Warning : Mengandung unsur typo, OOC, topik bahasa berat, dan unsur penyelewengan sejarah.
.
.
"PERANG"
Sebuah Kisah Dibalik Tirai Sejarah
*SUICCHON*
"Sudah sadar, Macan?"
3 patah kata sapaan Daiki pada Taiga yang baru saja siuman, masih terbengong-bengong menatap atap rumah Daiki yang terbuat dari jalinan daun kelapa dengan tatapan gagal paham, gagal menafsirkan.
Horor sekali tatapan Taiga pada Daiki. Tangannya meraba raba dipan, berusaha menemukan senjata kesayangannya yang biasa ia elus elus dan ia bisikkan kata kata mutiara agar bisa menembus dada dan bersarang tepat di jantung Daiki. Taiga panik bukan kepalang melihat Daiki menatapnya santai. Namun celaka tiga belas, barangnya raib entah ke negri mana
"Tenang. Aku bukan mau memperkosamu, Macan."
Entah reflek atau memang tubuh si Macan Merah didesain untuk selalu waspada dalam kondisi apapun, tiba tiba ia menggenggam jarik lurik itu, memasang kuda kuda yang sangat sempurna seusai Daiki menggodanya seperti itu.
Daiki malah dibuat gagal memfungsikan penalarannya untuk mengerti segala pemikiran si sersan yang biasa ia hadapi di medan pertempuran. Sersan di medan pertempuran adalah sersan galak yang ganas membantai pasukan Daiki dan tak ragu menyarangkan beberapa peluru ke beberapa prajurit Daiki. Daiki sering dibuat kewalahan menghadapi satu manusia yang konon kabarnya seumuran dengannya ini.
"Apa maksudnya ini? Asal tahu saja, Kaisar Akashi Sejuurou pasti akan mengulitimu untuk kasus seperti ini."
Taiga menegakkan duduknya. Jelas lah maksudnya saja agar terlihat lebih jantan dan lebih kuat di hadapan musuh bebuyutannya. Tentulah ia akan malu bukan main kalau kedapatan tengah lengah pertanda sedang lemah.
"Aku sedang tidak bersama Arisaka. Tenang, Nippon."
"Kagami Taiga." Si sersan mengoreksi sinis.
Taiga jelas keki. Ia tak suka dipanggil 'Nippon', memangnya yang Nippon cuma ia saja? Ia, ajudannya, dan pasukannya semua berjenis Nippon. Ngomong ngomong soal pasukannya, dimana mereka?
"Bangsat! Kau culik aku dari pasukanku? Kau apakan mereka?"
Taiga berteriak menggelegar. Mengisi kamar Daiki dengan suara beratnya. Sementara pasukan diluar yang sedang ramai ramai makan gulai ayam buatan ibunya Daiki berjengit kaget. Ramai ramai piring tersebut diletakkan, digantikan oleh senjata di tangan siap diletuskan, dihunuskan maupun diayunkan. Tetsuya dan Ryouta sendiri sudah pasang kuda kuda siap menembak satu sama lain.
"Maak! Taiga tolong dibawakan gulai dong!" teriak Daiki dari arah yang sama dengan teriakan Taiga. Meredam suara Taiga.
Ibunda Daiki kalem menarik tangan Ryota dan Tetsuya yang saling mengacungkan pistol.
"Dek ini dibawakan buat Daiki dan temennya ya. Kasihan kalau tidak ikut makan gulai ayam. Nasinya ada di bakul sebelah sana. Sana buruan."
Cari mati Ryota kalau menolak perintah ibunda Daiki, Tetsuya pun senasib. Mereka berdua terpaksa menuju dapur dan mambawakan jamuan mewah pada masanya untuk diberikan pada kapten kubu masing masing.
"Kise! Syukurlah kau tak apa apa."
Terheran-heranlah kapten muda ini melihat Ryouta yang berdiri kikuk membawa baki nasi serta aura perdamaian dari kedua ajudan. Ia tengah mengira-ngira perihal konspirasi apa yang tengah dimainkan Daiki. Sesungguhnya rasa suudzon Taiga tidak patut disarangkan pada Kapten belia yang menjamunya dan menyelamatkannya dari kematian. Namun bagaimana lagi? Setitik susu kan tidak bisa menjernihkan nila sebelanga.
