Bad Attitude
Chapter 2 "Craving Moratorium" [ChanBaek Story]
.
EXO's fanfiction presented by © Black Spica
.
.
HunHan|ChanBaek|KaiSoo|SuLay
Romance/Hurt/Angst
Mature rated for some adult scenes(Almost PWP)
Warning! Genderswitch for ALL ukes! Out of Character! No Children under 17! Complicated plot! Slight of crack pair but at least will be Official Pairings!
Copyright © Meira Hisaka's manga "How to Play a Honor Student" created at 2012 with some changes.
.
.
Enjoy reading!
.
.
.
.
.
Kadang aku terus bertanya pada diriku sendiri..
Apakah aku lahir ke dunia ini karena diinginkan?
Apakah benar-benar ada yang menginginkanku?
.
.
.
"Pagi, Sehuna~"
Seorang gadis cantik berambut coklat terang memasuki ruang kelas yang masih sepi.
Hampir sempurna sepi.
Hanya ada seorang namja dengan kemeja seragam berwarna putih yang membenamkan wajahnya didalam dekapan lengannya sendiri diatas meja.
Tapi karena terusik oleh sapaan tadi ia pun mengangkat wajah dan mendapati gadis cantik bermata kecil yang 3 tahun belakangan menjadi sahabat baiknya kini sudah berdiri tak jauh darinya
"Oh.. Kau datang, Baekhyun-ah?" namja bernama Kim Sehun itu hanya mengangkat tangan kanannya dan melambai ringan pada gadis itu, Byun Baekhyun.
Senyum manis Baekhyun mengembang bersamaan dengan langkah kakinya yang mendekati meja Sehun.
Ia duduk tepat didepan Sehun dan mengamati sahabatnya itu.
Rambut blonde Sehun terlihat agak berantakan, dan wajah laki-laki itu terlihat begitu murung tak seperti biasanya.
"Kau terlihat tak bersemangat.. Ada apa?" tanya Baekhyun, khawatir sepertinya.
Sehun tertawa kecil sebelum menjawab, "Masih kasus yang sama, aku rasanya hampir mati karena begitu mencintai Zhang seongsaenim..." ada sirat luka dalam tatapan Sehun.
Ya, Baekhyun tahu betul kalau Sehun begitu tergila-gila pada Zhang Yixing, guru matematika mereka. Dan hal terhebat lainnya adalah, ia justru memendam perasaan pada Sehun sejak 2 tahun yang lalu.
Tapi tentu saja Baekhyun tidak pernah mendapat kesempatan untuk sekedar memberitahu Sehun, karena orang yang ia sukai justru menyukai seorang guru yang sudah menjadi istri orang lain.
Menyedihkan memang...
"Aku tahu ini semua hanya main-main.. Tapi kenapa aku malah begini serius padanya.."
Suara Sehun bergetar, Baekhyun terperangah saat melihat setetes airmata merambat pelan di pipi Sehun. Ia menangis?
"Sehunah~"
"Ah, maaf... Padahal aku kan laki-laki.." Hanya sesaat sampai Sehun menghapus airmata itu.
Baekhyun yang hanya bisa terus mendengarkan keluhan Sehun pun tersenyum prihatin, ia sedih melihat keadaan Sehun yang dilihat darimanapun memang sedang dipermainkan oleh Zhang seosaengnim.
"Tidak apa-apa, aku mengerti perasaanmu Sehuna~" Baekhyun memberanikan diri membelai helaian rambut Sehun, berusaha memberi ketenangan.
Sehun tersenyum lega, "Terima kasih, Baekhyun-ah... Aku beruntung memiliki teman sepertimu."
Gadis berambut lurus sebahu itu ikut tersenyum, "Ya... Itulah gunanya teman."
.
Jika harus jujur, sebenarnya Baekhyun amat sangat membenci Zhang seosaengnim.
Perempuan bersuami itu tega-teganya datang, merebut perhatian Sehun, dan menjadikan Sehun mainannya.
Bukan sekali dua kali Baekhyun memergoki guru dan murid itu having sex atau sekedar making out di ruang kesehatan seusai sekolah, dan ia benci hal itu.
Sempat Baekhyun berpikir untuk membocorkan hal ini ke seluruh sekolah tapi melihat keadaan Sehun, ditambah airmata tadi membuatnya hanya bungkam.
Ia tak mau menghancurkan kepercayaan Sehun untuk saat ini.
.
.
.
.
Baekhyun berangkat lebih awal seperti biasa, karena ia tahu Sehun bahkan sudah lebih awal ada di sekolah saat ini.
Tentu saja, apa lagi kalau bukan untuk menemui guru jalang itu.
Pagi itu saat berjalan di koridor menuju kelasnya, ia melihat seorang gadis yang menempati tempat kedua dalam black-listnya.
Zhang Luhan.
Baekhyun mempercepat langkahnya seolah ia tengah terburu-buru.
Mendapati bahwa kini Luhan berjalan dari arah yang berlawanan membuatnya menyeringai senang.
Brukkh!
"Aduh!"
Ya, ini kesempatan untuk sengaja menubrukkan bahu Luhan, Baekhyun menoleh dengan tatapan luar biasa sinis setelah berhasil menerjang bahu gadis berambut hitam itu.
"Ma-maafkan aku.."
Tepat seperti dugaan, Luhan meminta maaf duluan dan Baekhyun tidak peduli hal itu. Setelah membungkuk pada Baekhyun, Luhan kembali berbalik dan berjalan.
Baekhyun melihat seorang pria tinggi berkacamata yang sepertinya menunggu Luhan tak jauh dari sana.
Baekhyun membenci mereka, Zhang Luhan dan Park Chanyeol.
Disamping kenyataan bahwa Luhan adalah adik dari Yixing, ia juga membenci pasangan idiot yang selalu terlihat sempurna itu.
'Cih, kenapa masih saja ada orang yang berhubungan dengan begitu naif?' pikirnya setelah berhenti menatap pasangan idiot itu.
