Backfire [16]: Terkuaknya Rahasia-Rahasia

Sengoku BASARA © CAPCOM
Backfire © Meaaaa

Warning: MasaYuki with slight KojuYuki/MasaSasu, sho-ai, AU, OOC.

EDIT KILAT!

Have fun with the story!

.b.

KOJUURO mengaduh, kepalanya barusan terbentur bantalan jok yang sekarang ditempati Masamune.

Ia melirik ke arah depan, tampak kaca mobil yang sudah hancur. Kepalanya mendadak terasa sangat pusing, kemudian ia baru menyadari warga sekitar tampak sedang mencoba membuka paksa pintu mobil sewaan dari hotel itu.

Kecelakaan, ya…, batin Kojuuro. Beberapa detik kemudian, ia teringat Yukimura. Mendadak ia berubah panik, kemudian melongok ke depan untuk melihat kondisi laki-laki yang dicintainya itu. Mengetahui kepala Yukimura mengalirkan banyak darah—yang Kojuuro asumsikan terbentur dashboard dengan sangat keras—juga terkena pecahan kaca mobil, ia menutup mulutnya dengan telapak tangan.

Hatinya hancur.

"DIA SADAR! DIA SADAR!"

Kojuuro melirik. Ah, warga sekitar. Ia pun cepat-cepat membuka kunci mobil—tak lupa melirik sekilas untuk mengetahui keadaan Masamune—rupanya kepalanya juga terluka namun tak separah Yukimura. Kojuuro meringis melihatnya. Kemudian, ia pun membuka pintu mobil untuk meminta pertolongan.

Tunggu, bagaimana keadaan Sasuke? Ia tak sempat melihatnya meskipun Sasuke duduk di sampingnya.

"Syukurlah, syukurlah ada yang sadar," ucap salah satu warga. "Kau tidak apa-apa, anak muda?"

Kojuuro mengangguk. "Kepalaku hanya pusing dan bahuku sedikit sakit."

"Ya Tuhan, kami sangat panik!" seru warga yang lain. "Kami sudah panggilkan ambulan dan polisi. Sekarang, kau beristirahat dulu ya di mobilku?"

"Tidak perlu, aku hanya butuh minyak kayu putih," tukas Kojuuro. "Lebih baik aku membantu—"

"JANGAN! Sudah, kau beristirahat saja. Tidak apa-apa, aku tidak keberatan kok!"

Kojuuro mengangguk kecil, kemudian mengikuti langkah orang itu menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari tempatnya berdiri.

Tapi, Kojuuro mengkhawatirkan Yukimura—dan Sasuke.

.b.

DI ruang UGD….

"ARGH! Pelan-pelan!" bentak Masamune pada seorang suster yang sedang membersihkan luka di kepalanya. Ia sangat stress sekarang, karena sudah buyar dari konsentrasinya pada jalanan dan menyebabkannya, Yukimura, Sasuke, dan Kojuuro kecelakaan. Ah, rasanya sangat menyesal, dan ia juga sangat merasa bersalah.

Apa kata ayah Yukimura dan Sasuke jika ia tahu akan hal ini? Pasti ia akan langsung dicap sebagai kekasih yang buruk, tidak bertanggung jawab, atau tidak bisa menjaga kekasih sendiri. Tanpa sadar air matanya mengalir, ia tak mau semua sebutan itu. Ia benar-benar tidak sengaja kehilangan fokus.

"Sakit sekali, ya?" tanya suster itu khawatir. "Maafkan saya, tapi ini sudah pelan-pelan lho."

"… It's not that," jawab Masamune pelan. "Y-Yuki mana? Aku mau bertemu dengannya."

"Yuki—Sanada Yukimura?"

"Ya."

Suster itu tersenyum pahit. "Temanmu itu terluka parah. Sekarang ia sedang ditangani oleh dokter. Kau jangan terlalu khawatir, lebih baik kau beristirahat dulu."

"APA?!" pekik Masamune terkejut. "Yuki—Yuki—MANA YUKI?!"

"Tenanglah, ia ada di ranjang sebelah, namun sedang tak sadarkan diri. Jangan panik, nanti kau akan bertambah stress. Biar saya obati lukamu dulu." Suster itu kembali mengobati luka Masamune, kali ini lebih berhati-hati karena Masamune benar-benar nyaris kehilangan kendali. "Dan jangan berisik, ya? Pasien lain butuh ketenangan."

Masamune terdiam, hatinya patah mendengar kondisi kekasihnya.

Terluka parah.

Tak sadarkan diri.

Ia tak mau kehilangan Yukimura. Entah dalam jalur putus karena tak bisa menjaganya atau jalur kematian karena tak bisa bertahan. Masamune menggelengkan kepalanya. Ah, ia berpikir terlalu jauh. Yang penting, saat ini ia harus mengutamakan dirinya dahulu, agar ia bisa cepat menemui Yukimura.

