Backfire [20]: Keputusan

Sengoku BASARA © CAPCOM
Backfire © Meaaaa

Warning: MasaYuki with slight KojuYuki/SasuMasa, sho-ai, AU, OOC.

Have fun with the story!

.b.

"MONYET apa yang bikin kesel?" tanya Kojuuro iseng, memecahkan keheningan di antara mereka bertiga yang tenggelam mengicip makanan masing-masing.

"Ah, tebakan basi. Monyetel TV tapi nggak dibolehin. Benar 'kan?" Masamune menatap Kojuuro malas.

Kojuuro terkekeh. "Bukan."

"Lantas apa? Monyetok ide tapi sikon tidak mendukung?" tebak Masamune lagi.

"Tuh, yang daritadi diam saja." Telunjuk Kojuuro mengarah ke Sasuke yang sedang mengunyah dangonya. Sasuke pun langsung menatap Kojuuro tajam.

"Apa maksudnya aku ini monyet?!" tanya Sasuke tidak suka.

"Sarutobi 'kan artinya monyet lompat atau apalah itu. Memangnya kau tidak tahu kau sering dipanggil Saru oleh teman-teman seangkatan?" tanya Kojuuro sembari menahan tawanya.

Sasuke mendelik ke arah Kojuuro, yang langsung disambut dengan tawaan hangat dari Masamune. Jadi itu artinya. Sasuke memang sering dipanggil Saru oleh orang-orang. Dan akhirnya ia tahu, Saru artinya monyet. Ah, orangtuanya ini memberi nama aneh-aneh saja.

"Lah, dia memanggilku Kresek," tukas Sasuke sambil mengarahkan dagunya pada Masamune. "Katanya itu karena aku rese, atau apalah itu, aku tidak mengerti."

"Kau memang rese, Sarutobi," cengir Masamune, tangannya bergerak merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. "Ngomong-ngomong, kita masuk sekolah lagi kapan?"

"Seminggu lagi. Cukup untuk pemulihan Sa—" Omongan Kojuuro terhenti, tidak ingin mengungkit Yukimura dahulu karena takut Masamune akan kembali teringat masalahnya dengan Shingen. Masamune mengembuskan napas panjang, kemudian tersenyum ke arah Kojuuro. Ya, mungkin Masamune sudah baik-baik saja sekarang. "—nada."

"Tidak apa-apa jika kau ingin mengungkit Sanada, Kojuuro. Suasana hatiku sudah lebih baik daripada tadi," ujar Masamune.

Kenapa sih, dari tadi suasanya galau-galau dangdut banget? keluh Sasuke dalam hati.

"Sepertinya ada yang sedang badmood dan membutuhkan belaian," kekeh Kojuuro sambil melirik ke arah Sasuke.

Masamune mengernyitkan alisnya terkejut. "Ew, penggombal payah. Dasar penulis tidak berpengalaman dalam hal percintaan."

"Eh, enak saja. Jangan sebut merk," Kojuuro menatap Masamune tajam.

"Merk penggombal?"

Kojuuro menggeleng. "Penulis."

"Kau 'kan hanya menulis di blog, Kojuuro."

"Ya, memang, tapi bagiku penulis adalah seseorang yang melakukan aktivitas tulis menulis, entah hanya sebatas puisi, pantun, atau cerpen, dan tidak harus dikomersialkan seperti penulis yang memiliki kontrak dengan penerbit."

Oh, Sasuke kira Kojuuro betulan penulis buku. Bahkan ia tidak tahu genre apa yang Kojuuro tulis. Tapi, yang pasti, ada romance-nya, karena kemarin Kojuuro memberikan saran kepada Sasuke tentang move on. Ngomong-ngomong, Sasuke jadi berpikir. Rasanya cerita ini terasa panjang sekali, meskipun hanya berlatarkan sehari. Sepertinya masalah kecelakaan itu memberatkan semuanya karena masalah terus berdatangan dan rahasia-rahasia kecil mulai terkuak.

