Author : Heh akhirnya bisa juga bikin chapter ini. Sorry ya kalau tlabet karena ada ulangan kenaikan kelas. Tapi sekarang author lagi libur sekolah jadi santai kalau bikin chapter. Oke, disini akan ada hantuk baru yang mau masuk gabung. Dia adalah penjaga rumah keluarga Hyuuga. Daripada penasaran enjoy this chapter.

Warning : K+ rate, gaje, aneh dan bahasa labil

Pairing : Hits

Genre : Adventure/Friendship/Horror/Humour

Disclaimer : Punya Masashi Kishimoto


The Ghost

Chapter 5

( People in the past )

.

.

Di kedai Iruka

Naruto dan Konohamaru membantu Iruka untuk membuka kedai mie ramen milik Iruka. Waktu menunjukkan pukul 07.00, tapi para pembeli sudah mengantri berkilo – kilometer jauhnya. Satu per satu pembeli dilayani dengan baik oleh Naruto dan Konohamaru.

"Heh, ternyata hari ini pembelinya banyak sekali," kata Naruto mengeluh. Konohamaru hanya mengangguk.

Tak berapa lama kemudian, Neji datang.

"Heh Neji, mau pesan apa?" tanya Naruto.

"Aku datang kemari ingin menyewa kalian dan paman Iruka," jawab Neji.

"Eh, eee maksudnya?" tanya Naruto sambil menaikkan sebelah alisnya.

"Besok adalah ulang tahun Hinata. Keluargaku ingin mengadakan ulang tahun dan keluargaku sepakat untuk menghidangkan mei ramen pamanmu yang terkenal enak," jawab Neji.

"Besok ya? Jam berapa?" tanya Iruka yang baru saja keluar dari dalam dapur.

"Besok jam tujuh harus sudah siap disana," jawab Neji.

"Siap bos," kata Naruto dan Konohamaru bersamaan sambil memberi hormat.


Keesokan harinya

Waktu masih menunjukkan pukul 4 pagi. Naruto, Konohaaru, Hagi dan Iruka sudah mempersiapkan segala kebutuhan untuk ulang tahun Hinata nanti.

"Naruto, tolong potong sayur – sayuran yang ada disana," kata Iruka memerintah Naruto.

"Baik. Hagi, tolong bantu aku," kata Naruto meminta bantuan kepada Hagi.

"Ok sabat," kata Hagi.

Mereka bekerja sama untuk mempermudah pekerjaan.

.

.

Waktu telah menuntukkan pukul 06.30. Tinggal setengah jam lagi acara ulang tahun Hinata akan segera dimulai. Mereka langsung memasukkan semua bahan ke tempat yang telah disediakan.

"Sudah siap semuanya?" tanya Iruka.

"Sudah," kata Naruto, Konohaaru, dan Hagi secara bersamaan.

Mereka berempat langsung berangkat menaiki sepeda.


Kediaman Hyuuga

Mereka berempat datang tepat saja para tamu masih belum datang dan acara juga belum dimulai.

"Cepat, kalian harus masuk ke dalam. Dapurnya berada diruang belakang sebelah kiri ruang keluarga," kata Neji memberitahukan letak dapur dirumahnya.

Naruto, Konohamaru, Hagi dan Iruka langsung bergegas masuk ke dalam. Setelah mereka menemukan dapur milik keluarga Hyuuga, mereka langsung mengeluarkan bahan – bahan yang mereka bawa dari rumah dan mempersiapkannya. Neji dan beberapa pembantu di keluarga Hyuuga juga ikut membantu.

"Neji, acaranya dimulai jam berapa?" tanya Naruto.

"Sebenarnya, acara dimulai jam 08.30," jawab Neji.

"Berarti, tinggal setengah jam lagi?" tanya Naruto terkejut.

"Emang iya. Tapi tenang saja, aku dan beberapa pembant disini akan membantu kalian," jawab Neji.

.

.

Waktu menunjukkan pukul 07.30. Para tamu undangan sudah banyak yang datang.

"Tuan muda Neji, ada beberapa tamu yang duduk di teras depan. Kami harus bagaimana?" tanya salah satu pembantu yang tiba – tiba saja masuk ke dapur.

"Memang ruang keluarga sudah penuh?" tanya Neji.

