Backfire [7]: Cintai Aku Dengan Tulus

Sengoku BASARA © CAPCOM
Backfire © Meaaaa

Warning: Crack pair, random antara MasaYukiKojuSasu. Sho-ai, AU, sedikit OOC.

Have fun with the story!

.b.

"SEMALAM, Masamune frustasi," mulai Kojuuro. "Aku tidak mau sok tahu. Tapi, aku menduga itu ada hubungannya denganmu."

Yukimura mengerutkan alisnya. "Dia… kenapa?"

"Dia…." Kojuuro tersenyum masam. "Mabuk-mabukkan."

Refleks, Yukimura memukul meja yang ada di depannya. Terkejut karena ternyata perasannya membawa pengaruh yang begitu besar untuk Masamune. Yukimura tidak bermaksud begitu sama sekali. Dan ia mulai menyesal karena sudah mengungkapkan perasaannya.

Sejenak, ia teringat janjinya pada Sasuke bahwa ia tidak akan lemah lagi. Yukimura mengeluh, ternyata ia tak bisa menepatinya. Ayolah, kejadian ini baru berlangsung di bawah seminggu. Dan sudah mendapat masalah bertubi-tubi.

"Lalu… apakah ia baik-baik saja?" tanya Yukimura khawatir.

Kojuuro mengangguk. "Dia berkali-kali memanggil namamu saat ia mabuk. Aku tidak tahu itu pertanda apa."

"Masamune-dono…," lirih Yukimura. "Maafkan aku…."

"Bagaimana kalau sekarang kutemani kau ke kelas Masamune untuk membicarakan ini?" tawar Kojuuro.

Itu tidak buruk. Dan dengan cepat Yukimura menyetujuinya. Keduanya pun berjalan menuju kelas Masamune.

Di sana, Masamune sedang Sasuke coba ajak ngobrol. Tapi, laki-laki itu sepertinya terlalu badmood walau untuk bicara sekalipun. Untung saja di kelas hanya ada mereka. Langsung saja Yukimura masuk.

"Masamune-dono…?" panggil Yukimura ragu.

Masamune mendongak. Hal itu membuat Yukimura sedikit merona. Dengan Sasuke, ia tidak peduli. Tapi dengannya… ia menoleh.

"Masamune-dono ada masalah ya…?" tanya Yukimura lembut.

Masamune hanya kembali tertunduk—diam seribu bahasa.

"Aku mau bantu Masamune-dono…," ucap Yukimura sambil duduk di samping Masamune.

Masamune—maupun Sasuke dan Kojuuro—tahu Yukimura tulus. Sementara itu, Kojuuro menarik tangan Sasuke ke luar kelas agar tidak mengganggu mereka berdua. Mereka memutuskan untuk mengintip dari jendela saja.

"Tidak perlu, Sanada," tolak Masamune. "Aku baik-baik saja."

"Tapi, kenapa Katakura-dono bilang kalau kau tidak baik-baik saja?" tanya Yukimura. Sebenarnya, Kojuuro tidak mengatakan hal itu secara langsung. "Apa benar Masamune-dono kemarin mabuk?"

Masamune menghela nafas panjang. "Kau tidak mengerti, Sanada. Aku lelah menghadapi masalah-masalah ini."

"Jadi, aku salah satu masalahnya?" tanya Yukimura.

"Kalau dipikir-pikir, iya."

"Aku tidak bermaksud seperti itu!" ucap Yukimura merasa bersalah. "Maaf…."

"Sanada, tolong jangan buat emosiku naik. Aku tidak ingin mengasarimu lagi." Masamune kini menatap Yukimura. "Aku tidak melarangmu untuk menyukaiku, 'kan? Apalagi, kau kuperbolehkan berbicara denganku."

"Aku membuka luka lama milik Masamune-dono, 'kan?" tanya Yukimura.

Masamune mengernyitkan alisnya.

"Minum-minum itu nggak baik lho, Masamune-dono…,"

"Beda, Sanada. Aku minum bukan untuk kesenangan. Itu semua hanya pelampiasan."

