Part 2

Krik krik

Jangkrik yang entah berasal dari mana bersuara memecah kesunyian. Jika ada suara jangkrik, itu berarti suasana sedang sangat sepi. Yah, itu yang terjadi di ruangan klub Mekakushi-dan sekarang. sepi juga membosankan. Semua anggotanya sedang melakukan aktivitas dengan diliputi kesenyapan. Kano sedang main catur dengan Seto sambil manyun-manyun. Sementara Setonya malah sengklak-sengkluk daritadi karena ngantuk. Kido sedang duduk-duduk di kursi khusus ketuanya dengan pose like a boss seperti biasa dan tengah berlatih tidur dengan mata terbuka (?)

Poster yang mereka pasang ternyata tak membantu banyak. Selebaran yang mereka bagikan pun kebanyakan dibuang oleh penerimanya. Benar-benar tak dihargai. Padahal mereka rela memotong uang saku untuk biaya print out dan fotokopi pake warna. Tapi hasilnya tetap saja nihil. Tidak satu murid pun yang sudi memasuki klub itu. alasannya macam-macam.

"Klub itu gak jelas. Dari namanya sudah tidak meyakinkan."

"Aku lebih suka masuk klub olahraga ketimbang klub gak jelas kayak gini."

"Klub gak guna."

Alasan yang cukup menyakitkan. Untung hati mereka bertiga cukup kebal untuk mendengarnya.

Guing nguing

Seekor lalat kini ikut bergabung dengan mereka. Entah dari mana ia bisa masuk. Padahal pintu dan jendela terkunci. Yah, namanya juga lalat. Mereka bisa secara ajaib muncul di mana aja. Lalat itu sepertinya naksir sama Kido. Buktinya dia ngedeketin Kido daritadi. Tapi Kido entah gak nyadar atau memang lagi cuek gak ngerespon si lalat. Si lalat yang kesel akhirnya mencoba masuk ke lubang hidung Kido. Lumayan lah dapat anget-angetan.

"Haching!" Kido bersin. Si lalat terlontar keluar dari lobang hidungnya bersama upil dan molekul-molekul ingus.

Karena suara bersin Kido, Seto yang udah kebawa mimpi sampe ada balon berbentuk anjing makan daging di hidungnya pun bangun dan balon unik bin jorok tersebut meletus. Kano yang manyun-manyun sampe jadi bebek kembali berubah ke bentuk manusianya semula. Mereka berdua lalu menoleh ke arah Kido yang kini sedang mengucek-ngucek hidungnya yang gatal.

"Dasar lalat," ucap Kido. Si lalat telah mengganggu latihan tidur dengan mata terbukanya. Merasa cakep karena diliatin, Kido pun balik menatap Kano dan Seto yang ternyata telah menjadi fans dadakannya dengan tatapan setajam pisau emak-emak. "Apa?" Sebenernya gak ada maksud buat galak-galakin anggotanya yang lagi ngefans dadakan tersebut. tapi karena pembawaannya udah kaya preman malak nasi pecel di pasar, jadinya ya.. begitulah.

"Ih, galak amat," celetuk Seto.

Kido menghela napas. Orang-orang memang sering salah paham dengannya. Mau beli terasi di warung aja dikira mau malak.

"Gue bosen nih," ucap Kano yang udah balik manyun lagi.

"Ngapain gitu kek," usul Seto.

"Ngapain emang?" tanya Kano.

"Ya.. ngapa-ngapain aja," jawab Seto.

"Lha iya ngapain?" tanya Kano lagi.

"Udahlah. Sekarang kita bahas masalah anggota baru aja," usul Kido, menghentikan obrolan gaje Kano dan Seto.

"Yah, itu lagi," ucap Kano sambil memutar bola matanya, bosan.

"Ini penting. Kalau gak, si Azami bisa maksa kita buat bubarin nih klub."

"Siapa tuh si Azami?"

"Kepala sekolah kitalah."

"Oh, gue kira ratu ular."

Lah, emang iya kan?

"Dah, sekarang siapa yang mau usul?"

"Gimana kalau kita kasih Ela-ela dan Suri Roti gratis buat anggota baru?" usul Seto.

"Jangan Suri Roti. Ntar bukannya dimakan malah dibuang. Kan sayang," ucap Kano.

"Ya udah kalau gitu mereknya diganti Tulip Bakery. Kita bagiin gratis ke mereka yang masuk."