"Kagami-sama!"
Ryota tergesa mendatangi Taiga yang nampak sangat bersyukur melihatnya belum meregang nyawa.
"Kagami-sama, syukurlah anda tak apa apa, ssu! Saya khawatir sekali!"
Ketika Ryouta dengan penuh perasaan menjaga tuannya, membelai puncak kepalanya dengan halus sementara Taiga hanya tersenyum sambil meminta maaf sudah membuat Ryouta khawatir. Nampak bak sepasang kekasih yang bahagia tak berkesudahan.
Daiki dan Tetsuya jelas dibuat kaku.
Apakah gerangan hubungan antara tuan dan ajudan yang dijalin Taiga dan Ryouta sehingga bisa jadi seambigu itu?
"Ehem." Daiki berdehem sebal. Ryouta melirik Daiki sebal.
"Bung Tetsu, letakkan saja piringnya disitu. Dan tunjukkan tamu kita ini tempat untuk makan bersama yang lain."
"Mari, bung Ryouta."
Selepas kepergian keduanya, Taiga pundaknya bisa sedikit melorot, nafasnya lebih teratur dan ekspresinya lebih kalem. Daiki sesaat terpana pada ekspresi tenang si sersan. Tidak salahkah orang seperti itu menjabat sebagai sersan paling disegani pasukan Nippon? Bahkan desas desusnya sersan di depannya ini diincar para kumpeni dan menir menir kaya berumah tingkat tiga untuk dinikahkan dengan noni noni mereka
"Maaf bung Taiga. Kami membawa pasukan kalian tanpa persetujuan kalian terlebih dahulu. Kami menculik pasukan kalian dan kami bawa ke markas kami, yaitu kediamanku."
"Terimakasih sudah menjadikan kami sepasukan sebagai tamu di kediamanmu, tuan."
"Panggil saja Daiki."
"Tapi bukan berarti dengan menculik kami, kalian bisa seenaknya membantai kami."
Daiki tergelak mendengar ancaman Taiga.
"Tenang. Aku akan melepaskan pasukan kalian kalau mereka sudah pulih sepenuhnya. Lagipula persediaan beras di lumbung sudah hampir habis kalau terus terusan dipakai menjamu dua pasukan prajurit."
Daiki bangkit. Beranjak keluar sebelum berhenti di ambang pintu dan menoleh.
"Lalu kita bertempur lagi seperti biasanya."
.
.
.
Suapannya bukan suapan biasa. Bukan suapan menolong karena Taiga tidak bisa memakai tangannya sendiri, melainkan suapan penuh modus bermode kode. Iya itulah tingkah Ryouta dikala melihat ada kesempatan datang padanya. Dengan berurai urai senyuman ia menyuapi Taiga. Taiga mau mau saja. Padahal tangan kanannya sehat wal afiat. Salahkan Ryouta yang terus terusan memaksa dengan bermodal alibi 'jangan banyak bergerak, Kagami-sama'. Kagami buta modusan lelaki.
"Aku merasa berhutang budi pada Daiki dan pasukannya." Ujar Taiga.
"Mereka menolong kita hanya agar kita seimbang untuk mereka bantai, ssu."
"Pasukan jepang bahkan tidak peduli ketika kita hampir tewas dibantai Belanda. Yang mereka pedulikan hanyalah seberapa luas wilayah yang telah kita taklukkan."
Taiga mendesah sambil menepuk kepala Ryouta yang bergelayut di pahanya. Piring berisi rendang itu ia lupakan begitu saja. Persetan lah yang penting bisa boboan unyuk di paha Taiga yang hangat. Mumpung belom perang. Kalau sudah perang boro boro bisa ngobrol satu sama lain. Bisa saling melindungi saja sudah terlampau indah.
"Kagami-sama, jujur aku bingung ssu."
"Aku pun begitu, Kise. Pasukan inti pasti sedang mencari kita saat ini. Tapi selama pasukan kita belum pulih setelah dibantai sebegitu kejamnya oleh Belanda sebaiknya kita menetap disini dulu. Pasukan Belanda pasti akan memburu kita hingga tak bersisa kalau mereka tahu kita masih selamat."
