Bagi makhluk seperti manusia, keabadian adalah sesuatu yang paling diidam-idamkan
Bagi kami, kematian merupakan hal yang paling kami inginkan
Karena kami terlalu sering melihat orang-orang pergi
Kamilah saksi bisu setiap kejadian dalam hidup manusia
Walaupun begitu kami tidak bisa mengungkapkan kebenarannya
Bahwa kami adalah monster penghisap darah
Makhluk yang hidup abadi...
"Dia penyihir! Dia drakula!" Ia melihat ekspresi warga desa yang berapi-api. "Bakar dia hidup-hidup dan tusuk dia!" Dari kejauhan sana, Sakura dapat melihat sosok Sasuke berdiri menatapnya dengan penuh keheranan. Sesekali Sasuke menggertakkan gigi taringnya karena tidak tahan melihatnya. "Sasuke tahan emosimu.. kamu tidak boleh menyelamatkannya."
"Kenapa nii-san? Dia mau dibakar hidup-hidup dan aku hanya diam disini?" Nadanya meninggi. "Terus kamu mau apa? Menyerang warga dan mengungkapkan identitasmu sebagai vampir? Sasuke kau akan membahayakan semua orang dan para manusia itu akan memburu kita habis-habisan. Untuk sekarang kita harus kembali." Itachi berusaha menyeret adiknya untuk pergi dan... JLEB!
.
.
What Taste of My Blood
By. Lavena Valen
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Rate : T
Genre : Romance, Family, Hurt/comfort
Warning : OOC, OC, AU dan Typo
.
.
Chapter 6 : Festival
"Arrgghhh... tanganku..." Sakura mendesah kesakitan ketika melihat lengan kanannya terkoyak habis oleh sebuah garpu rumput. Ditambah seorang warga mengikatkan tali ke lehernya dan menariknya keatas. Belum lagi ibu-ibu yang melemparinya dengan batu.
Tubuh Sakura mati rasa. Walaupun begitu, ia masih dapat bergerak bahkan dengan tubuh terikat. Ia menangis, memohon pada mereka agar dilepaskan. Rasa sakitnya telah memuncak dan Sasuke hanya bisa melihatnya dari kejauhan. Dia tidak menolongnya.. menatapnya pun tidak.
"Monster penghisap darah, Mati kau!" kali ini sebuah pasak hendak ditancapkan persis di depan jantungnya. Sakura menjeriit, "Tidaaakkkk..."
Sakura terbangun dari tidurnya. Keringat dingin membasahi tubuhnya. Nafasnya terengah-engah dan rongga dadanya naik-turun. Sasuke yang mendengar jeritan itu langsung menuju kamarnya, memastikan apa yang terjadi. Ia melihat Sakura ketakutan.
"Sakura... Sakura... kau baik-baik saja?" Sakura tidak merespon. Tangannya menggigil dan giginya saling bergesekan. Ketika Sasuke menyentuh tangannya Sakura baru menoleh dan memeluknya.
"Aku takut..." ia menitikkan air matanya.
"Hn." Sasuke membalas pelukannya dan disentuhnya pucuk kepala Sakura. Gadis itu menumpahkan semua air matanya di pelukan Sasuke dan entah kenapa setelahnya ia merasa baikan.
"Terima kasih Sasuke."
"Hn. Tidurlah."
Sakura mencoba membaringkan dirinya dengan ragu-ragu. Masih ada rasa ketakutan yang menyelimutinya. "Istirahatlah, aku akan ada disini!" tegas Sasuke. Sakura mengangguk lalu tersenyum lega.
~What Sense~
Minggu terakhir liburan musim panas ini Sakura harus rela menghabiskannya di tempat tidur. Demamnya belum kunjung turun dan entah kenapa tenggorokannya terasa kering. Selama itu pula Sasuke merawatnya. Vampir itu rela bangun di pagi hari untuk menyiapkan makanannya lalu kembali pada sore hari. Bahkan terkadang ia menghabiskan waktunya untuk duduk manis di kamar Sakura sambil membaca buku.
"Tapi kenapa ya kok demamku tidak turun-turun?" gumam Sakura di suatu hari. Sasuke tidak meresponnya. "Sasuke, apa kau tahu kalau Sasori-senpai itu werewolf?" Sasuke juga tidak meresponnya.
Sejak hari itu, Sasori tidak pernah menghubunginya. Sakura ingin tahu kenapa, tapi ketika ia menanyakannya pada Sasuke, dia asti tidak menjawabnya. Agaknya ia merasa cemas kalau-kalau terjadi sesuatu padanya.
.
