Sincere Love
Cast
Member Seventeen
Pairing
Meanie
Mingyu x Wonwoo
Warning
Fic abal, membosankan, typo bertebaran, Yaoi.
Don't Like Don't Read
.
.
.
Suasana rumah sakit sungguh mencekam bagi Wonwoo, dari dulu dia tak pernah menyukai rumah sakit. Mingyu berhasil selamat melalui operasi kecil. Dokter bilang Mingyu akan sadar beberapa jam kedepan, setelah obat biusnya habis.
Wonwoo berdiri dari bangku yang ada didepan kamar rawat Mingyu, Jisoo yang melihatnya juga ikut berdiri dan mengikuti Wonwoo memasuki kamar rawat Mingyu. Wonwoo sudah berada dibelakang kedua orang tua Mingyu yang berdiri berjauhan.
"Permisi," ujar Wonwoo mengawalinya.
Kedua orang tua Mingyu menengokkan kepalanya. Dan memberikan tatapan bingung mereka pada Wonwoo.
"Bisa kita bicara bertiga? Ini mengenai Mingyu," Wonwoo menjelaskan maksudnya.
Raut bimbang terlihat diwajah mereka. Seakan bisa membaca raut wajah mereka, Wonwoo kembali melanjutkan ucapannya.
"Aku ingin memberi tahukan sesuatu pada kalian. Biar Jisoo hyung yang menjaga Mingyu disini,"
Akhirnya mereka berdua mengangguk. Mereka mengikuti langkah kaki Wonwoo yang keluar dari kamar rawat Mingyu. Dan disinilah mereka, berada dikantin rumah sakit, duduk dibangku paling pojok dengan Wonwoo yang berada didepan orang tua Mingyu.
"Sebelumnya, aku akan memperkenalkan diriku. Aku Jeon Wonwoo teman Mingyu, putra kalian," ujar Wonwoo.
"Aku sudah tahu," jawab Nyonya Kim.
"Lalu apa yang mau kau bicarakan, Nak?" kali ini Tuan Kim lah yang bertanya.
Wonwoo mengambil nafasnya sebentar, dia harus melakukan ini agar bisa mengabulkan keinginan Mingyu.
"Apa kalian ingat besok hari apa?" tanya Wonwoo.
"Tentu saja kami ingat, kau pikir kami bodoh," jawab Nyonya Kim.
Wonwoo sudah tersenyum mendengar jawaban Nyonya Kim, itu berarti mereka masih peduli pada Mingyu. Namun senyum itu langsung luntur saat mendengar lanjutan dari jawaban Nyonya Kim.
"Besok hari Minggu Kan," lanjut Nyonya Kim.
Wonwoo tak habis pikir, kenapa kedua orang didepannya ini bisa dengan mudahnya melupakan hari terpenting bagi putra mereka. Mungkin Wonwoo juga akan melakukan hal yang sama dilakukannya oleh Mingyu kalau punya orang tua seperti mereka.
"Jadi, kau mengajak kami bicara hanya karna ingin bertanya hari eoh,?" tanya Nyonya Kim sinis.
Wonwoo sendiri hanya bisa tersenyum tipis mendengar pertanyaan sinis yang dikeluarkan oleh Nyonya Kim.
"Jung ah jaga bicaramu. Kau sangat tak sopan didepan teman Mingyu," tegur Tuan Kim.
"Aku bahkan tak tahu dia benar-benar teman Mingyu atau bukan, In sung. Aku bahkan tak pernah melihat dia bermain bersama Mingyu," jawab Nyonya Kim.
"Itu karna kau terlalu sibuk dengan butik konyolmu, kau tak pernah memperhatikan putramu," balas Tuan Kim.
"Hei, bercermin lah dulu sebelum bicara. Kau yang berselingkuh dengan sekertaris jalangmu tak berhak berbicara seperti itu, kau juga tak pernah memperhatikan putramu," Nyonya Kim juga membalasnya karna tak terima dengan tuduhan Tuan Kim.
"Kaulah yang harusnya-"
"Besok adalah hari ulang tahun Mingyu," ujar Wonwoo tenang memotong perdebatan yang terjadi didepannya.
Kedua orang yang tadinya sedang berdebat menghentikan perdebatan mereka dan memusatkan perhatiannya kepada namja didepan mereka.
"Bisa tolong kau ulangi?" tanya Tuan Kim.
Wonwoo tersenyum tipis sebelum menjawab pertanyaam Tuan Kim. "Besok adalah hari ulang tahun Mingyu, hari lahirnya putra kalian,"
Orang tua Mingyu terdiam, mereka merasa seperti orang bodoh yang melupakan hal sepenting itu untuk putra mereka.
"Sadarkah kalian apa yang sudah kalian berikan untuk putra kalian?" tanya Wonwoo.
"Kami sudah memberikan Mingyu hal yang dibutuhkannya," jawab Nyonya Kim.
"Apa itu?" tanya Wonwoo.
"Sekolah terbaik, uang jajan yang lebih, apapun yang dia minta aku akan memberikannya, berapapun harganya," jawab Tuan Kim.
"Apa kalian sudah memberikan waktu dan kasih sayang kalian untuk Mingyu?" tanya Wonwoo.
Mereka terdiam, entah kenapa bibir mereka terasa kelu hanya untuk menjawab pertanyaan mudah yang Wonwoo ajukan. Wonwoo sendiri hanya bisa tersenyum miris mendapatkan reaksi seperti itu dari kedua orang didepannya.
"Apa kalian pikir hanya materi yang dibutuhkan oleh Mingyu? Apa kalian pikir Mingyu akan bahagia hanya karna materi berlimpah yang kalian berikan untuknya?" tanya Wonwoo lagi dan sekali lagi tak ada jawaban yang didapatkannya.
"Kalian tahu kalau yang dibutuhkan seorang anak bukan hanya materi. Tapj kasih sayang dan cinta dari keluarga dan orang disekitarnya lah yang paling dibutuhkannya. Kasih sayang orang tua lah yang terpenting. Mingyu hanya berharap kalian memberikan kasih sayang dan perhatian kalian untuk dirinya. Kasih sayang dari seorang ibu yang melahirkannya dan kasih sayang dari seorang Ayah yang menjadi panutan dalam hidupnya," jelas Wonwoo panjang lebar.
Kedua orang yang duduk didepan Wonwoo mulai berpikir, selama ini mereka sadar kalau mereka sudah melupakan hal terpenting untuk putra mereka.
