wah, masih sepi ya. gak apa-apa ding. lanjut aja :'v
Part 3
Suasana kelas nampak ramai karena saat ini waktu sedang memasuki jam istirahat. kelas yang tadinya sunyi senyap karena penghuninya sedang serius memerhatikan penjalasan kini mulai dipenuhi oleh segerombolan anak yang mengobrol dengan kelompoknya masing-masing. Namun di tengah-tengah mereka, terdapat seorang gadis yang hanya duduk sendirian. Bukan karena memang ingin sendirian, ia dikucilkan oleh teman-temannya yang lain. alasannya? Ia sendiri kurang mengerti.
Gadis itu melihat teman-temannya dengan perasaan iri. Enak ya mereka yang memiliki teman mengobrol, tidak kesepian seperti dirinya. Ia lalu menghela napas perlahan, mengeluarkan luapan emosinya. Ia lalu memutuskan untuk pergi ke luar kelas. Saat ia berjalan di lobi, murid-murid lain menyapanya dengan ramah. Gadis dengan rambut oranye yang kesepian itu pun membalasnya dengan senyuman. Bahkan, ada sekelompok adik kelas yang menghentikannya dan mengajaknya bicara dengan ceria.
"Ne, Momo-senpai, apa kabar?" ucap salah satu dari sekelompok adik kelas itu.
"Eh, Mira-chan, aku baik-baik saja kok," jawab Momo sembari tersenyum.
"Wow, Momo-senpai, kau bertambah cantik saja," puji yang lain.
"Ah, masa'?" Pipi Momo bersemu merah. Tidak jarang ia mendapat ucapan seperti itu, namun tampaknya ia belum terbiasa.
Semua orang tampak ramah dan bersahabat dengannya, tapi kenapa, kenapa teman-teman sekelasnya justru mengucilkannya?
Setelah Momo selesai meladeni sekelompok adik kelas tersebut, ia berjalan menuju lobi. Ia sendiri tak tau mengapa memilih mengunjungi tempat itu. Padahal tidak ada hal yang menarik di lobi selain beberapa tempelan poster klub dan etalase berisi piala hasil prestasi murid-murid di Mekakucity Academy. Tempat ini sepi saat ini, dan entah kenapa Momo jadi menyukainya.
Momo melihat-lihat piala di dalam etalase tersebut. Piala juara satu lomba panjat pinang, piala lomba lempar sandal, piala lomba pidato sampe buat orang ngantuk berjamaah, piala lomba lari juara satu mengelilingi lapangan Mekakucity Academy sampe lutut pegel, dan piala juara satu lomba campursari seluruh kabupaten yang bertuliskan nama "Momo Kisaragi" terpajang di sana.
Momo sweatdrop melihat piala-piala konyol tersebut. Terutama piala miliknya yang baginya sangat aneh. Seingatnya, ia tidak pernah sekalipun menyanyikan bahkan mengetahui apa itu lagu campursari. Aneh bukan jika dirinya tiba-tiba mendapat piala seperti itu?
Authornya sedeng, batin Momo.
Sekali lagi author disalahkan. Author pun cuma bisa pundung di pojokan sambil main sama kecoa.
Bosan melihat-lihat piala dari berbagai macam lomba konyol yang terpasang di etalase, Momo kini beralih ke madding dan melihat-lihat berbagai macam poster klub yang terpajang di sana. Ada satu poster yang menarik perhatiannya. Poster itu dilukis dengan cat air di atas kertas A3 sehingga agak sedikit menutupi poster klub-klub lain yang berukuran lebih kecil.
Momo merasa priahatin melihat gambar di poster tersebut yang lebih layak disebut gambaran anak TK ketimbang poster. Jika tidak ada tulisan "Bergabunglah Dengan MEKAKUSHI-DAN!" yang ditulis cukup besar dan dicat dengan jelas di antara gambaran anak TK tersebut, Momo tak akan tau apa maksud dipajangnya poster gaje tersebut.
"Mekakushi-dan, hmm…," Momo mengeja kata 'Mekakushi-dan' perlahan-lahan kemudian menempelkan telunjuknya di dagu, tampak menimbang-nimbang.
Ia baru sadar kalau selama ini ia belum bergabung dengan satu klub pun di Mekakucity Academy sejak ia memasuki sekolah ini. Di sekolahnya yang dulu, ia pernah mengikuti klub seni. Tapi klub itu hancur karena dirinya. Ia mengalami trauma untuk memasuki klub seni lagi setelah hal itu terjadi. Tapi selain klub seni, tidak ada klub lain yang cocok dengan dirinya. Namun sepertinya klub Mekakushi-dan dirasa cocok untuknya. Jadi, sudah Momo putuskan, ia akan bergabung dengan klub itu.
Jam pulang sekolah pun tiba. Saat inilah biasanya kegiatan klub dimulai. Semua tampak berhamburan menuju ruangan klub masing-masing. Ada juga yang langsung pulang karena belum memiliki klub atau tidak mengikuti klub apa pun—yang dipastikan akan menerima hukuman denda setiap hari.
"Mekaku…," Momo mencoba mengingat-ingat nama klub yang akan dimasukinya sembari berjalan.
