. Ia menatap pepohonan yang ada di depannya. "belakang sekolah memang menakutkan ya kalau malam." Gumamnya. Sasuke hanya diam, lalu ikut duduk di samping Sakura.

"Hei Sasuke, katakan padaku kenapa setiap hari kau selalu menghilang apalagi saat sore dan entah darimana kau kembali tengah malam. Apakah kau pergi ke suatu tempat?"

"Kenapa kau sangat ingin tahu?" Sasuke berbalik bertanya. "Um, aku Cuma penasaran. Kau itu penuh misteri. Sejak awal, kau benar-benar berbeda dengan yang lain. Cara bicaramu, caramu menanggapi pertanyaan dan sikapmu pada sekitar. Tapi hari ini kau berbeda dari biasanya. Ah, menyenangkan ya?" Sakura menatap Sasuke. "kalau tidak salah, kau dikerjain Naruto kan? Aku tidak kuat liat wajahmu yang acak-acakan hahaha..."

Sakura tertawa lepas sementara Sasuke hanya menatapnya datar. Ia bangkit dari tempat duduknya, "Ayo pulang. Pakaian kita basah." Padahal Sakura tahu Sasuke pasti malu karena ditertawakannya. Ia menengadah sejenak menatap bintang-bintang yang membentuk sebuah rasi. Agaknya awan-awan menutupi pandangan hingga Sakura hanya dapat melihat beberapa dari mereka.

"Tunggu sebentar!" Ia melompat tinggi-tinggi dan mencoba memegang sisi lain dinding grafitti itu. "Sasuke... bantu aku naik!" dengan terpaksa Sasuke membantunya naik ke atas. Sakura mengulurkan tangannya ketika ia sampai di puncak.

Sebuah hal yang belum pernah Sasuke bayangkan muncul. Semilir angin malam menerpa rambut hitamnya. Aroma dingin tetumbuhan menyentuh kulitnya. Kerlap-kerlip penerangan rumah warga menghiasi gelapnya malam. Di atasnya taburan bintang-bintang ikut meramaikan. "Indah bukan? Musim panas kali ini sangat hebat!"

Bagi seorang vampir yang hidup cukup lama seperti Sasuke, pemandangan ini sangat umum dan selalu ia jumpai setiap ada sesuatu yang membuatnya bahagia kali ini. bukan karena pemandangan langit malam, tapi karena senyum gadis di sampingnya ini. Lagi. Sesuatu yang aneh terjadi di dadanya. Aliran darahnya bekerja dengan cepat dan jantungnya berdentum sangat hebat. Ini kesekian kalinya ia merasakan hal yang sama. Atensinya meningkat dan nafasnya tak teratur. Entah kenapa rasanya dadanya akan meledak jika ia tidak bisa mengendalikannya.

"Sasuke!" panggil Sakura. "Aku rasa kau adalah orang yang baik. Hanya saja kau sulit mengungkapkannya. Aku rasa aku menyukaimu!" Sakura tersenyum kecil.

DEG!

Inilah Hidup yang selalu dibicarakan. Selama ini dia tidak pernah merasa hidup sekalipun dia abadi. Tapi hari ini, dia merasa hidup dan hidupnya indah karena ada Sakura didalamnya.

"Nah, kita pulang yuk, aku sudah selesai disini." Sakura menarik lengan Sasuke, namun malah dia yang tertarik hingga menubruk dada bidang Sasuke. Sakura agak terkejut ketika Sasuke melingkarkan kedua lengannya di tubuh mungilnya.

"Sasuke? Apa yang-"

"Sakura!" potongnya. "aku rasa kau salah menilaiku. Lagipula siapa kau? Apa yang kau tahu tentang diriku dan atas dasar apa kau menyebutku baik?"

"Tidak. Ak-aku tidak salah menilaimu. Kau itu orang yang baik. Buktinya kau bisa tersenyum dan kesal sama seperti orang lain."

"Kalau begitu, atas dasar itu juga kah kau menyukaiku?"

