Backfire [17]: Kenangan

Sengoku BASARA © CAPCOM
Backfire © Meaaaa

Warning: MasaYuki with slight KojuYuki/MasaSasu, sho-ai, AU, OOC.

Have fun with the story!

.b.

"PERMISI, untuk resipien Sanada Yukimura, darah milik Katakura Kojuuro bisa didonorkan sekarang," ucap suster yang datang membawa sebuah nampan alumunium berisi kantung darah. Yukimura sudah diinfus daritadi, dan sekarang sepertinya suster itu akan mengganti kantung infus itu dengan kantung darah.

Ahh… darah Katakura akan mengalir di pembuluh darah adikku. Aku bisa berjasa apa untuk Date? Sasuke meringis dalam hati.

"Ah… ya. Silahkan saja," ucap Masamune. Kemudian ia mengalihkan pandangannya pada bibir pintu, terlihat Kojuuro yang sedang berjalan masuk dengan lemas. "Kojuuro? Are you okay?"

Kojuuro mengangguk. "Hanya efek sehabis mendonorkan darah saja. Kau sudah tahu, 'kan?"

"Ya, aku mengetahuinya dari Sarutobi." Lidah Masamune sedikit kelu menyebutkan nama Sasuke, mengingat perasaan laki-laki itu padanya. Sialan, kenapa takdir harus berkata seperti ini, sih?

Sasuke tersenyum canggung sebelum menghampiri Kojuuro. Ia menatap Kojuuro yang kini sedang memperhatikan bagaimana suster mengganti kantung infus itu sebelum membuka suara. "Katakura, istirahat dulu sana. Kau terlihat lemas sekali begitu."

"Aku tidak apa-apa, Sarutobi," kilah Kojuuro.

"Nanti kau bisa pingsan, lho. Mau kubelikan makanan?" tanya Sasuke khawatir.

Kojuuro menggeleng.

"Kojuuro, sebaiknya kau tidak membantah," timpal Masamune dingin.

Mendengar nada bicara Masamune seperti itu, Kojuuro mengernyitkan alisnya heran, namun tidak menanyakannya sama sekali. Akhirnya, ia berjalan menuju sofa yang ada di sudut kamar kemudian merebahkan dirinya. Sasuke tersenyum kecil, kemudian menghampirinya.

Masamune hanya terdiam, kemudian mengalihkan pandangannya pada Yukimura yang masih tidak sadarkan diri. Sementara itu, suster yang menangani Yukimura barusan pamit dan segera keluar kamar. Masamune menarik kursi yang ada di dekatnya menuju ke sebelah kasur Yukimura, kemudian memperhatikan bagaimana wajah laki-laki itu begitu tenang dalam pingsannya—atau tidur? Nafasnya begitu teratur sekarang.

"Date, aku mau cari makan dulu untuk Katakura, kau mau kubelikan juga?"

Masamune sedikit terkejut mendengarnya. Namun, ia tak membalasnya.

"Uhm… maaf soal tadi," ucap Sasuke. "Aku hanya tidak tahan. Lupakan saja semua itu, anggap saja aku tak berbicara apa-apa tadi."

"Tch. Memang semudah itu?" tanya Masamune kesal. "Sebenarnya aku ingin menjaga Yuki, namun sepertinya Yuki sadarnya masih lama. Jadi, aku mau ikut kau, sekalian ingin membahas yang tadi."

Sasuke menelan ludahnya gugup. "Kepalamu bagaimana?"

"Aku bisa menangkalnya," tandas Masamune. "Sudah, ayo."

"Er… oke. Katakura, kami pergi dulu, ya?"

Kojuuro hanya mengangguk pelan, sebenarnya ia penasaran dengan masalah Sasuke dan Masamune. Namun, ia memilih tak bertanya karena kepalanya terasa pusing. Ia menutup matanya, kemudian berlayar ke alam mimpi.

.b.

"KAU serius?" tanya Masamune pelan, dalam nada bicaranya tersirat rasa tidak suka. "Kau mencintaiku?"

Butuh waktu lama untuk Sasuke untuk sekedar menganggukkan kepalanya. Dan entah kenapa pernyataan itu membuatnya begitu menyesal.

"Then, hapus perasaan itu," ucap Masamune dingin.

Sasuke hanya terdiam, tidak tahu harus bereaksi apa.

"Aku sudah punya Yuki, dan jangan sekali-kali kau berani menghancurkanhubungan kami," desis Masamune. "Lebih baik kau bersama Kojuuro."

"Kok Katakura sih?" tanya Sasuke bingung.

"Aku melihat sorot kasih sayang lebih dari Kojuuro untukmu."