"Baiklah, kenapa aku harus ikut kemari?" tanya Naruto memberengut. Sedari tadi ia menekuk kedua lengannya ke dada, merasa kesal karena harus diseret oleh Yamanaka ke rumah Sakura. "Kau juga harus meminta maaf padanya. Sejak malam itu, Sakura tidak pernah membalas pesan dariku,"
Naruto pikir semua ini percuma. Karena dialah yang paling tahu kalau Sakura tidak ada di rumahnya. Tapi ia tidak bisa memberitahu orang lain, Ino misalnya, tentang tempat tinggal Sakura yang baru. Ino mencoba menelepon Sakura.
"Hari ini cuacanya panas sekali. Sebaiknya lain waktu ya Ino, aku lagi males nih!"
"Tanggung Naruto, ini udah didepan rumahnya. Eh, kenapa halamannya tidak terawat ya? Padahal Sakura sangat suka bunga." Naruto hanya angkat bahu.
PIP.
"Halo? Sakura apa kau ada dirumah?" Ino mendengar suara nafas Sakura yang menderu diseberang sana. Sesekali Sakura terbatuk. "Hm, aku ada di rumah nenek. Ada apa?"
"Aku mengkhawatirkan keadaanmu Sakura. Maaf waktu itu aku meninggalkanmu, soalnya spontan. Jadi aku ke..." Ino menghentikan pembicaraannya. Ia mendengar suara gelas pecah diseberang sana. 'Apa yang terjadi?'
"Sakura!" sahutnya. Naruto yang ada disampingnya ikut terbawa suasana. "kenapa?"
"Aku tidak tahu. Aku mendengar suara seperti gelas pecah." Tambah Ino. Ia masih menunggu jawaban Sakura. "maaf, maaf. Apa aku mengagetkanmu, Sasuke?"
'Sasuke? Apa sekarang disamping Sakura ada Sasuke?'
"Kalau kau mau minum, jangan ambil sendiri. Kau bisa minta tolong denganku!" Ino mendengar baritone suara Sasuke yang mulai jelas. Lagi, Ino mendengar tawa ringan yang keluar dari mulut Sakura. "Aku tidak ingin membangunkanmu!"
Ino segera menutup teleponnya. Ia mencoba mencerna apa yang sebenarnya terjadi di seberang sana melalui suara mereka. Kenapa Sasuke ada disana? Bukankah Sakura bilang dia sedang ada di rumah neneknya. "Kenapa dia berbohong padaku?"
"Eh? Apa yang kau katakan Ino?" tanya Naruto yang mendengar gumaman Ino. Ino segera membantah, "Sakura katanya sedang ada di rumah neneknya selama liburan." Naruto hanya manggut-manggut.
'Save, untung Sakura-chan pandai beralasan!'
"Naruto, ayo kembali. Hari sudah siang dan pasti panas." Naruto mengangguk mantap.
Rupanya hal itu masih mengganggu Ino bahkan sampai sekolah dimulai. Ia tidak tahu apa yang disembunyikan Sakura darinya dan sejak kapan Sakura menyembunyikannya.
~What Taste~
Di akhir pekan, demam Sakura mulai turun dan ia mulai beraktifitas lagi. Ia mulai terbiasa dengan membaca buku dan berjalan-jalan, tapi Sasuke masih memasak untuknya. Katanya sih, dia tidak ingin Sakura bunuh diri karena keracunan makanan buatannya sendiri. Sayangnya hari-hari yang Sakura nikmati hanya sebentar karena sekolah kembali dengan kegiatan belajar mengajarnya.
Secaca khusus di semester yang baru akan ada festival budaya yang ditunggu-tunggu semua siswa. Bahkan untuk kelas Sakura, mereka telah merencanakan untuk membuat pertunjukan drama komedi dan tidak lupa mempromosikan makanan yang akan dijual di lapak mereka. Kakashi meminta maaf karena acara kunjungan musim panas mereka batal, tapi sebagai gantinya, katanya akan ada kunjungan tiga hari untuk berdoa di kuil.
"Dan.. ekhm, Uchiha-san, kau harus bergabung dengan Haruno-san untuk pertemuan itu." Kakashi berdiri di samping bangku Sasuke. 'Anak ini selalu tidur disetiap pelajaran. Apa dia serius untuk sekolah?'
"kenapa harus aku? Bukankah sensei sudah menunjuk siswa lain untuk menghadiri pertemuan itu?"
"bagus, rupanya telingamu lumayan tajam, Uchiha-san. Tapi kalau diingat, kamu belum mendapat pelajaran kedisiplinan dariku, benar? Pokoknya, kamu tidak bisa menolak."
Sasuke hanya diam, ia menyerah untuk membantah Kakashi.
~What Taste~
"Sakura!" Ino melambaikan tangannya dari ambang pintu disusul dengan kehadiran dua orang di belakangnya. "Nah, lihat Sakura-chan baik-baik saja, kau aja yang lebay Ino!"
