What Taste of My Blood

By. Lavena Valen

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Rate : T

Genre : Romance, Family, Hurt/comfort

Warning : OOC, OC, AU dan Typo

.

Chapter 8 : Back

.

Sakura mendengar suara pintu diketuk beberapa kali. Ketika pintu terbuka, ia bangkit dari posisi tidurnya. "Selamat pagi Sakura!" Sasori tersenyum kecil padanya. Dengan membawa sebuah nampan berisi makanan, dia menghampirinya.

"Selamat pagi Sasori-senpai!" Sakura mengucek-kucek matanya yang masih setengah mengantuk.

"apa aku membangunkanmu?" Sakura menggeleng, "waktunya tepat sekali. Aku baru saja bangun. Ada apa?"

"Ini sarapanmu. Ah, setelah selesai temui aku di koridor sebelah barat ya?" Sakura mengangguk seraya Sasori meninggalkannya.

Ini sudah satu minggu sejak ia kabur dari pesta pernikahannya dengan Sasuke. Sakura tidak tahu apa yang sedang dia lakukan sekarang. apakah Sasuke mencarinya atau malahan dia masih marah padanya. Rumah ini jauh dari pemandangan kota, itu poin yang Sakura suka. Sasori dan Ino yang merekomendasikannya saat mereka mengobrol di toko bunga. Udaranya begitu bersih, Sakura bahkan dapat mendengar sahutan burung dari kejauhan. Semua nampak hijau dan asri.

Tempat ini begitu cocok untuk menenangkan pikirannya. Setelah semua yang terjadi Sakura hanya berharap bahwa orang tuanya dapat memaafkannya.

Sakura mendapati Sasori tengah menunggunya di balkon. Namun Sasori hanya diam saat melihatnya. "ano... Sasori-senpai, ada yang aneh denganku?" Sasori menggeleng pelan, "tidak, hanya saja... kau terlihat cantik..." Sontak Sakura merona. Ia menundukan pandangannya kebawah.

Sasori berdeham, ia mengulurkan tangannya lembut. "kalau begitu, mari tuan putri..." Sakura membalas uluran tangannya. Mereka berjalan cukup lama untuk sampai ke sebuah ruangan. Saat mereka masuk, di sana hanya ada sebuah sofa menghadap ke jendela yang berbentuk lingkaran. Jendela itu terbuat dari fiber berwarna-warni. Di sekelilingnya terlihat beberapa bunga, bahkan beberapa kupu-kupu berdatangan.

Satu lagi yang tidak kalah penting, di sudut ruangan tersebut sebuah piano tua berada. Walau sudah tua, penampilannya masih bagus. Kayunya masih kokoh dan tidak ada karat di besinya. Sepertinya piano itu terawat dengan baik.

Sasori membawanya duduk di sofa itu, sementara ia bergegas menuju pianonya. "senpai bisa bermain piano?"

"yah begitulah. Piano ini milik ibuku yang sudah meninggal. Dia selalu mengajariku bermain sejak aku masih kecil."

"Kalau tidak salah, aku belum pernah dengar tentang kisah kedua orang tuamu. Ayah dan ibumu orang yang seperti apa?"

"Ah, benar juga. Aku belum pernah cerita ya? Ayah adalah werewolf dan ibuku manusia biasa. Mereka berdua menjalani hidup normal dan meninggal karena kecelakaan."

"Kecelakaan?"

"itu saat aku berumur delapan tahun. Kami pergi kamping, aku melewati batas wilayah vampir dan mereka berdua mencariku. Aku tidak tahu pastinya, yang jelas saat aku menemukan mereka sudah meninggal. Polisi bilang mereka tergelincir dan masuk ke jurang."

"Maaf." Ujar Sakura iba. "tidak pa-pa. Justru aneh jika aku tidak menceritakannya padamu Sakura. Mereka meninggalkan sejumlah kekayaan yang cukup banyak dan berkat itu aku harus meneruskan pekerjaan mereka."

"senpai sangat hebat. Dapat berprestasi dalam pelajaran dan olahraga juga dengan pekerjaanmu. Mereka pasti sangat bangga padamu."