"Yang benar saja," decak Sasuke sambil mulai memakan ramennya. Mungkin itu hanya rasa kasihan Katakura padaku. Tunggu, apa kata Katakura bila ia tahu aku sudah menyatakan perasaanku pada Date?

Masamune mengangkat bahu sebelum menyeruput jus alpukatnya—seperti biasa. "Jangan pernah masuk menjadi orang ketiga dalam hubunganku dengan Yuki, Sarutobi. Dan tolong, jangan pernah menangis lagi di hadapanku. Kau tahu 'kan, aku tidak bisa melihat siapapun menangis? Aku takut akan memberikanmu harapan. Lagipula, apa sih kelebihanku di matamu? Kok kau bisa tiba-tiba saja jatuh cinta."

"Err… ya…." Sasuke menggaruk tengkuknya. "Mungkin aku hanya terpesona dengan rasa setiamu pada Mego-san… dari cerita Katakura dulu. Ah, sudahlah, lupakan saja. Maafkan aku ya?"

"Tunggu, Kojuuro cerita tentang Mego kepadamu?" tanya Masamune.

Sasuke mengangguk.

Masamune menghela nafas panjang. "Ya sudah. Kau kumaafkan. Tapi, janji untuk move on, oke? Aku tidak mau memberikanmu harapan palsu, apalagi sampai membuatmu mengejar-ngejarku hanya demi cinta. No."

"Ya, Date. Terima kasih." Sasuke tersenyum tipis. Dengan perasaan lega—walau sedikit sakit hati, Sasuke kembali memakan ramennya. Setidaknya, masalahnya dengan Date sudah selesai. Dan yang Sasuke butuhkan saat ini adalah move on.

Kata Kojuuro, move on itu bukan tentang pergi jauh dan sekedar melupakan, kemudian saat bertemu rasa sakit kembali menguasai diri. Tapi, definisi move on yang tepat adalah tetap dekat dan biasa, namun tidak merasakan sama sekali perasaan cinta atau berdebar-debar yang biasa dirasakan oleh orang yang jatuh cinta. Dan sepertinya Sasuke butuh lagi saran dari Kojuuro untuk move on. Ah, mengapa semuanya susah sekali begini sih.

Namun, Sasuke berusaha memantapkan dirinya. Walau move on memang sulit, ia pasti bisa. Karena ia yakin, jika di hati masih ada rasa tidak rela, tidak mungkin move on akan berhasil terlaksana. Maka dari itu, ia akan berusaha memantapkan diri dulu.

Sayangnya, hatinya memasang dinding yang menghalangi niatnya.

Sasuke menatap Masamune dengan tampang datar, sebelum tiba-tiba saja ia menarik kerah Masamune sedikit kasar…

… dan menciumnya tepat di bibir.

Masamune terperanjat, dirinya pun langsung cepat-cepat menjauhkan wajah Sasuke darinya. Wajahnya kini memerah—didasari oleh rasa marah dan tidak disangkanya. Ia langsung menyeka bibir dan memicingkan mata kirinya. Beraninya Sasuke mencium bibirnya begitu saja, bahkan ia mencium bibir Yukimura saja belum berani!

"Kau tahu apa yang barusan kau lakukan, Sarutobi?" tanya Masamune dingin. "Aku baru saja memaafkanmu. Dan kau… apa sih maumu sebenarnya?! Aku tidak mengerti! Kau mau aku? Ha, you don't even deserve me! Aku punya Yuki, Sarutobi!"

"Aku tahu, aku tahu!" seru Sasuke, kemudian ia mendesah panjang. "Itu ciuman pertama dan terakhirku untukmu. Setidaknya, sebelum aku move on, aku ingin meninggalkan suatu kenangan."

"Kenangan? Apa maksudnya?! Itu justru akan membuatmu semakin kepikiran, Bodoh!" geram Masamune.

Baru saja Sasuke ingin berbicara, Masamune sudah memotongnya duluan.

"Penerimaan maaf kutarik. Aku muak dengan kelakuanmu. Aku duluan, dan jangan tanya aku kemana." Masamune bangun dari kursinya, kemudian langsung pergi ke luar restoran tanpa menghabiskan makanannya lebih dulu.

"Date…," lirih Sasuke menyesal. "… ASTAGA! Kepalamu 'kan masih diperban!"

Dan ia menyusul Masamune ke luar restoran—untung makanan sudah dibayar duluan.

.b.

"UHH…."

Pandangan Yukimura perlahan menjelas. Putih… bersih… dan bau-bau steril ini… ah, pasti ia ada di rumah sakit. Saat ia ingin duduk, kepalanya terasa pusing sekali dan seperti berdenyut-denyut. Ia memutuskan untuk tak bergerak dulu untuk menahan rasa pusingnya. Bahkan ia hanya meringis kecil untuk menahan rasa pusingnya.

