Backfire [2]: Rencana Pertama

Sengoku BASARA © CAPCOM

Warning: Crack pair, random antara MasaYukiKojuSasu pokoknya. Sho-ai, AU, sedikit OOC terutama Sasuke yang di sini bakal jadi agresif (atau lebay?). Dan Koju yang bakal manggil Masmun dengan nama langsung, juga Sasu yang bakal manggil Yuki dengan nama langsung.

Have fun with the story!

.b.

"SASUKE!"

"Yukimura, ada apa?"

"Aku… aku mimpi buruk!"

Sasuke bangkit dari meja belajarnya, berjalan menuju Yukimura. Ia mendekap adiknya erat. Butiran-butiran air mata Yukimura menetes.

"Mimpi apa?" tanya Sasuke lembut. Ia bisa merasakan detak jantung Yukimura yang begitu kencang.

Yukimura memejamkan matanya keras. "Aku mimpi terperangkap di sebuah kamar sempit yang dinding-dindingnya terbuat dari beton. Nggak ada pintu! Mana penerangannya redup, lagi. Terus nggak ada ventilasinya! Gimana aku bisa keluar? Nafas aja susah! Aku di situ kehabisan nafas dan… aku mati," ceritanya panjang lebar. "Pas aku mati, banyak banget hantu yang lagi makanin ragaku. Aku takut, Sasuke!"

Mimpinya Yukimura aneh. Pasti dia sedang terpikir sesuatu sebelum tidur, batin Sasuke.

Sekarang, jam 4 pagi. Sasuke memang sudah terbiasa bangun pagi-pagi untuk belajar dan mengerjakan pekerjaan rumah. Takeda Shingen, Ayah mereka, bekerja di Korea Utara dan pulang setiap tiga bulan sekali. Sementara Ibu mereka sudah meninggal.

"Ayo, jangan nangis. Masa laki-laki berusia 16 tahun seperti ini, sih?" rayu Sasuke sambil mengelus kepala Yukimura pelan. "Ya sudah, kalau takut tidur lagi, lebih baik kita sarapan saja."

"Takut!" rengek Yukimura. "Kalau hantunya keluar dari alam bawah sadarku terus gantian makan ragaku yang asli, gimana?"

"Hus, nggak boleh ngaco. Ayo, aku temenin deh," ucap Sasuke sambil tersenyum.

Yukimura mengucek matanya. "Oke."

Mereka berdua pun berjalan bersama menuju ruang makan yang cukup besar bernuansa harimau. Ya, keluarga mereka merupakan keluarga kaya raya. Rumahnya sangat besar dan tentunya bernuansa harimau. Wakakitora adalah julukan untuk Yukimura, yang berarti harimau muda. Keluarga mereka merupakan keturunan julukan tora.

Di rumah ini, yang paling Yukimura suka adalah tamannya, dimana terdapat satu pohon apel rindang, beberapa kursi taman, banyak bush, berbagai macam bunga, dan lain-lain. Di situ juga Yukimura sering berlatih karate.

Sasuke muay thai, Yukimura karate.

"Mau makan apa?" tawar Sasuke sambil duduk di salah satu kursi meja makan.

Yukimura berpikir sebentar. "Dango, kalau boleh," jawabnya sambil nyengir.

Sasuke mengernyitkan alisnya. "Kemarin malam sudah makan dango, masa sekarang dango lagi?"

"Yah, 'kan aku suka dango. Terus apa dong?" tanya Yukimura.

"Ya sudah, dango. Tapi sampai besok, jangan minta dango lagi. Kalau sudah sakit gigi repot," ucap Sasuke memperingatkan.

Yukimura nyengir. "Oke deh. Tapi aku ikut nontonin kamu masak, ya? Aku takut, tahu."

Masih saja kepikiran mimpi itu, batin Sasuke sambil menghembuskan nafas. "Ya sudah."

.b.

DUA lelaki ini berjalan menyusuri koridor kelas 11. Yukimura protes ketika keduanya berjalan melewati kelas yang seharusnya dimasuki Sasuke. Sasuke kelas 11-2, sementara Yukimura 11-3.

"Sasuke, kok kelasmu terlewat, sih?" protes Yukimura.

