Chapter 6 (the secret monster in you'r body?)
My Little Monster
.
.
.
.
Pair : NaruHina
Rate : T
Author:NH-Chan
Genre : Romance
Disclaimer : Masashi Kishimoto
WARNING!: abal",gaje,typo bertebaran,banyak pengulangan kata,AU,OOC,bikin muntah Dan lain sebagainya, silahkan pencet tombol keluar sebelum terjebak dengan kisah ini.
.
.
.
Don't like huh!, Just close you'r eyes!
.
.
.
~Oo~My Little Monster~oO~
"Welcome to my castle Hinata-hime" wOw Hinata tercengang dengan apa yang ia lihat sekarang. Itu adalah rumah,tidak itu bukan rumah melainkan apartement yang sangaaaattt besar didepannya, bagaimana bisa ada apartement sebesar ini? Bahkan ini tak layak disebut apartement,ini lebih layak disebut istana, OH tidak tau kah anda? apa pun bisa dilakukan oleh CEO Uzumaki Crop ini.
Naruto berjalan kearah pintu dan meninggalkan Hinata yang masih terlihat tercengang,dia memencet angka pada tombol yang berada didepan pintu guna memasukan sandi untuk membuka istana eh ralat apartementnya.
TIT...TIIT...TIIT...TIIT CKLEK!
Pintu terbuka menampilkan sebagian ruangan yang berada didalam apartement tersebut.
"Hinata! Apa kau hanya akan berdiri disitu, ayo cepat kemari!" Teriak Naruto mengembalikan kesadaran Hinata.
"Ha-ha'i" Hinata setengah berlari mendekati Naruto dengan wajah berseri-seri ditambah dengan gerakan slowmotion dan bayground yang berganti menjadi taman bunga dimana terdapat kupu-kupu yang berterbangan disekitarnya, oh dan jangan lupakan keringat yang terbang melayang seiring Hinata berlari dan dengan bantuan matahari keringat itu terlihat seperti berlian yang bersinar , dia terlihat sangat bahagia, tapi...
BRUKK
"Pfftt.. ".
Seketika gerakan lebay yang tadi dibuat Hinata lenyap begitu saja, itu dikarena kan Naruto menutup pintu tepat saat Hinata ingin memasuki apartement tersebut, membuat wajah Hinata sukses mencium pintu yang terbuat dari BESI dan BAJA, aww itu menyakitkan, lihat saja wajah Hinata saat ini,merah dengan air mata yang keluar dari sudut matanya.
"ITAAA, kenapa kau tiba-tiba menutup pintunya Hiks..sakit tau BAKA...Hikss!"Sungguh Naruto ingin tertawa sekarang, tapi mengingat dia akan tambah dimarahi oleh wanita didepannya ini dia pun mengurungkan niatnya.
Hanya saja emmmm ingin rasanya Naruto mencari karung untuk bisa mengarungi makhluk hawa yang terlihat sangaaatttt imut didepannya ini, mukanya yang memerah karena berciuman dengan pintu besinya, dengan wajah yang menahan sakit dan jangan lupa pipi yang dikembungkan karena kesal dengan ulah Naruto, membuat wajahnya terlihat seperti anak kecil terlihat sangat menggemaskan.
"Wa-wari! Tapi itu juga salah mu,dari tadi aku sudah memanggil namamu,tapi kau masih saja berlari dengan gaya lebaymu itu."
"Mou, kenapa kau menutup pintunya tiba-tiba,hikss... Hidung kyyu...hikkss." Hinata mengelus Hidungnya yang memerah, ah mungkin hidungnya sedikit nyungsep kedalam sekarang.
Naruto memperhatikan Hinata yang sedang mengelus hidungnya, dia Tersenyum tanpa sadar.'Kamisama,bagaimana bisa ada perempuan semanis ini'. Dia menggerakkan tangannya kearah Hinata dan...
