Sincere Love
Cast
Kim Mingyu
Jeon Wonwoo
Pairing
Meanie
Warning
Cerita abal dan absurd, Typo(s), BL, Angst gagal, Death Chara.
Don't Like Don't Read
.
.
.
Langit mulai berubah menjadi gelap, menunjukkan tanda-tanda akan turunnya hujan. Namun semua itu tak merubah langkah kaki Mingyu yang masih setia melambat. Berjalan dengan tatapan kosong seakan jiwanya tak berada ditempat. Langkahnya yang lambat berhenti saat melihat tempat yang tidak asing untuknya. Membawanya menaiki satu-persatu anak tangga.
Hamparan rumput yang luas menjadi pemandangan yang menyapanya. Menghampiri sebuah bangku panjang yang kosong. Biasanya, dijam-jam seperti ini, akan ada seseorang yang duduk disini. Menyambut kedatangannya dengan senyum manis yang merekah.
Mingyu mendudukan tubuhnya diatas bangku tersebut. Memandang kota seoul dari atas bukit. Dengan langit yang masih setia menampakkan mendungnya. Berharap sosok itu akan datang dengan tiba-tiba dan mengejutkannya.
'Hyung, aku merindukanmu,'
.
"Ahhh akhinya bisa kembali kekamar," ujar Wonwoo saat akhirnya bisa kembali berbaring diranjang rawatnya.
"Sepertinya kau senang sekali Wonnie~" Jisoo sedikit tertawa melihat tingkah adik kesayangannya.
"Tentu saja aku senang hyung. Kau tak tahu rasanya melakukan kemoterapi, benar-benar melelahkan," kesal Wonwoo.
"Walau begitu kau harus tetap melakukannya Wonnie," Jisoo mengelus pipi tirus adiknya.
"Itu pasti hyung. Asal kau menemaniku, aku akan tetap melakukannya," balas Wonwoo tak lupa menampilkan senyum manisnya.
"Anak pintar," Jisoo mengelus rambut Wonwoo.
"Umhhhh aku mengantuk hyung," keluh Wonwoo.
"Kalau begitu tidurlah, hyung akan menemanimu disini,"
"Janji hyung?"
"Janji Wonnie,"
Jisoo membantu Wonwoo berbaring, menyelimutinya dengan lembut agar Wonwoo tetap merasa hangat. Duduk kembali dikursi samping tempat tidur, menatap sendu wajah pucat adiknya. Pipinya yang semakin tirus, lingkaran hitam dibawah matanya yang terlihat jelas. Ingin rasanya Jisoo berteriak pada Tuhan untuk membiarkannya menggantikan posisi adiknya sekarang. Entah dosa apa yang dibuatnya dahulu, kenapa Tuhan menghukumnya seberat ini. Mengambil satu-persatu keluarga yang dimilikinya.
"Hyung akan selalu menjagamu, berusaha untuk melepaskanmu dari penyakit yang menyiksamu," Jisoo mengelus kembali rambut halus adiknya, "Maka dari itu kau juga jangan pernah menyerah. Teruslah berjuang bersama hyung untuk melawan semua ini," gumam Jisoo.
Salahkah Jisoo kalau mengharapkan sebuah keajaiban datang unruk adiknya.
.
.
.
"Aku pulang," Mingyu melepaskan sepatu yang dipakainya dan menaruhnya di rak sepatu.
Berjalan dengan lesu menuju tangga. Melewati begitu saja kedua orang tuanya yang memandangnya khawatir. Bahkan Mingyu tak menggubris perkatan ibunya. Dia hanya ingin cepat-cepat sampai kekamarnya. Memejamkan kedua matanya dan berharap semua kembali seperti semula saat dia terbangun.
Tapi Mingyu sadar kalau itu semua tak mungkin terjadi. Melempar asal tas sekolahnya, lalu membaringkan tubuh tingginya di atas kasur. Menatap langit-langit kamarnya dengan pandangan lelah, beralih kearah dinding yang memajang berbagai bingkai foto. Ada foto dirinya bersama teman-teman barunya.
Bahkan Mingyu sudah bertanya pada teman-temannya akan keberadaan Wonwoo. Tapi selalu jawaban yang sama didapatnya. Mereka semua tak tahu atau berpura-pura tak tahu. Entahlah, Mingyu bahkan sudah terlalu frustasi untuk memikirnya.
Menghela nafasnya sebentar, untuk menahan laju air matanya. Tatapannya tak sengaja memandang polaroid dia dan Wonwoo tadi. Menahan sesak didadanya benar-benar menyakitkan. Sampai kapan Mingyu harus merasakan hukuman ini.
Rintik hujan diluar mulai terdengar memberi tahu seberapa deras mereka. Seakan mereka mengerti keadaan Mingyu. Tubuhnya terbangun tiba-tiba. Membawa langkahnya menuju jendela kamarnya. Membukanya lalu keluar menuju balkon. Mengulurkan tangannya guna merasakan tetesan air yang menyapa telapak tangannya.
"Bukankah kau suka hujan hyung. Lihatlah, hujannya sangat deras. Bukankah asik kalau kita bermain hujan-hujanan. Beritahu aku dimana kau sembunyi, aku akan menjemputmu dan mengajakmu bermain hujan," Gumam Mingyu maish menatap sendu kedepan.
"Kumohon hyung, beritahu aku keberadaanmu. Jangan jadi jahat dengan menyiksaku seperti ini,"
Mingyu memejamkan kedua matanya, meresapi tetesan hujan yang membasahi telapak tangannya.
"Aku merindukanmu Wonwoo hyung,"
Wonwoo merasakan jantungnya berdetak sedikit kencang. Menyebabkan sesak yang benar-benar menyakitkan. Pikirannya mengingat akan sosok namja tampan yang selalu menemaninya. Suara hujan diluar membuat Wonwoo mengalihkan pandangannya, hujan mengingatkannya dengan sosok seorang Kim Mingyu.
