Tittle : My Blood of Twins

Genre : angst, family, and school life

Cast :
Cho Kyuhyun (Choi Kyuhyun)
Choi Siwon
Kim Kibum (Choi Kibum)
Kim Heechul
Kembaran Kyuhyun masih dirahasiakan. Mohon bersabar untuk next chapter. Hihihihi

Summary : Sebuah kenyataan yang mengejutkan terkuak dalam keluarga Choi. Dua putra Choi Siwon yang sebelumnya akrab menjadi sedikit renggang saat seseorang mulai menyusup dalam mansion mewah. Orang yang tak pernah mereka kenal dan mereka harapkan, namun berbanding dengan Choi Siwon yang sangat menyayangi pendatang baru di kehidupannya.

Note : Ada sedikit catatan di bawah... boleh dibaca, boleh diabaikan juga. Eumm... jangan lupa review ya! ^_^

Ini agak pendek... 10 halaman. Hehehe...

Kyuhyun mendominasi di next chapter... kn chapter kmarin, Kyu udah eksis. Sekarang gantian. Kkkk

.

.

.

.

Happy Reading...

My Blood of Twins

Chapter 3

Awan putih bergerak terbawa angin. Langit biru masih terlihat cerah menghiasi langit meskipun musim telah berganti. Mansion mewah itu terlihat begitu mewah dan natural dengan banyaknya tumbuhan yang diatur sedemikian rupa. Taman bunga di sekitar gazebo, juga sebuah kolam ikan yang mengalir layaknya sungai kecil mengitari mansion.

"Mom..." Suara panggilan lirih berhasil memecah kesunyian yang ada.

Wanita paruh baya dengan gaun berwarna biru, menolehkan kepalanya untuk melihat seorang remaja yang menggunakan setelan berwarna hitam. "Ada apa?" Senyuman tipis terukir di bibir wanita itu kala mengetahui jika anaknya sedang membawa sebuah map berisi rekam medis.

"Apakah ini tidak berlebihan?" Remaja itu mengambil tempat di samping ibunya. Duduk di sana sembari menunjukkan halaman terakhir yang berisi sebuah keterangan.

Menggeleng pelan, wanita itu mengusap kepala anaknya dengan lembut. "Tidak sayang. Hanya dia yang bisa menyelamatkanmu."

Wajah remaja itu merengut, ia tidak mengerti kenapa hanya satu orang yang bisa menolongnya. "Mom, meskipun dia saudara kembarku. Tapi ini sudah belasan tahun kami terpisah." Tidak bertatap muka dalam waktu yang lama bukanlah sesuatu yang bagus. Dibesarkan di tempat yang berbeda dan hanya mengetahui keberadaan kembaran tanpa mengenal namanya.

Kekeha kecil meluncur dari bibir ranum wanita itu. "Tidak mungkin jika Henry yang menjadi pendonor. Sejak bayi, Henry memiliki imun yang sangat lemah. Tahun lalu ia juga baru saja menjalani operasi karena kecelakaan." Ia harus terus mendorong anaknya yang satu ini agar bersedia mendatangi saudara kembarnya.

Menghela nafas pasrah. Tatapan remaja itu berubah sendu dan sarat akan rasa takut yang tak bisa diungkapkannya. "Aku mengerti mom. Sangat mengerti... Tapi kenapa harus pergi ke tempat yang tidak aku kenali? Apakah mereka akan menerimaku?" Takut karena kemjnhkina besar ia akan dibenci atau bahkan dihardik secara kasar.

"Appa mu akan sangat senang dengan kedatanganmu. Mereka pasti juga senang. Kau bukan remaja nakal yang sering membuat ulah hingga pantas untuk dibenci." Tangan wanita itu menakup pipi anaknya yang kini mulai agak tirus.

Tatapan sendu perlahan berubah nanar, sepasang netra itu berkabut dan siap menumpahkan liquid bening. "Mom... Tidak bisakah mom bertahan lebih lama?" Harapan seorang anak yang takut akan 'kehilangan'. Ini sesuatu yang wajar terjadi kala melihat sosok ibu yang dicintai sedang bertarung dengan penyakit.