.
.
Dan lagi-lagi saat kembali ke kelas ia mendapati Sehun yang terduduk lesu dengan tatapan menerawang ke luar jendela.
Harus diakui, Baekhyun benci ini.
Sejak pertama kali Sehun dekat dengan Zhang seosaengnim ia selalu merasa terabaikan, dan ia benci saat melihat Sehun berubah menjadi murung.
"Sehunah.. Aku membawa sandwich hari ini, kau pasti belum sarapan lagi kan?"
"Ditolak."
Baekhyun masih tersenyum namun mengerutkan dahinya tak mengerti.
Sehun mengalihkan tatapannya pada gadis cantik itu, dan ia tersenyum cerah—berlawanan dengan hal yang ia katakan.
"Aku sudah ditolak oleh Zhang saenim."
Baekhyun melotot tak percaya.
"Apa?"
"Dia bilang sudah bosan, dan memintaku menghentikan ini semua... Aku tahu suatu saat hari ini pasti akan terjadi.. Tapi..."
Sehun tak melanjutkan kata-katanya, hanya senyum cerahnya kini berubah menjadi senyum miris sarat luka.
Baekhyun tak tahan untuk tidak mendekati Sehun dan memeluk laki-laki itu.
Dengan posisinya yang berdiri sementara Sehun duduk, ia mendekap kepala Sehun di dadanya.
"Kalau begitu, lupakan dia... Kali ini biarkan aku yang mengisi ruang itu." Baekhyun mencoba mengambil kesempatan kali ini.
Sehun yang menyadari arah pembicaraan ini segera melepas pelukan Baekhyun, menatap aneh pada gadis itu.
Baekhyun menatap tak kalah bingung dari Sehun yang melepasnya tiba-tiba.
"Kenapa? Ada yang salah dengan kata-kataku? Ada yang salah dengan pengakuan seorang gadis yang sudah menyimpan perasaannya sejak 2 tahun yang lalu?"
Sehun makin menatap tak mengerti, bukan.. Bukan ini yang ingin ia dengar dari Baekhyun.
"Kau bahkan tidak pernah menyadari maksud dari perhatianku selama ini.. Aku mencintaimu saat kau justru mencintai seorang wanita yang umurnya jauh diatas umurmu dan dia sudah menikah!"
"Baek—"
"Aku tahu.. Aku tahu kau selalu bermain dengannya setelah pulang sekolah, harusnya kau sadar, kau hanya dijadikan budak seks dan pelarian guru jalang itu!"
Plakk!
Sebuah tamparan melayang mulus di pipi kiri Baekhyun.
Sehun mengepalkan tangannya menahan amarah. Sementara Baekhyun shock, tak sedikitpun ia mengira akan mendapat tamparan dari Sehun.
"Kita teman... Hanya itu, sampai kapanpun aku tidak akan bisa menjadikanmu seperti Zhang saenim.." Setelah mengucapkan itu Sehun berlalu begitu saja meninggalkan Baekhyun yang masih terdiam dengan tatapan kosong.
Lututnya melemas dan ia jatuh begitu saja.
"Kenapa.. Kenapa aku selalu tidak diinginkan?" Baekhyun menatap nanar pada dinding dan ruang kelas yang juga seolah menertawakannya.
Airmatanya meluncur saling berkejaran.
.
"Byun Baekhyun! Kapan kau bisa mencontoh kakakmu? Kau hanya terus menyusahkan orang tua!"
"Umma tahu sendiri kan, Baekhyun itu kesalahan.. Harusnya dia tak ada di keluarga ini."
"Kau hanya pelarian, jangan merasa jadi pacar!"
"Jadi selama ini kau bermain belakang dengan kekasihku, Byun Baekhyun?! Kupikir kita teman..."
"Orang sepertimu harusnya tak ada di dunia ini!"
.
"AAARGHH!"
.
.
.
Pulang sekolah, dan Baekhyun tak pernah merasa seburuk ini.
Sehun benar-benar mendiamkannya sepanjang kelas berlangsung dan istirahat. Ia telah menghancurkan hubungannya sendiri dengan Kim Sehun.
Dan itu yang membuatnya sekarang berjalan sempoyongan karena penuh dengan pikiran-pikiran menyebalkan.
Ia merasa semakin tak diharapkan, padahal ia pikit Sehun satu-satunya orang yang menginginkannya.
Tapi ternyata sama, Sehun tak bisa menerimanya. Kini ia yakin, tak ada satupun orang yang menginginkannya di dunia ini.
"Lalu kenapa aku hidup?" lirih Baekhyun dengan ekspresi tertekan.
Karena pusing, Baekhyun berusaha bersandar di dinding sesaat, ia benar-benar benci keadaan ini.
"Kembalikan milikku..!"
Baekhyun melirik pada ruang kesehatan yang ada di belakangnya, tempat suara tadi berasal.
Ho.. Masih ada orang disana setelah Sehun dan Zhang seongsaenim tak lagi menggunakannya?
Tunggu... Bisa saja kan orang itu...
Baekhyun segera berjalan menuju pintu ruang kesehatan dan membukanya sedikit.
Ternyata benar itu Sehun!
Jantung Baekhyun nyaris berhenti saat melihat bagaimana dua orang berbeda jenis kini berada di salah satu ranjang ruang itu.
Baekhyun membelalakan matanya seolah nyaris keluar saat melihat bahwa perempuan yang ada di bawah tubuh Sehun bukanlah lagi Zhang seosaengnim tapi justru adik dari guru itu.
Zhang Luhan!
Bisa ia lihat bagaimana tangan Sehun merambat menyingkap seragam gadis itu sementara bibirnya terbenam di leher sang gadis.
Baekhyun benci melihat ekspresi Luhan yang menurutnya seperti pelacur saat ini.
Jadi begini? Menjadikan adik dari orang yang dicintainya sebagai pelarian? Kenapa? Karna mereka mirip?