"Kau ayahnya kan? Pernah kah kau berkata betapa bangganya ayah mempunyai putra sepertimu, betapa tampannya anak ayah seperrti ayahnya, atau pernahkan kau bertanya apa olahraga yang kau sukai?" tanya Wonwoo pada Tuan Kim.
Tuan Kim hanya menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Wonwoo.
"Kau Ibunya kan? Pernah kah kau bertanya bagaimana hari pertama sekolahmu? Apa harimu menyenangkan? Atau kau mau umma masakan apa untuk makan malam nanti?" dan sekarang Wonwoo memberikan pertanyaanya kepada Nyonya Kim.
Air mata tak bisa lagi dibendung oleh kedua mata Nyonya Kim. Air mata itu meluncur dengan lancar dari kedua matanya. Dia sadar sekarang, betapa buruknya dia sebagai seorang Ibu untuk putranya.
"Aku tak mau tahu apa masalah kalian berdua, aku tak pernah mau mencampuri urusan orang dewasa. Mungkin aku lancang karna sudah bertanya seperti ini pada kalian. Tapi aku tak bisa melihatnya bersedih setiap hari, dan melihat orang yang kusayangi harus menanggung luka sebesar ini," jelas Wonwoo.
Wonwoo bisa melihat Nyonya Kim yang dari awal memasang wajah sinis padanya sekarang berurai air mata. Tuan Kim memeluk Nyonya Kim yang sedang menangis. Mungkin Mingyu akan menghajarnya kalau tahu kedua orang tuanya sudah dibuat menangis olehnya.
"Bisakah kalian membantuku?" pinta Wonwoo.
"Membantu apa?" tanya Tuan Kim yang masih sibuk menenangkan istrinya.
"Bisakah kalian mengabulkan keinginin pertama dari harapan ulang tahun Mingyu?" tanya Wonwoo.
"Apapun hiksss akan hikss Kami lakukan," ucap Nyonya Kim ditengah isakannya.
"Berikan kasih sayang kalian pada Mingyu. Kembalilah menjadi keluarga yang harmonis seperti dulu," jelas Wonwoo. "Itu adalah harapan pertama dari ulang tahun Mingyu,"
Mereka terdiam mendengar perkataan Wonwoo. Mereka sadar kalau mereka sudah melalaikan tugas mereka sebagai orang tua. Mereka sudah mengabaikan terlalu lama putra mereka, malaikat yang dikirmkan tuhan untuk melengkapi kehidupan mereka.
"Kami janji akan mengabulkan keinginan Mingyu dan berusaha menjadi orang tua yang lebih baik baginya," ujar Tuan Kim dan didukung oleh anggukan dari Nyonya Kim.
"Terima kasih," balas Wonwoo dan tak lupa senyum tulus yang dia berikan untuk kedua orang didepannya.
"Anioo, kamilah yang harus berterimakasih padamu Nak, terimakasih karna sudah menyadarkan kami," ujar Tuan Kim.
"Iti bukan hal yang besar, Ajushiii," balas Wonwoo.
Nyonya kim lalu melepaskan pelukan Tuan Kim dan beralih menggenggam tangan kanan Wonwoo dengan kedua tangannya.
"Wonwoo, terimakasih karna kau sudah berada disamping Mingyu selama kami tak sadar telah mengabaikannya," ujar Nyonya Kim mengungkapkan rasa terimakasihnya dengan tulus.
"Mmm, sama-sama. Lagipula aku senang bersama-sama dengan Mingyu. Dia namja yang sangat baik," ujar Wonwoo.
"Kalau begiti kajja kita kembali keruang rawat Mingyu," ajak Tuan Kim.
Orang tua Mingyu dan Wonwoo sudah berdiri dari bangku yang mereka duduki. Namun tiba-tiba saja Wonwoo kehilangan keseimbangannya dan jatuh terduduk dikursinya semula.
"Wonwoo, gwenchana?" tanya Nyonya Kim yang khawatir melihat keadaan Wonwoo.
"Enggg gwenchana, sepertinya anemiaku kambuh Ajhumma, mungkin karna aku kurang tidur," jawab Wonwoo.
"Kalau begitu kita keruang periksa saja nde," saran Tuan Kim.
"Tak perlu ajhussi, emm lebih baik ajhussi panggilkan Jisoo hyung saja untuk menjemputku disini," balas Wonwoo.
"Kau yakin tak mau keruang periksa?" tanya Tuan Kim sekali lagi.
"Aku yakin ajhussi,"
"Kau tak apa kami tinggal disini?" kali ini Nyonya Kim lah yang bersuara untuk bertanya.
"Tak apa ajhumma," jawab Wonwoo.
"Baiklah kami pergi dulu, kau tunggulah disini dan jangan kemana-mana,"
Wonwoo tersenyum membalas perkataan Nyonya Kim. Setelah mereka berdua tak terlihat lagi oleh matanya, senyum dibibirnya seketika luntur. Dia menunduk dan memandangi kedua kakinya dengan tatapan kosong.
Dia merasakan seseorang menggendongnya dengan bridal, tanpa mengangkat kepalanyapun Wonwoo tahu siapa yang menggendongnya seperti ini.
"Jisoo hyung kakiku mati rasa lagi. Tiba-tiba saja mereka tidak mau bergerak," adu Wonwoo lalu menyembunyikan wajahnya didada Jisoo.
Jisoo yang mendengar perkataan Wonwoo sekuat tenaga menahan air matanya. Dia tak boleh menangis didepan Wonwoo.
'Kau pasti akan sembuh Woo, itu pasti,' ujar Jisoo dalam hati.
.
.
.
Pagi kembali datang dan menunjukkan sinarnya. Seseorang yang terbaring lemah diatas ranjang rumah sakit menggerakkan jarinya. Perlahan dia membuka kedua matanya dan melihat sekelilingnya. Ini jelas sekali bukan kamar miliknya.
Tangannya yang terpasang selang infus tanpa sengaja menyenggol sebuah kepala. Mingyu menghadapkan tatapannya kesamping dan dia bisa melihat umma nya tertidur dengan kepala yang bertumpu diranjangnya
"U-umma," panggil Mingyu pelan karna tubuhnya masih lemah.
Mendengar suara didekatnya nembuat Umma Kim membuka matanya dan melihat putranya yang sudah membuka mata.
"Mingyu kau sudah sadar, sayang?" tanya Umma Kim retoris.
