Backfire [8]: Hancur, Pergi, dan Penyesalan

Sengoku BASARA © CAPCOM
Backfire © Meaaaa

Warning: Crack pair, random antara MasaYukiKojuSasu. Sho-ai, AU, sedikit OOC.

Have fun with the story!

.b.

"MAU ke mana, Masamune? Diskotik lagi?"

Masamune mendecih. "Apa sih urusannya denganmu? Kau ini hanya sepupuku. Dua sepupu yang orangtuanya sudah meninggal dan memutuskan untuk tinggal bersama."

"Semua ini tidak harus diselesaikan dengan minum, Masamune! Lebih baik tidur saja, mengistirahatkan otak. Itu akan jauh membuatmu lebih baik!"

"Fudge off. Kau ini tidak mengerti masalahku. Kau tidak pernah merasakan apa yang aku rasakan. Kehilangan dia… perasaan Sanada… itu semua… ARGH! LEAVE ME ALONE!" Tanpa ba-bi-bu lagi, Masamune pun langsung keluar.

"MASAMUNE-DONO! TUNGGU!"

Kojuuro mengerjapkan matanya berulang kali. Sanada?

Kemudian, ia segera keluar untuk melihat apa yang terjadi.

"Masamune-dono mau ke mana?" tanya Yukimura khawatir, melihat ekspresi wajah Masamune yang begitu marah.

Masamune memicing. "Let me go."

"Tidak akan, sampai kau menjawabnya," balas Yukimura tegas. "Mau mabuk-mabukkan lagi?"

"Kau tidak mengerti, Sanada!" jerit Masamune frustasi. "Kau juga BUKAN siapa-siapa! Kau tidak berhak mengatur ke mana aku pergi!"

"Lalu…." Suara Yukimura mulai mengecil. "Maksudnya perkataan Masamune-dono tadi siang itu apa…?"

Pandangan Masamune melunak.

Perkataan lembutnya.

Sanada dan dia.

Sama.

Masamune menggeleng kuat.

"Jadi, Masamune-dono hanya membual…."

"Tolong, Yuki, jangan nangis. Aku sudah sangat frustasi sekarang. Tolong biarkan aku sendiri dulu." Masamune mengangkat wajah Yukimura, sejenak pipinya merona karena panggilan yang ia buat barusan pada Sanada.

Yuki.

Begitupun Yukimura yang pipinya langsung memerah karena panggilan itu.

Dan sialnya, Kojuuro ikut panas sendiri melihat mereka berdua. Mungkin karena mereka memang terlalu cute. Ia tidak ingin mengganggu mereka berdua, tapi ia juga khawatir seandainya Masamune mengapa-apakan Yukimura lagi.

Seperti saat mereka bertengkar untuk yang kedua kalinya di rumah ini.

"Aku… benar-benar akan menghapus perasaan ini." Yukimura mengusap air matanya. "Aku hanya beban untuk Masamune-dono. Dan aku tidak akan pernah lagi berbicara denganmu."

Hati Masamune mencelos. Bahunya melemas.

Kalau Sanada pergi, maka dia juga pergi….

"Jangan pernah pergi."

Yukimura menggeleng. "Aku ini hanya menambah masalah. Dan aku tidak mau orang yang kucintai merasa terbebani karena perasaan ini."

"Mego…."

Mata Yukimura melebar.

Nama itu.

Apakah itu nama perempuan di masa lalunya Masamune-dono…?

"Mego… jangan pergi lagi." Masamune memeluk Yukimura erat.

Yukimura hanya bisa menangis. Bukan menangis bahagia, namun menangis pilu karena ternyata selama ini Masamune hanya melihat dirinya sebagai Mego, perempuan di masa lalu Masamune. Bagaimana Yukimura bisa tahan… sementara itu bagaimana perasaanmu sendiri jika ada di posisi Yukimura? Dilihat sebagai orang lain….

Yang begitu mirip dengan dirimu.

Yang sebenarnya serupa, tapi tak sama.

Tapi, Yukimura tetaplah Yukimura. Mego tetaplah Mego.

Rasanya….

"Bahkan… Masamune-dono melihatku sebagai dia… apa aku semirip itu dengannya…?" tanya Yukimura lirih.