'Kenapa bukan aku? Kenapa justru Zhang Luhan?'
Baekhyun menggigit bibirnya sendiri hingga terluka karena menahan amarahnya.
Namun kemudian Baekhyun menyeringai berbahaya.
Ya, mereka yang membuat Baekhyun merasakan ini harus menerima akibatnya.. Dan ia tahu langkah kecil yang bisa membuat keduanya hancur secara bersamaan.
.
.
.
3 hari berlalu sejak saat itu, Sehun seringkali menatap heran pada Baekhyun yang berubah.
Gadis itu tak lagi menampakkan wajah sedih, sebaliknya ia justru bersikap mengacuhkan Sehun.
Apa ia berniat ingin membuat Sehun merasa menyesal dengan mengacuhkan laki-laki itu? Maka Sehun tak peduli, ia bahkan sudah menemukan seekor kupu-kupu cantik dalam genggamannya saat ini.
Tapi dugaan Sehun tentang sikap kekanakkan Baekhyun yang mengacuhkan agar ia menyesal ternyata salah.
Lebih dari yang ia tahu, Baekhyun yang sesungguhya justru lebih berbahaya.
.
.
.
Kelas 3A sudah sepi sejak bel pulang berbunyi, hanya ada seorang namja berambut madu yang masih berkutat dengan buku-buku.
Sesekali ia membetulkan kacamatanya.
Grekk..
Kegiatannya harus terganggu saat pintu ruang kelas yang sepi itu ditutup, dan laki-laki yang kita kenal sebagai Park Chanyeol itu menatap ragu pada gadis yang kini berdiri di depan pintu, tersenyum penuh arti padanya.
"Byun Baekhyun? Ada perlu apa?" Lagi-lagi Chanyeol membetulkan letak kacamatanya.
Laki-laki tampan itu menegakkan tubuh saat Baekhyun justru duduk diatas mejanya setelah berhasil menyingkirkan setumpuk buku-buku sialan yang tak pernah lepas dari seorang Park Chanyeol.
Perasaan Chanyeol menjadi tidak enak.
"Kau tidak lelah terus belajar seperti ini? Kalau kau butuh sesuatu untuk menyegarkan pikiranmu.. Aku bisa memberikannya.." Jemari lentik milik Baekhyun dengan lancang menelusuri rahang tegas Chanyeol.
"Maaf, aku tidak mengerti apa yang kau maksud.." Chanyeol segera menepis tangan Baekhyun dan membereskan buku-bukunya, beranjak secepat mungkin karena merasa gadis di hadapannya ini sangat berbahaya.
Tapi tentu saja Baekhyun tak membiarkan Chanyeol lepas begitu saja, ia menarik lengan Chanyeol dan berhasil membuat pria tinggi itu menghentikan langkah.
"Kenapa terburu-buru, sayang? Kita bahkan belum melakukan apa-apa.." perlahan Baekhyun turun dari meja Chanyeol dan menggerakkan kedua lengannya untuk melingkari pinggang pria itu.
Tubuh Chanyeol membeku saat tahu Baekhyun sempurna memeluknya dari belakang dan merasakan kepala gadis itu menyandar nyaman di punggung lebarnya.
Masih disadarkan logika, Chanyeol buru-buru melepas tangan Baekhyun dan berbalik.
"Apa yang kau mau sebenarnya?"
"Simple.. Aku hanya menginginkanmu, Park Chanyeol.." Kali ini jari-jari lentik Baekhyun justru nakal membuka kancing seragamnya sendiri hingga Chanyeol bisa melihat bahu putih gadis itu yang perlahan tersingkap.
"Kau tidak akan menemukan apa-apa dariku jika itu yang kau inginkan."
"Kenapa? Kau terlihat hebat.. Dan aku ingin merasakannya langsung."
"Maaf, aku bukan pria semacam itu, Byun Baekhyun.." Chanyeol membuka pintu kali ini benar-benar berniat pergi.
"Zhang Luhan... Kekasihmu itu juga sekarang sedang melakukannya kok."
Baekhyun kembali berhasil menahan langkah Chanyeol.
"Setiap hari.. Sepulang sekolah ia selalu 'bermain' dengan Kim Sehun di ruang kesehatan.. Aku yakin hari inipun mereka disana, dan kau bisa membuktikannya sendiri.." Baekhyun kembali merapikan seragamnya saat merasa ini cukup, dan ia berjalan melewati Chanyeol sambil berbisik.
"Kau boleh mendatangiku kapanpun kau mau.." Gadis itu kembali menyeringai setelah menatap wajah tampan Chanyeol yang menegang.
Ditinggalkannya pria itu begitu saja, ia harus kembali ke kelas mengambil tas dan bersiap melihat adegan dramatis berikutnya.
.
.
.
Langkah kaki kecil Baekhyun begitu tenang, kini tak ada lagi yang membuatnya takut.
Dan benar saja, saat melewati koridor ia menatap di kejauhan sosok Chanyeol tengah berdiri di ambang pintu kelas 2A.
'Oh.. Kali ini bukan di ruang kesehatan?' Baekhyun hanya terdiam menyaksikan tontonan gratis itu. Melihat bagaimana rahang Chanyeol mengeras dan membuat mata namja itu menatap nanar ke dalam kelas.
"Aku mendengar suara Luhan dari sini, Kalian..." Namja tinggi itu tak melanjutkan kata-katanya dan justru melangkah pergi dengan tangan terkepal erat.
Tepat seperti yang Baekhyun perkirakan.
Setelah Park Chanyeol menjauh, sosok Luhan yang berlari dengan derai airmata mengejarnya. Dan tak lama Sehun dengan seragam yang berantakan juga keluar dari ruangan kelas itu, menatap sendu pada kepergian sosok Luhan yang lebih memilih untuk mengejar Chanyeol.
Tak lama, saat mata Sehun sudah tak mendapati Luhan ia baru menyadari kehadiran Baekhyun yang tak jauh darinya.
