Backfire [15]: Kalung Pengingat
Sengoku BASARA © CAPCOM
Backfire © Meaaaa
Warning: MasaYuki with slight KojuYuki/MasaSasu, sho-ai, AU, OOC.
UNEDITED!
Have fun with the story!
.b.
"PERTAMA, lihat Sanada sebagai alasan," ucap Kojuuro. "Perhatikan perasaan mereka. Meski kau kakaknya, kau tidak berhak ikut campur dalam urusan mereka. Apalagi dengan perasaanmu itu yang sangat mengganggu."
Sasuke menggeram. "Bisa nggak sih ngomongnya diperhalus sedikit?!"
"Kedua, lihat Masamune sebagai 'lapak' agar kau bisa mencintai seseorang," lanjut Kojuuro.
"Maksudnya?" Sasuke mengernyitkan alis.
"Jangan jadikan Masamune sebagai tikus yang selalu dikejar kucing, tapi jadikan ia kasur dimana kau bisa tidur dengan nyenyak di atasnya. Mengerti maksudku?"
Sasuke mengangguk pelan, masih sedikit ragu.
"Ketiga, buat dinding di antara kau dan dia," lanjut Kojuuro. "Batasi perlakuanmu. Peduli boleh, ngode atau modus boleh. Tapi lihat sikon juga, kalau Sanada lihat dia bisa cemburu."
"Jadi kau seolah-olah menganggapku sebagai perebut pacar orang, begitu?" tanya Sasuke.
Kojuuro membelalak. "Kok? Aku nggak bilang loh, ya."
"Ya kalau kau teliti lagi…." Sasuke menghela nafasnya.
Keduanya pun terdiam, memandangi ujung lorong hotel yang sepi. Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, dan keduanya masih tidak bisa tidur. Sementara Masamune dan Yukimura sudah tidur dari tadi, tentunya tidak lupa membilas diri setelah hujan-hujanan.
Ah… Masamune begitu tampan 6 jam yang lalu. Rambutnya basah terguyur air hujan, kaus putihnya yang basah membuat tubuhnya terjiplak dan terkesan transparan… lekuk otot itu sangat sempurna, karena sering dipakai untuk adu kekuatan dengan Sasuke dan yang lainnya.
Tunggu, Sasuke terpikir sesuatu.
Kojuuro itu sama sekali tidak berpengalaman dalam urusan asmara, 'kan? Apalagi, ini pertama kalinya ia mencintai seseorang. Namun… apa maksudnya ia memberikan Sasuke advice seperti itu? Benar-benar seperti orang yang sudah berpengalaman.
Ia menepuk pundak Kojuuro pelan.
"Kenapa?" tanya Kojuuro.
"Kau belum pernah mencintai seseorang, 'kan?" tanya Sasuke balik. "Tapi kok… semua perkataanmu dari tadi sore kok sudah seperti berpengalaman sekali?"
Kojuuro tertawa kecil. "Kau nggak tahu ya kalau aku ini sebenarnya penulis?"
"Penulis… HAH?" Sasuke membelalak. "Seriusan? Kok nggak pernah bilang?"
"Untuk apa bilang? Nggak begitu penting juga." Kojuuro tersenyum simpul.
Sasuke menggeleng. "Kok nggak penting?"
Kojuuro hanya membalasnya dengan senyuman. Mereka pun sampai kembali di depan kamar Sasuke. Laki-laki itu melirik ke arah jam dinding yang terpasang di dekat pintu kamar yang sudah menunjukkan nyaris pukul setengah dua belas.
"Katakura, sudah mau tengah malam. Aku tidur dulu ya?" pamit Sasuke.
Kojuuro mengangguk.
"Besok jam delapan pagi kita akan mengelilingi kota Toyama, 'kan?" tanya Sasuke. "Jangan sampai telat bangun."
"Iya. Ya sudah, aku juga masuk dulu. Dah."
"Dah."
.b.
YUKIMURA merentangkan tangannya. Pagi ini hujan kembali membasahi kota Toyama. Udara sejuknya sangat membuatnya jatuh cinta. Apalagi, di hotel ini banyak sekali pepohonan maupun tanaman-tanaman kecil, sehingga menambah kadar oksigen untuk para manusia.
