What Taste of My Blood
By. Lavena Valen
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Rate : T
Genre : Romance, Family, Hurt/comfort
Warning : OOC, OC, AU dan Typo
Chapter 7 : Lost
Dua minggu yang lalu...
"Nee, kalian merasa ada yang aneh tidak sih dengan Sakura?"
Naruto dan Hinata hanya bisa saling tatap tanpa bisa menjawab pertanyaan Ino. "Menurutku biasa saja!" ungkap Naruto.
"Benarkah?"
"Ino-chan terlalu memikirkan Sakura-chan. Yah, mungkin karena dia lebih sibuk karena ada festical budaya yang diadakan tiga hari lagi." Tambah Hinata.
"Mungkin. Tapi entah kenapa aku merasa dia lebih tertutup dari biasanya. Dan juga.. akhir-akhir ini dia akrab dengan anak itu!"
"Siapa?"
"Siapa lagi kalau bukan Uchiha Sasuke. Mungkinkah kata-kata Sai jadi kenyataan tentang Sakura yang membelot?"
Lagi, Naruto dan Hinata hanya bisa berpandangan. "Tidak mungkin lah! Sakura-chan tetaplah Sakura-chan!"
"Benar juga ya!" Ino berusaha meyakinkan dirinya sendiri.
Dua hari sebelum festival budaya dimulai...
"Minna.. aku bawakan minuman untuk kalian! Semangat ya! Ini adalah penentuan dari hasil kerja keras dan ide-ide kalian!"
"Um!"
"Hei, kau lihat Sakura?"
Ino diberitahu bahwa Sakura tengah menghias pohon mainan yang akan menjadi properti drama komedi nanti. Ia bergegas menuju teras tempat Sakura berada. "Hei, bagaimana dengan pekerjaanmu?"
Sakura tidak mendengarkan ucapan Ino sedikitpun, lebih tepatnya ia sedang melamun. "Sakura? Sakura?"
"Ah! Akari? Eh, Ino? Ada apa?"
"Ti-tidak ada apa-apa. Sakura, siapa Akari? Temanmu?" Sakura mengangguk. "Dimana kau bertemu dengannya? Kenapa kau tidak mengenalkannya padaku? Kami mungkin bisa jadi teman yang baik."
Sakura hanya menatap kosong seakan angin hampa melaluinya begitu saja.
Hari terakhir sejak festival dimulai...
"Tunggu, tunggu.. bukankah itu Haruno Sakura? Siapa yang ada di sampingnya? Tampan juga!"
"Ah, dia memang sudah biasa menggaet cowok tampan di sekolah kita. Mulai dari Sasori-senpai, Uchiha Sasuke dan sekarang tamu festival."
"Tapi lihat, dia berbicara dengan Uchiha Sasuke. Mungkin kenalannya?"
~What Taste~
Seminggu yang lalu..
Bel tanda pelajaran berakhir berbunyi. Hampir semua murid keluar dari kelas masing-masing untuk makan siang atau sekedar berbincang-bincang dengan temannya. Ada pula yang punya keperluan dengan guru dan mau tidak mau harus menginjak ruang guru.
"Tes selesai. Letakkan alat tulis kalian dan silakan berikan lembar jawaban kalian secara estafet."
Sasori segera menyerahkan semua lembar jawaban pada guru pengawas. Ia buru-buru keluar dari kelasnya begitu pengawas telah keluar. Kebanyakan teman sekelasnya langsung membuka buku catatan, mengoreksi jawaban yang mereka berikan.
Langkah Sasori membawanya ke depan kelas dua. Ia menjulurkan kepalanya sejenak, mengamati sekitar dan mencari sosok perempuan berambut pink. Tapi sepertinya dia tidak ada dikelasnya. Mungkin dia bersama Yamanaka dan junior basketnya di kantin. Ia harus kecewa ketika pencariannya tidak berujung pada hasil yang diinginkan. Gadis itu tidak ada.
"Oh, Sasori-senpai?" Saat Sasori memutar tubuhnya ia melihat Yamanaka. "Apa Sakura bersamamu?"
"Tidak. Dia tidak bersamaku. Aku kira dia bersamamu!"
