Chapter 5 (New Live)
My Little Monster
.
.
.
.
Pair : NaruHina
Rate : T
Author:NH-Chan
Genre : Romance
Disclaimer : Masashi Kishimoto
WARNING!: abal",gaje,typo bertebaran,banyak pengulangan kata,AU,OOC,bikin muntah Dan lain sebagainya, silahkan pencet tombol keluar sebelum terjebak dengan kisah ini.
.
.
.
Don't like huh!, Just close you'r eyes!
.
.
.
~Oo~My Little Monster~oO~
Seorang wanita berlari tergesa-gesa untuk mencapai pintu cafe yang tertutup rapat, dia membukanya dan segera mencari sesosok makhluk pirang dengan kepala bak durian itu, 'hah! Tenyata dia belum datang.' gumamnya setelah indra penglihatannya tidak menemukan sosok tersebut.
"Yokatta!" Uacapan syukur yang ditunjukan untuk kamisama.
"Apanya yang yokatta?" Dia pun dikejutkan dengan suara bariton yang tiba-tiba berada dibelakangnya tersebut, oh itu dia, orang yang dia syukuri belum datang kini berada tepat dibelakangnya.
"A-ah tidak ada." Ucapnya sambil nyengir kuda.
Pria itu berjalan kearah meja yang sudah di pesannya dan diikuti oleh gadis bersurai indigo dibelakangnya.
"Kenapa kau berjalan di belakangku?"
"E-eh e-etto" tanpa aba-aba pria itu menggenggam tangan wanita itu untuk berjalan disampingnya, tanpa ia sadari efeknya bagi gadis itu begitu besar, lihat saja wajah wanita itu sudah merah seperti kepiting rebus.
Hinata tidak berani menoleh kesamping, dia hanya menunduk menyembunyikan rona diwajahnya dan membiarkan Naruto menggiringnya kearah meja.
Suasana begitu sepi di cafe seolah tau apa yang dirasakan wanita itu, tegang? tentu saja dia bahkan belum tau apa yang harus dijawabnya.
"Jadi apa jawabanmu?" Pertanyaan yang ditakuti oleh Hinata pun akhirnya keluar,bahkan Naruto tanpa basa-basi terlebih dahulu untuk menanyakanya, sepertinya memang hanya itu tujuan Naruto.
"..." Hinata hanya diam,bingung ingin menjawab apa, memang sih dia diberikan waktu sehari untuk berfikir tapi seharian kemarin dia tidak ada waktu untuk berfikir.
Kemaren setelah pulang dari cafe, Neji mengomelinya dan berkata bahwa "kau tidak boleh membawa motor ninja seperti itu!" Hinata hanya mengangguk patuh, setelah itu dia harus membuat makan malam untuk keluarga. Dia pun makan bersama keluarga tercintanya sehabis itu dia kelelahan dan akhirnya tidur dengan perut kenyang, paginya ia harus membuat sarapan dan segera pergi bekerja karena hampir telat, di kantor dia disibukan dengan kertas yang menumpuk sehingga sekarang dia tidak tau ingin menjawab apa.
"Jadi.." Pria itu mengulangi kata-katanya.
'Bagaimana ini apa yang harus aku jawab?, apa aku terima saja yah? dengan gajih sebanyak itu aku bisa membantu keluargaku, tapi jika aku terima bagaimana dengan nasib sekertais lamanya? ' Sebenarnya sih Hinata mau saja menerimanya tapi mengingat kerja keras sang sekertaris untuk mendapatkan posisi tersebut membuat Hinata merasa iba.
"Jadi bagaimana?"Ucapnya lagi untuk menyadarkan wanita didepannya ini.
"..."
SYUNGG~
Lagi-lagi hanya angin yang menjawab pertanyaanya.
CUKUP! Naruto mulai geram dengan sifat Hinata yang satu ini, dia kan hanya tinggal menjawab YES or NO, hhemm author meragukan untuk pilihan NO sepertinya dikamus Naruto tidak ada kata NO jika dia menginginkan sesuatu,dia pasti mendapatkannya.