Melihat gadis itu menyeringai membuat Sehun agak kesal.
"Apa yang kau tertawakan?" tanya Sehun sambil menatap Baekhyun yang justru berjalan santai melewatinya.
"Tak ada.." jawab gadis itu.
.
.
.
Sudut-sudut Seoul International high school mulai sepi, lagi-lagi saatnya pulang sekolah dan satu persatu para murid meninggalkan kelas.
Namun disini, masih ada dua murid yang kelihatannya betah di sekolah. Mereka justru menggunakkan gudang alat olahraga sebagai tempat mereka bercinta.
Si gadis terbaring lemah diatas sebuah matras empuk sementara sang laki-laki yang kini menguasai tubuhnya sibuk mencium lehernya.
"Anghh~ Pelan, Chanyeol-ah.."
Gadis itu—Byun Baekhyun mengeluh saat laki-laki diatasnya dengan tidak sabar mengigit leher putihnya.
Tunggu..
'Chanyeol-ah' itu.. Park Chanyeol?
Ya, tepat.
Sehari setelah kejadian Chanyeol memergoki kekasihnya yang ternyata bermain belakang, ia mendatangi Baekhyun dan menagih janji gadis itu.
Baekhyun yang didatangi Chanyeol saat selesai praktek olahraga tentu saja gembira bukan main, ia mengajak Chanyeol untuk mengikutinya ke gudang itu dan percaya atau tidak, Chanyeol segera menyerangnya seperti binatang buas.
Baekhyun kini membiarkan Chanyeol bergerak sesukanya, ia tak bisa menolak terutama saat Chanyeol melepas kacamatanya dan membuangnya sembarang.
Baekhyun tahu Chanyeol bukan laki-laki yang buruk rupa meski ia culun. Tapi ia tak pernah tahu kalau di balik kacamata itu, Chanyeol begitu sempurna.
"Hmhhh~" Gadis itu melenguh pelan karena kini tubuh polosnya tersapu udara dingin.
Chanyeol berhasil menelanjanginya, dan Baekhyun hampir saja lupa kalau laki-laki berambut madu ini seorang amatir.
Bagaimana bisa setiap gerakannya justru terasa begitu hebat?
Membuka matanya yang semula terpejam rapat, Baekhyun menatap Chanyeol yang kini berusaha memasuki tubuhnya. Gadis cantik itu berpegangan pada lengan kokoh Chanyeol sambil menikmati setiap inchi kulit tubuh Chanyeol yang memasukinya.
"Anghh.. Yeol-ah...! Shh.."
Baekhyun melempar wajahnya ke arah kiri begitu Chanyeol langsung bergerak, bahkan namja ini tak membiarkannya untuk sekedar mengambik nafas.
"Mnghh... Ah..." Baekhyun menggapai-gapai tengkuk Chanyeol dan memeluknya erat sementara tubuhnya terhentak kuat.
Chanyeol luar biasa.
Itu yang ia tahu saat merasakan langsung bagaimana laki-laki tinggi itu menguasai tubuhnya, membuatnya seperti seorang pelacur karena merengek meminta lebih dan lebih lagi.
Baekhyun harus menghentikan pemikirannya sesaat ketika setetes air jatuh mengenai pipinya.
Ia membuka mata dan menatap wajah tanpa ekspresi milik Chanyeol. Kedua mata itu terlihat basah, Chanyeol menangis?
Baekhyun benci mengatakan ini tapi ia merasa harus memeluk Chanyeol yang kini terlihat begitu rapuh.
Akhirnya gadis itu memutuskan untuk bangun meski tubuhnya terasa begitu lemas, ia membawa tubuhnya duduk diatas pangkuan Chanyeol tanpa memutus kontak tubuh mereka. Mendekap Chanyeol dalam pelukannya dan memintanya untuk tidak menangis lagi.
Namun Chanyeol hanya terdiam.
"Kau tak tahu apa-apa!"
Chanyeol segera membawa tubuh Baekhyun kembali berbaring dan memberinya kenikmatan bertubi-tubi.
Ya, Chanyeol kini memperlakukannya seperti seorang pelacur. Tapi Baekhyun rela.. Asal itu demi Chanyeol.
Meski sebenarnya ia bosan dipermainkan oleh airmata laki-laki.
.
Langkah Baekhyun terasa berat selama memasuki ruang musik.
Sedikit banyak, kegiatannya bersama Chanyeol tadi mempengaruhinya.
Gadis itu tersenyum saat melihat ruangan itu sudah kosong dan dengan mata berbinar ia berjalan pelan menuju sebuah piano besar di sudut ruangan.
Tak sabar ia meletakkan jari-jarinya diatas tuts.
Sebuah intro Debussy Clair de Lune mengalun begitu saja, lembut dan tenang.
Baekhyun menatap jari-jarinya yang begitu lincah menyentuh tuts demi tuts.
Ia bukan seorang jenius dalam bermain piano sebenarnya, hanya saja sejak satu setengah tahun terakhir ini ia selalu menjadikan piano sebagai temannya.
Ia hanya bisa memainkan 3 lagu, Debussy Clair de Lune, Kiss the Rain, dan River Flow in You yang semuanya merupakan instrumen sedih. Tanpa kata-kata ia hanya terus menjadikan piano menjadi tempatnya berkeluh kesah hingga selalu airmatanya berjatuhan begitu saja.
Meskipun piano tak akan pernah memberi solusi pada masalahmu, setidaknya ia tak akan menceritakan itu pada orang lain. Itu yang dipikirkan Baekhyun.
Karena ia tak ingin lagi percaya pada siapapun.
.
.
Baekhyun datang ke sebuah klub malam setelah memberi tahu namanya pada petugas yang berjaga, awalnya ia ragu karena tidak mungkin ia yang jelas-jelas terlihat sebagai anak SMA akan diperbolehkan masuk kesana.