"Yaelah duit lagi. Lu kira kita kasih mereka Tulip Bakery sebelumnya gak beli dulu? Masa' minta?"

"Mau lu apa sih?"

"Ehem!" Deheman dari Kido menghentikan obrolan mereka berdua. Dia duduk dengan posisi like a boss seperti biasa. "Gimana kalau….." Jeda sejenak.

Kano dan Seto dengan sabar menunggu ketuanya bicara. Lama sekali. Kido diam. Kano dan Seto semakin tak sabar. Saking lamanya Kido nggantung kalimat yang bikin kepo sampe lalat yang tadi masuk ke hidungnya sekarang balik lagi.

Nguing nguing! Plok!

Lalat tersebut kini terkapar di telapak tangan Kido. Hebat juga si Kido bisa bunuh lalat. Dia udah sebel sama si lalat karena dengan tidak sopan masuk ke lobang hidung orang seenaknya.

"Jadi?" tanya Kano tak sabar.

"Jadi apa?" Kido balik tanya sambil mbuang bangkai lalat ke tempat sampah di bawah kursinya. "Oh, yang itu. gue lupa mau ngomong apa."

Kano manyun. "Kampret! Udah sabar gue nungguin."

"Hm, gimana ya? Gue sendiri juga bingung mikirin cara apa yang tepat buat nambah anggota." Sekarang Kido balik mikir.

"Gini deh. Tadi ada yang bilang klub kita ini gak jelas. Mungkin karena sejak awal kita gak ngejelasin apa tujuan kita pada mereka. Trus kita gak punya penanggung jawab. Jadinya kita sekarang pontang-panting berdiri sendiri," ujar Seto.

"Yah, sejak awal kita emang gak ngejelasin tujuan kita. Gue sebagai ketua aja gak tau tujuan klub ini buat apa," ucap Kido.

"Emangnya dulu tujuannya pendiri klub pas buat klub ini apaan?" tanya Kano.

"Hmm…" Kido mengingat-ingat.

Memorinya kembali ke masa lalu. Saat itu ia tengah duduk di ayunan dengan seorang gadis yang nampak lebih tua darinya. Ia mengenakan syal merah yang membuat Kido mudah mengingatnya. Ialah yang mendirikan klub bernama Mekakushi-dan ini dan menjadi ketua sebelum Kido.

"Ne, ketua," ucap Kido. "Sebenarnya apa tujuan dibentuknya klub ini?"

Si pendiri tersenyum. "Tidak ada tujuan khusus sih. Aku hanya berharap bisa menjadi pahlawan bagi semua orang. Itulah sebabnya aku membentuk klub ini dengan kau, Kano, dan Seto sebagai anggotanya."

Angin berhembus membelai rambut mereka berdua. Pada saat yang sama pikiran Kido kembali ke kesadarannya semula. "Aku tau." Sebuah lampu bohlam muncul dari dalam kepala kemudian jatuh dan pecah ke lantai. Seto dan Kano speechless. Ternyata ketua mereka jago sulap. "Ketua sebelumnya berkata bahwa ia ingin menjadi pahlawan. Itulah sebabnya dia mendirikan klub ini."

"Eh, benarkah?" ucap Seto yang baru sembuh dari speechlessnya. "Tapi bukankah tujuan itu sedikit absurd?"

"Iya kali. Ntar kita malah diketawain kalau bilang gitu," imbuh Kano.

"Mungkin saja menjadi pahlawan itu artinya membantu orang," ucap Seto.

"Ya. Pasti begitu. Kuingat ketua pendiri itu orang yang baik dan memiliki hati yang lembut. Dia manis. Dia sangat cocok mengenakan syal merahnya. Dia juga merupakan kakak yang baik." Kano sepertinya masih naksir dengan si ketua pendiri.

Tok tok tok.

Ada yang mengetuk pintu ruangan klub mereka. Siapa? mungkin itu yang dipikirkan ketiga orang tersebut karena biasanya tak ada orang yang sudi memasuki ruangan klub gaje seperti ini.

"Ano," ucap sebuah suara di luar sana. suara yang terdengar manis. Siapa gadis imut yang berada di luar sana? "Apa tidak ada orang di dalam? Kalau tidak, aku akan pergi."

Tak menunggu waktu lama, Seto beranjak dari duduknya dan membukakan pintu. Saat pintu terbuka, muncullah seekor gadis cantik berambut albino diluar sana. Gadis itu tampak malu-malu.

