Backfire [3]: Hukuman dan Pengungkapan

Sengoku BASARA © CAPCOM

Warning: Crack pair, random antara MasaYukiKojuSasu pokoknya. Sho-ai, AU, sedikit OOC terutama Sasuke yang di sini bakal jadi agresif (atau lebay?). Dan Koju yang bakal manggil Masmun dengan nama langsung, juga Sasu yang bakal manggil Yuki dengan nama langsung.

Have fun with the story!

.b.

"WHERE did you go?! Sepuluh menit lebih dan kau baru muncul?!" omel Masamune, kesal dengan Sasuke yang baru muncul di lapangan belakang.

Sasuke hanya menampilkan senyum terbaiknya, yang membuat Masamune sangat ilfeel melihatnya. "Kau nggak dengar bel masuk, ya? Oh—tempat ini 'kan jauh dari kawasan speaker, ya. Pantas kau tidak mendengar bel. Tadi di kelas cuma dikasihtau kalau pelajaran Bahasa Inggris jamkos," jelasnya. "Jadi kita bisa battle dengan bebasnya, sekarang."

Masamune tersenyum lebar. "Oke, kita lakukan battle sekarang. ARE YOU READY, KANTUNG KRESEK?"

"Aku sudah siap kapanpun untuk melawanmu!" jawab Sasuke tegas.

"SO, LET'S PARTY!"

.b.

"HA! Lihat, siapa kini yang kalah!" seru Sasuke dengan senyum kemenangan.

Masamune merintih. "Shit! Kukira dengan meningkatkan kemampuan muay thai-ku, aku akan menang, rupanya tidak!"

"Percuma, karena aku juga meningkatkan skill-ku," tandas Sasuke. Ia mengulurkan tangan kanannya kepada Masamune, seraya membantunya bangun.

"... Thanks."

Sasuke melemparkan senyum lagi. Masamune tidak membalasnya, namun ia langsung duduk di pinggir lapangan. Tadinya ia ingin minum, tapi rupanya ia lupa membawa botol minumnya ke lapangan. Okay, that was an epic fail. Seorang Dokuganryuu—Naga Bermata Satu, Date Masamune—lupa di depan musuhnya—Sarutobi Sasuke yang dipanggilnya Kantung Kresek.

Oke, panggilan Kantung Kresek terdengar sangat aneh. Tapi ya, Masamune suka memanggil Sasuke seperti itu.

Masih menunggu waktu dimana aku bisa meneriaki nama Kantung Kresek itu di depan satu angkatan. Baru puas, deh, batin Masamune puas.

"Cie yang lupa bawa minum. Date lupa cie," ejek Sasuke sambil tertawa lepas.

Masamune langsung mendengus keras. "Ah, elah. Nggak usah ngejek. Semua orang pasti pernah lupa."

"Halah. Waktu itu aja kau pernah teriak di kelas 'Aku adalah manusia yang tidak pernah lupa!'," tandas Sasuke sambil tersenyum penuh kemenangan (lagi).

Ya, Masamune memang pernah berteriak seperti itu di kelas. Dan disaksikan oleh satu kelas. Memang, Masamune sangat jarang lupa karena ingatannya yang sangat kuat.

Masamune membuang muka. "Diam kau."

Sasuke tertawa lagi. "Kau kenal adikku, tidak?" tanyanya seraya mengganti topik, mengikuti rencananya.

Phew, untung aja masih sempet waktunya. Bersyukur banget rasanya jamkos sampai 3 jam, batin Sasuke.

"... Adikmu? Sa... Sanada, 'kan?" Masamune tampak mengingat-ingat. "Sanada yang kelas sebelah?"

"Iya, Sanada Yukimura yang itu. Yukimura di sekolah kita cuma dia, 'kan?" tanya Sasuke geli. "Kau kenal dia?"

"Antara ya dan tidak," gantung Masamune cuek.

Sasuke yang kesal langsung menepuk keras lengan Masamune. "Yang benar, dong. Jawabannya jangan ngegantung gitu."

Masamune tertawa kecil. "Ya, ya. Kenal. Tapi tidak pernah berbicara satu sama lain. Hanya pada saat aku bertengkar dengannya dulu," jawab Masamune akhirnya.

Sasuke menaikkan satu alisnya. "Bertengkar denganmu...? Oh iya. Yukimura pernah menceritakannya padaku," ujarnya.

