Sincere Love
Cast
Kim Mingyu
Jeon Wonwoo
Hong Jisoo
Pair
Meanie
Warning
Fict abal, angst gagal, Typo, Boys Love.
Don't like Don't Read.
.
.
.
Mingyu datang lagi ketempat itu. Seperti hari-hari kemarin, dirinya kembali tak menemukan Wonwoo. Dua minggu tak bertemu, membuatnya benar-benar merindukan sosoknya. Kembali menghela nafas -entah yang keberapa kali- dan berbalik untuk pulang.
"Kim Mingyu~"
Suara itu membuat dirinya meghentikan langkah kaki. Dia berbalik kearah tadi, namun tetap kekosongan yang dia temukan. Sepertinya dia mulai berhalusinasi saking rindunya dengan Wonwoo.
"Yakk, Kim Mingyu kenapa kau diam saja?"
Lagi suara itu terdengar oleh telinganya. Kali ini lebih jelas terdengar. Melihat kesekelilingnya dan tetap tak menumakan sosok pemilik suara tersebut.
"Aishhh pabbo, lihat lah kebelakang Mingyu,"
Mingyu mengikutinya, melihat kearah belakang. Dan disana dia hanya melihat sebuah pohon yang berdiri kokoh.
"Lihat lebih keatas Gyuieeee~"
Mendongakkan kepalanya keatas dan kali ini dia bisa melihat si pemilik suara.
"Hai Mingyu~ sapa Wonwoo yang sedang duduk diatas pohon.
"Wonwoo?" tanya Mingyu memastikan kalau itu bukanlah hayalannya.
"Iya Mingyu ini aku Wonwoo," jawab Wonwoo santai.
"Kau benar-benar Jeon Wonwoo? Kau nyatakan?" tanya Mingyu rada absurd.
"Aku bukan hantu Gyu~ jadi aku masih nyata," ujar Wonwoo mulai sewot.
"Kkkk~ aku bercanda Woo~" kekeh Mingyu.
"Huh, menyebalkan,"
"Lalu, apa yang kau lakukan diatas sana?" Mingyu kembali bertanya.
"Ahhh, aku hanya ingin mencoba melihat pemandangan dari tempat yang lebih tinggi, dan kau tahu? Pemandangannya benar-benar mengagumkan Gyu~" jawab Wonwoo dengan nada ceria.
Tanpa sadar membuat senyum Mingyu ikut terlukis dibibirnya saat melihat senyum cerah Wonwoo. Akhirnya doa nya dikabulkan oleh tuhan. Rasa rindunya terobati sudah dengan sosok Wonwoo yang kembali hadir. Mendengar suara tawa Wonwoo membuat hatinya menghangat. Sepertinya Tuhan sudah benar-benar membuat dirinya terjerat oleh pesona malikatnya.
"Woonie~ turunlah, aku ingin memelukmu," pinta Mingyu.
"Aku tak bisa Gyu," ujar Wonwoo dengan nada menyesal.
"Kau tak mau memelukku?" tanya Mingyu sedih.
"Bukan begitu, aku ingin memelukmu," Mingyu bisa melihat wajah bersalah Wonwoo, "Hanya saja, aku tak tahu caranya turun dari atas sini," lanjut Wonwoo dengan malu-malu.
"Pfttt dasar bodoh," ujar Mingyu menahan tawanya.
"Yakkk kau bilang apa eoh?"
"Aku bilang kau bodoh Woonie hyung~"
"Ishhhh aku tak bodoh tahu," ujar Wonwoo tak terima.
"Yasudah kau loncat saja hyung," saran Mingyu.
"Takk mau, nanti badanku sakit kalau jatuh,"
"Aku akan menangkapmu hyung," ujar Mingyu.
"Kau serius ingin menangkapku?" tanya Wonwoo.
"Aku serius hyung," jawab Mingyu.