"Jika kau tidak menjawab akanku pecat kau!" Mendengar kata 'pecat' (yahh kalian tau lah) Hinata langsung menegakan kepalanya menatap shapier Naruto Dengan ekspresi kaget tampak jelas diwajah ayunya, badannya pun menegang.
'Hahaha, senang sekali menggodanya.' Naruto merasa terhibur melihat ekspresi Hinata saat ini.
"TI-TIDAK." Jawab Hinata spontan karena kaget, (tuh kan otaknya jadi encer).
sungguh Naruto ingin tertawa terbahak-bahak saat ini,sepertinya mengerjai Hinata menjadi hobby baru buat Naruto.
"Tidak, sa-saya menolak untuk menjadi sekertaris bapak." Untung saja jawaban spontan Hinata memang yang sudah ia pikirkan matang-matang.
"Yakiinnn?" Ucap Naruto yang ingin meruntuhkan keyakinan Hinata.
"Ya,saya yakin." Jawabnya mantap. Naruto menyeringai
"Mou...mou sayang sekali padahal aku ingin kau menjadi asisten pribadiku dan tidak menjadikanmu sekertarisku."Kata Naruto sambil memasang wajah pura-pura kecewa.
Hinata terbelalak 'apa dia bilang? Jadi asisten pribadinya saja? Dan bagaimana tentang sekertaris?'
"Pak tadi anda bilang tidak menjadi sekertaris?"Tanyanya untuk meyakinkan diri.
Naruto menyeringai 'sepertinya aku mendapatkan umpananku' gumamnya.
"Iya, kau hanya menjadi asisten pribadiku,dan gajihmu? Jangan khawatir, seperti janjiku aku akan menaikan 5 kali lipat. Apa kau berubah pikiran?"Naruto tersenyum merasa targetnya akan memakan umpannya
Hinata menunduk berfikir sejenak.'Apa aku harus menerimanya?, oh tidak mungkin, aku sudah menolaknya tadi,tapi jika aku menerimanya... Oh tidak tidak aku sudah menolaknya malu sekali aku jika tiba-tiba aku menerimanya kesannya aku seperti anak kecil yang mudah dibujuk.'
"Sa-sa-saya te-tetap ti-tidak ma-mau" 'oh shit, betapa susahnya mengeluarkan suara ketika itu berbeda dengan hatimu.'
"Yakin?"
"I-i-iya" jawab Hinata ragu.
"Ah, serpertinya kau ragu degan jawabanmu, baiklah sekali lagi aku tanya, apa kau berubah fikiran?" Hinata menunduk masih berfikir 'ini kesempataan terakhir buat dirinya,apa yang harus ia jawab?'.
"Dalam hitungan ke-3 kau tidak menjawab akanku pecat kau!."
"Satu, du-"
"YA,SAYA MAU" Hinata langsung menutup mulutnya karena keceplosan, 'oh ya ampun kenapa denganku, setiap mendengar kata 'pecat' aku langsung mengeluarkan isi di hatiku ,itu bukan sekali bahkan itu dua kali, apa aku di hipnotis yah?'
"Baiklah, karena kau sudah menerimanya silahkan tanda tangan disyarat kerja sama ini" 'mission success' inner Naruto berteriak,yap Naruto berhasil mendapatkan targetnya.
"Ta-tapi tadi saya kaget jadi jawab seperti itu."
"Tapi aku tidak mengejutkanmu!" Jawab Naruto tidak mau kalah.
"Ta-tapi itu jawaban spontan saya, jadi saya tidak sengaja menjawab itu." Balas Hinata tidak mau kalah juga.
"Tidak,tidak bisa, jawaban yang sudah disepakati oleh kedua belah pihak tidak bisa ditarik kembali!."