Tapi ternyata orang yang mengundangnya sudah mengatur sedemikian rupa. Ya, siapa lagi kalau bukan 'pemiliknya', Park Chanyeol.
Dengan kaus serta jeans panjang yang pas membalut kakinya, Baekhyun mendekati meja dimana Chanyeol berada.
"Baek?"
Dilihatnya Chanyeol bersama dua orang laki-laki lain yang membawa wanita di kanan-kirinya, hanya Chanyeol yang tidak bersama wanita.
Dan laki-laki itu menepuk tempat kosong di sebelahnya ketika mendapati orang yang ia tunggu.
Baekhyun sedikit berjengit saat aroma alkohol menyengat segera menyapanya, namun rangkulan Chanyeol begitu membantu.
Dia membawa Baekhyun bersandar di bahu kanannya dan aroma maskulin yang selalu Baekhyun cium dari tubuh Chanyeol membuatnya merasa lebih baik.
Kedatangannya disana membuat Baekhyun tahu kalau Chanyeol hanya ingin punya alasan untuk bisa keluar. Selama perbincangan tadi dengan teman-temannya, Baekhyun merasa tak nyaman ditambah dengan wanita-wanita berpakaian minim di sekeliling teman-teman Chanyeol.
Oke, Baekhyun bukan gadis suci. Tapi ia juga bukan pelacur terang-terangan seperti itu, ia hanya melakukannya pada Chanyeol dan bahkan Chanyeol adalah yang pertama baginya.
Setelah berpamitan pada yang lain, Chanyeol segera menarik Baekhyun keluar dan membawa ke tempat dimana mobilnya terparkir.
"Kau menyuruhku bangun hanya untuk menjemputmu, huh?" kesal Baekhyun karena ia terpaksa bangun dari tidurnya dan demi Tuhan! Keluar dari rumah di jam 2 pagi.
"Akan kubayar itu dengan tempat tidur nyaman malam ini." Dengan terburu-buru Chanyeol membawa mobilnya menyusuri gelapnya Seoul pagi itu.
.
Tubuh Baekhyun terpojok menghantam dinding lift, Chanyeol yang tak tahan memanfaatkan sepinya lift untuk menyentuh Baekhyun sebagai pemanasan.
"Akh..!" Baekhyun menyentuh pundak Chanyeol saat laki-laki yang tak mempunyai status apa-apa dengannya itu mencium seluruh bagian lehernya.
"Y-yeol-ahh..." Baekhyun selalu menyerah jika Chanyeol sudah memulainya, ia terlalu hebat untuk dilawan. Dan lift yang mereka tumpangi tiba di lantai 7 tempat kamar Chanyeol berada.
Chanyeol menarik Baekhyun tak sabar dan Baekhyun sendiri tahu apa yang akan terjadi setelah ini, sebuah malam panjang. Chanyeol berbohong soal tempat tidur nyaman!
.
.
Minggu pagi, dan Chanyeol terbangun dengan Baekhyun disampingnya.
Masih terlalu awal untuk bangun sebenarnya, mengingat mereka baru tidur jam lima pagi dan ini baru jam delapan.
Tapi ternyata ada hal lain yang ingin Chanyeol lakukan, mengamati Baekhyun yang terlelap damai di sisinya. Ia begitu tenang.
Chanyeol tak tahu kenapa bisa sedamai ini ketika melihat seorang perempuan yang sempat ia benci kini tertidur nyaman di sampingnya.
Jika tertidur seperti ini, Baekhyun sama sekali tak terlihat jahat. Ia hanya seorang gadis lemah yang seperti meminta dipeluk saat ini.
Chanyeol membawa jarinya mengusap pipi Baekhyun yang cukup chubby, halus. Bibir gadis itu terbuka sedikit hingga mengundang Chanyeol untuk menciumnya.
Sesuatu yang tak pernah Chanyeol lakukan saat Baekhyun sadar.
Ya, Chanyeol tak pernah melibatkan ciuman dalam percintaan mereka. Tak sekalipun.
Tapi kali ini entah dorongan darimana, ia justru menekan dan melumat pelan bibir Baekhyun yang terasa manis.
Ia pasti sudah gila karena menginginkan gadis ini menjadi miliknya.
.
.
.
Dan begitu seterusnya, Baekhyun menjadi satu-satunya tempat Chanyeol melepas seluruh perasaan, dengan penyatuan tubuh tentunya.
Baekhyun sendiri mendapati debaran aneh setiap kali berhadapan dengan Chanyeol. Terlebih saat tahu, Chanyeol tetap menjadi Chanyeol yang dulu saat di sekolah bedanya ia tak lagi dekat dengan si primadona, Zhang Luhan.
Hanya Baekhyun yang mengetahui tentang kepribadian Chanyeol yang lain. Chanyeol yang ternyata agresif dan tidak mau kalah di atas ranjang. Laki-laki itu seperti memiliki alter-ego.
.
.
Hampir 2 minggu sejak pertama kali Baekhyun dan Chanyeol saling menyetujui hubungan ini.
Entah hubungan apa..
Karena nyatanya Chanyeol seperti hanya menjadikannya sebagai budaknya. Tapi Baekhyun pun tidak keberatan, ia menikmati apapun yang Chanyeol lakukan pada dirinya.
Ia sempat berharap laki-laki tinggi itu bisa mencintainya secara utuh, tapi ketika mengingatnya lagi sungguh itu pemikiran yang sangat konyol.
Siang itu..
Chanyeol seperti biasa ada di perpustakaan, seperti yang sudah kujelaskan.. Ia sama sekali tak merusak reputasinya sebagai siswa terbaik di sekolah meski sebenarnya ia sudah berubah.
Ia membuka-buka sebuah buku tentang ilmu pengetahuan saat pembicaraan dua orang di balik rak menyita perhatiannya.
"Kudengar Byun Baekhyun tidak dekat lagi dengan Sehun."
"Ya, kabarnya begitu.. Aku jadi ingin bermain dengannya.."