"Aku mengecek kelasnya tapi dia tidak ada. Kira-kira kemana ya?"
"...Uchiha Sasuke?" gumam Ino.
"Eh? Sasuke? Ada apa dengannya?" Ino segera menggeleng-gelengkan kepalanya. "aku sedang mencari Sasuke."
"Kalau Sasuke, sepertinya dia tidak berangkat" jawab Sasori mantap. "Eh? Kok bisa tahu? Lah, kalau begitu senpai pasti tahu dimana Sakura dong!"
"entah, aku tidak tahu. Ya sudah, aku akan kembali, jika kau menemukan sesuatu segera hubungi aku!" Ino mengangguk cepat. Tapi sejujurnya ia juga ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ia ingin menanyakan secara langsung pada Sakura. Dan niatnya itu harus dikubur karena keesokan harinya juga Sakura tidak datang ke sekolah. Menurut keterangan guru yang piket hari itu, Sakura sedang sakit. Tapi di hari itu bukan hanya Sakura yang tidak berangkat sekolah, Sasuke juga tidak berangkat.
Ino membawa senampan nasi dan lauknya beserta minuman cola yang dipesannya. Ia berniat mengejutkan Hinata dan Naruto yang duduk lebih awal di bangku kantin. "Huinuata-chan.. janguan builang siapa-siapa ya tentang ini!" Naruto berusaha menelan makanannya.
"Ah, Naruto-kun habiskan dulu, nanti tersedak, ini minum.." Ia menyodorkan segelas milk shake pada pemuda yang duduk disampingnya. "Aku tidak akan bilang pada siapapun. Tapi bukankah kasihan Ino-chan? Dia tidak tahu kalau Sakura-chan satu rumah dengan Sasuke-kun."
"Mau bagaimana lagi, si teme melarangku mengungkap kartu pada siapapun. Ini hanya rahasia kita berdua." Bisiknya. Hinata mengangguk setuju. "tapi, kenapa Sakura-chan tinggal satu rumah dengannya?"
"Aku dengar, orang tua mereka saling kenal dekat, orang tua Sakura-chan selalu pergi ke luar kota jadi daripada sendiri, mereka menitipkan anaknya pada teman dekatnya." Hinata hanya manggut-manggut mendengar penjelasan Naruto.
"..dan kalian merahasiakan hal sepenting itu dariku?" tambah Ino yang muncul tiba-tiba. Mereka berdua menoleh, menatap Ino dengan wajah frustasinya. "Sudah kuduga ada yang aneh akhir-akhir ini. jadi ternyata kalian juga menyembunyikan sesuatu dariku?"
"Ino jangan marah dulu, aku hanya..."
"Kau benar-benar menyebalkan Naruto! Gimana disebut sahabat masa hal sepenting itu dirahasiakan!" berkat hal itu Naruto harus menerima hukuman dari Ino, mengerjakan semua tugasnya dan tidak lupa mentraktirnya seminggu penuh.
~What Taste~
Tiga hari yang lalu...
"Apa Sakura sudah berangkat sekolah? Aku dengar dia sedang sakit."
"Ah, Sasori-senpai. Aku punya kabar untukmu. Katanya Sakura akan pindah sekolah dalam waktu seminggu dan ini minggu terakhir dia ada di sekolah ini. dan juga.."
"Dan juga..?"
"Tidak jadi." Ino tersenyum kecil. "Kalau tidak salah Sasuke juga tidak pernah masuk. Akhir-akhir ini aku tidak melihatnya, apa yang terjadi?"
"Eh? Kenapa Sasori-senpai bisa tahu? Yah, dia memang jarang masuk."
"Tidak, dia selalu masuk walau kadang bolos. Tapi beberapa hari ini agak berbeda. Apa yang terjadi ya?" Ino hanya tersenyum masam. Mana mungkin dia harus mengatakan kalau Sakura satu rumah dengan Sasuke. Bisa-bisa laki-laki yang ada dihadapannya itu patah hati. "Kalau begitu aku pergi dulu Yamanaka!"