"Sebenarnya masih banyak tempat yang longgar," jawab pemantu tersebut.

"Kalau bgitu, biar aku yang menyambut mereka," kata Neji. Tak lama kemudian, Neji melihat jam dinding yang berada di ruang dapur. "Wah sudah jam o8.30. Naruto, tolong panggilkan Hinata di kamarnya," kata Neji menyuruh Naruto untuk memanggil Hinata.

"Eh, dikamar Hinata ya. Ba.. baik," kata Naruto.

Naruto dan Neji keluar dari ruang dapur. Namun mereka berlainan arah. Neji ke teras depan sementara Naruto ke kamar Hinata yang berada di lantai dua.


Di kamar Hinata

Naruto menjadi gugup saat berada di depan pintu kamar Hinata.

"Astaga, aku harus bicara apa?" tanya Naruto yang menjadi gugup. "Ah sudahlah. Untuk apa dipikirkan," kata Naruto. Naruto memberanikan diri untuk mangatuk pintu kamar Hinata.

Tok! Tok! Tok!

Suara pintu diketuk.

"Siapa?" tanya seseorang dari dalam kamar Hinata. Sepertinya itu suara Hinata

"Aku Naruto. Kau disuruh untuk segera turun," jawab Naruto.

"Tunggu sebentar," kata Hinata dari dalam kamarnya. Tak lama kemudian pintu kaar Hinata terbuka.

"Cantik sekali. Eh, apa yang aku pikirkan?" kata Naruto. Sedangkan Hinata hanya tertawa kecil mendengarnya. Hinata mengenakan sebuah gaun panjang yang sangat serasi dengan rambutnya.

"Oh ya, kakakku dimana?" tanya Hinata.

"Kakakmu sedang menyambut para tamu yang berada di teras depan," jawab Naruto. Mendengar jawaban dari Naruto membuat Hinata sedikit kecewa.

"Kalau begitu, dia saja yang menjadi pemdamping Hinata untuk turun ke bawah," kata salah satu pembantu yang ikut membantu mendandani Hinata.

"Apa? Kenapa harus aku?" tanya Naruto terkejut.

"Sudah tidak apa – apa," kata pembantu tersebut. Pembantu tersebut langsung menyeret Naruto ke kamar Neji.

.

.

Beberapa saat kemudian, pembantu tersebut keluar bersama dengan Naruto. Sekarang giliran Hinata yang tekjub melihat penampilan Naruto.

Naruto menggunakan jas hitam lengan panjang dengan dalaman sebuah baju berwarna putih membuat dirinya terlihat sangat berwibawa.

"Hei Hinata, kenapa kau melamun?" tanya Naruto.

"Eh, ti… tidak apa – apa," jawab Hinata. Sementara pembantu Hinata hanya geleng – geleng kepala.

Naruto dan Hinata berjalan berdua turun dari lantai dua menuju lantai bawah. Semua tamu undangan takjum melihat dua orang tersebut turun, kecuali Neji yang hanya tersenyum. Tak lama, acara dimulai.

.

.

Waktu telah menunjukkan pukul 12.00, acara pun berakhir. Para tam undangan juga sudah banyak yang pulang. Yang masih ada hanya Naruto, Konohamaru, Hagi, Iruka, Neji, Hinata dan beberapa pembantu keluarga Hyuuga.

"Wah Naruto Nii, kau serasi sekali dengan Hinata Hime," kata Konohamaru sambil membersihkan meja.

"Aku hanya membantu Hinata saja," kata Naruto yang tidak menghiraukan perkataan Konohamaru.

"Membantu apanya? Kau tadi berjalan dengan Hinata sangat mesra sekali," kata Hagi yang jadi ikut – ikutan.

"Sebenarnya, tugas untuk mendampingi Hinata untuk turun itu adalah Neji. Tapi, Neji malah menyambut tamu – tamu yang masih berada di teras. Kalian tadi juga mendengarnya kan?" tanya Naruto. Konohamaru dan Hagi hanya mungangguk. "Nah, kemudian Neji menyuruh aku untuk menyuruh Hinata untuk turun. Pada saat aku memanggil Hinata dan dia kelihatan kecewa pada saat aku mengatakan kalau Neji sedang menyambut tamu, pembantu Hinata yang tadinya mendandani Hinata memaksa aku untuk menggantikan tugas Neji," kata Naruto melanjutkan kronologi peristiwa tadi.

