Warning : Mengandung unsur typo, OOC, topik bahasan berat, dan unsur penyelewengan sejarah.

.

.

"PERANG"

Sebuah Kisah Di Balik Tirai Sejarah

"SUICCHON"

.

.

Daiki mengosongkan markasnya. Tiada satu nyawa pun tertinggal disana. Bahkan ibunya sudah ikut pergi dari kediaman mereka. Menuju rumah saudara sendirian. Padahal Daiki sudah bersikeras kalau pasukannya akan mengawal ibunya menuju wilayah pesisir pantai selatan kawasan Yogyakarta. Namun rupanya ibunda tangguh tersebut bersikeras untuk menempuh perjalanan sendirian. Daiki tak mampu membantah lagi, ibunya sudah hilang ditengah hutan sambil membawa serta busur panah lengkap dengan anak panah runcing yang siap dilontarkan.

Maka mafhum lah Daiki. Ia paham apa yang membuat almarhum bapaknya jatuh cinta pada ibunya. Ibunya adalah wanita tangguh yang mandiri, yang mampu berpijak dengan tidak menggantungkan diri pada siapapun. Ibunya bukan hanya seorang wanita penuh sopan santun, namun penuh ketegaran dan ketangguhan sebagai seorang istri kapten yang pernah berkhianat pada negerinya sendiri, juga sangat pantas sebagai ibu seorang kapten belia yang namanya dapat menggentarkan pasukan paling elit bawahan nippon.

Dipanggil lah Daiki dan pasukannya untuk diajak beraliansi dan berkongsi. Membentuk sebuah kelompok tidak resmi yang beranggotakan pemuda pemuda gerilyawan seperti dirinya. Ia bersama kelompok kelompok gerilyawan lain berkumpul membentuk satu tembok kokoh sekokoh baja. Dengan para pemimpin-pemimpin pemberani yang siap mengobarkan semangat kawan kawan gerilyawan.

Suatu kelompok yang memang tidak terjun ke peperangan, menyebut diri mereka sebagai golongan muda, adalah para cendekia-cendekia muda yang mempunya satu misi untuk memerdekakan negeri. Mereka adalah para pemikir, dan para penyusun strategi bagaimana agar negeri mereka terbebas dari belenggu penjajahan.

Dan disitulah pemimpin mereka! Berpidato dalam rapat kecil yang berisi pimpinan-pimpinan pasukan gerilyawan. Mengobarkan semangat para pemimpin untuk terus memperjuangkan kebebasan.

"Saudara-saudara sekalian! Jepang baru saja dikalahkan oleh kelompok sekutu. Kota mereka di bom atom! Nagasaki dan Hiroshima sudah luluh lantak oleh bom yang dijatuhkan dari udara! Namun bukan berarti negeri kita akan segera terbebas dari belenggu mereka! Jepang memang sudah kalah! Namun siapa yang bisa yakin kalau pasukan yang masih tersisa di negeri kita akan turut menyerahkan diri pada sekutu?"

Riuh rendah menyambut pidato yang menginformasikan kekalahan Jepang dari sekutu tersebut.

"Sebaiknya kita berantas saja pasukan pasukan nippon yang masih berada disini. Biar mereka tak ada harapan lagi untuk menang."

Banyak yang menyetujui usul salah seorang kapten tersebut. Termasuk Daiki.

"Apa saudara saudara sekalian sudah mendengar beritanya?"

Situasinya berkalang hening.

"Proklamasi sudah direncanakan untuk digelar, saudara-saudara. Namun ketentuan hari dan tanggalnya masih belum diketaahui. Bisa dibilang saat ini masih tahap perencanaan."

"Tapi kalau terlalu lama nanti bisa bisa pihak nippon keburu menyerahkan negara kita pada sekutu sebagai salah satu aset mereka! Berhubung negara kita masih dianggap sebagai salah satu wilayah mereka! Bagaimana ini saudara-saudara?"

Itu kapten gerilyawan tangguh yang berasal dari wilayah paling timur pulau jawa.

"Siapa yang akan memproklamasikan kemerdekaan kita nanti?", itu daiki yang mewakili pertanyaan kapten kapten kelompok lain.

"Ir. Soekarno. Kami sudah setuju beliau yang akan memproklamasikan. Namun yang bersangkutan sendiri kita masih belum tahu." Sang ketua golongan muda angkat bicara lagi.

"Bagaimana kalau rupanya beliau tak bersedia, bung? Bagaimana kalau rupanya proklamasi itu hanya sebatas rencana dan negeri kita sudah jauh di tangan sekutu?"

"Tak ada cara lain kalau begitu.."

Semua mendengarkan dengan seksama apa yang akan ketua golongan muda tersebut titahkan selanjutnya.

"Culik bung karno! Bawa ke rengasdengklok! Dan untuk saudara saudara pemuda sekalian yang berada disini, saya dan kelompok saya meminta bantuan audara saudara sekalian untuk memuluskan pemboikotan ini. Demi negeri kita!"

Riuh sorakan sorakan membahana dari dalam aula kecil tempat diadakannya rapat.

.

.

.

