BETWEEN
author : firetomylight
cast : – do kyungsoo – park chanyeol - kim jongin
chaptered fic
chansoo/kaisoo
{2}
boyxboy
dont like please leave
Langkah kaki Kyungsoo berhenti tepat berjarak dua langkah dari sebuah pintu, tujuannya. Jemarinya tak berhenti bermain dengan ujung piyama tidurnya, bulir tipis mengalir dipelipisnya.
.
.
"Ada yang mengganggu pikiran anda tuan Kyungsoo?" Paman Kim membereskan nampan berisi mangkuk bubur yang sudah kosong, makan malam Kyungsoo hari ini.
Kyungsoo menggelengkan kepalanya pelan.
"Ini obatnya." Kyungsoo menerima beberapa butir obat alergi dan antibiotik, mengambil gelas air putih disampingnya dan meminumnya.
"Beristirahatlah tuan." Paman Kim tersenyum.
"Paman, harus berapa kali, panggil aku Kyungsoo saja." Kyungsoo memajukan ujung bibirnya lucu.
"Ah, aku ingat, Kyungsoo. Beristirahatlah." Paman Kim mengambil nampan disebelah Kyungsoo dan melangkahkan kakinya keluar, terhenti tepat ketika Kyungsoo memanggilnya.
"Pa-paman Kim." panggil Kyungsoo ragu.
"Ada yang bisa saya bantu Kyungsoo?"
"Chan-Chanyeol." Paman Kim tersenyum.
"Tuan Chanyeol ada diruangannya saat ini dan pintunya tidak pernah tertutup untukmu Kyungsoo. Ada lagi yang bisa saya bantu?"
"Eh?" Kyungsoo membulatkan kedua matanya.
"Sepertinya tidak ada. Selamat malam."
'Bagaimana Paman Kim bisa tau.'
.
.
Kyungsoo menghitung dalam hati satu sampai sepuluh, dihitungan ke sepuluh ia akan memberanikan diri mengetuk pintu berwarna putih dengen pinggiran berwarna emas itu.
'Satu' satu tarikan nafas panjang.
'Dua'
'Tiga'
'Empat' satu getaran kecil lewat didadanya.
'Li-lima' debarannya menguat.
'Enam'
'Tujuh'
Kyungsoo menghela nafasnya, ragu lagi.
'Delapan' debarannya menggila.
'Sembilan' sekarang memenuhi dada dan menutup rongga-rongga udaranya.
'Sepuluh'
'Selesaikan ini atau kau bisa gila, Kyungsoo' ketukan terdengar tepat begitu Kyungsoo selesai mengitung, tanpa Kyungsoo tau dibalik pintu itu sosok sumber getaran dihatinya, yang ia belum tau sebabnya, mendekat.
"Kyungsoo?" kata pertama yang keluar dari mulut Chanyeol tepat begitu ia membuka pintu.
Kyungsoo masih terbius aroma shampoo yang Chanyeol pakai, aroma kesukaannya.
"Kyungsoo, apa yang kau lakukan disini?" tanya Chanyeol, lagi karena belum mendapatkan respon dari lawan bicaranya.
"Kyungsoo sshi?" jemari kanan Chanyeol memegangi ujung dagu Kyungsoo, mengembalikan kesadarannya, menatap lurus, eye to eye.
"Eh-eh?"
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Chanyeol lagi, kesekian kali.
"A-aku."
'Apa yang aku lakukan disini?'
"Bisakah aku mendapat jawaban dari pertanyaanku?"
"Aku, tersesat."
Chanyeol menghela nafas pendek.
"Aku akan memecat semua maid pribadimu besok."
Kedua mata Kyungsoo membulat.
"Tu-tunggu, tapi kenapa?"
"Mereka gagal menjagamu."
"Bu-bukan, sebenarnya." Chanyeol memutus perkataan Kyungsoo, menggenggam jemari kiri Kyungsoo, menyelipkan jemarinya diantara selanya. Mengantar Kyungsoo kembali ke kamarnya.
"Istirahatlah." Chanyeol melepas genggamannya seraya pergi meninggalkan Kyungsoo.