Hujannya awet sekali. Sewaktu ia bangun tidur pukul enam pagi tadi sampai sekarang—hampir pukul sembilan pagi, hujan pun masih belum reda. Bahkan, sewaktu Yukimura tidur semalam hujan pun masih sedikit deras. Jangan-jangan hujannya sudah dari semalam.
Ah… untung saja ia pulang masih beberapa hari lagi, jadi ia masih bisa menikmati indahnya kota ini.
"Yuki, mau ikut sarapan nggak?" tanya Sasuke dari dalam. Saat ini, Yukimura memang sedang berada di balkon kamar hotelnya.
"Ya Sasuke, tunggu sebentar." Yukimura pun berjalan masuk ke dalam kamarnya.
Sebenarnya, Yukimura sedang memikirkan sesuatu. Kemarin saat hujan-hujanan, ia melihat kakaknya yang menangis, kemudian Kojuuro menenangkannya. Ada apa dengan kakaknya? Yukimura tahu persis kalau Sasuke itu adalah sosok yang kuat, selalu menganggap semua dapat diatasi. Tapi, sepertinya dia sedang mendapat masalah besar….
Tapi, kenapa Sasuke malah bercerita pada Kojuuro alih-alih kepada adiknya sendiri?
Yukimura tidak mengerti.
"Ada apa, Yuki?" tanya Sasuke bingung melihat adiknya yang diam saja sedari tadi.
Yukimura menatap Sasuke lamat-lamat. "Kau sedang ada masalah?"
Sasuke menghela nafas. Yukimura memang orang yang sangat peka, namun sewaktu-waktu ia bisa menjadi superlemot dan telmi. Tapi tetap saja, bisa ada sesuatu yang sedikit saja janggal pasti langsung ditanyakan dan ditebak olehnya. Dan biasanya selalu tepat sasaran. Hal itu bisa saja membuat si lawan bicara tak bisa membantah.
"Bukan sesuatu masalah yang besar," ujar Sasuke berusaha membuat Yukimura tak bertanya lebih lanjut.
"Tidak mungkin jika masalah itu bukan masalah yang besar! Buktinya kemarin kau menangis dan ditenangkan oleh Katakura-dono! Jujur saja, Sasuke. Aku tidak akan membocorkannya pada siapa-siapa!"
"Kau… lihat itu?" Sasuke membulatkan kedua matanya.
Yukimura mengangguk. "Ceritakan padaku, kumohon."
"Aku tidak bisa," tolak Sasuke. "Masalah pribadiku dengan Katakura. Maaf, Yuki, kali ini kau tidak boleh mengetahuinya."
Bahu Yukimura melemas. "Sebenarnya ada apa sih…?"
.b.
MEREKA berempat menyewa mobil milik hotel yang sekarang sedang mereka tempati. Meskipun mereka tahu kalau tarif parkir di Jepang memang sangat mahal, tapi mereka sama-sama ingin jalan-jalan menggunakan mobil. Alasannya sih agar bisa lebih 'dekat', dan khusus untuk Yukimura, dia ingin mendekatkan Kojuuro dan Sasuke.
Hitung-hitung balas dendam yang manis karena sudah menjodohkannya dengan Masamune. Karena awalnya ia tak bisa akur dengan Masamune kemudian bisa saling luluh, ia percaya kalau Kojuuro dan Sasuke pun juga bisa bersatu. Namun, sepertinya mereka sedang ada masalah….
Seperti sekarang ini, Sasuke hanya menelusuri media sosial tanpa berbicara sedikitpun. Saat ditanya ia hanya berdeham. Kojuuro juga terlihat pasrah saja, entah apa yang sedang mereka berdua pikirkan saat ini. Yukimura tidak mengerti.
"Jadi… kita mau ke mana nih?" tanya Masamune yang menyetir di depan ditemani oleh Yukimura di sampingnya.
"Terserah," jawab Kojuuro singkat.
Masamune terkekeh. "Jawaban orang yang tak punya pendirian."
"Heh," tegur Kojuuro. Ia melirik ke arah Sasuke, laki-laki itu masih fokus dengan ponselnya. Tanpa sadar ia melepaskan helaan nafas.
"Kalian ada masalah, ya?" tanya Yukimura.
