Backfire [9]: Tulusnya Maafku

Sengoku BASARA © CAPCOM
Backfire © Meaaaa

Warning: Crack pair, random antara MasaYukiKojuSasu. Sho-ai, AU, sedikit OOC.

Chapter ini nggak diedit lagi. Jadi, maapin kalo ada typo/ kerancuan kalimat.

Have fun with the story!

.b.

DEMI Tuhan, Masamune pusing sekali.

Dirinya tak bisa berhenti memikirkan Yukimura dari tadi. Ia ingin minta maaf, ia ingin dimaafkan, dan ia ingin bisa bersama-sama dengan Yukimura lagi.

Tapi… dirinya ini sudah menyakiti laki-laki itu. Dan sekarang ia harus terima konsekuensinya. Dan karena kesalahan itu, Masamune harus meminta maaf. Sayangnya, Yukimura benar-benar marah padanya dan itu membuatnya merasa sangat bersalah.

Masamune tidak bermaksud memberi harapan pada Yukimura. Ia hanya memberi semacam… 'tempat' untuk Yukimura bisa mencintai, dan agar ia sendiri bisa merasakan kasih sayang dan cinta dari seseorang lagi. Dan Masamune tidak bermaksud menyakiti Yukimura kemarin. Namun, apa daya… Yukimura sudah terlanjur membenci Masamune.

Membenci.

Mungkin, kata membenci terlalu jauh untuk ukuran Yukimura. Mungkin bisa lebih digambarkan dengan rasa kecewa.

"Mego… Yuki… apa kalian orang yang sama?"

Sekarang, pikiran Masamune mulai menjalar ke mana-mana.

"Ah, aku ini berbicara apa sih?" Masamune menampar dirinya sendiri.

Tak lama kemudian, pintu UKS terbuka. Rupanya Sasuke. Dan itu membuat Masamune mendecak, karena ia sempat berharap Yukimura lah yang membukanya. Kemudian, berkata, "Masamune-dono, aku memaafkanmu!" dengan mudahnya.

"Date?"

"Apa sih, Kresek?"

Sasuke terkekeh. "Lagi sakit saja bisa nyolot."

"Bahasa apa itu, nyolot-nyolot." Masamune mengerlingkan matanya. Kemudian, Sasuke menarik kursi yang ada di dekat ranjang Masamune untuk duduk di sebelah laki-laki yang sedang terbaring itu.

Sasuke juga kasihan pada Masamune. Dan Kojuuro sangat benar. Ketika Masamune berusaha, tentu Yukimura harus memberikan timbal balik juga. Walau pendapat tentang seberapa kuat ambisi Masamune untuk mengejar Yukimura juga ada benarnya, tapi itu terasa sangat egois.

Dan Sasuke tidak mau membuat Yukimura egois pada Masamune. Namun juga tidak pasrah begitu saja. Dan bagi Sasuke, ini sulit untuk dijabarkan.

"Badanmu panas banget," komentar Sasuke ketika menempelkan telapak tangannya di dahi Masamune. "Kuambilkan obat demam dulu, ya."

Perlahan, Masamune mulai menggigil. "Kresek, dingin…."

"Ruangan ini sudah rada pengap, lho." Sasuke mengernyitkan alisnya.

Masamune meraih tangan Sasuke. "Sanada… peluk aku, Sanada…."

Di saat itu juga, Sasuke menggigit bibir menahan rasa bersalah.

Rasa bersalah akibat sudah menghasut Yukimura agar jangan memaafkan Masamune, juga karena perasaannya.

Jadi ini, rasanya dipanggil dengan nama orang lain. Sakit juga.

Tapi, Sasuke memakluminya karena memang targetnya adalah Masamune bersama Yukimura.

"Y-Yuki nggak ada di sini," ucap Sasuke sambil menaruh gelas berisi air dan obat demam di meja. "Kau sudah makan?"

Masamune menggeleng.

"Ya ampun! Kau harus makan dulu sebelum minum obat. Kubelikan roti, ya?" tawar Sasuke cemas.