Sasuke nyengir. "Iya, ada urusan sama salah satu anak kelas 11-4. Masuk aja sana," ucapnya berbohong.

"Oke. Dah, Sasuke!" Yukimura tersenyum sambil melambaikan tangannya ke arah Sasuke. Sasuke membalasnya, kemudian ia berjalan menuju kelas 11-4 dimana ia akan menyusun rencana dengan Kojuuro.

Kali ini, Sasuke bersyukur karena adiknya itu sangat polos. Koreksi, terlalu polos.

Dan hiperaktif, tambah Sasuke dalam hati. Nggak itu aja, deng. Dia juga manja, tetapi sebenarnya rajin.

Langkah Sasuke terhenti. Matanya tertuju kepada seorang laki-laki berperawakan tinggi yang memakai jaket kulit berwarna coklat. Sasuke tau persis siapa dia. Dia adalah Kojuuro, yang notabenenya merupakan sepupu dari Masamune dan rekannya dalam kasus ini: mak comblang.

Kojuuro tampak sedang asyik dengan HP-nya. Sasuke mengernyitkan alisnya, kemudian menyapa laki-laki itu.

"Hei, Katakura!"

Kojuuro menoleh. "Oh, kau rupanya, Sarutobi."

Kojuuro menatap jam tangannya. Rupanya masih pagi. Mereka berdua pun berbincang-bincang soal kegiatan mereka pagi ini.

"Jadi, apa rencana kita?" tanya Kojuuro setelah selesai berbasa-basi.

"Buat dekat, lah," jawab Sasuke semangat.

Kojuuro memasang tampang maygat-gak-begitu sambil melepas jaketnya. "Gak begitu,"—ia melempar jaketnya ke muka Sasuke—"maksudnya, cara ngedeketinnya."

"Ih! Bau keringat tahu!" seru Sasuke sambil balas melempar jaket itu.

"Enak saja. Dikira aku main basket pagi-pagi sampe keringetan? Liatin dong muka gantengku. Gak keringetan," elak Kojuuro sambil menjulurkan lidahnya.

"Amit-amit," cibir Sasuke. "Udah ah, balik serius nih. Jangan ngalihin topik!"

"Wew, jangan sensi gitu dong. PMS ya?" tanya Kojuuro asal.

"GAK!" teriak Sasuke sambil menabok pipi Kojuuro. "Aku punya rencana baru. Gimana kalo kita ajak mereka makan siang bersama, dan—"

Kojuuro balik menabok pipi Sasuke. "Dan kita interogasi mereka soal calon jodohnya."

"Hoooo. Tahu saja aku mau ngomong gitu. Pinter, Bang," puji Sasuke sekaligus mengejek Kojuuro dengan memanggilnya 'Bang'.

Kojuuro langsung melotot ke arah Sasuke. Sementara Sasuke? Tidak berkutik sambil memasang wajah tidak peduli.

"Apa aja yang perlu ditanyain ke dia? Dia itu Sanada, maksudku."

"Tentang dia single atau nggak, hobi, tipe pacar idaman, atau apalah. Yukimura itu polos kok anaknya. Gak akan nanya yang aneh-aneh."

"Iya dah, terserah. Kamu hati-hati, awas kena cakaran Masamune pas nanya-nanya gitu. Ganas dia," kata Kojuuro malas.

"Ya, ya. Gak akan lah. Rencananya, abis makan siang, aku ajak dia battle. Oh iya, kasihtahu Yukimura juga kalau aku akan battle dengan Date nyebelin itu. Kalau gitu, aku ke kelas dulu," pamit Sasuke sambil tersenyum ke arah Kojuuro, kemudian berlalu menuju kelasnya.

Senyumnya manis banget, puji Kojuuro dalam hati. Ia pun berjalan gontai menuju kelasnya sambil berpikir keras tentang pertanyaan-pertanyaan apa yang akan ia ajukan ke Yukimura.

.b.

INI bakal susah kayaknya. Mana Date 'kan kayak gitu sifatnya, batin Sasuke lemas. Munafik. Dasar Sasuke munafik.