"Momo-chan!" sapa seorang murid, mengacaukan konsentrasi Momo. Momo membalas sapaan tersebut dengan senyum manisnya seperti biasa.
Ia kemudian mengingat-ingat lagi. "Me..ka..me.."
"Momo-chan!" Satu lagi gangguan untuk Momo. Ada seseorang yang menyerukan namanya sembari menepuk pundaknya dari belakang. Momo pun kaget dan refleks menoleh ke belakang.
Gadis yang menyapanya tersebut memandangnya dengan tatapan heran. "Ada apa Momo-chan? Kamu terlihat serius sekali?"
"A-ah, benarkah?" ucap Momo sambil berbalik memandang gadis itu dan mengusap bagian belakang kepalanya, salah tingkah.
"Hm? Oh ya, tidak pulang?" tanya gadis itu lagi.
"Tidak. Aku akan mengikuti kegiatan klub kali ini," jawab Momo.
"Oh ya? Klub apa namanya?"
Sekali lagi Momo mengingat-ingat. "Mekaku…meka..meka..ah, MekaMeka-dan!" Mata Momo tampak berbinar saat mengucapkannya. "Ya, benar. Ne, aku harus segera ke sana! Bye bye!"
Setelah mengucapakan itu, Momo pun pergi, meninggalkan si gadis yang menatap kepergiannya dengan raut wajah bingung.
"MekaMeka-dan?"
Seluruh anggota Mekakushi-dan sedang berada di ruangannya kali ini, seperti biasa. Hanya saja karena kehadiran Marry, suasana klub tampak berbeda dan sedikit lebih ramai.
"Jadi, kita akan melakukan kegiatan apa kali ini?" tanya Marry sambil tersenyum bersemangat.
Kido, Seto, dan Kano sebagai anggota terdahulu hanya bisa saling pandang. Selama ini mereka belum melakukan apa pun sebagai klub Mekakushi-dan. Yang mereka lakukan paling hanya berdiskusi yang nantinya malah berujung pada obrolan gaje yang tidak menghasilkan apa-apa.
"Eng…" Kido ingin menjawab, tapi ia tidak tahu harus berkata apa, jadi akhirnya ia hanya bisa berkata demikian.
"Eng…" Seto sepertinya berbuat sama.
"Eng…" Kano malah ikut-ikutan.
Dan ketiganya kini ber-eng-ria seperti sedang paduan suara.
"Eng?" Marry menyumbang satu nada, ia berucap sambil memiringkan kepala. "Kalian lagi paduan suara ya?" Dan pertanyaannya itu sukses menghentikan paduan suara gagal itu.
Tok tok!
Sekali lagi ada yang mengetuk pintu dari luar, setelah itu terdengar kata "Ano," dengan suara seorang perempuan.
Anggota baru lagi! Sepertinya Mekakushi-dan tidak usah susah-susah memaksa orang untuk menjadi anggota. Sejauh ini saja sudah ada dua orang yang secara sukarela bersedia menjadi anggotanya. Mungkin berikutnya akan banyak murid yang mendaftar sebagai anggota.
Mata Kido berbinar-binar. Begitu juga dengan Seto dan Marry, tapi beda lagi dengan Kano yang malah asik ngupil.
"Anggota baru!" seru Kido, Seto, Marry bersamaan.
Seto yang kemarin jadi pembuka pintu kini bertugas menjadi pembuka pintu lagi. Dirinya sudah tidak sabar melihat wajah si anggota baru. Dari luar suaranya halus sekali, sepertinya dia perempuan yang yah, cantik :'v. Setelah pintu terbuka, muncullah seorang gadis dengan rambut oranye yang diikat menyamping.
"Ah, selamat datang di klub Mekakushi-dan, saya Seto Sousuke, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Seto. Tapi sebenarnya pertanyaan itu tidak perlu diucapkan (kenapa ditulis?)
"Ano—" Ano lagi, Momo tampaknya masih malu-malu.
"Yah, aku tau yang kau inginkan. Kau ingin bergabung dengan klub kami kan? Selamat datang, anggota baru," ucap Seto sembari mengeser tubuhnya ke samping, memberikan jalan bagi Momo untuk lewat.
Namun Momo tak langsung melangkah masuk. Ia justru menunjuk Seto dan berkata, "Kau dapat membaca pikiranku ya?"
Yang ditunjuk memiringkan kepala. Dia memang memunyai kemampuan membaca pikiran. Tapi di fanfic ini, kemampuan itu dihilangkan. Jadi dia di sini adalah manusia biasa :'v
"Ah, silahkan masuk," ucap Seto, mengabaikan ucapan Momo barusan.
Momo memasuki ruang klub dengan tatapan mengarah ke Seto. Sepertinya ia benar-benar mengira Seto dapat membaca pikiran.
"Namamu?" tanya Kido setelah Momo duduk di kursi di depannya.