"Biarkan aku memelukmu seperti ini, Mego…."

Hal itu membuat Kojuuro sangat gelisah.

Ia kasihan pada Yukimura. Meskipun tak berpengalaman, ia dapat merasakan sesak yang bergumul di hati laki-laki itu. Menggumpal-gumpal membengkakkan hati, semua rasa sakit itu tidak dapat dideskripsikan dengan kata-kata.

Yang jelas, itu sakit… sekali.

Benar-benar sakit.

"Masamune," tegur Kojuuro akhirnya.

"Ck. Apa lagi sih, Kojuuro?" tanya Masamune kesal sambil melepaskan pelukannya. "Aku 'kan… S-Sanada?"

Seluruh pipi Sanada sudah basah karena air mata.

"Oh my God… what did I just do…." Masamune menutup mulutnya menggunakan telapak tangan. Laki-laki di depannya sudah sangat hancur.

Dan Masamune bisa merasakan itu.

Dengan lembut, Masamune mengusap pipi Yukimura untuk menghapus air matanya. Sementara Yukimura hanya membiarkan itu. Membiarkan Masamune tenggelam dalam penyesalan karena sudah membuat dirinya menangis…

Karena tanpa diberitahu pun, Yukimura bisa menyadari bahwa Masamune tidak bisa melihat orang menangis. Siapapun itu.

"Maaf," lirih Masamune.

Yukimura hanya terdiam.

"Sanada—Yuki."

Yukimura tetap terdiam, satu air matanya kembali jatuh.

"Aku… memanggilmu Mego?"

"Haruskah aku menangis setiap saat agar Masamune-dono mengerti?"

Masamune bungkam.

"Aku mencintai Masamune-dono dan…." Yukimura terisak. "Kau menghancurkan perasaan ini."

"Yuki…."

"Selamat tinggal."

Dan Yukimura pun pergi dari hadapan Masamune, meninggalkan Masamune yang tengah terdiam.

Menyesal.

Tubuhnya melemas.

Dan jatuh berlutut.

Satu tetes air matanya jatuh.

Apakah aku… sudah keterlaluan?

"Katamu, jika Sanada pergi, maka dia juga pergi."

Kojuuro menceletuk di tengah keheningan. Masamune menggertakkan giginya.

"Aku… astaga, aku benar-benar bingung, Kojuuro."

Kojuuro menghela nafas. "Kau hanya perlu ingat kalau dia adalah Sanada dan dia sangat mencintaimu."

"Aku menyesal, Kojuuro… apa yang harus kulakukan jika Yuki pergi…?" tanya Masamune sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Menangis.

Untuk yang pertama kalinya, karena cinta.

"Mencoba mendekatinya," jawab Kojuuro. "Perjuangkan dia. Aku tahu, Masamune. Sebenarnya, kau mencintainya. Hanya saja bayangan Mego menjadi dinding di antara kau dan Sanada. Kau harus mengusir bayangan itu…."

"Caranya…?"

"Dengan mengertinya."

Masamune mengangguk pelan. "Terima kasih, Kojuuro." Kemudian, ia memeluk dirinya sendiri. "Sepertinya aku demam…."

Dan Masamune segera masuk ke rumah karena merasa kedinginan.

Tidak jadi ke diskotik.

.b.

"CK. Harusnya kau tidak usah masuk. Jadi sempoyongan begini, 'kan."

"Tapi, aku harus bertemu Sanada, Kojuuro… aku harus meminta maaf padanya."

Sanada.

Kojuuro hanya mendecak sambil membantu Masamune duduk di kursinya. Saat ini, ia sedang ada di kelas 11-2. Selain untuk membantu Masamune, ia juga sedang menunggu Sasuke. Karena nanti ia pasti datang bersama Yukimura.

Dan tepat beberapa saat setelah itu, Sasuke datang.

"Dah, Sasuke…."

Masamune yang mendengar itu lantas berdiri, berlari sempoyongan ke arah Yukimura.

"SANADA!"

Yukimura menegang.

"Oh, jadi ini ya orang yang kemarin berhasil bikin adikku nangis semalaman?" tanya Sasuke sarkastik.

Mata Masamune membulat. "Nangis… semalaman?"