Ino mencubit kasar kedua pipi Naruto. "diam kau Naruto! Aku belum bicara dengan Sakura. Kau saja yang enak-enakan dengan pacar barumu!" Naruto hanya memberengut kesal sementara Sakura datang menghampiri mereka. "Mau istirahat?"
Disepanjang koridor Ino mengutarakan alasan yang tidak masuk akalnya sedangkan Naruto malah berbicara blak-blakan tentang hubungannya. "Oh ya, Hinata juga ikut pertemuan itu. kau juga kan Sakura-chan?" Naruto mengalungkan lengannya pada leher Sakura.
"Cih, apa maksudmu Naruto? Sedari tadi kau membuatku..." Sakura mencoba melepaskan lengan Naruto dari lehernya, tapi tanpa diminta Naruto melepasnya sendiri. "Panas, Sakura-chan kau demam?" tanya Naruto kemudian.
"Tidak! Emangnya panas ya? Tapi iya sih minggu lalu aku sakit."
"Panas, kenapa panas sekali ya?"
"Coba kuperiksa!" Ino menyentuh leher Sakura, tapi ia tidak merasakan perbedaan suhu yang drastis. "tidak panas, Naruto. Makanya jangan lebay deh!"
"Engga! Serius aku nggak lebay. Beneran panas tahu!"
Pertemuan dengan ketua osis dilaksanakan setelah pulang sekolah. Hasilnya, selain kelompok antar klub dan kelas, mereka juga merekrut beberapa perwakilan untuk membantu jalannya festival. " ...Haruno Sakura dan Sasori. Selanjutnya, untuk seksi peralatan ..."
"Lucky, aku bisa satu tim bersama Sakura." Sakura tersenyum, "Aku juga senang bisa satu tim bersama Sasori-senpai."
Festival budaya dilaksanakan seminggu setelahnya dan dibagi menjadi tiga hari. Jadwalnya sudah ditentukan dimulai dari acara lomba memasak sampai pertunjukan dari klub musik.
Sakura menepuk-nepuk kedua pipinya, sesekali ia menggeleng-gelengkan kepalanya agar sadar. Hampir tiga hari ini ia tidak bisa tidur karena harus mengecek ini-itu. apalagi ia tergabung menjadi seksi perlengkapan di kelasnya. Belum lagi ia harus mengorganisir jadwal dan keperluan setiap klub. "mengantuk, nona?"
Ia tersadar seseorang memperhatikannya sedari tadi. Sakura hanya tersenyum ganjil, "Yah, begitu. Ada yang bisa kubantu?"
Sosok laki-laki jangkung yang ada dihadapannya itu mengangguk mantap. "aku sebenarnya masih bingung daerah ini. bisakah kamu memanduku? Tapi kalau kamu kelelahan aku tidak memaksa."
"Tidak, tidak. Aku akan memandumu, etto..."
"Shisui. Namaku Shisui, Haruno-san." Shisui memperhatikan name tag yang tertera menggantung di leher Sakura. "kalau begitu, mari. Aku akan menujukkan drama komedi yang sedang berlangsung, kebetulan itu dari kelasku."
"Hm! Sepertinya drama komedi memang seru, Ayo!"
Sepanjang perjalanan Sakura menceritakan seluk beluk festival budaya dan apa-apa saja yang dapat ditemukan di sekolahnya. "...dan juga ada stand untuk meramal masa depan. Aku tidak begitu mengerti, tapi kalau mau aku akan mengantarmu. Ah, Sasuke!"
Saat Sasuke menoleh, ia melihat Sakura bersama dengan orang yang familier menurutnya. Orang yang sangat ia benci sekaligus ia takuti. Orang yang paling berbahaya yang selama ini ia temui dan sekarang orang itu ada dihadapannya, bersama Sakura disampingnya. "Bagaimana pertunjukan kelas? Ah, kenalkan ini Shisui-san. Dia ingin melihat pertunjukannya."
Sasuke dan Shisui saling berpandangan tanpa sedikitpun berpaling pada kata-kata Sakura. "Sasuke?"
"Pertunjukannya masih berlangsung." Ujar Sasuke asal. "Bagus kalau begitu. Shisui-san, silakan masuk ke dalam... Maaf, apa kalian berdua saling kenal?" Sakura mengamati tatapan tajam mereka berdua.
"Hm, mungkin. Dia adalah kenalan lamaku. Maaf, tapi bisakah kau meninggalkan kami? Aku ingin berbicara dengannya." Pinta Shisui. Sakura mengangguk lalu pergi meninggalkan mereka berdua. "Ada yang ingin kubicarakan denganmu, kutunggu di atap!"
Sakura tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Tatapan mereka berdua sangat-sangat mengcurigakan dan terlihat tidak bersahabat. Shisui juga rupanya kenalan Sasuke tapi Sasuke seperti tidak menyukainya.