Momo menunjuk dirinya sendiri. "Kau tak tau namaku?" Biasanya tanpa melihat wajahnya, orang akan langsung tau namanya. Bahkan orang yang tidak ia kenal pun sering menyapanya dan menyebutkan namanya. Yah, rasanya agak aneh jika ada orang yang tidak mengenalnya padahal mereka satu sekolah. Bukannya sombong, tapi Momo memang terkenal.
"Tidak," jawab Kido singkat. "Sebutkan saja namamu."
"Um, namaku… Kisaragi Momo."
"Ha?! Kisaragi Momo?" Marry tampak heboh.
"Ha?! Jadi kau mengenalku?" ucap Momo.
Marry mengangguk. "Bagaimana aku tidak mengenalmu? Kau adalah salah satu siswa yang paling banyak mendapat nilai merah!"
"What?!" Momo sweatdrop. Ternyata bocah albino yang mengenal dirinya ini malah menyebarkan aib. "B-bagaimana kau bisa tau?"
"Aku melihatnya di buku catatan nenekku."
"Eh? Bukankah itu perilaku tidak terpuji, Marry? Kau tidak boleh melihat buku catatan kepala sekolah seenaknya dan melihat nilai murid-murid lain," sahut Kano.
"T-tapi, aku melihatnya setiap hari, dan sepertinya tak apa-apa. Dan Kano, nilaimu ternyata lumayan jelek."
"Apa?!"
"Ni-nilaiku bagaimana?" Seto malah kepo.
"Kalau Seto sih nilainya lumayan bagus," jawab Marry.
Seto lega mendengarnya.
"Kalau aku?" Kido ikutan kepo.
"Kalau Kido, seingatku kau mendapat ranking ketiga dari seluruh kelas 10."
Mendengar itu, Kido langsung besar hati besar kepala. Dia dia merubah posisi duduk yang tadinya biasa aja jadi posisi like a boss tapi dengan gaya yang lebih "wah". Kepalanya ditundukkan, matanya dipejamkan, mulutnya dibungkam biar keren. Kemudian muncullah suara "huh" yang memiliki makna "Kido gitu loh."
"Krik krik." Jangkrik yang datangnya entah darimana kembali ikut nimbrung bersama mereka.
Ruang klub hening selama beberapa saat. Dan karena saat ada banyak, author tidak bisa menyebbutkan satu-satu.
Lalu… Kemudian… Setelah itu…
"Hum, jadi… apa aku diterima?" tanya Momo.
Hening lagi. Dan jangkrik kurang kerjaan yang ikut nimbrung bersama mereka kini bersuara lagi.
Krik krik krik krik krik krik….
"Ehem." Deheman dari Kido menghentikan nyanyian gaje si jangkrik.
"TENTU SAJA!" ucap seluruh anggota klub bersamaan.
Kemudian suara terompet, dan jedor-jedor dari kembang api serta klakson dari bis telolet ikut meramaikan suasana. (eh?)
"Momo-chan, terima kasih sudah mau bergabung dengan klub kami," ucap Seto sambil nangis-nangis gaje plus kelebaian.
Pandangan jijik dari orang-orang yang bersamanya di ruangan itu pun kini menghujam dirinya. Padahal yang lain mah biasa aja. Tapi dia malah nangis-nangis gaje kayak ngeliat tokoh favoritnya di sinetron mati. Merasa sadar diri, Seto menghentikan tangisannya. Sekarang sifat jaim khas ikemennya muncul ke permukaan.
"Kisaragi Momo-san," ucap Kido. Pandangan Momo teralih padanya. "Selamat datang di klub Mekakushi-dan.
"H-ha'I." Momo mengangguk.
"Kami tau kami memang klub yang agak tidak jelas. Tapi kami tidak menyangka masih ada orang yang mau bergabung dengan kami," sahut Kano. Dan tatapan tajam pun didapatkannya dari Kido.
"Eh, apa katamu? Bukankah kita sudah membahasnya kemarin? Kita bukan klub yang gak jelas lagi sekarang. Mekakushi-dan adalah klub yang didirikan dengan tujuan untuk membantu orang lain yang kesusahan. Ingat Kano, kita ini pahlawan. N."
"Pahlawan kesiangan?" Sebuah pukulan mendarat pada tubuh Kano yang malang sebagai akibat dari ucapannya. Tapi seperti biasa ia malah tertawa. "Bukannya bener ya? Kita kan kerjanya pas siang doang."
"Hm, kalau dipikir-pikir iya juga sih," ucap Kido sambil ngelus dagu. "Tapi tetep aja omongan lu salah!"
Kido galaknya kumat lagi. Sekarang bukannya jaim dengan tampang sok cool di depan anggota baru malah jadi ngomel-ngomel gak jelas sama Kano.
"Kido, tenanglah. Momo sama Marry pada takut tuh," ucap Seto menengahi.
Sebenarnya Momo sih gak apa-apa. Cuma Marry nya aja yang sedikit pucet.
Kido kembali ke mode coolnya semula. Deheman yang entah ke berapa kalinya menjadi penanda bahwa dia telah berubah mode.
"Oh ya," Momo kini mencoba mencairkan suasana. "Hari ini, kita akan melakukan apa?"
Dan semua pun diam.
.
.
.
makin ngawur? maafkan otak author yang rada sedeng :'v