Sakura berusaha memalingkan wajahnya saat Sasuke menatapnya dingin. "awalnya, aku takut berurusan dengan vampir apalagi disuruh menikah dengannya. Tapi sekarang tidak buruk juga berteman denganmu. Aku rasa kita bisa berhubungan dengan baik."

"Kalau begitu, kau salah besar nona Haruno. Apa kau tahu aku berkali-kali berusaha membunuhmu?"

"itu tidak mungkin. Aku mengerti kekesalanmu sampai membuatmu jadi kacau. Tapi sebenarnya kau tidak mau menyakitiku kan?"

Sasuke semakin kesal. Dia tidak bisa mengontrol dirinya dengan baik gara-gara perkataan Sakura. "kau benar-benar naif. Baiklah, aku akan bertanya padamu, jawablah dengan jujur. Apakah kau bisa meninggalkan duniamu dan menjadi makhluk penghisap darah sepertiku selamanya?"

Sakura terdiam. Ia menundukan pandangannya, menatap masing-masing jemarinya yang ia tautkan pada pakaian Sasuke yang basah. "bagi kami, kalian para manusia hanyalah angin lalu yang gampang pergi. Keberadaan kalian dapat tergantikan dengan cepat. Kau bilang, kau menyukaiku jadi bisakah kau menjadi sepertiku?"

Sakura menatap iris Sasuke lekat-lekat. Tak ada kebohongan dimatanya, dia benar-benar serius. Ia menyentuh bibir Sasuke dengan lembut. Telunjuknya meraih taring kecil yang terlihat. "...apakah taring ini akan merubahku?"

Ketika jemari Sakura menyentuh taringnya, Sasuke dengan senang hati membuka rongga mulutnya. "..tajam" gumamnya. "aku... bersedia." Saat itu Sasuke segera mendekap tubuh Sakura lebih erat. Jemarinya meneyentuh bibir ranum milik gadis itu. Sasuke menautkan bibirnya untuk sejenak lalu ia hirup aroma cherry di lehernya. Ia menjilat lalu menancapkan gigi taringnya begitu dalam. Sakura mendesah mencoba menahan rasa sakitnya.

~What Taste~

Menurutmu siapa yang kau rubah itu dan bagaimana dia nantinya?

'Sasuke-kun, kau benar-benar anak yang baik,'

Kau pikir dia akan berubah seperti orang itu? apa kau percaya reinkarnasi?

'Aku orang yang paling tahu rasa hausmu"

Dia akan menghilang! Sekali lagi dia akan menghilang!

'Aku pikir kamu adalah orang yang baik. Tenang saja aku akan ada disampingmu!"

Matahari bersinar yang kau lihat setiap harinya akan redup, pupus lalu menghilang. Apa kau yakin dapat menemukannya lagi?

'Apa yang kau lihat?'

Butuh waktu yang lama untuk sebuah penantian dan sekarang...

Sasuke menjauhkan dirinya dari tubuh Sakura. Taringnya ia cabut dengan paksa dan dialihkannya pandangannya ke arah lain. Sakura memegangi lehernya yang masih mengelurkan darah sambil menatap keheranan.

"kenapa?" Sasuke turun dari atas dinding lalu mengajak Sakura turun tanpa memberikan jawaban atas penolakannya.

Bagi seorang Uchiha Sasuke, Haruno Sakura adalah Haruno Sakura, bukan Akari. Dia telah salah menilai jika ia menyamakan kedua orang yang berbeda itu. Fatamorgana yang selalu muncul di kepalanya membuatnya kacau sampai berani mengajak Sakura menjadi vampir seperti dirinya. Kekacauan itu karena keraguannya yang entah sejak kapan menghinggap di hatinya. Adakah cara untuk menghilangkannya? Atau dia berusaha untuk menerimanya?

~What Taste~

"Ohayo.. huaaw..." Sakura mengucek matanya yang setengah tertidur. "Eh, tumben Sasuke bangun pagi, biasanya jam segini masih tidur!" Sasuke menatap televisi dengan ekspresi masam, "memangnya salah kalau aku sudah bangun?"

