Warning :

Mengandung unsur OOC, EYD (Ejaan Yang Diselewengkan), bahasan berat, unsur penyelewengan sejarah, dsb.

.

*SUICCHON*

"Bunuh semua yang masih hidup!"

Himuro kini sukses menjadi kapten batalyon satu yang baru. Membawahi para Nippon yang dulu sempat dibuang dari batalyon satu dan mereka yang menaruh dendam pada Kapten Macan Merah. Mereka mereka ini adalah prajurit rendahan yang termakan bualan Himuro soal kegagalan Kapten Taiga memerintah batalyon satu.

Batalyon satu yang lama sudah dicoret dari daftar para pejuang dan pahlawan pembela negeri. Dibuang begitu saja seolah jasadnya sudah dipatoki gagak-gagak berbulu legam. Memangnya siapa yang tidak hafal tabiat kaisar yang memerintah di tanah orang tersebut? Semua tahu Kaisar Akashi Seijuurou tidak menerima kekalahan maupun kesalahan.

Lantas kemana batalyon satu yang lama? Pasukannya tewas dibantai batalyon satu yang baru. Jasadnya berceceran di sepanjang Hutan Daendels. Beberapa dibuang ke laut dan ada pula yang diceburkan ke sumur. Ada pula yang kepalanya dipenggal dan dijadikan cindera mata sebagai simbol kebanggaan.

Kapten Taiga dipermalukan oleh abang tirinya sendiri. Ia dibuat kocar-kacir ke tengah hutan bersama ajudannya yang terluka parah. Ia terpaksa. Tubuhnya masih lemah dan tak mampu menghadapi pertempuran besar-besaran dengan bangsanya sendiri. Ia tak bisa kembali ke Kaisar Akashi. Batalyon satu sudah diganti begitu pula dengan kaptennya.

Perih sungguh hati Kapten Taiga begitu statusnya sebagai tangan kanan kepercayaan dicabut begitu saja. Seolah separuh jiwanya dicabut paksa dari raganya. Ia merasa dikhianati oleh bangsanya sendiri. Oleh orang-orang yang pernah ia anggap sebagai tempat untuk pulang. Mengingat ia dicampakkan begitu saja rasa rasanya bernafas pun menjadi sulit. Sesaklah dadanya oleh perih mengiris-iris.

Sebuah pohon mahoni yang rimbun ia jadikan tempat bersandar menepis lelah. Bersama ajudannya yang ia tidurkan di paha sambil ia perban bahu dan dadanya yang sempat tertebas bayonet milik Himuro. Si ajudan pirang meringis kesakitan tiap kali Taiga lilitkan sobekan kain yang berasal dari pakaian kebesarannya. Pakaian kebanggaannya kini simbol pengkhianatan. Taiga tak bimbang lagi merobeknya menjadi potongan-potongan kecil. Asal dapat berguna bagi seorang prajurit.

"Kagami sama. Tolong tinggalkan aku disini. Larilah sebelum mereka menemukan anda, Kagami sama…"

"Lari tanpamu sama saja cari mati, Kise. Aku butuh kau tetap berada di sisi pundakku."

"Kagami sama…"

Mati segan hidup tak mampu. Itulah kondisi keduanya. Bahu kiri Taiga lukanya kembali terbuka. Perban putih bersih yang sebelumnya dililitkan Daiki kini memerah penuh bercak-bercak. Taiga sebetulnya masih mampu menapakkan kakinya barang setapak dua tapak. Namun Ryouta tidak serupa kondisinya. Taiga tak bisa melangkah sendiri sementara Ryouta ia tinggalkan menjadi umpan kawan yang telah menjadi lawan.

Ketika matahari sudah berada di atas ubun-ubun, makin sulitlah kondisi keduanya. Teriknya panas bukan main, sementara sinar matahari menerobos seperti laser dari celah-celah dedaunan di pohon mahoni. Menghujani beberapa bagian tubuh keduanya yang terluka sehingga terasa perih dan panas tak terperi. Taiga masih sadar, namun setengah kesadaran Ryouta telah lenyap. Matanya terbuka lalu tertutup pelan beberapa kali dengan durasi matanya yang tertutup lebih lama dari matanya yang terbuka.

"Kise! Kise sadar!"

Ryouta terlalu lelah untuk membalas panggilan Si Sersan yang bahkan biasanya tak pernah ia abaikan. Bernafas saja terasa sesulit menelan jutaan liter air asin, apalagi membalas instruksi si kapten agar ia tetap sadar.

Digenggamlah tangan yang berlumuran darah itu. Tangan Taiga yang berada di pundak Ryouta. Tersenyumlah ia dengan segenap tenaga yang masih tersisa. Ingin menyampaikan bahwa Taiga tak perlu khawatir soal keadaan Ryouta. Bahwa ia baik-baik saja. Namun daripada disebut sebagai senyuman agar Taiga tak lagi menaruh rasa khawatir kepadanya, lebih sesuai apabila disebut sebagai senyum penyemangat. Agar kaptennya tetap hidup.

Ryouta dapat melihat Taiga yang berteriak menyebut namanya, namun tak dapat mendengar teriakan Taiga yang penuh kepiluan memecah hening hutan utara dekat wilayah pantai tersebut. Matanya tak lagi bertenaga untuk sekedar menahan kelopaknya untuk tetap terbuka. Ketika perlahan-lahan kelopak matanya turun, ia masih bisa melihat sekelompok orang dengan senjata lengkap berlari menuju pohon mahoni dimana ia terbaring.

Dan ia masih bisa melihat Taiga yang mencabut pistol luger milik Ryouta dan mengacungkan ke arah mereka sebelum terdengar suara letusan dari peluru terakhir yang mengusir burung camar yang hinggap di pohon tempat keduanya berlindung. Taiga yang masih berniat melindungi Ryouta untuk yang terakhir kalinya.

.

.

.

*SUICCHON*

.

.

Catatan Pojok :

Hai. Malam minggu nih. XD Saya kembali lagi dengan fic 'Perang' yang mana sudah mencapai chaapter 4. Chapter paling sedikit isinya XD

Yaa. Terimakasih bagi pihak pihak yang sudah terkait dengan pembuatan ini. Buat beta reader saya, Nezumi shizuka juga. Terimakasih saya ucapkan. Namamu tak pernah berhenti kusebut dalam fic yang telah engkau betakan pokoknya.

Salam buat kalian yang baca dan kapten wanita di seberang sana

.

Suicchon