Backfire [19]: Kesempatan

Sengoku BASARA © CAPCOM
Backfire © Meaaaa

Warning: MasaYuki with slight KojuYuki/SasuMasa, sho-ai, AU, OOC.

Have fun with the story!

.b.

"AYAH sudah sampai? Ya sudah, kalau begitu aku ke depan."

Sasuke menutup telepon dan berdiri, kemudian disambut oleh tarikan tangan oleh Kojuuro—hendak menahan.

"Mau kemana, Sarutobi?" tanya Kojuuro.

"Ke depan, menjemput Ayah. Mau ikut?" tawar Sasuke.

Kojuuro menggeleng. "Aku di sini saja."

Sasuke mengangguk, kemudian langsung keluar kamar—meninggalkan Yukimura yang sedang tidur dan Masamune yang sedang ada di kamar mandi. Sebenarnya, ia sedikit tidak siap. Perasaan takut mendadak menyelimutinya, kalau-kalau ia dimarahi karena pergi tidak bilang-bilang dulu.

Tapi, Sasuke juga takut ayahnya—Shingen—akan membenci Masamune. Meskipun Shingen bekerja jauh dari rumah, ia tetap menjaga anak-anaknya dari jauh, apalagi ia single parent. Sasuke jadi tersenyum kecut, mengingat orangtuanya telah tiada.

"Sasuke?"

Mendengarnya, Sasuke menoleh.

"Ini Ayah!"

Sasuke tersenyum, kemudian berjalan ke arah Shingen yang tengah berdiri sembari memegang gagang panjang koper. Ah… kenapa Sasuke bisa lupa jadwal ayahnya pulang, ya? Mungkin karena Sasuke terlalu sibuk dengan permainan mencomblang ini, jadinya ayah sendiri tidak diingat.

"Bagaimana kondisi Yukimura?" tanya Shingen khawatir.

"Dia baik-baik saja. Sekarang dia sedang tidur. Ayo, Yah, kita ke kamar Yuki," ajak Sasuke sambil mengambil koper Shingen dan menggeretnya menuju lift untuk naik ke lantai 3. Shingen hanya mengikuti langkah Sasuke dalam diam, menyimpan rasa cemas yang luar biasa.

"Yah," mulai Sasuke di dalam lift. "Ayah marah?"

"Ya, dengan Date-Date itu," jawab Shingen. "Tadi yang mendonorkan darah untuk Yukimura siapa namanya?"

Sasuke menelan ludah, merasakan firasat tidak enak. "Katakura. Katakura Kojuuro."

"Ayah sudah bisa tebak dia adalah orang baik-baik," cetus Shingen tanpa ba-bi-bu. "Harusnya Yukimura bersama dia saja."

"Itu 'kan karena kebetulan golongan darah sama, Yah," bantah Sasuke. Tapi, sebenarnya benar juga apa yang dikatakan Shingen. Masamune dan Kojuuro jelas berbeda dalam sisi akhlak.

"Iya juga sih," timpal Shingen. Sasuke hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

.b.

"SASUKE!" panggil Yukimura dalam tidurnya. Masamune yang baru keluar dari kamar mandi terkejut. Ia pun langsung menghampiri Yukimura, mendahului Kojuuro yang juga hendak menghampiri Yukimura.

"Yuki? Kenapa?" tanya Masamune sambil mengusap-usap rambut Yukimura hendak membangunkan. Tapi, Yukimura tetap tertidur. "Kojuuro, Sarutobi mana?"

"Sarutobi sedang keluar untuk menjemput ayahnya," jawab Kojuuro.

Masamune tertegun.

"Sepertinya Sanada mimpi buruk. Keringatnya bercucuran begitu," sambung Kojuuro. "Tunggu, mimpi…." Tiba-tiba saja Kojuuro teringat sesuatu. "Ah, mimpi itu!"

"Kenapa? Aneh banget, sih," ucap Masamune risih.

"Mungkin mimpi Sanada yang dulu ada tafsirnya untuk sekarang, untuk masalah di antara kau, ayahnya, dan Sarutobi," celetuk Kojuuro, sementara Masamune mengernyitkan alisnya tidak mengerti. "Dulu, Sanada pernah mimpi terjebak di sebuah ruangan yang tidak ada pintunya sama sekali."