Sakura hanya manggut-manggut mendengar jawaban Sasuke. Ia berniat berjalan menuju dapur namun tiba-tiba ia kehilangan keseimbangan dan nyaris terjatuh. "Eh?" Sakura mencoba lebih konsentrasi. Rupanya seseorang menyokong tubuhnya agar tidak jatuh. "Sasuke."

"Kau tidak pa-pa?" Tanya Sasuke.

Sakura hanya mengangguk ditengah nafasnya yang naik-turun. "Aku mungkin masih setengah tidur, he-he..."

tiba-tiba Sasuke mengangkat tubuh Sakura dan menggendongnya dengan gaya bridal ke kamarnya. "Apa yang kau lakukan Sasuke? Turunkan aku!" Sasuke menurunkan tubuh Sakura ke tempat tidurnya. Detik berikutnya Sasuke mendekatkan wajahnya dengan wajah Sakura dan.. tik!

Dahi mereka menyatu. Sakura dapat merasakan embusan nafas Sasuke dan mata mereka saling menatap. Dilihat dari dekat, Sasuke memang tampan. Cukup untuk membuat Sakura salah tingkah dan semburat merah muncul di wajahnya. Sasuke menjauhkan dirinya dan bergegas keluar dari ruangan itu. "Istirahatlah. Aku akan segera kembali"

~What Taste~

Sakura sudah bosan menunggu Sasuke yang menghilang dari hadapannya. Katanya sih tidak lama tapi sudah lima menit berlalu dia belum muncul juga. Terlebih apa yang Sasuke lakukan di luar sana, Sakura tidak tahu. Sakura meraih ponselnya untuk mengusir kebosanan. "Wow.." baru satu hari ia tidak mengecek, ponselnya dilanda banjir pesan singkat dari Ino. Dan tebaklah isinya hanyalah permintaan maafnya yang bertele-tele. Dibanding permintaan maaf, Sakura lebih suka menyebutnya teror. Di kronologi paling bawah, ia lihat sebuah pesan nyempil dari Naruto. Sakura kira pesannya berisi permintaan maaf juga, eh ternyata curhatan tentang Naruto yang baru jadian sama Hinata.

"Dasar, Naruto itu..."

CKLEK!

Pintu kamarnya terbuka. "Sasuke kau la- eh Izumi nee-san?" Izumi masuk ke kamar Sakura dan duduk di sampingnya. "Aku dengar Sakura-chan sedang sakit, jadi aku kemari. Apa kau menyangka aku Sasuke? Apa kau sangat merindukannya sampai tidak sabar?"

Sakura memalingkan pandangannya, merasa malu karena ucapannya yang asal. "Tidak, tadinya aku mau memarahinya." Bantahnya terbata-bata. "benarkah?" Izumi malah menggodanya dengan tatapan jail. "Sasuke sedang keluar untuk membeli bahan makanan. Eh, Sakura-chan sejak kapan kau mendapat tanda itu?"

Izumi menunjuk belakang leher Sakura. Namun saat Sakura bercermin pada ponselnya, ia tidak mendapati apapun. "Tanda apa?"

"Tanda dibelakang lehermu itu, tanda Uchiha. Kamu memang tidak tidak bisa melihatnya, hanya vampir yang bisa." Sakura menatap Izumi penuh dengan keheranan. "apa maksudnya?"

"Tanda itu ada ketika seseorang telah terikat dengan vampir yang meminum darahnya. Tapi tidak semua vampir yang meminum darahnya dapat memberikan tanda itu seenaknya. Bagaimana ya menyebutnya, itu adalah tanda kehormatan bahwa orang itu telah menikah dengan vampir. Sakura-chan, apa Sasuke yang melakukannya?"

Sakura terpaku, kalau diingat-ingat memang tidak ada vampir lain yang meminum darahnya. Tapi Sakura juga tidak yakin Sasuke yang menandainya. "Aku tidak tahu, Izumi-neesan. Memang hanya Sasuke yang meminum darahku, tapi aku tidak yakin dia menandaiku."

