Warning : Mengandung unsur typo, OOC, topik bahasa berat, dan unsur penyelewengan sejarah.

.

.

"PERANG"

Sebuah Kisah Dibalik Tirai Sejarah

*SUICCHON*

.

Kejelasannya tidak perlu dipertanyakan ulang. Jadi pertanyaan pun hanya akan berakhir mubadzir. Karena memang sudah sangat jelas, sejelas lubang hidung yang diperbesar dengan resolusi HD 1020p via suryakanta. Ya kurang lebih seperti itulah situasi yang berlangsung antara Tetsuya dan seorang pria. Pria necis nan perlente bermata nampak sebelah saja.

Bisa ditengarai dan diidentifikasi sebagai mata-mata Nippon yang sangat womanizer. Terkenal dikalangan noni-noni dan dihormati di kalangan menir-menir kaya raya penguasa tanah rampasan milik pribumi. Kabar jalanan mengatakan lelaki satu ini diangkat sebagai calon penerus VOC yang terkenal meski ia keturunan Nippon. Kabar lain mengatakan ia membelot dari Nippon dan meloyalkan diri pada Kumpeni. Entah mana yang benar, namun tak seorang pun tahu bahwa profesinya mata-mata. Dan merupakan kakak tiri dari sersan macan merah.

Kedatangannya kemari tak lain dan tak bukan ialah untuk menemukan adik tercinta yang konon sudah dikabarkan tewas di tangan pribumi. Kabar yang tak bisa lelaki itu percayai berhubung yang mengatakan bukanlah kaisar Akashi Sijuurou,namun diantara prajurit sudah banyak yang mempercayai kabar burung tersebut.

Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Ia ketiban malang dengan bertemu penasihat si Kapten Rajawali Bimasakti yang dikabarkan sudah mencabut nyawa sersan macan merah. Bertemu Tetsuya yang selalu waspada dengan senjata siap ditarik pelatuknya.

Lelaki necis bernama Himuro itu tak kalah waspada juga. Ia sering menyusupi bahaya dimana- mana, makanya waspada kapan saja. Ia pun siap dengan sebuah pistol berisi misil penuh.

"Katakan apa maumu datang kemari, Nippon!" Tetsuya berujar tegas sambil menodongkan senjata api.

"Nampaknya kau tak sadar dirimu pun seorang Nippon?"

"Aku Nippon yang bermartabat. Tak sepertimu yang bukan manusia."

Lelaki bermata sebelah itu menyeringai yang berdampak membangkitkan jiwa ingin mencekik milik Tetsuya.

"Kau yang sudah membunuh bangsamu sendiri mengatakan sebagai Nippon yang bermartabat?!"

Sindirannya menabrak kokoro Tetsuya tanpa ampun, mencincang kokoronya hingga serupa abon.

"Katakan apa maksudmu atau kutembak."

Tetsuya menggertak,tapi tidak seram dan Himuro jadi tidak takut.

"Aku mencari pelaku pembunuh Sersan Kagami Taiga."

Tetsuya berhenti bersikap waspada. Pistol nanbunya diturunkan dan dikantongi di kantong kulit yang tergantung di gespernya.

"Oh."

Begitu saja dan berbalik pergi.

Himuro dibuat jengkel bukan kepalang. Merasa dipermainkan oleh Nippon juga. Baru kali ini ia menemui Nippon yang tidak bersahabat. Kepalanya sampai kemelut penuh asap.

"Oh iya. Aku yang menembaknya."

Tetsuya berkata ringan sambil berlalu masuk ke dalam hutan mencari kayu.

"BANGSYYYYYAAAATTTT!"

Teriakan seksi menggelegar di dalam hutan yang sunyi sore itu. Lalu diikuti gedebuk langkah kaki bersol karet pilihan bikinan kalimantan. Dan sebuah sentakan di bahu si biru muda Tetsuya.

"Jangan kasar,Bung. Sudah menjelang maghrib. Tabu, Bung."

"BANGSAT KAU! DASAR PENGKHIANAT! KAU BUNUH ADIKKU?!"

Pelan tapi pasti, Tetsuya mengusap bahunya. Takut tertular menjadi nippon kafir yang doyan teriak teriak dalam hutan yang konon mitosnya angker dan horor.