"Haha.. Sejak Sehun tak lagi dekat dengannya semua jadi terasa lebih mudah ya.."
Suara mereka menjauh, Chanyeol tanpa sadar meremas ujung-ujung buku yang ia baca, ia tak suka pembicaraan orang-orang tadi.
Tapi sebenarnya apa yang ia tidak sukai dari pembicaraan tentang Byun Baekhyun?
.
.
Chanyeol hanya berdiri di tepi sebuah jendela di koridor lantai dua.
Memperhatikan murid-murid lain tanpa ada yang tahu apa yang sedang dipikirkannya.
Dan mood-nya hampir saja memburuk saat melihat Sehun dan Luhan yang berjalan menuju ujung lorong, tak menyadari keberadaannya.
Ia pun memutuskan untuk kembali menatap ke luar, ke lapangan di bawah sana.. Dimana bisa ia lihat Baekhyun dan beberapa anggota klub atletik berlari untuk lomba yang akan diselenggarakan beberapa minggu lagi.
Sebuah garis lengkung indah tergambar di bibir Chanyeol.
Andai saja Baekhyun melihat ini, Park Chanyeol kini menatapnya dengan tatapan dan senyum yang begitu lembut.
Tapi rasanya senyuman itu harus memudar ketika kejadian tak terduga tiba-tiba terjadi do bawah sana.
Baekhyun tiba-tiba jatuh tanpa ada yang menyentuh, dan orang-orang di sekelilingnya segera berkumpul.
Senyum Chanyeol berganti menjadi ekspresi kaget dan tanpa berpikir dua kali, ia berlari menuju tangga.
Hei, untuk apa dia berlari sepanik itu?
Untuk siapa ia khawatir?
.
.
.
"Ngh..."
Baekhyun memegang dahinya sendiri saat kepalanya terasa berat.
Semakin kesadarannya pulih, ia semakin merasa pusing.
"Jangan banyak bergerak dulu.."
Gadis itu terkesiap saat mendengar suara rendah yang ia tahu milik siapa.
"Cha-Chanyeollie?" matanya semakin menyipit saat mendapati siluet yang ia yakin itu Chanyeol.
Baekhyun mengangkat tubuhnya untuk bersandar di kepala ranjang. Ia berhasil memperjelas pandangannya, Chanyeol duduk tak jauh dari ranjang itu.
Dengan rambut agak berantakan, kemeja putih yang terlihat kusut dan tanpa kacamatanya.
Ah, ini Chanyeol-nya.
Baekhyun tersenyum pada Chanyeol yang menatapnya sinis, kedua tangan laki-laki itu menyilang di depan dada.
"Anemia, kelelahan, dan dehidrasi.. Apa kau mau mati, eoh?" tegur Chanyeol, dan Baekhyun tahu laki-laki itu sedang marah kini.
Tapi kenapa?
Kenapa Chanyeol sampai semarah itu?
"Minum obatmu, aku harus kembali ke kelas.." ia beranjak hendak meninggalkan Baekhyun tapi kemudian gadis berambut sebahu itu tak tinggal diam.
Bersusah payah menahan beban berat tak terlihat di kepalanya, ia meraih lengan Chanyeol.
"Aku ikut.." ucapnya saat Chanyeol menoleh.
Gadis itu membuat Chanyeol menghela nafas kasar, "Dan membiarkanmu pingsan lagi di luar sana? Tetap disini kalau tidak mau membuatku marah.."
Baekhyun benar-benar tidak mengerti kenapa Chanyeol berubah sedrastis ini. Tiba-tiba saja ia seperti bukan Park Chanyeol yang meski biasanya memberi kehangatan tapi tetap saja dingin.
"Kenapa kau marah-marah begini?" Akhirnya Baekhyun menyuarakan pikirannya dengan tatapan aneh pada pria tinggi itu.
"Kau tidak bisa menjaga tubuhmu dengan baik tentu saja aku marah, Byun Baekhyun!"
Baekhyun semakin tak mengerti.
Laki-laki tinggi itu berjalan menuju meja milik guru UKS dan memberi Baekhyun beberapa kapsul di dalam plastik kecil.
"Itu obatmu, cepat minum.."
Baekhyun hanya tak ingin membuat Chanyeol semakin marah, akhirnya ia menurutinya.
Chanyeol sendiri yang melihat Baekhyun menjadi penurut pun mulai melunak, ia kembali duduk, menunggu gadis itu selesai meminum obatnya.
Baekhyun meminum air yang diberikan Chanyeol untuk menelan kapsul terakhir, bersamaan dengan tangan Chanyeol yang terangkat membelai surai coklatnya.
Ia tersentak, menurunkan gelas yang semula bersentuhan dengan bibirnya dan menatap tak percaya pada Chanyeol.
"Berusahalah untuk menjaga tubuhmu sendiri." sekilas Baekhyun tak ingin percaya bahwa yang kini ia lihat adalah ekspresi khawatir dari Chanyeol.
"Kau kenapa? Mengkhawatirkanku? Seperti bukan dirimu saja." Baekhyun berusaha cuek dan menaruh gelas kembali ke atas meja.
Chanyeol menghela nafas lagi.
"Apa yang aneh jika aku mengkhawatirkanmu?" dahi Laki-laki itu mengernyit, sungguh Baekhyun ingin tertawa melihat perubahan Chanyeol yang terlalu drastis ini.
"Oh.. Aku mengerti.. Tentu saja kau mengkhawatirkanku, ah maksudku mengkhawatirkan tubuhku.. Karena ini satu-satunya hal yang membuatmu terus mendatangiku kan? Tenang saja, aku bisa buktikan kalau tubuh ini tidak apa-apa.." Baekhyun membuka kancing-kancing kemeja seragamnya dengan perasaan terluka yang anehnya karena kata-katanya sendiri.
Tapi lebih dulu tangan Chanyeol mencengkram agar dua sisi seragam itu tak terpisah dan memperlihatkan kulit Baekhyun seperti biasanya.
