Chapter 7 (kepribadian ganda?)
My Little Monster
.
.
.
.
Pair : NaruHina
Rate : T
Author:NH-Chan
Genre : Romance
Disclaimer : Masashi Kishimoto
WARNING!: abal",gaje,typo bertebaran,banyak pengulangan kata,AU,OOC,bikin muntah Dan lain sebagainya, silahkan pencet tombol keluar sebelum terjebak dengan kisah ini.
.
.
.
Don't like huh!, Just close you'r eyes!
.
.
.
~Oo~My Little Monster~oO~
"Ohisashiburi-" perlahan pria itu mengangkat kepalanya.
"De-su-ne Hi-na-ta-chan."Kini kepalanya terangkat dengan sempurna, terlihat jelas pria itu senyum kearah Hinata.
Hinata yang melihat itu merasa aneh, ada yang berbeda dari Naruto, suara,senyumannya,dan yang paling mencolok dari perbedaannya adalah warna matanya.
Dia sangat hafal warna mata Naruto, karena mata itu lah yang membuatnya terasa dihipnotis olehnya. 'Blue shapier...'warna itulah yang sukses membuat jantung Hinata berdenyut lebih cepat dari biasanya,Tapi sekarang warna biru itu menghilang tanpa meninggalkan jejak sedikit pun, biru itu kini berganti menjadi orange api yang baru dinyalakan.
"Ne Hinata-chan, ogenki desu ka?" Ucapnya.
"Na-naruto-kun, daijoubu?" dari sekian banyak pertanyaan yang muncul diotaknya,hanya itu yang berhasil keluar dari lisannya. Hinata memandang khawatir kearahnya
Pria itu memutar bola mata bosan.
"Hinata bukan kah aku sudah pernah bilang?, jika ada orang dengan wajah sama sepertiku tapi dengan warna mata berbeda, itu bukan aku melainkan pria yang kau sebut-sebut namanya itu."
Kembali Hinata teringat pertemuan pertamanya dengan Naruto, yah waktu itu Naruto memegangi kepalanya kesakitan, dan Naruto berkata persis seperti yang pria itu katakan, dan warna matanya adalah orange, setelah itu Naruto pingsan, kemudian Naruto sadar dan dia tidak mengetahui siapa itu Hinata, padahal waktu itu dia sudah memperkenal kan dirinya didepan Naruto. 'Kenapa aku bisa melupakannya,Ada yang aneh dengannya' pikir Hinata.
"Si-siapa kau?" Ucap Hinata sedikit membentak sambil memasang kuda-kuda dan perlahan mundur.
"Slow Hinata-chan, tidak usah berteriak."Ucap nya sambil menaikan sebelah alisnya." Hemm jika kau menanya kan siapa aku, sebenarnya aku tidak mempunyai nama, tapi kau panggil saja aku..etoo..." Pria itu tampak berpikir.
"Aah...MENMA, panggil saja aku itu." Dia mengepalkan tangan kanannya dan diadukan ke bawah telapak tangannya yang terbuka
"Le-lepaskan aku, lepaskan."Mereka Terlalu asyik bebincang sehingga melupakan wanita yang tengah di pegangi Menma. Wanita itu terus membrontak membuat Menma memandanginya tidak suka.
"Cih,mengganggu sekali sana pergi." Pria itu melepaskan tangan perempuan yang sudah mencuri tas Hinata.
"Tu-tunggu dia mencuri tasku." Mendengar itu, Menma hendak lari tapi dia mengurungkan niat nya karena tas Hinata yang tiba-tiba dilempar oleh pencuri itu dan segera ditangkap oleh Menma.
"Ini tasmu." Menma memberikan tas Hinata, bukannya diambil tapi dia malah memperhatikan tasnya dan Menma secara bergantian, Hinata seperti ketakutan dengan sosok pria didepannya ini, otaknya mengatakan itu adalah Naruto tapi hatinya berkata itu bukan Naruto. Dia pun akhirnya bingung.