"Baiklah, aku akan melompat,"
Wonwoo kemudian berdiri diatas dahan, dan mulai menjatuhkan dirinya. Mingyu menangkapnya, namun keseimbangan yang dia miliki masih kurang, dan mengakibatkan mereka berdua terjatuh diatas rumput. Dengan Wonwoo yang menindih badan Mingyu.
Wonwoo membuka matanya dan dia bisa melihat wajah tampan Mingyu dari dekat. Wajah Wonwoo reflek memerah melihatnya. Mingyu membuatnya terpesona. Sedang yang ditatap masih setia menutup matanya.
"Urghhh menyingkirlah hyung, badanmu berat tahu," keluh Mingyu.
Wonwoo yang tersadar kalau dirinya masih menindih Mingyu, kemudian menyingkir dan berbaring disebelah Mingyu, menjadikan lengan Mingyu sebagai bantalannya.
"Aku tak berat Gyu~" protes Wonwoo.
"Kalau kau enteng, kita tak mungkin terjatuh,"
"Itu salahmu yang tak bisa menjaga keseimbangan," ujar Wonwoo.
"Yayaya, terserah kau saja hyung," pasrah Mingyu.
Mereka kembali terdiam. Memandangi langit malam yang penuh dengan bintang. Dengan Mingyu yang sesekali mengusap rambut Wonwoo.
"Sudah malam, kau tidak pulang hyung?" tanya Minguu.
"Nanti saja, aku ingin lebih lama dengan Mingyu hari ini," jawab Wonwoo.
"Aigoooo manisnya," gemas Mingyu.
"Oh ya Gyu, sebentar lagi ulang tahunmu kan?" tanya Wonwoo.
"Emmm kau mengingatnya hyung?" Mingyu malah berbalik bertanya.
"Tentu saja aku mengingatnya," bangga Wonwoo. "Apa yang kau inginkan dihari ulang tahunmu?"
"Aku hanya ingin tiga hal," jawab Mingyu.
"Apa itu Gyu?" Wonwoo penasaran akan jawaban Mingyu.
"Aku hanya ingin kasih sayang dari orang tuaku, memiliki lebih banyak teman, dan terakhir cinta dari orang yang kucintai setulus hati," ujar Mingyu diakhiri dengan senyum tulusnya.
"Wahh orang itu pasti sangat beruntung karna dicintai dengan begitu tulus olehmu," gumam Wonwoo getir. Dia berpikir bahwa Mingyu sudah mempunyai orang lain yang disukainya. Dan itu berarti cintanya bertepuk sebelah tangan.
"Aku lebih beruntung, kalau orang yang kucintai juga mencintai diriku dengan tulus," ujar Mingyu.
"Baiklah aku akan membantumu mengabulkan semua keinginanmu," ujar Wonwoo dengan sangat percaya diri.
"Memangnya kau yakin bisa mengabulkan semua itu eoh?"
"Tentu saja aku bisa Gyu~, aku kan malaikat yang diutus tuhan untuk memberimu kebahagiaan," narsis Wonwoo.
"Mana ada malaikat yang jelek seperti mu," goda Mingyu.
"Aishhh aku tak jelek Kim Mingyu," kesal Wonwoo dan mencubit pinggang Mingyu.
"Awwww sakit hyung," Mingyu mengelus bekas cubitan Wonwoo, "Baiklah aku percaya kau bisa mengabulkan keinginanku, aku pegang kata-katamu Cheonsa," ujar Mingyu.
Mereka memejamkan mata menikmati angin malam yang berhembus. Wonwoo masih memikirkan keinginan Mingyu yang terakhir. Dia takut hatinya hancur, kalau harus melihat Mingyu bahagia dengan pasangannya nanti.
'Tapi aku tak yakin akan mengabulkan keinginanmu yang ketiga atau tidak,' ujar Wonwoo dalam hati.
.
.
.
From: Wonwoonie~
'Gyu, besok kau bawa sepedamu nde, aku ingin bersepeda kesungai han,'
Mingyu tersenyum membaca pesan dari Wonwoo. Entah ada angin apa, tiba-tiba Wonwoo mengajaknya bersepeda. Padahal selama ini Wonwoo selalu menolak saat dirinya mengajak bersepeda.