"Nggak harus minum juga 'kan, Masamune-dono? 'Kan bisa menghabiskan waktu bersama keluarga, teman-teman, atau kekasih."

"Mereka hanya menambah masalah."

"Jadi, menurutmu aku hanya menambah masalah?"

"Kau buta, Kojuuro? Dia pergi, Kojuuro. Dia pergi! Dan semua orang menyuruhku melupakannya. Tapi, nyatanya apa? Aku tidak bisa! Sampai sekarang, aku masih sangat mencintainya. Aku…."

Itu benar. Tapi, Kojuuro dan Sasuke juga berperan. Sasuke adalah pencetus awalnya, kemudian Yukimura datang menasihati dan Kojuuro menceletuk yang benar-benar membuat emosinya naik.

"Sebenarnya, aku hanya ingin meminta maaf karena sudah menambah masalahmu," ucap Yukimura. "Aku… akan menghapus perasaan ini."

"Eh, tidak perlu!" sergah Masamune. "I-I mean, kau bisa membuatku merasakan kasih sayang lagi."

"Maksudnya…?" tanya Yukimura bingung.

Masamune tersenyum kecil. "Cintai aku dengan tulus… maka aku akan merasa senang karena merasa diperhatikan lagi, setelah lama semua itu hilang."

Hati Yukimura mencelos. Kini, tangannya teraih menutup mulutnya dan butiran-butiran air matanya jatuh. Ia begitu terharu. Dan beralih memeluk Masamune seerat mungkin.

"Kalau boleh… aku ingin menjagamu, Masamune-dono-ku."

.b.

"MEREKA sweet banget!" seru Sasuke di lorong kelas begitu melihat Masamune dan Yukimura berpelukan. "Tapi 'kok malah aku yang panas sendiri, ya?"

"Heh," tegur Kojuuro. "Berisik."

Sasuke tercengir. "Sepertinya ini pertanda baik. Bagaimana kalau kita susun rencana berikutnya?"

Kojuuro mengernyitkan alisnya. "Rencana apalagi?"

"Apa ya… shopping?" tanya Sasuke asal.

"Kau ini laki-laki rasa perempuan, ya."

"Nggak, lah! Gila aja shopping."

"Ngomong-ngomong shopping, aku teringat tentang liburan di luar kota. Oke, itu tidak nyambung. Tapi, di liburan musim panas kita bisa ke pantai, berempat," tawar Kojuuro. "Tentu kalau mereka sudah saling mencintai."

Sasuke manggut-manggut. "Ide bagus!"

"Liburan musim panas masih sekitar tiga bulan lagi, karena musim semi baru saja dimulai." Kojuuro menambahkan. "Eh, kita sebentar lagi kelas 12, ya."

Sasuke mengangguk.

Tak lama kemudian, Yukimura keluar dari kelas Masamune dengan pipi yang sudah sangat merah. Dan saat itu, Sasuke langsung menghampiri Yukimura, begitupun Kojuuro.

"Sasuke… kau lihat aku tadi?" tanya Yukimura ragu.

Sasuke mengangguk semangat. "Kemajuannya ternyata pesat! Kau hanya tinggal membuatnya luluh saja."

Yukimura hanya menelan ludahnya.

"Er, Sarutobi, sebaiknya kau jangan membuat respon seperti itu. Dia cerita padaku semalam kalau dia merasa sangat kau kekang dan kau awasi," ujar Kojuuro menengahi. Sasuke tertegun. Kojuuro benar. Ia hanya terlalu bersemangat untuk ini.

"Yuki… maaf." Sasuke menaruh satu tangannya di pundak Yukimura.

Yukimura hanya membalasnya dengan senyuman tipis. "Aku ingin bertanya…."

"Apa?" tanya Sasuke dan Kojuuro berbarengan.

"Jika aku tidak berhasil membuat Masamune-dono menyukaiku, apa yang akan kalian lakukan?"