Perlahan kedua kakinya menginjak lantai rumah sakit yang dingin. Berjalan sambil membawa tiang infus menuju jendela. Rasanya Wonwoo ingin membuka jendela dihadapannya dan merasakan hujan. Dia bahkan sudah tak tahu berapa lama tidak bermain keluar.
Sejenak memejamkan kedua matanya. Tangannya dengan setia menempel pada Jendela. Meresapi bunyi hujan yang terdengar ditelinganya.
"Aku sungguh merindukanmu. Jika Tuhan mengijinkan, aku ingin sekali bertemu denganmu," Wonwoo benar-benar lelah menyimpan semua perasaan menyakitkan ini. "Aku mencintaimu Kim Mingyu," sebuah pengakuan keluar beriringan dengan air mata yang mulai mengalir.
"Aku mencintaimu Wonwoo hyung,"
.
.
.
"Mingyu kenapa tak memakannya, apa masakan umma tidak enak,"
Ucapan ibunus membuat Mingyu tersadar dari lamunannya. Dia tak sadar kalau sedari tadi kedua orang tuanya memperhatikan dirinya yang hanya mengaduk-aduk makan malamnya.
"Ahhh anio~ masakan Umma enak ko," Mingyu memasukan sesuap makanannya kedalam mulut.
Ibu Mingyu menghela nafasnya. Dia tahu putranya sedang tidak baik-baik saja.
"Apa belum ada kabar?" tanya sang ibu sambil mengelus tangan Mingyu.
Mingyu terdiam sebelum akhirnya menggeleng lemah, "Tidak ada yang tahu akan keberadaannya saat ini," gumam Mingyu sendu.
Sang ibu memandang putranya sedih. Kenapa kisah cinta anaknya harus begitu menyakitkan.
"Kau harus sabar sayang, kalau kalian berjodoh Tuhan akan membantu kalian untuk bertemu,"
"Emm, Semoga saja Umma,"
Mingyu menunjukkan senyum tipis agar orang tuanya tidak khawatir. Mingyu lalu melepas genggaman ummanya dan berdiri dari kursi yang didudukannya.
"Aku sudah kenyang Umma, aku akan kembali kekamar dulu. Ada banyak tugas yang harus kukerjakan. Selamat malam Umma, Appa," lalu Mingyu berlalu meninggalkan kedua orang tuanya yang masih setia menatap kepergiannya.
"Apa anak buahmu juga belum mengetahui keberadaan Wonwoo Yeobo?" tanya Nyonya Kim pada suaminya.
"Belum," Tuan Kim menggeleng, "Sulit sekali untuk mengetahuinya. Sepertinya ada seseorang yang sangat ahli menyembunyikan keberadaan Wonwoo," jelas Tuan Kim.
"Kumohon sayang, bantu Mingyu menemukan Wonwoo. Aku tak ingin putraku menjadi mayat hidup," Mohon Nyonya Kim.
"Iya sayang aku akan berusaha sekuat tenaga,"
Mingyu duduk bersandar dikepala ranjang. Menempelkan ponselnya pada telinganya. Mencoba menghubungi nomor Wonwoo. Tersambung, tapi tidak diangkat. Mingyu masih mencobanya sampai suara operator yang terdengar.
Mingyu mencobanya sekali lagi. Namun nomor yang dihubunginya tidak aktif sekarang. Dia jadi kesal pada Wonwoo. Apa namja itu hanya mencoba mempermainkannya. Membuatnya terbang tinggi lalu menjatuhkannya sampai kedasar terdalam.
Kesal, dia melempar ponselnya kedinding. Tidak memikirkan akan nasib ponselnya yang sudah hancur dilantai.
Dering ponsel berbunyi, Wonwoo masih setia mendengarkan tanpa mengangkatnya. Netranya terpaku pada sebuah nama yang muncul di layar ponselnya. Memandang rindu pada nama tersebut. Keberaniannya tak ada sedikitpun untuk menerima panggilan masuk diponselnya.
"Aku ingin mendengar suaramu Mingyu," tapi yang terjadi adalah Wonwoo yang mematikan ponselnya.
"Aku ingin bertemu denganmu. Aku ingin melihat wajahmu. Aku ingin menyentuh dirimu," Gumam Wonwoo. "Hiks aku merindukanmu Mingyu, Hikss aku ingin memelukmu,"
Malam itu tangisan sendu kembali terdengar diruang rawat lirih yang menyayat hati. Tangisan yang menyimpan sebuah kerinduan yang teramat besar. Bahkan seseorang yang selalu mendengarnya akan ikut menangis juga. Seperti Jisoo, yang saat ini duduk bersandar pada ruang rawat adiknya.
Dengan kepala yang disembunyikan pada kedua lututnya. Rasanya Jisoo sudah gagal menjadi kakak yang baik untuk adiknya. Dia sudah gagal mewujudkan keinginan orang tuanya yang terakhir, membahagiakan Wonwoo yang tak bisa dia penuhi.
Tuhan kenapa kau melukiskan sebuah takdir yang menyakitkan untuk adiknya. Kenapa kau tak membiarkan adiknya hidup bahagia seperti umatmu yang lain.
.
Mingyu kembali kekafe Jeonghan setelah pulang dari sekolahnya. Kafenya tak terlalu ramai, mungkin karna sudah memasuki musim dingin. Mingyu menghampiri meja kasir. Langsung berhadapan dengan sang pemilik kafe, Yoon Jeonghan.
"Kenapa kau yang berjaga hyung? kemana Seungkwan," Mingyu mengedarkan pandangannya untuk mencari namja dengan pipi chubbynya.
"Seungkwan sedang pulang ke Jeju karna ummanya mendadak sakit, Jadi aku yang menggantikannya untuk berjaga hari ini," Jelas Jeonghan.