"Kagami-sama…"
"Ya?"
"bolehkah aku bersamamu hingga ke saat saat terakhir, ssu?"
Kening si sersan berkerut kerut heran.
"Ya… ya tentu."
Ryouta merasa sangat sangat YESS! Sekali. Harapan hidupnya memang hanya untuk bersama Taiga seorang. Tak peduli Taiga tidak pernah peka ia modusi, ataupun tidak pernah menyadari perasaan Ryouta terhadapnya, ia hanya ingin bersama taiga saja. Melindunginya seperti saat saat peperangan.
Taiga mana sadar akan kode kode Kise. Ia tidak pernah memikirkan apapun selain perang, strategi perang, dan menghimpun kekuatan mengalahkan Daiki si musuh bebuyutan. Sesungguhnya yang ada di otak Taiga cuma bagaimana bisa mengalahkan Daiki dan membasmi seluruh pasukannya termasuk ajudan biru mudanya yang kemarin sukses besar menyarangkan misil di lengan kirinya.
Ryouta sudah berkali kali merubah format format encode yang ia tembakkan pada Taiga. Kokoronya pun sudah sering ia vulkanisir seperti rongsokan ban mobil kumpeni yang pernah ia jumpai dulu. Namun ia pun sudah hampir mencapai batas. Kokoronya masih sering merasa nyut nyutan ketika ia akan mulai memvulkanisir alias mendaur ulang. Kokoronya bukan ban karet dekil yang sudah aus. Kokoronya masih berfungsi dan peka terhadap segala perlakuan Taiga yang kelewat malaikat banget terhadapnya.
Ia yang sering kepedean saja, makanya baperan.
Daiki masuk membawakan sesetel pakaian untuk ditujukan dipakai Taiga seusai Taiga mandi. Tetsuya berada di belakang daiki membawa dua buah senjata, bayonet dan sebuah pistol. Ryota mendadak bangkit dari pangkuan Taiga dan pasang pose meyakinkan seperti tidak bisa ditembus oleh semut semut kecil sekalipun. Pose defense!
Daiki memberikan pertanda agar Tetsuya memberikan sepasang senjata itu. Sepertinya tetsuya tak bisa mengklasifikasikan antara memberikan senjata pada lawan dan mengacungkan senapan pada musuh bebuyutan. Gerakannya patah patah seperti menganut paham senggol bacok yang kerap didengungkan kaum kaum penghuni Nusakambangan. Tak ingin ddiusik barang seujung upilpun. Apalagi aura menguar mengancam agar si penerima nantinya tak berbuat aneh atau ia akan ikut ikutan berbuat serupa.
"Senjata kalian yang baru diperbaiki orang kami. Maaf bung Taiga, aku tidak menemukan senapan yang biasa bung Taiga pergunakan."
Daiki sudah mencari sepanjang jalan mereka dari daerah penyergapan hingga ke kediamannya namun tak menemukan senjata yang sejenis dengan senjatanya. Miliknya adalah Arisaka 44 sedangkan milik Taiga bisa ia identifikasikan sebagai Arisaka 38. Senjata yang sama sama memiliki jarak efektif penembakan sejauh 540 meter. Mungkin karena senjata yang setipe dan hampir kembar tersebut membuat keduanya telah hafal serangan masing masing dan sampai sekarang masih belum bisa meregangkan nyawa satu sama lain.
2 benda yang dibawa Tetsuya salah satunya pistol yang dipegang Ryota. Adalah pistol Luger P08 buatan Jerman yang pertama kali dihadiahkan Taiga kepadanya. Pistol buatan kumpeni yang mereka benci namun karena merupakan pemberian Taiga, Ryota jadikan pistol tersebut sebagai benda paling berharga miliknya. Pistol Luger Ryota juga memiliki kesamaan dengan Pistol milik Tetsuya. Akan tetapi pistol Tetsuya merupakan produksi Jepang, hasil rampasan Tetsuya dari musuh yang pertama kali ditewaskan oleh tangannya sendiri. Yaitu Pistol Nanbu yang memiliki kaliber 8mm dan bermekanisme Blowback, sedangkan Luger bermekanisme toggle-lock.