Grep

Wanita itu menarik tubuh anaknya ke dalam pelukannya. Pandangannya menerawang jauh ke depan tanpa fokus, sementara tangannya menepuk-nepuk punggung sang buah hati untuk menenangkan kekalutan yang melanda. "Semuanya ada di tangan Tuhan. Namun melihat keadaan mom yang sudah seperti ini... Sulit rasanya untuk berjanji bisa bertahan hingga Kyuhyun, Kibum, dan appa kalian datang."

Sakit... Rasanya sangat sakit kala sepasang telinga mendengar kata-kata bermakna perpisahan seperti itu. "Mom tidak boleh menyerah..." Bisik remaja itu dengan lirih.

"Cukup hanya mom yang harus pergi karena penyakit ganas ini. Kau tidak boleh menyusul eomma sebelum usiamu 60 tahun. Hiduplah dengan baik bersama tiga kakak, satu adik, dan appa yang akan melindungimu." Permohonan kecil diucapkan seorang ibu dengan tulus untuk anaknya. Berharap agar hati yang masih muda itu tidak akan menyerah pada keadaan lalu memilih untuk pergi bersama rasa sakit.

Meski Tuhan yang menggenggam kehidupan. Tapi selama jiwa masih tertanam dalam raga, kata 'menyerah' bukanlah sesuatu yang patut untuk dilakukan.

.

.

.

.

.

Krystalaster27

Suara detik jarum jam mengisi keheningan yang ada. Alunan instrumen karya Yiruma juga mengalun lembut di ruang tengah mansion megah yang didominasi warna putih.

"Ini alamat tuan besar di Korea Selatan." Kepala pelayan berumur setengah abad menyerahkan sebuah dokumen kepada remaja yang tak lain adalah majikannya.

Sebelah alis remaja itu terangkat, cukup terkejut dengan nama negara yang akan dikunjunginya. "Korea Selatan? Aku kira daddy ada di Swiss juga. Seperti kami yang menggunakan bahasa Korea tapi menetap di luar negeri." Sedari kecil mommy nya memang mengatakan jika ada dua saudaranya yang lain tinggal dengan sang appa, namun tidak pernah sekalipun mommy mengatakan jika mereka tinggal di negara yang berbeda.

"Ini nama siapa?" Telunjuk remaja itu mengarah pada sebuah nama yang tercantum di urutan keempat.

"Itu identitas anda dengan nama Korea." Kepala pelayan menjelaskan.

Mengangguk paham, remaja bersurai coklat itu memperhatikan deretan nama yang dilihatnya. "Jadi margaku Choi. Daddyku bernama Choi Siwon, dan kakakku bernama Choi Kibum serta Choi Kyuhyun. Siapa yang merupakan kembaranku?" Ia hanya mengetahui jika kembarannyaemiliki nama inggris 'Marcus' tetapi tidak mengetahui tentang nama aslinya.

"Tuan muda Choi Kyuhyun."

'Kyuhyun' nama yang cukup mudah untuk diingat dan rupanya hanya berbeda satu suku kata saja dengan nama koreanya. "Choi Kyuhyun. Aku sebagai adik atau kakak?" Status itu penting bukan. Mengetahui siapa yang lahir terlebih dahulu bisa menentukan sikap tingkatan kesopanan.

"Anda adalah adik." Kepala pelayan dengan sabar menjawab pertanyaan majikan mudanya. Ia sudah puluhan tahun mengabdikan diri untuk bekerja dengan nyonya Stella. Jadi semua masa lalu tentunya diketahuinya dengan baik.

"Ah, jadi begitu..." Semuanya sudah jelas sekarang. Hanya tinggal menemui mereka dan melakukan segala hal yang diinginkan oleh mommynya.

Kepala pelayan menyodorkan sebuah amplop coklat yang masih bersegel. "Ini tiket anda."