Hinata memandang Naruto geram, sebelum akhirnya dia menunduk,memejamkan matanya dan menghela nafas untuk mengurangi emosi yang bergejolak didalam dirinya. 'Sudah lah, toh lagi pula itu tak merugikan bagiku.' Gumam Hinata menyerah.
Akhinya dia mengambil dua lembar Kertas dan sebatang pulpen yang di sodorkan oleh Naruto.
"Pak,saya tidak menjadi sekertaris bapak kan?"Tanya Hinata dengan tatapan mengintimidasi.
"Ya ampun, apa ucapanku kurang jelas nona,apa perluku ulangi lagi?"
"Tidak perlu"
Hinata pun tanpa pikir panjang menandatangani kertas tepat dibawah pojok kanan kertas karena yang dipojok kiri sudah ditangani oleh Naruto, yang membingungkan sekarang, kenapa ada dua lembar kertas?.
"Pak kenapa ada dua lembar kertas?"
"Tentu saja untuk mu satu dan aku satu, dan pastinya untuk berjaga-jaga jika kau merobeknya setidaknya masih ada punyaku sebagai bukti."
"Tapi pak jika punya bapak robek dan punya saya robek? Itu berarti kontrak kita batalkan?"
"Saya tidak akan membiarkan kertas itu robek, kalu perlu saya akan laminating agar tidak basah oh atau aku masukan berangkas saja yah?" Hinata dibuat sweat drop oleh Naruto 'sepenting itukah kertasnya?' Pikir Hinata.
Hinata menyerahkan kertas yang sudah ia tanda tangani kepada Naruto dan satu lagi ia simpan dalam tas.
"Kau tidak ingin membacanya?"
"Tidak,saya akan baca dirumah." Hinata mengambil coffe vanilla latte yang sudah ia pesan tadi dan menyeruputnya dengan nikmat,setelah itu ia taruh kembali.
"Ok,baguslah kalau begitu." 'baguslah?' Hinata dibuat curiga dengan perkataan Naruto. Apa isinya yah?, tapi kecurigaan itu lenyap karena tiba-tiba bunyi handphone yang berdering.
Drrtttt...drrrttt...drrrttt
mereka pun secara bersamaan merogoh saku untuk mencari HP yang berdering,dan ternyata handphone itu milik Naruto.
"Moshi-moshi"
"..."
"Kenapa kau tidak memberitahuku!"
"..."
"Ah pantas saja, lain kali telphon saja aku, aku jarang membuka pesan."
"..."
"Ya,ya,kapan rapatnya di mulai?"
"..."
"40 menit lagi! Tidak bisa kah kau saja yang menghadirinya Shika?"
"..."
"Yah,yah baiklah aku akan segera kesana!"
"...-"
Tuuutt...tuuuttt...tuuuttt
Naruto memutuskan telephon secara sepihak dan kembali menatap Hinata.
"Baiklah, nona sepertinya aku tidak bisa berlama-lama disini, sampai bertemu lagi nona."
"Oh yah!, satu lagi kau tidak usah berbicara seformal itu bila diluar kantor OK, ja mata~"
Hinata hanya tersenyum menatap pungung Naruto yang semakin menjauh.
.
.
.
.
.
"Hah!" Hinata menghela nafas lega karena urusannya telah selesai (yakin sudah selesai).
Sekarang ia berada dirumahnya sedang melepaskan penat di kasurnya.
Ting!
Sebuah pesan masuk di smartphone yang ia miliki. Tangannya bergerak mengambil handphone yang terletak diatas Nakas,dan dengan lincah jarinya menyentuh layar smartphonenya.
FROM: CEO
Ah Hinata aku lupa sesuatu, aku akan mengirim orangku kerumahmu untuk membatu membereskan barang2 mu. Aku juga akan menjemputmu nanti.
'Hah? Untuk apa?' Gumam Hinata sambil menghentikan bacaanya, dia pun lanjut membaca pesan yang menurutnya ambigu.