"Iya, yang itu," kata Masamune. Ia mengipas-ngipas dirinya sendiri dengan kerahnya yang dimaju-mundurkan.

Sasuke menghembuskan napas. "Boleh ngepo, nggak?"

"Nggak," ketus Masamune dingin, seraya berdiri. "Mau ke kelas. Ogah dikicepin lagi."

"Siapa yang mau ngicepin?" tanya Sasuke geli. "Mau ngepo. Soalnya ada misi dari sepupumu noh," jawab Sasuke sambil tertawa.

Ngisengin Katakura dikit nggak apa-apa lah, batin Sasuke.

"Tetep. Nggak. Boleh," ketus Masamune lagi.

"Plis." Sasuke memelas.

"Nggak."

"Plis. Plis. Plis. Plis. Plis."

"Kresek memanglah rese. Shut up!"

"Kau punya pacar nggak?" ceplos Sasuke akhirnya, kesal dengan Masamune yang tidak mengizinkannya mengepo.

Diam-diam, Sasuke merekamnya dalam sebuah recorder. Licik, heh. Tapi lumayan juga. Siapa tahu ia lupa.

Masamune mengernyitkan alisnya. "Nggak."

"Kriteria pacar?" lanjut Sasuke.

"Aku suka pacar yang rada manja. Romantis, cemburuan, dan nggak suka ngejar-ngejar aku. Ditambah, nggak begitu humoris dan pastinya baik. Bisa ngerti sifatku yang seperti ini."

Sasuke manggut-manggut. "Ooh."

"Kenapa? Kau naksir sama aku? Oh. Sayangnya kau musuh, sih. Aku mana tertarik sama musuh?" cetus Masamune sinis.

Phew lagi, untungnya Yukimura bukan musuh Date nyebelin ini, batin Sasuke lega. "Nggak lah! Ngapain coba?"

Sasuke mengganti posisi duduknya. Ia ikut mengipas-ngipas dirinya dengan kerah. Kemudian, ia mendongak ke arah Masamune.

"Lalu kena—OH. MY. GOD. Baru saja aku membiarkan musuhku mengepo! Astaga!" seru Masamune tengsin. Ia langsung berdiri dan berlari ke kelas, meninggalkan Sasuke di lapangan belakang. Sen-di-ri-an.

"Tu—tungguin!" teriak Sasuke, langsung mengejar Masamune ke kelas.

Well, kau lupa lagi di depan musuhmu, Date Masamune. Sejak kapan kau menjadi pikun begini? Sangat menurunkan reputasi, ya know?

.b.

"JADI, Date dan Sarutobi, kalian tadi dari mana saja? Pacaran?" tanya Pak Kepala Sekolah kepada dua orang berbeda gender di depannya. Di ruang kepala sekolah.

Ya, Masamune dan Sasuke memang tertangkap basah baru masuk kelas berdua. Sebenarnya, sewaktu mereka battle, Pak Kepala Sekolah—Oda Nobunaga—memasuki kelas mereka karena ketidakadaannya Zabii-sensei. Ia memasuki kelas itu karena ada Sasuke dan Masamune yang selalu membuat ribut di sekolah. Sementara kelas Kojuuro dan Yukimura tidak diawasi karena tidak ada pembuat onar.

Dan, Masamune dan Sasuke masuk ketika kelas rapi, hening, dan... ada kepsek.

Sumpah atas langit dan bumi, Masamune dan Sasuke lupa akan itu. Oke, sudah ketiga kalinya Masamune lupa hari ini.

"Nggak! Enak saja. Kantung Kresek, tuh! Pake ngajakin battle segala!" adu Masamune sambil menunjuk Sasuke yang tengah mengernyitkan alisnya.

"Emangnya kenapa?! Sudah kalah saja masih bercuap-cuap!" tantang Sasuke.

Kontan, Masamune berdiri. "NGGAK USAH NGELEDEK, KRESEK!" teriaknya mengamuk.

"TAPI NYATANYA MEMANG KAU KALAH, 'KAN?!"

"Hey! Jangan malah ribut! Ayo, kalian berdua saya hukum membersihkan seluruh toilet!" tegas Nobunaga.

Sasuke langsung menatap Nobunaga dengan tatapan deathglare. Masamune langsung mengamuk parah, membuat Nobunaga kewalahan menenangkannya.