"Aku tidak butuh obat, Kresek…," jawab Masamune lirih. "Aku butuh Sanada… aku mau minta maaf… aku menyesal sudah menyakitinya…."

Bisakah Sasuke menangis sekarang? Mengapa perkataan itu begitu manis?

Walau ditujukan bukan kepada dirinya, Sasuke tetap merasakan menjadi fanboy, walau di sisi lain ia juga cemburu.

"T-tapi, d-dia nggak mau menemuimu."

"Please?"

"Kau harus sembuh dulu, baru boleh bertemu Sanada."

"Aturan macam apa itu…? Ah, kau ini ribet sekali. Sudah, sinikan obatnya."

Sasuke tidak mau memberikan obat itu. Perut Masamune kosong. Jadi, ia menaruh obat itu di meja yang lebih jauh, yang tidak akan sanggup digapai Masamune yang sekarang sangat lemas.

"Tidur saja dulu. Sebentar lagi bel masuk, aku akan belikan kau makanan sambil mengizinkanmu kepada guru piket untuk tinggal di UKS dulu. Nanti sakitmu akan bertambah parah jika dipaksakan," paksa Sasuke sambil berjalan ke pintu. "Jangan ke mana-mana."

Tapi, Masamune tidak menurutinya.

.b.

YUKIMURA membasuh wajahnya, berusaha mendinginkan otak.

Ia sendiri juga tidak mau lama-lama berada di tengah perdebatan Sasuke dan Kojuuro. Telinganya panas mendengarnya. Seolah-olah mereka berdua hanya menganggap Yukimura hanya sebagai objek, bukannya subjek.

Ia mengambil buku kecil yang dibawanya, kemudian menarik bolpoin yang ada di dalam situ. Mulai menuliskan sesuatu.

Masamune-dono.

Aku sayang Masamune-dono. Tapi, aku juga tidak tahan—

Yukimura menggelengkan kepalanya. Ah, ini terlalu plin-plan, dan terlalu menye! Ia harus tetap ingat; ia masih marah pada Masamune. Walau di dalam rasa marah itu juga ada rasa rindu dan sayang….

"Sanada!"

Tubuh Yukimura membeku.

Suara itu.

"Sanada! Please, please jangan kabur."

Yukimura menggigit bibirnya, namun tidak mengubah posisinya.

"Aku bela-belain ke sini agar bisa minta maaf padamu." Tangan Masamune meraih lengan kanan Yukimura dari belakang. Ah, begitu hangat—bukan, panas dirasakannya. Masamune-nya sakit….

Dan Yukimura benar-benar ingin berteriak memarahinya karena sembarangan kabur dari UKS, bukannya beristirahat.

"Sanada, please." Intonasi suara Masamune mulai terdengar putus asa. "Aku sayang kau. Tolong ya? Maafkan aku."

Yukimura menggeleng pelan, tetap pada keraguannya yang terbelah dua.

"Aku sedang sakit, Sanada…." Masamune benar-benar terdengar putus asa. "T-tapi, maksudnya bukan menyogok maaf dengan menunjukkan itu."

Yukimura tetap diam.

"Aku nggak mau memaksamu, tapi aku tak yakin aku akan masuk sekolah sampai tiga hari ke depan," lanjut Masamune, tetap mencerocos. "Yah, aku juga tahu rumah kita dekat. Tapi… kau juga tak akan mau bertemu aku, 'kan? Ini kesempatan emasku untuk meminta maaf padamu."

Tetap hening.

"Yuki, aku minta maaf." Suara Masamune mulai melemah.

Refleks, Masamune melingkarkan kedua tangannya di leher Yukimura dari belakang, mulai tak kuat menahan beban tubuhnya sendiri. Karena itu, Yukimura merasa tak enak. Tapi, ia tetap tidak mau memaafkan.

"Ayo."

"Hm? Kemana?" tanya Masamune begitu Yukimura memapahnya.

"UKS."