Menma memperhatikan Hinata yang sedari tadi hanya melihati tasnya dan dirinya secara bergantian,merasa tangannya sudah pegal karena terulur, akhirnya dia membuka suara "Ayo ambil, tangan ku sudah pegal!." Hinata mengambil tasnya dan langsung menjauh.
"Ayolah Hinata, aku tidak akan menggigitmu ,kenapa kau ketakutan seperti itu?." Hinata hanya memandang mata orange didepannya dengan was-was.
Dimana blue shapier yang selalu bisa menghipnotis mutiaranya?, kenapa mutiaranya hanya bisa memandang ketakutan kearah api itu?.
Pria itu mendekat kearah Hinata.
TAP
"Na-Naruto-kun." Hinata mundur selangkah, entahlah tubuhnya bergerak secara refleks,seolah berkata 'akan berbahaya jika kau tidak mundur'.
"Cih, Hinata sudahku bilang aku bukan dia, aku adalah MENMA, JANGAN SAMA KAN AKU DENGAN DIA!." Ucapnya membentak, tak ayal membuat Hinata takut, tubuhnya mulai bergetar ketakutan, matanya pun ikut bergetar. Memang dia baru mengenal Naruto, tapi dia tau Naruto tidak akan melakukan hal seperti itu. Akhirnya otaknya pun mulai setuju dengan hatinya.
Yah itu bukan Naruto, Naruto tidak sekasar ini,warna matanya pun berbeda dari biasanya, dan tidak biasanya Naruto memanggilnya dengan suffix 'chan' di belakangnya.
.
TAP
Dia maju selangkah lagi, dan semakin mendekat membuat Hinata terus berjalan mundur, sampai pada akhirnya dia tersudut di pojok.
Hinata hendak lari ke arah kanan, tapi gerakannya kalah cepat, pria itu mengunci Hinata dengan kedua tangannya.
Pria itu menatap Hinata intens, Hinata bahkan bisa merasakan deru nafas pria itu yang mengenai wajahnya karena jarak mereka yang begitu dekat, jujur Hinata sangat takut sekarang, otaknya tidak bisa berpikir, kakinya pun tidak bisa digerakan, sekarang yang hanya bisa ia lakukan adalah menutup matanya.
"Kau tau Hinata, aku tidak akan menciummu sebenarnya aku ingin ,tapi jika itu terjadi pasti dia akan kembali mengontrol tubuhku."
Hinata membuka matanya dan mengadukan mutiara nya dengan manik orange didepannya
"Ada apa? Kenapa kau menatapku? Apa aku lebih tampan dari dia?". Hinata masih menatapnya tampak berpikir.
"Apa kau-"
.
.
CUP
.
.
Pria itu membelalakan matanya sempurna. Saat wanita didepannya tiba-tiba menciumnya.
'Kumohon Naruto-kun kembalilah!'
.
.
.
.
DEG
.
.
.
Ah! pria itu tau maksud dari ciuman wanita didepannya ini, Hinata pasti ingin mengembalikan Naruto pada tubuhnya. Pria itu menyendu terlihat dari tatapan matanya, seperti ada luka disana. Ada perasaan sedih saat tau maksud dari ciuman itu. Pria itu memejamkan matanya menikmati sentuhan lembut dibibirnya, walau pun ciuman itu tidak ditunjukan untuknya, tapi apa salahnya menikmati detik-detik terindah dan terakhir saat ini, dia tidak akan tau kapan dia bisa mengontrol tubuh ini lagi, karena sekarang Naruto tau kelemahan yang bisa membuatnya meninggalkan tubuh itu dalam sekejap. 'Hebat, kali ini aku mengaku kalah darimu.'.
.
.
.
DEG
.
.
.
Gelap, aroma laveder, dan sesuatu yang lembut menyentuh bibirnya, itulah hal pertama yang dirasakan Naruto ketika dirinya mulai tersadar.
Kelompak mata itu mulai terbuka menampilkan blue shapier yang tersembunyi didalamnya.