"Sa-ku-ra! Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Sasori yang tiba-tiba berada dihadapannya. "ah, aku memandu seseorang tadi dan dia sedang berbicara dengan Sasuke. Sepertinya mereka saling kenal."
"Oh, begitu. Lalu sekarang apa kau akan membolos dari tugasmu hanya karena memandu seseorang?" Sasori mengacak-acak rambut pink milik Sakura. "hentikan senpai, rambutku jadi acak-acakan tahu!" mereka berdua tertawa kecil.
"Kalau begitu aku pergi ya, sampai jumpa Sakura!"
~What Taste~
"kenapa kau datang ke sekolah ini?" tanya Sasuke memulai pembicaraan. "seramnya wajahmu. Aku hanya berkunjung, apa tidak boleh?"
"Tidak, tapi tidak biasanya seorang darah murni sepertimu datang ketempat ramai. Apa kau belum mendapat mangsa satupun?" Shisui hanya terkekeh, "kenapa aku harus mencari mangsa? Sasuke-kun paling tahu kalau aku adalah orang yang paling sabar. Ngomong-ngomong bukankah kau sudah menandai gadis itu?"
"Bukan urusanmu."
"wah, wah, apakah aku sangat dibenci sampai-sampai kau bersikap seperti itu? Aku tidak sengaja berpapasan dengan gadis itu dan melihat tandanya. Aku pikir anggota Uchiha mana yang menandainya. Rupanya kau Sasuke, berarti kau sudah melupakan dia?"
"Aku tidak pernah melupakannya! Sekalipun! Dia adalah satu-satunya orang yang berarti bagiku!"
"lalu kenapa kau berniat menjadikan gadis itu bagian dari keluargamu? Kau tahu manusia itu adalah makhluk yang tidak bisa dipercaya..."
Sasuke menghela nafas panjang, "tidak berlaku untuknya. Karena itu aku memilihnya." Tatapan Sasuke benar-benar meyakinkan. Shisui tertawa keras, sementara Sasuke menatapnya penuh keheranan. "maaf, maaf. Aku hanya tidak mengerti kenapa posisi adikku bisa digantikan oleh seorang manusia sepertinya. Kalau begitu aku harus memperingatkanmu satu hal Sasuke-kun, gadis itu masih belum menjadi milikmu, sekalipun kau menandainya. Ada orang lain yang akan mendapatkannya!" bisiknya.
"Boleh kutanya satu hal," tanya Sasuke datar. Shisui memersilakan. "akhir-akhir ini aku melihat banyak sekali level E berkeliaran. Apakah itu ada hubungannya denganmu?"
"tidak mungkin. Kau tahu Sasuke-kun, aku ini orang yang paling jinak. Aku tidak mungkin membabi buta hanya untuk mencari setetes darah." Sasuke hanya menyeringai, matanya menajam untuk sesaat. Aura vampirnya keluar membuat sekelilingnya dipenuhi kegelapan yang tersirat.
"Orang yang menakutkan. Kalau begitu aku pergi!" Shisui pergi meninggalkan Sasuke seorang.
Sepeninggal Shisui, Sasuke hanya bisa terpaku, mencoba meresapi apa yang diucapkan darah murni yang baru saja ia temui. Hal yang mengganjal itu pasti ada, bahkan sekarang ia punya banyak pertanyaan. "apa yang kau inginkan? Keluarlah!" tanya Sasuke datar.
Seorang laki-laki muncul dari balik pintu, menghampirinya dengan langkah tegas. "bagaimana pertemuan mengharukan sesama vampir? Menyenangkan? Tapi aku harap kau tidak bersekongkol dengannya apalagi untuk membatasi Sakura."
"Itu bukan urusanmu." Ujar Sasuke singkat.
"Itu urusanku, ketika kau menandainya, tidak ada seorangpun yang bisa mendekatinya dan itu berlaku bagiku juga."
"Itu hanyalah hal kecil yang tidak ada harganya sama sekali!"
Sasori menggigit bibir, mencoba menahan amarahnya karena ucapan Sasuke. "jangan katakan itu hal sepele jika faktanya kau juga diam-diam menyukainya!"
"sepertinya kau salah sangka, aku tidak menyukainya. Lagipula masih banyak gadis lain bahkan aktris cantik sekalipun..."
DUAKK...
Tubuh Sasuke terpental hingga menabrak pembatas atap yang terbuat dari besi akibat ditendang oleh Sasori. Hidung dan mulutnya mengeluarkan darah. "Aku tidak peduli dengan obsesimu, vampir. Yang jelas aku tidak akan menyerahkannya sampai kapanpun." Tegas Sasori. "Ingat, jika kau tidak melepaskan tanda itu, aku akan menghancurkan jantungmu sampai menjadi debu!"
