Backfire [14]: Antara Nafsu dan Tulus

Sengoku BASARA © CAPCOM
Backfire © Meaaaa

Warning: MasaYuki with slight KojuYuki/MasaSasu, sho-ai, AU, OOC.

UNEDITED!

Have fun with the story!

.b.

DUA minggu kemudian…

Semua murid kelas 10 dan 11 sudah selesai mengikuti ulangan kenaikan kelas. Itu artinya, perjuangan mereka untuk tahun ajaran ini sudah selesai! Begitupun kakak kelas dua belas yang beberapa hari lagi akan mengadakan acara perpisahan. Pelepasan sih, lebih tepatnya.

Kojuuro bisa bersantai-santai. Sebagai murid yang pintar, tentu ia biasa-biasa saja menghadapi ulangan ini. Begitupun Masamune yang sedikit kesulitan pada pelajaran Biologi karena memang mata pelajaran itu adalah yang dibencinya. Ah… jadi teringat Yukimura. Laki-laki itu benar-benar kurang di semua mata pelajaran! Sebenarnya, tidak kurang juga. Hanya saja… benar-benar mepet dengan nilai rata-rata.

Karena ingin menunjukkan bahwa dirinya peduli, Kojuuro pun mengajarkan Yukimura dengan penuh rasa sabar. Hal itu membuat Masamune jengkel. Dan Sasuke tidak henti-hentinya tertawa melihat Masamune yang mukanya memerah karena begitu kesal dengan Kojuuro yang seenaknya mengajari Yukimura.

Pasti, ia cemburu.

Kojuuro tersenyum kecil mengingatnya. Melihatnya, Masamune mengernyitkan alis. Apa yang sedang sepupunya itu pikirkan? Setelah mengeringkan rambut, ia menepuk pelan pundak Kojuuro untuk sekedar menyadarkannya.

"Akhir-akhir ini kau sering melamun," ujar Masamune.

Kojuuro menghela nafas.

"Apa karena cuacanya?" tanya Masamune.

Kojuuro melirik ke luar jendela, menampilkan langit sore kota Toyama yang begitu gelap, bahkan daritadi hujan pun tak kunjung berhenti. Ya, mereka memang sedang berada di Toyama. Kojuuro yang mengusulkannya, karena katanya teluk bercahaya di sini benar-benar indah.

Sayangnya, cuaca tak mendukung,

"Bukan juga," jawab Kojuuro. "Aku sih tidak memerdulikan cuacanya. Kita masih bisa bersenang-senang selain di teluk itu, 'kan, seandainya nanti malam juga masih hujan."

Masamune mengangguk. "Kojuuro, aku ingin ke kamar Yuki. Kau mau ikut?"

Kojuuro berpikir sebentar sebelum mengangguk. Yukimura-nya.

"Well, c'mon," ajak Masamune. Keduanya pun berjalan ke luar kamar, mengunci pintu dan mengetuk pintu kamar Yukimura dan Sasuke tiga kali.

Baru lima detik, Sasuke membukakan pintu. Tampaknya ia baru saja mandi, karena ia sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.

"Oh, kalian. Hai," sapa Sasuke. "Masuk-masuk."

"Yuki mana?" tanya Masamune.

"Sedang mandi. Tunggu saja dulu," jawab Sasuke sambil menaruh handuk itu di kursi sebelum ia duduk di kasur. Oh ya, kamar yang ditempati mereka semua memiliki dua kasur, tidak satu kasur besar.

Kojuuro melihat ke arah kasur sebelah yang begitu berantakan. Pasti itu kasur Yukimura. Ia tertawa kecil sebelum duduk di atasnya. "Ini kasurnya Sanada, ya?"

Sasuke mengangguk. "Nggak di rumah, nggak di sini, hobi banget ngeberantakin. Tapi pasti nanti diberesi lagi. Dia aneh."

"Nggak aneh sama sekali… artinya dia orangnya bertanggungjawab." Kojuuro tersenyum simpul.

Mereka pun berbincang-bincang tentang ulangan kenaikan kelas kemarin. Soalnya begitu sulit, dan Kojuuro ingat betapa gelisahnya Yukimura saat mengerjakan soal Fisika. Dia sempat meminta jawaban pada Kojuuro, sayangnya tidak Kojuuro berikan karena memang ia sudah mengajari semuanya pada Yukimura.