Kojuuro sedikit terkejut, kemudian cepat-cepat menyembunyikannya. "Nggak ada, kok."
"Kalo nggak ada kenapa diam saja daritadi?" tanya Yukimura tepat sasaran.
"Nggak kok, Yuki. Nggak usah penasaran dengan urusan kami bisa tidak, sih?" Sasuke berucap kesal. Hal itu membuat Yukimura sedikit merasa bersalah, yang menyebabkan ia langsung tak bersuara lagi setelahnya.
Masamune hanya terdiam memaklumi. Meskipun ia tak tahu apa masalahnya, ia tidak mau ikut campur. Ia tahu Kojuuro bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Kalaupun memang masalahnya itu sangat berat, pasti Kojuuro akan bercerita padanya.
Masalahnya, kalian juga tahu, ini masalah yang berat karena Kojuuro mencintai kekasih Masamune sendiri. Namun, apa ia bisa bercerita tentang ini? Tidak. Masamune masih sedikit sensitif dengan perasaan cemburu karena kejadian dua tahun lalu. Ia tak mau menyakiti sepupunya sendiri.
Andai Kojuuro tidak terlalu menjaga Yukimura bahkan sampai membelanya ketimbang Masamune, pasti ia tak akan jatuh cinta.
Sasuke pun demikian. Apa ia bisa bercerita kepada Yukimura tentang perasaannya pada Masamune? Tidak. Ia juga tidak mau menyakiti hati adiknya itu. Ia juga tidak mau dipandang senjata makan tuan ataupun mendapat karma. Semua itu memalukan.
Andai Sasuke tidak merasa kagum pada rasa setia Masamune terhadap Mego melalui cerita Kojuuro, pasti ia tak akan jatuh cinta.
Ah, capek.
Masamune memberhentikan mobil di sebuah parkiran. Mungkin itu parkiran untuk umum, karena sekarang di sekeliling mereka berempat adalah bermacam-macam toko souvenir yang berjejer dengan ramainya. Bisa dibilang Malioboro-nya Jepang, namun lebih tertib dan parkir pun ada di tempat parkir umum yang cukup luas itu.
"Harusnya sih kita ke sininya belakangan, atau di hari terakhir liburan. Tapi aku sedang ingin sekarang. Jadi, ayo turun!" ajak Masamune sambil mematikan mesin mobilnya, mengambil ponsel dan kunci mobilnya kemudian turun.
Sasuke dan Kojuuro menghela nafas panjang, kemudian mereka pun turun disusul oleh Yukimura yang masih sibuk dengan tasnya. Resletingnya terbuka hingga isinya ke mana-mana. Dasar ceroboh.
"Tanahnya agak becek, ya," komentar Kojuuro.
Masamune mengangguk. "Mungkin bekas hujan semalam. Kalian berdua duluan sana, aku nungguin Yuki dulu."
Sasuke tersenyum canggung. "Aku duluan saja," ucapnya kemudian pergi menyusuri toko-toko itu.
"Sarutobi, tunggu!" seru Kojuuro yang kemudian menyusul Sasuke.
Masamune terkekeh. Yuki benar. Jika dilihat sekilas mereka memang cocok.
"Masamune-dono!"
Mendengarnya, Masamune menoleh.
"Ayo, maaf ya lama!" cengir Yukimura. Masamune mengangguk, kemudian mereka pun berjalan berdampingan menyusuri toko-toko itu.
Beralih ke Kojuuro dan Sasuke, kini keduanya sedang berada di toko barang antik. Ah, rupanya mereka sama-sama penggemar barang antik. Jadi, langsung saja mereka masuk ke dalam.
Sasuke memperhatikan lampu-lampu gantung antik yang terpajang di sudut etalase. Ia memerkirakan umur benda-benda itu berkisar antara 100-200 tahun. Ia melirik ke arah kanan, memerlihatkan jejeran koin-koin zaman dahulu yang Sasuke perkirakan umurnya sudah mencapai setengah abad.
"Unik ya," komentar Kojuuro.
Sasuke mengangguk. "Harganya lampunya berapa?"
"Itu bisa mencapai 100.000 yen," jawab penjaga toko. "Pemiliknya sangat memperhatikan keindahan dan kebersihan barang itu, sewaktu ia menjualnya ke sini ia meminta kami untuk membersihkannya setiap saat."