'Tiket? Secepat ini?' karena terlalu penasaran, remaja itupun membuka amplop coklat dan melihat jadwal penerbangan yang tercantum. "Penerbangan pukul 17.00? Hari ini?"

"Benar. Tiket untuk penerbangan hari ini menuju Korea Selatan. Semua perlengkapan sudah disiapkan." Membenarkan pertanyaan terkejut yang terlontar dari majikan mudanya.

Menghela nafas...

Secepat inikah harus meninggalkan Swiss dan menginjakkan kaki di atas tanah asing? Sungguh hal yang tidak bisa disangka. "Tapi, bagaimana dengan Aiden?"

Ya. Aiden juga ikut andil dalam perjalanan ini. Lebih tepatnya semuanya ikut andil. Namun untuk Henry, ia berangkat paling akhir setelah semua kondisi bisa dipastikan.

"Tuan Aiden akan menyusul jika semua urusan sudah selesai." Memang banyak sekali urusan yang harus dituntaskan. Aiden adalah yang paling tua, tanggungjawab yang besar ada di pundaknya.

"Baiklah... Aku akan pergi." Tidak ada pilihan lain lagi. Mau atau tidak, ia sadar jika jalan terbaik hanya ini. Meskipun keraguan, khawatir, dan perasaan was-was mendominasi.

.

.

.

.

.

My Blood of Twins

Awal musim dingin di Korea Selatan, salju memang belum turun, tapi dedaunan sudah berguguran dari ranting pohon. Suhu udara sangatlah rendah, tubuh bisa membeku jika tidak mengenakan pakaian hangat. Langit sudah melukiskan semburat kemerahan, namun tak ada niatan sedikitpun untuk mengetahui ini pukul berapa.

Seorang remaja dengan setelan yang sangat modis terlihat menggeret koper dari pintu kedatangan bandara Icheon. Rambut berwarna kecoklatan dan kulitnya yang sangat putih, sukses menarik perhatian puluhan pasang mata.

Pesona dari remaja asal Swiss itu sangat kuat hingga banyak pula yang mengeluarkan ponsel untuk memotretnya diam-diam.

Tap

Tap

Tap

Sepatu berwarna hitam mengkilap mengetuk lantai bandara, tungkai kaki yang cukup panjang berbalut celana jeans ketat. Penampilan yang sangat memikat dengan tubuh proporsional. Langkahnya begitu mantap seperti seorang model yang sedang menampilkan pesona terbaiknya.

"Ahjussi. Tolong antarkan ke kediaman CEO Choi Corporation di Seoul." Remaja itu masuk ke dalam taxi setelah mengucapkan sebuah alamat yang dituju.

Hening... Perjalanan dari bandara Icheon menuju seoul terasa begitu lambat bagi remaja kelahiran Korea Selatan itu. Banyak pepohonan yang tumbuh berjajar rapih di sepanjang jalan, namun di bagian jalan yang lain, hanya ada gedung-gedung pencakar langit ataupun bagunan-bangunan mewah. Jalanan sudah cukup ramai. Sepertinya aktifitas pagi telah dimulai.

Ckittt

Rem yang berdecit menandakan jika perjalanan telah berakhir. Hunian megah berdiri kokoh, tidak kalah mewah dengan mansion di Swiss. Hanya saja bagunan megah ini terasa dingin dan hampa seolah tidak ada kehangatan dari penghuninya.

"Inikah rumahku?" Monolog remaja bersurai coklat itu kala netranya menangkap papan bertuliskan 'Choi Corporation' yang menempel pada pagar.

Kaki jenjang mulai melangkah mendekati bagian samping beton pagar yang terdapat sebuah intercom di sana.

"Annyeonghaseyo... Saya ingin bertemu dengan tuan Choi Siwon karena ada hal penting yang harus saya sampaikan. Kode keamanan 03 02 01." Remaja itu menegapkan tubuhnya kembali setelah mengucapkan sesuatu yang diyakininya sebagai kata kunci paling akurat agar bisa memasuki mansion Choi tanpa harus menunjukkan tanda pengenal.