Masamune mengerutkan keningnya, tampak berpikir. "Ruangan tanpa pintu?"

"Ya. Coba kau teliti, secara logika kau tidak bisa 'kan masuk ke ruangan itu? Karena tidak ada pintunya."

"Lalu…?"

"Ia tidak bisa keluar, dan itu sama sekali tidak masuk akal," jelas Kojuuro bersemangat. "Dan apa kau tahu tafsirnya?"

"Sungguh, Kojuuro. Aku tidak mengerti."

Kojuuro menghela nafas lelah. Ia melirik ke arah Yukimura yang kini sudah kembali tenang dan nafasnya kembali teratur. Mungkin ia hanya mimpi buruk sekilas soal Sasuke tadi.

"Mungkin tafsirnya adalah: kalau kau masuk ke dalam suatu masalah, pasti dapat keluar lagi—pasti selalu ada penyelesaiannya, tidak mungkin tidak ada. Dan jika dilihat dari sudut pandang Sarutobi, ia pasti bisa move on dari kau, ya 'kan?"

"… Benar juga," angguk Masamune. "Sepertinya Tuhan sudah merencanakan semua ini."

Kemudian, terdengar suara pintu terbuka. Tentu saja hal itu membuat Masamune dan Kojuuro menoleh. Rupanya Sasuke dengan ayahnya di sampingnya. Masamune kembali tertegun untuk yang kesekian kalinya. Pria paruh baya yang jangkung itu tampak sangar. Dan mendengar cerita kalau pria itu akan menghajarnya, ia jadi merasa kalau Yukimura adalah gadis kecil yang keperawanannya baru saja direnggut.

"Kau Date Masamune?" tanya Shingen sambil menunjuk Masamune, ia berasumsi begitu karena Masamune tengah mengusap-usap rambut Yukimura, dan pacar memang sering begitu, bukan?

"Yes, I am," jawab Masamune. "Saya tahu Anda marah."

"Nggak usah sok bule, ya," tohok Shingen, membuat Masamune bungkam seketika. "Kau pacaran dengan anak saya?"

Masamune menunduk. "Itu…."

"Ayah, sudahlah, nanti saja bertengkarnya nggak bisa?" lerai Sasuke. "Kasihan Yuki kalau dia dengar, kalau ia terbangun dari tidurnya bagaimana?"

"Oke, oke. Tapi lihat saja nanti ya, Date," sahut Shingen datar. Masamune hanya bisa menelan ludahnya gugup. Padahal, seharusnya ia tidak gugup, mengingat ia yang berandalan. Mungkin, Yukimura sudah membuatnya berubah drastis .

Sasuke menarik tangan Masamune dan Kojuuro, menjauh dari Shingen dan Yukimura. Ia sengaja ingin memberikan mereka berdua waktu karena sudah lama tak bertemu.

"Yukimura yo," panggil Shingen. Sebenarnya, ia tidak ingin membangunkan Yukimura. Tapi, ia sangat khawatir dan rindu pada anak kandungnya ini.

Perlahan, Yukimura membuka matanya. "Duh… siapa sih? Aku ini 'kan masih ngantuk…."

"Ini Ayah," jawab Shingen sambil menoel hidung Yukimura.

"Oyakata…-sama?" ulang Yukimura tidak percaya. "HAAAA? KOK OYAKATA-SAMA CEPAT SEKALI SAMPAINYA?"

"Iya lah! Hanya butuh waktu dua jam delapan menit untuk sampai ke sini. Bagaimana keadaanmu, Yukimura yo? Kepalamu sakit kah? Sampai diperban seperti itu."

Yukimura menyentuh perban yang melingkari kepalanya, kemudian menghela nafas panjang. "Ya, sakit. Kadang masih suka pusing."

"Memangnya kenapa kau bisa sampai seperti ini, Yukimura?" tanya Shingen penasaran, ia duduk di kursi yang ada di sebelah ranjang Yukimura. "Apa yang pacarmu itu lakukan sewaktu menyetir? Menelepon? Main HP?"