Pembagian tugas sudah diputuskan, beberapa kelompok bahkan sudah bergerak memulai pemboikotaan. Daiki dan anak buah pilihannya serta tetsuya ditugaaskan mengamankan jalur menuju rengasdengklok. Rupa rupanya pihak nippon sudah mendengar berita soal proklamasi tersebut. Jadilah perseteruan besar antara pihak nippon yang masih ingin berkuasa, pihak sekutu yang merasa seharusnya mereka lah yang berkuasa, serta pihak anak bangsa yang tidak ingin dikuasai siapapun.

Jalur yang akan dilalui para pihak penculik tersebut sudah dirediksi akan bebas dari ancaman pihak manapun. Berhubung proses penculikan serta penyabotase terhadap rencana proklamasi masih belum tercium pihak-pihak musuh. Namun tetap saja pengawalan serta pengamanan jalur tetap dilaksanakan sebagai pencegahan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.

Anggota golongan muda sendiri sudah dipecah menjadi beberapa bagian, ada yang bertugas menculik sasaran utama, ada pula perwakilan yang diturunkan bersama kelompok gerilyawan untuk menyusun strategi dan mengarahkan tahapan-tahapan sabotase agar tak menarik perhatian pihak lawan.

Daiki yang sudah siap dengan senapan berisi misil komplit. Ada pula Tetsuya yang sudah melengkapi dan menyempurnakan gaya menembaknya agar tak tercium musuh. Pada akhirnya, rajawali Bimasakti adalah kelompok yang paling diperhitungkan dalam misi besar kali ini. Selain karena pimpinannya adalah daiki, juga karena prajurit prajuritnya sudah tersohor akan kekompakan dan kemampuannya dalam memberantas nippon maupun kompeni.

Saat itu adalah waktu selepas maghrib. Sesudah makan perbekalan yang dibawa, bersiaplah mereka dengan formasi menyebar di jalur yang akan dilalui pasukan penculik calon orang nomor satu tersebut. Desa desanya sunyi, begitu pula hutan yang akan dilalui. Kondisi yang cocok agar tidak menarik perhatian lawan. Sengaja mereka pilih jalur-jaur yang sepi, yang tidak menjadi protokol jalur yang umum dilalui Nippon maupun Kompeni.

Dari kejauhan nampaklah dua buah mobil jeep hitam yang melaju tidak terlalu kencaang. Pasukan pasukan Daiki seluruhnya siap siaga memegang senjata. Merasa ini lah momentum paling penting dalam proses misi besar anak bangsa tersebut. Mobil-mobil jeep tersebut memelankan lajunya hingga berhentilah di tengah jalur menuju rengasdengklok yang melewati hutan tersebut.

Sejauh ini berjalan lancar.

Daiki keluar dari persembunyiannya, mengangkat senjata bersiap memberikan penghormatan dan laporan bahwa ia menjalankan tugasnya dengan baik.

Ketika mobil berhenti, daiki menunduk. Memberikan salam khas warga warga nippon. Ingin ia menunjukkan bahwa tidak semua Nippon adalah musuh.

DORR!

Sebuah peluru mendesing tidak sampai tiga detik setelah pintu jeep tersebut terbuka. Darah mengalir melalui lubang yang sukses disarangi peluru.

"Kapteeeen Daikiiiiii!"

Teriakan Tetsuya membahana, menggerakkan prajurit lain keluar dari persembunyiannya setelah mendengar letusan senjata api tepat seusai Daiki menunduk untuk menghaturkan penghormatannya. Tetsuya kalang kabut, dan prajurit yan lain melompat-lompat dari balik persembunyian.

Si korban penembakan jatuh tersungkur dengan kepala bocor berlubang, mengucurkan darah yang masih hangat.

"KAPTEEN MENYIGKIR!"

Sekali lagi Tetsuya berteriak menyerukan status kaptennya dengan amat lantang.

Baku hantam tak terelakkan.

Desingan peluru dimana-mana.

"MATI SAJA KAU DAIKI!"

Rupanya itu Himuro. Sosoknya keluar dari jeep hitam di belakang jasad anak buahnya yang tadi disarangi peluru tetsuya.

Kedua kapten berdarah Nippon tersebut terlibat perkelahian. Daiki yang sempat lengah tidak sempat mencabut Senapannya dan hanya mempertahankan diri dari hantaman kapten Himuro yang menghujaninya dengan pukulan bertubi-tubi.

Barang sekali dua kali Daiki masih bisa mengelak. Namun tak jarang juga wajahnya terkena hantaman dari Himuro.

"Dasar Nippon goblok! Aku bahkan bisa mengalahkamu dalam sekali tiupan nafas!" ujar Daiki jumawa

"Kau yang goblok, dasar penghianat! Bisa bisanya Si Goblok Taiga itu tak mampu mengalahkan kutu kupret sepertimu. Dasar kalian lemah."

"BANGSAAAATTTT KAU!"

Pasukan lainnya terlibat saling tembak dan saling pukul. Tetsuya sendiri sudah beradu tembak dengan mantan tangan kaanan Kaisar Akashi yang sekarang rela turun pangkat dengan menjadi ajudan Himuro tatsuya. Prajurit yang dikenal dengan sebutan Raksasa Nippon. Prajurit ungu bernama Murasakibara Atsushi.