Sasori mengangguk, "nah, kalau begitu aku akan memainkan sebuah lagu untukmu. Semoga kau suka..." Ia mulai menekan tuts piano menurut irama lagunya.

Sakura mencoba menutup matanya. Seluruh nafasnya dihirup dalam-dalam. Ia merasakan sepoi angin perlahan menerpa wajahnya. 'Wah... segarnya.." ia bertanya-tanya apakah ini pengaruh ia mendengarkan permainannya yang begitu merdu.

Chopin Cantabile. Lagu yang sangat menenangkan hati. Bahkan mereka terbuai dalam pikirannya. Namun terbesit dalam otaknya bahwa lagu ini sedikit hampa. Iramanya seperti menggambarkan cinta dan kerinduan.

Tanpa sadar air matanya jatuh dari pelupuk matanya. Hatinya terenyuh mendengarkan permainan itu dan ketika matanya terbuka, permainan itu telah usai. Sakura menghampiri Sasori yang tengah menatap kosong pianonya.

Jangan lupakan perjanjian kita. Seharusnya kau tahu itu!

"Sasori-senpai, ada apa?" Sakura menepuk pundaknya. Seakan kembali dari alam mimpi, Sasori nampak terkejut dengan kehadirannya. "Ah, tidak pa-pa. Maaf ya, tadi aku berhenti."

~What Taste~

Terlihat sosok pria yang tengah memegangi lehernya. Lukanya cukup besar dan darahnya mengalir deras. Langkahnya tergesa-gesa, namun matanya memancarkan kesungguhan. Dia harus sampai di tempat itu apapun yang terjadi. Bahkan jika rumah ini terbakar, tempat itu tidak akan berpengaruh padanya. Dia harus memberi peringatan.

"Boleh kuminta darahmu lagi, papa?" perempuan di belakangnya tersenyum sinis. Dengan ekspresi kejamnya ia dengan mudah mematahkan langkah pria itu. "Mau kemana, papa? Apa kau tidak rindu pada anak kesayanganmu ini?"

"Iblis! Kau benar-benar iblis!" pria itu mencaci. Untuk kesekian kalinya ia bangkit dan meneruskan langkahnya. Setelah ia berusaha keras, ia sampai di ruangan itu. "He... papa memang baik ya? Ingin memberitahu keluarga Uchiha, eh?"

"Tidak! Aku ingin memberitahu kepada semuanya, kalau kau adalah iblis!"

"Kalau begitu aku bisa kesulitan. Cukup dengan aku tidak bisa mendapatkan nya. Tapi game belum berakhir."

"Aku tidak akan membiarkanmu menghancurkan kami!"

"Aku ingin menghancurkan kalian, sampai tidak ada yang tersisa lagi!" dengan mudah perempuan itu mematahkan beberapa tulang kaki dan tangannya. Ia mengembangkan senyumnya dan matanya berkaca-kaca seolah menonton film dramatis.

"Sayounara, darah murni, dengan begini hanya aku yang tersisa diantara kalian!"

CRAAKKK!

"Ibu masih belum mau minum?" tanya Itachi. Tanpa sadar ia memecahkan gelas minumnya. Izumi mengangguk pelan, rautnya nampak sedih. "Apa ibu baik-baik saja? Aku cemas!"

"Aku akan bicara dengan Sasuke, kau terus bujuk ibu ya?" Itachi membelai pucuk kepalanya lembut.

Itachi mendapati Sasuke tengah menatap hampa pemandangan di depannya. ia tidak mengubah posisinya sedikit pun dan tidak tertarik untuk itu. hanya dirinya dan ibunya yang sudah bertingkah seperti itu sejak seminggu yang lalu.

"Hei, memikirkan sesuatu?" tanyanya. "boleh kutebak, tentang Sakura?"

"Bukan. Tentu saja bukan, aku hanya ragu sesuatu. Tapi bukan hal yang besar." Itachi manggut-manggut mendengar bantahan tak beralasan dari Sasuke. "kalau begitu aku punya berita besar, kau sudah dengar dari ayah? Akhir-akhir ini terdengar kabar tentang pembantaian, kau tahu?"

