Yifan tahu jika keputusan mereka telah melewati batas, dan tidak ada satu pun dari mereka yang dapat menerka bagaimana reaksi kawanan setelah mereka sampai nanti. Hanya saja, mereka tidak tega untuk meninggalkan empat Omega dan satu Beta wanita di hutan tanpa perlindungan kawanan. Terlebih dua dari Omega tersebut tengah terluka dan satu lainnya sedang dalam keadaan heat serta pingsan.

Sebagai seorang Beta, Taemin sempat memberikan teguran kepada para Alpha dan mengusulkan untuk melupakan Omega-Omega tersebut serta membiarkan mereka meninggali rumah tua tersebut. Tetapi keputusan Yifan benar-benar sudah bulat, bukan hanya Yifan, semua Alpha memilih untuk mengambil resiko, bahkan para Alpha-Alpha remaja.

Mereka semua berlari dengan cepat menuju tempat kawanan mereka; EXO, dipimpin oleh Jackson diikuti oleh para Beta, Omega dan Alpha lainnya. Semua dari mereka memiliki kekhawatiran masing-masing dan sesuatu yang berkecamuk didalamnya, tetapi perjalanan mereka tetap dipenuhi oleh kesunyian. Bahkan ketika mereka mereka sampai di teritorial kawanan tersebut.

.

.

Tittle: Broken

Pairings dan Casts: HunKai (Alpha!Sehun|Omega!Jongin), Krina/KrisxNana (Alpha!Yifan|Omega!Jinah), KookV (Alpha!Jungkook|Omega!Taehyung), VerKwan (Alpha!Vernon|Omega!Seungkwan)

Other Casts: Alpha!Taeyong, Alpha!Jackson, Alpha!Wonshik, Alpha!Chanyeol, Beta!Taemin, Beta!Seulgi, Beta!Luna, Omega!Hyoyeon, Omega!Jiae, Omega!Yura

Genre: Angst, Romance

Rate: M

Warnings: typo(s), abo!verse, mention of rape and abuse scene, heat scenes, mpreg

.

Sehun dan beberapa Alpha lain tak sengaja menemukan sebuah rumah tua yang tampak tak berpenghuni di tengah hutan. Apa yang mereka temukan di dalamnya sungguh tidak terduga.

.

.

Sesuatu yang lembut terus-terusan menyentuh pelipis Jongin. Omega itu melenguh terganggu sebelum membuka matanya. Pandangannya masih agak kabur dan tidak fokus untuk beberapa saat.

"Akhirnya, kau bangun juga." sebuah suara mengagetkan Omega tersebut hingga membuatnya dengan refleks menghindar dan berusaha untuk turun dari kasur. Akan tetapi, Jongin kembali terbaring dengan erangan kesakitan yang terus keluar dari bibirnya. "Kau seharusnya tidak boleh terlalu banyak bergerak dulu." omel Omega wanita didepannya dengan wajah khawatir.

Keterkejutan yang tergambar jelas di wajah Jongin membuat Omega Yoona merasa kasihan. "Tenanglah, kau aman disini."

Jongin hanya mengangguk dan kembali berbaring mencari posisi yang nyaman dan mengurangi nyeri di tubuhnya. Ia meringis sakit ketika ia menggerakkan pinggulnya dan bagian paha dan bokongnya kembali terasa perih. Yoona cepat-cepat membantunya dan memberikan selimut bulu tebal untuk menyangga bagian bawah tubuh Jongin.

"Terima kasih." gumam Jongin dengan suara pelan dan senyum malu. Benar-benar terlihat polos dan menggemaskan, Yoona tak dapat membayangkan Alpha mengerikan yang sampai hati untuk menyiksa Omega didepannya ini. "A-aku dimana?"

"Kau ada di rumahku sekarang, di kawanan EXO."

"B-bagaimana bisa?"

"Anakku menyelamatkanmu dari rumah penyekapan."