"Mari ikut aku kalau tidak mau tersesat disini."

Tetsuya mengabaikan pistol dingin yang menempel di pelipisnya. Tetap berjalan tenang tanpa terpengaruh ada tangan yang siap menarik pelatuk di samping pelipisnya.

"Oh iya, adindamu ada bersama kaptenku, Kanda. Mari ikut."

Tetsuya sudah meniati menekankan pelafalan 'Kanda' dan untungnya terlaksana.

.

.

.

Saat itu sudah malam. Para pasukan sudah makan malam dengan atmosfir persahabatan yang kental. Tiada seorang pun yang ingat untuk menanyakan keberadaan Tetsuya. Daiki sendiri pun tidak. Tetsuya seumuran dengannya. Buat apa dikhawatirkan perihal sudah makan atau belum?

Daiki santai-santai di depan rumah sambil mengecek Arisaka 44 milknya. Pengecekan rutin pada senapan warisan bapaknya itu. Sesekali mengobrol dengan salah seorang bawahan si Sersan merah.

Lantas sersan merah sendiri sedang rebahan di tikar bersama Ryota. Ryota menghadapkan tubuhnya ke arah Taiga sementara Taiga sendiri terlentang mengawang awang sesuatu. Ryota sendiri asyik memelintir helai-helai rambut merah Taiga. Sesekali bercanda dengan meniup telinga Taiga dan Taiga menjadi sewot. Rewel dia kalau telinganya ditiup-tiup bagai nasi baru diangkat dari tungku.

Namun hal tersebut tak berlangsung lama. Karena mereka berangsur angsur terlelap seiring dengan kepulangan Tetsuya dari aktivitasnya menghilang di hutan.

Tetsuya muncul dari arah hutan sambil membawa beberapa ranting kering. Agak shock melihat 2 pasukan makan malam nyaman tanpa dirinya yang juga ikut bersusah payah mencari ranting untuk dimakankan pada api.

"Bung Daiki." Panggil Tetsuya sambil mengunyah singkong bakar hasil mencomot dari dalam timbunan abu panas dekat tungku. Harta Daiki Tetsuya ambil tanpa pamitan.

"Ya, Bung Tetsuya?"

"Kita kedatangan tamu."

Tetsuya menunjuk arah kegelapan dimana Himuro muncul sambil bersungut-sungut jengkel karena beberapa kali kehilangan jejak Tetsuya. Dan tersesat di hutan.

Awalnya Daiki mengira akan ada sepasukan penuh manusia yang muncul dari balik rimbunan kayu-kayu jati. Waspada untuk menyiapkan pasukannya. Namun rupanya hanya sebiji manusia saja yang muncul.

Seorang lelaki necis yang bersungut-sungut dikeroyok sekawanan nyamuk buas daerah hutan. Tetsuya sudah bilang agar lelaki itu harusnya tidak jauh-jauh jaraknya dari dia yang membimbing di depan. Tapi ya sudah. Tetsuya malas memperingatkan lelaki yang tidak takut saat ia gertak. Ia terlanjur kecewa.

Lelaki necis termaktub diatas merapikan mansetnya sebelum dengan anggun menghampiri Daiki. Entah motivasinya mau pamer apa hingga lagaknya bak pangeran berkuda jantan. Padahal dalam mata Daiki tak lebih seperti singkong yang tengah dimakan tetsuya.

"Bung Tetsu, tolong ke dapur dan buatkan kopi untuk tamu kita ini."

Tetsuya sudah lenyap sebelum Daiki bertitah. Sudah hafal kebiasaan Daiki yang kerap menjamu musuh, kasus saat ini pun sama saja.

"Selamat datang di kediaman saya. Ada perlu apa Bung?"

.

.

.

Kampung di Indonesia sebelum masa mengudaranya proklamasi masih belum berjaya listrik. Kampung- kampung diselimuti sunyi. Kelip-kelip kecil dari obor dan lentera lentera api merupakan protokol-protokol inti penerangan saat itu. Jangankan lampu-lampu neon bak kota metropolitan. Bola lampu saja sudah modern. Bisa dikata sangat Kuno dan kolot bukan main.