"Woo… mahal juga," komentar Sasuke. "Haah, sebenarnya aku tertarik dengan lampu itu. Tapi, sayangnya, aku tak punya uang sebanyak itu."
"Bisa ditawar kalau mau," kata penjaga toko.
Sasuke menggeleng. "Aku sedang menabung, lagipula aku ke sini hanya melihat-lihat. Maaf, ya…."
Si penjaga toko mengangguk. "Tidak apa-apa."
"Kau tidak jadi beli?" tanya Kojuuro pada Sasuke.
Sasuke menggeleng. "Hanya ingin melihat-lihat, kok. Yuk, kita ke Yuki."
Kojuuro hanya manggut-manggut, kemudian mengikuti langkah Sasuke ke luar toko. Tapi, sewaktu melihat sesuatu, Sasuke tiba-tiba menghentikan langkahnya. Hal itu membuat Kojuuro menabrak punggung Sasuke. Untung saja tidak jatuh.
"Aduh… kau ini apaan sih berhenti mendadak?" protes Kojuuro.
"Gomen nasai! Ayo ke sana!" Sasuke menunjuk sebuah toko souvenir. Kojuuro hanya mengangguk kemudian kembali mengikuti langkah Sasuke.
Memasuki toko itu, Kojuuro langsung terpana. Suasana harimau di sini… mengingatkannya pada Yukimura yang memiliki aura harimau. Sebenarnya, Kojuuro tidak mengerti juga apa maksudnya. Tapi, ya sudahlah.
Meskipun Kojuuro tidak pernah berkunjung ke rumah Yukimura, Sasuke pernah menceritakan tentang suasana rumahnya. Hatinya mendadak terasa tak karuan, antara senang dan nyesek. Ah… mungkin Kojuuro bisa membelikan sesuatu untuk Yukimura. Setidaknya, ia ingin sedikit merasa 'dikenang'.
Tunggu, sejak kapan ya, Kojuuro menjadi melankolis seperti ini?
"Keren-keren banget sih…." Sasuke berjalan menyusuri etalase-etalase toko. Miniatur-miniatur harimau terpajang rapi secara berjejer, membuat Sasuke terkagum-kagum. Namun, tiba-tiba saja pandangannya jatuh pada sebuah kalung dengan enam koin antik menggantung sebagai pengganti liontin. Tangannya bergerak hendak mengambil kalung itu, namun tiba-tiba saja sebuah tangan sudah mengambilnya duluan.
Sasuke menoleh. Rupanya Kojuuro.
"Kenapa? Kau ingin membeli kalung ini?" tanya Kojuuro.
Sasuke mengangguk. "Ya, tadinya untuk Yuki, tapi kalau kau mau beli, tidak apa-apa…."
Tiba-tiba saja, senyum Kojuuro mengembang. "Aku belikan ini untuk Sanada, bagaimana?"
"Wah," ucap Sasuke. "Boleh. Tapi, Dokuganryuu akan cemburu tidak?"
Kojuuro mengangkat bahu.
"Beli sana, aku akan melihat-lihat yang lain."
Kojuuro mengangguk seraya tersenyum kecil.
.b.
"CAPEK!" keluh Yukimura yang sedang menenteng plastik berisi dango. "Masamune-dono bawa aku ke mana saja tanpa tahu kakiku lelah."
"Sorry. Aku excited banget, sih," cengir Masamune. "Kalian beli apa?"
Kojuuro mengeluarkan kalung koin tadi beserta barang-barang yang lain dari tasnya. "Kalung berliontinkan enam koin untuk Sanada dan sebuah baju untuk Sarutobi."
"Aku tidak dibelikan?" tanya Masamune tidak percaya sambil menyalakan mesin mobilnya. "Ah, gimana sih."
"Hehehe," kekeh Kojuuro. "Dan beberapa potong baju untukku sendiri. Tidak beli banyak kok. Karena aku percaya kau akan benar-benar borong banyak sekali souvenir."
Wajah Masamune mendadak memerah. Ia mendecak pelan, kemudian mulai menjalanlan mobilnya. Yukimura hanya tertawa menanggapi percakapan barusan.