Ingatan Jongin mencoba untuk memutar kembali kejadian sebelum ia pingsan. Dan, samar-samar cuplikan tentang gambaran kabur saat seorang Alpha muda menerobos masuk ke ruang hukuman dan memukul kepala Taecyeon muncul di kepala Jongin.

"Apa aku bisa bertemu dengannya?"

Yoona ingin sekali mengangguk melihat wajah memelas Jongin yang meluluhkan hatinya, tetapi keadaan diluar masih agak kacau dan berantakan. Dan ia tidak ingin sesuatu menganggu pikiran Jongin dan menghambat proses penyembuhannya.

"Secepatnya. Tetapi tidak sekarang." Yoona membenarkan selimut Jongin dan menyunggingkan sebuah senyuman hangat yang cantik. "Ada beberapa hal yang perlu ia lakukan terlebih dahulu. Sementara itu, kau harus istirahat dan meminum obatmu."

Semangkuk bubur hangat yang telah dicampur dengan racikan sayuran serta segelas susu sudah tersaji rapi di sebuah meja kecil disamping ranjang. Sesaat setelah menyadari keberadaan makanan dan mencium harumnya itu, perut Jongin langsung berbunyi nyaring. Yoona tertawa kecil, sedangkan Jongin hanya menunduk menyembunyikan wajahnya yang memerah malu.

"Aku akan menyuapimu, kau harus menghabiskan semuanya, oke?" Yoona mengaduk pelan bubur berwarna kehijauan itu kemudian meniup-niupnya agar makanan itu tidak cukup panas untuk membakar lidah Jongin. "Proses penyembuhanmu akan jauh lebih cepat jika kau makan yang cukup dan juga beristirahat. Tetapi sekarang kau masih dalam masa heatmu walaupun aku yakin tubuhmu sudah terlalu banyak menerima siksaan untuk merasakan hal itu, walaupun begitu aku masih bisa mencium pheromonesmu."

Yang bisa Jongin lakukan hanyalah mengangguk dan secara tidak sadar, dirinya menunjukkan sebuah senyum simpul yang manis.

"Sudah sangat lama sejak aku dimanja oleh seseorang seperti ini." gumam Jongin lirih setelah meneguk buburnya. Kerongkongannya terasa sedikit sakit, mungkin karena tidak diisi air ataupun makanan sejak masa heatnya dimulai dua hari lalu. "Aku bahkan lupa jika rasanya semenyenangkan ini."

Tiba-tiba sebuah ketukan pintu yang terdengar tergesa-gesa menghentikan suasana melankolis diantara mereka. Yoona berlari kecil ke arah pintu dan dikejutkan oleh Wonshik yang menerobos masuk.

"Maafkan aku, Omega Yoona. Tetapi Sehun memintaku untuk menjagamu dan Omega itu disini. Mungkin akan ada perdebatan ditempat Alpha pemimpin, dan Yifan menduga-duga tentang kemungkinan terburuknya."

.

.::.

.

Keributan terjadi segera setelah Beta penjaga teritorial kawanan menemui mereka. Dan hal itu berlanjut kembali ketika Alpha pemimpin, kakek Sehun, meminta semua dari mereka untuk menemuinya. Ada ketidakyakinan kecil memasuki diri Sehun. Walau bagaimanapun, tidak ada dari mereka yang tahu soal asal Omega-Omega serta Beta yang mereka bawa ke kawanan.

"Bisa kau beritahu aku setiap detail mengenai ini?" suara berat sang Alpha memenuhi seluruh ruangan. Tatapan mengintimidasinya tertuju kepada satu per satu diantara mereka, dan berhenti ketika bertemu tatap dengan Sehun.

Dengan sikap tenang yang Sehun kontrol sebisanya, ia menceritakan apa yang terjadi, diikuti oleh Yifan yang sesekali menambahkan informasi yang diperlukan.