"… Suster, bolehkah tirai itu dibuka?" tanya Masamune pelan.

Suster itu menggeleng. "Maaf, ya. Ia masih ditangani dokter," ucapnya secara membalutkan perban di kepala Masamune. "Nah, sudah selesai. Sekarang, kau beristirahat dulu saja. Jangan berpikir yang macam-macam dulu, nanti kau stress. Saya permisi."

Masamune menghela nafas. Nyatanya, ia juga sedang pusing. Sambil memejamkan matanya, Masamune menahan air matanya yang akan keluar sebentar lagi. Ah, persetan dengan anggapan cengeng, Masamune sangat mengkhawatirkan Yukimura. Dimana ranjangnya? Di kanan dan kirinya sama-sama tirai, ia tak tahu Yukimura ada di sisi yang mana.

Masamune mendadak membuka matanya begitu tirai depannya tampak dibuka. Rupanya Kojuuro.. Ah, laki-laki itu tampaknya baik-baik saja. Masamune hanya terdiam memperhatikan Kojuuro yang sekarang duduk di ranjangnya, membuat Masamune bergeser sedikit untuk memberi ruang pada Kojuuro.

"Kojuuro," panggil Masamune.

Kojuuro mengangguk. "Aku baik-baik saja, Masamune."

"Syukurlah," ucap Masamune lega. "Yuki terluka parah?"

Kojuuro membeku. Ah, sedih rasanya.

"Oi, Kojuuro."

"Ya, Masamune. Dia terluka parah dan kekurangan banyak darah, saat ini dokter sedang mencarikannya darah di bank darah," jawab Kojuuro—terlalu banyak kata darah. "Golongan darahnya sangat-sangat langka."

"Astaga, apa golongan darahnya?" tanya Masamune khawatir.

"… AB rhesus negatif."

Masamune menaikkan satu alisnya. "Golongan darahnya sama denganmu, Kojuuro. Kenapa tidak kau saja yang donorkan?"

Kojuuro tersenyum kecil. "Sedang dicari di bank darah. Bagaimana keadaanmu?"

"Sudah membaik," jawab Masamune. "Kresek bagaimana?"

"Dia baik-baik saja. Sekarang ia sedang menunggui Sanada."

Masamune menghela nafas. "Syukurlah."

Tidak lama kemudian, dokter datang menghampiri Kojuuro, sepertinya untuk memberitahukan sesuatu tentang darah Yukimura. Kojuuro pun berdiri, sejenak menatap Masamune meminta izin untuk berbicara sebentar dan dibalas oleh anggukan oleh sepupunya itu.

Kojuuro mengikuti dokter itu menuju mejanya, kemudian duduk di kursi yang tersedia. Di sana sudah ada Sasuke. Tampaknya ini serius, Kojuuro jadi berfirasat buruk.

"Jadi," mulai dokter itu. "Kami tidak menemukan golongan darah AB rhesus negatif di bank darah. Jadi, kami ingin menanyakan apakah ada kerabat yang memiliki golongan darah yang sama dengannya. Sebaiknya secepatnya, agar kondisi Sanada tidak memburuk."

"Ah… sayangnya aku B positif…." Sasuke menggaruk tengkuknya.

Kojuuro sedikit terkejut mendengarnya.

"Orangtuanya?" tanya dokter itu.

Sasuke tampak enggan menjawab. Melihat tampang Sasuke gelisah, Kojuuro menepuk-nepuk pundak Sasuke bermaksud menenangkan.

"Katakura, tolong rahasiakan ini. Kumohon," pinta Sasuke.

"Ada apa, Sarutobi?" Kojuuro berubah cemas.

Sasuke kembali menatap dokter. "Ayah A negatif. Ibu B negatif. Sementara itu, ayah sedang ada di luar negeri dan ibu sudah meninggal."

Kojuuro benar-benar terkejut mendengarnya.

Jika orangtua Sasuke dan Yukimura sama-sama memiliki rhesus negatif, sudah pasti anaknya memiliki rhesus negatif juga. Dan Yukimura memilikinya. Tapi… Sasuke positif. Jadi ini maksud Sasuke untuk merahasiakannya. Rupanya Sasuke bukan kakak kandung dari Yukimura.

Lalu, bila tidak mungkin pasangan yang sama-sama memiliki rhesus negatif untuk mendapatkan anak berrhesus positif, lalu… Sasuke bukan anak kandung dari keduanya? Lebih tepatnya, anak pungut?

Tak disangka.

"Lalu… golongan darahmu kok bisa B negatif?" tanya dokter.