Setelah tiga menit berusaha mengusir rasa pusing, Yukimura mencoba untuk duduk. Ah, apa tidak ada seorangpun yang menjaganya? Bagaimana sih. Saat mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan, ia mendapati Kojuuro yang sedang tidur di sofa. Kontan, ia mengernyitkan alis. Mengapa hanya Kojuuro yang ada di sini? Kemana Sasuke dan Masamune?

"Katakura… -dono?"

Kojuuro masih tertidur.

"Ah, apa sih yang terjadi?" keluh Yukimura sambil memegangi kepalanya. Namun, ia terkejut dengan perban yang melingkari kepalanya. Ah, ia kenapa sampai-sampai diperban seperti ini?

Yukimura berusaha mengingat apa yang terjadi. Dan ingatannya jatuh pada saat ia berteriak memeringati Masamune—ah, pasti ia begini karena kecelakaan. Yukimura bergidik mengingat bagaimana kerasnya kepala membentur dashboard mobil. Pasti kepalanya benjol. Setelah itu, guncangan keras yang tiba-tiba itu membuatnya syok dan langsung tak sadarkan diri.

Ya. Ini benar-benar karena kecelakaan.

GUBRAK!

Yukimura langsung menoleh ke arah Kojuuro yang kini sedang meringis. Rupanya ia terjatuh dari sofa karena hendak berguling. Ah, dasar.

"Lho, Sanada?" Kojuuro terkejut melihat Yukimura yang sudah duduk manis di ranjang empat meter dari sofanya. Ia pun berjalan mendekati Yukimura. "Kau sudah sadar?"

Yukimura mengangguk pelan sebelum melirik ke arah infusannya. Dan melihat darah yang mengalir di selang infus itu….

Detik pertama, Yukimura mengerjapkan matanya beberapa kali.

Detik kedua, Yukimura nge-gasp.

Detik ketiga, dia heboh.

"HAH?! DARAH?! APA-APAAN INI! KATAKURA-DONO, INFUSANKU BERDARAH!"

Kojuuro mengusap-usap telinganya. Tunggu, kejadian ini begitu mengingatkannya akan sesuatu.

Ah, ya. Saat ia memberitahukan tentang perjodohan ini dulu. Benar-benar persis.

"Bukan berdarah itu, tapi memang isinya darah," jawab Kojuuro berusaha sabar. Eh, dia memang selalu sabar pada Yukimura.

"Maksudnya?" tanya Yukimura bingung.

"Kau kekurangan banyak darah, Sanada. Jadi, pihak rumah sakit memberikan donor darah untukmu."

Yukimura menautkan alisnya. "Tapi, golongan darahku 'kan langka sekali. Memangnya ada stoknya?"

"Tidak ada sih, namun ada pria supertampan yang mendonorkan darahnya hanya untukmu." Kojuuro mencoba bergurau. Walau konteksnya juga memuji diri sendiri, sih….

"Pria supertampan? Masamune-dono?" tanya Yukimura refleks.

"A…." Kojuuro mengurungkan niatnya untuk berbicara. Sialan, mengapa ia harus dibuat cemburu saat mencoba modus seperti tadi. 'Kan menyebalkan.

"Memangnya Masamune-dono golongan darahnya sama denganku?" tanya Yukimura lagi, tidak menyadari ketidaknyamanan Kojuuro.

Kojuuro menggeleng. "Bukan Masamune, tapi aku."

"Hah? Katakura-dono yang donorkan?!" tanya Yukimura terkejut. "Aaaaa, makasih banyak! Coba kalau nggak ada Katakura-dono, mungkin sekarang aku sudah mati."

Setidaknya aku meninggalkan suatu kenangan berupa darahku yang mengalir di tubuhnya, batin Kojuuro sambil tersenyum tipis.

Beberapa detik kemudian, pintu kamar terbuka.

Oh, rupanya Sasuke. Tapi, Masamune tidak ada bersamanya.

"Sarutobi?" panggil Kojuuro. "Masamune mana? Kok nggak bareng."

"Maaf, Katakura. Maafkan aku," isak Sasuke, kemudian berjalan ke arah Kojuuro dan memeluknya erat. "Aku mengacaukan semuanya. Sungguh, aku tidak sengaja menyat—"

"Sasuke! Aku dilupakan, nih?!"

Sasuke tertegun. Untung saja ia belum mengatakan bahwa ia sudah menyatakan perasaannya pada Masamune. Lagipula, bagaimana ia bisa tak menyadari bahwa Yukimura sudah sadarkan diri? Mungkin, ia terlalu menyesai perbuatannya sampai-sampai hanya Kojuuro-lah tempat mencurahkan uneg-unegnya, karena tidak mungkin ia menceritakan masalahnya pada Yukimura.