Ketika wajah halus yang sangat digemari noni-noni kompeni itu terhantam tendangan kaki bersepatu karet kuat dan terjungkal menghantam bemper jeep, segeralah Daiki mengambil langkah seribu, berguling dan berlindung di balik salah satu kediaman penduduk sipil.

Sambil menyeka darah yang menganak sungai di sisi bibirnya, Himuro bangkit. mencabut senapan Arisaka 38 yang sebelumnya dibawah kepemilikn Taiga, lalu berjalan waspada mencari sasaran yang kepalanya ia rencanakan untuk dipajang diatas perapian.

"Jahanam lelaki itu! Tak kusangka ia lumayan juga."

Setengah pikirannya melayang ke pasukannya, setengahnya lagi berakhir kebingunga memikirkan bagaimana taktik mengalahkan pasukan yang kini seluruhnya telah disemati simbol 'Batalyon Satu' serta kaptennya yang baru dilantik tersebut. Selain kebingungan memikirkan taktik sendirian tanpa Tetsuya, bingung juga Daiki melihat wajah wajah baru batalyon satu. Mengapa secepat itu batalyon tangguh yang namanya saja kerap membuat Daiki merinding digantikan.

Ia keluar, berarti resiko mati bisa terjadi kapan saja. Namun tak tahan pula Daiki terus menjadi pengecut yang bersembunyi di balik salah satu kediaman warga sementara pasukannya serta ajudannya berperang mati-matian. Sungguh Daiki malu sebagai kapten.

Terlebih, misinya belum berakhir dan belum berhasil. Calon bapak negara itu bisa saja lewat daerah yang menjdai medan perang Daiki saat ini. Ia gagal sebagai pembela negara kalau ia sampai membiarkan misi kali ini gaagal dan membuat calon orang nomor wahid tersebut tergores sedikit saja.

Setelah tekadnya bulat benar, tak tergoyahkan, Daiki keluar dari tempat persembunyiannya. Berdiri kokoh menantang Kapten Himuro. Rupanya berdiri tak jauh darinya.

"Sini maju kapten tampan."

Daiki menyeringai.

Tak sampai tiga detik, dua senapan yang biasanya saling beradu itu mengeluarkan misilnya masing-masing. Kondisi Daiki lebih menguntungkan karena ia lebih terlatih di medan perang daripada Himuro yang terus-terusan bermain aman dengan menjual bualan kemana-mana.

Kedua pasukan juga sudah mengerahkan banyak kemampuannya, alur peperangan belum dikuasai siapapun setelah beberapa puluh menit. Namun setelah sekian lama pasukan-pasukan tumbang satu persatu, barulah nampak bahwa pasukan Daiki sangat kalah jumlah serta kalah persenjataan.

Prajurit-prajurit Nippon nampak bagai tak ada habisnya, dan prajurit bawahan daiki satu persatu tumbang di bombardir peluru-peluru yang seolah tak berkesudahan. Lama peperangan tersebut membelah malam, hingga kemudian pasukan Daiki terdesak tanpa bisa Daiki selamatkan.

Mana mampu ia bagi waktu untuk sekedar melirik pasukannya ketika matanya selalu waspada mencari celah utuk menghindari lontaran peluru dari musuh barunya.

Ketika tengah bersembunyi menghindari tembakan, nampaklah tetsuya yang tengah terengah-engah dengan jalan terpincang-pincang karena pahanya tertembak peluru Murasakibara. Untung ia diberkahi hawa keberadaan yang tipis sehingga membuat lawannya tak memperhitungkan celah ketika tetsuya kabur bersembunyi dengan jalan terpincang pincang dan darah yang mengalir.

Daiki pun mulai terdesak ketika ia sadar pelurunya hanya tinggal dua biji. Artinya, salah perhitungan sedikit ia bisa punah seketika.

Dan juga berarti ia gagal memenuhi janjinya pada Kapten 'Macan Merah' yang entah dimana keberadaannya.

"Mati kau, penghianat!"

Sebelum sempat memperhitungkan taktik selanjutnya, sebuah peluru sudah melayang menembus kulit Daiki.

Daiki tersungkur dengan darah segar mengucur tak berkesudahan

.

.

.

Catatan Pojok :

Selamat siang menjelang sore. Saya kembali lagi setelah sempat lama tidak post apapun. XD yaa itulah kebiasaan saya. keren kan?

/ndiasmu.

ini adalah chapter lima. chapter yang sesungguhnya sudah lama saya tulis dan saya betakan pada Nezumi Shizuka sensei. namun ternyata hasil betaan beliau hilang entah kemana. :') akhirya saya bongkar file orisinil saya dan saya minta tolong adek lelaki saya untuk membetakan. Kebetulan si otouto senang baca ffn.

beribu maaf andaikata banyak typo menyebar dan lain sebagainya.

untuk Nezumi Shizuka sensei, maaf aku menghilangkan kerja kerasmu. Jangan kapok ya, sensei :')

/nangis