Dari tadi, Sasuke hanya memikirkan pertanyaan-pertanyaan apa yang ingin dia ajukan ke Masamune. Hideyoshi-sensei mengajar saja ia tidak memperhatikan. Sibuk dengan urusan comblang-mencomblang.

Date yang rusuh dan berandal. Yukimura yang polos dan manja. Kayaknya bakal Date yang kalah telak, nih, batin Sasuke. Sekarang, ia malah sibuk berimajinasi soal hubungan Masamune dan Yukimura ke depannya.

Sementara itu, siapa yang akan menjadi pendamping hidupmu nanti?

Belum mikir sampai ke situ.

Iya, belum mikir sampai ke situ, tapi malah memikirkan hubungan orang lain. Aneh.

Berbuat baik 'kan tidak apa-apa, bantah Sasuke dalam hati, kesal dengan pikirannya yang selalu berbeda pendapat dengannya.

"Oi."

Nanti. Aku masih mikirin pertanyaan apa yang harus diajukan ke Date itu.

"Oi, Sarutobi Sasuke? Kau budeg ya?" tanya seorang laki-laki yang duduk di belakang Sasuke.

Sasuke menoleh dengan terpaksa dan mendapati seorang laki-laki berambut coklat tua dan memakai eyepatch hitam di mata kanannya.

Ya, dia adalah Date Masamune. Anak berandal yang sangat terkenal di seluruh sekolah karena ketampanannya. Sungguh, ia telah membuat lebih dari 50 hati wanita meleleh karena gantengnya.

Lebay, tapi kenyataan.

Suaranya sangat terkesan gentle. Suaranya yah, Sasuke akui 'laki-laki' banget. Apalagi tubuhnya. Yang pernah melihat Masamune shirtless, beruntung sekali.

Eh, jangan ambigu.

"Apa?" tanya Sasuke pelan.

"Nggak usah sok jual mahal," tegur Masamune dingin. "Aku cuma mau ngasihtau kalo besok kita ada kerja kelompok Matematika. Jadi 'kan?"

Sasuke mengerutkan alisnya. "Tunggu, besok ada kerja kelompok?"

"Lupa, ya? Di rumahmu, 'kan," jawab Masamune.

Ini kesempatan emas, batin Sasuke girang. Tanpa sadar, kedua ujung bibirnya tertarik ke atas.

"Oi. Senyum-senyum sendiri," ucap Masamune risih.

"Idih. Gak senyum-senyum, tau," bantah Sasuke.

"Tadi kau senyum-senyum. Jelas banget."

"Aku nggak senyum-se—"

"DATE DAN SARUTOBI!" tegur Hideyoshi-sensei keras. Membuat Masamune dan Sasuke diam seketika.

Sasuke terdiam.

Masamune terdiam.

Shit. Kenapa guru sialan ini harus menghilangkan 'ketampananku' coba? Nurunin reputasi banget, gerutu Masamune dalam hati.

Seluruh mata tertuju pada dua manusia satu gender ini; Masamune dan Sasuke. Sasuke hanya memasang tampang datar tetapi hatinya masih was-was, sementara Masamune memasang tampang sok cool-nya seperti biasa, walau hatinya membantah.

Oke, sebenarnya itu sama saja.

"What?" tanya Masamune supermalas.

"Kalian mengobrol pada jam belajar. Perhatikan ke depan!" omel Hideyoshi-sensei yang kemudian melanjutkan aktivitas mengajarnya.

Masa bodoh, batin Masamune kesal.

Sasuke mengangkat bahu sambil menoleh ke arah Masamune. "Intinya, aku nggak senyum-senyum sendiri. Dan oh, nanti makan siang bareng ya?"

Masamune memasang tampang curiga. "Why?"

"Yukimura ada urusan. Boleh?" tanya Sasuke yang berkeringat dingin. "Habis itu kita battle."

Oi. Gak takut mual, ya?

"Okay. Oh ya, kemampuan muay thai-ku sudah sangat meningkat. Jadi, siap-siap saja makanan yang sudah meluncur ke perutmu itu akan keluar lagi. Aku yakin, kau akan kalah kali ini. Tidak akan seri lagi." Masamune menyeringai. Sasuke hanya mengangkat bahunya malas, kemudian kembali memperhatikan pelajaran di depan.