To: Wonwoonie~
'Baiklah hyung, besok aku akan membawa sepedaku,'
Balas Mingyu dan dia tak menerima balasan lagi dari Wonwoo. Sepertinya hyung manisnya itu sudah terlelap. Dirinya juga bersiap mengunjungi alam mimpi. Namun baru beberapa detik memejamkan mata, suara diluar sana mengganggunya.
Suara bantingan atau pecahan sesuatu, dan disusul dengan suara yang saling memaki. Mereka berisik sekali, bagaimana Mingyu bisa tertidur kalau diluar sangat berisik. Ingin rasanya dia berjalan keluar kamar dan memaki kedua orang tuanya. Namun Mingyu masih menghormati mereka, dan tak mungkin melakukan hal itu.
Jadi yang dia pilih adalah menutup telinganya dengan headseat dan menyetel musik sekeras mungkin. Lalu mulai memejamkan matanya tanpa memperdulikan orang tuanya yang -lagi-lagi- bertengkar.
.
Wonwoo baru mau membalas pesan Mingyu. Tapi Jisoo hyung lebih dulu masuk kekamarnya.
"Sudah kubilang berapa kali padamu, jangan banyak bergerak dulu Woonie~ apalagi menggunakan tangan kananmu," peringat Jisoo.
"Tapi, aku mau membalas pesan Mingyu hyung," rengek Wonwoo.
"Taruh ponselmu atau aku tak akan memperbolehkanmu keluar besok," ancam Jisoo.
"Tapi, hyung~"
"Jeon Wonwoo menurutlah,"
"Aishhh hyung menyebalkan," geruti Wonwoo namun tetap menuruti perintah Jisoo.
Jisoo sendiri tersenyum melihat adiknya menuruti kata-katanya. Diambilnya telspak tangan kanan Wonwoo. Mengusap sebiah jarum yang kembali menghiasi punggung tangan Wonwoo.
"Aku tak suka melihat jarum ini tepasang kembali ditanganmu," gumam Jisoo.
"Maafkan aku hyung," sesal Wonwoo.
Ini semua salahnya. Karna memaksakan diri lebih lama dengan Mingyu. Membuatnya kondisinya kembali menurun. Untungnya dokter tidak menyarankan dirinya dirawat dan hanya dipasangkan selang infus untuk membuatnya membaik.
"Hahh, hyung mengerti kalau kau ingin lebih lama bersamanya, tapi kau juga harus memperhatikan kesehatanmu," ujar Jisoo.
"Maafkan aku hyung, maaf," dan Wonwoo hanya bisa meminta maaf karna membuat hyungnya bersedih.
Jisoo membawa Wonwoo kedalam pelukannya, mengusap rambut coklat milik adiknya. Dia bisa melihat beberapa helai rambut milik Wonwoo yang rontok ditangannya. Membuat Jisoo kembali merasa sedih dan takut.
"Jangan pernah tinggalkan hyung, Wonnie. Hanya kau keluarga yang hyung punya," ujar Jisoo sebisa mungkin menahan air mata yang akan keluar.
"Emm, aku tidak bisa berjanji hyung," gumam Wonwoo.
Jisoo mendengar gumaman Wonwoo, dan lagi-lagi membuatnya sadar kalau dia tak bisa melampaui takdir tuhan. Melepas pelukannya setelah berhasil mengontrol emosinya. Dia menangkup pipi Wonwoo dan mencium kening milik adiknya.
"Tidurlah Woonie. Kau perlu energi untuk besok,"
Jisoo membantu Wonwoo berbaring, lalu menyelimutinya hingga sebatas dada.
"Selamar malam Woonie,"
"Selamat malam hyung,"
Dan ucapan selamat malam Wonwoo mengakhiri interikasi penuh kasih sayang dari sepasang saudara. Jisoo tak bisa membayangkan kalau harus kehilangan anggota keluarganya lagi. Andai bisa, Jisoo ingin meminta tuhan untuk menggantikan posisi adiknya.