"Silahkan masuk!" Sebuah suara merespon. Tidak lama kemudian pintu gerbang bergeser dan menampilkan seorang satpam yang menyambut dengan senyuman tipisnya.

Remaja tersebut mengikuti langkah satpam, kakinya menapaki jalan beraspal yang ternyata membawanya menuju teras mansion Choi.

"Desain interior yang sangat indah." Pujian spontan terlontar ketika remaja itu masuk ke dalam ruang tamu mansion Choi yang ternyata sangat megah.

Satpam berusia kisaran 40 tahun itu berhenti melangkah di dekat sofa. "Silahkan duduk dulu! Saya akan memanggilkan tuan muda." Mempersilahkan sang tamu untuk duduk sejenak selama dirinya memanggilkan tuan muda.

"Eoh..." Menurut untuk duduk sejenak di sofa.

Tap

Tap

Tap

Lima menit berselang. Suara langkah kaki terdengar sayup-sayup dan makin nyaring, tanda jika ada yang berjalan menuju ruang tamu.

"Nugu?" Namja dengan wajah stoic bertanya pada tamu yang tampak terpaku untuk beberapa saat melihat dirinya muncul dari koridor.

Tersadar jika melakukan hal tidak wajar dengan menatap tanpa berkedip. Remaja tersebut membungkukkan badan untuk melakukan sapaan. "Oh, annyeonghaseyo!"

Pyarrr

Gelas berisi air mineral yang dibawa oleh Kibum, terjatuh begitu saja. Tergelincir bebas dari tangannya karena terkejut ketika menyadari siapa yang ada di hadapannya saat ini.

"Kau-" ucapan Kibum tertahan di ujung lidahnya. Atensinya menangkap siluet tubuh Kyuhyun yang muncul dari pintu masukasion Choi.

"Kau mengenaliku?" Senyuman lebar tercetak di bibir remaja itu. Rasa bahagia membuncah dalam hatinya ketika sadar jika salah satu kakaknya mengenali wajahnya.

"Tidak mungkin!" Tanpa sadar Kibum sedikit memekik tertahan. Kepalanya juga menggeleng pelan beberapa kali.

Kyuhyun kini sudah berdiri di samping Kibum. Atensinya mengamati sang tamu yang masih berdiri tegak dengan ekspresi netral. Wajah yang asing... Kyuhyun merasa tidak pernah mengenali wajah itu dari teman-teman Kibum, temannya, ataupun anak dari teman sang appa. "Kibum hyung mengenalinya? Kenapa reaksi hyung sangat terkejut?" Pertama kalinya Kyuhyun melihat mimik ketakutan nampak begitu jelas di wajah hyung nya.

"Jadi kau yang bernama Kibum." Remaja itu tersenyum lalu mencoba untuk mengikis jarak agar bisa menyapa Kyuhyun juga.

Sepasang netra Kibum terbelalak. "Jangan mendekat!" Tangan kanannya merentang ke depan. Isyarat agar si tamu tidak mendekati dirinya ataupun Kyuhyun.

"Wae? Kyuhyun, apa kau tidak mengenaliku?" Sepasang obsidian berwarna karamel itu menatap penuh kecewa pada Kyuhyun. Reaksi Kibum barusan, sedikit banyak telah mengisyaratkan jika Kyuhyun sama sekali tidak mengenalinya.

Mengernyit sekilas. "Tidak. Memangnya siapa kau?" Tidak faham mengenai pernyataan ambigu yang jelas saja tidak dimengertinya. Kenapa tamu ini berlaku seolah begitu mengenali Kibum dan juga dirinya?

Sang tamu menarik nafas dalam. Emosinya berkecamuk sekarang, tidak ada cara lain lagi jecuali mengungkapkan yang sebenarnya. "Aku saudara-."

"Hentikan!" Kibum mengintrupsi pernyataan sang tamu.