"Hahaha… itu…." Yukimura tertawa canggung.

Masamune yang berdiri di ujung ruangan hanya dapat mendesah gelisah.

"Cerita saja."

"Aku juga tidak tahu… tapi, dilihat dari sorot matanya, sepertinya ia melamun. Dan dengan bodohnya aku lupa mengenakan sabuk pengaman sehingga kepalaku terbentur dashboard. Dan itu sakit," tutur Yukimura. "Maafkan aku, Oyakata-sama."

Shingen mengerutkan alis. "Kenapa minta maaf? Harusnya dia yang minta maaf, sudah membuatmu seperti ini. Ngomong-ngomong, yang mendonorkan darah untukmu namanya Katakura, ya?"

"Iya. Memangnya ada apa?" tanya Yukimura bingung.

"Ayah tebak, pasti ia orang baik-baik."

"Eeh, benar juga sih!" sahut Yukimura. "Katakura-dono itu… sangat beda dengan Masamune-dono. Tapi, donor darah itu juga karena kebetulan golongan darah kami sama! AB dengan rhesus negatif kan langkaaaaa… sekali…."

Shingen manggut-manggut.

"Tapi, Katakura-dono itu cocok banget sama Sasuke," ucap Yukimura bersemangat. "Sasuke dan Katakura-dono terlihat saling menyemangati! Sampai-sampai setiap ada masalah, Sasuke cerita ke Katakura-dono, bukannya ke aku! Kemarin saja aku lihat Sasuke menangis dan ditenangkan oleh Katakura-dono! Bahkan sampai dipeluk," cerocosnya.

Sasuke dan Kojuuro melotot mendengarnya.

"Begitu? Padahal Ayah berharap Katakura itu yang jadi kekasihmu."

"Tapi aku cintanya sama Masamune-dono!" tolak Yukimura. "Lagipula, Oyakata-sama tidak bisa menilai orang seperti itu, apalagi dalam kasus donor darah seperti ini. Katakura-dono dan aku 'kan kebetulan golongan darahnya sama!"

"Date itu sok bule, Ayah tidak suka. Lagipula matanya hanya satu, menyeramkan."

Yukimura membelalak. "APA? Masa hanya karena itu Oyakata-sama tidak menyukainya?!"

"Kau pun pasti pernah merasa takut dengan mata kanannya itu kan, Yukimura?" tanya Shingen datar. Masamune menyentuh penutup mata kanannya, dan sejenak menghela napas panjang. Mata itu memang menyeramkan.

"Ya, tapi… aku mencintainya! Dan aku tidak akan pernah melepaskannya! Tolonglah, Oyakata-sama. Berikan kesempatan untuk Masamune-dono. Aku tahu kau marah padanya karena sudah menyebabkanku seperti ini. Tapi itu murni tidak disengaja! Aku mohon, maafkan dia," mohon Yukimura sambil menunduk takut.

"Ada tiga hal yang membuatku tak menyukainya," celetuk Shingen. "Satu, dia menyebabkanmu kecelakaan, dan tak bertanggungjawab atasmu. Pastilah ia akan mengandalkan Ayah untuk membayar biaya rumah sakitnya. Dua, dia sok bule. Tiga, mata kanannya hanya satu. Apa kau bisa membuatku meyakinkanku kalau kalian patut untuk direstui?"

"Saya akan bayar biaya rumah sakitnya!" Masamune yang sedang duduk di sofa pojok ruangan menyahut kesal. Namun, Sasuke mengusap-usap punggungnya lembut bermaksud menenangkannya. "Apa lagi kau, pegang-pegang aku?!"

Shingen tersenyum sarkastik. "Nah, dia juga mudah marah. Apa kau yakin, Yukimura? Kalau kalian bertengkar, apa tak akan ada api kemarahan di antara kau dan dia? Kalau kau sampai sakit hati dengan amarah dan perkataannya, bagaimana?"

Yukimura jadi menatap Masamune ragu.

"No! No! Yuki!" bisik Masamune panik.

"Diam," perintah Sasuke. "Ayah tidak suka jika argumentasinya ada yang menentang."