.
.
.
Kali ini giliran Mingyu yang menunggu kehadiran Wonwoo. Dirinya mulai merasa bosan karna ternyata sudah satu jam menunggu. Sebuah mobil hitan berhenti didepannya. Dan sosok yang ditunggunya keluar dari dalam mobil.
"Maaf membuatmu menunggu Gyu," sesal Wonwoo.
"Hahhh, kufikir kau tak jadi datang hyung," kesal Mingyu.
"Maaf~"
"Ini bukan salah Wonwoo," suara seseorang meninstrupsi percakapan mereka. Mingyu mengalihkan pandangannya kearah seseorang yang keluar dari mobil yang sama dan berdiri disebelah Wonwoo.
"Hong Jisoo, aku kakak Wonwoo," Jisoo mengulurkan tangannya dan memperkenalkwn dirinya.
"Kim Mingyu," ujar Mingyu seadanya dan menjabat tangan Jisoo sekilas.
"Baiklah kalau begitu aku titip adikku hari ini," ujar Jisoo pada Mingyu. "Dan kau Jeon Wonwoo, jangan terlalu memaksakan diri hari ini," nasehat Jisoo.
"Aku mengerti,"
"Anak pintar," Jisoo kembali mengusak rambut Wonwoo, "Hubungi aku jika kau sudah selesai, hyung akan menjemputmu disini," perintah Jisoo dan dijawab anggukan oleh Wonwoo.
Jisoo kemudian masuk kembali kedalam mobilnya. Lalu menggasnya, meninggalkan Wownoo berdua dengan Mingyu.
"Itu hyungmu?" tanya Mingyu.
"Hu'um, dia tampan kan?"
"Ani, dia jelek hyung. Aku bahkan lebih dan lebih tampan dari hyungmu," ujar Mingyu.
"Cihh kau terlalu narsis,Gyu,"
"Tapi itu memang kenyataan hyung," Mingyu menaiki sepedanya. "Cepat naik," suruh Mingyu.
"Ummm naik dimana Mingyu?" tanya Wonwoo bingung.
"Yentu saja dibelakang hyung,"
"Maksudmu aku harus berdiri begitu?" tanya Wonwoo memastikan.
"Yups, kau benar hyung," jawab Mingyu santai.
"Mwo? Sirreo, aku bisa pegal kalau harus berdiri. Lagipula kenapa kau tidak bawa sepeda yang ada boncengannya," keluh Wonwoo.
"Aku tak punya sepeda perempuan seperti itu,"
"Tapi namja juga banyak yang memakainya ko," balas Wonwoo tak mau kalah.
"Aishhh kau ini cerewet ya. Cepat duduk didepanku,"
"Maksudmu dibesi sepeda itu?"
"Iya cerewet, kau mau tidak. Kalau tidak mau kita batalkan saja acara jalan-jalannya," ancam Mingyu.
"Baiklah, aku akan naik,"
Dan Wonwoo mendudukan dirinya diatas besi sepeda. Tangan kanannya menggengam stang sepeda sedangkan tangan kirinya menggenggam erat kaos milik Mingyu dibelakangnya. Ini pertama kalinya dia dibonceng seperti ini.
Biasanya dia selalu dibonceng dibelakang oleh hyungnya atau teman-teman yang sudah mengenalnya dengan baik. Mingyu sendiri seperti mendapatkan Jackpot hari ini. Bisa mencium harum rambut Wonwoo dari sangat dekat. Wangi Strawberry bercampur Vanila, membuat Mingyu harus bisa menahan hormon dewasanya. Dan tidak mungkin menerkam Wonwoo ditengah perjalanan.
Mingyu mulai mengayuh sepedanya. Mengendarainya dengan pelan menuju sungai han. Senyum masih tak lepas dari bibirnya. Rasanya seperti melakukan kencan romantis dengan sang kekasih. Senyum juga tak bisa lepas dari bibir Wonwoo, akhirnya dia bisa merasakan udara segar dipagi hari lagi. Setelah sebelumnya hanya bisa merasakan udara rumah sakit yang memuakkan.