"Aku hanya anak pungut…," jawab Sasuke.

Benar, 'kan.

"Ya sudah, kalau begitu aku saja yang donorkan. Golongan darahku AB negatif," potong Kojuuro, mengalihkan pembicaraan ke topik utama. Sasuke menatapnya penuh rasa bingung, dan dibalas senyuman oleh Kojuuro. "Tidak apa-apa, 'kan? Aku hanya ingin merasa berjasa untuknya."

Sasuke mengangguk. "Tapi, kondisimu…?"

"Aku baik-baik saja, Sarutobi. Aku tidak akan kenapa-kenapa, janji."

Sasuke tersenyum kecil.

Kojuuro pun diajak oleh dokter untuk mengisi persyaratan untuk mendonorkan darah. Sementara itu, Sasuke berjalan ke arah Yukimura, menampilkan wajahnya yang begitu pucat. Sasuke menghela nafas.

Rahasia lain terkuak, batinnya.

.b.

SASUKE menghela nafas.

Saat ini ia sedang menemani Yukimura di ruang rawat inap selagi menunggu Kojuuro selesai mendonorkan darahnya. Masamune pun juga ikut menunggui kekasihnya, karena ia memaksa-maksa suster agar ia bisa bertemu dengan Yukimura. Dan saking keras kepalanya ia, akhirnya suster memerbolehkan atas izin dokter.

"Kresek," panggil Masamune.

Sasuke menoleh. "Ya?"

"Maafkan aku ya. Gara-gara aku semuanya jadi repot begini."

"Yah, aku sih tidak masalah," ujar Sasuke. Yang melakukannya 'kan kau. "Memangnya ada apa sih sampai-sampai kau tidak fokus begitu pada jalanan? Ada masalah?"

Rona merah menjalar di pipi Masamune begitu ingat bahwa ia sedang memikirkan Sasuke sebelum kecelakaan itu. Tentang pandangannya dari awal bertemu hingga saat ini yang sudah ia anggap pembawa keberuntungan karena sudah memertemukannya dengan Yukimura.

"Hanya terpikir sesuatu yang tidak penting." Tangan Masamune meraih pipi Yukimura, kemudian mengusapnya pelan. "Yang penting, Yuki bisa diselamatkan."

Sasuke berubah gelisah.

Sial, ia cemburu lagi.

"Kau sendiri ada luka tidak?" tanya Masamune.

Sasuke menggeleng, kemudian teringat akan kejadian di mobil sebelum ia pingsan karena kecelakaan itu. "A-aku dipeluk oleh Katakura erat sekali, jadi aku tidak kenapa-kenapa. Mungkin aku pingsan juga karena syok. Untung saja saat mau dibawa ke rumah sakit, aku sadar—Katakura saat itu juga sudah sadar. Rasanya kalian berdua saja yang terluka lumayan parah."

"Begitu?" tanya Masamune sambil tersenyum penuh misteri. "Kojuuro sweet banget, ya?"

Sasuke menghela nafas. "Dia baik banget, walau omongannya ya… pedas."

Masamune terkekeh. "Dia mah orangnya memang begitu. Setiap orang yang baru mengenalnya pertama kali pasti akan memandang dia akan begitu normatif dan menyebalkan. Tapi, kalau sudah benar-benar kenal, dia pasti akan menjadi sangat baik. Biasanya dalam kasus melindungi seseorang, bisa dikatakan dia benar-benar sayang dengan orang itu dalam artian seorang adik atau kakak. Mungkin dia sudah menganggapmu adiknya, makanya ia begitu."

Sasuke tersenyum kecil, kemudian mengalihkan pandangannya pada Yukimura. "Kau ngomongnya kurang panjang."

"Sorry, tapi benar 'kan? Kau sendiri menganggap Kojuuro itu apa?" tanya Masamune.

"… Rekan kerja."

"What?"

"Rekan kerja," ulang Sasuke.

"Maksudnya?"

"Bodoh, sebenarnya selama ini kami menjodohkanmu dengan Yuki," ucap Sasuke akhirnya. "Memangnya kau tidak sadar gerak-gerik aneh kami berdua? Entah yang tiba-tiba menanyakan soal Yuki kepadamu, entah Katakura yang tiba-tiba membela Yuki dibandingkan kau, tentang kami yang selalu berusaha mencari-cari informasi dari masing-masing pihak, sampai kau menyakitinya! Kau tidak menyadari itu?"

Masamune tertegun.

Sementara itu, Sasuke menahan air matanya.

Ia teringat perasaannya pada Masamune. Ia teringat kesalahan tak disengajanya; mencintai Masamune. Sasuke benar-benar ingin menghilangkan perasaan ini, namun tidak bisa. Rasanya Sasuke sudah jatuh terlalu dalam. Bahkan, tips dari Kojuuro waktu itu juga rasanya tidak berlaku karena ego lebih menguasai Sasuke.