Setelah beberapa detik terdiam, akhirnya ia bertanya, "Anu, apakah ini klub Mekakushi-dan?"

"Anu, aku ingin menjadi anggota klub ini," ucap gadis albino tersebut to the point.

"He?" ucap Kano, Kido, dan Seto spontan dan bersamaan kayak lagi paduan suara.

Seto yang lagi bawain sekeranjang teh diam di tempat. Kido yang biasanya memiliki tatapan tajam setajam pisau emak-emak sekarang matanya berbinar-binar kayak lampu disko. Kano yang daritadi gak ngapa-ngapain sekarang malah asik ngupil trus upilnya ditempel di dinding.

Habisnya setelah pegel bikin poster sampe pegel ngomong dan tereak-tereak ke seluruh murid buat promosiin grup nyatanya gak menghasilkan apa-apa. Malah mereka dapat ejekan dan julukan baru yang gak enak didenger telinga sama gak baik buat kesehatan jantung dari murid-murid lain, akhirnya sekarang mereka mendapatkan anggota baru yang secara sukarela memasukkan dirinya ke dalam klub ini. (oke, gue tau ini lebay)

"Um, ano," Suara manis dari calon anggota baru tersebut menyadarkan mereka bertiga.

Seto menaruh sekeranjang teh merek Selurutan yang dibawanya di atas meja sebagai suguhan. Sambil naruh, dia curi-curi pandang ke arah si anggota baru berambut albino tersebut. Kalau dilihat-lihat ni cewek manis juga, batin Seto. Kayaknya gue pernah ketemu, tapi di mana ya? Kayaknya dia udah kesemsem sama cewek albino tersebut.

"Ehem," Kido yang tadi berbinar-binar sekarang balik ke sosoknya semula. Tatapannya kembali menjadi tatapan tajam setajam pisau emak-emak. "Kalau begitu, namamu?"

"Um, namaku… Kozakura Marry," jawab Marry sambil malu-malu.

Sekali lagi ketiga anggota terdahulu terdiam. Kozakura adalah nama keluarga medusa yang jadi kepala sekolah mereka. Jadi yang ndaftar ke sini masih satu kerabat sama kepala sekolah? Suatu keberuntungan.

Pintu terbuka. Seseorang masuk tanpa permisi. Tidak sopan. Kido yang udah kesel karena kedatangan tanpa izin tersebut hendak memarahi seseorang yang dinilai gak sopan tersebut tapi niat itu segera diurungkan karena ternyata yang datang adalah Kepala Sekolah mereka.

"Yo, maaf datang tanpa ketuk pintu," ucap Azami. "Oh, rupanya cucuku ada di sini."

Cucu? Semua langsung noleh ke arah Marry.

"Nenek ngapain ke sini?" tanya Marry.

Nenek? Sekarang mereka jadi tau kalau kepala sekolah mereka udah tua.

"Pertanyaanmu itu sedikit gak sopan sama nenekmu. Tanyain apa kabar gitu kek. Nenek cuma mau lihat-lihat di sini," jawab Azami. "Oh ya, Kalau gak salah klub ini namanya Mekakushi-dan ya?"

"Ya, kepala sekolah," jawab Kido.

"Silahkan duduk di sini," ucap Seto sambil mempersilah Azami duduk.

"Tidak usah. Aku cuma sebentar di sini," tolak Azami. "Jadi kamu mau gabung di sini?" Sekarang pandangannya beralih ke Marry.

Marry mengangguk. "Tidak ada klub yang cocok untukku. Jadi aku masuk ke klub ini."

"Oh, jadi begitu," ucap Azami. "Tapi, kudengar kalian klub yang belum resmi. Kalian bahkan belum dapat penasehat. Bagaimana kalian bisa berdiri kalau begitu?"

"Soal itu, sebenarnya kami sudah mengirim formulir konfirmasi ke OSIS tapi sampai saat ini kami belum mendapat label resmi untuk klub kami. soal penasehat, sayangnya guru-guru lainnya sudah menjadi penasehat klub-klub yang lain," jawab Kido.