Sang Alpha berdehem dan meminta para Omega dan Beta itu untuk mendekat. Dan ia sama sekali tidak menyangka jika ia akan melihat sebuah wajah familiar diantara mereka.

"Apakah kau seorang Kim?" tanyanya pada Omega remaja bertubuh kurus serta berambut sebahu dengan wajah kotor dan baju yang kumal. Omega itu mengangguk kecil, dan sang Alpha turun dari tempat duduknya untuk memeluk Omega tersebut. Seluruh ruangan terdiam dan kebingungan, tetapi tidak satu pun yang berani membuka mulut. "Siapa namamu?" lagi-lagi sang Alpha bertanya, kali ini diikuti oleh sebuah senyum tipis yang tampak bersahabat.

Omega kecil itu sedikit merasa lebih baik dan gugupnya berkurang. Ia mencoba tersenyum, meskipun tampak sangat canggung. "Kim Taehyung." jawabnya dengan suara kecil dan parau.

"Aku mengenal kakek, Kim Sung Soo, dan ayahmu, Kim Namjoon! Aku berada disampingnya ketika ia menjadi Alpha pemimpin di kawanan BTS."

Taehyung memeluk sang Alpha dengan erat dan tidak bisa menahan tangisannya. Sang Alpha, yang terkenal berbahaya dan menakutkan, membalas pelukannya dan berusaha untuk mengucapkan kata-kata manis untuk menenangkan Omega tersebut.

"Kakek dibunuh dan ayah menghilang ketika kawanan kami diserang oleh para vampire. Sejak saat itu aku hidup bersama Omega lain yang selamat dari kawanan kami." cengkeraman Omega itu di bagian belakang pakaian sang Alpha bertambah erat. Ia melirik ke arah Hyoyeon, seorang Omega wanita yang berdiri ditengah-tengah ruangan dengan wajah sedih. "Hanya kami berdua yang tersisa dari kawanan BTS."

"Aku turut berduka." sang Alpha tampak tak tahu harus berbicara apa, dan hanya mengelus pundak Taehyung untuk memberitahunya jika ia ikut bersedih dan terpukul dengan berita itu.

"Alpha." seorang Beta yang selama ini bertugas menjadi penasihat di kawanan, Luna, melangkah maju mendekati keduanya. Ia melirik semua Omega dan Beta yang dibawa oleh kelompok berburu kawanan mereka. "Kita tidak tahu asal usul yang lainnya. Kita tidak mungkin membiarkan mereka menjadi bagian dari EXO begitu saja."

"A-a-apa?" seorang Omega wanita diantara mereka, Jiae, berbisik tak percaya, sedangkan Hyoyeon dan Seulgi saling berpelukan dan menahan tangisnya. "Kami mohon―"

"Aku setuju dengan Beta Luna, Alpha." seorang Alpha muda yang memeluk pinggang seorang Omega tiba-tiba bersuara tanpa ragu. "Kemungkinan jika mereka akan mengacau dan sebagainya masih ada. Kita tentu tak ingin hal itu terjadi pada EXO, bukan?"

Sehun menggeram nyaring dari sudut lain ruangan. Dalam dua detik, ia telah berada di hadapan Alpha tersebut, Myungsoo, dan meninju pelipisnya dengan sangat keras hingga Alpha itu tersungkur dan meringis kesakitan.

"Mudah bagimu mengatakan itu karena Omegamu disini aman dan tak mengenal bahaya. Omega yang berdiri disana, mereka disekap dan disiksa oleh para Alpha bajingan selama bertahun-tahun! Jika hal itu terjadi pada Omegamu, apa yang akan kau lakukan?!" Sehun berteriak murka dan Yifan serta Jackson harus menahan tubuhnya untuk tidak kembali menghajar Myungsoo saat itu juga.