"Don't you dare, Byun Baekhyun.. Bukan itu yang aku mau.."
Baekhyun lagi-lagi hanya mampu terperangah karena Chanyeol benar-benar terlihat menyeramkan baginya kini.
"Bisakah kau berhenti berpikir bahwa aku hanya menginginkan tubuhmu saja?"
"Lalu apa? Bukankah memang begitu kenyataannya?"
"Kau—"
"Kau sendiri tahu aku tak punya apa-apa selain tubuhku ini..." nafas Baekhyun tercekat sesaat terutama saat ia menekan kata,'tak punya apa-apa'. Ya, itulah yang selalu orang-orang katakan padanya. Bahkan keluarganya sendiri.
Baekhyun terburu- buru memegangi seragamnya dan memakai sepatunya asal-asalan.
"Baek—"
"Aku mau pulang!"
Dan gadis itu pergi tanpa bisa ditahan.
Chanyeol menendang ranjang di depannya saat sadar Baekhyun benar-benar pergi.
.
.
.
Prakk..
Baekhyun tersentak, kegiatannya mengeringkan rambut terusik saat sebuah benda menampar pipinya.
Dilihatnya benda yang terjatuh diatas lantai itu.
Dan matanya melebar saat tahu itu adalah kotak kondom yang harusnya ada di Chanyeol, atau sialnya saat ini terbawa olehnya.
"ANAK KURANG AJAR! KATAKAN MILIK SIAPA BENDA ITU?!"
Baekhyun menarik ujung bibirnya, tersenyum sinis.
"Sejak kapan umma peduli pada urusanku?"
Dan ucapan Baekhyun sama sekali tak membuat keadaan membaik, nyonya Byun justru terlihat semakin marah.
Mendengar ibunya berteriak-teriak, sang putra sulung keluarga Itu pun masuk ke dalam kamar Baekhyun.
"Ada apa umma?!" tanya laki-laki yang menjadi kakak kandung Baekhyun itu.
Byun umma hanya menunjuk benda yang menjadi sumber masalah ini. Baekhyun semakin malas karena kakak 'terhebat'nya itu kini kembali ikut campur.
Ia tahu kakaknya itu akan kembali mencaci makinya tapi sungguh ia tak tahu kalau kali ini ia justru melakukan kekerasan fisik, tiba-tiba saja rambut Baekhyun ditarik hingga gadis itu merasa kulit kepalanya akan ikut lepas.
"AAKHH!"
"TIDAK TAHU DIRI! BAGAIMANA BISA KAU MELAKUKAN HAL BIADAB SEPERTI INI, BYUN BAEKHYUN?!"
"Le-pas! Apa pedulimu tentang urusanku.. Cukup kau menjadi anak yang selalu disayang appa dan umma! Tak perlu ikut menggangguku!" rintih Baekhyun.
Plak!
Sebuah tamparan melayang mulus untuk Baekhyun. Sungguh ini pertama kalinya kakak kandungnya itu melakukan kekerasan fisik, biasanya ia hanya membuat mentalnya jatuh dengan segala macam caci maki.
"Kau memang sebuah kesalahan di keluarga ini.. Harusnya kau tidak ada.. Tidak pernah ada, Byun Baekhyun!"
Untuk kesekian kalinya Baekhyun mendengar kalimat itu, tapi ditambah dengan panas di pipinya membuatnya nekat untuk segera pergi dari ruangan itu.. Dan akhirnya keluar dari rumah dengan hati yang begitu sakit.
Mereka semua tak pernah memperlakukannya dengan baik, bagaimana bisa seorang saudara kandung justru memusuhinya sejauh ini?
Dengan airmata yang tak juga berhenti, Baekhyun membiarkan kakinya melangkah entah kemana.
.
.
.
Berakhir di sebuah taman yang cukup jauh dari rumahnya, Baekhyun terduduk lemas di sebuah ayunan.
"Kenapa aku tidak mati saja?"
Ia menatap kosong pada tanah di bawah sana.
Tak ada satupun yang bisa ia jadikan pegangan bahkan untuk sekedar menampung tangisannya.
Kenapa hidupnya begini buruk?
Baekhyun tertawa, dan terus tertawa karena merasa kehidupan mempermainkannya.
Tak ada satupun orang yang peduli padanya.
Setidaknya itu yang ia pikirkan sampai sebuah suara memanggilnya.
"Baekhyun!"
Gadis itu menoleh dan mendapati seorang laki-laki tinggi dengan kaus putih dan celana pendek mendekatinya.
"Astaga! Apa yang terjadi padamu?"
Chanyeol.
Apa ini kebetulan? Kenapa Chanyeol?
Baekhyun hanya memandang lurus dengan tatapan kosong saat Chanyeol yang panik mengusap sudut bibirnya yang terluka akibat tamparan tadi.
Ia tak kuat, ia tak bisa lagi menahan beban ini.
Dan tangan Baekhyun terulur begitu saja, memeluk erat pinggang Chanyeol yang berdiri di hadapannya dan membenamkan wajah di perut laki-laki itu.
Bahu Baekhyun bergetar dan Chanyeol bisa merasakan kausnya yang perlahan terasa basah, Baekhyun menangis. Ia mengelus punggung gadis itu, hatinya terasa sakit melihat keadaan Baekhyun seperti ini.
.
.
.
Chanyeol berhasil membawa Baekhyun kerumahnya dengan alasan untuk mengobati lukanya. Baekhyun pun menurut karena saat ini ia memang butuh suatu destinasi, dan ia rasa Chanyeol satu-satunya tempat.
Gadis itu hanya duduk tertunduk di tepi ranjang Chanyeol sejak sepuluh menit yang lalu, Chanyeol kembali memasuki kamarnya itu dengan segelas susu hangat.
"Baek.."