"Tidak ada tapi-tapian, saya tidak suka ada orang yang mengambil kesempatan dalam kesempitan," tegur Nobunaga.

"MEMANGNYA KESEMPITAN APA, SIH?! KAMI JUGA NGGAK PACARAN!" amuk Masamune, kali ini dia sambil melempar map-map yang ada di meja kepsek.

"Sudah pertemuan keempat dalam semester ini. Itu berarti, hukuman ini tidak tergolong berat. Lagipula, sebelum-sebelumnya kalian belum pernah saya hukum," timpal Nobunaga serius. "Tidak ada elakan. Cepat, laksanakan. Bonusnya... kalian tau 'kan?" Nobunaga tersenyum licik.

Masamune dan Sasuke langsung lemas seketika. "Pelajaran tambahan saat pulang sekolah...?" tanya mereka lemas.

"Ya," jawab Nobunaga singkat.

Sasuke mendengus keras. Ya, salah satu peraturan di Basara High School, jika ada murid yang dihukum, ia harus mengikuti pelajaran tambahan saat pulang sekolah sampai jam 5 sore. Pelajarannya tergantung mata pelajaran yang tadi dilewati sewaktu dihukum. Jadi, bisa sampai 3 mata pelajaran.

Semua yang dipelajari adalah teori. Jadi, tidak ada eksperimen kimia, ataupun olahraga. Dan yang mengajar adalah guru itu sendiri. Jika gurunya berhalangan, yang mengajar adalah Nobunaga sendiri.

"Oh God, why?" tanya Masamune kesal. "Kresek, mata pelajaran sehabis ini apa?"

"Sehabis Bahasa Inggris itu Biologi," jawab Sasuke.

Masamune memijat kepalanya frustasi. "Astagaaa. Aku benci pelajaran itu! Kenapa, Tuhan? Kenapaaa? Kalau saja tidak dihukum, aku bisa kabur! Lah ini bagaimana caranya aku bisa kabur?!" gerutu Masamune sambil menaruh kepalanya asal di meja kepsek.

"Sudah, tidak perlu banyak mengeluh. Cepat laksanakan atau... saya suruh kalian berciuman di depan satu angkatan?" tawar Nobunaga dengan senyum mesumnya.

Masamune dan Sasuke yang jijik dengan tampang Nobunaga langsung ngacir ke luar ruang kepsek. Mereka pun langsung ke ruang janitor, dimana di sana tersimpan alat-alat kebersihan.

Sesampainya di ruang janitor, Masamune langsung menarik tangan Sasuke kasar seraya menjatuhkannya ke tumpukan ember dan pel.

"Semua ini salahmu! Kalau saja kau tidak mengajakku bertarung, pasti semuanya tidak akan menjadi seperti ini! Reputasiku akan tambah anjlok, tau! Aku tidak pernah dihukum sebelumnya!" teriak Masamune marah. "Sekarang, kau harus bertanggung jawab!"

Sasuke memegangi dadanya yang terantuk ember. "Sialan! Sakit, tahu!" ringisnya.

"Aku sama sekali tidak peduli," tandas Masamune.

"Kau…." Sasuke mendesis.

Masamune melirik ke arah Sasuke sambil melipat tangannya. "Apa? Mau nangis?"

"Aku BUKAN lelaki cengeng," tandas Sasuke.

"Terserah. Terus, kapan kerja kalau mengobrol terus?" Masamune mengganti topik.

"Sekarang. Ayo," ajak Sasuke sambil mengambil beberapa peralatan dan menarik Masamune ke luar ruang janitor—menuju toilet laki-laki, tugas pertama sekaligus yang terdekat.

.b.

"KATAKURA-DONO," panggil Yukimura.

Kojuuro menoleh. "Apa?"

"Mmm ... Sasuke barusan ngasih kunci rumah. Dia pulangnya sore, katanya ikut pelajaran tambahan karena dihukum bareng Masamune-dono," jelas Yukimura. "A—aku boleh ke rumah Katakura-dono dulu nggak? Takut sendirian di rumah... apalagi mimpi itu."

Ya Tuhan. Kenapa dia masih kepikiran dengan mimpi itu? batin Kojuuro. "Masamune juga dihukum? Oh. Boleh kok." Ia menghembuskan napas.