"Ahh begitu," Mingyu mengangguk mengerti.
"Kau mau memesan sesuatu?" tanya Jeonghan.
"Ani hyung," Mingyu terdiam. Perlukah dia bertanya lagi, "Hyung apa kau masih tak tahu keberadaan Wonwoo hyung?"
"Maafkan aku Mingyu," jawab Jeonghan penuh sesal.
"Ahhh gwenchana hyung, beritahu aku kalau kau mendapat kabar tentang Wonu hyung," Mingyu mencoba menampilkan senyumnya.
"Kalau begitu aku pamit hyung," Mingyu membalikkan badannya dan berjakan keluar kafe.
Jeonghan menatap kepergian sahabatnya dengan sendu. Dirinya merasa bersalah karna sudah menyembunyikan hal ini. Tapi Wonwoo sendiri yang memohon padanya untuk tidak memberitahukannya pada Mingyu. Tatapannya semakin khawatir saat melihat Mingyu yang hampir tertabrak.
"Maafkan aku Wonu, sepertinya aku akan memberitahukannya pada Mingyu," gumam Jeonghan.
.
.
.
"Wonnie kau siap?" tanya Jisoo sambil mengus rambut lembut adiknya.
"Bukankah aku harus selalu siap hyung," Jawab Wonwoo sendu.
"Kau harus tetap semangat Wonnie," Jisoo berjongkok didepan adiknya yang terduduk, "Kau harus tetap hidup demi hyung,"
"Aku akan tetap hidup hyung," Wonwoo meremas tangan Jisoo yang menggenggamnya, "Jika Tuhan mengijinkan," senyum manisnya dia berikan pada sang hyung.
"Wonwoo ayo kita mulai terapinya," Suara Minhyuk -dokter yang menangani Wonwoo- menginterupsi mereka.
"Hyung tunggu aku disini ne," pinta Wonwoo.
"Iya, hyung akan menunggumu,"
"Kajja Minhyuk hyung," Wonwoo berjalan berdampingan memasuki sebuah ruang yang biasa dia datangi untuk melakukan kemoterapi.
Jisoo selaku berdoa tanpa henti untuk kesembuhan adiknya. Tak pernah berhenti mengharapkan sebuah keajaiban meski itu sangatlah mustahil.
"Bagaimana keadaannya?" tanya jisoo pada dokter yang menangani adiknya.
"Maafkan aku Jisoo," tatapan itu penuh dengan penyesalan, "Keadaannya semakin buruk,"
Tubuhnya terasa lemah saat mendengar kata-kata itulah yang keluar dari sosok didepannya. Kenapa seperti ini? bukankah adiknya sudah melakukan pengobatan? ingin rasanya dia berteriak menyalahkan semua orang yang berada disini.
"Kumohon jangan menyerah hyung,"
"Aku tak akan menyerah Jisoo," dokter muda itu menepuk bahu Jisoo, "Tapi kau juga tahu kalau Tuhan lah yang memutuskan,"
Jisoo masih tediam. Dia mengerti maksud dari perkataan sang dokter. Jisoo berjalan memasuki ruangan adiknya. Disana, adiknya sedang terlelap dengan tenang. Wajahnya terlihat sangat damai. Seolah-olah tak ada beban yang harus ditanggungnya. Andai saja wajah adiknya bisa seperti ini juga saat matanya terbuka.
"Hey, kau harus kuat nde," Jisoo mengelus rambut adiknya yang mulai rontok. "Kau harus menepati janjimu untuk selalu menemani hyung," Jisoo kembali bermonolog.
"Aigoo lihatlah tanganmu semakin kurus," Jisoo menggenggam tangan Wonwoo. "Hyung ingat dulu kau bilang sangat suka menggenggam tangan hyung. Dan kau akan marah saat melihat hyung menggenggam tangan orang lain,"
Tubuhnya mulai bergetar. Air matanya mulai mengalir perlahan. Padahal dulu adiknya lah yang paling cengeng. Tapi kenapa malah dia yang menjadi cengeng sekarang.
"Sembuhlah Wonwoo, hyung mohon. Sembuhlah demi hyung hikssss dan demi Mingyu,"
Jisoo tak kuat. Suara tangisnya tertahan karna dia menyembunyikan wajahnya sambil menggenggam tangan adiknya. Suara tangis yang benar-benar pilu. Sarat akan keputusasaan. Wonwoo mendengarnya. Mendengar semuanya tanpa sang hyung tahu. Bolehkah dia berkata kalau dia belum siap untuk meninggalkan dunia? Dia belum siap untuk meninggalkan hyungnya sendirian. Dia belum siap untuk meninggalkan sang pujaan hati. Mingyu bahkan belun tahu kalau dia sangat mencintai pria itu.
.
.
.
Langkahnya sangat pelan. Rasanya sangat berat untuk melangkahkan kakinya. Tatapan matanya kosong. Bahkan dia mengabaikan begitu saja makian yang orang-orang lontarkan karna bertabrakan dengannya. Jiwanya seolah pergi entah kemana.
Matanya mendongak keatas saat langkahnya sudah berhenti. Sebuah nama rumah sakit ternama terpampang jelas didepannya. Haruskah dia melanjutkan langkahnya?Haruskah dia percaya pada perkataan Jeonghan?
Dan pada akhirnya Mingyu memilih melanjutkan langkahnya. Memasuki rumah sakit besar itu lebih kedalam. Bertanya pada sang resepsionis akan keberadaan ruangan tempat sosok itu dirawat. Jeon Wonwoo benar-benar berada disini. Disebuah ruangan dengan nomor 112.
Mengabaikan air mata yang mulai mengalir. Dirinya mengingat setiap perkatan Jeonghan. Kata demi kata yang membuatnya hancur. Jeon Wonwoo, seseorang yang membuatnya jatuh cinta menderita penyakit kanker.