"Gyu, apa yang akan kita lakukan di sungai han nanti?" tanya Wonwoo.
"Emmm entahlah, aku belum memikirkannya hyung," jawab Mingyu.
"Aku juga sama Gyu," gumam Wonwoo.
"Yasudah kita berjalan-jalan saja disekitar sungai han," usul Mingyu.
"Yahhh, kupikir itu menyenangkan,"
Mereka akhirnya sampai disungai han. Mingyu menghentikan sepedanya, mengistirahatkan sebentar dirinya yang lelah mengayuh. Wonwoo sudah berlari untuk lebih dekat melihat sungai Han.
"Hyung jangan lari-lari nanti kau jatuh," teriak Mingyu.
"Tak akan Gyu," balas Wonwoo dan menghadap Mingyu sekilas.
Wonwoo masih terus berlari, dan dia bisa melihat seorang anak kecil yang sedang terduduk sambil menangis. Karna penasaran, Wonwoo menghampiri anak itu. Lalu berjongkok didepannya.
"Anak manis kenapa kau menangis?" tanya Wonwoo sambil mengusap lembut rambut anak itu.
"Unghh hiksss aku teljatuh hyung dan lututku telluka, hiksss ini pelih," jawab anak itu lengkap dengan aksen cadelnya.
Wonwoo melihat lutut anak itu, dan benar saja lutut itu terlihat tergores dan mengeluarkan darah.
"Aigoooo pasti perih sekali," ringis Wonwoo.
"Ne, ini pelih hyung hikssss,"
"Hyung ada apa?" tanya Mingyu saat sudah sampai disebelah Wonwoo.
"Ahhh Gyu, bisa kau belikan obat merah dan plester luka dimini market sana, aku ingin mengobati lutut anak ini," pinta Wonwoo.
Mingyu melihat sekilas lutut anak itu yang terluka, lalu berjalan menuju mini market diseberang jalan.
"Nah, hyung itu sedang membelikan obat untukmu, jadi berhenti menangis nde," ujar Wonwoo.
"Aku tak mau diobati hyung, hikss nanti lututku tambah pelih," ujar anak itu menolak.
"Eihhh hyung akan mengobatinya dengan sangat pelan, jadi kau tak perlu khawatir merasakan perih arraso," jelas Wonwoo.
"Emmmmm Shilleo~" dan anak kecil itu masih menolak.
"Ini hyung yang kau pinta," Mingyu kembali dan menyerahkan barang-barang yang dipinta Wonwoo.
"Huweee aku tak mau diobati," tangis anak itu mulai kencang membuat Mingyu dan Wonwoi panik.
Mingyu ingat kalau dirinya sempat memebeli lollipop dimini market tadi. Dikeluarkannya lolipop tersebut, lalu menyerahkannya kepada anak kecil itu.
"Ini hyung berikan untukmu, tapi kau harus mau untuk diobati okay," bujuk Mingyu.
Anak itu terdiam sejenak, dia ingin lolipop itu. Tapi dia tak mau diobati.
"Tenang, hyung akan mengobatinya dengan sangat pelan," dan kali ini Wonwoo yang membujuknya.
Akhirnya anak itu mengangguk dan mengambil lollipop yang sudah dibuka bungkusnya oleh Mingyu.
"Anak pintar," Mingyu mengusak rambut anak tersebut.
Wonwoo tersenyum melihat interaksi Mingyu dan anak kecil itu. Dia mulai mengobati luka anak itu dengan hati-hati dan menutupnya dengan plester bermotif kelinci.
"Nahhh selesai," ujar Wonwoo.
"Eohhh kenapa tidak pelih hyung," bingung anak itu.
"Kan hyung sudah bilang kalau tak akan perih, kau saja yang tak percaya pada hyung," Wonwoo mencubit gemas hidung anak itu.