Tak lama kemudian, Hinata datang sambil menyerahkan sepotong kue.

"Naruto, ini ada sepotong kue untukmu," kata Hinata sambil menyerahkan kue yang tadi dia bawa. Naruto menerima pemberian dari Hinata tersebut. Semantara Konohamaru dan Hagi malah batuk jail saat melihat hal itu.

"Ya sudah, aku mau ke belakang dulu," kata Hinata. Hinata beranjak pergi meninggalkan Naruto dan yang lain.

"Hei, apa maksud kalian tadi batuk – batuk?" tanya Naruto sambil mengeluarkan aura hitam dibelakang tubuhnya.

"Eee… bu… bukan apa – apa, Naruto," jawab Hagi yang merasa ketakutan. Sementara Konohamaru sudah kencing dicelana. Mungkin melihat Naruto seperti makhluk yang lebih menyeramkan daripada setan yang selama ini dia lihat.

Tak lama kemudian, terdengar suara jeritan dari arah belakang.

"Seperti suara Hinata," kata Naruto. "Ayo kita lihat," kata Naruto mengajak Hagi dan Konohamaru untuk melihat.

Naruto, Konohamaru, Hagi, Neji, Iruka dan beberapa pembantu langsung menuju arah belakang.


Di ruang dapur

Mereka sudah berada di sumber suara namun mereka tidak menemukan apapun kecuali barang – barang yang telah berantakan.

"Astaga, apa yang terjadi?" tanya Iruka terkejut.

"Hinata! Dimana kau Hinata! Hinata!" kata Neji berteriak – teriak memanggil nama Hinata.

"Cepat, kita harus menemukan Hinata sama! Ayo cepat!" kata salah satu pembantu keluarga Hyuuga. Seluruh pembantu keluarga Hyuuga langsung berpencar mencari keberadaan Hinata.

"Kita harus ikut mencari," kata Iruka. Naruto, Konohamaru, Hagi dan Iruka pun juga ikut berpencar untuk mencari Hinata.

.

.

Hari sudah sore. Sudah berjam – jam Naruto dan yang lain mencari keberadaan Hinata bahkan sampai keluar desa. Namun orang yang dicari dari tadi masih belum ditemukan. Sekarang semua berkumpul diruang keluarga kecuali Naruto yang memutuskan untuk ke ruang dapur untuk mencari makanan.

Di dapur, Naruto melihat ada sisa mie ramen di panci. Dia langsung menuju ke arah rak piring untuk mengambil mangkok. Namun pada saat Naruto ingin mengambil mangkok, dia sempat melihat di dinding dan di lantai sebelah kanan rak piring tersebut ada bekas goresan yang cukup panjang.

"Hmm, tidak mungkin kalau rak piring itu tergeser secara tidak sengaja. Pasti ada yang sengaja menggesernya," kata Naruto membuat kesimpulan.

Naruto langsung menggeser rak piring tersebut ke samping kanan. Setelah rak piring tersebut digeser, ternyata dibelakang rak piring tersebut terdapat sebuah lubang yang mengarah ke bawah tanah.

"Paman Iruka! Neji! Kemarilah!" kata Naruot berteriak memanggil nama Iruka dan Neji. Neji, Iruka, Konohamaru, Hagi dan beberapa pembantu kelarga Hyuuga datang ke ruang dapur.

"Ada apa Naruto?" tanya Neji yang baru sampai. Mereka terkejut saat melihat ada lubang besar disaana

"Astaga, tidak aku sangka ada jalan rahasia disini," kata Neji terkejut.

"Sepertinya, orang yang membawa Hinata masuk dan keluar melalui pintu ini," kata Iruka menebak.

"Tapi siapa? Neji anak pemilik rumah ini saja tidak tau tentang jalan ini," tanya Hagi.

"Yang pasti,orang tersebut mengetahui setiap sudut rumah ini," jawab Iruka.

"Kalau begitu, kita telusuri saja jalan rahasia ini. Siapa tau kita mendapatkan sebuah petunjuk," kata Naruto. Yang lain juga setuju dengan usul dari Naruto.