Sebenarnya Sasuke lelah dengan semua ini, apalagi dengan perjodohan. Ya, ia memang sudah melupakan perjodohan itu, tapi tetap saja ia lelah. Ia bingung. Walau berkali-kali Masamune menyuruhnya move on, itu tidak mudah. Apalagi, kata Kojuuro, move on itu sebenarnya tetap saling berbicara tanpa ada rasa berdebar-debar sedikitpun. Sulit.

Apa yang harus ia lakukan? Mengikhlaskan? Merelakan? Ia tidak bisa.

Sasuke menghela napas panjang, membiarkan dirinya merilekskan diri. Mau bagaimanapun juga, ia harus move on.

"Oi oi, Sarutobi," panggil Masamune. "Melamun saja. Makanan kami sudah hampir habis, nih. Kau mau makan atau tidak?"

Sasuke mendengus kesal. "Ya," jawabnya singkat sembari melanjutkan makan.

"Sehabis makan, kita kembali ke rumah sakit. Pasti Shingen-san sudah mendapatkan jawabannya. Apapun itu jawabannya, aku sangat penasaran," ujar Kojuuro bersemangat. Masamune hanya membalasnya dengan helaan napas, menjadi sedikit tegang dengan situasi yang akan dihadapinya.

.b.

SEMENTARA itu, di kamar rawat….

"Oyakata-sama, ayolah," rayu Yukimura, masih tidak berhasil juga setengah jam berusaha membujuk Shingen. Ia sudah mulai putus asa, rasanya tidak mungkin jika ia harus melepaskan Masamune hanya karena Shingen tidak merestuinya. "Biarkan aku bersama Masamune-dono. Kumohon."

Namun, Shingen tetap menggeleng. "Yukimura yo, lepaskan dia. Turuti perintah Ayah. Dia tidak pantas untukmu, dia bahkan juga seorang laki-laki! Seharusnya kau memiliki pacar perempuan, bukan laki-laki! Sejak kapan kau gay begini, Yukimura?"

"I-itu… bukan seperti yang Oyakata-sama pikirkan…."

"Dari mananya? Kalian berdua pacaran sesama jenis, itu jelas sekali."

"TAPI, JIKA ITU MEMBUATKU BAHAGIA BAGAIMANA?!"

Sontak, Shingen tertegun.

Yukimura mengusap air matanya yang mulai berjatuhan dengan kasar. "AKU MENCINTAINYA! AKU BAHAGIA BERSAMANYA. JIKA BERPISAH DENGANNYA MERUPAKAN JALAN YANG BAIK, NAMUN AKU TIDAK IKHLAS MELAKSANAKANNYA, BAGAIMANA, OYAKATA-SAMA?!"

"LALU KAU HARUS BELAJAR MEMIKIRKAN NASIBMU DI MASA DEPAN!" Shingen balik membentak. "TENTANG BAGAIMANA NANTI KAMU DEWASA DAN KELAK AKAN MENIKAH, YUKIMURA! KAU TIDAK MUNGKIN MENIKAH DENGAN LAKI-LAKI JUGA!"

Yukimura terkejut mendengarnya, ia langsung menangis tersedu-sedu, benar-benar tidak ingin kehilangan Masamune dalam hitungan jam atau menit—pokoknya sepulangnya Masamune dari 'memberi privacy' padanya dan Shingen.

Ia tidak ikhlas. Ia tidak sanggup. Ia tidak mau. Dan ia tidak bisa.

Jika semua ini membuatnya bahagia kenapa harus dipersulit? Kenapa Shingen tidak membiarkannya bersama Masamune, setidaknya untuk saat ini karena memang belum saatnya memikirkan tentang masa depan apalagi pernikahan. Mungkin Shingen tidak mau anaknya ini benar-benar terjerumus.

Tapi, sungguh, bagaimana sih mendeskripsikan perasaan Yukimura saat ini. Ia kecewa, marah, dan patah hati mendengar semua itu. Hatinya hancur, pecah bak kaca mengetahui ia harus mengakhiri hubungannya.