"CUKUP!" teriakan Alpha pemimpin terdengar seperti raungan keras dan membuat semua yang berada di ruangan itu membeku seketika. "Kita akan melakukan pertemuan untuk ini. Dan apapun keputusan yang didapat, siapapun juga tidak akan bisa mengubahnya, termasuk aku."

Sehun terlihat hendak kembali protes, dan sebelum ia bisa membuka mulutnya dan memuntahkan kata-katanya, sang Alpha memperlihatkan ekspresi marah yang kaku.

"And that's final, Oh Sehun."

.

.::.

.

Yoona terus bergerak gelisah, sedangkan Jongin hanya bisa diam sambil memainkan jari-jari tangannya. Wonshik menghela nafas dan menghempiri Omega laki-laki itu. "Hai." sapanya dengan sebuah sentuhan di punggung tangan Jongin yang jauh lebih kecil. Jongin membiarkan Alpha itu menggenggam tangannya. "Aku Wonshik. Aku juga datang ke rumah penyekapan bersama Alpha yang menolongmu."

Wajah Wonshik sangat tampan, dengan hidung mancung dan rahang yang tegas. Rambut agak keabu-abuan yang anehnya dapat terlihat cocok dengan kulit tannya. Serta tubuh tegap dan tinggi, juga suara berat yang dapat membuat Omega manapun bertekuk lutut.

Jongin mengerjapkan matanya beberapa kali, memikirkan kata-kata yang pantas untuk berterima kasih kepada Alpha didepannya ini, dan juga mengusir pikiran aneh serta kekagumannya terhadap fisik Alpha tersebut. "U-um, terima k-kasih, Alpha Wonshik." suaranya terdengar pelan dan lembut, diikuti oleh pipi yang memerah. "Apa― A-apa teman-temanku juga berada disini sekarang?"

"Mereka semua sedang berkumpul di tempat Alpha pemimpin kami. Tiga Omega dan satu Beta, benar?"

"Apa mereka baik-baik saja?" Jongin bertanya dengan antusias dan tanpa sadar meremas genggaman tangan Wonshik. "T-tapi, bagaimana dengan Chanyeol? Kalian tidak membawanya juga?"

"Chanyeol?"

Wajah Jongin berubah menjadi pucat pasi dan Wonshik bisa merasakan tangannya gemetar. "Chanyeol, dia seorang Alpha. D-dia sudah seperti kakakku sendiri, karena itu lah Taecyeon menyiksanya."

"Maafkan aku, tapi kami tidak menemukan Alpha lain di rumah itu."

.

"Jongin, kurasa Taecyeon bukan seorang Alpha yang baik." Chanyeol mencekal pergelangan tangan Jongin agar Omega itu tidak dapat pergi.

Jongin menunjukkan wajah cemberut. "Dia benar-benar baik! Tidak pernah ada Alpha yang menyukaiku sebelumnya. Jadi aku sungguh yakin jika Taecyeon adalah mateku!"

Chanyeol mengerang frustasi. "Kau baru mengenalnya selama lima bulan dan sudah berpikir tentang melakukan mating dengannya?!"

Kedua pipi Jongin bersemu merah dan ia menjerit manja untuk menutupi rasa malunya. "Tinggalkan aku sendiri!"

"Tidak. Aku akan menemanimu menemui Taecyeon." Jongin menatap Chanyeol dengan aneh seolah Alpha itu baru saja memiliki dua hidung di wajahnya.

"Tidak! Aku tidak akan mau!"

Chanyeol mengusap wajahnya dengan kasar. "Aku janji tidak akan berjalan dekat kalian. Aku hanya akan berada disekitar untuk memastikan dia tidak melakukan hal yang buruk. Lagipula ini sudah pukul sepuluh malam, aku tidak akan membiarkanmu berjalan sendirian, bahkan jika kau bilang kau hanya ingin mengambil minum di dapur. Mengerti?"