Di jalan rahasia

Naruto dan yang lain masuk ke dalam. Mereka menelusuri anak tangga dari jalan rahasia tersebut hanya diterangi oleh beberapa obor.

"Hadeh, tangga ini seperti tidak ada ujungnya," kata Naruto mengeluh.

"Jangan mengeluh Naruto Nii," kata Konohamaru menasehati Naruto.

.

.

Beberapa menit kemudian, mereka menemukan sebuah ruangan yang sangat gelap. Para pembantu dari keluarga Hyuuga yang membawa obor langsung menyalakan obor – obor yang ada di ruangan tersebut. Sekarang, ruangan tersebut bisa terlihat dengan jelas walaupun masih samar – samar.

"Ruangan apa ini?" tanya Naruto penasaran.

"Aku juga belum tau. Ayah belum pernah cerita tentang hal ini," jawab Neji.

Mereka melihat - lihat ruangan tersebut. Tak lama kemudian, terdengar suara yang bergema cukup keras.

"Siapa kalian?" tanya suara tersebut. Mendengar suara yang terdengar mengerikan tersebut membuat nyali Naruto sedikit ciut.

"Namaku adalah Hyuuga Neji," jawab Neji.

"Hyuuga Neji… maksudmu, kau adalah kakak dari Hyuuga Hinata? Oh, maafkan aku tuan muda," kata suara tersebut.

"Apakah aku mengenalmu?" tanya Neji heran.

"Kau mungkin sudah lupa denganku tuan muda karena saat itu kau dan adikmu masih sangat kecil," jawab suara itu.

"Keluarlah, aku ingin melihat wujudmu," kata Neji.

"Baiklah tuan muda," kata suara itu. tak lama kemudian, muncul angin yang sangat kencang dan beberapa saat kemudian, muncul seseorang yang terlihat sudah tua, rambut, alis dan kumis berwarna putih, berpakaian seperti seorang pembantu dari keluarga Hyuuga. Namun yang mengerikan, orang tersebut tidak menyentuh tanah alias dia adalah hantu.

Perlahan – lahan, angin yang tadi bertiup sangat kencang akhirnya berhenti dan wajah hantu tersebut dapat terlihat. Semua pembantu yang melihat hal itu langsung tersejut.

"Hotaru Hyuuga," kata semua pembantu yang ada diruangan tersebut.

"Apa kabar semua," kata hantu itu yang dipanggil dengan sebutan Hotaru.

"Hotaru? Jangan – jangan kau yang dulu selalu mengasuh kami saat kami masih kecil?" tanya Neji.

"Sepertinya, anda sudah mengingat saya lagi," jawab Hotaru.

"Kenapa kau menjadi seperti ini?" tanya Neji.

"Sebenarnya, saya mempunyai penyakit jantung yang sudah cukup parah. Aku berusaha untuk menahan sakit yang aku derita ini. Hingga ajal menjemput saya tiga tahun yang lalu," jawab Hotaru.

"Seingatku, paman punya seorang anak perempuan bernama Akila Hyuuga. Tapi, dia juga menghilang bersamaan dengan kematian paman," kata Neji. Hotaru langsung terlihat sedih saat mendengar nama anaknya disebut.

"Kenapa paman?" tanya Naruto.

"Akila, dia masih belum terima dengan kematian saya tuan. Akila sudah tau penyakit saya itu sejak berumur empat tahun. Itulah yang menyebabkan sifatnya lebih dewasa melebihi anak seumurannya. Pada saat ajal menjemput saya, Akila tidak dapat menerima kematian saya. Dia mengira keluarga Hyuuga membiarkan penyakit jantung saya tanpa pertolongan medis. Padalah keluarga Hyuuga sudah berusaha untuk menyembuhkan penyakit saya. Bahkan saudara kembar ayah tuan mau menukar jantungnya untuk saya. Namun saya menolak karena saya tidak mau merepotkan semua orang lagi," jawab Hotaru.

"Oh ya, kenapa tuan mau datang ketempat saya yang kotor ini?" tanya Hotaru.

"Hinata diculik oleh seseorang. Kami semua mencarinya sampai keluar desa dan tanpa sengaja menemukan tempat ini," jawab Neji. Mendengar jawaban dari Neji membuat Hotaru terkejut.

"Ada apa paman?" tanya Naruto.

