Backfire [12]: Menjajaki Masa Depan

Sengoku BASARA © CAPCOM
Backfire © Meaaaa

Warning: MasaYuki with slight KojuYuki/MasaSasu, sho-ai, AU, OOC.

Have fun with the story!

.b.

KOJUURO berjalan ke kelasnya tanpa semangat.

Semuanya memburuk. Ia dan Sasuke terbawa perasaan. Padahal mereka berdua hanya diam, tapi terasa begitu kentara di mata Masamune dan Yukimura—Yukimura sih, lebih dominan. Kojuuro mengacuhkan Yukimura, sementara Sasuke hanya bicara jika diajak bicara—begitu yang Kojuuro simpulkan dari panggilan telepon singkatnya kemarin.

Dan hari ini ia akan bertemu Yukimura lagi. Pasti, bocah itu akan terus menanyainya dengan pertanyaan ada apa, kenapa, ataupun meminta maaf. Itu semua menggangu. Kojuuro tidak mau Yukimura merasa bersalah seperti itu. Apalagi sampai kepikiran…

Minimal, agar Masamune tidak cemburu.

"Katakura-dono?"

Kojuuro tergelak mendengar panggilan tiba-tiba itu. Ah, melamun memang membuat lupa keadaan sekitar….

"Masih marah sama aku?"

Kojuuro menghela nafasnya sebelum ia tersenyum tipis pada Yukimura. "Tidak usah dibahas."

"T-tapi—"

"Sudahlah, Sanada. Aku sedang ada masalah, jadi maafkan aku kalau aku melampiaskannya padamu," potong Kojuuro. Padahal, masalah itu ada pada Yukimura sendiri. Dan melampiaskannya kepadanya sendiri.

"Masalah dengan Sasuke, ya?" tebak Yukimura. "Kemarin, Sasuke terlihat seperti memikirkan sesuatu dan dia banyak sekali diam…."

Kojuuro menggeleng. "Bukan, Sanada. Sudah, tidak usah dibahas lagi. Ngomong-ngomong, kau sudah berpacaran dengan Masamune?"

Tolong jawab belum, mohon Kojuuro dalam hati dengan perasaan waswas.

"Belum," jawab Yukimura. "Dia belum siap. Tapi, dia berjanji akan memacariku bila dia sudah benar-benar siap."

Dalam hati, Kojuuro menghela nafas lega. "Begitu? Ya sudah. Berarti, misiku dan Sarutobi sudah selesai."

Yukimura tersenyum kecut. "Ya, misi…."

Memang sudah selesai. Itu artinya, semua masalah sudah selesai. Namun masalah baru datang, yang akan menambah twist di kehidupan mereka berempat. Kojuuro mengalihkan pandangannya pada luar jendela dan menyisipkan kedua tangannya pada saku masing-masing sisi celana.

Perasaan ini sungguh sangat disayangkan oleh Kojuuro.

Ingin rasanya ia memberitahu Sanada, namun itu akan memperparah kondisi di antara keempatnya. Mereka baru saja berbahagia, dan sekarang ditambahi lagi masalah yang lebih mendalam.

Orang ketiga, eh?

.b.

"KITA mau ke mana, Masamune-dono?" tanya Yukimura begitu Masamune tiba-tiba menariknya masuk ke kelasnya. Ini sudah jam pulang sekolah, omong-omong.

Masamune pun berhenti menarik tangan Yukimura. Keduanya pun saling berpandangan.

Yukimura tertegun. Raut wajah Masamune terlihat sendu. Refleks, Yukimura meraih tangan kanan Masamune, menggenggamnya erat—menguatkan laki-laki itu. Baru kemarin mereka berbahagia dengan pacaran malam-malam di taman belakang rumah Yukimura. Dan sekarang Masamune menjadi seperti ini….

"Masamune-dono kenapa…?" tanya Yukimura pelan dengan sedikit takut.

Masamune membalasnya dengan gelengan kecil, kemudian menyeka air matanya yang tak sengaja jatuh. "Tidak apa-apa…."

Tidak mungkin jika tidak apa-apa.

"Masamune-dono bohong! Buktinya, Masamune-dono barusan nangis!" bantah Yukimura. "Sebenarnya ada apa…?"