~What Taste~
Sakura menghambur dari mobil Sasuke ketika sampai di depan rumah. Ia mengamati keadaan rumah Sasuke yang terasa berbeda baginya. Tak butuh waktu lama untuknya masuk dan saat itu lampu tiba-tiba menyala dengan sendirinya. "surprise!"
"Ayah! Ibu! Kapan kalian kembali dari luar kota? Kok nggak nelpon?"
"Hehe, kita sengaja pulang diam-diam agar membuat kejutan untukmu. Mikoto bilang dia tidak bisa tinggal disini untuk sementara waktu, jadi kita berdua segera pulang"
Sakura memeluk kedua orang tuanya erat, tidak mempedulikan Sasuke yang berdiri di sampingnya. "Sasuke-kun juga, selamat datang!" sapa ibu Sakura. Setelah puas melepas rasa rindu, Sakura dan Sasuke disuruh duduk di sofa untuk mendengarkan beberapa kabar.
"Ibu kesini juga ingin menyampaikan kalau dua minggu lagi kalian akan melangsungkan pernikahan."
Sakura seketika bangkit, "Ha? Pernikahan?"
Ibunya tersenyum simpul lalu melanjutkan, "aku mendapat kabar dari seseorang bahwa Sakura sudah punya pacar. Itu bisa gawat kalau kalian sulit berpisah, apalagi katanya dia sama tampannya dengan calon menantuku. Karena itu kalian harus segera menikah"
"bu, bukankah pernikahannya akan dilaksanakan setelah aku lulus kuliah? Setidaknya beri aku waktu sampai aku masuk perguruan tinggi, ya?" pinta Sakura.
Ibunya hanya menggeleng-gelengkan kepala dengan mata yang terpejam seperti keputusannya tidak bisa diganggu gugat. "SMA sudah punya pacar satu dan dilirik banyak laki-laki, bagaimana nanti pas kuliah. Ibu tidak mau kamu menikah dengan laki-laki aneh yang tidak ibu kenal."
"Dia juga aneh!" tunjuk Sakura pada Sasuke. "Kalau Sasuke-kun itu pengecualian, dia menantu idaman ibu." Sakura hanya bisa mengelus dada mendengar alasan ibunya yang tidak masuk akal. "lagipula apa kurangnya Sasuke? Dia tampan, tinggi, pintar memasak, dia menguasai segala pelajaran."
"Dia cuma tukang tidur di kelas bu!" ejek Sakura. "Ibu tidak peduli kamu setuju atau tidak, pokoknya pernikahan ini segera berlangsung dua minggu lagi dan bukan cuma itu, mulai besok kalian tidak perlu berangkat sekolah, setidaknya sampai kalian menikah."
Sakura hanya bisa pasrah. Dengan langkah lebar dan mantap ia berjalan menuju kamarnya, mengunci pintu dan berdiam di sana sehari penuh. Entah apa yang dilakukannya, ia sendiri bingung. Pikirannya kosong, terasa seperti kebebasannya direnggut oleh sebuah ikatan yang disebut pernikahan.
~What Taste~
"Ojou-sama, hari ini kami membawakan segelas darah segar untuk Anda, silakan diminum!"
Selama beberapa hari Sakura selalu bermimpi buruk. Mimpinya selalu tentang dirinya yang dirubah menjadi vampir ataupun saat ia menghisap darah manusia. Hal itu sangat mengganggu batinnya. Tak ada hl lain yang dia lakukan setelah bangun dari tidurnya. Selalu ia menempatkan dirinya dibawah selimut, duduk meringkuk sambil -kali kedua orang tuanya meyakinkan bahwa ia aman dirumah ini dan tidak ada apapun yang mengganggunya. Tapi Sakura tidak kunjung sadar.
Di hari itu orang tuanya mencoba membujuk Sakura lewat Sasuke. "aku yakin dia akan sadar jika kamu yang berbicara."
Sasuke mengetuk pintu kamar Sakura. Karena tidak ada jawaban, ia segera masuk ke dalam dan melihat sekeliling kamarnya yang berantakan. Pakaiannya berserakan dan pecahan gelas tercecer dimana-mana. Ia melihat Sakura yang sedang duduk di tempat tidurnya. Tatapannya kosong bahkan ketika Sasuke memanggil namanya.
Sasuke mengamati jemari Sakura yang berdarah entah kenapa. Yang jelas jemarinya terbalut warna merah, darahnya bahkan mencapai karpet di samping tempat tidurnya. Ia segera mengobati lukanya dengan penuh kesabaran. Sebenarnya sejak satu minggu yang lalu, Sasuke masih belum meminum apapun. Tapi ia harus menahan rasa laparnya, mengingat kondisi Sakura yang sedang tidak stabil.