Pandangan Masamune beralih pada Yukimura yang sama sekali tidak menyapanya. Bahkan, menatap matanya pun tidak. Rasanya… Masamune kehilangan….

"Sanada?"

Yukimura hanya pergi meninggalkan Masamune dan Sasuke ke kelasnya.

Namun, Masamune mengejarnya.

"Sanada! Tunggu." Ia menahan pergelangan tangan Yukimura.

"Masa—" Yukimura langsung tutup mulut begitu tahu ia berbicara.

"Hm? Sanada? Kau ingin mengatakan apa?" tanya Masamune.

Yukimura kembali terdiam. Kepalanya menunduk.

"Hei, Sanada, tolong jawab aku," pinta Masamune.

Tapi, Yukimura tidak memberikan respon apa-apa.

"Kalau kau memang ingin menjauh dariku…." Masamune mengendurkan pegangannya. "Kau harus tahu… aku lebih sakit lagi, Sanada…."

Yukimura terlihat begitu tidak tahan untuk berbicara. Melihatnya, Masamune terus memancing agar ia mau bicara.

"Aku ingin mencoba melupakannya… demi kau. Apakah boleh?"

Masamune mengangkat wajah Yukimura.

"Dia hanya bayangan yang menjadi dinding di antara kita…." Masamune berkata mengutip perkataan Kojuuro kemarin. "Aku ingin belajar mencintaimu…."

"Sia-sia."

Yukimura berkata dingin sambil berlari ke kelasnya, meninggalkan Masamune yang hanya menatap kepergian Yukimura.

"Sanada…."

Laki-laki itu memasuki kelasnya tanpa melihat Masamune lagi.

"Sanada-ku…."

"Huh. Dasar PHP."

Masamune mendongak dan mendapati Sasuke yang memandangi pintu kelas 11-3.

"Aku ingin kau kembali membuatnya tersenyum, tidak mau tahu."

"Tapi, Kresek, dia tidak mau lagi berbicara denganku."

"Dasar laki-laki tidak bertanggungjawab."

Dan Sasuke kembali masuk ke kelasnya. Sementara itu, Kojuuro keluar.

"Masamune."

Masamune hanya menggeram. "Apa? Mau mengatakan hal yang sama dengan Kresek?"

"Berjuanglah, Masamune."

Dengan dua kata itu, seakan menjadi akhir pembicaraan mereka karena Kojuuro kini meninggalkannya ke kelas sebelah, kelasnya dan Yukimura.

Masamune berakhir bertambah stress. Dan sepertinya, ia memang harusnya beristirahat di rumah saja. Demam ini membuat kepalanya berat….

Sialan, aku sudah 'melihat' Sanada tapi malah jadi seperti ini. Sebenarnya, mau Sanada itu apa, sih?!

.b.

SEBENARNYA, Yukimura khawatir.

Tangan Masamune panas. Wajahnya pucat. Bibirnya memutih. Dan tubuhnya sempoyongan. Pasti ia demam. Tapi, hal itu tidak diungkapkannya karena gengsi dan ia memang sedang 'ngambek' pada Masamune. Meskipun begitu, Yukimura tetap berdoa semoga Masamune baik-baik saja.

Ia hampir keceplosan, namun untung saja ia segera bungkam.

Tentang hubungannya dengan Masamune….

Yukimura bingung.

Ia merasa egois.

Jika memang Masamune tulus… tentu ia tidak akan syok ketika tahu kalau Yukimura menangis semalaman. Juga tak akan terlihat begitu khawatir kepada Yukimura, cemas-cemas berharap dirinya dimaafkan.

Yukimura ingin memaafkannya, namun, ia sakit hati.

Atau mungkin gengsi?

Yukimura bertanya-tanya dalam hati. Sebenarnya, apa yang dilakukan oleh Mego-Mego itu sampai-sampai Masamune benar-benar cinta? Sebenarnya, semirip apa ia pada Mego sampai-sampai Masamune melihatnya sebagai perempuan itu? Bahkan mengutarakan ketidakinginannya Yukimura—atau Mego—pergi.

Tetap saja, Yukimura tidak mau bertahan sebagai Mego untuk Masamune.