Mingyu hanya mengerjapkan matanya saja, lidahnya masih terasa kelu untuk menjawab.
"Diam disini nde, Umma akan panggilkan dokter,"
Nyonya kim lalu berlari keluar memanggil dokter untuk putranya. Bertepatan dengan itu, Tuan Kim baru saja datang dari kantin. Dia menghampiri istrinya.
"Jung ah, apa yang terjadi? Kenapa kau panik sekali?" tanya Tuan Kim.
"In sung, Mingyu sudah sadar," jawab Nyonya Kim bahagia.
"Jinja?"
"Ne, dokter sudah didalam untuk memeriksa keadaan Mingyu,"
Tak berapa lama, dokter keluar dari ruang rawat Mingyu. Dan penjelasan dari sang dokter membuat mereka bernafas lega. Dengan senyum yang terpasang dibibir, mereka memasuki ruang rawat Mingyu. Putra tampan mereka Sedang terduduk diatas ranjangnya.
"Mingyu, apa kau sudah merasa baikkan?" tanya Umma Kim sambil mengelus rambut putranya.
Mingyu menepis tangan yang sedang mengelus kepalanya dengan lembut.
"Berhenti berpura-pura khawatir padaku. Aku tak perlu kebohongan kalian," ujar Mingyu pelan namun penuh aura dingin.
Nyonya Kim merasa terpukul saat mendengar perkataan yang dikeluarkan oleh Mingyu. Sepertinya dia sudah terlalu jauh menyakiti putranya. Tanpa berpikir panjang, Nyonya Kim memeluk Mingyu dan menumpukkan kepalanya diatas kepala Mingyu.
"Hiksss maafkan Umma Mingyu, Umma terlalu banyak menyakitimu dan mengabaikanmu. Umma sudah melalaikan tugas Umma sebagai orang tua. Tapi hiksss Umma berjanji akan berubah mulai hari ini,"
Nyonya Kim melepas pelukannya lalu menangkup kedua pipi Mingyu. Menatap sayang kedua mata putranya.
"Umma sudah menutup butik Umma dan berhenti berkerja. Umma akan kembali menjadi seorang Ibu rumah tangga, dan mengurus anak tampan Umma," jelas Umma Kim sambil tersenyum tulus.
"Umma serius?" tanya Mingyu memastikan.
"Ne sayang, Umma mu serius. Kami juga tak jadi bercerai. Kita mulai dari awal lagi nde, menjadi sebuah keluarga yang harmonis," kali ini Appa Kim yang berbicara dan mengusak sayang rambut Mingyu.
"Appa," gumam Mingyu dan menatap Appanya terharu.
"Ahh iya, selamat ulang tahun putra kami yang tampan,"
Dan mendengar ucapan dari kedua orang tuanya membuat senyum dan air mata muncul diwajahnya. Sungguh ini adalah kado terindah dihari ulang tahunnya. Mingyu bisa merasakan pelukkan hangat dari kedua orang tuanya lagi.
"Hiksss teeimakasih Umma, Appa. Kalian berdua adalah hadiah terindah untukku. A-aku mencintai kalian," ujar Mingyu.
"Kkk~ kami juga mencintaimu sayang," balas kedua orang tuanya.
Setelah puas berpelukkan mereka segera melepas pelukkannya. Nyonya Kim duduk dikursi sebelah ranjang Mingyu, mengupaskan buah apel kesukaan Mingyu. Sedangkan Tuan Kim pamit kekantin untuk memebelikan istrinya sarapan.
"Umma, apa Wonwoo hyung juga menemaniku?" tanya Mingyu.
"Emm dia menemanimu sampai operasi mu selesai. Dan setelah selesai bicara dengan kami, dia dan hyungnya pamit pulang karna anemianya kambuh," jawab Wonwoo.
"Anemia?" ulang Mingyu bingung.
"Ne anemia. Kau tak tahu kalau Wonwoo punya penyakit anemia?" tanya Nyonya Kim heran kepada putranya.
"Anioo, Umma. Wonwoo hyung terlalu tertutup. Bahkan alamat rumahnya pun aku tak tahu. Semua hal tentangnya masih menjadi misteri untukku," jelas Mingyu.
"Sudah kau tak usah memikirkannya, mungkin ada alasan untuk Wonwoo tidak menceritakan banyak hal tentangnya kepadamu. Tapi umma bisa melihat perasaan tulusnya terhadapmu," nasehat Umma Kim. "Kau juga harus berterimakasih padanya nanti. Berkat dia, kami berdua akhirnya sadar akan pentingnya putra tampan kami," lanjut Nyonya Kim.
Jadi Wonwoo hyung lah yang sudah membujuk kedua orang tuanya. Dia teringat dengan 3 harapan diulang tahunnya, yang sempat ditanyakan oleh Wonwoo. Sepertinya Wonwoo benar-benar mencoba mengabulkannya. Sekarang dia jadi semakin yakin kalau Wonwoo adalah malaikat yang dikirimkan Tuhan untuknya.
"Umma boleh tolong pinjam ponselmu,"
.
.
.
"Yeobseo," ujar Wonwoo saat mengangkat telepon dari nomor yang tidak dikenalnya.
"Wonwoo hyung~"
"Enghh Nuguseyo?" tanya Wonwoo bingung.
"Ini aku Mingyu hyung,"
"Ehh Mingyu? Kim Mingyu?" Wonwoo memastikannya sekali lagi.
"Iya hyung, Kim Mingyu. Memangnya kau mengenal Mingyu yang lain eoh,"
"Kkk~ mian, habisnya kau menghubungiku dengan nomor yang berbeda,"
"Ini nomor umma ku hyung,"
"Ohh begitu. Kapan kau siuman Gyu?" tanya Wonwoo.
"Baru saja. Oh ya hyung terima kasih untuk hadiah ulang tahun yang kau berikan. Kupikir kau tak serius dengan ucapanmu waktu itu,"
"Cheonma. Jika aku sudah bertekad maka aku akan melakukannya sampai berhasil,"
"Hyung, kenapa kau tak menjengukku?"
"Maafkan aku Gyu, hari ini aku sibuk jadi tak bisa menjengukmu. Mungkin besok aku bisa menjengukmu,"
"Baiklah kutunggu kehadiranmu hyung, aku benar-benar merindukanmu,"
"Aku juga merindukanmu Gyu. Cepat sembuh dan aku akan mengabulkan harapanmu yang kedua,"
"Ne hyungieee. Aku tutup dulu nde, sudah waktunya untuk meminum obat,"
"Ne Gyu, selamat beristirahat,"
Wonwoo kembali menaruh ponselnya diatas nakas. Menutup matanya sejenak mencoba meredakan sakit dikepalanya yang dia tahan sedari tadi. Jisoo yang duduk disebelah Wonwoo memijat pelipis Wonwoo.