"tidak, aku tidak mau tahu."

"begitu. Kukira kau akan tertarik mendengar kematian Shisui." Sasuke mendelik, seolah antusiasmenya bangkit. "Dia dibunuh oleh orang yang tak dikenal. Bukan hanya dia, tapi semua darah murni di seluruh dunia juga iku musnah. Aku ingin tahu siapa yang berani melakukannya."

"Apa dia darah murni lainnya?"

"Kalau diukur dengan kemampuannya, tentu iya. Tidak mungkin bangsawan dapat mengalahkan darah murni. Tapi justru kita harus berhati-hati. Jika dia dapat menghancurkan semua darah murni, kita pasti dengan mudah dihancukannya."

"Hn." Sasuke hanya ber 'oh' pada akhirnya. Ia melirik Itachi dari sudut matanya. Tampak sekali kakak satu-satunya itu sangatmengharapkannya untuk bercerita. Dia menyerah, ia tidak bisa menyembunyikan seujung rambutpun dari kakak tercintanya.

"Baiklah, aku akan cerita! Ini tentang Sakura sebelum dia pergi. Dia berkata sesuatu tentang Akari. Dia bilang Akari yang cinta kebebasan tidak menyukaiku dan dia terpaksa menyetujui pertunangan itu. sungguh hal yang bodoh!"

Itachi berpikir sejenak. "sepertinya yang dia katakan benar, Sasuke-kun!" Izumi menyambung dari belakang. Setelah bertatap dengan Itachi untuk waktu yang lama, ia akhirnya angkat bicara.

"Ini semua karena Itachi-kun." Itulah awal jawabannya. Uchiha bersaudara itu terheran-heran mendengar jawabannya. "sebenarnya, Akari-chan menyukai Itachi-kun dan dia ingin bertunangan dengannya. Tapi ibu malah menunangkannya dengan Sasuke."

"Akari menyukaiku? Begitu. Kalau begitu semuanya jelas,"

"Ini memang kejadian yang sudah lama, tapi aku melihat kalian saat dia meminum darah Itachi, matanya menatapku dari kejauhan seolah aku akan merebutnya."

Uchiha bersaudara itu ingat dengan jelas kejadiannya. Itu terjadi hampir berpuluh tahun yang lalu. Ketika mereka bermain petak umpet di hutan dimana Sasuke yang harus berjaga. Mereka bertiga bersembunyi di tempatnya masing-masing. Hanya saja, persembunyian Akari begitu dekat dengan Itachi. Dan disana ia melihatnya, ketika Akari meminum darahnya.

"tidak mungkin!" Sasuke mencoba menyangkalnya namun tidak bisa dipungkiri bahwa dia juga melihatnya.

"Sasuke, kau tidak tahu betapa seringnya Akari mencoba menyingkirkanku. Tapi kupikir jika aku menyerah, dia benar-benar mendapatkan Itachi. Tapi aku juga tidak tahu harus darimana aku bertahan. Aku tidak ingin melibatkan kalian."

Mereka berdua tertegun. Hanya bisa mencari kata-kata yang dapat dicerna. Itachi menghela nafas panjang. Dengan senyumannya yang mengembang, ia menyentuh pundak Izumi. "aku memang tidak salah memilih wanita sepertimu."

"Sasuke, Sakura-chan itu sangat baik, bahkan terlalu baik sampai ia menanggung semua beban kita. Dia hanya seorang manusia dan wajar jika dia melarikan diri. untuk seukurannya, bertahan untuk waktu yang lama itu cukup sulit. Kau tahu apa yang ku maksud kan?"

~What Taste~

Sakura menguap untuk kesekian kalinya. Akhir-akhir ini dia terlalu banyak tidur. Dia jadi tidak bisa berkonsentrasi untuk belajar atau melakukan aktivitas apapun selagi Sasori-senpai pergi. Dia tidak tahu kemana Sasori pergi khususnya setelah jam pulang sekolah. Sasori kembali ketika malam tiba dan pergi lagi, lalu datang ketika fajar. Mungkin dia tengah sibuk dengan pekerjaan kedua orang tuanya.