Mungkin ia perlu bertanya pada Kojuuro soal Mego.

Kojuuro berjalan ke kelas. Begitu tahu, Yukimura langsung berlari kecil menuju Kojuuro.

"Katakura-dono!"

Kojuuro menanggapinya dengan dehaman kecil.

"Aku boleh nanya?"

"Kau sudah bertanya."

Yukimura tersenyum masam. "Sebenarnya, Mego-dono itu siapa dan kenapa ia bisa membuat Masamune-dono tergila-gila?"

Dalam hati, Kojuuro sudah tahu bahwa ia akan ditanyakan seperti ini. Dan untuk menjawabnya… Kojuuro sedikit ragu-ragu. Yukimura memang nyaris sama dengan Mego, dan untuk itu Kojuuro takut Masamune juga menganggap Yukimura menjadi seperti Mego agar bisa dicintai sama seperti Masamune mencintainya.

Kojuuro tidak pernah menduga juga bila akan terjadi seperti ini, membawa kembali nama perempuan itu dan membuka luka lama. Jika ia tidak mencetuskan itu, tentu tidak akan jadi seperti ini.

Tapi tetap saja, ini sudah jadi takdir.

"Dia memang sepertimu," mulai Kojuuro. "Mego itu selalu ada di saat Masamune terjatuh. Di saat ibunya meninggal, di saat ia sakit, di saat frustasi dan depresi… benar-benar sepertimu saat kau bertengkar dengan Masamune kemarin. Mego pun tetap berbicara lembut walau merasa marah atau disakiti."

Yukimura tertegun. "Memangnya, saat itu, Masamune-dono dan Mego-dono pacaran kelas berapa, sih? Kok aku nggak pernah dengar namanya…."

"Delapan sampai sembilan," jawab Kojuuro. "Umur segitu masih kecil sekali untuk berpacaran, 'kan? Tapi, rasa cinta mereka sudah sedalam itu."

Sedalam itu.

Rasa cinta mereka.

"Begitu." Yukimura manggut-manggut.

Kojuuro membalasnya dengan senyuman tipis.

"KATAKURA!"

Baik Yukimura atau Kojuuro, keduanya menoleh kepada seseorang yang memanggil di depan pintu kelas. Rupanya itu Sasuke. Raut wajahnya terlihat begitu cemas. Penasaran, Kojuuro dan Yukimura pun menghampirinya.

"Ada apa, Sarutobi?" tanya Kojuuro heran.

"Date, Katakura. Badannya panas sekali dan sekarang ia ada di UKS."

Kojuuro mengernyitkan alisnya. "Sudah kupaksa ia untuk tidak usah masuk sekolah. Memaksakan sekali."

"Lho, kau tidak khawatir?" tanya Sasuke.

"Tidak, karena itu salahnya. Sanada, kau urus dia ya? Kasihan lho, dia semalam terpikir kau terus." Kojuuro mengalihkan pandangannya pada Yukimura.

Pipi Yukimura merona.

"Nggak, nggak ada!" tolak Sasuke. "Dia udah bikin adikku nangis semalaman. Dan sekarang kau menyuruhnya mengurus Date?!"

"Loh, kok kau begitu? Bukannya kita mau jodohin mereka?" tanya Kojuuro heran. "Harusnya kita buat mereka dekat, dong?"

Yukimura menghela nafas mendengar keduanya berdebat tanpa mau tahu perasaannya dahulu. Ia khawatir pada Masamune, tapi saat ini ia sedang ngambek. Dan ini menyulitkan Yukimura untuk mengambil tindakannya.

"Bagaimana denganmu, Yuki?" tanya Sasuke.

"Eh…."

Iya.

Tidak.

Iya.

Tidak.

Iya…

TIDAK.

"Nggak mau!" tolak Yukimura mentah-mentah. "Aku marah pada Masamune-dono! Aku tidak mau berbicara dengannya lagi! Aku capek diperlakukan seakan-akan aku adalah Mego!"

Baik Kojuuro maupun Sasuke, keduanya terdiam.

Sampai Yukimura kembali membuka suaranya.

"Aku tahu, ini baru sekitar seminggu dua minggu, tapi…." Yukimura mengecilkan suaranya. "Terasa begitu dalam…."