Dan itu sukses membuat Sasuke dan Kojuuro terdiam.

"Kalian tidak punya jawabannya?" tanya Yukimura sedikit terkejut.

"Mungkin…," mulai Sasuke. "Mungkin kami akan membebaskan kalian berdua saja."

"Dan membiarkanku sakit hati karena perasaan yang tak berbalas ini?" tanya Yukimura sarkastik.

Kontan, kedua bahu Sasuke turun. Reaksi ini….

"Setelah kejadian tadi…." Yukimura meletakkan tangannya di dadanya. "Aku rasa aku tulus mencintainya. Walau kejadian ini cepat sekali dan ada unsur paksaan. Tapi, aku ingin Masamune-dono senang… aku ingin ia melupakan perempuan itu. Dan aku akan menjaganya."

Hal itu membuat jantung Sasuke berdetak dua kali lipat, entah kenapa.

Mengapa Sasuke merasa tidak nyaman?

"Oke. Semoga berhasil ya, Adikku!" seru Sasuke tersenyum, tapi di dalam benaknya tertanam rasa sakit. Jangan bilang…

Jangan bilang ia cemburu.

.b.

"KATAKURA?" panggil Sasuke.

"Kenapa?"

Sasuke mendesah. "Kenapa aku merasa… panas, ya? Punggungku rasanya terbakar."

"Kau habis panas-panasan, kali," tanggap Kojuuro. "Barusan nyuruh aku ikut kau lari-lari di lapangan maksudnya apa, coba?"

Sasuke terkekeh. "Makanya itu."

"Maksudnya? Kenapa kau jadi aneh begini, sih?"

"MAKANYA ITU, KATAKURA!" Suara Sasuke terdengar bergema di telinga Kojuuro. "Aku cemburu."

Kojuuro terdiam.

"Aku seperti nggak rela jika Date akan move on ke adikku. Tapi, apa iya? Apa iya aku suka Date?!" seru Sasuke gelisah. "Tapi, kenapa aku tidak menyadari itu?"

"Kau ini aneh." Kojuuro menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kau yang ingin menjodohkan mereka, kau juga yang suka Masamune. Mungkin, kau hanya tersanjung dengan rasa setianya Masamune."

"Mungkin…." Sasuke menunduk. "Ya ampun, aku benar-benar seperti perempuan, sekarang."

"Jangan begitu. Kau tahu 'kan, adikmu sudah menyukai Masamune? Sebaiknya jangan menambah masalah," ujar Kojuuro.

"Atau aku suka Yuki?" tanya Sasuke dengan raut wajah aneh. "Ah, nggak mungkin brother complex. Ya kali. Dia adikku dan aku selalu menganggapnya adikku."

Kojuuro tertawa kecil. "Adik yang perbedaan usianya hanya 11 bulan, sampai-sampai bisa satu angkatan."

Sasuke hanya tersenyum miring.

.b.

TERNYATA, perasaan tulus Yukimura membawa pengaruh besar untuk Masamune.

Sedari tadi, Masamune terus memikirkan tentang Yukimura. Bukan karena jatuh cinta, melainkan tentang bagaimana ia akan melanjutkan 'hubungan'-nya dengan Yukimura setelah ini.

Dia begitu mirip dengan Sanada. Polosnya… tulusnya… perkataan lembutnya… ah, kenapa setiap aku melihat Sanada, aku seperti melihat dia?! Padahal kejadian itu sudah dua tahun yang lalu. Tapi, tetap saja. Ternyata dia dampaknya besar sekali, sampai-sampai aku tak bisa move on segini lamanya. Tapi, perasaan Sanada…

Perasaan Sanada seperti membawanya kembali kepadaku.

Dan setiap aku mengatakan bahwa aku mencintainya, aku seperti mengatakan bahwa aku mencintai Sanada. Kenapa mereka berdua harus mirip? Dan kenapa dia bisa suka padaku? Padahal aku kasar….