"Chanyeol, aku tadi ingin meminta maaf." ucap Kyungsoo pelan, Chanyeol tak akan pernah bisa mendengarnya.
.
.
Chanyeol menaruh dokumen ditangannya kasar begitu melihat seseorang memasuki ruangannya. Moodnya sedang buruk, karena pekerjaan yang menggila menyita hampir seluuh waktunya.
"Adikku bagaimana kabarmu?"
"Moodku sedang buruk hyung, lain kali saja bertamunya."
"Apa pantas kau berbicara seperti itu pada hyungmu sendiri?"
"Luhan hyung, pulanglah."
Sosok yang dipanggil Luhan itu tertawa kecil.
"Aku hanya merindukan adik kecilku. Aku mendengar kabar yang menggangguku selama aku berada di New York."
Chanyeol menghela nafas, ia tau Luhan tidak akan melepaskannya begitu saja.
"Aku sudah dewasa hyung, berhenti mengurusiku."
"Park Chanyeol, aku selalu mengawasimu. Ingat?"
Satu kalimat Luhan sukses menghancurkan mood Chanyeol, membuat pikirannya kacau.
"Hyung, tolonglah."
"Baiklah, aku akan pulang." Luhan mendekat, mengusap surai hitam Chanyeol perlahan.
"Ingat, aku tidak suka ada yang membuat konsentrasi adikku terbagi."
"Kau tau kan ketika aku tidak menyukai sesuatu hal, hal itu harus musnah." lanjut Luhan.
"Argghtt." Chanyeol mengacak surainya, berteriak keras selepas kepergian Luhan.
.
.
Kyungsoo berlari tergesa melewati anak tangga menuju ruangan dimana kelas Bahasa Inggris pertamanya akan dimulai, masih didalam istana milik Chanyeol. Hari ini ia terlambat bangun karena tidak bisa tidur semalam, memikirkan Chanyeol.
"Brukk."
"Auh." Kyungsoo memegangi lututnya yang sedikit tergores, meninggalkan memar disana.
"Hey, kau baik-baik saja?" tanya sosok yang tidak sengaja ia tabrak membantu membereskan buku-buku Kyungsoo yang ikut terjatuh bersamanya.
"Maafkan aku, aku baik-baik saja." Kyungsoo mengangkat kepalanya melihat sosok dihadapannya, asing.
"Aku Kim Jongin." uluran tangan pertama yang Jongin berikan begitu kesadarannya kembali setelah tak putus menatap manik hitam Kyungsoo.
"Aku Kyungsoo."
.
.
"Ah, bagaimana ini." desah Kyungsoo pelan. Pikirannya terbagi antara pelajaran yang sedang diberikan Jongin dan luka memar dilututnya.
Jongin, Kim Jongin. Seseorang yang tidak sengaja membuatnya terjatuh yang ternyata adalah tutor untuk kelas bahasa inggrinya.
"Kyungsoo?" panggil Jongin yang ketiga kalinya.
"Ma-maafkan aku, Jongin sshi aku tidak mendengar pertanyaanmu, apa bisa kau ulangi?"
Jongin tersenyum.
"Aku sedang tidak bertanya Kyungsoo."
"Maaf. Aku tidak bisa berkonsentrasi." jujur Kyungsoo.
"Apa ada yang sedang kau fikirkan?" tanyanya, pandangannya seolah tak bisa lepas, terhipnotis kedua mata itu.
"Maaf Jongin sshi, aku hanya akan sangat merasa bersalah jika kau harus kehilangan pekerjaanmu dihari pertama kau bekerja."
"Aku, tidak mengerti."
"Bagaimana ini, Chanyeol pasti akan memecatmu begitu melihat memar ini." Kyungsoo bergerak gelisah.
Butuh waktu lima detik sebelum akhirnya Jongin tertawa.
Ini tidak masuk akal.
"Maafkan aku." sesal Kyungsoo.
Jongin mendekat menyisakan beberapa centimeter, memuaskan pandangannya.
"Bagaimana kau bisa berfikiran seperti itu?" tanya Jongin, penasaran.