"Yang benar, Katakura-dono? Terima kasih!" seru Yukimura senang dengan mata berbinar-binar. Kojuuro mengangguk, kemudian mereka melanjutkan perjalanan mereka.

Mereka—Kojuuro dan Yukimura—sedang berada di koridor sekolah. Barusan, Yukimura diberi kunci rumah oleh Sasuke di koridor depan kelas tepat sebelum Kojuuro menghampirinya. Yukimura ingat betul bagaimana penampilan Sasuke saat itu. Sebagian bajunya basah, rambut acak-acakan, dan muka yang sangat kusut. Katanya, ia dan Masamune bercanda saat membersihkan toilet, jadi bajunya dan Masamune basah terciprat air sabun. Dan lagi, HP Masamune tercemplung ke ember itu.

Dan kini, Sasuke dan Masamune sedang melaksanakan pelajaran tambahan. Malesin moment ever. Kalau Kojuuro dan Yukimura, mereka sedang berjalan menuju rumah Kojuuro yang tidak begitu jauh dari sekolah.

Keheningan di antara keduanya tersapu begitu Yukimura menceritakan pengalamannya, dari yang senang maupun yang buruk. Kojuuro tersenyum kecut dalam hati. Sebelumnya, ia tidak pernah dekat dengan Yukimura, dan dalam waktu sehari mereka sudah menjadi sangat akrab. Itu merupakan kemajuan yang pesat, walau bersembunyi dalam kepura-puraan.

Kojuuro bertanya-tanya dalam hati, bagaimana Sasuke akan menanya-nanyakan Masamune, berhubung Masamune cukup ganas. Mungkin karena Sasuke dan Masamune sering berduel, jadi sudah akrab dalam konteks saingan.

"Sanada."

"Ya, Katakura-dono?"

Kojuuro berdeham. "Nanti saja deh, ketika sampai di rumahku."

"Yeh. Nggak konsisten nih!" gerutu Yukimura sambil memukul lengan Kojuuro keras.

Kojuuro hanya terkekeh sambil mengusap-usap lengannya. "Maaf, eheheh."

Yukimura langsung membuang muka. Langkahnya terhenti, membuat Kojuuro terbengong dan ikut menghentikan langkahnya.

"Kenapa?"

"Terima kasih ya, Katakura-dono."

Kojuuro membulatkan matanya. "Terima kasih untuk apa?"

Yukimura tersenyum kecil. "Karena sudah mau mendengarkanku bercerita."

Kojuuro mengernyitkan alisnya. Memangnya bocah itu tidak memiliki teman untuk diajaknya curhat? Atau karena memang ia terlalu cerewet, hingga teman-temannya merasa enggan menjadi tempat curhat laki-laki penyuka dango itu? Entahlah.

Atau Kojuuro saja yang berfikir terlalu jauh soal ini.

"Hanya Sasuke dan Oyakata-sama yang mau mendengarkanku bercerita hingga sedetil ini. Dan mereka adalah keluargaku. Tapi Katakura-dono bukan keluargaku, dan aku sangat-sangat menghargai itu. Hanya Katakura-dono temanku yang benar-benar mau mendengarkanku bercerita."

Kojuuro berubah gelisah. Pasalnya, ia tidak benar-benar mendengarkan. Ia serius mendengarkan hanya untuk mengambil informasi-informasi yang mana akan dibuat rencana tentang bagaimana ia bisa mendekatkan Masamune kepada laki-laki ini. Ia jadi merasa bersalah.

Tapi, ia hanya mengangguk. "Sama-sama."

Beberapa menit kemudian, keduanya sampai di rumah Kojuuro—juga Masamune. Kojuuro mempersilahkan Yukimura untuk masuk duluan ke rumahnya. Melihat rumah Kojuuro—juga Masamune—yang bernuansa naga, kening Yukimura berkerut.

"Kenapa?" tanya Kojuuro.

"Sepertinya aku familiar dengan naga-naga ini…," celetuk Yukimura lugu. Oh, apakah ia belum tahu kalau Kojuuro tinggal bersama Masamune—sepupunya?

"Ini rumah Masamune," jawab Kojuuro tanpa ditanya. Mendengarnya, Yukimura membelalak.

"Hah?!"

Kojuuro berdeham. "Kami tinggal serumah. Aku sepupunya. Kau tidak tahu?"