Ia tidak boleh putus! TIDAK BOLEH!

"Yukimura yo," panggil Shingen dengan sedikit tenang. "Aku tahu kau masih berumur 16 tahun. Tapi, aku tidak mau kau terjerumus sampai dewasa nanti. Jika kamu ketagihan dengan gay, itu akan berbahaya, Yukimura. Kau tidak akan bisa berpikir jernih soal cinta nantinya."

Namun… penjelasan Shingen masuk akal.

"Coba kau lihat—kita ambil contoh perokok. Awalnya ia hanya mencoba sekali, dan ia pun akhirnya ketagihan dan tidak bisa lepas dari rokok sehari saja. Itu membunuh fisik, bukan? Lantas bagaimana dengan gay? Itu akan membunuh batinmu, Yukimura yo. Kau diciptakan untuk perempuan, bukan laki-laki.

"Oke, Ayah tahu Ayah sempat bilang kalau aku ingin kau bersama Katakura. Namun, Ayah berpikir lagi tentang masa depanMU. Kau jangan melihat kebahagiaanmu yang sekarang, Yukimura. Jangan diam di tempat, berpikirlah maju. Toh memang jodoh sudah ada yang mengatur, tapi yang pasti adalah jodohmu perempuan, bukan laki-laki!

"Ayah mohon, Yukimura yo. Akhiri hubungan kalian. Mungkin Ayah jahat, tapi ini benar-benar untuk kebaikanmu!" tegas Shingen untuk yang terakhir kali.

Lantas Yukimura menangis, keras.

Dan di saat itu, pintu kamar terbuka.

"Yuki…?"

Masamune yang panik melihat dan mendengar tangisan Yukimura, lantas segera menghampirinya tanpa menyadari masih ada Shingen di situ. Mereka berpelukan erat, dan kini tangis Yukimura benar-benar pecah.

Ini saatnya.

"Maaf, Masamune-dono. Aku gagal. Aku gagal…."

Sontak, bahu Masamune menurun, semangatnya hilang begitu saja.

"Kita… tidak bisa berlanjut," ucap Yukimura pelan… sekali. Namun, alih-alih melepaskan pelukan karena terkejut, Masamune justru memeluk Yukimura lebih erat lagi.

"Aku tahu," bisik Masamune. "Kau tidak perlu minta maaf. Aku mengerti, Yuki. Tidak perlu dipaksa lagi. Aku mendengar semua perdebatan kalian tadi, di luar."

Namun, apakah hati berkata demikian? Tidak. Ia tidak mengerti.

Sasuke dan Kojuuro hanya memperhatikan mereka tanpa berkomentar. Kojuuro menutup pintu kamar, tidak ingin orang luar mendengar hal-hal tersebut dan malah bertanya-tanya.

"Aku tidak mau kehilangan Masamune-dono," tutur Yukimura, tangan kanannya mengeratkan pelukan pada pinggang Masamune. "Ini semua berat sekali."

"Akupun sebenarnya benar-benar tidak ingin kehilanganmu." Air mata Masamune ikut jatuh. "Maaf aku tidak bisa menjagamu, Sanada Yukimura."

Maka di saat itu mereka RESMI putus.

"Ngomong-ngomong…." Masamune melepaskan pelukan kemudian menghapus air mata Yukimura. "Shingen-san, maaf atas kelancangan saya tadi. Saya hanya emosi."

"Tidak apa-apa," balas Shingen. "Oh ya, saya akan membawa Yukimura pulang nanti malam, akan saya rawat saja di rumah sampai ia pulih. Saya benar-benar tidak membawa pakaian bersih ke sini, hanya pakaian kotor yang tersisa. Lagipula, saya benar-benar butuh istirahat."

"Mau saya pesankan kamar hotel, Shingen-san? Kebetulan koper-koper dan perlengkapan kami masih ada di hotel." Kojuuro menawarkan.

Shingen menggeleng. "Tidak perlu. Sasuke, sini."