Saat itu, sambil duduk-duduk di dipan kecil depan kediaman Daiki, dengan lentera api kecil kelip kelip ada Daiki dan Taiga duduk bersama. Yang lain sudah terlelap. Katanya keletihan mencari kayu. Daiki juga merasa sedikit bersalah ketika melihat pasukan Taiga kelelahan mencari ranting dan membantu emaknya menggiling padi dengan alu dan lesung. Tentu saja ia tak menyangka pasukan Nippon tak pernah mencari ranting ataupun menumbuk padi via alu dan lesung.

Bersandarlah Daiki pada dinding beranyam bambu malam itu. Taiga ada di sampingnya sedang menerawang ataukah sedang mengawang-awang Daiki tak begitu paham.

"Bung Daiki. Boleh kutanya sesuatu, Bung?"

"Tanyalah apa yang ingin kau tanyakan."

"Dalam pertempuran terakhir kita, kulihat Bung Daiki tidak jadi menembakku padahal Arisakamu sudah mengacung. Ada alasan tertentu?"

Daiki tidak jadi bersandar di dinding bambu. Tubuhnya tergerak untuk menjawab pertanyaan sersan yang masih setengah pulih di sampingnya.

"Aku tidak bisa, Bung Taiga."

"Aku kecewa sekali,Bung."

"Saat itu rasanya seperti ada setan menggantung di ujung laras Arisakaku. Seperti tanganku tak mampu menarik pelatuknya. Bukan tabiatku menembaki pasukan pasukan tanpa persiapan."

Taiga sedikit terpancing dengan alasan Daiki saat itu.

"Kau mengasihaniku, Bung?"

"Aku bukannya kasihan. Andaikata saat itu Bung Taiga sedang dalam kondisi maksimal lalu tewas tertembak olehku, aku sama sekali tidak kasihan. Tapi saat itu Bung Taiga tak lebih dari manusia biasa tanpa persenjataan. Dengan kondisi luka luka di mana-mana. Mana bisa kutembakkan peluruku padamu, Bung? Nuraniku lenyap ke mana kalau sampai kulakukan itu?"

Taiga terhenyak.

Ia kecewa luar biasa memang saat itu. Saat dimana malah peluru Tetsuya yang menembus lengan kirinya dan bukannya timah panas kepunyaan Daiki. Sungguh ia merasa bagai akan mati tanpa membawa nama baik dan tanpa kepuasan.

"Jujur Bung, saat itu aku kecewa. Rupanya yang berhasil menembus pertahananku adalah ajudanmu. Mungkin akan lain cerita andai itu Bung Daiki."

"Sabar sedikit,Bung Taiga. Nanti pasti peluruku yang menembus dahimu. Pasti peluruku,Bung. Sebab yang bisa melubangi dahimu hanya aku."

"Atau Bung Daiki dahulu yang akan kutembus dadanya dengan peluruku."

Lalu keduanya bertatapan sengit sambil tersenyum menyengat perasaan satu sama lain. Merasa sejiwa dan sepemikiran.

"Pertempuran selanjutnya pasti akan lebih sengit. Bukankah begitu,Bung?" Taiga menyenggol bahu Daiki. Sebuah candaan terselip tantangan.

"Ya. Benar. Pertarungan selanjutnya akan kubuktikan bahwa negeriku tak terkalahkan."

"Aku sepertinya sedikit tak sabar,Bung."

Pertempuran hidup dan mati yang mereka anggap layaknya permainan olahraga. Sasaran masing-masing adalah nyawa yang akan melayang melewati dahi yang bolong maupun dada yang menganga. Mereka sama sekali tak main-main. Nyawa mereka berharga, tapi nama negara mereka lebih berharga. Semua demi harga diri, loyalitas, dan pembuktian. Kubu mana yang lebih unggul.

"Bung Taiga. Sore tadi saudaramu datang berkunjung,namun Bung Taiga sedang tidur pulas. Ajudanmu juga. Makanya aku tak berani membangunkanmu."

"Saudara? Siapa itu?"

"Ia sempat menjenguk Bung Taiga yang tertidur sebelum langsung pergi. Nampaknya sangat bahagia tahu kalau Bung Taiga masih sehat. Kalau tak salah namanya Himuro. Himuro Tatsuya."