Kyungsoo menunduk.
"Chanyeol memecat seluruh maid pribadi yang ia tugaskan untuk menjagaku hanya karena aku tersesat dan aku tidak tau berapa puluh orang yang kehilangan pekerjaannya hanya karena Chanyeol tidak suka mereka menatapku atau dari cara mereka tersenyum padaku."
"Bagaimana, bagaimana jika dia melihat memar ini." lanjut Kyungsoo.
Kyungsoo tidak tau apa alasan yang membuatnya berkata seterbuka ini pada orang yang baru dikenalnya. Ini pertama kalinya.
"Jadi kau tidak ingin Chanyeol memecatku?" tebak Jongin.
Mungkin itu alasannya, tapi kenapa?
"Tenanglah. dia tidak akan memecatku."
Dan entah mengapa dengan satu kalimat terakhir dari Jongin, hati Kyungsoo merasa tenang.
.
.
"Tuan Kyungsoo, Tuan Jongin, Tuan muda sudah menunggu anda di meja makan."
"Baiklah, kami akan segera turun." jawab Jongin.
Kyungsoo terdiam sesaat. Ini mustahil. Bagaimana bisa Chanyeol mengajak Jongin untuk makan malam bersama, sementara dia tidak pernah perduli dengan privat tutor Kyungsoo yang lain. Meskipun Kyungsoo akui Jongin memang berbeda. Dia menyenangkan, sangat menyenangkan. Kyungsoo menghabiskan kelas bahasa inggrisnya bercerita dengan Jongin, meskipun ia hanya menjawab apa yang Jongin tanyakan padanya. Tapi sungguh, ia tidak pernah merasa dirinya seperti orang-orang , berkehidupan normal lainnya, sebelumnya.
"Bagaimana kelas bahasa inggris pertamamu Kyungsoo?"
"Ba-baik."
Kyungsoo selalu gugup dihadapan Chanyeol.
"Tidak usah kau pertanyakan Chan, kau memilih tutor yang tepat untuknya."
"Diam Kim Jongin, aku bertanya pada Kyungsoo."
"Kyungsoo kau tidak perlu menghawatirkan apapun. Aku mengenal temenku ini dengan cukup baik." ujar Jongin seolah mengetahui pertanyaan yang memenuhi fikiran Kyungsoo saat ini, membuatnya hampir tersedak.
"Habiskan makan malammu dan kembali kekamar Kyungsoo."
Jongin melemparkan senyuman mengejek kearah Chanyeol. Hanya mereka berdua saat ini di teras atas istana Chanyeol.
"Jadi dia penyebab perubahan seorang Park Chanyeol."
Chanyeol tidak menjawab perkataan Jongin.
"Aku salut dengan ketajaman matamu soal seni." lanjut Jongin.
"Diamlah."
"Diantara semua koleksi senimu, apa dia favoritmu?"
"Dia.."
"Tentu bukan, aku tau kau dengan sangat baik. Tak lama lagi kau juga akan bosan, membuangnya di gudang penyimpanan koleksi senimu, seperti yang lain." ada nada mengejek disana.
Chanyeol menatap Jongin sekilas sebelum meninggalkannya.
"Jadi sudah sejauh itu perasaanmu padanya?"
.
.
'Ini kamarmu.'
'Te-terima kasih tuan.'
'Berhenti memanggilku tuan.'
'Chan-chanyeol'
'Jangan menatapku, tatapanmu menggangguku.'
'Ba-baik, apa yang harus aku lakukan sekarang?'
'Menjaga dirimu'
'….'
'Karena aku paling benci, Koleksiku rusak, apalagi cacat.'
.
.
updated! maaf kalo pendek.
masih ada yang bingung? leave di review aja yah nanti aku coba perjelas bagian mana yang buat bingung.
yang mau marah karena aku updating fanfic ini duluan meninggalkan yang lain atau req chapter depan panjang juga review yah!
terima kasih buat responnya di chapter sebelumnya. hehehe.
.
.
oiya aku baru buat ask fm (ofchanyeol), temenan disana yuk :D
xoxo