Sepanjang hal itu, Sakura selalu mengantuk dan ia tidak dapat menahannya. Hari ini ia sudah cukup lama masih acak-acakan ketika dia bangun.

CKLEK!

Entah kenapa Sakura kembali membaringkan dirinya ke tempat tidur. Ia memejamkan matanya sejenak. Mungkin alasan paling utama karena ia tidak tahu harus bagaimana saat bertemu Sasori.

Diintipnya sosok Sasori dari celah kelopak matanya yang tertutup. Ia melihat Sasori membawakan makan malam untuknya. Tiba-tiba langkahnya terhenti. Dengan hati-hati ia membuka penutup hidangannya lalu sebelah lengannya digerakkan melingkar di atas gelas susu. "Aku hanya ingin melindungimu!"

Sepertinya Sakura tahu apa yang dia taburkan didalamnya. Itulah alasan kenapa dia merasa mengantuk setelah memakan hidangan yang disajikan. "Sakura, Sakura!"

Sakura berpura-pura setengah tidur seperti biasanya. Sambil mencerna semua yang dilihatnya, ia bermaksud menghindari hidangan itu. "saatnya makan!" dia paksakan menguap berkali-kali dan diacak-acaknya rambut merah muda miliknya. "Sasori-senpai, aku masih ngantuk.. letakkan saja makananya di sana."

"Baiklah,"

Sepeninggal Sasori, Sakura bergegas memasukkan semua makanan dan minumannya ke dalam toilet. Memang terlihat disayangkan membuang-buang makanan, tapi yang jelas dia tidak boleh memakan masakan itu.

Sakura memutar kenop pintu kamarnya, dia ingin jalan-jalan. Namun bukannya terbuka, dia malah terkunci di kamarnya. Satu lagi pertanyaan aneh bermunculan dibenaknya. 'mengapa Sasori-senpai melakukan semua itu?'

Dia membaringkan tubuhnya di tempat tidur dan mencoba memejamkan matanya untuk sejenak. Diingat-ingatnya semua hal yang terjadi dalam hidupnya sejak musim semi yang lalu. Berawal dari dia menyukai Sasori sampai Sasuke datang ke kehidupannya.. 'Aku penasaran, kenapa Sasori-senpai melakukan ini semua? Kenapa dia mengurungku di sini ya?' Cukup lama Sakura menenggelamkan diri di dalam pikirannya. 'Apa yang sedang dilakukan Mikoto baachan ya? Dia pasti sedih, dia selalu memanjakanku seolah aku anaknya. Izumi-neechan juga baik, dia selalu mengajariku tanggung jawab yang belum pernah ku terima. Ah, mereka hidup seperti manusia, itu sungguh membuatku melupakan siapa mereka sebenarnya.' Tiba-tiba pikiran Sakura tertuju pada sosok Sasuke.

'Aku ingin tahu apa yang sedang dia lakukan saat ini? Orang seperti dia mungkin akan lega karena tidak ada yang mengganggunya, tidak ada orang yang membangunkannya saat matahari tengah di ujung kepala hanya untuk sebuah pelajaran, dan tidak ada orang yang...' Entah kenapa Sakura kembali menitikkan air matanya. Ingatannya kembali pada semua kenangannya bersama Sasuke. Memang mereka selalu bertengkar setiap kali bertemu, terkadang Sasuke peduli padanya walaupun karena ancaman dari ibunya, tapi saat-saat itu sangat menyenangkan.

"Sasuke. Bisakah kau beritahu bagaimana rasa darahku?"

"Kau ingin tahu?"

"Mm."

'Aku harus pergi dari sini. Aku ingin memastikan jawabannya.'