PLUK
Naruto memeluk Hinata dan mengelus surai indigo milik Hinata dengan pelan, sedangkan Hinata yang diperlakukan manis seperti itu hanya bisa terdiam, dia shock, tapi bersandar didada bidang Naruto membuat Hinata merasa nyaman dan aroma citrus yang masuk kedalam indra penciumannya membuatnya lebih nyaman lagi, bahkan sakit yang diwajahnya pun hilang, yahh ini adalah obat yang paling manjur untuk menghilangkan rasa sakit.(Kyaa Naruto-kun peluk NH juga donk #plak)
"Baiklah,aku minta maaf, jadi hentikan tangisanmu itu!, hihihi kau seperti anak kecil tau!" Pria itu masih mengelus sayang surai indigo tersebut, sedangkan Hinata? Dia masih shock dan diam mematung.
1 detik..
2 detik..
'Tunggu... Tadi aku menangis karena hidungku sakit,lalu dia menarikku jadi sekarang...'.
BLUUSH
Wajah Hinata merah merata bahkan telinganya ikut memerah seperti kepiting rebus.
Naruto memegang bahu Hinata dan melepaskan pelukannya, dia menatap Hinata yang sedang tertunduk menyembunyikan wajah merahnya.
"Jadi...kau memaafkan aku" "ha-ha'i" gadis itu masih tertunduk, dia takut saja kalau dia pingsan gara-gara menatap Naruto,tapi ulah Hinata saat ini membuat Naruto geram.
"Hei! Tidak sopan tau,jika kau berbicara dengan lawan bicara mu, kau harus menatapnya!, bukan menunduk seperti itu." Dengan wajah yang masih merah, Hinata memberanikan diri menatap Naruto. Amesthy bertemu shapier, ohh ya ampun blue shapier Naruto benar-benar bisa menghipnotis Hinata.
Pria itu memiringkan kepala bingung, bingung saja kenapa wanita didepannya ini wajahnya merah sangat merah,apa karena menabrak pintu?, sepertinya tidak harusnya hidungnya saja yang ini, semuanya memerah, apa dia demam? Naruto mendekatkan wajah kearah Hinata dan menempelkan jidatnya ke jidat Hinata agar bisa merasakan suhu tubuh Hinata.
Wanita itu menatap shapier yang begitu dekat dengan manik lavendernya, dia bahkan bisa merasakan deru nafas cowok didepannya,membuat jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.'Oh kamisama kumohon jangan biarkan aku pingsan didepannya'. Kaki Hinata mulai lemas, matanya mulai tak fokus tapi-
"Tidak,kau tidak demam" Naruto mendorong Hinata hingga tubuh mungilnya mundur beberapa langkah. Sedangkan Naruto? Dia sudah berjalan didepan Hinata,tak peduli apa yang terjadi pada Hinata.
"Oi, Cepat ikut aku!" Hinata mematung ditempat, Hilang sudah debaran, dan wajah yang merona, kali ini wajahnya merah bukan karena malu, tapi karena kesal.
Setengah ikhlas Hinata berjalan kearah Naruto dan tentu saja dia menghentakan kakinya dengan kesal. Setelah sampai didepan pintu Hinata menatap Naruto tajam.
"Oi..Oi,ada apa dengan tatapanmu itu?,apa kau masih marah dengan yang tadi?, oh,ayolah aku sudah minta maaf, kau tau kenapa aku menutup pintunya tiba-tiba,aku ingin memeberitahumu sandi rumahku karena aku pikir kita akan tinggal bersama. Tapi kau malah lari seperti anjing kelaparan." Jelasnya sambil melipat tangan sombong tapi dia segera menghentikannya, merasa aura Hitam menyebar di sekitarnya.
"APA KAU BILANG 'ANJING KELAPARAN'." Munculah perempatan siku dan tangan yang terkepal maju.
CTAK
"Itaaaa, akkh kakak dan adik sama saja. " Katanya sambil mengelus benjolan yang berada diatas kepalanya.