Satunya lagi adalah sebuah bayonet. Attachmen milik Taiga yaang sering dipinjam Ryota untuk menebas leher musuh musuhnya. Taiga tak keberatan ketika Ryota dengan tiba tiba menarik bayonet Taiga dari sarungnya. Lagipula bayonet miliknya lebih berguna di tangan Ryota yang ahli meniruka gerakan berpedang dari banyak Jenderal jepang sana. Bayonet tersebut sudah seperti penghubung antara ia dan Ryota selain hubungan tuan dan ajudan iantara keduanya.
"Tak apa, Aomine Daiki-san. Saya akan cari senjata yang sama besok ketika sudah kembali ke markas utama."
"Situ panggil saya Daiki saja. Ngomong ngomong bung Taiga mau mandi tidak? Biar kuantar ke sungai."
"Hati hati dengan tawaranmu, bung Daiki! Biar saya saja yang memandikan Kagami-sama."
Daiki pasang tampang seribu.
"Bung Ryouta hendak melancarkan misil, kapten Daiki. Biarkan saja."
"Benar bung Tetsuya. Padahal tadi aku hanya menawarkan mau mengantar ke sungai, bukannya mau memandikan bung Taiga."
Daiki menyeringai licik sekali, sedangkan Tetsuya menatap kedua sersan dan ajudan di depannya dengan tatapan garing.
"Kise, sebaiknya kau kabari keputusan kita pada pasukan saja. Biar bung Daiki yang mengantarku."
Tidak ada yang menyadari apa yang terjadi ketika Daiki berbalik, namun Daiki sadar apa yang telah ia lakukan. Ia tersenyum bahagia bukan kepalang.
.
.
.
Air sungai di daerah dekat hutan itu jernihnya bukan main. Jernih dan bening sebening pesona Daiki saat mulai melucuti pakaiannya sendiri sebelum ia membasahi diri dengan air sungai. Taiga yang lelaki tulen saja bisa terpesona dengan tubuh terbakar matahari dan dialiri air yang berkilau kilau liar, apalagi wanita wanita di luar sana. Taiga agak menyayangkan andaikata kapten muda di hadapannya ini ternyata sudah berkekasih, atau yang lebih buruk lagi, diincar noni noni.
Daiki juga berlaku sangat jantan dan bertata krama terhadap musuhnya sendiri. Pandangannya tegas namun tak berkalang kebencian. Ia melupakan permusuhan diantara keduanya dan memperlakukan Taiga bagai saudara sebangsa dan setanah air. Taiga sedikit terbawa suasana setiap kali Daiki tersenyum bangga menceritakan betapa hebat negrinya. Mebuatnya semakin iri pada Daiki yang berdarah jepang sama sepertinya namun tumbuh dan menjadi seorang prajurit yang membela kebebasan pribumi.
Sekali dua kali terlintas di benak Taiga yang tumben tumbenan bisa memikirkan hal selain menang membasmi Daiki, mengapa bangsa sehalus dan sebaik bangsanya Daiki dengan hati selembut belaian kekasih harus mengalami kolonialisme dan imperialisme? Taiga pikir hal tersebut cukup tidak adil.
Mereka berbagi kebaikan dan keramahan terhadap sesama. Bahkan ketika bangsa Jepang pertama kali datang ke nusantara, sambutannya sangat hangat dan menganggp jepang sebagai saudara tua. Entah jepang yang terlampau kejam dengan memperluas wilayah di negeri ini ataukah bangsa ini yang terlampau bodoh dan polos terhadaap pengaruh pengaruh dari luar.
"Sedang memikirkan apa bung Taiga?"
Taiga mengangkat lengannya yang terluka dengan gerakan pelan. Takut lukanya terbuka ketika Daiki membantunya membuka bajunya.
"Negeri ini."
Taiga memperlambat nada bicaranya hingga 2 ketukan. Daiki memperlambat gerakannya hingga dua patahan. Atmosfirnya mendadak melambat hingga dua tarikan nafas.
"Ada apa dengan Indonesia?"
"Aku ingin membawa orang orangku kemari."
"Terus memperluas wilaayahmu disini? Ini jam 1 siang bung. Tunda mimpimu hingga nanti malam. Jangan mimpi di siang bolong kau, Bung Taiga."
"Enak saja aku mimpi. Aku memang berniat membawa orang orangku kemari."