Sepulang sekolah, Sasori tidak biasanya untuk langsung pulang ke rumah. Motornya kini melaju ke sebuah perempatan dan memasuki sebuah jalan kecil. Di ujung sana, terlihat sebuah rumah yang cukup besar. Baru saja ia memarkirkan motornya, kedatangannya disambut seseorang. "Mau apa kau datang kemari? Kau tidak punya otak atau sudah kehilangan akal?"
"Aku datang untuk mencari Sakura. Dia bersamamu kan? Aku ingin bertemu dengannya."
"...dan hanya untuk bertemu dengannya kau harus masuk ke wilayahku?"
"Aku tidak peduli denganmu, sekarang bisa kau tunjukan dimana dia?"
Sasuke menggeleng, "dia masih belum bisa bertemu dengan siapapun." Tepat ucapannya disusul suara pecahan kaca dari dalam rumah. Agaknya Sasori sedikit terkejut dengan jawaban Sasuke. "Apa yang terjadi padanya?"
Ia menarik kerah baju Sasuke dan mengangkatnya tingggi-tinggi. Sesekali ia mengguncangkannya. "Tidak ada. Dia hanya sedang beristirahat." Jawabnya datar. Mata merahnya menatap dari gelapnya penutup kepala miliknya.
"Uchiha! Katakan padaku apa yang terjadi padanya? Kau pasti melakukan sesuatu kan? Jangan bilang kau masih belum melepas tanda itu!"
"Tidak ada yang salah dengan tanda itu. aku yakin dia pasti merasa aman." Pukulan mendarat di pipinya. Sontak penutup kepalanya terbuka dan Sasori dapat melihat wajah pucatnya semakin pucat.
"Kau masih belum melepaskannya? kau masih belum sadar kalau tanda itu membelenggunya? Sekarang, tidak ada seorangpun yang bisa mendekatinya."
"Lalu?"
"Kau tidak tahu apa-apa tentangnya. Jangan sombong Uchiha! Aku pasti akan membawanya pergi."
"kau tidak bisa melakukannya. Dia tidak akan pergi kemanapun, tidak selama aku masih hidup." Sasori menyeringai, "tentu saja, aku akan memusnahkanmu terlebih dulu, aku janji itu!"
~What Taste~
Ino masih tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa Sakura mau tinggal bersama Sasuke padahal Ino tahu pasti ketika di sekolah mereka berdua tidak pernah berbicara apalagi akur. Walaupun misal ada kemungkinan mereka menghindari gosip, lalu kenapa ia tidak diberitahu. Sakura dan Ino telah bersama sejak kecil, mereka sahabat yang tak pernah terpisahkan. "Sakura, dimanakah dirimu? Ada banyak hal yang ingin kutanyakan!" gumamnya pelan.
Ino menyeruput kopi hangat yang baru saja disajikan oleh pelayan. Pemandangan perkotaan yang ia lihat di sampingnya mendadak berubah menjadi putih. Rintik-rintik salju turun membuat semua orang yang berlalu lalang segera mempercepat langkahnya menuju tempat yang tak terjangkau olehnya. Di kejauhan sana Ino melihat sosok perempuan yang ia kenal.
'Apa yang dia lakukan di sana seorang diri? bukankah dia sakit?'
Apapun alasannya, Ino segera menyambutnya dari sisi lain jalan raya. "Oy, Sakura! Kemari!" Ia melambaikan tangan, mengaba-aba agar Sakura datang ke arahnya. Syukurlah dia menyadarinya dan segera datang walaupun dengan wajah yang tidak enak dipandang.
Sakura meminum cappucinonya. Sampai saat itu baik Ino maupun dirinya selalu diam. "Bagaimana, enak?" Sakura mengangguk pelan. Rautnya masih belum menunjukkan perubahan. "Bagaimana kabarmu? Baik?" lagi-lagi Sakura hanya bisa mengangguk.
"Syukurlah, sensei bilang kamu sedang sakit makanya tidak bisa hadir. Tapi melihatmu seperti ini, aku lega!" Ino bohong, ia masih belum lega. Banyak hal yang ingin ia tanyakan tapi ia tidak bisa. Sakura terlihat murung dan kalau ia menambahnya dengan pertanyaan-pertanyaannya, Sakura pasti terbebani.