Siapa itu? Hinata? Kenapa dia memejamkan matanya?, dan kenapa dia begitu dekat?, dan kenaapa bibirnya...
Mata Naruto membulat sempurna ketika menyadari posisinya saat ini, sesaat dia menikmatinya,tapi dia segera mengembalikan kesadarannya. Buru-buru ia mundur sampai tubuhnya oleng kebelakang.
Hinata yang merasa Naruto menjauh,membuka kedua matanya dengan wajah yang memerah.
Takut-takut dia membuka pelan suaranya."Naruto-kun?" Tanyanya degan raut wajah berharap."Hi-hinata, apa yang terjadi?" Mendengar itu Hinata memejamkan matanya dan bernafas lega.
Naruto memandang Hinata dengan raut wajah bingung, sedetik kemudian di membulatkan matanya sebentar, yah dia ingat apa saja yang dilakukan 'Menma?' tadi.
"Maaf."Ucapnya lirih, Hinata memiringkan kepalanya bingung,. "Untuk apa?"
"Atas semua yang kulakukan." Awal nya Hinata tidak mengerti tapi sedetik kemudian dia mengerti maksud dari perkataan itu. "Tidak, kau tidak perlu meminta maaf. Lagi pula itu bukan dirimu." Hinata tersenyum lembut kearah Naruto, sedikit terkejut dengan reaksi Hinata, tapi ia tutupi dengan senyuman.
"Tapi-" Naruto mengkerutkan dahi bingung,dia menunggu kalimat selanjutnya yang akan diucapkan Hinata.
Hinata menekuk mukanya dan menggembungkan kedua pipinya membuatnya tampak seperti anak kecil,sedangkan Naruto yang melihat itu menahan tawanya agar tidak pecah.
"Naruto-kun harus menceritakan apa yang terjadi sebenarnya, sekarang!" Naruto tersenyum mendengar tuntutan Hinata. Kembali dia teringat kejadian tadi, Hinata menciumnya, yah bibir mungil itu telah menciumnya. Semburan merah tipis terlihat diwajahnya. Dia menatap bibir mungil itu yang kini sedang mengomeli dirinya, kembali Naruto tersenyum tapi senyumannya hilang karena melihat warna bibir itu, bukankah bibir itu merah? Kenapa sekarang terlihat pucat?. Perasaan khawatir mulai menyelimuti hatinya, benar juga Hinata belum ada makan sama sekali.
"Baiklah, aku akan menceritakannya. Tapii...bukan disini lebih baik dirumah saja."
Gadis itu mengerutkan kening tidak suka sebagai bentuk protesnya.
"Tidak!, aku ingin sekarang juga TITIK!."Ucapnya final.
Naruto tersenyum miring "kau yakin ingin bicara disini?." Hinata segera mengangguk.
"Apa kau tidak kasihan dengan perut mu?" Hinata tersentak, yah bagaimana bisa ia lupa jika dia sedang kelaparan? Kejadian tadi sukses membuat Hinata lupa dengan perutnya yang merontah-rontah minta jatah makan.
"Jadi... Di rumah?" Hinata mengangguk lesu atas pertanyaan Naruto,sedangkan Naruto? Dia tersenyum penuh kemenangan.
.
.
.
Saat ini mereka berada diruang santai. Setelah makan mereka memutuskan untuk menonton, awalnya mereka berebutan ingin menonton acara kesuakaan masing-masing seperti Naruto yang ingin menonton bola sedangkan Hinata ingin menonton acara tentang masak-memasak, dan tentu saja Naruto menolak,secara dia itu malas memasak, dan...terjadilah adegan tarik-menarik remote tv, sampai pada akhirnya chanel TV terganti acak dan berhenti pada salah satu stasiun TV yang menampilkan preview filem selanjutnya. Mereka pun memutuskan untuk menonton filem Horor yang akan ditayangkan sekitar dua puluh menit lagi.