"Heheh telima kasih hyung,"
"Sama-sama,"
"Oh ya hyung belum tahu siapa namamu?" tanya Mingyu.
"Emmm namaku Kim Dong hyuk, tapi teman-teman seling memanggilku hyukkie," jawab anak itu.
"Ahhh kalau nama hyung Kim Mingyu dan hyung manis ini Jeon Wonwoo," ujar Mingyu dan dihadiahi sebuah cubitan mesra dilengannya.
"Emmm salam kenal Mingyu hyung yang tampan dan Wonwoo hyung yang manis,"
"Aishhh hyukkie, hyung juga tampan," balas Wonwoo tak terima.
"Tapi menulut hyukkie hyung manis,"
"Sudah hyung terima saja," ujar Mingyu dengan senyum jahilnya.
"Kau ini, mengajari anak-anak hal yang tidak benar,"
.
.
.
Tak lama seorang wanita memanggil Dongh hyuk. Mereka berdua berpikir kalau tu ummanya Dong hyuk, tapi ternyata dia adalah ibu panti asuhan.
"Terimakasih sudah menjaga Dong hyuk," ujar sang ibu panti.
"Emm tak apa ajhumma, kami senang bermain dengan Dong hyuk," balas Wonwoo.
"Hahh, Dong hyuk itu anak yang ceria dan senang sekali melakukan hal baru. Jadi agak sulit untuk kami menjaganya," jelas sang ibu panti.
"Tapi sayang, dokter memfonis umurnya tak lama lagi, Leukimianya sudah menyebar dengan cepat," sedih ibu panti tersebut.
Mendengar itu membuat Mingyu dan Wonwoo terkejut. Mereka tak menyangka anak kecil yang ceria seperti Dong hyuk menyimpan penyakit mematikan didalam tubuhnya.
'Kenapa tuhan tega memberikan penyakit mematikan seperti itu pada Dong hyuk,' pikir Wonwoo.
"Ibu, ayo kita pulang. Aku lapar, dan ingin memakan masakan Hani Nunna," ujar Donghyuk.
"Ahh baiklah, kajja kita pulang berikan salam pada hyungdeul yang sudah menjagamu," perintah ibu panti.
"Hyung tampan dan hyung manis terimakasih sudah mau menemani hyukkie," uajr Dong hyuk polos.
Wonwoo kemudian berlutut menyamakan tingginya dengan anak itu. Lalu memeluknya dengan erat
"Kau harus kuat nde, jangan merepotkan orang - orang disekitarmu. Dan ceria lah selalu," bisik Wonwoo.
Donghyuk sendiri hanya bisa mengerjapkan matanya polos, tak terlalu mengerti apa yang dikatakan hyung manisnya itu.
Wonwoo masih mengeluarkan air matanya walau Donghyuk dan ibu panti sudah pergi. Mingyu jadi khawatir melihat air mata yang keluar dari mata Wonwoo. Dia lalu memeluk erat tubuh Wonwoo dan mengusap punggungnya.
"Hyung, berhentilah menangis. Aku tak suka melihatnya," pinta Mingyu.
"Dong hyuk begitu tegar Gyu, kenapa tuhan begitu tega memberikan penyakit mematikan sepeti itu pada Dong hyuk," gumam Wonwoo ditengah isakannya.
"Tuhan punya rencananya sendiri hyung, dan kita hanya bisa menjalani rencana yang sudah tuhan berikan dengan hati yang tegar," ujar Mingyu.
Wonwoo menghentikan tangisannya. Dan Mingyu mengusap bekas air mata dipipi Wonwoo.
"Kajja, kita bersepeda lagi," ajak Mingyu.
"Kita harus pulang Gyu, sudah hampir malam,"
"Baiklah aku akan mengantarmu sampai rumah,"
"Tak perlu, Jisoo hyung akan menjemputku ditempat biasa,"
"Hahh, ini adalah penolakan sekian kalinya,"
Dan Mingyu berjalan lebih dulu menghampiri sepeda yang diparkirnya tadi. Wonwoo hanya bisa melihat punggung Mingyu yang menjauh.