"Berbaringlah lagi Woonie~" suruh Jisoo.
Wonwoi menurutinya, berbaring dengan hati-hati agar selang infusnya tidak terlepas dari punggung tangannya.
"Hyung, peluk aku," pinta Wonwoo.
Jisoo yang mendengar permintaan adiknya hanya tersenyum dan ikut merebahkan tubuhnya. Membantu Wonwoo merubah posisinya menjadi miring lalu memeluknya. Wonwoo sangat menyukai pelukan hyungnya. Walau hanya Hyung tiri, Wonwoo sangat menyayangi Jisoo seperti dia menyayangi orang tuanya.
"Hangat," gumam Wonwoo tanpa sadar. "Aku jadi merindukan Umma dan Appa," lanjutnya.
"Hyung juga merindukan mereka Woonie~" balas Jisoo.
"Emm tapi setidaknya sebentar lagi aku akan bersama mereka kembali," ujar Wonwoo asal.
"Kau tak boleh bicara seperti itu Woonie, kau akan disini menemani hyung sampai tua nantinya,"
"Hmm aku tidak yakin hyung," dan perlahan Jisoo bisa merasakan nafas Wonwoo yang teratur.
Adiknya sudah terjatuh kealam mimpi. Tangannya tak berhenti mengelus surai halus milik adiknya. Dia belum siap kalau harus kehilangan adik satu-satunya. Keluarga terakhirnya yang tersisa.
"Andai hyung tahu apa yang bisa membuatmu sembuh, hyung akan melakukan apapun untukmu Wonu~" andai Jisoo. "Hyung belum siap untuk kehilanganmu, Saengi~"
Jisoo mencium kening Wonwoo lama, menyalurkan semua rasa sayangnya. Dipeluknya lebih erat tubuh Wonwoo yang mulai mengurus, menyalurkan kehangatan untuk tubuh ringkih ini. Dan ikut terjatuh kealam mimpi menyusul adik kesayangannya.
Merasakan nafas hangat dilehernya, membuat Wonwoo membuka matanya perlahan. Sedari tadi dia hanya pura-pura tertidur. Matanya menatap sendu wajah hyungnya. Wajah tampan dan lembut yang setia menemaninya melawan penyakit yang dideritanya.
Tangannya mengusap lembut seluruh wajah hyungnya. Pipi hyung nya juga semakin tirus, sepertinya hyungnya mengabaikan pola makannya lagi. Air mata mengalir sedikit demi sedikit. Dirinya mencoba menyimpan sebanyak-banyaknya gambaran wajah hyungnya.
"Suatu hari nanti, aku akan kehilangan memoriku dan melupakan wajah tampan ini," gumam Wonwoo pelan.
Menggigit bibir bawahnya, menahan isakan yang akan keluar. Dia tak mau mengganggu tidur hyungnya yang berharga. Hyungnya ini sangat kurang tidur karna harus menjaganya.
"Suatu hari nanti, jika aku meninggalkan hyung, berjanjilah untuk tetap hidup dengan baik dan selalu bahagia. Kau harus berjanji hyung," pinta Wonwoo dengan suara yan pelan.
Kali ini dirinya benar-benar terlelap. Matanya sudah tak kuat untuk tersadar badannya juga sudah terasa lelah. Walau nyatanya kedua kakinya masih belum bisa merasakan apapun.
.
.
.
Seminggu sudah Mingyu dirawat dirumah sakit, dan hari ini dokter sudah memperbolehkannya pulang. Umma nya sedang membereskan barang-barangnya yang digunakan saat dirumah sakit. Appanya ada rapat penting, jadi tak bisa menemaninya hari ini.
Itu bukan masalah untuknya, karena kedua oeang tuanya sudah membuktukan padanya bahwa mereka benar-benar menyediakan waktu luang. Dan Ummanya benar-benar berhenti berkerja dan sepunuhnya memusatkan dirinya mengurus keluarganya.
"Pagi Mingyu," sapa Wonwoo ceria saat memasuki ruang rawat Mingu.
"Wonwoo hyung~" ujar Mingyu tak kalah ceria.
Wonwoo berjalan menghampiri ranjang Mingyu. Lalu tanpa aba-aba langsung memeluk tubuh Mingyu.
"Aigooo aku merindukanmu Gyu~"
"Eummm aku juga merindukanmu Woonie~" balas Mingyu.
Wonwoo lalu melepas pelukannya, mengalihkan pandangannya pada Nyonya Kim yang sedari tadi memperhatikan interaksi mereka sambil tersenyum tulus.
"Ajhumma, boleh aku meminta izin untuk mengajak Mingyu pergi keluar?" tanya Wonwoo.
"Kau tanyakan saja padanya, Woonie. Ajhumma akan mengizinkannya kalau anak itu menyutujuinya," jawab Nyonya Kim.
Wonwoo kembali mengalihkan pandangannya pada Mingyu. Sebelum sempat bertanya, Mingyu sudah langsung mengeluarkan jawabannya.
"Tentu saja aku menyetujuinya Woonie, aku bosan kalau harus beristirahat terus-menerus,"
"Kkk~ baiklah kalau begitu umma mengijinkannya. Kalian pergilah, umma akan pulang dengan taksi saja," ujar Nyonya Kim.
"Baiklah umma, hati-hati dijalan ya," ujar Mingyu lalu mencium kedua pipi ummanya, "Kajja Woonie~" Mingyu lalu menggengam tangan Wonwoo dan menariknya keluar ruang rawatnya dengan semangat.
"Kami pergi dulu Ajhumma," pamit Wonwoi dengan sedikit berteriak.
Nyonya Kim hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku mereka. Senyum tak pernah lepas dari bibirnya. Dia senang karna bisa melihat senyum anaknya lagi. Dia tak menyesali keputusan yang diambilnya. Hatinya bahkan lebih lega dan bahagia dengan kehidupannya yang sekarang.
.
"Wonu hyung, sebenarnya kita mau kemana?" tanya Mingyu penasaran.
"Eitsss rahasia," jawab Wonwoo dengan senyum misteriusnya.