"hei, harusnya kau bisa menjaga dirimu sendiri. Lihat, lukamu parah!"
Sakura menatap wajah Sasuke dengan penuh arti, ia menebak-nebak sosoknya yang familier. Perlahan ia menyentuh wajah Sasuke. Jemarinya menelusuri setiap sisi di wajah laki-laki itu lalu terhenti di bagian bibirnya. "Ada apa?"
Sakura menampar Sasuke dan menjauhkannya, "vampir!" ujarnya terbata-bata, "a..aku tidak mau menjadi vampir! Aku tidak mau menjadi sepertinya" ia nampak ketakutan.
Sasuke menghela nafas, mencoba menenangkan. "Aku punya dua tiket ke taman bermain untukmu." Ia kembali mendekati Sakura, "apa kau suka pergi ke taman bermain?"
Sakura teringat permintaannya dengan kedua orang tuanya saat kecil. Saat itu ia merengek meminta pergi ke taman bermain bersama kedua orang tuanya. Tapi mereka selalu sibuk dengan pekerjaan mereka dan kunjungan ke luar kota bahkan ke luar negeri. Sore itu ia pergi ke tempat favoritnya untuk merayakan ulang tahun ke tujuhnya hanya seorang diri. tapi di tempat itu ada orang lain yang mendudukinya.
"Onii-chan! Bisa kau pergi dari ayunan itu? itu ayunan kesukaanku!" perintah Sakura kecil. Laki-laki itu hanya mendongak sesaat lalu kembali fokus pada untaian kerikil yang bertumpuk di tanah.
Sakura yang kesal menggoyang-goyangkan besi ayunannya. "Kau tidak mau mengalah sekali sih, Onii-chan! Aku kan mau duduk!" pria itu tetap tidak bergeming. "Kalau kau tidak mau pindah, aku akan menangis!"
Mau tidak mau laki-laki itu harus melepaskan tempat duduknya yang kini telah diduduki oleh Sakura. Sakura menunduk, tetes demi tetes jatuh dari pelupuk matanya. "Kau tetap menangis? Bukankah aku sudah tidak duduk di situ?"
Tangis Sakura makin menjadi-jadi bahkan ketika pria itu mencoba menenangkan. "Apa ada yang kau inginkan?" Sakura mengusap air matanya, "hari ini hari ulang tahunku, tapi ayah dan ibu sedang pergi. Kau tahu, aku sangat suka taman bermain, aku ingin pergi bersama ayah dan ibu! Tapi mereka... aku benci mereka!"
Sesekali Sakura sesenggukan, tatapannya berubah menjadi lebih kelam.
"kau yakin?" Sakura mengernyitkan dahinya, menatap keheranan. "Apa kau yakin membenci kedua orang tuamu? Bisa saja mereka sangat menyayangimu sampai mereka rela bekerja untukmu. Tunggu mereka, aku yakin akan tiba saatnya kau bisa menggandeng kedua orangtuamu!"
"Kenapa Onii-chan bisa berpikiran seperti itu?"
"Entahlah?"
"terima kasih Onii-chan. Onii-chan pasti pernah berkunjung ke taman bermain bersama orang tua ya?"
Pria itu hanya angkat bahu, "mungkin. Tapi kurasa belum." Ia merapikan penutup kepalanya. "kalau begitu, Onii-chan harus pergi dengan seseorang yang kau sayangi! Aku yakin itu pasti menyenangkan!"
Sakura menitikkan air matanya. Jemarinya bersatu dengan milik Sasuke. "Onii-chan... kau orang yang ada di taman waktu itu?" tanya Sakura ragu-ragu. "Aku teringat dengan seorang gadis kecil yang cerewet walaupun sedang menangis." Jawab Sasuke.
Sakura tidak dapat membendung air matanya. Ia menumpahkan semua tangisannya pada Sasuke dan dengan senang hati ia menerimanya. "Sa-suke!" panggilnya. "Aku ingin pergi ke taman bermain..."
"Hn."
~What Taste~
Sakura menatap takjub pemandangan disekelilingnya. Kerumunana orang, para badut, wahana permainan dan balon-balon disetiap sudut. Tak lupa dengan lapak-lapak kecil tempat para pedangan berjualan. Terik matahari di ujung kepalanya tak mematahkan semangat mereka. "Hei, sampai kapan kau akan berdiri di situ? Ayo masuk!" ajak Sasuke yang kini sudah berada di pintu masuk.
Sakura mulai membuka buku panduan, menelusuri setiap tempat yang akan ia datangi. "aku mau naik roll coaster, ayo!" ia segera berlari menuju antrian yang akan naik wahana itu. selain wahana itu ada beberapa wahana lain yang mereka naiki.