"Berarti aku juga harus tegar menjalani rencana yang tuhan berikan padaku, Gyu,"
.
.
.
Mingyu memasuki rumahnya. Dirinya ingin segera mandi dan menghubungi Wonwoo. Mereka sudah berjanji akan mengobrol ditelepon. Namun senyum Mingyu luntur seketika saat melihat orang tuanya bertengkar didepan matanya. Mereka bahkan tak berhenti bertengkar walau tahu Mingyu ada didepan mereka.
"Apa maumu Jung ah, kau selalu menuduhku berselingkuh tanpa bukti," teriak Appa Kim.
"Aku punya buktinya In Suk, dan semua sudah jelas. Kau memang berselingkuh dengan sekertarismu," balas Ummanya.
"Cukup! Aku lelah dengan semua tuduhan konyolmu. Kau juga tak becus mengurusi keliarga dan anakmu. Ibu macam apakau hah,"
"Dia juga anakmu Kim, dan kau juga ambil andil dalam mengurusnya," ujar Ummanya tak terima disalahkan.
"Lebih baik kita bercerai, aku akan mengirim surat cerainya besok," dan ucapan final dari appanya membuat tubuh Mingyu menegang.
"Baiklah kalau itu maumu, aku setuju untuk bercerai," teriak Umma Kim.
Appanya berjalan keluar rumah mereka, melewati dirinya tanpa menyapanya sedikit pun. Dia juga melihat Ummanya berjalan kelantai atas memasuki kamarnya tanpa memandangnya sedikitpun. Apa mungkin dirinya sudah tak beraeti untuk mereka, bahkan mereka mengganggapnya seperti tidak ada disekitar mereka.
Mingyu lelah dengan semua ini, tidak bisakah tuhan mencabut nyawanya saja. Padahal besok ulang tahunnya. Inikah hadiah yang tuhan berikan untuknya.
Mingyu membawa kakinya menuju kamarnya, melempar begitu saja tasnya diatas ranjang dan jatuh terduduk disana. Ponselnya berdering dan Mingyu segera mengangkatnya.
"Yeobseo," jawab Mingyu lemah.
"Mingyu, kau baik-baik saja?" tanya Wonwoi khawatir, saat mendengar suara lemah Mingyu.
"Aku," jeda sedikit, "Aku tak tahu hyung," jawab Mingyu.
"Gyu~ kau ada masalah? ceritakan padaku,"
"Hidupku memang penuh masalah hyung, aku tak tahu masalah mana yang harus kuceritakan,"
"Gyu~ kumohon jangab membuatku khawatir," pinta Wonwoo.
Hening sempat menyapa beberapa detik. Wonwoo akan kembali bertanya kalau saja dia tidak mendengar suara kecil Mingyu.
"Orangtuaku akan bercerai hyung, mereka sudah menumakan akhir dari kisah mereka," ujar Mingyu.
Wonwoo yang mendengar perkataan Mingyu tak bisa untuk tidak terkejut. Dirinya tak menyangka kalau masalah keluarga Mingyu sudah separah ini. Wonwoo bisa mendengar suara pecahan kaca dari sana. Dia tak tahu apa yang Mingyu perbuat suda, dia sudah memanggil-manggil nama Mingyu tapi tak mendapatkan jawaban dari seberang sana.
"Hyung, sepertinya aku juga sudah menemukan akhir dari kisah hidupku,"
Dan perkataan terakhir itulah yabg didengar Wonwoo sebelum panggilannya terputus. Wonwoo khawatir, dia takut apa yang dipikirkannya benar-benar dilakukan oleh Mingyu. Dia sudah mencoba melakukan panggilan beberapa kali, tapi tetap tak ada jawaban.
Tanpa berpikir panjang, Wonwoo segera berlari keluar kamar. Tujuannya hanya satu, yaitu rumah Mingyu. Saat menuruni tangga, langkahnya terhalang oleh hyungnya.