"Eh, Yuki? Kau sudah sadar?" tanya Sasuke sambil menaruh tangannya di pundak Yukimura.

Yukimura mengangguk. "Masamune-dono kemana?"

"Er… soal itu…." Sasuke menggaruk tengkuknya. "Aku bertengkar dengannya, dan dia pergi begitu saja, entah kemana. Saat aku keluar restoran pun ia sudah tak nampak lagi. Kutelepon juga ditolak terus."

"Kalian kenapa?" tanya Kojuuro.

Sasuke menghela nafas. "Aku tidak bisa menceritakannya sekarang. Makan dulu nih, Katakura. Agar kau tidak lemas lagi," ucapnya seraya menyerahkan bungkusan onigiri.

"Terima kasih." Kojuuro tersenyum tipis. "Sanada, coba kau yang telepon Masamune. Kalau darimu ia tak akan menolak, 'kan?"

"Ya, tolong ambilkan ponselku," pinta Yukimura, kemudian Sasuke segera mencari ponsel Yukimura di tas laki-laki itu. Setelah memencet memanggil pada kontak Masamune, ia mendekatkan ponselnya ke telinga dan menunggu balasan.

"Yuki? Kau sudah sadar? Atau ini Sarutobi?"

DIANGKAT! Yukimura berseru kepada Kojuuro dan Sasuke tanpa suara. "Ini aku, Masamune-dono."

"God, syukurlah kau sudah sadar."

"Masamune-dono dimana?" tanya Yukimura langsung.

Terdengar dehaman kecil Masamune di seberang. "Sarutobi menanyakannya, ya?"

"Enggak!" dusta Yukimura. "Di sini hanya ada Katakura-dono yang barusan jatuh dari sofa. Emangnya Sasuke kenapa?"

Sasuke hanya melotot kepada Kojuuro yang kini sedang makan. Ah, tapi ia lega, karena Yukimura bisa diajak kerjasama saat ini.

"Oh, begitu. Aku ada di dekat rumah sakit, tapi aku nggak mau kasihtahu lokasi pasnya. Biarkan aku sendiri dulu ya, Yuki?"

"… Kenapa?"

"Aku sedang ada masalah dengan Sarutobi. Dan tolong jangan tanyakan padanya apa masalahnya. Privasi."

Yukimura mendesah kecewa.

"Aku janji akan kembali dua jam lagi. Sabar, ya?"

"Tapi janji, lho."

"Iya, Sayang."

Pipi Yukimura memerah mendengarnya. Ah, teringat soal makam Yoshihime….

"Ya sudah, kumatikan ya teleponnya? Daah."

"Dah." Yukimura pun menutup teleponnya.

"Jadi…? Ah, kenapa tak kau loadspeaker tadi?" tanya Sasuke.

Yukimura terkekeh. "Masamune-dono ada di dekat rumah sakit. Tapi ia sedang ingin sendiri dulu. Dua jam lagi ia akan kembali."

Sasuke manggut-manggut. Tepat di saat itu, ponselnya berdering keras. Tanpa melihat siapa yang menelepon, Sasuke langsung menerima telepon itu dan mendekatkan ponselnya ke telinganya.

"Halo?"

"Sasuke, tolong jemput Ayah di bandara."

Sasuke terperanjat. Ayahnya pulang…? Ah, tapi ia sedang tak ada di Tokyo dan tak mungkin ia menceritakan perihal kecelakaan itu!

Sambil menghela nafas, Sasuke menepuk dahinya mulai frustasi.

To be continued.

.b.

A/N

Begadang kuy.

Feel buat ff ini mulai ilang huwoh sampe-sampe schedule diabaikan… kebanyakan main COC dan CR guweh… tapi kalo nggak dipaksain ngetik malah bakal ngilang total ._. ntar ujung-ujungnya discontinued, padahal 3-4 chapter lagi Backfire tamat :'D

Dan kayaknya Mea bakal update lagi 10 Juli. Mau pulang kampung soalnya.

Shingen muncul (?)

Balesan review:

Guest: CIE YANG BAPER, SINI MEA KASIH PELUK BIAR GA BAPER LAGI. *malah tambah baper, bego(?)* dan oh, makasih note-nya :'D nanti-nanti direvisi deh biar lebih greget.

Kapten Pelangi: HAHAHA KOJU EMANG GEMBEL GA KHAWATIR SAMA MASMUN. Trus… padahal 11 bulannya itu buat alasan kenapa SasuYuki seangkatan HAHA tapi yaudah. Waduh, makasih koreksinya :'D nanti dibetulin.

Thank you all for reading. If you wanna join the series, you can move on to the next chapter, or even follow me to be notified of the future fictions. Good bye!

2 Juli 2016