Jika kau bertanya 'untuk apa?' Sepertiya kau belum membaca persyaratan kita, silahkan nona baca NO.2 di persyaratan kita.
Hinata langsung berlari mencari kertas yang ber-isi persyaratan kerja samanya, di setiap persyaratan yang ia baca keningnya pasti berkerut dan sekali-kali dia menggerutu.
"WHAT THE HELL..." Teriaknya begitu selesai membaca semua isi persyaratannya.
Ting..tong...ting..tong.
Merasa ada tamu dibawah Hinata segera turun meskipun dirinya masih shock dengan persyaratan yang sudah Ia tanda tangani.
CKLEK
"Apakah anda Hyuga Hinata?" Kata seorang laki-laki dengan jas yang rapi.
"Ya ,anda siapa?" Hinata menatap laki-laki itu dengan pandangan bertanya.
"Oh, Hajimemashite watashiwa Hajime desu, saya adalah orang yang disuruh oleh bos saya untuk membantu membereskan barang-barang anda."
'Secepat itu?,aku tidak mau ikut, tapi hey setidaknya dia memberiku pelayan perempuan, tidak mungkinkan cowok ini membantuku menyimpuni pakaianku? Oh tunggu itu bisa jadi alasanku untuk tidak ikut bersamanya.'
"Apakah ada pelayan wanita? Aku tidak mau jika cowok yang membantuku!" Titah Hinata sambil melipatkan tangannya di depan dada.
"Hemm..Hinata-sama kami tidak mempunyai pelayan wanita semejak bos saya memecat setiap pelayan wanita yang berkeraja dengannya." Tutur pelayan bernama Hajime, mengundang pertanyaan dari Hinata.
"Mengapa dia memecatnya?"
"Soal itu kami tidak tau Hinata-sama."Hajime membungkuk dengan tangan kanan yang menempel didadanya, yah layaknya pelayan yang sedang menghormati majikannya
"Ah, aku tidak peduli, aku hanya ingin pelayan wanita bukan pria!"Bentak Hinata ngotot.
"Hinata-sama saya sudah diperintah oleh bos saya jika anda keras kepala saya akan memaksa masuk. Dimana kamar anda?"
"Tentu saja aku tidak akan memberitahunya."Kata Hinata sambil tersenyum mengejek mersa ia akan menang.
"Kalian! Cepat cari kamar wanita ini!"
"HA'I"
Hinata terkejut ternyata pelayan itu tidak sendiri dia membawa pasukan kurang lebih 20 orang, mereka memaksa masuk dan membuka satu persatu pintu ruangan yang ada di rumah sederhana itu. Hinata mulai berkeringat dingin.
"Apa yang kalian lakukan?" Tanya Hinata ketakutan, tapi tidak satu pun dari mereka mengubris ucapan Hinata
"Bos, saya menemukannya!" Teriak seorang berbadan tegap, besar dan tentu saja berotot dari lantai atas.
"Apa kau sudah memeriksanya!" Tanya Hajime dari lantai bawah.
"Belum, tapi disini ada nama nona itu!" 'Terkutuklah engkau Hinata, kenapa kau memberi nama didepan pintu kamarmu.'
"Baiklah, cepat bereskan barang-barangnya!" Printah. Hajime yang dijawab serempak oleh anak buahnya.
"Hinata kenapa banyak mobil..." Tanya Neji terayun sambil melihat kebelakang tapi setelah berbalik untuk melihat wajah adiknya betapa terkejutnya dia melihat keadaan rumah seperti kapal pecah.
"APA YANG TERJADI?" Teriaknya segera begitu melihat sekelompok orang. Menggeledah rumahnya.
"Huuuueeee... Neji-nii tolong akuuu, Neji-niii...hiks..hiks" Hinata berlari menghambur kepelukan Neji meminta perlindungan, padahal itu hanya sia-sia karena Neji sendirilah yang merencanakan ini meskipun Neji sendiri belum tau itu.