"Lantas aku harus bagaimana, Sarutobi?" tanya Masamune pelan.

"Diam dulu," jawabnya. "Atau bagaimana kalau kita bertiga keluar dulu? Agar Yuki dan Ayah bisa merundingkannya baik-baik."

Kojuuro mengangguk setuju. "Ya, itu lebih baik."

"Baiklah."

.b.

SETENGAH jam telah berlalu.

Kini, di dalam sebuah restoran yang tadi sudah dikunjungi Masamune dan Sasuke, tak henti-hentinya Masamune memikirkan Yukimura. Maksudnya, ayolah, Masamune sangat tidak ingin kehilangan dia. Jika Yukimura sampai memutuskan untuk meninggalkannya, bagaimana?

Masamune menggelengkan kepalanya. Tidak, ini TERLALU melankolis. Dan Masamune bukanlah tipe orang seperti ini. Yukimura percaya padanya. Lagipula, Masamune tidak pernah berbicara kasar pada Yukimura saat berpacaran. Yang ada malah selalu romantis, bukan?

Mungkin Masamune butuh menenangkan diri sesaat. Apalagi, ia sedikit menyesal sudah menyahuti omongan Shingen tadi. Rasanya hopeless, tapi ia yakin Yukimura akan berhasil meluluhkan hati Shingen dan akhirnya mau menerimanya.

"Mau pesan apa, Date?" tanya Sasuke tiba-tiba, membuat Masamune sedikit tersentak.

"Eh? Aku sudah makan tadi."

Sasuke menggeleng. "Makan lagi ya? Kau mau apa? Kutraktir."

"Hah? Dalam rangka apa ini?" tanya Masamune curiga.

"Bukan apa-apa," jawab Sasuke singkat. "Aku hanya ingin membuat suasana hatimu tenang kembali saja. Daritadi, kau terlihat begitu cemas. Ayolah, Yuki itu anak kesayangannya Ayah. Dan pasti Yuki akan berhasil meluluhkannya. Tenang saja, Date."

Kojuuro memilih untuk tak berkomentar. Ia asyik membolak-balikkan menu untuk memilih makanan apa yang hendak dipesannya. Padahal, baru tadi ia makan, namun ia memilih untuk makan kembali karena ingin menghargai Sasuke yang mengajaknya ke sini.

"Ada tidak sih, kemungkinan kalau Yuki akan benar-benar meninggalkanku?" celetuk Masamune, nadanya berubah sedih, dengan intonasi rendah.

Sasuke dan Kojuuro tertegun. Apakah perasaan Masamune benar-benar sudah sedalam itu? Sampai-sampai Masamune terlihat sefrustrasi ini.

"Yuki…." Suara Sasuke bergetar begitu hendak menjelaskan. "Itu tergantung dia, karena kepolosannya membuatnya mudah dipengaruhi. Meski begitu, pasti ia akan membelamu lebih dulu dan berusaha meyakinkan Ayah. Sebenarnya sulit juga menjelaskannya, tapi kau hanya perlu berdoa agar keberuntungan ada di pihakmu."

Kojuuro ikut membuka suara. "Jangan berpikiran negatif, Masamune. Itu hanya MENAMBAH masalah."

Masamune menggeram kecil. "Kau menyebalkan, Kojuuro."

"Memang menyebalkan. Sudah tabiatku 'kan?" kekeh Kojuuro, matanya sesekali melirik Sasuke untuk sekedar membaca raut wajah, apakah dia masih merasa cemburu atau tidak. Perasaan cemburu susah dihilangkan, namun di kondisi-kondisi tertentu bisa jadi hilang begitu saja. Sama seperti cinta yang tiba-tiba saja datang seperti tiba-tiba saja Yukimura mencintai Masamune hanya karena perlakuan lembut darinya. Dan cinta yang tiba-tiba pergi seperti Mego yang memilih menjalin hubungan dengan laki-laki lain hanya karena terpisah jarak—atau popularitas dan rupa? Mengingat kekasih Mego adalah model.

"Tch. Let's get serious here," dengus Masamune sedikit kesal. "Kenapa kalian tidak jadian saja, sih?"