Sementara Masamune dan Sasuke mengerjakannya dengan tenang, walaupun yang mengawas kebanyakan adalah guru-guru killer seperti Hideyoshi-sensei, Yoshiteru-sensei, Hisahide-sensei, atau Nouhime-sensei. Bahkan, Masamune sempat adu mulut dengan Nouhime-sensei karena tak sengaja mengumpat tentang sulitnya soal.

"Iya… aku ingat tuh. Date masih mengumpat meskipun ulangan Biologi telah berakhir," tawa Sasuke.

"Namanya juga Masamune," tukas Kojuuro.

Masamune mengerlingkan mata kirinya. "Whatever."

Beberapa saat kemudian, Yukimura keluar dari kamar mandi sudah mengenakan bajunya, seketika terkejut melihat Masamune dan Kojuuro yang sudah ada di kamarnya. Kemudian, ia heboh sendiri.

"Kenapa, Yuki?" tanya Masamune bingung.

"Untung saja tadi sekalian bawa baju ke dalam!" seru Yukimura masih heboh sendiri. "Coba kalau keluar hanya pakai handuk?!"

"Lebay. Kita sama-sama laki-laki ini." Masamune menjulurkan lidahnya.

Tunggu, seperti ada yang kurang dari Yukimura. Apa ya? Ah, iya. Hachimaki merahnya dan kunciran yang senantiasa mengikat rambut panjangnya itu. Keduanya tidak berada di kepala Yukimura sekarang. Begitu… polos. Dan Masamune sangat menyukainya.

"Yuki," panggil Masamune. "Sekali-kali ke sekolah nggak usah pake hachimaki dan ikat rambut, dong. Lebih manis polos seperti itu."

Untung Masamune tidak menengok ke arah Kojuuro dan Sasuke yang kini sudah panas sendiri dan meremas-remas seprai saking gregetnya.

"Eh…." Pipi Yukimura memerah mendengarnya.

"Sini dong," pinta Masamune.

Yukimura mengangguk, kemudian menghampiri ketiganya dan duduk di sebelah Sasuke.

Tiba-tiba saja Yukimura menjerit histeris. Dan ketiganya pun langsung menutup kedua telinga mereka. Ah, tipikal Yukimura sekali yang selalu heboh.

"Aduh… kenapa sih?" tanya Sasuke kesal.

"Itu, kasurku berantakan banget," jawab Yukimura dengan wajah yang begitu merah. "Aaah! Belum sempat diberesi!"

"Tidak apa-apa," kekeh Kojuuro. "Kami sudah tahu sifatmu, Yu—Sanada."

Sasuke terperanjat. Kojuuro nyaris sekali keceplosan. Dan untungnya, Masamune dan Yukimura sama sekali tidak menyadari hal itu.

"Jam lima sore begini enaknya ngapain ya?" tanya Yukimura.

Sasuke mengangkat bahu. "Tadinya kalau nggak hujan, aku ingin berjalan-jalan di taman hotel ini."

"Sayangnya hujan, ya," timpal Masamune. "Atau, kalau mau… kita hujan-hujanan, yuk?"

"Haah? Nanti sakit!" Yukimura membelalak.

"Itu mah mungkin kau saja yang tidak pernah hujan-hujanan, makanya sekalinya kehujanan langsung sakit," ledek Masamune sambil tertawa.

"Enak saja! Aku sering hujan-hujanan bareng Sasuke! Aku khawatir pada Masamune-dono, takutnya nanti kau sakit…."

Masamune tersenyum. "Aku sih tidak usah ditanya. Bad boy begini sudah kebal terhadap semuanya."

"Beneran mau hujan-hujanan?" tanya Kojuuro.

"Tentu saja. Ayo!" ajak Masamune sambil berdiri, kemudian berjalan menuju pintu kamar dengan semangat. Kojuuro menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Masamune yang seperti itu. Enak saja mengajak semuanya hujan-hujanan. Kojuuro memang orang yang dekat dengan alam, tapi kalau soal hujan… uh, siap-siap saja ia terserang flu.

"Uaah! Tunggu, Masamune-dono!" seru Yukimura yang kemudian berlari menyusul Masamune.

Kojuuro dan Sasuke hanya bertukar pandang.

"Aku nggak ikut hujan-hujanan," mulai Kojuuro. "Aku mudah terserang flu."

Sasuke menaikkan alisnya. "Kalau kau nggak ikut, aku nggak ikut juga."

"Kok?" tanya Kojuuro bingung.