Saat ini mereka sedang menaiki bus menuju tempat yang hanya diketahui oleh Wonwoo. Mingyu yang duduk disebelahnya hanya bisa pasrah mengikuti Wonwoo. Bus berhenti disebuah halte, dan Wonwoo bangkit dari kursi penumpang.
"Kajja, kita turun Gyu~" ajak Wonwoo lalu berjalan keluar bus diikuti oleh Mingyu.
Mereka berjalan beriringan dengan tangan yang saling menggengam. Mingyu menolehkan kepalanya kesamping. Wajah Wonwoo sangat cantik dengan senyum manis yang tersungging dibibirnya. Tanpa sadar Mingyu ikut tersenyum melihatnya.
Wonwoo menghentikan langkahnya begitupun Mingyu. Tersadar dari acara menatapnya, Mingyu mengalihkan pandangannya kedepan. Mereka berdua berdiri disebuah gedung yang merupakan sebuah kafe dengab tulisan Closed dipintunya.
"Hyung, untuk apa kau memabawaku kekafe yang sudah tutup?" tanya Mingyu heran.
"Kau akan tahu setelah kita masuk," jawab Wonwoo masih mempertahankan rahasianya.
Wonwoo mendorong pintu kafe tersebut dan masuk kedalamnya. Mingyu mau tak mau mengikuti langkah Wonwoo dibelakangnya. Kafenya gelap, jadi mereka harus berjalan perlahan. Sampai ditengah-tengah Wonwoo menghentikan langkahnya begitupun Mingyu. Belum sempat Mingyu bertanya, lampu ruangan kafe sudah menyala semua. Mingyu memejamkan matanya sebentar lalu kembali membuka matanya. Dan apa yang dilihatnya sekarang benar-benar membuatnya terkejut.
"Saengil Chukkae, Kim Mingyu," teriak semua orang yang ada dihadapannya.
Wonwoo tersenyum, dengan kue ditangannya dia berjalan menghampiri Mingyu yang masih terdiam, terkejut.
"Aku tahu ini benar-benar telat, tapi aku tetap mau merayakannya untukmu. Selamat ulang tahun Kim Mingyu," ujar Wonwoo dengan senyum manis dibibirnya.
"H-hyung," Mingyu bingung mau bicara apa.
"Cepat buat permohonan dan tiup lilinnya," suruh Wonwoo.
Mingyu lalu memejamkan matanya, membuat peemohonan dalam hati. Setelahnya dia meniup semua lilin yang ada.
"Yeyy,, selamat," teriak orang-orang dibelakang Wonwoo.
"Err, mereka siapa hyung?" tanya Mingyu bingung.
Wonwoo lalu menaruh kuenya diatas meja dan menggandeng Mingyu menghampiri teman-temannya.
"Waktu itu kau bilang kalau permohonan keduamu adalah memiliki banyak teman, kan?" tanya Wonwoo dan Mingyu mengangguk.
"Nah, mulai sekarang mereka adalah teman-temanmu," ujar Wonwoo.
"E-ehh te-teman-te-manku," uajr Mingyu terbata.
"Ne Mingyu, mulai hari ini kita semua temanmu. Aku Yoon Jeonghan," Jeonghan mengambil tangan Mingyu dan menjabat tangannya.
"Nah, yang disebelah Jeonghan Hyung, itu Seungcheol, lalu Jun, Soonyoung,dan Jihoon. Mereka semua lebih tua dari mu," jelas Wonwoo. "Dan Minghao, Seokmin seumuran denganmu. Kalau Seungkwan, Hansol dan Dino lebih muda darimu," lanjut Wonwoo.
"Salam kenal Mingyu hyung," sapa Seungkwan dan Dino.
"Sa-salam ke-kenal," ujar Mingyu canggung.
"Eitsss tak usah canggung begitu, Gyu. Santai saja," ujar Seungcheol lalu merangkul Mingyu dan membawanya kemeja yang ada ditengah.
Wonwoo senang melihatnya, sahabat-sahabatnya mau menerima Mingyu sebagai teman mereka. Senyum tak pernah pudar dari bibir nya.
"Jadi dia orang yang kau sukai itu?" tanya seseorang yang berdiri didepannya.
"Ne hyung, dialah orangnya," jawab Wonwoo.
"Tampan dan tinggi, seleramu bagus Wonnie," ujar Jeonghan.
"Tentu saja," ujar Wonwoo singkat. "Tapi sampai kapanpun aku tak akan bisa memilikinya," gumam Wonwoo.
"Kau tak boleh berbicara seperti itu Wonu. Kulihat Mingyu juga menyukaimu," ujar Jeonghan.
"Walau kami saling menyukai atau mencintai. Tuhan tak akan menyatukan kami. Aku tak ingin membuatnya bersedih saat aku sudah tiada nantinya," ujar Wonwoo lalu berjalan menghampiri teman-temannya yang berkumpul.
Mingyu sudah mulai akrab dengan yang lainnya. Mereka sedang bermain sebuah game didepan. Sedangkan Wonwoo dan Jeonghan bertugas membuat cemilan untuk mereka. Wonwoo sedang memotong-motong cake untuk mereka.
Prang~
Wonwoo tiba-tiba menjatuhkan pisaunya kelantai disusul dengan kakinya yang tiba-tiba kembali lemas dan membuatnya jatuh terduduk. Jeonghan yang melihatnya sungguh terkejut dan berlari menghampiri Wonwoo.
"Wonu-ya, kau baik-baik saja?" tanya Jeonghan memastikan.
"A-aku baik hyung," jawab Wonwoo lemah.
"Omona, hidungmu mimisan Wonu-ya," panik Jeonghan.
Wonwoo segera menyeka darah dari hidungnya dengan tangannya sendiri, tapi tetap saja darah itu kembali mengalir dari hidungnya.
"Tunggu, sebentar aku panggilkan yang lain,"
"Tidak hyung," Wonwoo mencekal tangan Jeonghan, menghentikannya untuk memberitahukan yang lain.
"Kenapa Wonu-ya?"
"Didepan ada Mingyu dan aku tak mau dia tahu,"
"Tapi Wonu-ya -"
"Kumohon hyung, sebentar lagi aku sudah baikkan hyung," ujar Wonwoo meyakinkan.
"Hahh, baiklah," pasrah Jeonghan. "Tapi aku akan menemanimu disini," usul Jeonghan dan dibalas anggukan oleh Wonwoo.
.
.
.