Aku yakin, pasti Saru ada apa-apanya. Tumben sekali dia ngajak makan bareng. Sebenarnya ogah, tapi habis itu battle. Yah, sebagai pecinta muay thai, sudah pasti aku terima, batin Masamune sambil mencoret-coret bagian belakang bukunya.

.b.

"ER… Sanada?"

Panggilan Kojuuro membuat Yukimura hampir berdiri seketika. Ia sedang asyik merenungi sang dango tercinta. Yukimura menoleh sambil memberi isyarat "Apa?" dengan naikan alisnya.

Kojuuro tersenyum kecil. "Nanti… makan bareng yuk?"

Yukimura terdiam sebentar. "Aku biasa makan bersama Sasuke. Dan bukannya kau biasa makan siang bersama Masamune-dono, Katakura-dono?" tanyanya heran.

"Masamune katanya mau battle sama Sasuke-mu," jawab Kojuuro, mengikuti rencana Sasuke tadi pagi.

"Oh… baiklah kalau begitu," jawab Yukimura sambil tersenyum lebar.

"Ngomong-ngomong, jam kosong itu menyenangkan ya?"

Ya, sekarang, di kelas Kojuuro dan Yukimura sedang jam kosong karena guru Bahasa Inggris mereka, Zabii-sensei, tidak masuk dikarenakan sedang mengikuti seminar di luar kota.

Dan seperti kelas-kelas yang sedang jam kosong pada umumnya; ramai seperti pasar.

"Iya lah. Kelas jadi bebas, terserah mau ngapain aja," jawab Yukimura santai sembari mengambil cokelat batangan dari tasnya. "Katakura-dono mau?" tawarnya sambil memotek cokelat batangan tersebut menjadi dua.

"Bo—boleh," jawab Kojuuro sambil menerima potekan cokelat batangan itu. Kemudian ia memakannya bersama Yukimura. "Err, Sanada, bolehkah aku bertanya sesuatu?"

"Apa?" tanya Yukimura sambil memakan cokelat.

"Kau kenal Masamune 'kan?" tanya Kojuuro.

Yukimura tidak menjawab, melainkan malah asyik menghabiskan cokelatnya. Ia mengambil salah satu buku dari tasnya. Itu buku sketsa. Kemudian, ia membuka lembaran-lembaran buku itu, seperti mencari sesuatu.

"Masamune-dono yang ini 'kan?" tanya Yukimura sambil menunjuk foto laki-laki ber-eyepatch hitam. Kojuuro mengernyitkan alisnya heran.

"Iya. Memangnya Masamune di sekolah kita ada berapa, sih? Cuma satu 'kan?" tanya Kojuuro balik. "Hmmm. Kau menyimpan fotonya, Sanada?"

Yukimura mengangguk. "Aku pernah bertemu dengannya sekali, dan kami malah bertengkar," jawabnya. "Aku menyimpan fotonya yah, tidak sengaja ketemu di tas. Aneh 'kan? Padahal aku tidak menaruhnya di situ. Jadi, aku simpan saja."

Kode keras, Sanada. Kode keras, batin Kojuuro. Ia berdeham agar tidak tertawa. "Kau suka dia?"

Yukimura menaikkan alisnya. "Suka?"

"Ya. Kau suka padanya? Suka dalam arti cinta," jawab Kojuuro.

"Oh. Enggak," jawab Yukimura.

Kojuuro tertawa. "Kau tau? Kau menyimpan fotonya seperti itu sudah seperti kode keras bahwa kau menyukainya."

"Aku tidak menyukainya!"

"Baiklah, lupakan." Kojuuro berhenti tertawa, seakan dia tengsin. "Kalau boleh tahu, kalian bertengkar karena apa?"

"Karena... aku tidak sengaja menumpahkan jus alpukatnya tepat di celana seragamnya. Dan? Dia menceramahiku, mengomeliku habis-habisan serta menyemprotkan kata-kata kasar." Raut wajah Yukimura berubah menjadi kesal. "Kasar sekali ia."

Kojuuro manggut-manggut. "Yah, dia memang begitu orangnya. Maafkan dia, ya?"