"Ya, Ayah?"

"Beresi koper-koper kalian semua dan bawa ke sini. Kita akan pulang malam ini juga. Bawa Katakura, Ayah ingin mengajak Date bicara di sini."

"Oke," angguk Sasuke. "Katakura, ayo ke hotel, untuk mengurus semua-muanya, dari perlengkapan, check out, sampai pembayaran denda mobil itu yang rusak…."

Lantas, Kojuuro pun berjalan mengikuti Sasuke untuk mencari angkutan umum untuk kembali ke hotel. Untung saja Sasuke dan Kojuuro masih memiliki banyak uang untuk menebus semua itu.

Sementara itu….

Yukimura dan Masamune sama-sama mengatupkan bibir, tidak berani bicara.

"Yukimura, Date," mulai Shingen. "Saya minta maaf sudah membuat kalian mengakhiri hubungan dengan terpaksa, oke? Saya tekankan untuk yang terakhir kali, ini untuk kebaikan kalian berdua."

Masamune hanya mengangguk kecil, sementara Yukimura masih tidak kuasa menahan air matanya.

Ini bodoh sekali…, gerutu Masamune dalam hati.

"Saya mau cari makan dulu. Date, jaga Yukimura, ya."

"E-eh, iya."

Kemudian, Shingen pun bergegas keluar kamar. Dan saat itu, suasana hening. Yukimura hanya memeluk dirinya sendiri, berusaha menenangkan. Masamune pun hanya bisa diam. Ia ingin sekali memeluk Yukimura, mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja, namun nyatanya… semua tidak baik-baik saja.

Tangan Masamune meraih rambut cokelat muda Yukimura, kemudian mengusapnya lembut. Yukimura sendiri tidak menolak, ia membiarkan jemari Masamune menjamah surainya. Hangat dirasakannya, walau perih begitu menyeruak.

"Masamune…-dono?"

"Yuki."

Yukimura tertegun, ia kira Masamune akan kembali memanggilnya Sanada.

"Ini menyebalkan, Yuki." Masamune mengembuskan napas panjang. "Kita tidak mungkin putus hanya karena tidak diberi restu. This is not fair."

Yukimura mengangguk. "Memang. Tapi, kau mau memaksakan agar kita bisa bersama lagi tanpa restunya? Aku memilih tidak, Masamune-dono. Lagipula… lagipula…."

"Apa?"

"Masa depanku jelas bukan kau."

Mata kiri Masamune memicing.

"Kaupun juga, Masamune-dono."

"Tapi, Yuki, apa kau benar-benar tidak mau kita bersama lagi? Kau yakin? Secepat itu kau berubah pikiran terhadap perasaanmu sendiri?" tanya Masamune pelan. "Kau mudah sekali terpengaruh."

"Aku akan kembali padamu saat Oyakata-sama berubah pikiran, oke?" Yukimura menatap Masamune frustrasi. "Untuk saat ini, tinggalkan aku sendiri dulu, Masamune-dono."

"Tapi, Yuki—"

"Tolong."

Masamune menelan ludah, kemudian terpaksa meninggalkan Yukimura menuju sofa yang ada di radius empat meter dari ranjang Yukimura—sengaja tidak keluar karena takut Yukimura akan bertindak macam-macam, berusaha mencabut infus atau melempar-lempar barang, misalnya.

Masamune memijat pelipisnya—yang masih terbalut perban—frustrasi begitu duduk. Sebaliknya Sasuke dan Kojuuro dari hotel, pasti mereka akan langsung pulang—tentunya sesudah mengurus biaya perawatan Yukimura. Ah, liburan yang berakhir mengesalkan. Walau sekarang konflik utamanya bukan pada ketidaksengajaan Masamune terhadap kecelakaan itu, melainkan hubungan sesama jenis yang dijalaninya.

Sudah kecelakaan, Sasuke menyatakan cinta padanya, hubungannya tidak direstui, berakhir putus pula. Sepertinya sial sekali sih dia, padahal sebelumnya ia bahagia-bahagia saja.