"Terimakasih untuk hari ini Wonu-hyung. Ini semua menakjubkan untukku. Terimakasih karna mau mengabulkan permohonanku waktu itu," ujar Mingyu.
"Emm tak masalah Gyu~ aku senang melakukannya untukmu," balas Wonwoo sambil tersenyum dengan manisnya.
"Terimakasih sudah mengantarku, Jisoo hyung," ujar Mingyu pada Jisoo yang berada didalam mobil.
"Sama-sama Mingyu," balas Jisoo.
"Hyung pulanglah sana, ini sudah malam dan angin malam tak baik untuk kesehatanmu," Mingyu mengelus pipi Wonwoo.
"Kau masuk duluan sana. Aku ingin melihatmu selamat sampai dalam rumahmu. Lagipula kau lah yang harusnya perlu dikhawatirkan, kau bahkan baru pulang dari rumah sakit hari ini," balas Wonwoo.
"Aku ini kuat hyung, jadi tak mungkin aku sakit lagi,"
"Ya ya ya aku percaya, sudah sana masuk," suruh Wonwoo sekali lagi.
"Baiklah aku masuk duluan hyung,"
Mingyu kemudian menangkup kedua pipi Wonwoo dan menxium keningnya.
"Selamat malam Hyung, hati-hati dijalan okay," ujar Mingyu.
"Ne, Mingyu selamat malam," balas Wonwoo sambil tersenyum.
Mingyu lalu melepas tangkupannya dan berjalan memasuki rumahnya setelah sebelumnya memberikan senyum tampannya sekali lagi.
Setelah melihat Mingyu sudah memasuki rumahnya, Wonwoo lalu memasuki kursi penumpang disebelah Jisoo dan menyandarkan kepalanya disenderan kursi.
"Kau sudah meminum obatmu?" tanya Jisoo.
"Sudah hyung," jawab Wonwoo lesu.
"Hah, bukankah sudah kubilang kau itu harus istirahat," ujar Jisoo kesal.
"Tenanglah hyung, aku baik-baik saja,"
"Apanya yang baik-baik saja? Wajahmu bahkan sangat pucat,"
Wonwoo memilih diam tanpa membantah atau menjawab perkataan Jisoo. Dia membiarkan hyungnya menumpahkan segala kekesalannya.
"Tidurlah, Hyung akan menggendongmu nanti," suruh Jisoo.
"Ne, Hyung," dan Wonwoo memilih untuk menurut.
Dipejamkannya kedua matanya dan mencoba untuk tertidur. Lagipula entah kenapa tubuhnya terasa pegal dan sakit. Kepalanya juga terasa pusing sekali.
.
.
.
Mingyu sudah bisa memulai harinya dengan senyuman. Keluarganya berangsur-angsur membaik. Keharmonisan keluarganya mulai terbentuk kembali. Bahkan diakhir pekan mereka akan melakukan piknik bersama. Walau kegiatan seperti ini terlihat sangat kekanakan untuk seorang remaja sepertinya. Tapi dia sangat menikmati piknik bersama keluarganya seperti ini.
Apalagi kalau Wonwoo hyungnya juga ikut bergabung dalam pikniknya. Seperti hari ini, Wonwoonya ikut barbeque bersama keluarganya. Saat ini orang yang diam-diam dicintainya sudah mulai dekat dengan keluarganya. Lihat saja Wonwoo yang sedang membantu ummanya menyiapkan meja untuk mereka makan bersama.
Mingyu bahkan sampai kehilangan konsentrasinya memanggang daging dan malah menatap interaksi kedua orang yang berarti dihidupnya.
"Berhentilah melihat Wonwoo seperti itu, dagingmu bisa gosong nanti," peringat Appa Kim sambil sedikit menggoda putranya.
"Aishhh appa kau mengganggu saja," kesal Mingyu.
"Kkk~ lagipula tanpa kau tatap seintens itupun Wonwoo tak akan kabur kan," goda Appa kim sekali lagi.
"Appa berhentilah menggodaku," rengek Mingyu tanpa tahu malu.
"Wajahmu sangat jelek saat merengek seperti itu Gyu," ujar sang Appa. "Apa kau belum menembaknya Gyu?" tanya Appa Kim.
"Hah, belum Appa," jawab Mingyu. "Aku belum berani," keluh Mingyu lesu.
"Hei, anak Appa kenapa menjadi pengecut seperti ini? Kalau kau mengandalkan keberanianmu datang, Wonwoo bakal lebih dulu dimiliki orang lain. Appa tebak pasti banyak sekali namja yang menyukai namja semanis Wonwoo," ujar Appanya memanasi Mingyu.
"Dengar ya Gyu, yang kau butuhkan hanya tekad dan nekat, soal ditolak itu jadi urusan belakangan," nasehat sang Appa sambil membalik daging yang dibakarnya.
"Hem, akan kupikirkan Appa," ujar Mingyu dan kembali fokus kepada acaranya membakar daging.
"Apa dagingnya sudah matang semua?" tanya Wonwoo yang sudah berdiri didepan Mingyu dan appa Kim.
"Sedikit lagi hyung, ini yang terakhir," jawab Mingyu.
"Hemmm sepertinya enak," gumam Wonwoo. "Boleh aku mencicipi yang baru maatng?" tanya Wonwoo pada Mingyu.
"Tentu saja boleh hyung," Mingyu mengambil daging yang baru matang dari atas panggangan, meniupinya guna sedikit menghilangkan panasnya, "Say Aaaaa~ hyungi," dan Menyuapinya kedalam mulut Wonwoo.
"Emmm Nyamm~ Inyi enyakkk~" ujar Wonwoo sambil mengunyah dagingnya.
"Habiskan dulu baru berbicara hyung," Mingyu tersenyum gemas dan menghapus minyak yang tertinggal disudut bibir Wonwoo.
"Ahhhh, kau hebat memanggang Mingyu. Dagingnya enak sekali," puji Wonwoo tulus.
"Emm, Gomawo Hyungie, aku senang kalau kau menyukainya,"
"Hei berhentilah berpacaran, kami sudah kelaparan nih," teriak Appa Kim jahil yang sekarang sufah duduk disebelah Umma Kim.
"Aigooo Yeobo kau mengganggu mereka saja," Umma Kim pun tak mau kalah untuk menggoda mereka.
Mingyu dan Wonwoo sama-sama memerah Wajahnya. Mendengar godaan dari mereka membuat mereka salah tingkah. Mingyu buru-buru menaruh daging yang sudah matang keatas piring dan mematikan pemanggang. Sedangkan Wonwoo memilih membawa piring-piring berisi daging ke meja terlebih dahulu. Dia duduk didepan orang tua Mingyu diikuti Mingyu yang duduk disebelahnya.