Walau kasar juga karenanya. Semua ini begitu rumit. Dan ini seperti membawaku menuju masa lalu itu yang begitu tidak mengenakkan..

Masamune berpikir panjang sambil memakan keripik pisangnya di ruang keluarga. Kojuuro yang melihatnya hanya menghela nafas memaklumi. Masamune juga butuh waktu sendiri untuk memikirkan. Apalagi tentang perjodohan itu… jika Masamune tahu… ah, Kojuuro tidak tahu apa reaksi yang akan didapatnya.

Tapi, mereka orang yang beda, Masamune lanjut berpikir.

Dia perempuan. Sanada laki-laki. Dia yang meninggalkanku, Sanada yang datang mencintaiku. Tapi, bagaimana jika Sanada pergi juga? Meninggalkanku sama sepertinya…

Masamune menggeleng. Tetap dia yang kucintai. Apapun yang terjadi, aku sudah berjanji dalam hati bahwa aku akan tetap mencintainya meski rasa sakit ini terasa seperti merobek-robek jiwa.

Tapi, bagaimana dengan konsekuensinya?

"Masamune," panggil Kojuuro.

Masamune menggeleng, tidak ingin berbicara dengan Kojuuro saat ini.

"Kau terlihat stress. Apakah ini tentang Sanada?"

Tapi, Masamune tetap mengangguk.

"Dia tulus, lho, Masamune." Kojuuro duduk di samping Masamune. "Jika kau bisa melupakan dia untuk Sanada, itu akan mengubah hidupmu. Aku bisa pastikan."

"Tahu apa kau sampai-sampai bisa mengubah hidupku?" Masamune memicing. "Sekali dia, tetap dia. Aku tidak mau berpindah."

"Tapi, kau memperbolehkannya mencintaimu, 'kan?" tanya Kojuuro. "Bagaimana kalau ia merasa kau memberinya harapan palsu?"

"Tahu darimana?" tanya Masamune sedikit terkejut. "Kau mengikutiku ya, kemarin?"

Kojuuro mengangguk.

"Tapi, aku tidak bilang kalau aku akan mencintainya. Lagipula, jika ia merasa diberi harapan palsu, itu salahnya. Aku tidak memberinya harapan. Aku hanya memperbolehkannya mencintaiku dengan tulus, agar aku bisa merasakan kasih sayang lag—tunggu." Masamune terdiam sebentar. "Iya ya, aku memberinya harapan."

"'Kan aku bilang." Kojuuro menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Aku bingung, Kojuuro…." Masamune menghela nafas panjang. "Setiap aku melihat Sanada, aku teringat dia… dan setiap Sanada berbicara dengan lembut kepadaku, aku merasa dia telah membawanya kembali."

"Lalu, lupakan dia dan lihatlah Sanada seluruhnya. Kau hanya perlu membuka mata, Masamune."

"Aku nggak mau liat dia telanjang."

"Ya Tuhan, bukan itu maksudku!" Kojuuro mendecak. "Lihat dia sebagai Sanada, bukan sebagai dia."

Masamune mengangguk. "Oke, oke! Tapi aku tetap tidak akan mengubah perasaanku. Sekali dia, tetap dia. Tidak ada yang lain. Dan oh, aku cukup bersyukur Sanada sama dengannya, aku seperti merasakan kasih sayangnya lagi."

"Ck. Kau ini benar-benar sedang PMS."

To be continued.

.b.

A/N

Baru bangun tidur langsung update :)

Pendek banget ih cuma 1,5k words. Besok-besok ga bakal lagi sependek ini (karena gue udah targetin minimal 2k words bersihnya). Btw chapter ini aneh banget, sumpah. Tapi gue jadi rada kasian juga sama Masmun…

Btw SeijirouSasuke23, soal itu… ah, siapa ya :P kayaknya sih bukan dia XD (apa sih me)

Thank you all for reading. If you wanna join the series, you can move on to the next chapter, or even follow me to be notified of the future fictions. Good bye!

15 Mei 2016