Sreet

Sebuah tarikan keras dilakukan Kibum untuk menyeret tamu tidak diundang itu agar keluar dari mansion Choi secepatnya.

"Akhhh... Kibum. Lepaskan!" Perlakuan yang sungguh tidak relevan sekali. Penyiksaan diawal pertemuan bukanlah sesuatu yang patut dicontoh. Ini keterlaluan!

Bruggh

Tubuh remaja berpakaian modis, kini terhempas begitu saja. Terjerembab di atas aspal dingin yang tentunya menggores telapak tangan hingga menghasilkan beberapa lecet kecil.

"Apa yang kau lakukan di sini?" Tatapan Kibum menajam, kebencian mendalam terlihat sangat jelas dari rahangnya yang mengeras.

"Aku ingin menemui appa dan juga kalian." Hanya jawaban ini yang mampu diucapkan. Tidak mungkin jika langsung menyebutkan tujuan aslinya yang mengharapkan donor dari saudara kembarnya.

"Tidak, kau tidak boleh kesini!" Tolak Kibum dengan tegas dan sarat akan kemarahan.

Mengerjapkan mata. "Waeyo?" Tidak mengerti mengapa ia ditolak mentah-mentah diawal pertemuan yang sungguh berkesan ini.

"Jebal! Pergilah! Jangan kesini lagi." Kini intonasi Kibum berubah penuh rasa permohonan. Takut... Kibum terlalu takut jika Kyuhyun akan marah atau bahkan mengamuk jikalau ia tahu akan kebenaran yang selama ini ditutup rapat.

Secepat kilat Kibum membalikkan tubuhnya, melangkah masuk melewati pagar kemudin menutup pagar dengan keras dan menguncinya pula. Membiarkan kembaran Kyuhyun tetap berada di luar.

"Yakkk! Kibum, jangan pergi!" Teriakan lantang barusan tidak berarti apapun. Kibum jelas sudah menolak kehadirannya, namun bukan berati jika tuan Choi akan melakukan penolakan juga kan?

Berdiri dengan cepat, ringisan kecil meluncur tatkala rasa nyeri terasa di beberapa bagian tubuh yang tadi terbentur aspal karena jatuh terjerembab. Bisa dipastikan jika ada memar di bagian yang terasa nyeri itu.

"Dengar Choi Kibum! Aku tidak akan pergi dari sini hingga tuan Choi yang menolakku!" Entah yang barusan terucap itu sebuah kebodohan atau justru sebuah ultimatum yang bagus. Sekarang yang diperlukan hanya sabar menantikan kedatangan tuan Choi.

.

.

.

.

.

Krystalaster27

Di dalam mansion Choi...

Obsidian Kyuhyun memincing curiga, kedua lengannya bersedekap di depan dada, menjntut sebuah penjelasan pada Kibum yang baru saja masuk. "Jelaskan padaku hyung! Pasti ada sesuatu yang kau sembunyikan. Apa maksud tamu itu? Siapa yang saudara siapa?" Kyuhyun tidak bodoh untuk menyadari keanehan reaksi yang ditunjukkan oleh hyungnya tadi.

Wajah stoic adalah cara terakhir yang dilakukan Kibum untuk mengendalikan emosinya secara tidak langsung. "..." Bibir tipis itu setia mengatup, tak berminat sedikitpun untuk menjawab dengan fakta sebenarnya.

"Hyung! Jawab aku!" Tanpa kendali, Kyuhyun pun berteriak. Jengah melihat sikap Kibum yang memilih untuk bungkam seolah tidak ada sesuatu yang perlu dijelaskan.

Tap

Tap

Tap

Tungkai kaki Kibum berjalan menuju meja di sudut ruangan yang menampung banyak foto keluarga. Potret dirinya dengan Kyuhyun dari kecil hingga setahun yang lalu ketika mereka merayakan Chuseok.