Mereka makan dengan lahap, sesekali candaan terselip dalam obrolan mereka. Wonwoo jadi rindu berkumpul dengan keluarganya. Dia jadi merindukan mendiang orang tuanya. Dulu juga mereka sering seperti ini, saat keluarganya masih lengkap.
Tak~
Sumpit yang dipegang Wonwoo terjatuh diatas meja. Suaranya membuat semua orang mengalihkan pandangannya kearah Wonwoo.
Wonwoo sendiri hanya berkedip melihatnya. Tangannya tiba-tiba terasa kebas dan lemas. Sebisa mungkin Wonwoo mengatur raut wajahnya. Memberitahu kalau semuanya baik-baik saja.
"Hyung kau baik-baik saja?" tanya Mingyu khawatir.
"Ahhh aku baik-baik saja Gyu, tanganku hanya kesemutan," jawab Wonwoo tenang.
Dia kemudian mencoba kembali memegang sumpitnya dan beruntungnya tangannya bisa diajak berkompromi.
"Tuh lihat, tanganku sudah baik-baik saja," ujar Wonwoo.
"Syukurlah kalau hanya kesemutan," lega Mingyu.
"Hehehe, maaf membuatmu khawatir," ujar Wonwoo.
Acara mereka sudah berakhir. Wonwoo membantu Umma Kim mencuci piring didapur sedangkan Mingyu dan Appanya merapihkan perlatan piknik yang mereka pakai dihalaman belakang.
"Ajhumma sudah selesai," ujar Wonwoo.
"Terimakasih sudah membantuku Wonu," Umma Kim lalu memeluk Wonwoo sebagai ucapan terimakasihnya.
"Emm sama-sama Ajhumma~" balas Wonwoo.
"Wonu Hyung, Jisoo hyung sudah menjemputmu," Mingyu mengintrupsi acara berpelukan mereka.
Wonwoo melepaskan pelukannya dan berpamitan dengan kedua orang tua Mingyu. Mereka jalan keluar beriringan. Mingyu bersikeras mengantat Wonwoo sampai kedepan gerbang.
"Terimakasih sudah mengundangku diacara piknik hari ini Gyu~ aku sangat senang," ujar Wonwoo berterima kasih.
"Cheonma hyung, aku senang bisa membuatmu senang," balas Mingyu.
"Kalau begiti aku pulang dulu Gyu," pamit Wonwoo.
"Hyung tunggu," panggilan Mingyu membuat Wonwoo berhenti dan membalikkan badannya kearah Mingyu.
"Wae Gyu?" tanya Wonwoo.
"Errr,itu emm bisakah kau datang kebukit yang biasa besok sore," pinta Mingyu sambil mengusap tengkuknya gugup.
"Baiklah besok aku akan datang kesana," jawab Wonwoo.
"Benarkah?" tanya Mingyu memastikan dan dibalas anggukan serta senyum manis dari Wonwoo.
"Baiklah kalau begitu besok aku tunggu jam 4 sore hyung," jelas Mingyu.
"Mm baiklah," Wonwoo kemudia memasuki mobil Jisoo.
"Hati-hati dijalan hyung," ujar Mingyu.
Setelah mobil itu tak terlihat, Mingyu berjalan memasuki rumahnya. Senyum tak pernah lepas dari bibirnya. Dia sudah memutuskan semuanya. Kalau besok dia akan menyatakan perasaannya pada Wonwoo. Sosok malaikat yang dikirimkan tuhan untuknya.
.
.
.
"Aigoo putra Umma tampan sekali eoh" Umma Kim berjalan menghampiri putranya yang sedang berkaca.
"Umma, bagaimana penampilanku?" tanya Mingyu kepada Ummanya.
"Emmm kau sangat perfect Chagi," puji Umma Kim sambil tersenyum kepada putranya.
"Terimakasih Umma,"
"Aigooo putra Umma sudah tumbuh menjadi lelaki yang tampan eoh," puji Umma Kim. "Umma jadi menyesal karna sudah melewatkan banyak sekali moment pertumbuhan mu, Umma merasa gagal menjadi ibu yang baik untukmu,"
"Sudahlah Umma, itu semua sudah berlalu," Mingyu menghapus air mata Ummanya. "Yang terpenting sekarang, Umma dan Appa sudah menyadari kesalahan kalian," ujar Mingyu.
"Kau tumbuh menjadi anak yang baik sayang, kka~ pergilah sekarang dan dapatkan hati Wonwoo ne," suruh sang Umma.
"Ne Umma, do'a kan agar aku berhasil," pinta Mingyu.
"Itu pasti sayang,"
Mereka berdua turun kebawah dan bertemu Appa Kim yang sedang duduk diruang keluarga. Mingyu kembali mendapatkan godaan dari sang Appa. Setelah berpamitan kepada kedua orang tuanya. Mingyu berjalan memasuki mobilnya dan melajukannya kebukit, tempat yang penuh kenangan untuk mereka berdua.
Mingyu keluar dari mobilnya. Berjalan menaiki bukit dan duduk dibangku panjang yang mengahadap pemandangan kota Seoul. Menaruh bucket mawar merahnya disamping tubuhnya dan dengan sabar menunggu kedatangan Wonwoo.
"15 menit lagi," gumam Mingyu saat melihat jam tangan dipergelangan tanngannya. "Kenaoa aku jadi sangat gugup seperti ini," lanjut Mingyu.
Wonwoo berjalan menuruni tangga. Senyum selalu melekat dibibir merahnya. Membuat Jisoo ikut tersenyum melihatnya.
"Aigoo adikku sangat manis sekali hari ini," goda Jisoo.
"Hyungieeee~" rengek Wonwoo.
"Kkk~ kau bahkan memakai parfum kesayanganmu hari ini, seperti akan berkencan saja eoh," Jisoo masih betah menggoda adiknya.
"Ishhhh Hyungie berhenti menghodaku," Wonwoo mencubit gemas lengan sang Kakak.
"Awwww sakit Wonu," ringis Jisoo.