"Makan, yuk? Aku lapar nih," ucap Yukimura. "Enaknya di sini makan apa ya?"
"Ada orang yang bilang kalau Toyama itu makanannya enak-enak sekali!" celetuk Sasuke. "Sepertinya restoran sushi tidak begitu jauh dari sini."
Masamune mengangguk, kemudian melajukan mobilnya. Setelah bebas dari jalanan yang penuh dengan toko-toko souvenir, ia mulai sedikit memercepat laju kendaraannya. Ia melirik ke arah spion dalam, memperlihatkan Sasuke yang sedang menunjukkan kepada Kojuuro barang-barang yang dibelinya.
Ah, Masamune mendadak teringat waktu pertama kenal dengan Sasuke.
Bagi Masamune, Sasuke adalah sosok orang yang menyebalkan, karena selalu mem-bullynya sewaktu pertama kali bertemu, entah apa maksudnya. Sampai sekarang pun ia masih tidak tahu apa alasannya.
Kemudian. Tiba-tiba saja Sasuke mengajak Masamune berduel. Itu terjadi dari kelas 10, dan Masamune tidak tahu mengapa ia meladeni Sasuke sampai sekarang. Mungkin, karena Sasuke cukup membuat amarahnya naik dan akhirnya mereka pun menjadi rutin berduel entah setiap berapa hari sekali, maupun didasari oleh amarah ataupun sekedar berduel untuk kepuasan pribadi.
Terbayang di pikiran Masamune saat Sasuke membicarakan adiknya untuk yang pertama kali. Di saat itu Masamune mulai merasa aneh karena tiba-tiba saja ia seperti sedang dijodohkan dengan Yukimura, yang diperkuat dengan kedekatan Kojuuro dan Yukimura yang tiba-tiba itu.
Semoga saja memang perjodohan. Masamune tersenyum, hatinya luluh hanya karena Yukimura menangis di depannya.
"MASAMUNE-DONO! AWAS!"
Masamune terkejut mendengar jeritan Yukimura, kemudian ia segera kembali memfokuskan diri pada jalanan. Dan ia tak dapat cepat mengerem ketika sebuah mobil truk menabraknya, membuat kepala Masamune dan Yukimura terbentur setir mobil dan dashboard—sayangnya mereka lupa mengenakan sabuk pengaman.
Pandangan mereka berempat menggelap, tepat setelah Sasuke meringkuk ketakutan dan Kojuuro memeluknya erat bermaksud melindunginya.
To be continued
.b.
A/N
Backfire akan tetap update rutin, masalahnya gue rada males doang (bukan gegara teater juga sih) gegara sekarang di ruang keluarga gue ada kasur, jadi gue sekarang maunya ngetik di situ pake laptop dan feel suka mendadak ilang jadinya males… hehe maap atas ketelatan update-nya. Jadi, bakal update Kamis dan Minggu lagi karena ternyata 3x seminggu itu rasanya berat dan beban xD dammat dah selese Juli
Terus, tadinya buat drama mopd gue jadi penyihir (ADA ADEGAN BERANTEMNYA AHH SERU :'D), tapi disuruh casting ulang plus skenario diganti, jadi yha… agak nyesek.
Btw… maap kalo adegan tabrakannya kurang greget.
Balesan review:
Dissa Chavalliana: OEMJI, tepok jidat gue. Sama sekali nggak diedit jadi berasa bat ancurnya yak? XD nanti dibetulin deh… tapi abis Backfire tamat. Dan Mea emang sengaja bikin tiap kata abis pembatas itu kapital, ga tau kenapa XD btw Mea ranking 11 :(
Kapten Pelangi: Sasuke pinter… saya mendadak inget ff SenBasa High School saya :'D ((jangan promosi Me))
Er, soal Yuki yang heboh pas keluar dari kamar mandi mungkin gegara Masmun kan pacarnya, jadi takut ada kejadian aneh-aneh… (WOI) hehehee
asakura11: Hehe, makasih :'D ternyata berasa juga rumitnya. Pasti dilanjutin kok, makasih ya!
Thank you all for reading. If you wanna join the series, you can move on to the next chapter, or even follow me to be notified of the future fictions. Good bye!
20 Juni 2016