Masamune tersenyum kecil. "Setidaknya, kau tetap peduli—iyalah, kau 'kan cinta aku. Sudah pasti kau peduli, 'kan? Meski nada bicaramu dingin sekali, it's okay…."

Yukimura benar-benar merasa kasihan.

Akhirnya, Yukimura mengantarkan Masamune ke UKS tanpa berbicara lagi. Hal itu cukup membuat Masamune merasa sakit hati. Apalagi, di depan UKS, sudah ada Sasuke yang mondar-mandir dengan raut wajah kesal.

"Kalian?" Mata Sasuke membulat begitu melihat Masamune dipapah oleh Yukimura.

"Sasuke," panggil Yukimura. "Tolong jagain Masamune-dono. Aku ke kelas dulu."

"Tapi, kenapa dia bisa bersamamu? Dia kabur ya?"

Yukimura mengangguk. "Sudah ya, aku balik dulu."

Tanpa mendengar jawaban Sasuke, Yukimura segera keluar ruang UKS, meninggalkan Masamune yang masih memanggilnya.

Sambil berjalan ke kelas, Yukimura mengeluarkan permen yang ada di saku bajunya dan mengemutnya pelan; dengan alasan ingin mencari distraksi atas rasa bersalahnya ini. Setidaknya, rasa manis dari permen stroberi ini cukup membantu, walau Yukimura tetap terngiang-ngiang pada ucapan laki-laki itu.

Yukimura tahu Masamune tulus. Masalahnya, ia gengsi. Dan ia tidak mau menjadi orang yang terpandang plin-plan oleh Sasuke—yang kini lebih membelanya dibandingkan Masamune. Sasuke mendukungnya untuk tetap menjauh dari Masamune, walau jika dipikir secara logika harusnya Sasuke mendukungnya untuk kembali berbaikan.

Kalau dipikir-pikir lagi… tindakan gegabah Yukimura ini sungguh memakan waktu. Kalau saja ia memaafkan Masamune tadi, mungkin ia tak akan segelisah ini dan sudah kembali tersenyum bahagia bersama orang yang dicintainya

Yukimura lupa kenapa ia bisa mencintai Masamune.

Ah, ya, saat Masamune meminta maaf padanya di hari itu.

Saat itu juga, Yukimura menyadari bahwa Masamune memang tidak bisa melihat siapapun menangis. Dan jika menangisnya karena ulahnya sendiri… mungkin perasaan bersalah akan terus menghinggapi sekalinya permasalahan sudah selesai.

Ia ingat saat itu Masamune justru mengatakan bahwa dirinya yang salah. Dan sentuhan manis di puncak kepalanya itu… entah kenapa memberikan semacam setruman ke dalam pembuluh darahnya—mengalir dan membuat hatinya bergetar. Di saat itu, Yukimura pun mulai menyukai laki-laki itu.

Permintaan maaf itu bahkan terdengar tidak lebih tulus dari yang barusan—tapi keesokan harinya hubungan mereka sudah membaik. Nada putus asa itu… membuat Yukimura yakin bahwa Masamune memang menyesal dan benar-benar akan melupakan perempuan itu.

Ya. Aku harus kembali ke UKS dan memaafkannya.

Akhirnya, Yukimura kembali berjalan menuju UKS. Jantungnya sedikit berdetak lebih cepat.

Tidak lama kemudian, Yukimura pun sampai di pintu UKS dan mengetuknya pelan. Tidak ada yang membukanya. Karena bingung, ia pun mengintip dari jendela, kemudian ia mengernyitkan alisnya heran begitu mengetahui tidak ada siapa-siapa di dalam.

Tunggu, mereka kemana…? Apa mereka ke kelas lagi? Tapi, badan Masamune-dono masih panas sekali….

.b.

"PERMISI, Katakura-dono," panggil Yukimura sambil mengetuk pintu rumah Masamune dan Kojuuro.