"Nanti aku beritahu ya, Yuki. Sekarang, tidak apa-apa 'kan kalau kau minta izin dengan Kresek dulu kalau kau akan pergi dulu sebentar denganku?"

Yukimura mengernyitkan alisnya bingung. "P-pergi? Aku nggak bawa uang banyak…."

"Nggak apa-apa. Aku janji akan traktir kau makan dan mengantarmu pulang sampai masuk ke dalam rumah dengan selamat."

"Tapi, jelaskan dulu ada apa ini!" protes Yukimura.

Sasuke yang mendengar keributan segera menghampiri keduanya—ia sedang mengelap jendela-jendela sambil mengobrol, jadi tidak begitu terdengar. Yukimura terkesiap.

"Eh… Sasuke."

"Ada apa sih ribut-ribut?" tanya Sasuke.

"Bukan apa-apa. Aku hanya ingin meminjam adikmu untuk kubawa jalan-jalan sebentar. Dan benar-benar hanya bisa hari ini. Boleh?"

Sasuke mengernyitkan alisnya. "Lho, memangnya ada apa?"

"Sudah kubilang, bukan apa-apa," jawab Masamune dingin.

Sasuke mengalihkan pandangan pada Yukimura. Namun, Yukimura hanya mengangkat bahu tak mengerti dengan tingkah aneh Masamune ini. Oke, sepertinya Masamune memang ada 'sesuatu' yang harus diselesaikan sekarang juga bersama calon kekasihnya. Meskipun Sasuke tidak tahu apa itu.

"O, ya sudah. Tapi nanti antarkan dia pulang, ya? Aku ada latihan muay thai hari ini." Sasuke menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal. Sebenarnya ia bingung. Masamune terlihat begitu badmood. Tapi, setidaknya adiknya bisa ia percayakan kepadanya.

Percayakan. Duh… Sasuke terbawa perasaan lagi.

"Thanks. Yuk, Yuki." Masamune segera menarik tangan Yukimura ke luar kelas, meninggalkan Sasuke yang tengah kebingungan.

Yukimura bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi. Ia tidak akan dibawa ke tempat macam-macam kan…? Ah, itu tidak mungkin. Masamune mencintainya. Mana tega calon pacarnya sendiri membawanya ke tempat aneh-aneh. Kecuali bercandaan diskotik waktu itu.

Keduanya hanya terdiam sampai di stasiun dekat sekolah.

Masamune hanya memberikan Yukimura selembar uang untuk membeli tiket. Setelah mereka membeli tiket, mereka pun menunggu kereta datang. Dan tetap hening di antara keduanya.

Yukimura sungguh merasa tidak nyaman akan ini.

Tapi, sembari mereka menunggu, Masamune mengangkat wajah Yukimura dengan tangan kanannya. Mengusap pipinya pelan sambil tersenyum lembut. Senyum itu… betapa teduhnya.

"Jangan tegang begitu," tegur Masamune lembut. "Aku hanya terpikir sesuatu."

"…?" Yukimura mengernyitkan alisnya.

"Nanti kau juga tahu."

Yukimura mengangguk pelan.

Kereta yang ditunggu mereka pun datang.

.b.

"KE makam?" tanya Yukimura bingung.

Ya, mereka memang sedang ada di salah satu pemakaman terbesar di kota. Yukimura memperhatikan Masamune yang sedang menarik nafas panjang sambil mencengkram keranjang berisikan kelopak bunga yang barusan dibelinya, seakan menguatkan diri sendiri. Dengan sigap, Yukimura mengusap-usap punggung Masamune untuk menenangkannya.

"Siapa yang meninggal?" tanya Yukimura pelan.

"Come on," ajak Masamune sambil menggandeng tangan Yukimura dan mengajaknya ke salah satu makam.

Yoshihime
1973 - 2013

"Masamune-dono? I-ini makamnya siapa?" tanya Yukimura bingung.

"Ibuku."

Yukimura tertegun.

"Dia ibuku, Yuki," ulangnya sambil berlutut di depan makam itu. Kemudian, Masamune mengusap nisannya pelan, dan menciumnya lembut sebelum menaburkan kelopak-kelopak bunga di atasnya. "Happy Birthday, Mom."

Rupanya, ini adalah hari ulang tahun ibu dari Masamune—Yoshihime. Dan membawa Yukimura ke sini… apa maksudnya?