"Jaa... perhatikan baik-baik tangan ku bergerak" Naruto memencet tombol yang berada didepanya.
CKLEK
Pintu terbuka tapi segera ditutup kembali.
"Baiklah sekarang kau coba." Naruto mundur selangkah membiarkan Hinata untuk maju dan memencet tombol untuk memasukan sandi.
TIIT..TIT...TIIT..TIIT.
CKLEK
"Woow,ingatan mu hebat juga."Katanya sambil mengacak pelan surai indigo Hinata. Gadis itu hanya bisa tertunduk malu, dia lupa, kasus yang baru saja menimpanya.
.
.
.
.
Hinata dikejutkan dengan kamar yang akan ia tiduri, kamarnya besar sangat besar mungkin lima kali lipat dari kamarnya sendiri. Apa kah benar ini apartement? Mengapa bisa ada apartement sebesar ini? Kira-kira itu yang ia pikirkan.
Hinata berjalan kearah lemari pakaian yang sangat besar, tadi dia sempat menanyakan perihal pakaian nya ke Naruto, dan dijawab "kau tidak perlu kembali untuk mengambilnya,aku sudah menyiapkan semua pakain dikamarmu." Begitulah katanya.
Hinata menggeser perlahan daun pintu lemari tersebut dan WoW pakaian didalamnya begitu lengkap, ada gaun untuk pesta,baju jalan, baju santai,tanktop,bahkan sampai bikini pun tersedia didalamnya, apa kah ini mall? Lengkap sekali pakaiannya. Tak lama,terdengar suara pintu yang di ketuk, Hinata pun berjalan dan membukakan pintu kamarnya.
"Kau belum mengganti baju mu?, sebaiknya kau bergegas ini sudah waktunya makan malam aku akan menunggumu di meja makan." Kata pemuda blond tersebut.
"Ba-baiklah."
Lantas sesudahnya pemuda itu meninggalkan Hinata dan berjalan kearah ruang makan.
Hinata segera menutup pintunya dan menguncinya.
Gadis itu tersenyum memikirkan apa yang akan ia makan nanti, mungkin makanan eropa, atau makanan mewah yang selalu ia impikan, entahlah tapi jika dilihat dari apartement yang seluas ini, dan lemari yang terisi dengan berbagai macam baju yang lengkap,pasti dia akan memakan-makanan mewah, Hinata sangat tidak sabar akan hal tersebut.
.
.
.
.
.
Lavendernya menatap tidak percaya kearah meja makan saat ini, ini benarkan? Apa yang ia lihat sekarang benarkan?.
"Oi, kenapa kau lama sekali, mie nya sampai mengembang karena kau terlalu lama!"
RAMEN! Apa ia melihat ramen saat ini, kemana makanan mewah yang tadi ia bayangkan, mengapa sekarang berubah menjadi mie dengan air panas yang dituangkan diatasnya, kemana makanan bergaya eropa itu pergi? Hinata mengalihkan pandanganya kearah Naruto yang kini tengah menyantap ramen cup miliknya.
Kau tahu, semiskin-miskinnya Hinata dia tidak pernah memakan ramen,yah meskipun se-sekali dia memakannya,tapi dia memakannya mungkin setahun sekali bahkan kadang ia tidak pernah memakannya sama sekali, dia tau ramen tidak baik untuk kesehatan jika di konsumsi setiap hari.
Hinata menahan tangan Naruto yang hendak memasukan mie ramen ke mulutnya.
"Jangan dimakan!,ini tidak baik untuk kesehatan,apa kau memakannya setiap hari?"
"Tentu saja, karena hanya ini yang bisa ku masak."Ujarnya.
Hinata memincingkan mata. "Bukankah kau CEO?"Gadis itu mengacak pinggang masih dengan mata yang mengintimidasi. "Ya ampun,kau sudah melihatnya sendiri bukan?, aku adalah CEO Uzumaki crop."