"Permisiiihhh!"Terdengar suara bariton dari arah pintu, membuat Neji dan Hinata menoleh secara berjamaah.
"Bos anda sudah datang."
"Woohhhoo! ada apa dengan rumah ini? Kenapa jadi seperti ini?"Naruto menjererit Histeris.
Muncul perempat-an siku dikepala Hinata.'Ini semua karenamu duren.' Inner Hinata Neji, masih tercengang melihat cowok di ambang pintu itu.
"KAUU!" Triaknya segera setelah mencerna apa yang terjadi.
"Neji-nii mengenalnya?" Tanya Hinata tapi tidak di hiraukan.
"Ah, Neji ternyata benar dugaanku kau adalah kakaknya." Ucap pria itu sambil memegang dagunya dengan tangan kanan nya.
"Jangan bilang-" Neji langsung mendekat kearah Naruto dan menyertnya agar menjauh dari tempat tadi.
"Jangan bilang kalau wanita itu-"seolah tau apa yang dikatakan Neji, Naruto langsung memotongnya.
"Iya wanita itu adikmu,dia adikmu kan?" Tanya Naruto yang di balas teriakan dari Neji.
"KENAPA KAU TIDAK MEMBERITAHUKAN AKU?!" Naruto menatap Neji horor.
"A-aku ma-mau memberi ta-tahumu ta-tapi ga-gadis be-bercepol dua itu me-memotong u-ucapanku"akhirnya selesai juga kalimat itu, bahkan gagap Naruto lebih parah dari Hinata.
"Dan apa-apaan itu, orang yang kau suruh?,membuat rumahku hancur seperti ini!" Ucapnya masih marah tapi setidaknya nadanya 'sedikit' rendah dari pada yang tadi, INGAT 'sedikit' bukan lebih.
"Ta-tapi ini semuakan rencanamu Neji"balas Naruto
Neji menunduk sambil memijat kepalanya yang sedikit pusing, yah semuanya memang rencananya, tapi dia Tidak menyangka bahwa wanita itu adalah adiknya, jadi secara tidak langsung dia lah yang memulai semua ini.
"Baiklah Naruto aku akan meyakinkan adikku untuk mengikutimu, tapi awas kau berani macam-macam dengannya."
"Tenang saja Neji aku tidak akan berbuat macam-macam dengannya. Tapi jika aku bisa menahannya." Katanya sambil menampakan senyum lima jarinya seketika senyuman itu luntur, kala melihat kilatan cahaya dari mata Neji.
"Be-bercanda." Ucapnya kikuk.
Neji pun melangkah pergi meninggalkan Naruto yang masih tertawa hambar, dia berjalan mendekati Hinata.
"Hinata bisa kita bicara."
"Ha'I, apa yang ingin kau bicarakan Neji-nii" tanya Hinata.
"Ikutlah dengannya!" 'What apa aku tidak salah dengar?,Neji-nii menyuruhku ikut dengan dia, aku curiga apa yang mereka bicarakan tadi?, lagi pula kenapa mereka saling kenal?.'
"Neji-nii kenapa Neji-nii bisa mengenal bosku?"
"Dia adalah pasienku Hinata, apa dia belum memberitahumu apa yang dideritanya?" Tanya dibalas gelengan kepala dan gumaman dari Hinata.
"Pasti dia akan memberitahumu nanti."
'Hah dia mempunyai penyakit?,atau jangan-jangan dia menyuruhku ikut denganya untuk menikah denganku karena umurnya sudah tidak penjang jadi dia ingin memberikan pewaris sebelum dia meninggalkan dunia ini. Hiiiiiiii mengerikan' gumam Hinata sambil begidik ngeri.
"Aku tidak mau Neji-nii" tolak Hinata.
"Hinata, dia memiliki penyakit langka yang inginku teliti, jadi tolong kau ikut denganya."Ahh jika sudah seperti ini mana mungkin Hinata menolak, apalagi Neji memohon padanya.