Jongin tertawa kecil dan mencubit perut Chanyeol dengan gemas. "Berhentilah memperlakukanku seperti anak kecil!" tetapi Omega itu menarik pergelangan tangan Chanyeol dan membiarkan Alpha itu merangkul pundaknya.

.

Air mata Jongin mengalir dengan sendirinya mengingat bagaimana waktu-waktu terakhir yang ia lalui bersama Chanyeol. Alpha itu benar, Taecyeon bukan seseorang yang baik.

Masih segar diingatan Jongin bagaimana wajah Chanyeol yang menunjukkan kepanikan luar biasa ketika menyadari Taecyeon bersama dengan lima Alpha lain menyeret tubuh Jongin ke dalam sebuah van. Bagaimana Chanyeol berusaha melawan mereka semua seorang diri. Bagaimana tenggorokan Jongin memanas karena terus-terusan berteriak meminta tolong, karena Chanyeol, sahabat bodohnya itu, tergeletak di tanah dengan wajah dan tubuh berlumuran darah. Kejadian itu seolah baru terjadi kemarin, karena Jongin dapat mengingat semuanya, setiap detailnya.

"Aku harus menemukan Chanyeol." suara Jongin bergetar kemudian ia menatap Wonshik dan Yoona bergantian. Tangannya yang gemetaran menghapus air matanya sebisa mungkin, tetapi ia tidak bisa berhenti menangis.

Wonshik membuang muka karena melihat seorang Omega yang tampak rapuh, dengan mata sembab, hidung memerah, dan pipi yang basah, membuatnya ikut emosional.

Jongin berusaha untuk menggerakkan badannya menuruni ranjang, namun seluruh tubuhnya masih sangat ngilu. Ia terbaring kembali dengan isakan yang memilukan. Yoona menghampirinya dan memeluk tubuh kurus Jongin dengan sangat erat.

"Kita akan mencari Chanyeol. Dan kita pasti akan menemukannya." suara Yoona terdengar ikut bergetar. Omega wanita itu menahan tangisnya untuk menguatkan Jongin. "Aku berjanji. Kita akan mencarinya setelah kau sembuh."

Jongin tidak menjawab. Ia hanya bisa menumpahkan semua tangisnya di pelukan hangat yang Yoona tawarkan kepadanya.

.

.::.

.

"Yifan!" sebuah teriakan melengking menyambut gendang telinga para Alpha yang baru keluar dari ruangan Alpha pemimpin. Yifan memperhatikan sekitarnya sebelum pandangannya menangkap sosok cantik Jinah berlari ke arahnya.

Omega wanita itu memeluk leher Yifan dengan sangat erat dan menangis sambil menyandarkan dahinya di bahu Alpha tersebut. "Aku benar-benar khawatir! Mereka bilang k-kau terluka dan― d-dan―"

"Ssshh. Sudahlah, aku sudah disini, dan kau bisa lihat sendiri jika aku baik-baik saja, kan?" senyum lebar Yifan tidak bisa ia tahan melihat betapa khawatirnya Omega tersebut terhadapnya. "Berhentilah menangis, cengeng! Kau mengotori bajuku dengan ingusmu!"

Jinah merengek dengan keras, membuat Sehun dan Jackson yang berada di dekat mereka tertawa kecil. Sedangkan Yifan mencium puncak kepala Jinah dengan gemas.

"Aku tak percaya kalian masih mengaku sebagai sahabat." Jackson mendengus kemudian mengerling nakal. "Kalian lebih terlihat seperti pasangan yang sudah mated selama belasan tahun bagiku."

Jinah bersiap untuk kembali menumpahkan kekesalannya sebelum dirinya menangkap aroma Omega tercium dari arah ketiga Alpha tersebut. Keningnya berkerut tidak suka dan ia menatap Yifan dengan tatapan menuduh. Omega itu melepaskan pelukannya dan mendorong Yifan menjauh.