Terbelalaklah mata Taiga secara mendadak. Kaget yang sekaget-kagetnya.

"Himuro Tatsuya? Dia sampai kesini?! Dia tahu tempat ini?! Gawat bung!"

Himuro Tatsuya. Kakak tiri Taiga yang jelas beda prinsip dengannya. Abangnya itu mata-mata Nippon nomor wahid. Namun kelicikannya tak tertandingi. Sudah lama ia mengincar posisi tangan kanan kaisar Akashi Seijuurou. Sudah lama ia berniat menggulingkan Taiga dan mengambil alih batalyon satu, batalyon tangan kanan kaisar Akashi Seijuurou.

Gawat kalau sampai ia tahu markas Daiki serta tempat persembunyian Taiga dalam memulihkan diri. Taiga yakin lelaki itu akan segera berkongsi dengan antek-anteknya dan sesegera mungkin akan menghasut Kaisar Akashi agar ia dipromosikan memimpin batalyon satu yang baru.

Khawatir saja Taiga. Khawatir akhir pekan ini abangnya akan datang dengan satu pasukan komplit lalu mengepung kediaman Taiga. Atau memboikot segala aktifitas Rajawali Bimasakti.

"Ia akan datang kemari kalau kita tak segera kosongkan tempat ini Bung!"

"Bukannya ia abangmu, Bung?"

Taiga sudah bangkit. Ia melepas lilitan perbannya di lengan kiri sambil memunggungi Daiki.

"Aku tidak kenal orang itu."

Kemudian enyah ke dalam rumah.

Esoknya Ryouta ditarik mengikuti konferensi lima menit bersama kedua petinggi komplotan Rajawali Bimasakti. Ditanyai habis-habisan soal asal usul Himuro Tatsuya. Pasalnya baik Daiki maupun Tetsuya sama-sama dibuatmenyimpan beribu pertanyaan soal siapa sebenarnya abang centil yang kemarin sore sangat trenyuh saat mengetahui Taiga masih selamat.

Ryouta sudah tentu paham perihal seluk beluk Himuro ini. Jelas, ia bertahun-tahun berada di samping Taiga. Sudah paham siapa itu Taiga luar dalam dan orang-orang yang ia anggap mengancam keselamatan Taiga. Semuanya sudah Ryouta catat dalam benak untuk berjaga-jaga siapa tahu suatu ketika ia diharuskan menemui takdir melawan mereka untuk menyelamatkan hidup Taiga.

Ryouta tak segan, karena ia ajudan.

"Himuro Tatsuya itu abang tiri Kagami-sama,ssu. Tapi mereka berdua tidak akrab satu sama lain. Himuro ini pulalah yang sudah berhasil menggulingkan status mata-mata kepercayaan Kaisar kami. Sekarang mata-mata kepercayaan kaisar kami adalah Himuro. Dan mata-mata yang lama bekerja pada Himuro. Ia orang yang tak main-main ssu."

Daiki dan Tetsuya mengangguk-angguk paham. Rupanya perkataan soal betapa sayang si Himuro ini terhadap Taiga kemarin sore tak lebih dari sekedar akting semata. Lumayan juga. Bahkan Daiki dan Tetsuya dibuat terkecoh.

Sekarang nasib kediaman Daiki dan pasukannya sedang berada di pucuk tanduk. Meleset sedikit akan hancur. Tetsuya dari semalam rupanya sudah tahu. Diam-diam ia mendengar pembicaraan Taiga dan Daiki. Dan dalam hati merasa bersalah bukan main karena telah membimbing Himuro masuk ke wilayah mereka.

Berkali-kali pula Daiki mengatakan bahwa Tetsuya sama sekali tak bersalah. Ia paham bahwa Tetsuya pun mana tahu kalau orang asing yang ditemuinya merupakan musuh dalam selimutnya Taiga. Tapi tetap saja Daiki ikut merasa khawatir. Pasukannya siap perang. Namun ia tak dapat memprediksi akan seperti apa nantinya ketika sudah beradu desingan desingan peluru dengan pasukan pimpinan Himuro.