Kenapa semua orang begitu jahat padanya? Kenapa semua orang berkonspirasi menjadikannya orang bodoh? Orang bodoh yang tidak tahu apa-apa akan penderitaan Wonwoo.
Langkahnya berhenti saat mendengar suaranya. Memutar tubuhnya mengahadap taman rumah sakit. Dan sosok itu berdiri didepannya. Walau berdiri memunggunginya, dia masih bisa mengenalinya. Mingyu mengingat dengan sangat jelas semua yang ada pada diri Wonwoo.
"Wonwoo hyung," bisiknya pelan.
Seolah mendengar suara memanggil namanya, Wonwoo membalikkan badannya. Tubuhnya menjadi tegang seketika. Tak mampu menggerakkannya bahkan saat sosok didepannya mulai mendekat.
Pelukkan erat didapatnya. Wonwoo bahkan bisa merasakan bahunya yang basah oleh air mata.
"Kenapa kau begitu jahat hiks? Kenapa kau tak pernah mau membaginya denganku? Aku bahkan selalu membagimu penderitaanku tanpa tahu kau lebih menderita dariku,"
Mingyu semakin mengeratkan pelukannya. Takut sosok dalam pelukkannya akan kembali menghilang saat dia melepaskannya.
"Aku mencintaimu Hyung,"
Runtuh sudah semua pertahaan Wonwoo. Air matanya keluar seiring perkataan itu keluar. Wonwoo bahkan membalas pelukan Mingyu. Ikut memeluknya dengan erat agar sosok didepannya tidak melepas pelukannya.
"Aku juga mencintaimu hikss Mingyu,"
Dan saat itu sebuah perasaan sesak yang selama ini mereka tahan keluar melalui air mata. Saling berbagi tangisan tanpa sedikitpun melepas pelukan. Berharap agar tuhan menghentikan Waktu detik ini juga.
"Kau tahu darimana aku ada disini?" tanya Wonwoo pada sosok yang terbaring disebelahnya.
"Jeonghan hyung yang memberitahuku," Jawab Mingyu sambil memandang wajah Wonwoo.
"Aishhh Jeonghan hyung nakal. Aku kan sudah bilang padanya untuk merahasiakannya," gumam Wonwoo.
"Justru kau lah yang nakal hyung," Mingyu mencubit gemas hidung Wonwoo.
"Ahhh sakit Gyu," kesal Wonwoo sambil mengelus hidungnya.
Mingyu tersenyum saat melihat wajah kesal Wonwoo, tapi itu tak bertahan lama. Senyumnya menghilang saat memperhatikan keadaan Wonwoo dengan seksama. Wajahnya semakin pucat dan tirus. Matanya juga terlihat sayu. Dan dia juga bisa menebaknya bahwa tak ada lagi rambut hitamnya diatas kepala yang tertutupi beanie berwana biru itu.
"Apa yang kau pikirkan Gyu? kenapa melamun?" suara Wonwoo menyadarkan Mingyu.
"Ahhh ti-tidak ada hyung," jawab Mingyu seadanya.
Wonwoo tak percaya, maka dari itu dia memberikan tatapan penuh selidik pada namja yang berbaring disampingnya.
"Ahhh aku tahu," seru Wonwoo yang dihadiahi tatapan bingung dari Mingyu.
"Kau pasti berpikir bahwa aku sangat jelek saat ini," sedih Wonwoo.
"Aigooo hyungiee," Mingyu menangkup kedua pipi Wonwoo "Selamanya bagiku Wonwoo hyung adalah sosok yang paling indah. Bagaimanapun keadaannya," dan kecupan manis mendarat dibibir Wonwoo.
"Uhhh gombal," Wonwoo salah tingkah dan memukul dada Mingyu. Menyembunyikan wajah memerahnya pada dada Mingyu.
"Hahaha, sudahlah hyung, lebih baik kau berisrirahat," Mingyu mengeratkan pelukannya pada Wonwok.
"Aku akan istirahat kalau kau menemaniku,"
"Aku akan menemanimu hyung,"
Wonwoo memandang wajah tampan dihadapannya. Mencoba melihatnya sepuas hatinya karna dia yakin tak ada kemungkinan untuk melihat wajah itu lagi.
"Aku mencintaimu Gyu," ungkap Wonwoo.
"Aku juga mencintaimu Wonu hyung,"
Dan sore itu mereka berdua terlelap bersama diatas ranjang rawat Wonwoo. Tangannya yang sudah tak terbalut selang infus memeluk pinggang Mingyu. Tangan Mingyu sendiri memeluk bahu Wonwoo memberikannya kehangatan.
Jisoo yang tadinya akan menghampiri sang adik kembali keluar. Sempat terkejut saat melihat sosok Mingyu disamping adiknya. Tapi akhirnya dia mengerti kalau Mingyu pasti sudah mengetahui semuanya.
.
.
.
"Wonu hyung," sebuah kepala menyembul dari balik daun pintu. Membuat Wonwoo yang sedang terduduk diatas ranjang mengalihkan pandangannya.
"Mingyu," ujar Wonwoo terkejut.
Mingyu berjalan menghampiri ranjang Wonwoo. Masih dengan senyum yang melekat dibibirnya.
"Kenapa kau bisa ada disini?" tanya Wonwoo.
"Tentu saja untuk menjemputmu hyung," jawab Mingyu.
"Kau tidak sekolah?"
"Aku membolos hyung," Mingyu menjawabnya santai.
"Dasar nakal," Wonwoo menjitak kepala Mingyu.
"Awww sakit hyung," Mingyu meringis sambil mengusap kepalanya. "Kenapa memukulku? Kau tidak suka aku menjemputmu hyung?" tanya Mingyu tak terima.
