Backfire [18]: Rasa dan Kembali

Sengoku BASARA © CAPCOM
Backfire © Meaaaa

Warning: MasaYuki with slight KojuYuki/SasuMasa, sho-ai, AU, OOC.

Have fun with the story!

.b.

MASAMUNE berdiri, hendak kembali ke kamar Yukimura. Padahal ini baru sekitar setengah jam, tapi tadi tiba-tiba saja Yukimura meneleponnya karena katanya ada hal penting yang harus cepat-cepat dibicarakan. Dan mendengar nada panik Yukimura yang benar-benar natural, ia pun yakin Yukimura-nya tidak berbohong.

Selama setengah jam berdiam diri di taman, Masamune berhasil membuat hatinya tenang kembali, walau perasaan Sasuke padanya masih sangat mengganggu pikirannya. Ia hanya tidak habis pikir, kenapa bisa-bisanya Sasuke jatuh cinta padanya? Ayolah, ia hanya seorang bad boy penggila adu fisik dan suka bermabuk-mabukan. Bahkan mata saja hanya punya satu. Mengapa tidak Kojuuro saja yang Sasuke cintai? Kojuuro jauh lebih baik berlipat-lipat dibanding dirinya.

Sambil berjalan, Masamune menggeram pelan. Ia mendadak teringat soal ciuman tadi. Ah, ayolah! Apa maksudnya meninggalkan 'kenangan' dalam bentuk ciuman? Dan yang Masamune sesali… tadi adalah ciuman pertamanya. Mencium seorang Megohime saja ia tidak pernah, kau percaya?

Saat Masamune sudah berada di dekat kamar Yukimura, ia melihat Kojuuro dan Sasuke yang tampaknya sedang berdebat. Hah, masa berdebat di tengah lorong seperti ini. Mengapa tidak sekalian di dalam saja, coba. 'Kan privasi jadi lebih bisa terjaga.

"Kau ini bagaimana sih, Sarutobi? Dia kekasihnya Sanada. Dan dia harus tahu soal ini, apalagi ia yang menyetir tadi. Kalau kau makin merahasiakannya, 'kan kasihan jika dia tidak dapat restu hanya karena menjadi seorang pengecut!"

Masamune menghentikan langkahnya, kemudian menautkan alisnya. Ia masih ada di radius delapan meter dari kedua manusia satu gender itu. Lalu, ia pun merapatkan diri ke balik pilar agar bisa menguping lebih jelas.

"Aku hanya tidak mau dia panik, Katakura!"

"Aku tahu, tapi bukan begitu caranya! Jangan sembunyi, tapi harus berani untuk menghadapinya. Sama seperti masalahmu dengan Masamune, 'kan? Meski aku tidak tahu apa masalahnya, kau harus menghadapinya. Menjadi pengecut malah akan menenggelamkanmu dalam perasaan gelisah!"

"Buruk, Katakura. Buruk sekali."

"Apa apa? Coba ceritakan masalahmu dengannya. Mungkin saja, aku bisa membantu dengan menceramahimu lebih lanjut."

"Ck, kau ini."

"Ya sudah, apa?"

"Aku menyatakan cinta padanya."

"… Apa?!"

"Dan aku kalap. Aku mencium bibirnya."

Detik pertama, Kojuuro mengerjapkan matanya beberapa kali.

Detik kedua, Kojururo nge-gasp.

Detik ketiga, dia heboh—dengan suara yang dipelankan karena tidak mau menggangu pasien yang sedang berjalan-jalan di koridor ini dengan kursi roda.

"Bodoh! DASAR BODOH! Kau harus bisa mengontrol egomu, Sarutobi! Aku tahu kau mencintainya, tapi kenapa saran-saranku kemarin tak kau dengar, sih?! Aku sudah mengajarkanmu bagaimana caranya agar bisa tulus mencintai seseorang!"

Masamune mendesah panjang. Jadi ini masalah Sasuke dengan Kojuuro tempo hari. Pantas saja ia dan Yukimura tidak diberitahu. Pasti akan canggung, apalagi Sasuke 'kan kakak Yukimura. Pasti Yukimura akan sakit hati.

Sayangnya, ada tiga rahasia lagi yang belum Masamune tahu—soal ayah Sasuke dan Yukimura, perasaan Kojuuro, dan anak pungut. Dan sepertinya untuk yang kedua dan ketiga Masamune tidak perlu tahu.

Terdengar Sasuke yang mulai terisak. "Maaf, Katakura. Maaf… aku kalap. Itu semua di luar kesadaranku. Aku sama sekali tidak bermaksud begitu! Tolong maafkan aku…."

Masamune mengintip, tepat di saat Kojuuro menarik Sasuke ke dalam pelukannya.