Masamune memejamkan matanya, berusaha menenangkan diri.

.b.

DI rumah Yukimura dan Sasuke, Tokyo.

Ya, mereka memang sudah kembali ke Tokyo.

"Date, Katakura, kalian menginap di sini dulu saja. Ini sudah larut malam, besok kalian bisa pulang," tawar Shingen. Kojuuro tersenyum tipis mengiyakan, ingin menghargai tawaran Shingen.

"Itu ide bagus. Aku sudah sangat lelah." Masamune menguap.

Di lain latar, Sasuke menuntun Yukimura yang masih lemas ke kamarnya. Sebenarnya ia baru diperbolehkan pulang beberapa hari lagi, namun Shingen tetap kekeuh sekarang pulang dikarenakan memang di sana benar-benar hanya darurat.

Sementara itu, Kojuuro dan Masamune sudah ditunjukkan kamar tamu mereka. Satu kamar namun kasurnya terpisah, persis seperti kamar Sasuke dan Yukimura. Kojuuro merebahkan tubuhnya di kasur sambil menikmati dinginnya angin AC yang berembus, mengistirahatkan fisiknya.

"Kau tidak mandi dulu, Kojuuro?" tanya Masamune sambil membereskan kopernya, meski ia sudah sangat kelelahan karena sedaritadi, di perjalanan pulang, ia tidak tidur sama sekali padahal waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Sekarang bahkan benar-benar sudah tengah malam.

"Nanti. Kau mau mandi?" tanya Kojuuro balik.

Masamune mengangguk. "Aku duluan, ya." Ia pun mengambil handuk kemudian melangkah menuju kamar mandi yang tersedia di dalam kamarnya.

Kojuuro memejamkan kedua matanya, memikirkan masalah-masalah ini.

Seharusnya, jika Yukimura dan Masamune akhirnya putus, ia bisa berbahagia dan leluasa mendekati Yukimura. Tapi, ia tahu masalahnya adalah tentang hubungan sesama jenis, selain itu juga Kojuuro sekarang merasakan kehilangan seperti yang Masamune dan Yukimura rasakan, entah kenapa.

Saat menyaksikan berakhirnya hubungan mereka tadi… entah kenapa hal itu membuat hati Kojuuro patah. Bukan karena Kojuuro sudah move on, tapi karena orang yang dicintainya itu menangis, patah hati. Kojuuro tidak tega melihatnya.

Kojuuro pun bangun dan berjalan ke bibir pintu, mencari dimana kamar Yukimura dan Sasuke. Rumah ini cukup besar, agak sulit mencari dimana kamar Yukimura dan Sasuke. Dan akhirnya Kojuuro menemukannya, ruangan dengan ukuran 7x7 meter dengan dua ranjang. Di salah satunya, Yukimura sedang berguling-guling. Dasar anak hiperaktif.

"Sanada?"

Refleks, Yukimura berhenti berguling-guling dan menoleh ke arah Kojuuro. "Y-ya, Katakura-dono?"

"Sarutobi… mana?"

"Sedang membantu Oyakata-sama membereskan perlengkapannya, memangnya kenapa?"

Kojuuro menelan ludah. "Err… sebenarnya… ada hal yang ingin kubicarakan denganmu, privasi."

"Apa? Masuk saja, Katakura-dono."

Kojuuro pun melangkah masuk, duduk di sebelah Yukimura. Keringatnya bercucuran, merasa gugup. Ia sendiri tidak tahu mengapa merasa harus menyampaikan ini, bahkan di saat yang tidak tepat pula. Namun, inilah waktu yang pas jika mengenai masalah bicara privat dengan Yukimura. Meskipun lemas, Yukimura tidak terlihat capek.

"Mau bicara apa, Katakura-dono?" tanya Yukimura lagi.

"Aku…."

Kojuuro menarik napas, sementara Yukimura menunggu dengan sabar.