"Bukan begitu. Aku senang kalau kau datang untuk menjemputku, tapi aku tak suka kalau kau bolos hanya karna ingin menjemputku," jelas Wonwoo.
"Aigoooo manisnya kekasihku ini," Mingyu mencubit gemas pipi tirus Wonwoo.
"Yakkk," Wonwoo memukul tangan Mingyu, " Sejak kapan aku menjadi kekasihmu hahh?"
"Sejak kau mengatakan cinta padaku," Mingyu memeluk Wonwoo lembut "Sejak saat itu, Suka atau tidak, kau telah menjadi kekasih seorang Kim Mingyu,"
"Dasar pemaksa," Wonwoo menggerutu tapi tetap membalas pelukan Mingyu dan tersenyum manis.
"Wahhh sepertinya hyung mengganggu kalian," Jisoo menginterupsi kegiatan mereka.
Mingyu segera melepaskan pelukannya dan berbalik untuk menyapa hyung kekasihnya.
"Hai Jisoo hyung,"
"Hai juga Mingyu," balas Jisoo sambil menghampiri adiknya. "Kenapa kau ada disni Gyu?"
"Si bodoh ini membolos sekolahnya hanya untuk menjemputku hyung," Wonwoo lah yang menjawab.
"Benarkah?" dan Mingyu menggangguk membenarkna ucapan Wonwoo.
"Wahhh itu berarti Mingyu sangat mencintaimu Wonwoo," Jisoo menepuk bahu Mingyu.
"Yaaa hyung kenapa kau malah membelanya sih," Wonwoo merengut, "Kalian berdua menyebalkan,"
Minguu dan Jisoo hanya bisa tertawa melihat wajah merajuk Wonwoo. Mereka berdua sangat berharap pada tuhan untuk tidak mengambil sosok manis dihadapan mereka ini.
"Hyung sudah menyelesaikan semuanya?" tanya Wonwoo memecah keheningan.
"Sudah sayang," Jisoo mengelus kepala adiknya.
"Ahhh akhirnya bisa pulang juga," senang Wonwoo.
"Tapi Minhyuk hyung menyuruhmu untuk check up seminggu sekali," tambah Jisoo.
"Aishhh Minhyuk hyung menyebalkan, apa dia tak tahu kalau aku benci dengan bau rumah sakit ini," gerutu Wonwoo lagi.
"Dari pada kau menggerutu terus, lebih baik kita cepat pulang,"
Mingyu menggendong Wonwoo bridal tanpa aba-aba.
"Yakkk Kim Mingyu apa-apaan kau?" Wonwoo reflek memeluk Mingyu.
"Jisoo hyung, Wonwoo hyung ikut dimobilku saja ne," ujar Mingyu sambil berjalan membawa Wonwoo dalam gendongannya.
Jisoo sendiri hanya bisa menggelengkan kepala dan tersenyum. Dia masih bisa mendengar teriakan kesal adiknya sedikit. Dia mengambil tas yang berisikan barang-barang Wonwoo lalu berjalan keluar menyusul adik dan kekasih adiknya.
.
"Mingyu kenapa berhenti dikafe Jeonghan hyung,"
Wonwoo bingung saat Mingyu menghentikan mobilnya didepan kafe milik temannya. Tapi dia tetap turun mengikuti Mingyu setelah dia membukakan pintu mobil untuknya.
"Kau akan tahu nanti hyung," Jawab Mingyu lalu menuntun Wonwoo berjalan memasuki kafe Jeonghan.
"Kenapa gelap sekali Gyu?" tanya Wonwoo kembali saat melihat keadaan didalam kafe sangatlah gelap.
Tapi itu tak bertahan lama, karna dalam hitungan beberapa detik lampu ruangan sudah menyala kembali.
"Selamat datang kembali Wonwoo/Wonwoo hyung~"
Wonwoo terkejut, itu sudah pasti. Semua teman-temannya datang berkumpul menyambut kepulangannya. Bahkan kedua orang tua Mingyu pun ikut menyambutnya. Betapa dia tak bisa menahan kebahagiannya. Ternyata tuhan masih memberikan orang-orang yang tulus mencintainya disisa hidupnya ini.
"Wonwoo~" Jeonghan mendekat dan memeluk Jeonghan erat. "Aku merindukanmu sayang~" Jeonghan mencoba meredam tangisannya.
"Aku juga merindukanmu hyung," balas Wonwoo.
"Hyung gantian, aku juga mau memeluk Wonwoo hyung," Seungkwan mulai mengeluarkan protesannya.
"Aishhh kau berisik kwannie," Jeonghan akhirnya melepas pelukannya dan membiarkan teman-temannya bergantian memeluk Wonwoo.
Jeonghan memilih mundur dan berjalan menghampiri Mingyu, berdiri disamping namja tinggi tersebut.
"Terimakasih sudah memberitahukan semuanya padaku hyung," ujar Mingyu saat merasakan kehadiran Jeonghan disampingnya.
"Aku melakukannya karna aku menyayangi kalian berdua, jadi kau tak perlu repot berterimakasih padaku," balas Jeonghan.
Mereka berdua kembali melihat kearah teman-temannya berkumpul. Sesekali mereka akan tertawa saat melihat Wonwoo yang sedikit kesulitan menghadapi teman-temannya yang begitu liar.
Lonceng yang berada didepan pintu berbunyi, tanda seseorang baru saja membuka pintu. Semua mata teralihkan pada seseorang yang berjalan menghampiri mereka.
"Wahhh ternyata sudah ramai. Aku tidak terlambatkan?"
"Tentu saja tidak Jisoo hyung," jawab Wonwoo.
"Jadi bisa kita mulai pestanya?" Tanya Soonyoung.
"Tentu saja," dan teriakan semangat dari mereka semua menjadi pertanda dimulainya pesta tersebut.