Ya. Kau memang harusnya bersama Kojuuro, Sarutobi.

"Minta maaflah pada dirimu sendiri. Tolong, Sarutobi, berpindahlah ke lain hati. Kau tidak pantas mencintainya karena ia sudah menjadi milik orang lain. Kau akan mendapatkan yang jauh lebih baik daripadanya. Jangan sedih begini, aku ikut sakit melihatnya."

Dan Sarutobi akan mendapatkanmu, Kojuuro, yang notabene merupakan sosok manusia yang jauh lebih baik daripadaku. Ia pun memutuskan untuk keluar dari tempat persembunyian dan menghampiri mereka berdua.

"Jadi ini masalah kalian tempo hari? Yang katanya tidak boleh aku dan Yuki ketahui," tanya Masamune.

Kojuuro dan Sasuke yang sama-sama terkejut pun langsung melepas pelukan.

"Masamune—" Omongan Kojuuro terpotong.

"Aku sudah dengar semuanya. Cukup tahu saja sih. Aku ke sini hanya karena dipanggil Yuki."

Sasuke mendesah panjang. "Ada satu hal yang ingin kami bicarakan."

"Apa? Sebaiknya cepat, karena sepertinya Yuki sangat membutuhkanku," timpal Masamune.

"Ayah kami pulang dari Korea Utara, dan ia syok begitu tahu kita semua kecelakaan. Dan ia akan menghajar siapapun supirnya—yang beraninya membuatku dan Yuki kecelakaan. Itu berarti kau sudah dicap buruk olehnya, Date," jelas Sasuke.

Masamune tertegun.

"Ayah kalian… pulang?" ulang Masamune tidak percaya. "God! Apa yang harus kukatakan kepadanya nanti?!"

Sasuke menghela nafas. "Sebaiknya kau memperlakukannya dengan sopan dan jelaskan sejelas-jelasnya. Sekarang, ia sudah berangkat ke sini menggunakan kereta. Jadi, ia sampai kira-kira sore nanti."

Masamune mengangguk. "Terima kasih informasinya. Aku ke Yuki dulu."

Sementara itu, di kamar….

Saat tengah usil memainkan jarum infus, Yukimura terkejut begitu merasakan nyeri dan ngilu pada punggung tangan kirinya. Saat ditengok, rupanya infusan itu sudah hampir lepas dan darah berceceran ke tangan dan selimutnya. Dan ia menjerit tepat saat Masamune masuk ke kamarnya.

Terkejut begitu melihatnya, Masamune langsung panik.

"YUKI! JANGAN DIAPA-APAKAN ITU! TUNGGU SEBENTAR!"

Yukimura lebih terkejut karena Masamune tiba-tiba saja datang.

Sementara itu, Masamune langsung memencet tombol untuk memanggil suster. Setelah tersambung dengan suster yang tersedia di sana, ia pun langsung memberitahukan soal kondisi infusan Yukimura. Di sisi lain, Yukimura meringis menahan air matanya karena rasa ngilu dan nyeri itu sangat mengganggu.

"Sabar, Yuki. Tunggu suster datang. Memangnya kau apakan ini sampai-sampai bisa seperti ini?" tanya Masamune khawatir sambil mengangkat tangan kiri Yukimura.

"AAH! JANGAN DIANGKAT! NGILU!" jerit Yukimura yang langsung memukul-mukul lengan Masamune agar langsung melepaskan tangannya.

Kontan, Masamune pun menurunkan kembali tangan Yukimura pelan-pelan. "Sorry."

Beberapa saat kemudian, suster pun datang sambil membawa nampan alumunium dan kotak berukuran kecil yang isinya adalah perlengkapan untuk menginfus pasien. Melihatnya, Yukimura bergidik ngeri. Masa iya, ia harus diinfus lagi?

Suster itu pun menarik kursi ke dekat ranjang Yukimura dan mengambil tangan laki-laki itu.

"Ya ampun… infusnya kau apakan?" tanya suster itu terkejut sambil mengamati tangan Yukimura.

"Err… itu, Suster… aku bosan, jadi kumainkan," jawab Yukimura sedikit terkekeh, namun kemudian meringis.

Suster itu tersenyum. "Infus ulang ya, ini benar-benar sudah nyaris lepas."

Yukimura mengangguk pelan.

Kemudian, suster itu mengambil kapas steril beralkohol untuk membersihkan darah-darah yang berceceran di tangan Yukimura. Setelah dibersihkan, ia mengambil kapas steril beralkohol yang baru dan perban. Ia pun menarik infusan itu pelan-pelan di bawah kapas yang sudah ditekankannya pada calon luka agar darah tidak berceceran lagi, kemudian setelah lepas, perban pun ditempelkan pada kapas itu.