Yukimura hanya bisa menggigit bibirnya pelan. Rupanya, mereka sudah sama-sama tidak memiliki ibu. Dan Masamune beruntung karena makam ibunya masih ada. Sementara Yukimura tidak sama sekali. Mayat ibunya hilang di laut karena kecelakaan pesawat empat tahun yang lalu karena ingin menyusul ayahnya yang sedang bekerja di Korea Utara.

Yukimura terisak mengingatnya. Mendengar isakan itu, Masamune segera menoleh.

"… Yuki?" panggil Masamune khawatir. "Kok, kau yang nangis?"

"Ibuku," jawabnya sedih. "Masamune-dono beruntung sekali masih bisa mengunjungi makam ibu."

Nafas Masamune tercekat.

"Ibuku meninggal empat tahun yang lalu karena kecelakaan pesawat," jelas Yukimura tanpa diminta. "Dan mayatnya tidak pernah ditemukan. Dan aku tidak bisa mengunjungi makamnya… rasanya sakit, Masamune-dono."

Masamume melingkarkan tangannya di pundak Yukimura, kemudian mengusap-usap kepala Yukimura lembut.

"Sorry, aku nggak bermaksud mengingatkanmu padanya," lirih Masamune.

"Tidak apa-apa."

Masamune melepaskan pelukannya, kemudian menggenggam tangan Yukimura erat sebelum mengalihkan pandangannya pada nisan Yoshihime. "Ibu," panggilnya lembut. "Ini Sanada Yukimura."

Yukimura membisu.

"Aku berhasil." Masamune tersenyum. "Aku berhasil melupakan Megohime. Itu 'kan yang Ibu mau?"

Megohime…? Ada hime-nya? tanya Yukimura dalam hati.

"Jadi, Sanada Yukimura ini yang akan menggantikannya. Dia yang sudah ada di hatiku sekarang. Dan aku minta restumu untuk menjadikannya kekasihku."

"Masamune-dono…," lirih Yukimura hampir tak bersuara.

"Ya, Yuki." Masamune tersenyum. "Bersediakah kau kupanggil seorang kekasih…?"

Yukimura menutup mulutnya dengan telapak tangan. Merasa terharu karena pernyataan-pernyataan Masamune tadi kepada ibunya yang telah tiada. Masamune mencintainya. Ia hanya sanggup mengalirkan satu tetes air matanya sembari menganguk kecil. Kemudian, ia menunduk.

Dirasakannya kehangatan. Kebahagiaan. Perasaan bahwa Masamune benar-benar akan melindunginya dari masa lalu dan masa depan. Dan itu… manis.

"Semoga kalian berdua bahagia," ucap Masamune sambil mengecup nisan Yoshihime dan kening Yukimura bergantian. "Aku janji akan membuat kalian bahagia. Dan tidak lupa dengan kebahagiaanku sendiri."

Dan Masamune memeluk Yukimura erat.

Tangis Yukimura pecah.

Mereka berdua pun resmi menjadi sepasang kekasih.

"Kau mau pulang?" tanya Masamune pada Yukimura.

"Eh…? Terserah Masamune-dono saja," jawab Yukimura sedikit salah tingkah. "'Kan Masamune-dono yang menculikku ke sini."

Masamune tertawa kecil. "Menculik, ya? Hehe. Kita makan saja dulu yuk? Di depan ada kedai dango."

"BENARKAH?" seru Yukimura spontan.

Masamune mengusap-usap telinga kanannya yang merasa pengang.

"Benar ada kedai dango?! Wah, kukira di daerah sini tidak ada! Soalnya, beberapa bulan yang lalu aku mengunjungi makam temannya Oyakata-sama tidak ada kedai dango di daerah sini! Memangnya dimana—"

"Iya, Sayang."

Yukimura menegang sesaat.

"Di depan ada kedai dango. Dengar-dengar baru sebulan buka. Yuk, kita ke sana." Masamune menggandeng Yukimura dan melihat kembali makam Yoshihime. Ia tersenyum kecil. Aku pulang dulu ya, Ibu.

Keduanya pun melangkah menuju kedai dango yang berada di depan pemakaman.

.b.

"TAHU tidak, Yuki?" mulai Masamune sambil mengunyah dango-nya. "Ibuku tidak pernah menyukai Mego."