"Jangan begitu. Kau tahu artinya apa? Dia akhirnya mengakuimu..." Izumi tersenyum bangga. Saking bangganya sampai dia bertepuk tangan. "Selamat Sakura-chan. Lalu, apa dia mengatakan bagaimana rasa darahmu?"

"Rasa.. darahku? Apa maksudnya?"

"Kau tidak tahu? Dia mengatakan seperti, 'aku menyukai rasa darahmu' atau 'entah kenapa aku sangat haus ketika melihatmu' dan kata-kata semacamnya. Apa dia tidak mengatakannya?" Sakura hanya angkat bahu. "Sasuke itu, benar-benar pemalu! Tapi tidak pa-pa, aku tetap bangga."

Sakura hanya memaksakan tersenyum, sebenarnya dia tidak tahu harus bagaimana. "Ah, waktunya untuk pergi, Sakura-chan"

"Pergi? Izumi-neesan? Kemana?" Izumi bangkit dari tempat duduknya. "aku akan kembali ke villa untuk sementara waktu. Aku, Itachi-kun dan mungkin ibu juga akan tinggal disana. Tapi maaf, aku tidak bisa mengajak kalian berdua."

"Kenapa?" Sakura sangat antusias. "ra-ha-si-a. Pokoknya, selama beberapa bulan aku tidak akan kembali. Ibu mungkin akan kesini sewaktu-waktu tapi dia akan lebih banyak menghabiskan waktu denganku. Sampai jumpa Sakura-chan!" Izumi menghilang dari pandangan Sakura.

Sepuluh menit berikutnya Sasuke datang dengan membawa sebuah nampan berisi semangkuk bubur dan segelas susu. Ia meletakkan nampan itu di meja dan sesekali menyentuh dahi Sakura dengan tangannya. "Sasuke, aku tidak pa-pa." Ujar Sakura terbata-bata.

Sasuke tidak menghiraukannya, "Makanlah. Demammu sangat tinggi." Sakura mengangguk lalu mengambil posisi duduk. "Perlihatkan lukamu."

"Eh?"

"Bekas gigitanku tadi malam. Masih sakit?" Sakura mengangguk pelan. "Tapi aku baik-baik saja. Aku kan kuat, he-he.."

Sasuke duduk di sampingnya. "Sepertinya begitu. Karena kau bodoh..." nada bicaranya terdengar meledek membuat Sakura menggembungkan pipinya. Ia merasa tersindir. Sakura mengambil semangkuk bubur itu dengan kedua tangannya yang gemetaran. Untung mangkuknya tidak jatuh karena Sasuke membantunya.

"Kau itu merepotkan." Sasuke mengambil alih bubur itu dan diambilnya sesendok untuk diberikan pada Sakura. "Makanlah." Sakura tanpa ragu memakan bubur itu. "Enak. Bagaimana bisa ya... aku sendiri payah dalam memasak." Sasuke merasa terhormat dipuji oleh tunangannya. "Tuetapi.. tumben Suasuke buaik. Apa besok turun sualju...umm"

"Makanlah dulu, bicaranya nanti." Komentar Sasuke. Sakura mengangguk lalu menelan semua bubur yang ada di mulutnya. "Nee, katakan padaku..."

"Aku.. hanya tidak mau kau mati karena aku menghisap darahmu. Lagipula ibu bisa marah kalau melihatmu seperti ini."

Sakura tertawa kecil. "Heh.. kirain ada apa? Bodohnya aku... lagipula tidak mungkin seorang Uchiha Sasuke baik pada manusia sepertiku. Benar kan?" Sasuke hanya diam.

"Tetapi waktu itu sangat menyenangkan. Kau tahu, Ino menerorku dengan permintaan maafnya. Ada sekitar dua ratus pesan dalam sehari loh. Belum lagi ditambah panggilan tak terjawabnya sebanyak tiga puluh. Hebat kan?"