"Kau mau kemana Jeon Wonwoo?" tanya Jisoo.
"Hyung, aku harus bertemu Mingyu sekarang," jelas Wonwoo.
"Ini sudah malam Wonnie, besok saja bertemunya,"
"Tak bisa hyung, aku harus bertemunya sekarang," Wonwoo sudah akan berlari kalau saja lengan kurusnya tidak dicengkram oleh Jisoo.
"Hyung kumohon, ini menyangkut hidup seseorang. Aku tak mau menyesal kalau hal yang kukhawatirkan benar-benar terjadi," pinta Wonwoo dengan sangat memohon.
"Baiklah, kalau begitu aku akan mengantarmu," putus Jisoo.
Wonwoo hanya menurutinya, yang penting dia bisa pergi kerumah Mingyu. Untung dia pernah mengikuti Mingyu, jadi dia tahu dimana rumahnya. Sepanjang perjalanan Wonwoo benar-benar gelisah. Dia takut terjadi hal yang mengeringakan pada Mingyu. Sedari tadi Wonwoo tak lelah mencoba menghubungi Mingyu.
Setelah mobilnya terparkir dihalaman rumah Mingyu, Wonwoo langsung keluar dari mobil dan mengetuk pintu rumah Mingyu dengan brutal. Butuh waktu 10 menit sampai pintu yang sedari tadi diketuknya terbuka.
"Ajhumma, dimana kamar Mingyu?" tanya Wonwoo tanpa basa-basi.
"Kau siapa? Datang-datang mencari Mingyu seperti orang yang tidak beretika," sinis Nyonya Kim.
"Aku temannya Ajhumma, dan aku harus segera bertemu dengannya," mohon Wonwoo.
"Kamarnya ada diatas, akan kupanggilkan,"
Wonwoo tak mendengar perkataan Nyonya Kim yang sepertinya memaki dirinya. Dia langsung berlari keatas menuju kamar Mingyu. Untungnya pintu kamarnya tidak dikunci. Dan pemandangan yang menyambutnya membuat Wonwoo berteriak panik.
"Yakkk Kim Mingyu," Wonwoo berlari menghampir Mingyu yang sudah tergeletak lemas.
Wonwoo menepuk pipi Mingyu bermaksud membuatnya sadar. Wonwoo panik, dirinya bingung harus apa. Darah tak berhenti mengalir dari pergelangan tangan Mingyu. Dia bahkan bisa merasakan nafas Mingyu yang mulai putus-putus.
"Mingyu kumohon bertahanlah,hikss,"
Dia menyobek kaos nya sendiri dan mengikatnya dipergelangan tangan Mingyu. Mencoba untuk menghentikan darah yang mengalir deras.
"Woonie," panggil Mingyu lemas.
"Mingyu," Wonwoo menatap mata Mingyu yang menatapnya dengan lemah. "Kumohon bertahanlah, aku akan membawamu kerumah sakit segera,"
"Tak perlu Woonie, biarkan aku tidur dengan tenang dikamarku,"
"Astaga Kim Mingyu," itu teriakan histeris Nyonya Kim saat melihat anaknya dalam keadaan mengenaskan.
Saat mendengar teriakan dari kamar putranya, Nyonya Kim dan Jisoo berlari menyusul keatas. Dan Nyonya Kim langsung histeris melihat darah yang mengalir dengan deras.
"U-umma," panggil Mingyu lemah.
"Hikss kenapa kau melakukan ini sayang, hikss kau mau meninggalkan umma hahh," Nyonya Kim.
"Maafkan hah aku ummaa,"
.
.
.
TBC
.
.
Niatnya cuma mau bikin 2chap tapi karna kepanjangan jadi dibikin 3 chap. Dan aku kembali menjadi orang yang tidak konsisten. Banyak yg minta Happy ending ya ternyata. Dan thanks buat yg berniat baca dan mereview fict aneh ini. Thank you reader-reader tersayangku.