"Maaf sudah mengusulkan liburan ini, yang menyebabkan kita semua mengalami kecelakaan," mulai Kojuuro. "Aku hanya berniat mengajak kalian refreshing…."

"Tidak apa-apa, Katakura-dono. Aku justru berterima kasih, karena aku suka sekali hujan-hujanan di hotel kemarin." Yukimura membalasnya dengan senyuman tipis.

Kojuuro mengangguk kecil. "Lalu, maaf tentang hubunganmu dan Masamune yang… kandas, aku minta maaf."

"Untuk apa? Katakura-dono tidak bersalah."

"Karena…." Kojuuro mengangkat tangan kanan Yukimura, kemudian mendekatkannya ke dadanya—tepat di jantung. Perlakuan itu membuat wajah Yukimura memerah. "Aishiteru ne, Sanada Yukimura."

Yukimura menatap Kojuuro tidak percaya. Kojuuro… mencintainya?

"K-Katakura-dono… a-aku….

To be continued.

.b.

A/N

OMG MEREKA PUTUUUS (walau scene-nya kurang greget)! DAN KOJUUROOO OMEGATT. Dan scene pertama apaan banget deh galau-galau dangdut.

Btw, Mea gatau gimana ngomentarin soal berantemnya Yuki sama Shingen :'v takut bikin kontroversi(?) sebenarnya. Maaf yah kalo ada yang tersinggung sama kata-katanya Shingen… maaf banget.

Dan soal aishiteru, emang sih kalo anak sekolahan nyatain cinta itu biasanya pake daisuki (aku suka kamu) doang, tapi di sini gue menyesuaikan sama perbedaan konteks cinta dan suka, di sini lebih ke cinta karena Kojuuro udah kayak begitu ga mungkin suka lagi kan XD btw di sini ujan deres bat pas ngetik bagian galau-galaunya. Sepertinya langit ikut menangis… #eak

Balesan review:

Syntax Error 404 503: Ugh aku bingung gimana ngejelasin karakter Shingen di sini sebenarnya. Tapi yaudah aku ngakak waktu dia bilang mata kanan Masmun serem. Yuup, saking sibuknya ni ff cuma update sebulan sekali jadinya. Makasih supportnya, Kak!

Shadow0Reader: Tapi… kayaknya Kojuuro udah ada tanda-tanda sama Sasuke tuh. Dan Yuki gagal meluluhkan bapa'e, putus :( dan surprise di kelas 9…? Aku takut jadinya tapi terima kasih supportnyaa :"D

aka-chan: Thankyouuu! xoxo
Ini orang Indonesia atau luar, ya…? But thanks, your review really made my day xx :D

parasit anju: on napah :'v

guest: gut

lolieater: kenapa harus loli eater coba. Tapi baguslah, aku benci loli :V

Jo Hikari Yoru Seinaru: Fisik Masamune sih selamat, tapi batinnya… :( aku nyesek juga waktu ngetik mereka putus huweeee. Makasih dan sama-sama, ya….

HosokawaHinaru: Aa terima kasih, ini udah di-update walau pendek karena besok bakal update lagi… lalu 1 September akan post epilog. Mereka putus loh, ledekin gih wkwkw, biar Masmun asik ngemagnum step :v nanti aku baca ff-mu, salam kenal jugaa

Guest: IYA IHH tanggal 25 Agustus 2016 kemaren gua jatoh nyusruk guling-guling di lapangan pas pelajaran PJOK. Lutut gua udah kering si Ben lukanya, cuma tetep aja masih sedikit sakit dan celana olahraga gua bolong gede :(

mahluk astral: TAU COBA GUA MAJU DAPET 50RB TUH :( dan wkkw gua pernah post itu kok sebelumnya tapi low quality. Yeh gua privat dah instagram gua :v btw maap kebold awalnya, gembel ni hp wkwk review lu baru masuk Ben

Thank you all for reading. If you wanna join the series, you can move on to the next chapter, or even follow me to be notified of the future fictions. Good bye!

31 Agustus 2016