"Itu sudah lama sekali, lupakan saja. Lagipula, seharusnya aku yang meminta maaf," ucap Yukimura sembari memejamkan matanya. "Aku… jadi teringat mimpiku semalam."

"… Mimpi?"

Kojuuro mengernyitkan alisnya, memberikan kode kepada Yukimura bahwa ia penasaran dengan mimpi itu.

"Aku mimpi mati di sebuah ruangan yang dindingnya terbuat dari beton. Tidak ada pintu, penerangan, dan ventilasi. Aku kehabisan nafas. Dan di saat aku mati, banyak hantu yang memakan ragaku," cerita Yukimura panjang lebar. "Aku takut itu terjadi di dunia nyata…."

"Kau bercanda?" tanya Kojuuro. "Kalau ruangan itu tidak ada pintu keluar, bagaimana caranya kau bisa masuk? Itu tandanya, mimpi itu tak akan menjadi kenyataan."

Yukimura terdiam sebentar. "O ... iya. Baru ingat. Sebelum aku terperangkap, aku diseret oleh makhluk tak kasat mata—namun tarikannya terasa—ke ruangan itu. Dia menyihir pintu yang ada di situ agar hilang." Ia bergidik ngeri mengingatnya. "Aku kayak orang lemot di situ. Lemot banget rasanya."

Ngaku. Dasar.

Emang kamu lemot, ledek Kojuuro dalam hati. Ia tertawa hambar. "Lupakan saja mimpi itu."

Ia menatap wajah Yukimura lekat-lekat. Mata coklat yang indah dipadukan dengan kulit putih dan bibir tipis nan mungil membuat wajah laki-laki penyuka warna merah ini semakin manis. Apalagi ditambah bulu mata lentik dan sorotan mata polosnya.

Dia manis banget, batin Kojuuro. Cocok buat Masamune.

Mereka berdua pun saling bercerita satu sama lain, sampai akhirnya bel istirahat berbunyi. Murid-murid yang ada di dalam kelas pun berhamburan keluar kelas. Begitu pun Yukimura dan Kojuuro, yang pada saat itu juga langsung berjalan ke kantin.

.b.

"KANTIN sepi sekali. Tumben," komentar Masamune sambil mengambil bentou yang barusan dibelinya.

"Iya. Semua beramai-ramai ke perpus, katanya banyak novel dan komik baru yang dipajang di sana," jawab Matsu, juru masak sekolah yang sangat handal memasak makanan apapun.

Sasuke manggut-manggut. "Pantas."

Sebenarnya, Sasuke ingin sekali mengunjungi perpustakaan untuk sekedar membaca komik. Namun, kehendak berkata lain. Ia harus tetap melaksanakan rencananya untuk menjodohkan Yukimura dengan Masamune.

Menyedihkan, bagi seorang pecinta komik seperti Sasuke.

Sekilas tentang Sasuke, ia lebih tinggi sedikit dari Yukimura. Matanya coklat, sama seperti adiknya. Ia juga mencintai seni, terutama seni lukis. Ia juga sangat pandai menggambar komik. Koleksi komik Sasuke ada lebih dari 40 buah. Bahkan, komik buatannya sudah ada 4 buku. Sayang, ia belum berani mengirimkan komik itu untuk diterbitkan.

"Sarutobi, kau tidak makan?" tanya Masamune. "Oh iya. 'Kan nanti mau battle. Pasti kamu sudah takut kalah duluan, jadi nggak makan," ledeknya.

Sasuke masih merenungi komik-komik baru di perpus itu. Ia diam saja, matanya menatap lurus ke arah bentou Masamune.

"Oi, Saru, kok diam saja? Ah, sudahlah. Palingan nanti kerasukan. Aku dulu—"

"Temani aku ke perpus, plis. Aku pengen liat komik-komik baru itu. Ya? Makannya batal. Abis aku liat-liat, kita battle. Gimana?"

... Rupanya Sasuke gagal menahan nafsunya akan komik.

"Are you kidding me? Aku sudah membeli makanan! Mubazir, Saru Rese," timpal Masamune. "Oh. Mungkin, mulai saat ini, aku akan memanggilmu Kantung Kresek. Kantung Kresek dan Saru Rese pengucapannya mirip."