"Jadi, Naruto-kun...ceritakan SEKARANG juga" Naruto memandang Hinata lama, lalu ia memiringkan kepala bingung.
Cerita? Apa dia berjanji pada Hinata kalau dia akan menceritakan dongeng?, sepertinya tidak.
"Cerita? Cerita apa?" Huft Hinata menghela nafas frustasi.
"Tentang kejadian tadi!" Ucapnya jengkel.
Sekarang Naruto menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Kejadian tadi? Oh mungkin maksudnya kejadian mereka memperebutkan remote tv?,Tapi untuk apa diceritakan tidak ada hal special yang terjadi disana, toh Hinata juga terlibat secara langsung,jadi dia pasti tau secara kronologis.
Hinata mulai jengkel dengan kelemotan otak Naruto, dia menghela nafas tak sabar, bagaimana bisa orang ini menjadi CEO dengan otak yang seperti itu? Kira-kira itulah pikiran Hinata.
"Begini, tadi kau sudah berjanji untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi disupermarket tadi, jadi sekarang aku ingin mendengarnya!"
1 detik
5 detik
25 detik. Lagi Hinata menghela nafas frustasi,dia menundukan kepalanya dan sedikit memijatnya.
1 menit kemudian...
"Ahh aku tau!" Serunya heboh. Pearl Hinata berbinar, akhirnya setelah menunggu satu menit dia mengerti juga.
"Maksudmu soal kau menciumku kan?"
BLUSH
Oh ya ampun Naruto bagi gadis suci seperti Hinata itu sangat memalukan, bagaimana bisa kau mengatakannya dengan sangat mudah?.
"Bu-bukan itu ma-maksudku!. ma-maksudku,tentang seseorang yang mengendalikan tubuhmu." Ucapnya dengan wajah yang merah sangaaattt merah.
"Owh, kenapa kau tidak bilang dari tadi."
'Yah Hinata,kenapa kau tidak to the point saja, kenapa kau malah memancingnya dengan pertanyaanmu itu? Dan sekarang kau malah membuat dirimu malu sendiri.' Innernya Hinata mulai Keluar.
"Apa Neji pernah memberitahumu kalau aku mempunyai penyakit?"Tanyanya tiba-tiba.
"Emm..oh iya, tapi dia tidak memberitahukan apa penyakitmu."
"Aku didiagnosa menderita kepribadian ganda."
Kepribadian ganda? Sepertinya Hinata pernah mendengarnya, tapi dimana?. Ohyah, bagaimana bisa Hinata melupakan itu, Dulu sebelum Neji menjadi dokter Neji sering sekali menceritakan hal tersebut bahkan pas liburan pun dia habiskan dengan mempelajari hal tersebut, dan itulah penyebab Neji ingin menjadi dokter. Pernah sekali Hinata menanyakan 'Apa itu kepribadian ganda.' Neji pun menjelaskan kenapa penyakit ini bisa muncul, kisah beberapa orang yang terkena penyakit ini, bagaimana cara menyembuhkanya? dan lain-lain, intinya Neji menceritakan semua yang ia ketahui tentang penyakit itu kepada Hinata. Nah dari situ Hinata memutuskan untuk tidak akan pernah lagi ia menanyakan pertanyaan itu kepada Neji.
"Kau tau kan kepribadian ganda?" Hinata mengangguk singkat. Naruto melihat Hinata sekilas lalu bersandar di sofa."Jadi, orang yang di supermarket itu bukan aku, melainkan kepribadian ku yang lain. Dia selalu muncul ketika aku menyentuh perempuan."
DEG! 'Pe-peremuan? Kalau dia menyentuh perempuan bisa berubah...tapi kenapa tidak bereaksi padaku? Aku kan perempuan.' Terlihat gadis itu menatap pria didepannya dengan mata yang berkaca-kaca dan bibir yang melengkung kebawah.
Spontan Naruto yang melihat itu langsung memegang pipi Hinata dan bertanya "Hinata kenapa?".