"Indahnya!" Sakura melihat pemandangan yang ada di bawahnya. Bumi semakin menjauh dari pandangannya dan kerumunan orang-orang dibawah sana tampak seperti semut. "Ah, itu badut di pintu masuk... lucu sekali.." sesekali ia tertawa kecil dan berjingkrak.
"Hoi, kau bisa membuat kincir ini jatuh. Bisakah kau duduk?"
Sakura mengerucutkan bibirnya mendengar perintah Sasuke. Dengan berat hati ia duduk di sebelah Sasuke. "Membosankan.." gumamnya. Tiba-tiba terdengar bunyi gesekan logam-logam dan guncangan yang hebat.
SREEETT...
BRUK!
Putaran kincir terhenti tepat saat mereka berdua berada di titik puncak. Emerald Sakura dan onyx Sasuke saling mengamati. Mereka mencoba menggali sedalam mungkin hal yang ada di balik pandangannya. Melihat tatapan Sakura, Sasuke teringat dengan wajah Sakura saat ketakutan.
Vampir! Aku tidak mau menjadi vampir!
Aku bersedia!
Lepaskan tanda itu darinya! Apa kau sadar kau membawanya dalam situasi yang terburuk!
Pergi!
Sasuke mendekatkan tubuhnya, menghilangkan jarak diantara mereka untuk beberapa saat. Sakura cukup terkejut melihat tindakan Sasuke. Untuk waktu yang lama mereka berciuman.
"Maaf atas ketidaknyamanan Anda, terdapat beberapa kesalahan teknis pada perangkat kami. Terimakasih untuk menunggu dan selamat melanjutkan aktifitas Anda" bunyi speaker pengumuman di bawah ditambah laju kincir menyadarkan mereka. Tubuh Sasuke menjauh.
Sakura bangkit dari posisinya, "Sa-Sasuke! Apa yang kau lakukan padaku?"
Pertanyaan Sakura tidak dihiraukannya. Malah Sasuke sengaja memalingkan wajahnya. Dia bahkan tidak mengatakan apapun setelah tiba-tiba menciumnya.
~What Sense~
"Sasuke lebih baik kita kembali yuk. Perasaanku tidak enak."
Sasuke mendecak, "bukankah kamu sendiri yang ingin masuk ke rumah hantu ini. Kita sudah masuk hampir setengahnya." Sakura mengangguk. Ia selalu berjalan dibelakang Sasuke dengan kedua lengannya yang tak henti-hentinya memegang kemeja Sasuke.
Sakura menoleh kebelakang ketika bahunya ditepuk dan mendapati sosok perempuan berwajah menyeramkan muncul. Ia menjerit dan sontak memeluk Sasuke erat.
"Aku tidak mau melihat..." lirihnya.
"Kalau begitu mau menyerah?" Tanya Sasuke tiba-tiba.
Setelah agak jauh Sakura penasaran dengan pertanyaan Sasuke. "Bulan ini bulan terakhir kamu ada di kelas dua. Bukankah kau ingin jadi dokter, di survei pendidikan..." Sakura mengangguk. "Seorang dokter bukan hanya melihat pasien, apa kau menyerah?" Sakura menggeleng pelan. "Demi apapun aku harus menjadi seorang dokter."
"Huaaa... aku hampir mati jantungan melihat yang terakhir itu. Bikin kaget saja..." Sakura menghirup oksigen sebanyak mungkin ke dalam tubuhnya. Sesekali ia menyeruput soda yang baru dibelinya dari mesin minuman.
Sementara itu Sasuke hanya memegangi lengan kirinya yang sakit karena dicengkeram kuat oleh Sakura saat dia ketakutan. "Kau itu... berapa banyak tenaga yang kau miliki?"
"Seharusnya aku yang tanya padamu... seberapa banyak tenaga yang kau miliki untuk menyerangku." Celetuknya asal. Sasuke hanya terdiam. "Ah.. rasanya menyenangkan, terima kasih Sasuke. Aku kira aku akan..."
'Ojou-san, silakan diminum'
Suara-suara dari mimpinya masih terngiang di telinganya. "Ada apa?"
"Tidak pa-pa." Sakura duduk di samping Sasuke. Sayup-sayup keheningan menerjang keduanya untuk waktu yang cukup lama. "Aku selalu bermimpi, mimpi yang sangat menakutkan. Aku rasa kalau aku tertidur, aku akan mati karena mimpi itu."
"...Kau datang dan tiba-tiba merubahku, lalu aku meminum darah. Dimimpi itu juga aku bertemu dengannya. Dia menceritakan banyak hal tentangmu dan tentang vampir. Terkadang dia membuatku takut karena ceritanya."
"Dia?"
"Akari-chan. Walaupun kutemui di mimpi, tapi rasanya dia benar-benar nyata."