"Hey, ada apa? Tidak merindukan aku lagi, eh?" tanya Yifan dengan nada jahil. Dan itu sama sekali tidak membuat Jinah merasa lebih baik. Yifan selalu bertingkah konyol dan bodoh didepannya, sebaliknya akan menjadi Alpha yang berwibawa dan serius didepan orang lain. Jinah merasa jika Yifan hanya mempermainkannya, hanya menganggapnya bahan lelucuan, karena jika Yifan memiliki perasaan yang sama dengan dirinya, Alpha tersebut tidak mungkin dipenuhi oleh aroma Omega lain seperti sekarang.

Dengan wajah cemberut yang bertekuk, Jinah berpaling ke arah Jackson dan mengomel dengan suara cemprengnya. "Aku tidak akan mau menjadikan Alpha macam dia menjadi mateku!" walaupun terdengar kesal, pipi Jinah tetap memerah ketika menyebutkan kata 'mate' dan itu sukses membuat ketiga Alpha didepannya terpesona. Omega wanita itu memang salah satu Omega tercantik di kawanan mereka, bahkan dengan wajah dingin dan perilaku manjanya, Jinah tetap menjadi Omega paling didambakan. Tak heran jika ketiga Alpha yang melihat dengan jelas tingkah menggemaskan Omega itu akan terdiam mematung seperti idiot besar.

"Dude, jika kau sungguhan tidak ingin mengclaim Jinah, aku akan berdiri di barisan pertama untuk menjadi matenya. Karena, damn, Omega itu benar-benar sempurna!" Jackson terus memperhatikan sosok Jinah yang berlari kecil menjauhi mereka hingga ia menghilang di balik pintu rumahnya.

Yifan memukul bagian belakang kepala Jackson dengan wajah tak berdosa. "Berani kau mendekatinya, aku tidak akan segan mematahkan lehermu!" ancam Yifan dengan ekspresi yang kelam.

Sehun mengulum senyumnya melihat teman dekatnya itu. "Bila memang benar menyukainya kenapa tidak menyatakan perasaanmu saja pada Jinah? Aku yakin dia tidak akan menolakmu."

"Kalian tidak dengar apa yang dia bilang barusan?" ekspresi wajah Yifan berubah menjadi agak murung. Ia menghela nafas berat dan menatap kedua teman dekatnya itu.

Jackson memutar bola matanya dan mendengus ke arah Yifan. "Oh, ayolah. Kau tidak mungkin mempercayai kebohongan Omega kecil itu."

Yifan tampak masih tak mengerti dan dengan tampang menyebalkan Sehun berdecih tak habis pikir dengan kebodohan teman dekatnya itu. "Kau dipenuhi oleh aroma Omega. Karena itu lah Jinahmu itu merajuk."

"Oh." Yifan mengangguk kecil dengan wajah dungu. Hingga beberapa detik kemudian dia berseru, "Oh!" kembali, dengan nyaring. Ekspresinya tampak lebih berseri dan sebuah senyum lebar menghiasi wajah tampannya ketika ia menyadari apa yang terjadi. Tanpa berkata apapun lagi, Alpha bertubuh jangkung itu berlari menuju rumah Jinah sambil bersinandung irama acak yang aneh.

Sedangkan Sehun dan Jackson saling berpandangan dan menggeleng kecil melihat kebodohan teman mereka itu.

.

.::.

.

Jungkook dan Vernon berjalan di sekitar batas teritorial. Kedua Alpha remaja itu menggantikan tugas Beta Taemin untuk berjaga karena Beta tersebut sedang sibuk mengurus para Omega dan Beta yang mereka selamatkan dari rumah di hutan. Ada banyak rumor yang beredar dan pembicaraan diantara kawanan mereka. Dari apa yang mereka dengar, kebanyakan dari Alpha mengasihani para Omega dan Beta tersebut, tetapi hampir semua Omega dan Beta yang ada di kawanan mereka menolak pemikiran itu.