"Sanada, jangan membohongi perasaanmu sendiri. Kau mencintainya. Dan dia sudah melihat padamu seutuhnya, bahkan mencoba melupakan perempuan itu demi kau. Dan kau malah seperti ini? Sebenarnya kau ini maunya apa?" ceramah Kojuuro.

Yukimura menggeleng.

"Kok, kau jadi memarahi adikku?!" protes Sasuke tidak terima.

Kojuuro mendecak. "Kau tahu, aku sudah lelah menenangkan Masamune yang juga menangis semalam saking frustasinya ia. Dan kau tahu siapa penyebabnya? Dia! Sanada! Kenapa dia begitu egois?! Masamune itu mencintai Sanada, hanya saja bayangan Mego itu menjadi dinding di antara mereka! Itu saja!"

Mata Sasuke memicing, kesal dengan Kojuuro yang kini menyakiti hatinya dan juga—pasti—hati Yukimura. Ia mengalihkan pandangannya pada Yukimura, yang kini menggamit lengan Sasuke dan meremasnya pelan.

Pasti ia tersinggung.

"Mego, ya…." Dan Sasuke langsung mengetahui bahwa nama perempuan itu adalah Mego. "Yuki, jangan dengarkan dia. Date yang salah, bukan kau. Dan sudah seharusnya dia yang mengejarmu karena dia yang salah! Siapa suruh dia melihatmu sebagai Mego. Iya 'kan?"

"Ya walaupun memang harusnya Masamune yang mengejar, tetap saja harus ada timbal baliknya, dong!" protes Kojuuro. "Kasihan juga kalau Masamune sudah mengejar-ngejar Sanada, tapi Sanada tetap kekeuh nggak mau maafin!"

Yukimura tetap diam.

"Itu untuk mengetes seberapa kuat ambisi Date untuk mengejar Yuki!" bantah Sasuke. Rupanya, ini semakin sengit.

Kojuuro memicing. "Memangnya ia tak punya batas kesabaran? Saat ia mulai melupakan, Sanada malah pergi. Itu membuatnya frustasi! Dia jadi bingung!"

"Itu berarti dia belum atau mungkin nggak mencintai Yuki!"

"Kau ini…." Pandangan Kojuuro melunak begitu teringat sesuatu. "Sanada, bisa tinggalkan kami?"

Perlahan, Yukimura mengangguk. "Tapi jangan pakai fisik, ya…."

Kojuuro mengangguk mengiyakan. Kemudian, Yukimura pun segera hilang dari pandangan mereka berdua.

"Apa?" tanya Sasuke.

"Perkataanmu yang terakhir," mulai Kojuuro. "Kau berbicara seakan-akan kau tidak mau Masamune mencintai Sanada."

Sasuke mendecak. "Aku dan kau sama-sama tahu kalau aku sekarang suka juga pada Masamune. Tapi, aku tidak mau hal itu menjadi masalah. Ngomong-ngomong, memangnya seterlihat itu?"

Kojuuro mengangguk.

"Sial. Untung saja Yuki tidak menyadarinya." Sasuke menghela nafas. "Oh iya, Date! Duh, kok jadi melantur banyak begini, sih."

"Ya sudah, kau saja yang urus. Masalah Sanada biar aku urusi. Nanti aku yakinkan dia agar mau meminta maaf pada Masamune," ujar Kojuuro.

Sasuke mengangguk. "Aku juga berpikiran yang sama. Ya sudah, aku ke Date dulu."

Dan Sasuke pun berlari kecil menuju UKS.

.b.

A/N

Ini bukan klimaks. Tapi, bisa dibilang klimaks untuk konflik pertama, sih… ya ampun ini alur lambat bener. Pasti lebih dari 20 chapter. ASJDQAK.

Sejauh ini, chapter ini yang paling gue suka, ga tau kenapa. Stuck sampe 2 hari loh xD untung selesai dua hari sebelum jadwal update. Btw gue suka banget bagian KojuSasu berantem.

HALO ICHI. HALO JUGA SASU. Makasih ya kalian review-nya.

Thank you all for reading. If you wanna join the series, you can move on to the next chapter, or even follow me to be notified of the future fictions. Good bye!

19 Mei 2016