Mereka semua mulai menyerbu makanan yang ada. Saling melempar canda dan tawa. Wonwoo tak bisa untuk tidak ikut tersenyum melihat teman-temannya. Perasaan hangat kembali dirasakannya. Berada ditengah-tengah orang-orang yang menyayanginya membuat hatinya menghangat.
Senyum manisnya berubah menjadi sendu. Sebentar lagi dia akan kehilangan tawa-tawa manis sahabatnya. Sebentar lagi dia akan meninggalkan orang-orang yang berkumpul bersamanya saat ini. Suatu saat dia tak akan bisa bernafas dan tinggal ditempat yang sama dengan mereka.
'Bisakah kali ini aku berharap untuk tetap hidup,'
.
.
.
"Mingyu apa masih jauh? Sebenarnya kita mau kemana?" Pertanyaan itu mengalir dari kedua belah bibir Wonwoo.
"Sabarlah hyung, sebentar lagi kita sampai,"
Mingyu masih berjalan sambil menuntun Wonwoo yang kedua matanya ditutup dengan kain hitam olehnya. Sebuah kejutan sudah disiapkan olehnya untuk sang pujaan hati. Senyum masih setia terpasang diwajahnya. Kakinya berhenti saat tempat tujuannya sudah tercapai. Wonwoo yang berada dibelakangnya pun ikut berhenti. Mingyu beralih kebelakang Wonwoo dan membuka penutup matanya. Wonwoo mengerjapkan matanya mencoba menyesuaikan cahaya yang diterima retinanya. Dan saat semuanya sudah jelas dipandangannya, matanya membola terkejut dengan mulut yang menganga.
"Suka dengan kejutannya hyung?" Sebuah pertanyaan keluar seiring dengan sepasang tangan yang memeluk pinggangnya dari belakang.
"K-kau yang mem-membuatnya?" tanya Wonwoo tergagap.
"Tentu saja,"
"Aku menyukainya Gyu," mata Wonwoo terlihat berbinar "Sangat menyukainya,"
"Syukurlah kalau kau menyukai kejutan sederhana ini hyung,"
"Ini memang sederhana," Wonwoo menolehkan kepalanya kebelakang, "Tapi ini sangat indah,"
Melihat senyum manis dibibir Wonwoo membuatnya ikut tersenyum. Melepas pelukannya, Mingyu berjalan memutar kedepan Wonwoo. Menuntun hyung tersayangnya untuk mengikuti dirinya. Berjalan menghampiri lilin yang sudah dia susun menjadi bentuk hati dan berdiri ditengahnya.
"Hyung, sudahkah kukatakan bahwa kau sangat manis malam ini," ucapan penuh ketulusan diberikan oleh Mingyu.
"Tentu kau tahu tentang keinginanku dihari ulang tahunku kan?" Tanya Mingyu dan Wonwoo menjawabnya dengan anggukan.
"Terimakasih karna kau sudah mewujudkan dua diantaranya," Mingyu lalu menggenggam tangan Wonwoo dan berlutut dihadapannya.
"Dan maukah kau mewujudkan impianku yang ketiga?" Mingyu memberikan senyum tulusnya. "Jeon Wonwoo, maukah kau menjadi kekasih seorang Kim Mingyu?"
Wonwoo berharap ini semua bukanlah mimpi belaka. Bahwa Kim Mingyu yang bélutut dihadapannya benar-benar nyata. Jantungnya berdebar kencang. Mereka memang sudah saling mengaku akan hati mereka. Tapi Wonwoo masih tak percaya bahwa Kim Mingyu meminta namja penyakitan seperti dirinya menjadi kekasih pria tampan didepannya.
"Mingyu kau tahu semuanya kan? Aku tak mungkin selamanya ada disampingmu. Suatu saat nanti hikss aku pasti akan meninggalkanmu," jelas Wonwoo sambil menahan isakannya.
Mingyu menghela nafasnya sejenak. Berdiri dari acara berlututnya. Menangkuo kedua pipi tirus milik Wonwoo. Dan menatap dalam kedua bola mata didepannya.
"Hyung dengarkan aku," Wonwoo balas menatapnya, "Aku memang sudah tahu semuanya dan aku tak peduli. Perasaan ini terlalu besar untuk diabaikan. Aku mencintaimu dan aku ingin memilikimu, tak peduli apapun resiko yang harus kutanggung. Aku hanya ingin disampingmu, bersamamu menghabiskan waktu yang ada. Menjadi alasan dan penyemangat untukmu bertahan. Menjadi seseorang yang selalu bisa kau andalkan. Dan aku hanya ingin kau sebagai tempat hatiku berlabuh,"
Wonwoo tak tahu sejak kapan air matanya mengalir keluar. Yang dia tahu hatinya menjadi hangat sekaligus sesak mendengar ucapan Mingyu. Bolehkah dirinya egois dengan mengikat Mingyu walau pada akhirnya dia akan meninggalkan Mingyu. Bolehkah sekali ini saja dia menyampingkan semua kenyataan yang ada.
"Mingyu, hikss aku tak pantas hikss untukmu, hikss kau pantas mendapatkan hiks yang lebih baik hiks dariku," jelas Wonwoo ditengah isakannya.
"Hyung berhentilah menangis," Mingyu menyeka air mata yang membasahi wajah Wonwoo. "Kau lebih dari sekedar pantas untukku hyung,"
"Ikutilah kata hatimu hyung," tambah Mingyu.
Wonwoo memejamkan matanya. Menuruti perkataan Mingyu untuk mengikuti kata hatinya. Dan dia memutuskan untuk menyampingkan semua kenyataan yang ada.