"Baiklah Neji-nii."
.
.
.
.
.
Hinata melirik kearah luar jendela mobil, maniknya memperhatikan satu-persatu mobil yang telah ia lewati, sekali-kali dia membuka kaca mobil dan mengeluarkan tangannya.
Yah sekarang Hinata berada dalam mobil mewah milik Naruto, mereka menuju ke kediaman -tiba Hinata teringat, dia belum membereskan pakaiannya,tidak mungkinkan orang-orang Naruto yang membereskannya, secara mereka semua laki-laki sedangkan dia adalah perempuan yang berarti mempunyai pakain dalam wanita. 'Oh tidak bagaimana ini?' Pikirnya.
"P-pak!" Panggil Hinata sambil mengalihkan pandangannya kearah Naruto yang sedang berkonsenterasi menyetir.
"Ah Hinata, aku kan sudah bilang tidak perlu seformal ini jika diluar kantor! Panggil saja Namaku ttebayo!"Katanya masih memandang kearah depan. Mungkin jika keadaan nya tidak seperti ini dia akan tertawa mendengar kata 'ttebayo' dari Naruto, tapi tidak saat ini.
"Ta-tapi pak-"
"AAA- aku tidak mau mendengar-AAA" kata Naruto sambil berteriak 'A' agar tidak mendengar Hinata.
"Paaaakk tapiii-"
"AAA aku tidak bisa mendengar AAA" Hinata mulai memandang Naruto geram.
"AKU TIDAK TAU NAMAMU, KEPALA DUREN!." Teriak Hinata yang dibalas tatapan tajam dari Naruto tapi Hinata tidak takut dia malah membalas menatap tajam Naruto.
Mereka terus melempar tatapan menusuk seakan ada petir yang keluar dari mata mereka. Sedetik kemudian mereka secara bersama-an membuang muka dan mendengus kesal.
"Baiklah NONA Hinata, kali ini aku memaafkan mu, Namaku UZUMAKI NARUTO." Ucapnya penuh dengan Nada penekanan.
"Hah!" Hinata hanya menghela nafas, hilang sudah moodnya untuk menanya kan soal pakaiannya, dia akan menanyakannya nanti saja, saat ini dia benar-benar lelah dengan semua kejadian tak terduga yang ia alami, matanya pun terasa sangat berat, akhirnya dia tertidur lelap .
"eenghh.." Lenguh Hinata merasa tidurnya di ganggu.
Hinata pun membuka mata, ternyata tadi mobilnya melewati polisi tidur, tak lama mobil itu berhenti tepat disamping apartement mewah sangat mewah.
"Oh kau sudah bangun, kalau begitu ayo turun kita sudah sampai!"
Hinata akhirnya turun dari mobil itu, betapa terkejutnya dia tatkala melihat apartement mewah ini.
"Welcome to my castle Hinata-Hime."
Bagaimana kah kehidupan mereka berdua setelah tinggal bersama?
.
.
.
.
.
TBC
Omake
Naruto menggeser posisi duduknya agar bisa mendengar rencana yang Neji rencanakan.
"Jadi begini,kau bilang dia kerja diperusahaanmukan?" Ucap Neji.
"Emm,memangnya kenapa?"
"Baguslah,itu akan memudahkan kita menjalankan rencana ini." Neji tersenyum puas. Sedangkan Naruto menatap bingung kearah Neji.
"Memangnya apa rencanamu?"
"Begini, kau minta dia untuk menjadi sekertaris dan asisten pribadimu, dan membuatnya untuk menyetujui syarat kerja sama antara kalian."
"Syarat seperti apa?"
"Itu terserah kau, tapi yang jelas disyarat itu kau harus membuat dia berkerja 24 jam yang berarti dia harus terus berada disampingmu dan tinggal bersamamu."
"Tapi,jika dia menolaknya setelah baca syarat itu?"