"Makanya jangan menggodaku terus,"
"Mian mian, Hyung tak akan menggodamu lagi," ujar Jisoo. "Kau tunggu disini, Hyung ambil kunci mobilnya dulu dikamar," Jisoo lalu berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Wonwoo berjalan menuju cermin yang ada diruang keluarga. Melihat sekali lagi tampilannya. Semoga penampilannya hari ini tidak terlalu berlebihan, semoga Mingyu menyukainya. Namun senyum dibibirnya seketika memudar saat dilihatnya darah keluar dengan lancar dari hidungnya. Tiba-tiba kepalanya berdenyut nyeri. Tangan kanannya meremas kepalanya mencoba menghilangkan rasa sakitnya sedang tangan kirinya bertumpu dipinggir nakas menahan tubuhnya agar tak terjatuh.
Mingyu masih menunggu Wonwoo. Dilihatnya kembali jam tangannya dan ternyata sudah lewat dari jam 4.
"Mungkin Wonwoo terjebak macet," gumam Mingyu.
"Kumohon jangan kambuh disaat seperri ini," gumam Wonwoo.
Tangannya semakin erat memagang pinggir nakas. Kepalanya berdenyut lebih kencang. Kakinya mulai lemas dan darahpun tak berhenti mengalir.
"Hikssss sakithhh," ringis Wonwoo.
Kakinya sudah tak kuat menopang tubuhnya. Wonwoo membiarkan dirinya jatuh terduduk. Air mata ikut mengalir saat merasakan sakit yang amat luar biasa dikepalanya.
"Arghhhhh~" teriak Wonwoo tak tahan.
Jisoo yang mendengar teriakan adiknya mempercepat langkah kakinya.
"Astaga Wonwoo," teriak Jisoo panik melihat keadaan adiknya.
"Wonwoo sadarlah," Jisoo memangku kepala adiknya dan menepuk pipinya.
Berhasil, Wonwoo membuka kedua matanya. Dia bisa melihat tatapan kesakitan dari kedua bola mata adiknya.
"Hyungiee, ini sakithhh," guamam Wonwoo pelan.
"Wonwoo bertahanlan, Hyung mohon,"
Dengan sigap Jisoo menggendong adiknya berlari menuju mobilnya. Membawa sanv adik secepat mungkin menuju rumah sakit.
"Sudah satu jam terlewatkan," gumam Mingyu. "Wonwoo hyung kenapa belum datang," gumam Mingyu khawatir.
Entah kenapa perasaannya sangat tak enak. Dia mengkhawatirkan keadaan Wonwoo. Ponselnya bahkan tak bisa dihubungi.
"Wonwoo hyung tak mungkin melupakan janjinya," gumam Mingyu meyakinkan dirinya.
"Wonwoo kumohon bertahanlah," Jisoo tidak melepaskan genggaman tangannya sama sekali. Dia ikut mengiringi sang adik menuju ruang ICU. Sampai didepan ruang ICU dokter menahannya untuk ikut masuk.
Jisoo pasrah, dia menyerahkan keselamatan adiknya pada mereka yang memakai Jas putih. Jisoo kemudian duduk dibangku yang disediakan. Menyatukan kedua tangannya dan menutup matanya. Berdoa kepada Tuhan untuk keselamatan adiknya yang sedang berjuang didalam sana.
Cuaca mulai mendung, malam mulai menunjukkan wujudnya. Mingyu masih setia menunggu Wonwoo. Dia percaya kalau Wonwoo pasti akan datang. Lagipula dia baru menunggu selama 2 jam. Jadi dia tak akan menyerah.
"Kuharap kau datang Wonwoo hyung," harap Mingyu.
Suara pintu terbuka membuat Jisoo tersadar. Dia membuka kedua matanya dan berlari menghampiri sang dokter yang baru saja keluar.
"Bagaimana keadaan adikku dokter?" tanya Jisoo panik.
"Maafkan aku," senyum yang diberikan sang dokter membuatnya takut seketika.
"Ke-kenapa?" tanya Jisoo bingung.
"Maafkan paman Jisoo, paman tak bisa melakukan apapun. Adikmu Koma, kankernya sudah menyebar terlalu luas, dan kita hanya bisa berdoa untuk kesembuhannya," sang dokter yang sudah dianggap paman oleh Jisoo menepuk sekilas pundak Jisoo lalu berjalan pergi meninggalkannya sendiri.
Jisoo ingin untuk tidak mempercayai perkataan sang dokter. Tapi kenyataan sang adik yang memang mengidap kanker membuatnya tersadar kalau hari seperti ini pasti akan datang cepat atau lambat. Air mata mengalir dari kedua mata indahnya saat melihat sang adik dipindahkan keruang rawat. Langkahnya mengikuti dengan gontai menuju ruang rawat adiknya.
Hujan mulai turun membasahi kota Seoul. Derasnya hujan tidak membuat Mingyu menyerah. Dia tetap menunggu kedatangan Wonwoo. Walau harapannya mulai menipis dia akan tetap menunggunya.
"Kau harus kuat Wonwoo, bangunlah, berikan hyung senyum terbaikmu," Jisoo menggenggam tangan adiknya yang dingin.
Jisoo tak kuat melihat adiknya terbaring lemah seperti ini. Ingin rasanya dia memaki kepada semua dokter yang tak bisa menyelamatkan adiknya. Ingin rasanya meminta tuhan agar dia bisa menggantikan posisi adiknya.
Mingyu berjalan gontai menuju rumahnya. Mengabaikan semua tatapan yang diberikan orang-orang disepanjang jalan. Membiarkan hujan membasahi tubuhnya. Tatapan kosongnya menyiratkan kesedihan dihatinya. Semuanya berantakan. Wonwoo nya mengingkari janjinya.
Diketuknya pintu kayu yang berada didepannya. Kakinya mulai lemas untuk menopang tubuhnya. Pintu didepannya terbuka, memperlihatkan sosok Ummanya.
"Dia tak datang, Umma. Wonwoo hyung tidak datang," gumam Mingyu sebelum tubuhnya terjatuh. Dia masih bisa mendengar teriakan panik Ummanya sebelum gelap menjemputnya.
.
.
.
T.B.C
.
.
Maafkan aku yang tak bisa menepati janjiku pada kalian. Harusnya tamat di chap ini tapi rasanya sangat panjang sekali. Ini adalah cbap terpanjang yang kubuat. Mian kalau ceritanya mulai membosankan. Tak apa kalau kalian tidak membacanya. Do'a kan aku supaya benar-benar menamatkan cerita ini di chap berikutnya. Adakah yabg bisa menebak bagaimana endingnya?
Thanks buat kalian yang udah mau review dan membaca cerita abal ini.