Tangan kanan Kibum meraih ganggang telfon lalu jari tangan kirinya bergerak menekan angka 4 untuk menyambungkan panggilan pada post penjaga di dekat gerbang. "Jo ahjussi. Tolong tetap kunci gerbangnya hingga appa datang. Jangan biarkan tamu tadi masuk lagi meskipuj ia memohon sekalipun dengan menyebutkan kode pertemuan penting." Kibum langsung mengucapkan perintahnya pada satpam yang berjaga.

'Ne, tuan muda.'

Tuk

Kibum meletakkan ganggan telfon setelah mendengar jawaban dari satpam penjaga.

Suara Kibum yang lumayan keras, tentunya dapat didengarkan oleh Kyuhyun. Nalarnya masih sibuk mencerna baik-baik dan mencoba untuk menerka sesuatu. "Hyung..." Panggil Kyuhyun dengan pelan.

"Anggap saja tamu tadi tidak pernah datang kesini." Kibum melangkah melewati Kyuhyun tanpa membalas tatapannya. Semua yang terjadi telah membuatnya kebingungan dan frustasi secara bersamaan.

"Apa itu temanmu hyung? Dia terlihat masih sangat muda meskipun tubuhnya tinggi semampai." Tanya Kyuhyun dengan hati-hati. Ia bukanlah orang yang mudah menyerah untuk mendapatkan penjelasan jika rasa penasarannya sudah membuncah.

"Hah, yang benar saja. Tamu tadi tidak kukenali. Kau jangan mengada-ada!" Sungut Kibum tanpa sadar.

Pergi... Kibum memutuskan untuk segera menjauh dari Kyuhyun sebelum adiknya itu menuntut sesuatu yang lebih. Jika Kibum boleh mengharapkan sesuatu yang keji, maka ia berharap agar kembaran Kyuhyun lebih baik tidak pernah ada. Hal buruk pasti terjadi andaikata Kyuhyun mengetahui rahasia yang telah ditutup serapat mungkin selama belasan tahun. Rahasia besar mengenai keberadaan saudara yang lainnya serta sosok eomma yang beberapa hari lalu dipertanyakan oleh Kyuhyun.

.

.

.

.

.

My Blood of Twins

Suhu udara masih terasa begitu dingin. Bahkan kicau burung saja tidak terdengar menyambut pagi yang lumayan terang untuk ukuran penghujung musim gugur.

Pagar besi yang tinggi nan menjulang terlihat begitu menarik dengan desain lengkungan-lengkungan yang menghiasi bagian atasnya. Namun di mata remaja berpakaian serba hitam, gerbang tersebut lebih layak diumpamakan dengan pagar rongsokan yang menutupi jalannya.

"Ahjussi. Tolong buka gerbangnya!" Berteriak dengan lantang adalah cara terakhir yang dapat dilakukan. Intercom sudah dimatikan beberapa saat lalu.

Selot kecil berukuran sebesar kepalan tangan terbuka. Terlihat wajah satpam yang mengintip di sana. "Maaf, sebaiknya anda pulang saja. Tuan muda Kibum menyuruh saya untuk mengunci gerbang." Entah kenapa ada rasa gusar yang menyergap hatinya. Semuanya karena sang tamu menggunakan kode khusus untuk bisa memasuki mansion Choi yang sangat ketat peraturannya dalam menerima pengunjung.

Klek.

Selot kecil tadi kini sudah menutup kembali. "Keterlaluan sekali. Kata mommy, orang Korea Selatan itu menjunjung tinggi sopan santun. Tapi aku diusir seperti ini. Sangat mengesankan." Cibiran setengah mengejek akhirnya terlontar juga. Kelas tata krama yang selama ini diikutinya bersama Aiden serta Henry seolah tidak ada artinya lagi.

"Hei, kau Choi Kibum! Dengar ya! Aku tidak akan pergi meskipun badai salju menerjangku!" Biar saja tubuhnya mati membeku karena kedinginan. Jika tuan Choi datang, pastilah kesalahan akan dilimpahkan pada Kibum.