"Terus, yang diinfus yang kanan, Sus?" tanya Masamune.

Suster itu mengangguk. "Nggak mungkin 'kan, kalau tetap menginfusnya di kiri. Lukanya juga harus menutup dulu. Jadi, lebih baik di kanan saja."

Lalu, suster itu mengambil kain kasa beralkohol lagi dan mengusap-usapnya pada punggung tangan kanan Yukimura. Mudah saja untuk mencari vena di tangan Yukimura, karena tangannya begitu kurus sehingga mudah terlihat. Kemudian, jarum infus pun mulai ditancapkan.

Melihat tangan Yukimura yang begitu kurus, Masamune tertegun. Selama ini, ia tidak begitu memikirkan tentang kondisi fisik Yukimura. Mulai saat ini, ia harus menyuruh Yukimura makan yang banyak agar tubuhnya lebih berisi. Selain itu, orang dengan tubuh berisi sangat enak untuk dipeluk.

"Sudah selesai ya. Jangan dimainkan lagi infusnya. Kau tolong jaga dia, agar ia tidak kembali memainkan infusnya," kata suster itu—kalimat terakhir ditujukan kepada Masamune. "Saya permisi dulu."

Sambil membawa kotak berisi peralatan infus dan nampan alumunium yang kini sudah berisi bekas infusan Yukimura yang tadi, suster itu pun pergi.

"Maaf ya, Masamune-dono…," ucap Yukimura.

Masamune tersenyum sambil duduk di kursi yang diduduki suster tadi. "No problem, Yuki. Tadi kenapa menelepon?"

"Oh, itu…." Yukimura pun duduk, condong ke arah Masamune agar lebih enak untuk berbicara. "Ayahku pulang, dan ia marah pada Masamune-dono."

"Soal itu sih… aku sudah tahu dari Sarutobi, tadi. Marah karena sudah menyebabkanmu kecelakaan, 'kan?" tebak Masamune datar.

"Tadi itu, ceritanya…."

.

Sasuke manggut-manggut. Tepat di saat itu, ponselnya berdering keras. Tanpa melihat siapa yang menelepon, Sasuke langsung menerima telepon itu dan mendekatkan ponselnya ke telinganya. "Halo?"

"Sasuke, tolong jemput Ayah di bandara."

Sasuke terperanjat. Ayahnya pulang…? Ah, tapi ia sedang tak ada di Tokyo dan tak mungkin ia menceritakan perihal kecelakaan itu!

Sambil menghela nafas, Sasuke menepuk dahinya mulai frustasi.

"Siapa, Sasuke?" tanya Yukimura yang penasaran. Sementara Kojuuro tetap makan sambil melirik-lirik sesekali memastikan Sasuke tidak apa-apa.

Sasuke pun me-loadspeaker-kan ponselnya.

"Sasuke, dengar Ayah?"

"I-i-iya, Yah. Tapi, sekarang aku sedang di Toyama bersama Yuki. Aku tidak bisa menjemput Ayah di bandara," jawab Sasuke takut-takut.

Yukimura membelalakkan matanya. Ayahnya pulang? Ya Tuhan, ini sangat memperburuk suasana. Apa yang akan dikatakan ayahnya nanti jika bertemu Masamune? Bagaimana jika ayahnya menyuruh Yukimura untuk meninggalkan Masamune yang sudah membuatnya kecelakaan? Tidak, Yukimura tidak mau.

"Apa? Toyama? Sedang apa kalian di sana? Liburan? Memangnya sudah liburan?" Dan datang bertubi-tubi pertanyaan dari Shingen.

"Sekolah kami memang selalu libur setelah ulangan semester. Aku tidak bisa menjemput Ayah, aku harus menjaga Yuki dan Katakura." Sejenak, Sasuke kembali menepuk dahinya karena keceplosan.

"Katakura? Siapa lagi itu?"

Kojuuro pun langsung menengok dengan polosnya.

"Teman kami."

"Dan kenapa harus dijaga?"

"Itu…." Sasuke mendesah panjang.

"Kenapa, Sasuke?"

"Kami kecelakaan, Yah."

"APA?!"

"Maaf, Yah. Aku sih baik-baik saja, tapi Yuki… dia sampai harus transfusi darah. Beruntung Katakura memiliki darah yang sama dengan Yukimura, sehingga bisa langsung didonorkan. Makanya, dia masih lemas sekarang, jadi aku harus menjaganya juga."

"Siapa yang menyetir?! Akan kuhajar dia. Lihat saja!"

"Date—Date Masamune, kekasih Yuki," jawab Sasuke takut-takut. Yukimura pun hanya bisa berdoa.