Dua jam berlalu dan mereka hanya mengobrol sepatah-dua patah. Itu juga hal-hal yang sepele dan Sakura selalu mengangguk tanpa memberikan jawaban lainnya. Hujan berhenti dan tanpa sadar salju tebal telah menutupi pepohonan dan yang ada di bawahnya. Hari sudah malam dan Ino pikir Sakura harus kembali. "Aku akan menelepon Sasuke ya untuk menjemputmu!"
Saat itu dengan tegas Sakura membantah. "A-aku tidak mau pulang."
"Kenapa? Mereka pasti khawatir denganmu!" tapi Sakura hanya diam, tak memberikan penjelasan yang masuk akal. Ino menyerah. Kalau Sakura sebegitu membenci untuk pulang, ia harus pegi ke tempat lain. "Bagaimana dengan rumahku, mungkin sedikit berisik dengan adik laki-lakiku tapi..."
"Aku mau." Potongnya.
"Baiklah, ayo pergi!"
Ino menatap mata sayu Sakura sekan seperti mayat hidup. apa dia baik-baik saja hanya dengan makan, mandi lalu tidur. Ino bahkan mempertanyakan keceriaan Sakura yang menghilang setelah sekian lama. Rasanya Ino kembali mendapati Sakura yang berumur tujuh tahun kembali. "Kamu pasti capek ya? Ayo istirahat, aku akan mematikan lampunya ya?"
Sakura mengangguk lalu membaringkan tubuhnya di sisi Ino. Pada akhirnya, dia tidak bisa tidur walaupun memaksakan. Banyak hal-hal yang membuat otaknya membeku. Waktu itu, pertama kalinya ia melihat Sasuke semarah itu. kemarahannya benar-benar diluar batas dan hampir saja membuat otaknya gila. Rasanya Sakura selalu tertangkap oleh mata merahnya. Ia tidak tahu harus pergi kemana, bersembunyi dimana.
'Manusia sepertimu berani berbicara seperti itu, benar-benar menganggu!'
Ia ingat tatapan itu seperti tatapan orang lain padanya. Tatapan dingin yang merendahkan. Kenapa? Apa salahnya sampai orang lain melihatnya jijik.
"Sakura, kau masih bangun?" bisik Ino. Sakura mengangguk. "ada masalah? Kau bisa membaginya padaku!"
Lampu dinyalakan dan Ino dapat melihat wajah Sakura yang murung. Tiba-tiba Ia memeluknya dan menangis di pundaknya. "ada apa?" Ino membelai rambut soft pinknya.
Sakura tidak merespon. Ia masih menangis bahkan sekarang suaranya lebih kencang. "menangislah, kau memang harus begitu. Kalau tidak itu bisa membuatmu hancur." Setelah puas menangis, Sakura mengusap pipinya. "jangan terkejut ya saat aku menceritakan ini"
"Um!"
"Sebenarnya, orang tuaku menjodohkanku dengan Sasuke tepat setelah aku berpacaran dengan Sasori-senpai. Aku sudah menolaknya tapi mereka bilang aku harus tinggal serumah dulu baru mengajukan keberatan atau tidak. Seminggu yang lalu, orang tuaku mengajukan pernikahan yang seharusnya dilaksankan setelah aku lulus. Mereka tidak menerima pendapatku, aku bahkan mati-matian untuk menolak."
"aku tidak boleh kemanapun bahkan ke sekolah karena mereka sudah tahu kalau aku punya pacar. Itu membuatku frustasi, lalu Sasuke mengajakku pergi dan aku.. aku membuatnya marah."
"Marah? Kenapa?"
"Aku berkata hal buruk tentangnya. Lalu.. lalu dia..." Ino memeluknya lembut, membelai Sakura yang ada dalam pelukannya. "tidak perlu dilanjutkan kalau menyakitkan. Aku tahu, aku tahu apa yang kau rasakan. Kau lelah bukan?"
"Hm."
"Kalau begitu kau hanya perlu tidur dan melupakan semuanya. Ayo!"