"A-aku," Wonwoo menghapus semu air mata yang tersisaa diwajahnya. "Aku mau menjadi kekasihmu," dan pada akhirnya Wonwoo memutuskan untuk memilih Mingyu menjadi tempatnya berlabuh. Pelukan hangat diterimanya dari sosok yang sedang berbahagia didepannya. Tak bisa dipungkiri kalau dirinya juga bahagia. Senyum manis turut menghiasi wajahnya. Wonwoo ingin sejenak melupakan keadaanya. Mencoba menikmati hadiah yang tuhan berikan disisa hidupnya.
.
.
.
Semua berjalan lancar. Mingyu sudah lulus dari sekolahnya dan melanjutkan pendidikannya di universitas dengan jurusan yang diinginkannya. Keluarganya kembali menjadi harmonis dan teman-teman barunya masih setia disinya. Jangan lupakan Jeon Wonwoo, kekasih hatinya yang selalu menyempurnakan hari-harinya.
Wonwoo sudah tak melanjutkan sekolahnya, dia senang saat Mingyu menceritakan kehidupan universitasnya dengan semangat. Mereka selalu melakukan kencan seperti pasangan-pasangan lainnya. Mingyu akan dengan bangganya menunjukkan pada dunia betapa beruntungnya memiliki Wonwoo. Walau banyak dari teman-teman kuliahnya yang menyayangkan dirinya memilih Wownoo menjadi kekasihnya.
Mingyu juga menggantikan tugas Jisoo untuk mengantar Wonwoo kemoterapi. Minhyuk bahkan terkejut saat tahu Wonwoo berhasil mematahkan diagnosanya dan masih berhatan.
Setahun berlalu tak mengikis sedikitpun cinta mereka. Justru perasaan cinta itu semakin tumbuh dihati masing-masing. Mingyu mencintai Wonwoonya tak peduli walau dunia menentangnya.
"Hyung kau menikmati jalan-jalan hari ini?" Tanya Mingyu.
"Aku menikmatinya, ini menyenangkan," Wonwoo tersenyum dengan sangat manis.
"Syukurlah kalau kau menyukainya," bunyi dering ponsel menginteupsi kegiatan mereka. "Tunggu sebentar hyung, ini dari dosenku," pamit Mingyu dan berjalan sedikit menjauh.
Wonwoo masih tersenyum melihat sosok Mingyu yang sedang berdiri. Betapa beruntungnya dia mempunyai kekasih sesempurna Mingyu, yang mau menerima dirinya apa adanya. Wonwoo memadang sekitarnya. Ini hari Minggu, pantas saja taman ini ramai.
Sing~
"Akhh," Wonwoo reflek meremas kepalanya.
Sakit kepalanya tiba-tiba saja kembali datang. Wonwoo memejamkan kedua matanya mencoba meredakan sakit dikepalanya. Sesekali menggelengkan kepalanya. Tapi tak sedikitpun rasa sakit itu menghilang, yang ada malah tambah terasa menyakitkan. Wonwoo menundukkan kepalanya. Tetesan darah bisa dilihatnya diatas tanah. Pandangannya mengabur, dirinya sudha mulai terhuyung kedepan. Dan yang didengarnya hanya teriakan panik Mingyu sebelum kesadarannya mulai menghilang.
"Bagaimana keadaanya Hyung,"
"Maafkan aku," Minhyuk menggeleng lemah, "sepertinya Wonwoo sudah mencapai batasnya,"
"Kau bercanda hyung, Wonwoo bahkan masih baik-baik saja tadi pagi,"
"Tapi inilah kenyataannya Mingyu, kau harus bisa menerimanya. Wonwoo sedang koma, kami tidak bisa memprediksi kapan dia akan bangun atau mungkin tak akan kembali bangun,"
Brughh~
"Mingyu,"
Semua orang terkejut. Mingyu melayangkan pukulannya pada Minhyuk sampai dokter mida itu harus jatuh tersungkur. Seungcheol menahan tubuh Mimgyu yang kembali memberontak.
"Brengsek kau, jangan pernah berkata seperti itu. Wonwoo pasti sadar. Kau hanya seorang dokter yang tidak berguna," Mingyu mulai dikuasai amarahnya.
Minhyuk bangkit dari jatuhnya. Ini juga berat untukknya. Karna bagaimanapun Wonwoo sudah seperti adiknya. Dirinya berjalan melewati Mingyu serta teman-teman Wonwoo.
Mingyu sendiri kembali diam mematung. Seungcheol sudah melepasnya. Pagi tadi semua masih terasa baik-baik saja, Kenapa tiba-tiba harus seperti ini. Mingyu memejamkan kedua mata, tak kuasa menahan air matanya agar tak keluar. Bahkan pelukan sang ibupun tak terasa hangat seolah tubuhnya sudah mati rasa.
"Wonwoo pasti baik-baik saja Gyu, dia namja yang kuat,"
Bahkan kata-kata penenang dari ibunya terasa menyakitkan untuk didengarnya. Bisakah dia berharap kalau itu bukan hanya sekedar sebuah penenang.
'Jeon Wonwoo apapun yang terjadi kau harus kembali sadar, jangan pernah meninggalkanku,'
.
.
.
Satu bulan kembali terlewati. Terhitung dua bulan sudah Wonwoo masih nyaman dalam tidur panjangnya. Jisoo bahkan sudah merelakan sang adik untuk pergi. Karna melihatnya seperti ini lebih menyakitkan untuknya. Harapannya akan sang adik sudah mulai menipis.
Tapi tidak dengan Mingyu. Harapannya tidak pernah terkikis. Dia yakin kalau Wonwoo pasti akan sadar dan kembali menemaninya menjalani hidup. Setiap hari, setelah sepulang kuliah Mingyu aka setia berada disamping Wonwoo. Menemaninya melewati hari, menceritakan semua kegiatannya atau hal-hal yang baru saja dilaluinya. Mingyu tak akan pernah bosan berdo'a untuk sang terkasih.