"Lantas, apa yang membuat mu tidak menyuruh pembantu untuk memasak?,apa kau tidak memiliki uang?" Pertanyaan bodoh macam apa itu Hinata?, jelas-jelas dia yang memiliki apartement luas dengan fasilitas lengkap bahkan ini lebih dari kata lengkap.
"Huh!" Naruto menghela nafas frustasi. "Kau tahukan, aku adalah CEO Uzumaki crop yang memiliki kekayaan tak terhitung jumlahnya, so... soal uang, aku tidak memiliki masalah sama sekali."
"Ja,kenapa kau tak menyuruh pembantu untuk memasak?" Tanyanya heran.
"Kau belum tahu yah, aku sudah memecat semua pembantu perempuan disini."
"Kenapa kau memecatnya?" ini gawat! Hinata harus tau apa yang membuatnya memecat pembantu perempuannya, kau tau Hinata juga perempuan, yang berarti karirnya sedang terancam.
"Itu dia yang ingin ku bicarakan padamu,aku memecat mereka karena-"
KRUUYUUK
.
.
.
BLUSH
.
.
.
Naruto menatap kaget kearah Hinata yang kini menutup muka dengan kedua tangannya.'Perut siaaalann!' Umpat Hinata.
.
.
.
.
.
"Hiiinaataa, ayo kita pulang aku sudah capek" ucap manja pria bermata shapier itu sambil mendorong troli belanjaan yang sudah menumpuk.
"Tunggu sebentar,masih banyak yang harus dibeli." Katanya sambil memilih bahan makanan yang tersedia didepannya.
Yaahh,kalian tahu sendirilah dimana mereka saat ini. Setelah insiden alaram perut yang berbunyi Naruto menyuruh Hinata untuk makan ramen, tapi Hinata bersih kukuh ingin memasak sendiri dan tentunya bukan ramen, dia menyuruh Naruto untuk berhenti memakannya setelah itu dia berjalan kearah dapur dan bergegas membuka lemari es dan apa yang ia temukan JRENG...JRENG, dia pun beralih ke lemari yang satu ke lemari lainnya, tapi hasilnya tetap sama hanya ada ramen cup didalamnya, dan itulah yang membuat mereka berakhir disupermarket saat ini.
"Ayolah Hinata aku sudah lapar,kenapa aku tak boleh memakan ramen?!." Pria itu memanyunkan bibir bawahnya hingga maju beberapa senti, dia terlihat sangat lucu seperti anak kecil.
"DAME! Naruto tidak boleh memakanya, Naruto sudah memakan itu setiap hari, itu tidak baik untuk kesehatan!"Titahnya yang sukses membuat Naruto BiMoLi (Bibir Maju Lima centi).
Oh betapa sialnya dia saat ini, kemaren-kemaren dia boleh memakan ramen tapi sekarang dia tidak bisa memakannya, huuu jika seperti ini dia tidak akan bisa makan ramen sepuasnya, dia Harus mencari cara tapi bagaimana caranya? Dia kan tidak bisa jauh-jauh dari wanita yang kini berjalan didepannya. Naruto berfikir keras mencari jalan keluar dari permasalahannya,tak lama dia merasa ada yang memanggil namanya.
'Naruto' dia celingak celinguk tapi tak menemukan siapa-siapa kecuali Hinata.
'Naruto, apa kau tidak ingin memakanku' dia pun menoleh kekanan, jauh disuatu tempat, berjajar ramen cup yang tengah berbicara kepadanya minta dimakan.
'Naruto...Naruto' Naruto mulai tergoda, liurnya mulai mengalir perlahan.
"Kyaaa" pekik seseorang membuat Naruto tersadar dari lamunannya, tunggu itu bukan seseorang yang tidak ia kenal, itu adalah Hinata!
Buru-buru ia mendekati Hinata."Hinata ada apa? Kenapa kau berteriak?" "Wa-wanita itu merampas tasku." Naruto melirk kearah telunjuk Hinata dan menemukan wanita yang sudah jauh berlari dan sesekali menoleh kearah mereka.