~What Taste~
Keesokan harinya, Sakura membantu Ino untuk menjaga toko bunga milik keluarganya. Letaknya memang agak jauh dari rumah Ino tapi di sana, Sakura akan merasakan udara sejuk yang tidak akan ia temui dimanapun. Lagipula itu baik untuk kesehatannya. "Hari ini cerah sekali ya?"
"Hm. Segarnya..."
"Kalau begitu aku akan buatkan teh dulu ya?" Ino bergegas meninggalkan Sakura seorang diri di kebun.
Di sini Sakura lebih merasa tenang daripada dirinya yang ada di rumah Sasuke. Tidurnya semalam juga nyenyak sekali dan ia tidak bermimpi tentang Akari lagi. Walaupun sangat disayangkan Sakura tidak dapat bertemu dengan Sasuke. Tapi inilah dirinya yang dulu, tenang dengan kehidupannya yang sederhana. "Sakura!"
Sakura melepas bunga lavender yang ada di tangannya, mengamati seseorang yang datang menghampirinya. "Sa-sori-senpai?"
Sasori memeluk Sakura erat. Ia bahkan harus hati-hati agar Sakura tidak merasa sesak karena dipeluknya. "Akhirnya aku menemukanmu, kau baik-baik saja kan?"
Sakura mengangguk. Cukup lama mereka berpelukan sampai Ino bisa mengamatinya dari kejauhan. "Syukurlah kalau begitu, Sakura kembali tersenyum."
Hari itu Sakura menghabiskan banyak waktu bersama Sasori. Mengobrol tentang bunga, tetumbuhan, sekolah dan lainnya. Sakura cukup sering tertawa ketika Sasori bercerita. Ino bilang dia harus menjaga toko yang letaknya di depan, memberikan banyak ruang untuk mereka agar saling mengisi. Dengan begitu kesedihan Sakura mungkin bisa berkurang.
Tapi kebahagiaan kecilnya itu segera sirna ketika kedua orang tua Sakura datang untuk menjemputnya. Sakura harus kembali ke rumah, dengan cara apapun.
Dan hari pernikahannya jatuh pada tenggat yang telah ditentukan. Sakura masih tidak tahu bagaimana cara berbicara dengan Sasuke yang terlanjur marah padanya. Ia takut kalau-kalau kemarahannya bertambah besar, jadi ia hanya diam. Dan selama seminggu, mereka beraktifitas, saling pandang tanpa berkata, seperti orang asing yang tinggal satu rumah.
~What Taste~
Terlihat sebuah singgasana yang kotor. Warna emasnya telah tercampur dengan lumuran darah. Singgasana itu terjamah dengan sebuah sarung tangan hitamnya. "Onii-sama, maafkan aku..." Ia duduk di sana, menatap angkuh. "Kursi ini bukan milikmu lagi. Karena.. itu akan merepotkan kalau aku hanya dijadikan boneka. Aku mau jadi orang yang mengatur juga. Tapi tenang saja, rencana kita tidak akan berubah."
"Kita siap!"
"Baiklah, tujuan kita hanya satu, menghancurkan keluarga Uchiha!"
Hari yang ditunggu-tunggu semua orang telah tiba. Rumah mereka penuh dengan para tamu yang telah datang. Kebanyakan dari mereka adalah orang yang berpengaruh dibidangnya termasuk aktor, direktur dan investor. Mereka datang dengan penuh kehormatan.
"Sudah lama ya aku tidak menghadiri pernikahan. Aku ingat bagaimana Itachi menikah dengan Izumi saat itu." Sasuke menyambut semua tamu dengan wajah datarnya.
"Onii-chan!" panggil seorang gadis kecil. Sasuke menoleh, melihat Kaoru yang datang dengan kedua orang tuanya. "Selamat atas pernikahanmu, sampaikan salamku pada Sakura-neechan ya?"
"Ara, Kaoru, Sasuke masih belum melaksanakan upacaranya. Nanti kalau mereka sudah melaksanakannya kau bisa mengucapkannya lagi!" tambah ibunya. "Okaa-san, kalau aku besar nanti, aku ingin menikahi pria seperti Sasuke-oniichan!"
Ibunya hanya terkekeh, "baiklah, boleh kutahu alasannya?"