Yukimura menghentikan aktivitas makannya secara spontan, memperhatikan Masamune dengan penasaran.

"Ibuku bilang, ayah dari Mego adalah mantan kekasihnya," lanjut Masamune.

"Katanya Megohime?" tanya Yukimura bingung.

Masamune mengangguk. "Dia keturunan bangsawan. Tapi, ia ingin orang-orang memanggilnya Mego saja."

Yukimura manggut-manggut mengerti.

"Aku putus dengannya karena dia pindah ke Belanda," lanjut Masamune lagi. "Dia tidak mau LDR. Dan aku menerimanya, dan kami saling berjanji akan tetap saling mencintai. Aku bahagia dengan janji itu, dan kuharap kami bisa menepatinya."

Bahu Yukimura melemas. "Lalu, aku…?"

"Dua bulan kemudian, aku melihatnya di berita kalau ia berpacaran dengan salah satu model terkenal di sana." Masamune menghela nafas. "Model itu juga kelahiran Jepang, makanya populer di sini. Dan apa yang kurasakan? Aku depresi."

"Masamune-dono…."

"Astaga! Astaga-astaga. Tidak seharusnya kuceritakan itu! Aku tidak bermaksud—Ya Tuhan, kita baru jadian!" seru Masamune panik sambil mencengkram pelan kedua sisi rahang Yukimura dengan kedua tangannya. "Maaf, Yuki. Maaf. Maaf."

"Apa sih, Masamune-dono! Malu tahu," tegur Yukimura kesal sambil melepaskan kedua tangan Masamune yang masih menempel di rahangnya. "Sudahlah… tidak usah dibahas. Aku percaya kau mencintaiku."

Walau sebenarnya hatinya berkata tidak.

Yukimura menggigit bibir, mengingat permasalahan terakhirnya dengan Masamune. Tentang bagaimana tulusnya Masamune meminta maaf, tentang bagaimana takutnya Masamune kehilangannya, dan tentang bagaimana frustasi Masamune karena terhalang oleh bayangan Mego.

Aku Sanada Genjirou Yukimura. Dan aku percaya Masamune-dono benar-benar tak berniat seperti itu.

"Jadi… aku dimaafkan?" tanya Masamune.

Yukimura mengangguk.

"Terima kasih. Aku janji tidak akan membahas-bahasnya lagi." Masamune mengacungkan jari kelingkingnya. "Janji."

"Oke." Yukimura membalas acungan jari kelingking itu dengan kelingkingnya. Keduanya pun tersenyum, kemudian kembali memakan dango mereka penuh perasaan bahagia.

Setidaknya, untuk Masamune, ia yakin ini adalah obat atas rasa sakitnya selama ini. Bersama Yukimura adalah salah satu hal paling membahagiakan untuknya. Dan semoga dari sekarang sampai nanti… mereka tetap bersama.

Dan dari sini lah Masamune mulai meninggalkan masa lalu yang kelam dan menjajaki masa depan yang begitu cerah menunggunya.

To be continued.

.b.

A/N

Pendek banget sih -_-

Soal Mego keturunan bangsawan itu ngasal banget. Btw mereka jadian di depan makam emak Masmun akhhh antimenstrim

SAYA STRESS NGEDITNYA. Gak bisa ngupload lewat ms word, jadinya manual copy-paste dan itu makan waktu lama buat ngedit ulang lagi! Semua bener-bener polos ga ada editan apa-apaan... HUWAAA. Maaf ya kalo ada editan yang kelewat, plis kasihtau di review, biar nanti gue edit lagi biar nyaman dibacanya.

Balesan review:

SeijirouSasuke23: Udah sering dapet spoiler juga lu :V kasian emang KojuSasu, lama-lama gua jodohin juga dah :V

Oichi: xD tapi jadinya nembaknya begini… dan ini udah tambah bikin baper blom? :")

Kapten Pelangi: Waa tipe review favorit saya… (oke, ini gak bermaksud apa-apa) dan ngakak bacanya omg. Kemanisan? Awas diabetes :"D makasih ya fav-nya.

Thank you all for reading. If you wanna join the series, you can move on to the next chapter, or even follow me to be notified of the future fictions. Good bye!

9 Juni 2016