"Paling tidak kau harus melangkahi mayat komplotanku kalau memang maksudmu seperti itu."
Taiga tergelak dengan suara khas yang sangat renyah dan sedap di telinga. Ia menepuk bahu Daiki bersahabat sambil tersenyum.
"Ya. Mari sesegera mungkin kembali ke medan perang."
Selanjutnya adalah sebuah gayung kecil yang terbuat dari batok kelapa berisi air yang diguyurkan ke taiga hingga dianya merinding merinding kedinginan. Daiki terus terusan memperingatkan Taiga untuk berhati hati dengan air sungai. Kalau kelamaan berendam air sungai biasanya orang orang sukaa berakhir meriang ria. Atau kembung seperti kasusnya saat ini. Tapi malu saja daiki mengaku kalau dia kembung disebabkan oleh perkara terlalu lama berendam di air sungai. Malu ah kalau sampai ketahuan dia kalah dengan air.
3 jam mereka saling bermain air di sungai hingga akhirnya si ajudan muda Kise Ryota tidak sabar menanti kepulangan sang tuan dan menjemput keduanya. Kise beralibi khawatir saja. Padahal sesungguhnya iri setengah mati pada kapten musuh yang berhasil menciptakan sentuhan tanpa penghalang pada punggung lebar si sersan muda yang sering membikin Ryota khilaf dan membikin Ryota membayangkannya sebagai pelepas dahaganya.
Daiki lagi lagi menatap Ryota ngehe saat Ryouta tiba tiba memanggil nama Taiga ketika Taiga sedang diguyur kepalanya oleh Daiki. Buat apa ajudan itu ikut campur obrolan antar pemimpin? Daiki nampaknya sok sekali mumpung ia kapten dan Taiga juga kapten. Mumpung ada kesamaan mengapa tidak dimanfaatkan? Ryouta mengganggu pendekatan Daiki pada Taiga untuk lebih mengetahui seluk beluk musuh saja.
Ryouta sendiri merasa tertabok kala Daiki saat itu menepuk punggung Taiga intim. Jujur Ryouta merasa sedang diberi cobaan. Sedang melewati jalan yang berlobang. Tapi jangan dikira Ryouta bersedih. Ryouta cukup optimis meski ia melewati jalan berlobang. Nikmati saja jalan yang berlobang meski tak senikmat lobang berjalan. Ia yakin nanti ia akan dapatkan lobangnya si sersan muda dan tidak lupa menciptakan lobang di dahi Daiki.
"Kise mau sekalian mandi?"
Sejujurnya Taiga ini polos atau tidak peka? Sudah jelas jelas ryouta menatapnya kelaparan masih juga ia tawarkan tubuhnya untuk santapan.
"Mau, ssu! Ayo mandi lagi Kagami-sama!"
"Bung Ryouta, ini bung Taiga sudah hampir meriang. Nanti aku panggilkan Tetsuya kalau kamu mau minta ditemani mandi."
"Tidak. Terimakasih, ssu."
Daiki seketika merasa jaya bin merdeka sejahtera.
Ketiganya berjalan menuju rumah Daiki dimana disana sedang ada dua komplotan yang mencari kayu dan membantu ibunya Daiki memasak rebung bersama nasi jagung. Namun diantara para komplotan itu ada satu maanusia yang tidak turut serta memanggul ranting ranting jati seperti kawan serikatnya.
Melainkan tengah beradu ancaman dan kewaspadaan dengan seorang lelaki yang matanya hanya nampak sebelah. Saling mengacungkan pistol dalam jarak tembak efektif. Salah satu pelatuk ditarik, salah satu manusia akan meregang nyawa.
.
.
.
* SUICCHON *
Catatan Pojok :
Chapter dua. Dan chapter ini hanya melewati satu kali pengeditan. jadi kalau banyak typo mohon ampuni saya.
Masih Aokaga ya. Sekali lagi, ini fic Aokaga. pair pair yang lain hanya untuk menambah warna saja.
Anyway saya tengah mencari beta reader. XD ada yang berminat tidak ya?
bersedia untuk Review yang bersifat membangun tidak? :3
salam untuk kalian dan kapten wanita di seberang sana,
.
Suicchon