"Aku tidak peduli kau memanggilku apa. Yang penting, kita harus ke perpus sekarang. Ayo!" ajak Sasuke sambil menarik tangan Masamune ke perpustakaan, tepat saat Masamune menaruh bentou itu di meja kantin.

Masamune mendecak. "O—oi—Matsu-san! Pulang sekolah aku akan ke sini lagi untuk mengambil bentou itu!" teriaknya cepat, sebelum mereka berdua keluar dari kantin.

"Ya, baiklah," jawab Matsu seraya mengedikkan bahunya.

Sementara itu, acara makan Kojuuro dan Yukimura masih berlangsung. Yukimura yang menyadari ada Sasuke dan Masamune yang keluar kantin, langsung berhenti makan seraya berdiri.

"Kenapa, Sanada?" tanya Kojuuro, ikut berhenti makan.

"Lucu. Barusan aku melihat Sasuke menarik Masamune-dono ke luar kantin," jawab Yukimura. "Mereka… makan di sini?"

"Entah," jawab Kojuuro, pura-pura tidak tau apa-apa. "Mungkin sebelum battle, mereka makan dulu."

Aw yea, Kojuuro nggak tau kalau sebenarnya Sasuke dan Masamune saat ini ke perpustakaan, bukan battle.

Yukimura mendecak. "Lucu banget. Sasuke dan Masamune-dono 'kan musuh. Kok bisa makan bareng?"

Tepat sasaran.

Aduh. Kenapa tiba-tiba dia jadi nggak lemot?

.b.

"KE sini hanya sekedar melihat dan membaca satu buku? Seriously?" gerutu Masamune sambil menengok ke arah Sasuke yang tengah membaca komik dari perpus.

"Aku suka komik. Salah, gitu?" tanya Sasuke, masih fokus dengan komiknya.

"Kapan battle?" tanya Masamune, tanpa menjawab pertanyaan Sasuke sekaligus mengganti topik.

Sasuke menghentikan aktivitas membaca komiknya. Matanya menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong. Kemudian ia menunduk.

Sejak kapan kau menjadi tidak jelas begini, Sasuke?

"O… iya. Aku lupa. Baiklah, kita battle sekarang, setelah aku menaruh buku ini di kelas," ujar Sasuke sambil menoleh ke arah Masamune yang terlihat bosan. "Aku kasih kartu perpus ke penjaga perpus dulu. Tunggu di pintu aja."

Niatnya kan mau interogasi, kenapa malah jadi awkward gini?! Sasuke goblok. Ah, biarlah, 'kan bisa interogasi pas battle.

"WHATEVER! Aku tunggu di lapangan belakang," ujar Masamune, berjalan keluar perpustakaan.

Masamune, kau sungguh berisik. Kau baru saja melanggar peraturan utama di perpus; dilarang berisik.

"I… iya," jawab Sasuke.

Bener-bener nyebelin banget si Kantung Kresek, batin Masamune kesal. Ha. Manggil dia Kantung Kresek enak juga. Lucu pasti kalo aku manggil dia Kantung Kresek di depan banyak orang. Lagian, rese banget jadi orang.

Sasuke tak kalah kesal. Kesel banget sama Date. Gak sabaran banget. Oh iya, 'kan aku yang salah, ya. Harusnya bisa nahan nafsu terhadap komik sementara.

Setelah memberikan kartu anggota perpus ke penjaga perpustakaan, Sasuke langsung berlari ke kelas untuk menaruh komik pinjaman. Lalu, ia berlari ke lapangan belakang, tempat dimana ia biasa melaksanakan battle dengan Masamune.

To be continued

.b.

A/N

Asam lambung Mea naik. Jadinya sendawa mulu dari kemaren. Padahal sebelumnya sendawa cuma lima kali setahun… ah sudahlah. Btw selama ngedit ini Mea udah sendawa sekitar 4 kali. k(rese)k amat dah.

Maap yah kalo chapter ini terpandang basi sama kalian! :')

Review dundd

Thank you all for reading. If you wanna join the series, you can move on the next chapter, or even follow me to be notified of the future fictions. Good bye!

28 April 2016