"Dan lagi, Naruto memberitahuku kalau dia sudah jadian dengan Hinata tadi malam. Aku kira Naruto tidak bisa romantis dengan perempuan, ternyata dia jago juga. Aku sampai terkejut."

Tanpa sadar dengan obrolan panjang lebar itu Sakura sudah menghabiskan bubur yang diberikan oleh Sasuke. "Minumlah susunya dan istirahatlah" Entah sadar atau tidak ini pertama kalinya Sasuke mengusap pucuk kepala Sakura. Walaupun singkat tapi Sakura dapat merasakan dengan jelas ada perasaan aneh yang muncul dari hatinya.

~What Sense~

Sakura membuka matanya dan saat itu yang ia lihat adalah Sasuke sedang tersenyum padanya. "Kau seperti tuan putri dengan mahkota itu."

Sakura tersenyum lembut. "Terima kasih Sasuke-kun..."

Kini Sasuke menghilang dari hadapannya dan terlihat beberapa laki-laki yang tidak ia kenal. Mereka semua berpakaian serba hitam. "Hei.. katakan padaku kenapa kau meminta bantuan kami?"

Sakura memajukan langkahnya. "Aku sangat iri pada kalian. Kalian puas meminum darah manusia sementara aku harus minum darah vampir."

Salah seorang laki-laki tersenyum masam. Ia menyeringai, "nona muda sepertimu bukankah telah memenuhi hasratmu dengan pasanganmu."

"Hah? Sasuke? Tidak-tidak. Dia dingin sekali dan pendiam. Aku tidak suka dengannya. Kalian juga pasti tidak akan tertarik dengan rasa darahnya."

Sakura terbelalak, 'kenapa aku berbicara seperti itu?'

"Sepertinya kau tidak menyukainya. Lalu apa yang akan kamu lakukan?"

Sakura tersenyum kecil. "Bawa aku ke desa. Aku ingin melakukan perburuan kecil."

Pandangan Sakura tiba-tiba gelap dan ketika ia membuka matanya untuk yang kesekian kali, ia melihat dirinya diikat di sebuah tiang dengan kayu bakar disekelilingnya.

"Dia penyihir! Dia drakula!" Ia melihat ekspresi warga desa yang berapi-api.

"Bakar dia hidup-hidup dan tusuk dia!" Dari kejauhan sana, Sakura dapat melihat sosok Sasuke berdiri menatapnya dengan penuh keheranan. Sesekali Sasuke menggertakkan gigi taringnya karena tidak tahan melihatnya.

"Sasuke tahan emosimu.. kamu tidak boleh menyelamatkannya."

"Kenapa nii-san? Dia mau dibakar hidup-hidup dan aku hanya diam disini?" Nadanya meninggi.

"Terus kamu mau apa? Menyerang warga dan mengungkapkan identitasmu sebagai vampir? Sasuke kau akan membahayakan semua orang dan para manusia itu akan memburu kita habis-habisan. Untuk sekarang kita harus kembali." Itachi berusaha menyeret adiknya untuk pergi dan… JLEB!

~TBC~

Next Chapter :

"Sakura apa kau ada dirumah?"

"Kenapa dia berbohong padaku?"

"Uchiha-san, kau harus bergabung dengan Haruno-san untuk pertemuan itu."

"Panas, kenapa panas sekali ya?"

"Lucky, aku bisa satu tim bersama Sakura."


A/N :

Hai, minna... maaf update telat hehehe... *digebug reader. karena banyak kegiatan jadi gak sempet ngetik, padahal udah banyak inspirasi yang nongol di otak *ala-ala squitwort

Di chap ini masih tentang Sasusaku dan sekarang Sasu udah ngeklop banget tuh sama saku. chap depan akan lebih seru. tetep mampir ya!

Sekali lagi author minta maaf yang sebesar-besarnya karena apdet telat *bungkuk.

O ya, terima kasih atas reviewnya dan silakan untuk tulis review lagi sebanyak-banyak *author ngerasa masih banyak kurangnya hehe..

sampai jumpa di chap depan!