"Lebih baik nggak ikut bersenang-senang daripada menjadi nyamuk di antara mereka." Sasuke menghela nafas, kemudian beranjak untuk mengambil handuk Yukimura. "Aduh, Yuki 'kan baru mandi! Langsung hujan-hujanan, pula!"

"… Mandi dua kali," kekeh Kojuuro. "Ya sudah, aku ambilkan handuk dan baju ganti dulu untuk Masamune. Dia sendiri juga baru mandi, nanti biar dia bilas saja."

.b.

HUJANNYA tidak sedamai gerimis, namun tak seramai badai. Pas, lah.

Yukimura merentangkan kedua tangannya, mencoba merasakan sejuknya angin yang menerpanya. Tubuhnya belum mengenai air hujan sama sekali. Ia menghirup nafas dalam-dalam, kemudian membuka matanya perlahan dan senyumnya mulai mengembang.

Ia suka udara seperti ini. Walau terkadang membuatnya mengigil, ia tetap menyukainya. Sekarang ini ia tidak merasakan dingin karena dia baru saja mandi air hangat—walau hanya memakai kaus oblong dan celana pendek selutut, ia tidak begitu merasa kedinginan.

Sebenarnya, tidak ke teluk Toyama untuk menikmati indahnya air 'berwarna' karena pancaran cahaya neon dari cumi-cumi di sana juga tidak apa-apa. Bisa bersantai di tempat sejuk seperti ini dengan kekasihnya, kakaknya, dan sahabatnya juga sudah lebih dari cukup. Setidaknya, bisa mengistirahatkan otak yang masih terasa panas akibat ulangan kenaikan kelas kemarin.

"Yuki," panggil Masamune yang sudah terguyur air hujan. "Ayo."

Yukimura mengangguk sebelum melangkah menuju daerah yang tidak beratap. Tubuhnya mulai basah terguyur air hujan, ia mendongak dan memejamkan matanya untuk merasakan segarnya air hujan yang membasahi wajahnya.

"Segar, ya?" Masamune mengacak rambut Yukimura yang sudah basah.

Yukimura mengangguk. "Katakura-dono dan Sasuke mana, ya?"

Masamune mengangkat bahunya, kemudian matanya menangkap Kojuuro dan Sasuke yang membawa handuk dan baju ganti. Matanya memicing.

"Kenapa?" tanya Yukimura.

"Itu mereka," ucap Masamune sambil menunjuk ke arah Kojuuro dan Sasuke. "Kok mereka malah duduk, sih? Nggak jadi ikut hujan-hujanan, ya?"

Yukimura menoleh ke arah yang ditunjuk Masamune. "Mungkin saja. Aku samperin dulu," ucapnya seraya berjalan menuju Kojuuro dan Sasuke.

"Ada apa, Yuki?" tanya Sasuke.

"Nggak ikut hujan-hujanan?" tanya Yukimura.

Sasuke menggeleng. "Katakura mudah flu, jadinya nggak ikut. Dan aku nggak mau jadi nyamuk."

Yukiumura tersenyum lebar. "Kirain gara-gara Katakura-dono nggak ikut hujan-hujanan."

"Jangan menyalahartikan," jeda, Sasuke menghela nafasnya, "memang karena dia nggak ikut, tapi kalau nanti aku ikut bakal jadi nyamuk."

"Oooooooh…," ucap Yukimura. "Ya sudah, aku lanjut main dulu ya."

Sasuke mengangguk.

Yukimura pun berlari kecil menuju Masamune dan mereka bermain di dalam hujan. Sesungguhnya, Sasuke bertanya-tanya, apa yang dapat dimainkan di bawah hujan deras? Kena-kenaan?

Sasuke memperhatikan lantai, berpikir tentang bagaimana caranya agar ia bisa move on dari Masamune. Masalahnya, semua ini sulit sekali dilakukan. Masamune saja pacaran dengan adiknya, bahkan setiap hari bertemu. Bagaimana caranya bisa move on jika sikon saja tidak mendukung?

Kojuuro mengusap punggung Sasuke pelan. Terkejut, Sasuke menoleh. Ah… dia terlalu baik walau omongannya pedas. Berusaha menenangkan Sasuke meskipun ia sendiri juga sakit hati, kurang baik apa coba.

"Jangan begini," nasihat Kojuuro. "Move on memang nggak mudah. Aku tahu itu."

Sasuke menghela nafas. "Setiap hari aku bertemu dia, mesra-mesraan dengan adikku pula. Rasanya sakit."