"Apa mereka akan baik-baik saja jika kembali ke rumah itu lagi?" gumam Jungkook dengan sedih. "Maksudku, kita punya teritorial yang cukup luas untuk menambah lima anggota kawanan lagi, kan? Kenapa mereka terlalu mempermasalahkannya?"

Vernon duduk bersandar di salah satu akar kayu besar. Ia mengangkat bahunya. "Omega Yura bilang jika yang menolak mereka mengkhawatirkan tentang tempat berlindung untuk mereka. Kau tahu kan kalau mereka tidak memiliki Alpha? Empat Omega dan satu Beta, dengan hanya itu, mereka akan bergantung dengan Alpha lain untuk berlindung dan berburu."

"Kita semua bisa membantu mereka! Dan membagikan hasil buruan para Alpha dengan mereka juga!" Jungkook mendengus dan memainkan ranting pohon yang ada di tangannya.

"Omega Yura berjanji untuk mencoba meyakinkan Omega dan Beta lainnya untuk menerima mereka." Vernon menghela nafas panjang. "Berharap saja jika dia bisa berhasil."

Jungkook mengangguk. Dan beberapa saat kemudian tersenyum jahil ke arah Vernon. "Kau bicara dengan Omega Yura dimana? Apa di rumahnya? Untuk apa?"

"Ya, tentu saja un―" Vernon berdehem dan berusaha mengatur nada bicaranya untuk tidak terdengar terlalu bersemangat. "Aku kebetulan lewat dan memutuskan untuk mampir sebentar. Ya, hanya sebentar."

"Oh, ya? Bukan untuk menguntit adik laki-lakinya yang gembul itu? Siapa namanya? Sunggan?"

"Namanya Seungkwan!" Vernon memukul kepala Jungkook kemudian kembali mengeluarkan sebuah protesan. "Dan dia tidak gembul, oke?! Hanya sedikit berisi. Lagipula Seungkwan jadi terlihat menggemaskan, seperti bayi."

"Terserah kau saja." Jungkook memutar bola matanya. "Aku heran bagaimana bisa kau terikat dengan Omega secepat ini. Kau kan masih 10 tahun."

Lagi-lagi Vernon menggeram sebal. "Aku sudah 14 tahun! Kau hanya lebih tua setahun dariku!"

Jungkook tertawa kecil. "Baiklah, bayi besar. Apapun katamu."

.

.::.

.

"Apa aku bisa pergi sekarang? Aku rasa tubuhku sudah benar-benar membaik." Jongin bertanya kepada Yoona dengan suara memohon dan menatapnya dengan mata coklat lebarnya yang tampak polos dan membuat Yoona tidak tega untuk menolak permintaannya.

Omega wanita itu melirik Jongin dengan lembut setelah menghela nafasnya. "Jongin, kau harus bersabar sedikit. Aku tahu jika kau ingin sekali mencari Alpha Chanyeol, tetapi jika kau pergi sekarang dan keadaan tubuhmu memburuk di tengah perjalanan, itu akan sangat sia-sia, bukan?"

Jongin memasang wajah sedih, dengan mata meredup dan bibir mengerucut lucu.

"Aku sungguh sudah sem―"

Aroma seorang Alpha selain Alpha Wonshik tercium oleh kedua Omega tersebut dan hal itu membuat Jongin tanpa sadar beringsut menempelkan punggungnya ke sandaran ranjang dan memegang selimutnya dengan sangat erat karena aroma tidak familiar tersebut. Yoona merasakan pheromones Jongin yang menunjukkan jika dirinya ketakutan dan gugup dan ia segera mendekatinya. Omega wanita itu memeluk tubuh Jongin sambil mengelus pundaknya dengan gerakan menenangkan dan itu membuat Jongin merasa lebih baik.