"Cerita apa yang dia katakan padamu?"
"etto... pertemuannya denganmu, Ah, dia bilang kau itu sangat rakus saat kecil dan selalu mengejek izumi-neesan setiap kali bertemu dengan Itachi-niisan. Lalu saat kalian bertunangan, dan juga..." Sakura mengurungkan niatnya untuk melanjutkan pembicaraan.
"Dan juga..." Sasuke masih menunggu.
"Hari kematiannya. Dia mengatakan kejadian yang sebenarnya terjadi di hari kematiannya."
"Dan itu..."
"Kau ingin mendengarnya?" tanya Sakura was-was. Sasuke mengangguk. "Hari itu, dia mengatakan kalau dia sebenarnya tidak setuju dengan pertunangan ini, dia bilang um... tidak menyukaimu. Dari awal dia memang menyukai kebebasan dan dia ingin bebas meminum darah tanpa diatur. Tapi dia tidak bisa, karena dia salah satu darah murni yang berbahaya, kau tahu kan, level E"
"Tanpa sepengetahuan kakaknya, ia membuat pasukan level E nya sendiri dan setiap hari mereka membawakan darah segar untuknya. Tapi setiap hari itu pula dia bosan dan ingin melakukan perburuan sendiri. Dia masuk ke perkampungan dan berniat menyerang warga, tapi ia gagal. Setelah itu dia di bakar hidup-hidup dihadapanmu."
"Maksudmu Akari tidak setuju pertunangan itu dan meminum darah seenaknya?"
Sakura mengangguk pelan, ia merasa tidak nyaman untuk membicarakan ini didepan Sasuke. "bagaimana kau bisa tahu kalau dia mengatakan hal yang sebenarnya?"
"Darah." Tambah Sakura. "Aku dipaksa meminum darahmu didalam mimpi, dia bilang itu adalah rasa yang dia alami saat meminum darahmu. Dia bilang, semakin menarik rasa darah seseorang, semakin kau menyukai orang itu. tapi yang dia rasakan hanyalah kehampaan."
Sasuke hanya diam membisu. Ia tidak mengatakan hal apapun setelahnya. Tapi Sakura tahu dia sedang mencerna ucapannya. Apa-apa yang ada di luar pikirannya, sebuah kebenaran yang selama ini dia cari dan kini terungkap dengan rasa yang amat menyakitkan.
'Apa ini, entah kenapa dadaku sangat sesak dan aku tidak bisa berpikir. Rasanya.. sangat menyakitkan...'
Sasuke memegangi kepalanya. 'Tunggu, apa semua ceritanya adalah kebenaran? Apa benar Akari seperti itu? tapi untuk apa? Kalau dia tidak suka pertunangan itu kenapa dia tidak bilang. Lagipula kurasa dia sama seperti Sakura. Tapi...'
"Sasuke, ada hal yang ingin kutanyakan padamu sejak dulu. Bisa kau katakan padaku bagaimana rasa darahku?" tanya Sakura. "Ah, kalau tidak dijawab juga tidak pa-pa. Hanya saja Akari menyuruhku menanyakannya padamu, walau dia ada di mimpi, hehe... Sasuke?"
Wajah Sasuke kelihatan lebih pucat dari biasanya. Tubuhnya tidak berhenti bergetar dan pandangannya kosong. "Sasuke kau baik-baik saja?" Sakura berusaha menepuk pundaknya namun tangannya ditepis kasar olehnya.
"Sasuke?"
~TBC~
.
.
Next Chapter :
"Akhir-akhir ini aku tidak melihatnya, apa yang terjadi?"
"Itachi-kun, kemari sebentar. Lihat ini!"
"Aku tidak mau melihat wajahmu lagi!"
"Selamat datang, Sakura. Maaf aku terlalu lama menjemputmu!"
"Aku mengantuk!"
.
.
A/N :
Yuhu~ chap 6 is up! author rasa itu judul chapnya kurang pas sama isinya, iya gak sih? hehehe...
Di chap ini dibahas tentang.. tentang apa inih? fic apa ini? Iya, konfliknya mulai dari sini ya, reader *digebug reader. Gomen, mungkin sasusaku momentnya kurang yeh, dan ngga ngefeel? maafkan beta yang masih neubi ini hehehe...
ada yang bingung dengan alurnya atau flame? bisa ditulis di review, karena author emang lg butuh saran hehehe... Oke deh, chap 6 selesai, tunggu chap selanjutnya ya, rencananya bakal up dalam waktu dekat, jadi stay tune!
(numpang iklan, selain fic What Taste akan ada fic baru multichap ttg sasusaku, akan update sebentar lagi. silakan mampir di fic Hi Monogatari : Death Of Emperor) #iniiklanapaan?
Ok deh, sampai jumpa! RnR!