Setiap ucapan adalah doa. Beberapa saat kemudian, langit mulai nampak suram dengan awan-awan kelabu yang tentunya bukanlah awan hujan. Menyesal? Hanya sedikit, karena rasa kesal sudah membuat hati remaja itu menjadi cuek dengan apapun yang akan menimpanya. Untung saja di dalam kopernya ada beberapa makanan serta minuman yang bisa membuatnya bertahan hingga keesokan hari.

.

.

.

.

.

My Blood of Twins

Hotel di dekat bandara Icheon masih padat terisi banyak orang berpakaian formal. Sebuah acara penting baru saja selesai diselenggarakan. 'Rapat pemegang saham' itulah acara yang berhasil melibatkan puluhan CEO dari banyak perusahaan besar yang dinilai memiliki pengaruh besar bagi perkembangan perekonomian negara.

Pria paruh baya yang masih terlihat tampan di usianya yang sudah lebih dari 50 tahun sedang berjalan menghampiri asistennya. "Jadwalku sudah selesai atau belum?" Bertanya untuk memperoleh sebuah kepastian.

"Sudah Choi uisa." Sang asisten menjawab setelah mengecek schedule yang tercatat di ponselnya.

Helaan nafas lega terdengar dari pria paruh baya. Hari ini cukup melelahkan karena ia harus menghadiri rapat perusahaan. Setelah menyelesaikan kewajibannya sebagai dokter di Rumah Sakit, ia langsung bertolak menuju hotel. "Aku ingin pulang, tolong siapkan mobilnya!" Tidak ada lagi jadwal yang menanti. Itu artinya waktu istirahat sudah menyambut di hunian megahnya yang nyaman.

"Baik Choi uisa." Sang asisten pergi menuju tempat parkir.

Selama menunggu mobil disiapkan. Pria bernama Choi Siwon, mencoba untuk mengecek ponselnya. Mencari barangkali ada pesan teks penting atau sekedar sapaaan dari kedua putranya yang kini telah beranjak dewasa.

Waktu berjalan dengan cepat. Tanpa terasa sudah hampir 16 tahun hidup tanpa dampingan seorang istri di sampingnya. Masa lalu yang rumit, tanpa sadar berputar kembali dalam benak pria bermarga Choi.

Pingg

Sebuah notifikasi mengenai ramalan cuaca muncul di layar ponsel Siwon.

"Badai salju pukul 19.20? Sekarang pukul 17.30." Gumam Siwon saat membaca notifikasi yang tempampang. Perjalanan pulang kurang lebih bisa ditempuh dalam waktu 1 jam jika melaju dengan kecepatan rendah dan keadaan lalu lintas yang pastinya padat pada saat menjelang malam.

"Choi uisa, mobilnya sudah siap." Panggilan dari sang asisten membuat perhatian Choi Siwon beralih.

"Eoh, terima kasih... Sampaikan berkas ini pada Heechul. Biarkan ia yang menghandle semuanya karena jadwalku di Rumah Sakit penuh untuk seminggu ke depan. Jadi aku tidak akan mampir ke perusahaan." Siwon menyerahkan tas jinjing yang berisi dokumen kepada asistennya.

"Apakah tidak lebih baik jika anda berhenti saja? Anda lebih cocok duduk di kursi CEO." Pertanyaan ini tertahan di lidah dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Menjadi asisten seorang Choi Siwon, membuatnya memahami jika Choi Siwon sangat sibuk hingga waktu istirahat yaang diperoleh tidak lebih dari 7 jam setiap harinya.

"Ini impian istriku... Dia ingin menjadi dokter tapi tidak bisa karena harus menikah denganku. Apalagi keluarganya tidak setuju. Jadi biar aku saja yang mewujudkan impiannya." Senyuman kecut terukir, Siwon ingat saat ia membawa kabur Stella dan menikahinya secara sah hanya dengan bermodalkan restu dari ayah Stella.

Eomma Stella adalah wanita yang menginginkan agar anak semata wayangnya menikah dengan Heechul yang dinilai lebih kaya dalam segi materi. Itu memang benar adanya. Saham Siwon hanya 30% sedangkan saham Heechul 45%. Ia dengan Heechul adalah sepupu, semuanya sangat rumit pada masa itu.