Beberapa saat setelahnya, seseorang membuka pintu dan seorang Alpha laki-laki muda bertubuh tinggi memasuki ruangan itu. Yoona menyapanya dengan suara penuh kasih sayang, sedangkan Jongin sibuk termangu memandangi Alpha berwajah bagai Dewa itu.

"Jongin, dia adalah Sehun. Alpha yang menyelamatkanmu dari rumah penyekapan itu." Yoona berdiri dan melangkah mundur, membuat ruang yang cukup agar Sehun bisa duduk di pinggir ranjang dan berbicara dengan Jongin.

"Ehm.. halo." Sehun terbatuk canggung karena tidak tahu harus berkata apa, dan hal itu membuyarkan lamunan Jongin. Omega itu cepat-cepat menunduk dengan pipi merona, karena Sehun pasti menyadari jika dirinya mempelototi Alpha itu tanpa berkedip, dan itu sangatlah memalukan! Sehun mendengar ibunya tertawa kecil dan ia semakin kikuk karenanya. "Salam kenal. Kuharap kau sudah merasa lebih baik."

Jongin mengangguk kecil. Rambut cokelat gelapnya, yang bagi Sehun terlihat seperti madu itu, bergerak mengikuti pergerakan kepalanya. Dan Sehun harus menahan dirinya untuk tidak menunjukkan kekagumannya pada tingkah Omega yang menggemaskan itu.

"Terima k-kasih." ucap Jongin pelan sambil berusaha menutupi sebagian wajahnya dengan selimut. "Aku t-telah berutang nyawaku padamu." suara lembut Jongin membuat sesuatu dalam diri Sehun merasa ingin memeluk Omega itu dan menyimpannya untuk dirinya seorang.

"Ibuku.. mengatakan tentang Chanyeol." Sehun menyesal telah membiarkan kalimat itu keluar dari bibirnya ketika tubuh Jongin terlihat kaku dan wajahnya menjadi mengerut sedih. "A-aku akan membantumu!" seru Sehun, yang bukan hanya mengagetkan kedua Omega yang berada di ruangan tersebut, tetapi juga dirinya sendiri. "Maksudku, aku akan berusaha membantu semampuku, karena Alpha bernama Chanyeol itu tampaknya seseorang yang penting bagimu."

Ekspresi sedih Jongin tidak juga menghilang dari wajahnya. Hanya sebuah senyum kecil yang ia tawarkan kepada Sehun.

"D-dia, Chanyeol-ie, dia sudah seperti kakakku sendiri. Dia terluka k-karenaku." air mata Jongin mengalir satu per satu tanpa isakan. Ia berusaha menahan tangisnya dengan menggigit bibir bawahnya yang bergetar. Sehun tidak tahu mengapa pikirannya justru memperhatikan benda merah dan nampak kenyal itu dan menanyakan pada dirinya sendiri apakah bibir gemuk itu akan terasa manis di bibirnya.

Sehun tidak tahu harus merasa bagaimana, karena selain memikirkan pesona dari Omega didepannya, nama Alpha yang tampak sangat berarti bagi Jongin itu menganggu pikiran Sehun. Apa Alpha itu benar-benar sangat penting untuk Jongin?

.

.::.

.

Chapter 2 is hereeeee! Finally~!^^

Next chapter, Chanyeol bakal beneran muncul (bukan cuma namanya doang ehehe) c;

Btw, aku mau minta maaf soalnya karakter disini belum bener2 kebangun, ada banyak cast ff ini yang belum banyak kebagian partnya huhuhu T_T dan bagi beberapa reader yang mungkin gak suka sama KrisxNana maafkan Rin, tapi Rin gak bakal ganti pairing itu c: Karena, serius deh, akhir-akhir ini suka bgt sama Nana uwuwu :3

Dan buat fanfiction lain, Rin bakal coba buat update juga, tapi Rin tetep prioritasin fanfiction ini dulu kok!

See you on the next chapter c: Keep review-ing, chingu!^^