"Karena, dia orang yang pemalu dan tidak jujur pada perasaannya. Aku sangat menyukai orang yang seperti itu. Ah, ini hadiah dariku!" Kaoru memberikan setangkai mawar merah hati pada Sasuke. "mawar?"
"Jangan mengejekku, ini adalah mawar yang tidak akan layu hingga satu tahun lamanya. Aku menemukannya di kebun kemarin."
"Baiklah, terima kasih,"
Tiba saatnya upacara pernikahan dilaksanakan. Tapi mereka masih belum mengeluarkan pengantin wanitanya. Izumi bergegas ke ruangan pengantin wanita untuk menjemput Sakura. Namun ia tidak menemukan seorangpun di ruangan itu. "Itachi-kun..." ia berbisik pada Itachi tentang semua yang terjadi. "APA?"
"Kenapa Izumi? Mana Sakura? Apa dia sudah siap?" Kali ini Mikoto yang bertanya. Izumi menggeleng-gelengkan kepalanya takut memberitahu pada ibunya. Mikoto pasti akan terkejut mendengar berita itu. Tanpa mempedulikan Izumi Sasuke pergi untuk memeriksa ruangan Sakura. Disana ia tidak menemukan seorangpun. "Dia melarikan diri..."
"Itachi-kun, kemari sebentar. Lihat ini!"
Untuk semua orang,
Ayah dan Ibu dan juga semua orang, aku minta maaf karena tidak bisa melanjutkan pernikahan ini. Aku masih punya tujuan yang harus kucapai, cita-citaku menjadi seorang dokter. Aku akan pergi untuk beberapa saat, tapi jangan khawatir, aku segera kembali. Aku hanya ingin menjernihkan pikiranku.
Untuk Sasuke, aku minta maaf atas semuanya. Bukan maksudku untuk menyakitimu. Aku minta maaf.
Dari Haruno Sakura,
Mikoto merebut surat itu dan ketika selesai membacanya ia hampir kehilangan keseimbangannya jika saja Izumi tidak membantunya. "Sasuke, bawa Sakura kembali!" Pinta Mikoto. Sasuke hanya terdiam. "Sasuke..."
"Biarkan saja bu, dia ingin pergi karena kemauannya kan?"
PLAK!
"Ibu!"
"Bawa Sakura kembali atau aku tidak mau melihat wajahmu lagi!" Mikoto mengajak Izumi untuk pergi dari ruangan itu.
Hari itu, upacara pernikahan mereka dibatalkan. Orang tua Sakura meminta maaf pada Mikoto, tapi Mikoto justru menyalahkan semuanya pada Sasuke. Alasan utamanya jelas karena disurat itu Sakura ingin minta maaf karena telah menyakitinya. Pasti ada hal yang membuat mereka salah paham. Sejak saat itu Mikoto selalu murung dan menyendiri di kamar. Ia tidak pernah makan, bahkan ketika Izumi menawarkan. Sementara itu Sasuke juga cuek, tidak menaati perintahnya. Itachi selalu membujuknya tapi ia keukeh pada sikapnya.
"Selamat datang Sakura. Maaf aku terlalu lama menjemputmu!"
~TBC~
Next Chapter :
"Boleh aku meminum darahmu lagi?"
"Akhir-akhir ini terdengar kabar tentang pembantaian. Kau tahu?"
"Aku hanya ingin melindungimu!"
"Aku akan menjemput Sakura kembali!"
.
.
.
A/N :
Hai... *nyengir kaku
maap author update telat gara2 ga ada kuota dan akun ffn lg eror #alesanaja
Chap ini begitu absrtak dan gada gambaran yah? udah gatau lagi mo nulis apa... tapi chap depan akan kembali dengan sasusakusasonya oke..
Makasih atas semua dukungan dan reviewnya, tetep stay tune di sini dan mohon kritik dan sarannya
(numpang iklan) Ada seri terbaru sasusaku udah apdet tuh.. Hi Monogatari :Death Of Emperor emang gak terlalu romance sih tapi cocok buat yang suka cerita Jepang era sekian.
Silakan mampir lagi ya...