Sasuke membelalak. Kojuuro pun mengernyitkan alisnya.

"Apanya yang serius dari itu?" tanya Sasuke sedikit risih. "Lagipula, apa hubungannya?"

"Sungguh, kalian benar-benar terlihat serasi. Benar-benar melengkapi satu sama lain. Pasangan yang dewasa," puji Masamune.

Sasuke tertawa dalam hati. Apanya yang dewasa, ia cemburu saja masih mewek.

Tawa Kojuuro berderai. "Iya ya, mungkin aku memang serasi dengannya." Tangannya meraih kepala Sasuke dan ia mengusap-usap rambutnya.

Sasuke terkejut mendapat perlakuan seperti itu. Cepat-cepat ia menepis lengan Kojuuro yang melingkari lehernya.

"Kenapa? 'Kan kita serasi," tanya Kojuuro bingung.

"Aku jijik, tahu!" seru Sasuke risih. "Aku tidak menyangka kau bisa menjadi pria menye seperti itu. Dasar menjijikkan."

Kojuuro terkekeh, kemudian saat Masamune sibuk tertawa, ia berbisik, "Buat Masamune tertawa, setidaknya ia bisa melupakan masalahnya dengan Sanada untuk sementara."

Sasuke mengeluh. Ya, mungkin memang harusnya seperti ini karena Masamune terlihat begitu menyukai dirinya yang 'bermesraan' dengan Kojuuro. Demi Masamune, Sasuke akan melakukan apapun untuk membuatnya tersenyum.

"Ya sudah, mau pesan makanan sekarang?" tanya Sasuke yang kini sudah terbebas dari tangan Kojuuro.

"Ya," jawab Masamune dan Kojuuro serentak.

To be continued.

.b.

A/N

NYARIS SATU BULAN GAK UPDATE DAN CHAPTER INI PAYAH BANGET OEMJI. DAN APA NANTI KEPUTUSAN SHINGEN AAA

Jujur, chapter ini adalah yang paling susah dibikin karena ga tau harus mulai kayak gimana dan gimana ngerangkai kata-katanya. Dan kelas 9 itu ternyata menyibukkan sekali bung… padahal niatnya pengennya selesai di bulan Juni ya :(

Mimpi Yuki itu yang di chapter 2 ya. Bisa kan nyambung wkwkwkw XD (Gak maksain kok itu. Emang dari dulu udah dirancang kayak begitu. Tapi kesannya kayak numpang lewat)

DETIK-DETIK ENDING, PEMBACA! YEAY!

Balesan review:

Chacha Rokugatsu: Makasih banyak, huhuhu :'3 dan yah… kayaknya karakter Shingen mengecewakan banget di sini…. Untuk Sasuke ama Kojuuro, entahlah, Mea juga nggak tau nanti nasib mereka bakal kayak gimana XD (halah)

Shadow0Reader: Ciumannya nggak hot, tapi :") Masamune disuruh diem sama Sasuke tuh, gimana XD pokoknya keputusan Shingen ada di chapter depan, antara MasaYuki bakal balik atau udahan~ dan makasih ya doanya….

zombie pigman: Ben, aku minta maaf ya udah gak sengaja nyeletuk nama dia tadi ):

Jo Hikari Yoru Seinaru: Bakal di… benci? :') gak tau juga deh. Wkwkwk maksudnya terima face apa ya

Cuneng: PADAHAL TADINYA AKU NGIRA CH1-10 BERSIH TYPO TAUNYA ENGGAK :( Dan aaaa makasih, ini pertama kalinya bikin ff serius banget dan multichap lagi. Wkwkw anti-menstrim tapi kan tempat nembaknya XD buat ciuman, emang sengaja nggak mau bikin hot soalnya nanti saia bakal kepikiran adegan anu…

Guest: [Gooooooooodddddd] moooooorrrrniiiinngggg maaaaaaaa'aaaaammm
Ga deng canda, Anda siapa ya?

Thank you all for reading. If you wanna join the series, you can move on to the next chapter, or even follow me to be notified of the future fictions. Good bye!

9 Agustus 2016