"Aku akan mengejarnya!" Naruto berlari cepat,sangat cepat bahkan sekarang dia sudah Hampir mendekati pencuri tersebut, jangan remeh kan Naruto, biar gitu-gitu dia selalu mendapatkan juara satu lari marathon disekolahnya, bahkan jika dia mau dia bisa saja menjadi athlet, tapi dia menolaknya dan meneruskan perusahaan besar sang ayah.
Naruto berusaha meraih tangan penjahat itu tapi dia gagal, dia pun mencoba lebih dekat lagi dan
GACHA!
Naruto mendapatkannya. Tapi sepertinya dia tidak memikirkan konsekuensi yang harus ia hadapi.
.
.
.
.
CTAR!
.
.
.
.
"ARRGHHH! KUSO ARGGHH"
Yap sakit itu datang lagi.
"Lepaskan aku! Lepaskan aku!" Wanita itu membrontak, Naruto memegangnya seperti polisi yang tengah memborgol penjahat.
"U-URUSAI" kini keringat mulai mengucur dari pelipisnya, ini sangat sakit, sakit sekali, dia tidak bisa menahanya lagi.
"Kyaa,sa-sakit"pekik wanita itu merasa pegangan ditangannya semakin mengerat.
.
.
.
.
DEG
.
.
.
.
Naruto mulai tertunduk secara perlahan.
"Naruto-kun, apa kau sudah mendapatkan pencu-" Hinata terdiam ditempat, dia kaget melihat Naruto saat ini. Ada apa dengan Naruto kenapa dia menunduk seperti itu?, dan kenapa wajahnya tertutupi setengah bayangan hitam seperti itu? Ada apa dengannya? begitulah pikiran yang saat ini memenuhi otak Hinata.
"Ohisashiburi-" Hinata terkejut begitu mendengar suara Naruto, tidak suaranya tidak seperti suara Naruto yang biasanya.
Perlahan pria itu menegakan wajahnya dan secara perlahan juga bayangan hitam itu menghilang dari wajahnya. Sekarang wajahnya terlihat semua tapi dengan warna mata yang berbeda, shapier yang indah kini berganti dengan api yang membara. Yah itu bukan Naruto melainkan 'kepribadian'nya.
"De-su-ne Hi-na-ta-chan"
.
.
.
.
.
TBC
HOLA! NH kembali,ada yang kengen krik..krik..krik
*pundung di pojok*
Yah meskipun kagak ada yg kangen,NH tetap bawa chap 6 cerita gaje ini, bagaimana? Disini NH sudah mulai kasih bumbu-bumbu romance antara NaruHina. Jadi NH minta sarannya yah!
Minna maaf yah klu NH telat up, sebenarnya nih cerita dah lama selesai, tapi dikarena kan kuota internet yg sdh mencapai batasnya,akhirnya NH jdi telat up,huueeee...gomen ne minna!
Kalian tau, disini NH buat sifatnya Hina mirip kayak NH. Yah seperti Hinata, kalau dekat sama cowok yang NH suka, NH pasti malu-malu, tapi kalau dia ngejek NH, heh jangan harap dia selamat didunia kalau di akhirat yah itu sih terserah sama yg maha kuasa.
Balas review
keyko keinarra minami
Ini udah lanjut, sengaja NH buat ooc nyihihi :D
Sella Ameilia
Hu'um setuju,Neji memang Gaje. Hiks.. Aku terharu ada yg perhatiin aku :'(,arigatou watashi ganbarimasu! \^O^/.(Semangat 45)
Helena Yuki
Wkwkwk XD, iya ekspresnya lucu. Ok, udah lanjut :).
Salsabilla12
Ini udah next kok :)
Ok thank's yah buat yang nge-review,nge-fav,and nge-follow aku senang baangeett ada yang mau baca nih cerita ^-^.
Jaa mata ne minna love you all ! (sok inggris)