Gerakan tangan Naruto yang menyentuh pipinya malah membuat Hinata menjadi menangis.
"Hei...hei ada apa kenapa kau menangis?" Naruto menatap khawatir gadis didepannya."Hueee, kenapa kau tidak berubah saat memegangku? Apa kau pikir aku laki-laki?" Astaghfirullah Hinata..., mana mungkin Naruto menganggap dirimu laki-laki, sangaaatt jelas sekali kalau kau itu perempuan, apa lagi bukit kembarmu yang besar itu, mana ada laki-laki mempunyai itu.
Naruto tertawa renyah mendengar itu."Haha, aku tidak menganggapmu seperti itu. Makanya dengarkan dulu ceritaku sampai habis. Memang aku akan berubah ketika dipegang perempuan tapi khusus untukmu kau malah membuatku kembali ketubuhku."Jelas Naruto dengan cengiran khasnya.
"Ke-kenapa bisa begitu?"Naruto mengangkat kedua bahunya sebagai jawaban."Kata kakakmu sih kalau kau ada hubungan sesuatu dengannya."
Hubungan? Hubungan apa? Dia saja baru kenal Naruto beberapa Hari yang lalu.
"Hubungan? Bagaimana mungkin? Aku saja baru bertemu Naruto-kun beberapa yang lalu."Lagi-lagi Naruto hanya mengangkat bahu tak peduli.
Naruto menatap Hinata dalam-dalam, ada yang aneh dengan panggilan Hinata kepadanya, kenapa Hinata memanggilnya dengan suffix 'kun'
Dibelakang namanya.
"Ne Hinata bolehkah aku menanyakan sesuatu?."
"Tentu saja boleh!" Seru Hinata girang."Kenapa kau memanggilku dengan suffix 'kun'?". Skakmat! Wajah Hinata langsung tegang mendengar pertanyaan yang tak terduga dari Naruto.
Hening
Itulah kata yang pantas untuk suasana yang tercipta saat ini.
TING...TONG
Suara bel berbunyi, memecahkan keheningan yang tercipta diantara mereka.
Hinata sedikit berdeham. "Ehem, se-sebaiknya aku yang membuka p-pintu." Hinata bergegas beranjak dari sofa dan pergi menuju pintu. Naruto hanya bisa menghela nafas lalu berjalan dibelakang Hinata.
CKLEK
Hinata mengerenyitkan keningnya saat melihat sosok didepannya yang saat ini berdiri memunggunginya.
Orang itu berbalik dan tersenyum kearah Hinata. Lavender Hinata membulat sempurna saat melihat siapa orang itu.
"Surprise!"
.
.
.
.
TBC
Yoo minna ketemu lagi, hayo bagaimana chap ini?, aneh ya kan?. Di senyumin aja.
Minna NH mau ngasih tau, NH buat cerita one shoot dengan judul "Love's On The Plane" jadi ceritanya tentang Naruto yang menjadi seorang pilot dan Hinata yang menjadi pramugari, ada yang mau baca?. Krik..krik..krik *pundung dipojok* y-ya u-udah ka-kalau nggak ada ya-yang mau ba-baca huueeeee *terisak*.
Balas reaview
keyko keinarra minami
Jadi? Yaahh seperti chap ini, ok udah lanjut
Sella Ameilia
Buat Sella Ameilia, maaf yaah kalu chap ini romancenya masih kurang NH minta maaf sebesar-besarnya. NH pucing mau buat kayak mana jadilah chap gaje ini. Hehehehe makasih udah baca curhatan aku ^_^
Ini laah yang akkan terjadiiii nyihihihi 3:D
.5
Ok sdh lanjut kok.
Minna Thanks yah buat yang ngefav,foll,dan reaview cerita ini, tanpa kalian cerita ini tidak akan sempurna karena kalian lah yang menutupi sebuah kesalahan dan membuatnya tampak lebih baik.
Thank You for taking you'r time to read this story!
I Love You Minna!