"Itu semua tergantung, jika dia membacanya tamatlah riwayatmu, tapi jika dia langsung menandatanganinya dan tidak membacanya kau beruntung."
"Aish kau ini, bukan kah kau yang merencanakannya?"
"Memang,tapi tidak mungkinkan aku semua yang merencanakannya, sisanya tergantung kau."
"Sepertinya itu sia-sia, jika aku beruntung dia akan menadatangani syaratnya tapi dia pasti akan membacanya dan langsung merobeknya sehingga kontrak itu akan batal."
"Kalau begitu buatlah dia menandatangani dua lembar kertas yang sama jadi jika dia merobeknya kau masih menyimpan cadangannya."
"Jika dia masih menolaknya?"
"Suruh orangmu untuk memaksanya!"mereka secara bersamaan menampakan smark devile.
" Tapi Neji tidak kah itu seperti aku menculiknya apa lagi di apartementku? "
" Tidak, dia pasti sudah minta izin pada orang tuanya, jadi bagaimana rencanaku? ". Dan begitulah rencana yang mereka rencanakan berhasil.
.
.
.
.
.
Minna ketemu lagi sama saya, sorry telat up habisnya NH bingung mau nulis apa.
Menurut NH ini adalah chap yg paling gaje. Sdh gaje telat update lagi.. Mau diapain nih authornya #plakk.
A/N: Oh yah NH lupa ngasih tau, cerita ini NH terinspirasi dari drama korea judulnya KILL ME HEAL ME, NH ngambil beberapa scene disana tapi sisanya murni dari otak NH sendiri kok, bagaimana nggak sama kan? Makasih yah buat Yeojachinguexo dan Bluekyuna sdh ingatin NH, NH senang deh, makasih buat kalian berdua :)
Ne minna! Ternyata setelah NH baca cerita NH di ffn ini, ada beberapa kata yang hilang, sdh gaje tambah gaje lgi gara2 kata2nya yang Hilang hedeehh setres NH #rasengan, biasanya NH langsung publish tanpa ngecek ada kata yang hilang ato kagak tapi chapter depan pasti deh NH cek lagi (y).
Oh yah! untuk Up date kilat, NH ngga bisa janji Coz NH masih kelas IX yang berarti akan di sibukan dengan yang namanya ujian, jadi NH harus belajar supaya masuk kesekolah impian NH dan pastinya supaya engga nyusahin ortu NH. Jdi mohon perhatiannya yaahh!
Balas review
LuluK-chan473
Hu'um! Hinata keren buaaangeettt *acungkan jempol*
Salsabilla12
Wkwkwk, benar nyangkut dimna yah sifat anggun Hinata, jawabannya ada di chap gaje ini hehehe :D
Uzumakisrhy
Hu'um, hina memang keren udah lanjut.
Hemm kurang tepat, jawabannya ada di chap gaje ini.
Yeojachinguexo
Iya NH ngambil scene itu dari drakor Kill me heal me, makasih sdh ingatin NH :), tapi ceritanya bedakan?
Sella Ameilia
Jawaabannya...ada di chap gaje ini, sdh lanjut kok.
Bluekyuna
Iya NH terinspirasi dari drakor Kill me heal me, maksih yah udah ngingatin NH, tpi bedakan ceritanya?, hikss.. Makasih keritik dan sarannya, NH akan lebih teliti lagi *acungkan jempol*
Mell chan 22
Ini sdh lnjut kok.
Josephine La Rose99
Hikss...hikss..hikss ada yang perhatin fic NH arigatou, kritik dan sarannya, pasti akan NH perhatikan *acungkan jari ala guru guy*
Maaf jika ada reaview yang belum NH balas *bungkuk 90 derajat*
Makasih buat yang reaview,nge-fav,dan ngefollow, NH terharu kalian sdh baca fic abal2 ini, thankyou verry muach mmmuuuuahh, love kalian semua.
Ok NH mau laanjut buat chap ke-6, jaa nee~ *kiss bye* #plakk