Kejenuhan mulai memengaruhi pikirannya. Sakura bangkit dari tempat tidurnya lalu mengumpulkan seprai-seprai itu beserta selimutnya dan mengikatnya menjadi sebuah tali. Sakura melepas lampu tidurnya dan besi penyangganya ia gunakan untuk memecahkan kaca jendela yang ada di kamarnya disusul dengan mengikatkan tali itu ke balkon.

Sakura turun menggunakan tali tersebut dan berlari meninggalkan rumah milik Sasori, kemanapun yang jelas dia ingin pulang. Sayang langkahnya itu masih kalah cepat. Sasori telah berdiri di pintu gerbang ketika dia hendak melarikan diri. "ingin pergi kemana?"

"Sasori-senpai? Kenapa ada di sini?" Sakura mengalihkan pembicaraan, tapi tidak berhasil. "aku hanya ingin bertemu dengan orang tuaku."

"Diluar berbahaya, ayo masuklah! Nanti akan kuantar kau pergi!" keputusan yang bagus mengingat di sekeliling mereka hanyalah hutan belantara.

"Karena kamarmu jendelanya rusak, aku memindahkanmu ke kamar ini, tidak pa-pa?" Sakura menatap sebuah ruangan tanpa jendela yang sekarang menjadi tempat tinggalnya. Sepertinya Sasori sengaja menempatkannya di ruangan itu agar dia tidak bisa kabur lagi.

"Ya."

Pintu dikunci, otomatis Sakura terkurung sepenuhnya.

~What Taste~

Sasuke memandang pepohonan di sekelilingnya. Sudah lama ia tidak ke tempat ini. Disinilah biasanya ia bermain petak umpet dengan Akari dan Itachi. Tempat ini benar-benar membuatnya bernostalgia.

'Nee, ayo bermain petak umpet. Aku yang akan jaga, Akari dan Nii-san harus bersembunyi, oke?'

'Kalian berdua.. dimana? Disini? Bukan! Disini? Bukan!'

'Nii-san ket- Ah-'

Sasuke membayangkan dirinya terlempar ke masalalu. Ia melihat Akari tengah meminum darah kakaknya di semak-semak. "Aku benar-benar tidak bertenaga..."

"kamu tidak pa-pa, Akari-chan? Mau kupanggil Sasuke kesini?"

"Tidak usah. Mungkin dengan sedikit darah Itachi-kun, aku bisa bangkit. Boleh aku meminum sekali lagi?" pemandangan itu, tidak salah lagi ia melihatnya secara nyata. Bahwa Akari sangat menginginkan Itachi. "I-Itachi-kun?"

"Izumi? Kenapa kau ada disi-"

"Maaf, aku tidak sengaja. Aku akan kembali." Izumi yang memergokinya saat itupun langsung pergi. Sasuke yakin dia pasti akan kecewa dengan kakaknya. Padahal bukan Itachi yang salah.

Benar. Lalu kenapa kau membiarkannya pergi? Kau benar-benar dibutakan oleh sifatnya. Dia adalah perempuan yang berbahaya, kau harus menjauhinya, tapi sampai akhir kau masih tetap percaya padanya.

Tiba-tiba Sakura muncul dalam pikirannya. 'Sasuke. Katakan padaku bagaimana rasa darahku?'

Sasuke hanya terdiam. "pasti tidak enak ya. Aku tahu itu, karena kita tidak saling menyukai."

Kau salah.

"Apanya yang salah?"

Bukan. Kau mungkin tidak percaya, tapi darahmu itu... adalah candu bagiku

"Begitu. Lalu kenapa kamu masih ada disini Sasuke. Itu sudah jelas kan kalau kau menyukainya!"

Sasuke tersadar bahwa suara yang ia dengar itu adalah suara kakaknya. Mata kedua bersaudara itu saling menatap satu sama lain. Warna merah darah terpancar di dalamnya. "Nii-san?"

"Aku tahu kau akan pergi ke tempat ini. Kau melihatnya kan? Waktu dia meminum darahku. Walaupun begitu kamu masih tetap percaya padanya."

"Tunggu apalagi Sasuke. Cepat selamatkan Sakura. Kau ingin memberikan jawaban itu padanya kan?"