"Ayah ke sana sekarang, naik kereta. Tolong bilang si Date Masamune itu, sebaiknya ia berusaha keras untuk mendapatkan hati Ayah, karena sekarang Ayah membencinya. Enak saja, kekasih macam apa itu? Membuat kekasihnya sendiri kecelakaan—membawa teman-temannya, lagi!"

"I-iya, Yah. Sampai bertemu di Rumah Sakit Besar Toyama."

.

"Jujur, aku merasa sangat bersalah." Masamune menghela nafas. "Seharusnya kau membenciku, Yuki."

"Aku nggak akan pernah benci Masamune-dono. Aku sayang Masamune-dono." Kedua tangan Yukimura meraih punggung Masamune dan menariknya menuju pelukan hangat. Masamune memejamkan matanya, berusaha menetralkan kembali emosinya. Ia bahagia memiliki kekasih yang sangat baik seperti Yukimura. Jika ia di posisi Yukimura… mungkin ia sudah memutuskan kekasihnya yang teganya membuat dirinya kecelakaan.

"Yuki…."

"Ya? Kenapa?"

Masamune melepas pelukan dan tersenyum. "Maaf."

"Maaf untuk apalagi?" tanya Yukimura terkejut. "Dan kenapa sambil tersenyum?"

Masamune tidak menjawab itu dengan perkataan, melainkan dengan aksi yang langsung diluncurkannya. Tangan kanannya menyentuh pipi Yukimura yang lembut, kemudian mengusap-usapnya pelan sebagai tanda sayang. Yukimura hanya menunduk dengan wajah yang sudah sangat memerah.

Tangan Masamune yang satu lagi meraih rambut Yukimura dan mengusap-usapnya lembut, kemudian perlahan menuruni wajah sampai rahang tercengkram—memosisikannya sama seperti tangan kanannya. Kemudian, ia memajukan wajahnya, membuat Yukimura sedikit mundur. Namun, kedua tangan Masamune menarik Yukimura dan akhirnya bibir mereka bertemu.

Yukimura terkejut dan refleks melenguh. Ia memejamkan matanya, merasakan bagaimana hangat dan lembutnya pertemuan antar bibir. Dan begitu ciuman dilepaskan, Yukimura memalingkan wajahnya malu.

"That was a kiss, jika kau lupa," ucap Masamune dengan wajah yang sedikit merah. "I love you, Yuki. I always do."

Yukimura terharu mendengarnya, walau sedikit tidak mengerti apa yang dibicarakan.

"Maaf karena sudah menjadi kekasih yang buruk," ucap Masamune pelan. "But, don't leave me. I need you."

"Masamune-dono adalah yang terbaik, oke? Apapun yang terjadi, aku akan tetap sayang Masamune-dono." Senyum Yukimura mengembang. Membuat Masamune ikut tersenyum.

Dan tadi adalah ciuman pertama Yukimura.

To be continued.

.b.

A/N

Telat update banget ini… omg. Badan gue lagi remuk-remuknya(?) minggu ini, mata berkunang-kunang terus, trus nafas sesek sampe dada-punggung gue sakit. Akhirnya kemaren gue cek ke klinik taunya tekanan darah rendah (90/60) dan kolesterol gue tinggi (272) ._. terus 5 hari lagi gue pentas teater jadi latihan terus dari kemaren, dan gegara efek kolesterol ama hipotensi jadi lemes terus + gampang banget capek, mau ngetik jadi males XD. Maapin yah

Kualitas nulis jadi nurun kan.

Btw kasian banget Masmun dihadapi 2 masalah sekaligus gitu XD dan ga ngerti lagi OOC kebangetan ini tapi biarin ah XD

SCENE TERAKHIRNYA MENYE DAN GANTUNG BHAK

Balesan review:

Kapten Pelangi: NGAKAK FLYING MONKEY. Mendadak teringat sifat asli Sasuke—heu ini OOC parah. Dan saya juga ngakak waktu ngetik yang infusan dikira berdarah tapi di sini jadi berdarah beneran wkwkww

Shadow0Reader: Sasuke emang udah kesian banget, daku enggak tega… :( bhak curhat aja ke Koju, dia kan penulis ini bisa jadi dokter cinta~ /geli
Hwaa, ini dilanjut kok, AMVHOON!

Chacha Rokugatsu: Ch1-ch3 emang udah dibikin dari awal 2015(?) jadinya feelnya udah jelek gitu… (emang bisa ya? XD) tapi nanti pas udah tamat ch1-3 nya bakal direvisi biar enak dibaca! Yeay! Dan selamat datang di ff ini :3

Thank you all for reading. If you wanna join the series, you can move on to the next chapter, or even follow me to be notified of the future fictions. Good bye!

15 Juli 2016