Sang asisten tersenyum. "Anda suami yang menakjubkan. Rela mengambil study di fakultas yang bertolak belakang dan juga tidak malu karena menjadi mahasiswa paling tua seangkatan." Sedikit banyak, ia memahami sepak terjang yang dilalui Siwon untuk mencapai posisinya sekarang ini.

"Hahaha... Kau bisa saja Youngwoon-ah. Aku hanya berselisih 3 tahun dengan yang lainnya. Sudahlah, jangan dibahas lagi." Siwon harus mengakhiri pembicaraan ini. Ia tidak ingin merasakan saki hati kala memori masa lalu menyeruak dan tak mampu dikendalikannya.

To be continue...

Akankah Choi Siwon bertemu dengan kembaran Kyuhyun?

Apakah kembaran Kyuhyun tetap berada di luar rumah meskipun badai salju terjadi?

Apa yang sebenarnya terjadi hingga semuanya menjadi rumit seperti ini?

Kyuhyun... Bagaimana reaksinya kala menyadari jika tamu itu adalah kembarannya sendiri?

Penasaran? Sama. Saya juga. Kkkk

Karena saya juga penasaran. Sejauh apa imajinasi saya mampu mwrangkai konflik dan menjadikannya sebuah fanfiction dengan alur yang menarik. Kkkk

.

.

.

.

.

Annyeong...

Jumpa lagi dengan Krystalaster27. ^_^

Adakah yang sadar jika 3 fanfict karyaku memuat inti topic yang serupa? Yups...

My Secret of Identity

My Blood of Twins

Dan

Perfect Memory

Menggunakan inti cerita 'saudara yang terpisah'.

Kenapa q bikin seperti ini? Alasannya karena q ingin mengabadikan sebuah kisah nyata yang terjadi di sekitarku mengenai 'perpisahan antar saudara'. Ini bentuk apresiasi secara tidak langsung. Hehehe...

Pada ff My Secret of Identity. Cast Kyuhyun dikisahkan terpisah dari keluarganya karena faktor kebencian dari Kibum dan Heechul. Karena kematian sang eomma terjadi tidak lama setelah kelahiran Kyuhyun. Inspirasi mengenai kondisi Kyu, aku ambil dari seseorang yang kisahnya aku ketahui agak telat. -_- Untuk tingkat kejeniusannya, inspirasi dari manusia jenius berinisial WJS. Sayangnya sbelum menghasilkn sebuah karya untuk sains, ia sudah meninggal dan menyisakan sejarah unik akan depresi yang seringkali dialami oleh para ilmuwan. Ada secuil ilmu yang aku ambil dari buku-buku di perpustakaan.

Pada ff My Blood of Twins, aku mengisahkan tentang 2 saudara kembar non identik yang terpisah sejak bayi dan harus bertemu kembali ketika remaja karena kembaran Kyuhyun sakit dan membutuhkan donor. Inspirasi penyakit, aku ambil dari tetangga nenekku yang juga mengalami hal serupa. Konflik lebih ke arah masalah internal keluarga. Huffft... #MenghelaNafas

Terakhir... ff Perfect Memory. Ff tersebut memang sedang aku garap. Genrenya agak serupa dengan MSOI namun versinya lebih rinci dan cukup banyak ilmu yang kuselipkan juga. Hehehe...

Sabar nantikan ff ini ya. ^_^ Aku masih ngerancang alurnya sedemikian rupa agar tidak terjadi tubrukan / kemiripan / terkesan monoton dengan ff karyaku yg lainnya. Tahun depan... entah kaapannya. Q masih menentukan timer yang tepat untuk publish chapter 1 nya.

By the way... Aku senang jika ada yang menantikan ff ini. Ceritanya d ff MBOT lebih cenderung pada konflik antara Kyuhyun dengan kembarannya. Kkkkk