"Hn. Aku akan menjemput Sakura kembali!"

Sebagai usahanya, Sasuke mencarinya kemanapun, dari mulai mendatangi rumah sahabat-sahabatnya, Ino dan Naruto lalu pergi ke mansion Sasori. Dia sempat mengancam Naruto untuk mendapatkan informasi itu.

Langkahnya sampai membawanya ke hutan belantara yang lokasinya jauh dari tempatnya tinggal. Tak berbau, tak terasa, tempat itu persis menumpulkan indera penciumannya. Rupanya kedatangannya telah disambut langsung oleh tuan rumah. Sasori telah berdiri dihadapannya.

"Dimana kau menyembunyikan Sakura? Kembalikan dia padaku!" Sasuke menatap Sasori dengan mata haus darah. Pupilnya berubah menjadi merah. Begitu pula dengan Sasori yang bersiap dengan kuku-kukunya yang tajam. "Aku tidak akan memberitahukannya padamu, vampir!"

Sasori menyerang Sasuke secara acak, tapi dia berhasil menghindar. Serangan mereka terlalu cepat untuk ukuran seorang manusia. "Katakan padaku dimana Sakura berada!"

Sasuke menyerang dengan sebuah tongkat kayu yang berubah menjadi tongkat besi. "Aku tidak akan memberitahukannya! Aku akan melindunginya dari pemangsa sepertimu." Sasori menghindar dari serangan Sasuke. Ia memukul wajahnya dan menendang perutnya hingga Sasuke tersungkur di tanah. Sasuke membalasnya dengan serangkaian pukulan dan diakhiri dengan tendangan.

Sasori berniat berdiri namun Sasuke menginjak lengannya dan memutarnya. Tulang-tulang Sasori meremuk. Ia mencengkeram leher Sasori kasar, "katakan padaku dimana Sakura berada, atau kubuat keluargamu menjadi santapan burung gagak."

"Silahkan saja. 'keluarga' yang kamu maksud itu siapa? Nee-chan? Kau pikir dia keluargaku? Bahkan jika kamu menghancurkanku seperti debu, aku tidak akan membiarkanmu bertemu dengan Sakura." Sasuke menghela nafas panjang, "Tidak ada cara lain lagi." Sasuke mengubah mode matanya menjadi lebih merah dan seketika pandangan Sasori memudar. Bayangan Sasuke berubah menjadi sosok Sakura

Sasori-kun, ini dimana? Apakah aku aman? Apakah Aku tidak akan pernah ditemukan oleh siapapun?

"Tenanglah Sakura, kau aman di rumah ini."

"Terima kasih." Sasuke beranjak sambil tersenyum menyeringai, "terimakasih atas informasinya." Ia segera pergi meninggalkan Sasori sendiri. 'Sakura? Tidak ada. Sakura? Tidak ada. Dimana kamu Sakura?' Sasuke telah memeriksa setiap ruangan di rumah yang dimaksud Sasori. Namun Sakura tidak ada di sana. Di ruangan terakhir, ia melihat sebuah pintu yang rusak karena dibuka paksa. Dar ruangan itu tercium bau cherry yang khas. "Sakura! Dia ada disini. Tapi kemana kau pergi?"

"AARRGGHHH..."

~TBC~

.

.

.

Next chapter :

"Berjanjilah padaku untuk melindunginya!"

"Apa kabar Sasuke, apa kau mengenali wajah ini?"

"Keluargaku..."


A/N :

Hai, hai hai... author is back... #dilemparsendalmamareader Maafkan diriku yang tiga minggu hiatus tanpa bilang-bilang, hehehe... gara-gara harus ikut ke rumah nenek di Banyumas (kok malah curhat?)

sebelumnya author mo ngucapin selamat hari raya idul fitri 1 syawal 1437 H, mohon maaf lahir batin (maaf ya kalo author ada salah)

Ini perasaan saya aja atu gimana kok chap ini rada absurb ya (?) entahlah yang jelas author masih blank gara-gara sesi libur panjang, oki di selamat membaca, RnR ya...