Firasatnya tak sedap.

"Kise, segera umumkan pada pasukan kita. Kita pergi esok hari."

"Mengapa terburu-buru, Sersan?

Itu tetsuya. Yang ikut mempertanyakan alasan hengkangnya pasukan lawan dari markas pemulihan.

"Aku sudah sehat. Tak ada alasan untuk tetap disini. Bukankah begitu, Kise?"

"Ah.. Y-ya, ssu."

"Segera, Kise. Segera beritahukan pada pasukan kita untuk bergegas."

Ryouta lenyap dari situ. Bersamaan dengan Tetsuya yang tadi sudah Daiki perintahkan untuk membantu Ryouta mengkondisikan persiapan kedua pasukan. Satu pasukan bersiap hengkang, satunya lagi bersiap perang.

Daiki mengekori Taiga yang masuk ke kamar. Membantu Taiga memakai pakaian kebesarannya, agak khawatir andaikata luka di bahu Taiga terbuka lagi.

"Bung Daiki…"

"Ya?"

"Segeralah lakukan persiapan. Pasukanmu kuat,Bung. Jangan sampai mati di tangan orang lain."

Sungguh-sungguh ia menatap mata Daiki. Berusaha mempertemukan maksudnya agar Daiki hanya hidup untuknya, dan hanya mati di tangannya. Nampaknya Daiki menangkap maksud Taiga tersebut. Menepuk pundaknya yang terluka dengan lembut sambil berujar.

"Hidupku hanya untuk menewaskanmu Bung, dan tewasku hanya di tanganmu."

.

.

.

"Akashi-sama. Kutemukan ini di wilayah hutan Daendels. Jasad-jasad batalyon satu sudah membusuk disana. Dimakan gagak dan dicuri serigala hutan. Dan inilah yang tersisa dari Sersan Taiga. Arisaka 38 miliknya. Namun maaf sebesar-besarnya, kami tak menemukan jasad Sersan Kagami Taiga."

Kaisar tertinggi yang memerintah Nippon di negara orang itu terdiam. Bukankah kematian Taiga terlampau cepat? Ia dan pasukannya setahu Kaisar itu bukanlah pasukan yang enteng disingkirkan. Beberapa pasukan kumpeni pun sering dibuat kewalahan memberantas batalyon pimpinan si macan merah.

Namun melihat Arisaka milik Taiga berada di tangan Himuro, bukan tak mungkin si sersan sudah tewas. Kaisar Akashi Seijuurou yang selalu berpikir kritis pun bukan mengelak kematian Taiga. Ia bukan pula seketika percaya bahwa Taiga mati semudah itu. Taiga itu orang kuat

"Buat batalyon pengganti. Secepatnya."

Ia bertitah. Menganggap tugas Taiga sudah usai meskipun Taiga sendiri masih belum dikonfirmasikan apakah masih hidup ataukah sudah tewas. Satu yang jadi alasan pengangkatan batalyon baru,tak lain dan tak bukan karena Si Kaisar sudah tak membutuhkan barang rongsokan.

Andaikata Taiga sudah tewas, maka pengangkatan batalyon baru memang diperlukan. Akan tetapi, andai kata Taiga masih hidup pun, Kaisar Akashi tak memerlukan sersan yang berhasil dikalahkan gerilyawan. Ia anggap tugas Taiga berakhir. Taiga tak akan diterima lagi dalam tatanan kepahlawanan. Ia gagal mengemban kewajiban. Gagal menunjukkan kesetiaan pada negerinya.

.

.

SUICCHON

.

Catatan Pojok :

Halo, selamat sore. Saya kembali lagi dengan chapter baru. :3

Ucapan terimakasih sekali buat mbak Nezumi shizuka yang sudah rela membetakan meskipun saya ngeyel kalo dibeta. Terus juga buat reader sekalian yang masih setia membaca fic ini. XD

Yang nanya LKDM kapan update, saya juga lagi bingung mau update kapan. Lain waktu saya update kalau sudah mantap hati XD sementara silahkan menikmati yang ada dulu

/halah

Bersedia mereview dengan kritik yang membangun?

Salam untuk kalian dan kapten wanita di luar sana,

.

Suicchon