Chanyeol berhasil membuat Baekhyun mengangkat wajah. "Ini.. Minumlah dulu, mungkin bisa membantumu lebih tenang." ia menyodorkan susu itu dan dengan lemah Baekhyun menerimanya.
Chanyeol mengusap rambut Baekhyun lagi seperti saat di ruang kesehatan, dan itu membuat Baekhyun merasa nyaman.
Ia merasa sentuhan Chanyeol begitu menenangkan dan lebih hangat dari susu yang kini sudah berpindah melewati kerongkongannya.
"Jangan simpan masalahmu sendiri, kau bisa mengandalkanku.." untuk pertama kalinya sejak ia merebut laki-laki ini dari Luhan, Baekhyun melihat senyum lembut di wajah tampan itu.
"Y-yeol.. Aku.. Kau tidak seharusnya sebaik ini.."
"Hm? Wae?" Baekhyun kaget saat laki-laki di sebelahnya itu justru menariknya untuk duduk di pangkuannya.
"A-ani hanya saja... Itu... Membuatku semakin merasa bersalah.." ia tertunduk sambil memegang tangan Chanyeol tang menangkup perutnya.
"Huh? Kenapa kau berpikir begitu?"
"Tentu saja.. Aku.. Aku yang membuatmu berpisah dengan Luhan dan aku ini hanya... Hanya—"
"Pelarianku?" putus Chanyeol.
Baekhyun tak mampu berkata lagi.
"Demi Tuhan, Byun Baekhyun.. Bukankah aku sudah bilang untuk berhenti menganggap aku ini hanya menginginkan tubuhmu saja?"
Baekhyun menggigit bibirnya yang masih terasa perih.
"Aku ingin kita serius, baek.. Sungguh, aku tidak bisa menjadikanmu hanya sebuah mainan.. Aku justru ingin melindungimu.."
Dada Baekhyun seperti dialiri sesuatu yang hangat saat mendengar itu.
"Tidak mung-kin.." sergah Baekhyun.
"Baek.. Dengar dulu.. Aku tahu hubungan kita berawal dari hal yang tidak menyenangkan dan aku terus bersikap tak baik setelah itu.. Maaf... Tapi sepertinya, aku mulai menyukaimu.."
Baekhyun sungguh tidak tahu kalau Chanyeol justru akan bicara hal sensitif seperti ini. Ini terlalu... Di luar harapan?
Baekhyun tak pernah berpikir bahwa Chanyeol akan menyukainya.
"Tidak.. Ini salah!" Baekhyun bangun dari duduknya dan menatap langsung ke dalam mata Chanyeol.
"Ini salah, Yeol! Aku yang membuatmu berpisah dengan Luhan! Aku ini jahat dan tidak pantas menerima itu!" jelasnya.
Chanyeol menggenggam tangan Baekhyun, "Tidak ada yang salah, Baek.. Aku tahu kau hanya seorang gadis lemah yang menyimpan masalahmu sendiri, atau diam-diam menceritakannya pada sebuah piano."
Baekhyun terkejut, Chanyeol tahu?
"Aku jadi berpikir, aku terlalu cepat menilaimu buruk saat aku tahu kau hanya mencoba bertahan dengan keadaanmu.. Dan aku sadar, aku sudah melakukan hal yang salah di awal hubungan kita.."
Baekhyun tak bisa berkata apa-apa.
"Harusnya aku tak perlu marah tentang kejadian Sehun dan Luhan yang memang mencurigakan sejak lama, harusnya aku tidak perlu melampiaskan kemarahanku padamu, dan harusnya aku tidak menyetubuhimu saat i—" Baekhyun membungkam Chanyeol dengan sebuah pelukan.
"Chanyeol-ah!"
Chanyeol menangkap tubuh mungil itu dan mengusap rambut Baekhyun.
"Maaf Baek.. Aku hanya ingin kita menjadi sesuatu yang baru, aku sungguh menyesal karena hubungan tak bertanggung jawab ini.. Aku benar-benar menyukaimu, kau boleh membunuhku jika tidak percaya!"
Baekhyun tertawa, "Aku... Aku tidak percaya bukan karena tidak yakin padamu, Chanyeol-ah.. Tapi tidakkah kau berpikir ini terlalu cepat? Kita bahkan baru sebulan bersama."
"Tapi itu membuatku sangat yakin, kau tahu.. Aku mulai merasakannya saat aku menciummu."
Baekhyun mengernyit tak paham, "Me-mencium? Kau tak pernah melakukan itu."
"Ya, kau benar aku tak pernah menciummu saat kau sadar.. Karena aku tahu ciuman sangat berbahaya, itu bisa mengikat dan sekarang aku percaya."
Baekhyun masih tak mengerti.
"Aku menciummu saat kau tertidur, Baek.. Saat kau menginap disini.."
Tiba-tiba saja wajah Baekhyun memerah. Ia tak tahu mengapa tapi.. Chanyeol yang ia pikir tak pernah mau berciuman dengannya justru mengambil ciumannya diam-diam dan itu sudah lama.
"Baek?"
"Ka-kalau begitu cium aku sekarang, supaya aku juga yakin..."
Chanyeol tersenyum geli, " Kata-kata yang bagus."
Dan Chanyeol segera menarik tubuh Baekhyun kembali ke pelukannya.
Ia melupakan sejenak masalah dengan keluarganya tadi, menikmati kebersamaannya dengan Chanyeol yang terasa seperti pertama kali.
Ia sekarang tahu bagaimana rasanya diinginkan.
Baekhyun hanya berharap Chanyeol bisa menjadi satu-satunya hal baik dalam hidupnya, hanya itu.
.
.
.
To Be Continued.
.
.
Chapter 2 dan ini ChanBaek!
Tenang aja meski ini tentang per-couple tp cerita mereka(HunHan ataupun ChanBaek) belom selese sampe disini.
Maaf ya kalo gak puas sama update-an ini.
Chapter depan punya KaiSoo
Seeya in the next chap! ^^
Thankseu!
.
.
Sign.
Black Spica.