"Akila benar – benar melakukan dendamnya. Saat saya meninggal, Akila bersumpah akan menuntut balas keluarga Hyuuga dengan cara mengambil salah satu jantung keluarga Hyuuga dan mengubur jantung tersebut didekat kuburan saya," jawab Hotaru.

"Kalau begitu, kita harus menghentikan aksi Akila tersebut," kata Naruto.


Di tanah pemakaman

Ternyata, hal yang dikatakan oleh Hotaru benar – benar terjadi. Seorang wanita berkulit putih, berambut hitam, memakai jubah sedang menarik Hinata.

"Tolong! Tolong aku! Tolong!" kata Hinata berteriak.

"Disini, tidak akan ada yang akan menyelamatkanmu," kata wanita itu.

Setelah sampai disebuah kuburan, wanita itu mengikat Hinata di dekat sebuah kuburan terebut. Hinata berusaha untuk memberontak. Namun dia tidak bisa karena ikatan dari wanita tersebut cukup kuat. Wanita tersebut mengeluarkan sebuah pisau dari balik jubahnya. Hinata langsung ketakutan saat melihat pisau yang sangat tajam itu.

"Hari ini, dendamku akan terwujud. Ayahku akan tenang dialam akhirat," kata wanita itu. Wanita itu ingin menghunuskan pisau tersebut.

"Akila, jangan lakukan itu!" kata seseorang. Wanita itu langsung menoleh ke sumber suara.

"Ayah?" tanya wanita tersebut. Naruto, Konohamaru, Neji, Hagi, Iruka, Hotaru, dan beberapa pembantu dari keluarga Hyuuga tiba.

"Akila, jangan lakukan hal ini," kata Hotaru.

"Jangan menghalangiku, ayah. Aku melakukan ini untuk ayah," kata wanita yang dipanggil Akila.

"Ayahlah yang menginginkan kematian ayah sendiri," kata Hotaru.

"Maksud ayah?" tanya Akila.

"Sebenarnya, keluarga Hyuuga berusaha untuk menyembuhkan penyakit jantung ayah. Namun ayah menolak karena ayah tidak ingin merepotkan banyak orang. Lagipula, kalau ayah menerima pertolongan keluarga Hyuuga pun itu akan percuma karena nantinya ayah juga akan mati," jawab Hotaru. Mendengar jawaban dari Hotaru tadi membuat Akila luluh hatinya. Dia menjatuhkan pisau yang tadi ingin dia hunuskan ke arah Hinata.

Hantu Hotaru langsung mendekat ke arah Akila. Dia membuka tudung jubah yang dipakai oleh Akila. Sekarang, Akila terlihat sedang menangis.

"Ayah, apakah perbuatanku ini salah?" tanya Akila.

"Akila, yang namanya dendam itu adalah perbuatan yang salah. Jadi, ayah ingin kau hapus perasaan dendammu kepada keluarga Hyuuga. Ayah baru bisa tenang kalau kau sudah menghilangkan rasa dendammu itu," jawab Hotaru sambil membelai lembut rambut Akila.

"Baiklah ayah, aku akan menghilangkan rasa dendam itu dari hatiku dan aku berjanji kepada ayah akan melindungi keluarga Hyuuga seperti yang ayah lakukan," kata Akila. Hantu Hotaru pun langsung tersenyum mendengarnya.

Tak lama kemudian, tubuh hantu Hotaru perlahan – lahan berbah menjadi butiran – butiran bercahaya.

"Sudah waktunya, anakku. Jalan ayah menuju dunia akhirat sudah terbuka. Ayah akan menunggumu disana. Kita akan berkumpul lagi seperti dulu," kata hantu Hotaru. Dia kembali tersenyum

"Ayah… hiks, hiks, hiks," kata Akila sambil menangis.

Tak lama kemudia, tubuh hantu Hotaru terbang ke angkasa seperti sebuah tisu yang diterbangkang ke udara. Kemudian, tubuhnya sepenuhnya.

TBC


Author : Heh, akhirnya selesai juga chapter ini. Gimana para reader? Sudah puas setelah membaca chapter saia?

Oke, yang mau kirim saran, kritik, maupaun sekedar bertanya silakan review atau PM saia langsung.

Thanks udah membanya fic saia dan selamat menunaikan ibadah puasa.