Kontan, Yukimura menggeleng. Kojuuro hanya menghela nafasnya lelah. Kemudian, ia mengajak Yukimura untuk duduk di ruang tamu.

"Mau minum apa?" tanya Kojuuro.

"Ih, apaan sih, Katakura-dono. Enggak usah," jawab Yukimura.

"Benar? Kuambilkan air putih saja ya. Siapa tahu kau haus."

Pada akhirnya, Yukimura mengangguk dan Kojuuro pun bergegas menuju ke dapur. Yukimura masih terkagum-kagum dengan miniatur-miniatur naga yang tersusun begitu rapi di mana-mana. Sepertinya, keluarga Masamune seperti dirinya. Rumah ini bernuansa naga, sementara rumah Yukimura bernuansa harimau.

Kojuuro pun kembali membawa dua gelas besar air putih dingin. Kelihatannya segar sekali. Yukimura pun mengambil salah satu gelas itu dan meminumnya.

"Jadi begini, Sanada," mulai Kojuurou.

Yukimura menaruh gelas itu di coffee table kemudian memperbaiki posisi duduknya, condong menghadap Kojuuro.

"Sebenarnya, aku dan Sarutobi berniat untuk menjodohkanmu dengan Masamune."

Detik pertama, Yukimura mengerjapkan matanya beberapa kali.

Detik kedua, Yukimura nge-gasp.

Detik ketiga, dia heboh.

"APA?! KATAKURA-DONO, AKU 'KAN LAKI-LAKI! KOK DIJODOHIN SAMA LAKI-LAKI JUGA?!"

Kojuuro mengusap-usap telinganya.

"Aku gak mau! Masamune-dono itu gak suka sama aku!" bantah Yukimura keras.

"Dicoba saja dulu, Sanada. Siapa tahu nanti Masamune perlahan suka padamu," ucap Kojuuro berusaha sabar. Nyatanya, semua orang memang harus sabar berbicara dengan Yukimura.

"Itu nggak mungkin…." Yukimura menatap lantai dengan sendu. "Masamune-dono itu… jahat…."

"Mungkin, perkataan 'jahat' itu terlalu jahat, Sanada," tandas Kojuuro. "Dicoba saja dulu. Kalau kau memang benar-benar tidak bisa nyambung dengannya, maka perjodohan ini akan kami batalkan."

"Kalian… kalian kenapa mengurusi… hidupku…? Jodohku…?"

Oh tidak. Jangan bilang Kojuuro sudah membuat anak orang menangis.

"Aku… salah apa…?"

Tangan kiri Kojuuro mengangkat wajah Yukimura. Rupanya ia tidak menangis.

Terkejut karena mendapat perlakuan seperti itu, sontak pipi Yukimura memerah dan bahunya menegang. Kojuuro tertawa kecil melihatnya.

"Kau diperlakukan seperti ini saja sudah merona. Jelas sekali kalau kau memang mudah suka dalam konteks cinta pada orang. Kalau kau suka pada Masamune, tolong jangan mundur, ya?"

Yukimura menggeleng. "Aku gak mau."

"Bagus. Dan oh, jangan bilang pada Masamune kalau kalian sedang dijodohkan, ya?" pinta Kojuuro sambil tersenyum.

Pandangan Yukimura melunak. Kojuuro salah mengartikan ucapannya.

To be continued.

.b.

A/N

Kepseknya fujoshi.

Btw mau cerita XD

Jadi, kemaren kan gue latihan teater di Taman Lama. Terus disuruh pindah aja latihannya di sekolah gara-gara sekolah sepi padahal kelas 8 lagi TO (disuruh, tapi gak wajib. Yang dateng cuma 30an dari 400an siswa).

Terus, pas rombongan teater masuk, ada guru sekolah gue yang ngomong gini, "Eh, kalian ada yang kelas 8 nggak?!" terus gue sama ketiga temen gue yang notabenenya kelas 8 langsung lari ke ruangan serbaguna.

Lawak bat, sumpe.

Ada kesalahan teknis ya di chap kemaren yg akhir-akhir kalo dibandingin sama chap ini yg awal-awal. Gue males jelasin tapi pasti kalian tau yg mana wkwk.

Makasih Sasu yang udah review! Btw ente kemana di BBM kok ngilang…

Thank you all for reading. If you wanna join the series, you can move on to the next chapter, or even follow me to be notified of the future fictions. Good bye!

1 Mei 2016