Sasuke akui ia memang kelewat bodoh. Namun, ia benar-benar ingin memiliki Masamune. Ia melirik ke arah Masamune yang kini sedang mengecup kening Yukimura—sudah, ini benar-benar membuatnya tak tahan. Cemburu ini begitu menyiksanya. Air matanya mengalir begitu saja, namun Sasuke meminimalkan suara isakan dengan menggigit bibir bawahnya.

Air mata itu mengalir seperti mengalirkan semua rasa cemburunya, melampiaskan segala rasa sakitnya. Walau sebenarnya laki-laki menangis untuk menahan perasaannya, Sasuke tetap sudah tidak kuat lagi.

Ia capek.

"Kalaupun kau memang menjodohkanku dengan Yukimura, aku sangat bersyukur. Karena dia mencintaiku, dan aku pun sangat mencintainya. Terima kasih ba…." Ucapan Masamune terputus ketika menoleh ke arah Sasuke, terkejut melihatnya menangis tanpa suara seperti itu. "Kresek?"

Sasuke menggeleng. "Tidak, aku tidak apa-apa. Lupakan saja," ujarnya.

"Sarutobi," panggil Masamune, kali ini dengan nama karena tak ingin menyakiti hati laki-laki itu. Ia berdiri kemudian berjalan pelan ke arah Sasuke. "Ada apa?"

Sasuke kembali menggigit bibirnya.

Masamune berusaha menghapus air mata Sasuke, walau ia sendiri tetap menjaga perasaannya agar tidak ikut terbawa suasanya. "Serius, kau kenapa? Aku mengatakan sesuatu yang menyakiti hatimu?"

Sasuke hanya diam, tidak berani menatap Masamune. Ah, ia tidak tahu lagi kemana Sasuke yang sebenarnya pergi. Tapi, yang hanya ia lakukan adalah bergerak memunggungi Masamune, kemudian berusaha mengatur nafasnya.

"Sarutobi, aku serius. Kau membuatku bingung."

Sasuke tahu kok Masamune tidak bisa melihat orang menangis. Siapapun itu.

"Ceritakan padaku," Masamune mengambil tangan Sasuke dan mengenggamnya erat, bermaksud menguatkan. "Mungkin aku bisa bantu."

"Apa sih?!" geram Sasuke sambil menepis tangan Masamune. "Aku diam karena aku tak tahan dengan semua ini! Selama ini aku sudah berusaha menahan rasa sakit ini namun nyatanya aku tak kuat! Kau tidak tahu 'kan, seberapa sakit aku mendengar bahwa kau sangat mencintai Yuki? Aku bisa apa? AKU BISA APA?!"

Masamune terperanjat.

"Aku tidak ada apa-apanya dibandingkan Yuki! Mungkin jika kau mau bilang aku PHO, terserah. Nyatanya aku memang sudah tak tahan. Kalau mau jauhi aku, jauhi lah. Aku pun sangat ingin melupakanmu. Tinggal saja aku! Aku hanya menambah masalah semuanya!" Kini Sasuke benar-benar mengeluarkan semua perasaan terpendam. Ia pun sedikit menyesal sudah mengatakan itu semua, namun ia benar-benar sudah tak tahan.

"Sarutobi… jadi, kau…."

"Aku mencintaimu. SANGAT-SANGAT mencintaimu!" seru Sasuke gamblang, membuat Masamune terkejut dan mundur dua langkah dari Sasuke.

Dan di saat itu, pintu kamar terbuka.

To be continued.

.b.

A/N

KLIMAKS TJOYY, dapet gak feel-nya? Kok pas gue baca ulang alurnya kecepetan.

Kecelakaan begitu bisa bikin kekurangan banyak darah gak sih? Kok rasanya ndak realistis ya. Lah tapi ada yang meninggal gara-gara itu. Ahh auah

Twist dikit buat hubungannya SasuYuki hewhew.

Balesan review:

Guest: Spam mah tinggal spam, keles :v

valencia winaldi: Dia emang ribet XD btw, lu bukan Iben? Kata Iben, lu beneran elu :v (apa sih Me?)

Kapten Pelangi: Malioboro Jepangnya ngasal gile. Uang Mea malah ilang sekitar 190k :(
Ga ada kok soal hilang ingatan, gak kepikiran sampe ke situ malah XD yah, kemungkinan bakal selesai di minggu kedua Juli sih. XD

Thank you all for reading. If you wanna join the series, you can move on to the next chapter, or even follow me to be notified of the future fictions. Good bye!

26 Juni 2016