"Jadi gitu ya. Aku sebenarnya datang kemari untuk menyampaikan pemberitahuan pembubaran klub kalian. Tapi karena sudah ada empat anggota, ya apa boleh buat? Aku tidak bisa membiarkan klub tidak resmi dengan tujuan tidak jelas bersarang di sekolahku yang maju." Azami menatap anggota-anggota Mekakushi-dan yang kini tengah memanas hatinya. terlihat dari wajah mereka yang tampak muram. Memang itu tujuan sebenarnya. "Untuk itu, aku menyarankan kalian untuk sesegera mungkin mendapat label resmi dan penasehat. Oh ya, kalau bisa, anggotanya harus melebihi batas minimal. Kalau tidak…"

"Kalau tidak?" tanya Kido. Tak sabar akan jeda yang diberikan Azami

"Kalau tidak, aku akan membubarkan klub kalian karena tidak memenuhi persyaratan," ucap Azami yang langsung mendapat tatapan tajam dari ketiga anggota Mekakushi-dan. "Oh ya, siapa ketua klub ini?"

Kido angkat tangan. "Saya, kepala sekolah."

"Oh, kamu yang rambut ijo. Pimpin klubmu dengan baik ya."

Mendengar dirinya dipanggil rambut ijo, Kido merasa tersinggung. Emangnya kenapa kalau rambut gue ijo? Batinnya.

"Yah, aku pergi dulu. Ingat-ingat yang tadi ya. Dan Marry," Azami menatap Marry. "Baik-baik di sini ya."

Setelah itu pintu tertutup. Azami sudah pergi. Semua yang di dalam menghela napas kesal.

"Apa-apaan tadi itu? Dia mau ngejek kita ya?" ucap Kido kesal.

"Lagian klub kita mau dibubarin. Jahat banget sih si kepala sekolah," ucap Seto, lupa kalau cucu si kepsek masih ada di sini.

"Ano," sela Marry. "Maafkan nenekku. Meski dia begitu, tapi sebenarnya dia baik kok. Dia meringankan beban murid-muridnya dengan men skors mereka. Dia juga menyuruh murid-muridnya untuk berlari mengelilingi lapangan karena dia peduli dengan kesehatan dan kebugaran mereka. Aku yakin sikapnya kali ini memunyai maksud baik yang lain."

Seto dan Kido diem. Gak tau harus komentar apa.

Melihat dua orang di depannya diam, Marry melanjutkan, "Sebenarnya nenek sudah memintaku untuk masuk ke klub manga karena hobiku suka baca manga. Tapi aku tidak mau masuk ke sana karena anggotanya hanya baik padaku karena aku cucu kepala sekolah. Mereka hanya di depan saja baik. Tapi aku tau mereka memunyai maksud terselubung. Aku rasa klub-klub lainnya juga begitu. Jadi kuputuskan untuk memasuki klub ini. Aku rasa kalian berbeda. Kalian orang yang baik. Aku rasa begitu." Marry menatap Seto.

Seto tersenyum. "Benar juga ya. Apalagi kita pernah bertemu."

"Jadi kalian pernah bertemu sebelumnya?" tanya Kido nampak tertarik.

"Aku tidak ingat sih tapi…," Kini Seto menatap Marry.

"Aku juga tidak ingat dengan jelas tapi yang pasti kita pernah ketemu," ucap Marry.

Kano menguap sambil menggeliat. Menghancurkan suasana romantis antara Seto dan Marry yang rada-rada mirip sama cerita film Kimi no Sendal. Emang sih daritadi si Kano gak ikut ambil bagian.

"Halo semua. Udah pagi yak? Ada apa nih?" ucap Kano.

"Lu ngapain aja daritadi?" Tanya Kido.

"Tidur. Abis gak ada humornya sih," jawab Kano sambil lanjut ngupil.

"Iyalah. Soalnya tadi pas serius-seriusnya. Lu kira kita bercanda melulu gitu?" celetuk Seto.

"Nggak. Emang kita bercandanya cuma dikit, si author kan gak jago bikin lawakan," jawab Kano.

Author pundung di pojokan.

"Eh, kelihatannya kalian bertiga dekat banget ya," ucap Marry.

"Iya. Soalnya kita selalu bersama dalam suka duka," Kano malah nyanyi.

"Yah, pokoknya nyaman-nyaman aja deh di sini," ucap Seto.

Kido mengulurkan tangannya ke Marry. "Marry, selamat datang di Mekakushi-dan. Mulai hari ini, kamu adalah salah satu dari kami."

Marry menjabat tangan Kido sambil tersenyum. "Baik. Mohon kerja samanya."

TBC…

kepanjangan kah?

Sorry for slow update. Internet lemot soalnya.

Thanks for murasaki'Violet69 atas dukungannya.