Ternyata, siang tadi, Masamune sudah pulang bersama Kojuuro karena ia sudah tak kuat menahan pusingnya dan badannya sudah terasa sangat tidak enak. Jadi, mereka pulang dan Kojuuro juga jadi terpaksa meninggalkan sekolahnya sehari untuk menjaga Masamune.

Dan ini waktu pulang sekolah. Maka cepat-cepat saja Yukimura ke sini—tentunya atas izin Sasuke.

Tidak lama kemudian, Kojuuro membukakan pintu.

"Sanada?" tanyanya membesarkan mata. "Kau… sudah berubah pikiran?"

Yukimura mengangguk. "Aku merasa bersalah, Katakura-dono… bolehkah aku bertemu Masamune-dono?"

"Boleh," jawab Kojuuro. "Tapi, dia sedang tidur, aku tak enak membangunkannya. Kau saja yang bangunkan, ya?"

"Eh… oke. Kalau begitu aku ke kamar Masamune-dono dulu." Yukimura tersenyum.

Akhirnya, Yukimura berjalan menuju kamar Masamune sambil membawa bungkusan bubur. Sebelum ke sini, ia membelinya terlebih dahulu.

Yukimura membuka pintu kamar Masamune perlahan, sejenak membuatnya teringat kejadian itu. Suasa kamar ini tidak berubah, hanya saja kini terselimuti oleh perasaan khawatir. Masamune-nya sakit. Ia berjalan menuju kasur Masamune, kemudian menaruh bubur bawaannya di meja kecil sebelahnya.

Keringat mengalir dari pelipis Masamune. Wajah laki-laki itu terlihat tidak nyaman di dalam balutan selimut. Dengan lembut, Yukimura menempelkan telapak tangannya di dahi Masamune. Rupanya sudah tidak begitu panas. Jemarinya membelai rambut Masamune pelan.

Perlahan, Masamune membuka matanya.

"Yuki…?"

Yukimura tersenyum. "Ini aku, Masamune-dono."

"Yuki."

Tangan Masamune berusaha meraih wajah Yukimura. Dengan tanggap, Yukimura mengambil tangan itu.

"Maafin aku, ya…," ucap Masamune pelan sambil mengusap pipi Yukimura. "Aku nggak bermaksud seperti itu…."

"Ya, Masamune-dono. Tidak apa-apa. Aku juga minta maaf atas keegoisanku." Yukimura menunduk.

"Aku mengerti perasaanmu…." Masamune melirik ke arah bungkusan di meja sebelah kasurnya. "Itu apa, Yuki?"

"Ah, ini. Bubur," jawab Yukimura. "Mau kusuapi?"

Masamune mengangguk. Kemudian, Yukimura pun membuka bungkusan itu dan mulai menyuapi Masamune.

Diam-diam, Kojuuro memperhatikan itu. Perasaannya berubah tak karuan. Maksudnya… bukan ke arah fanboy. Tapi ke arah… tak rela.

Jangan bilang ia juga merasakan cemburu.

Maksudnya, selama Yukimura disakiti Masamune, Kojuuro lah yang selalu menenangkannya—bersama Sasuke. Dan itu memang 'kewajiban'-nya karena dalam misi utamanya untuk menjodohkan. Tapi, semakin ke sini, tanpa disadari… perasaan itu tumbuh. Mungkin terdengar tabu, tapi menjadi Mak Comblang ternyata juga penuh resiko.

Jatuh cinta pada target sendiri, misalnya.

Tapi, ini benar-benar aneh. Sasuke menyukai Masamune, dan dirinya menyukai Yukimura. Jangan bilang, nanti ujung-ujungnya Masamune jadi pacaran dengannya dan Sasuke pacaran sama Yukimura.

Oke, itu sangat tidak mungkin.

Kojuuro meringis pelan begitu tiba-tiba Masamune duduk dan mencium pipi Yukimura. Hatinya teriris. Dan karena tidak mau menyaksikan lebih banyak lagi momen romantis mereka berdua, Kojuuro pun berjalan menjauhi keduanya.