"Move on itu BUKAN menjauh," ucap Kojuuro. "Move on itu bukan berarti kau menjauh dari dia dan berusaha melupakan, namun saat bertemu rasa sakit itu kembali muncul. Move on itu dimana kau berbicara dengannya benar-benar TIDAK ada rasa."

Sasuke tertegun.

"Benar-benar datar, tidak ada rasa senang ataupun berdebar-debar. Semuanya benar-benar biasa saja, seperti baru kenal." Kojuuro menatap Masamune dan Yukimura yang kini sedang saling tertawa satu sama lain.

"… Kau benar," ucap Sasuke. "Tapi, perasaanmu pada Yuki sendiri bagaimana?"

"Aku selalu sadar," Kojuuro tersenyum, "Sanada memang tidak bisa kuraih. Sanada memang membuatku merasa cemburu setiap saat. Namun, aku mencintainya dan aku hanya bisa memendamnya. Bagiku, itu sudah cukup. Bisa melihat dia bahagia walau bukan karenaku itu sudah bisa membuatku senang."

Sasuke mengigit bibir bawahnya. Kojuuro terdengar begitu tulus pada Yukimura.

"Aku memang sangat menginginkannya menjadi kekasihku, namun jika aku memaksakan kehendak seperti itu maka aku mencintainya hanya karena nafsu," lanjut Kojuuro lagi.

"Katakura… aku…."

"Bodoh," ucap Kojuuro dingin. "Kau berlebihan. Mencintai dan cemburu memang tidak mengenakkan, namun apa kau memiliki hak? Kau saja bukan kekasih Masamune. Mending kalau kau kekasihnya, kau punya hak untuk cemburu dan marah."

Sasuke merutuk. Semua itu benar. Sangat-sangat benar.

Keduanya pun tenggelam dalam keheningan.

Namun, yang Kojuuro dengar hanya isakan.

Ia langsung panik begitu mengetahui Sasuke menangis. Cepat-cepat ia mengusap-usap kepala Sasuke—bermaksud menenangkannya. Ah, bodoh.

"Aku… terlalu menusukmu?" tanya Kojuuro hati-hati.

Sasuke mengangguk pelan, berusaha membela dirinya sendiri. "Itu benar-benar membuatku sakit hati. Tapi kau benar… aku memang mencintainya karena nafsu."

"Aku tahu," ucap Kojuuro. "Maaf atas perkataan-perkataanku yang tadi."

Sasuke mengangguk lagi.

"Kalau kau memang tak mau move on… maka cobalah untuk melihatnya benar-benar. Cintai dia dengan tulus, benar-benar tanpa keinginan untuk memiliki. Kau akan merasakan perubahan besar dalam suasana hatimu, Sarutobi."

"Ya, Katakura." Sasuke mengusap air matanya. "Maaf sudah menangis di depanmu."

"Tidak apa-apa, wajar kok. Perkataanku memang kejam, aku akui." Kojuuro tersenyum.

Sasuke ikut tersenyum. "Ajarkan aku agar bisa mencintai dengan tulus."

"Ya, Sarutobi."

To be continued.

.b.

A/N

Filler chapter-nya kebanyakan ya? :") dan maap telat update lagi, FFN error jadi ga bisa upload lewat HP, trus internet positif juga kalo mau upload di laptop. Dan ga bisa masang hotspot ke komputer lewat hp gue ga tau kenapa. Gembel sumpah.

Eh, nanti siang gue casting buat drama MOPD. Doain kepilih jadi salah satu pemeran utama ya.

BTW APAAN NIH SCENE TERAKHIR AKH CURHATAN PRIBADI SERIUS.

Balesan review:

Oichi: Nggak apa-apa kok. Emang kurang romantis sih… tapi pengen yang antimenstrim gitu (tadinya mau ditembak pas liburan, tapi kok kayaknya mainstream banget XD).

Kapten Pelangi: Orang mereka… itu maksudnya otak mereka. Maaf ya salah ketik :") dieditnya cepet-cepet soalnya. Iyap, bonyok KojuMasa emang udah ga ada. Anggep aja mereka pengusaha XD di sini saya bikin pov-nya itu pov orang pertama yang wujudnya pov orang ketiga gitu(?), jadinya saya bikin narasinya seolah2 Sasu ga tau ehehe.

Thank you all for reading. If you wanna join the series, you can move on to the next chapter, or even follow me to be notified of the future fictions. Good bye!

15 Juni 2016