"Hyung, maafkan aku yang baru bisa datang," Mingyu menggenggam tangan lembut Wonwoo hati-hati. "Hari ini aku harus mengerjakan hukuman dari dosen matematikaku makanya aku datang terlambat," sambit Mingyu.
"Hei hyung, kau tahu tidak kalau kedai ice cream tempat kita biasa kencan mempunyai varian rasa baru. Aku yakin kau pasti akan menyukainya, jadi kau harus bangun dan kita akan mencobanya bersama,"
Tak ada jawaban, hanya suara-suara mesin yang didengarnya. Mingyu menghela nafasnya.
"Kumohon bangunlah hyung," suaranya mulai bergetar, "Karna aku tak tahu sampai kapan bisa bertahan tanpamu,"
.
Mingyu menghentikan mobilnya didepan toko bunga. Entah kenapa dirinysingin sekali membeli bunga sebelum mengunjungi Wonwoo. Mingyu memasuki toko bunga kecil dan disambut oleh seorang wanita.
"Selamat datang, bunga apa yang ingin ands beli?" Sang wanita langsung bertanya tanpa basa-basi.
"Aku ingin satu bucket tulip pink," jawab Mingyu.
"Tunggu sebentar," sang Wanita lalu berjalan mengambil beberapa tangkai tulip berwarna pink. Membawanya kehadapan Mingyu dan mulai merangkainya.
"Apa anda sedang mengharapkan sesuatu?" Tanya sang pemilik toko.
"Ya begitulah," jawab Mingyu singkat.
"Baiklah sudah selesai," sang wanita memberikan bucket bunganya yang sudah jadi, "Semoga bunga ini bisa mengabulkan harapanmu,"
"Aku harap begitu," Mingyu menerima bucket bunga yang dipesannya, "Terimakasih,"
Mingyu berjakan keluar toko bunga. Senyum terpasang dibibirnya saat melihat bucket bunga digenggamannya. Sangat indah seperti Wonwoo. Baru saja Mingyu melanjutkan langkahnya, dering ponselnya memaksanya kembali berhenti.
"Yeobseo hyung,"
"Mingyu kau dimana?" Suara Seungcheol terdengar sangat lirih.
"Aku baru saja membeli bucket bunga untuk Wonwoo, sebentar lagi aku akan sampai kesana. Memangnya kenapa hyung?"
"..."
"Hyung, kenapa kau diam saja?" Mingyu kembali bertanya tapi Seungcheol tetap tak menjawab.
Suara tangis dari beberapa orang terdengar olehnya. Membuatnya penasaran akan hal apa yang terjadi disana.
"Hyung sepertinya aku mendengar suara Seungkwan menangis, dia ada disana?"
"Kim Mingyu,"
"Ya hyung?"
"Maafkan aku,"
"Mwo?Maaf? Maksudmu apa hyung, aku tak mengerti?"
"Kita kehilangan Wonwoo,"
Suara serak Seungcheol mampu membuat Mingyu terdiam. Sepertinya ada yang salah pada pendengarannya.
"H-hyung, k-kau be-bercanda," suara Mingyu mulai bergetar.
"Kau harus merelakannya Gyu, Wonwoo sudah berada ditempat yang lebih baik,"
Peelahan tangannya terkulai lemas disamping tubuhnya. Bunga yang dipegangnya dibiarkan saja jatuh keatas tanah. Begitupun semua air mata yang dimilikinya. Tak peduli dimana dirinya berada. Mingyu menangis memanggil nama Wonwoo seperti orang yang tak waras. Berharap Wonwoo datang kehadapannya dan menghentikan dirinya berbuat hal yang memalukan.
.
.
Sore itu langit menunujukkan warnanya yang cantik. Angin berdesir menerpa kedua orang yang sedang duduk dengan damai diatas bangku. Wonwoo menyandarkan kepalanya dibahu Mingyu. Tangannya menggenggam erat bunga mawar yang diberikan Mingyu. Teringat sesuatu, Wonwoo kembali mengangkat kepalanya. Merasa beban dibahunya menghilang, Mingyu menengok kearah Wonwoo.
"Mingyu, apa yang akan kau lakukan kalau seandainya aku tak ada lagi disisimu?"
"Memangnya kau mau kemana hyung? Apa kau akan pindah atau sekolah keluar negeri?"
"Sudah jawab saja Gyu,"
Mingyu tampak berpikir. Dia tak menyukai pertanyaan seperti ini sebenarnya. Tapi Mingyu tetap berpikir positif kalau seseorang yang dicintainya dalam diam ini hal ini hanya berandai-andai saja.
"Mungkin aku akan kembali menjadi seperti dulu. Menjadi Kim Mingyu sebelum mengenal Jeon Wonwoo,"
"Dasaar bodoh, jangan pernah melakukan hal seperti itu?"
"Kenapa kau melarangku?"
"Itu karna aku ingin melihatmu bahagia,"
"Bagaimana aku bisa bahagia kalau kau tak ada disisiku Hyung?"
"Kau pasti bisa Gyu dan kau harus berjanji untuk hal itu,"
"Aishhh aku tak mau,"
"Kau harus mau Gyu,"
"Baiklah aku akan berajanji padamu,"
"Apa janjimu?"
"Kim Minguu berjanji akan tetap bahagia walau Wonwoo hyung tak lagi disisiku,"
Wonwoo tersenyum mendengarnya. Dia kembali menyandarkan kepalanya. Dipejamkannya kedua mata indahnya. Senyum pedih terulas dibibirnya tanpa Mingy ketahui.
"Apapun yang terjadi kau harus tetap tersenyum Kim Mingyu, karna aku sangat mencintaimu,"
.
.
.
-The End-
Akhirnya bisa tamat juga. Maaf kalau cerita ini mungkin tak jelas atau alurnya yang aneh. Teeimaksih buat readerku tersayang yang sudah komen,follow sama fav.
Sekali lagi terimakasih banyak buat kalian semua.^^