Sementara itu…

Yukimura memukul Masamune pelan karena merasa salah tingkah. Namun, tak ayal pipinya memerah. Melihat hal itu, Masamune tertawa puas. Namun, Yukimura bahagia sudah membuat Masamune tertawa karena dirinya. Rasanya seperti ada kepuasan tersendiri.

"Masamune-dono."

"Hm?"

Yukimura memalingkan wajahnya sambil berkata ragu, "Jadi… selanjutnya bagaimana?"

"Soal kita?" tebak Masamune. Yukimura mengangguk pelan. Masamune mengusap-usap dagunya pelan seraya berpikir, meninggalkan Yukimura di dalam realita yang kini sedang menatapnya menunggu jawaban. "Yah, aku suka kau… kau suka aku… tapi, aku nggak mau jadian dulu."

Yukimura mengernyitkan alisnya bingung.

"Aku takut menyakitimu lagi, Yuki…," lanjut Masamune pelan. "Oke… ini terdengar plin-plan. Tapi, aku masih sedikit ragu dan tidak mau terburu-buru. Bisa beri aku waktu 'kan? Jika aku sudah benar-benar siap, aku janji akan secepatnya menjadikanmu kekasihku."

"Oke…." Yukimura mengangguk pelan, sedikit merasa kecewa. Namun, janji itu…

Semoga Masamune menepatinya.

Masamune mengusap puncak kepala Yukimura lembut. "Disappointed, eh?"

"Sedikit," jawab Yukimura jujur. "Tapi, tidak apa-apa. Aku mengerti. Jika kita jadian sekarang, maka akan cepat sekali. Nanti malah ternyata kita belum saling tulus, hanya nafsu belaka."

"Dengar-dengar, kau nggak pernah jatuh cinta sebelumnya. Tapi, ucapanmu itu seperti pro dalam masalah asmara, you see?" Masamune menyeringai.

"Eh, bukan begitu maksudnya…." Yukimura jadi salah tingkah.

"Yuki, makasih ya, demamku sepertinya sudah mulai sembuh." Masamune mengganti topik sambil tersenyum. "Efekmu ternyata dahsyat."

"Efek…." Yukimura yang polos pun seketika berpikir. Efek? Efek dingin? Panas? Atau…

Masamune tertawa lagi melihat wajah Yukimura. "Karena kau di sini dan kita kembali berbaikan, demamku sembuh. Itu yang kumaksud, Yuki… ah, tadi baru kupuji sebagai pro tapi sudah telmi lagi."

"Apa sih." Yukimura jadi bete mendengarnya.

Kemudian, mereka pun bercanda, sampai Yukimura ditelepon Sasuke untuk segera pulang.

To be continued.

.b.

A/N

Huwa, maaf ya Minggu kemaren nggak update. Gue sakit kemaren-kemaren itu… maag gue kambuh :(

Btw, akhirnya konflik pertama kelar! Otw konflik kecil-kecilan, baru konflik utama kedua. Dan berhubung hari ini libur (perpisahan kelas 9), mau nyetok 3 chapter soalnya UKK gue nggak bakal ngetik.

Bales review kek gini aja dah biar enak:

SeijirouSasuke23: MPUZ BAPER. Gua bikin tu ch8 ampe nangis, apalagi di scene pertama. Tenang aja, jadwal update gak akan berubah kok, tetep Kamis-Minggu :V (mungkin bulan puasa plus liburan gua bakal update 3x seminggu) makasih review-nya.

Ayahina: XD tak apa-apa, makasih udah muncul(?). HAHA NONJOK. Tadinya sih pengen nambahin itu, cuma kok kesannya jadi lebay… ah, makasih sarannya! Lagi mempelajari bikin narasi juga hehe. Makasih review-nya.

Oichiiceprincess: Makasih ya Ichi, pujian dan review-nya. Btw udah di-update nii

Thank you all for reading. If you wanna join the series, you can move on to the next chapter, or even follow me to be notified of the future fictions. Good bye!

26 Mei 2016