Disclaimer : Naruto ©Masashi Kishimoto

Remake novel angkatan Balai Pustaka

-Tidak mengambil keuntungan apapun dari penulisan fanfiction ini-

Warn : AU, Typo(s), OOC, DLDR!

[Sasuke U x Sakura H]

.

YUPPI CANDY Present's

:

S.A.K.U.R.A

Chapter 2

Sakura masih menatap kosong jendela ruang inapnya, iris emerald miliknya kembali berkaca-kaca. Gadis yang tiga hari lalu telah menjadi wanita itu bingung sekaligus takut. Bingung karena dia tidak tahu apa yang akan dia ceritakan pada Gaara dan orangtuanya, juga takut jika Gaara akan meninggalkanya. Tapi memang hak Gaara, seandainya dia menolak Sakura. Karena memang gadis yang disukainya sejak bangku SMA sudah tidak suci lagi.

Air matanya meleleh. Boleh jadi bukan hanya Ayah dan ibunya juga Gaara yang akan menolaknya, tetapi semua laki-laki akan mencemooh dan menolak dia jika mereka tahu kini ia tak suci lagi.

'Bodoh!. Aku memang bodoh!' Sakura mengumpati dirinya sendiri. Wanita merah muda itu frustasi.

'Kami-sama! Mengapa aku jadi begini bodoh!. Mengapa Kau biarkan semua ini terjadi padaku?, mengapa kau biarkan orang lain menghinaku?' Tanganya terkatup. Dia kembali menangis.

.

.

Pintu kamar inapnya diketuk, saat dia tegah asyik meratapi takdir dan nasibnya.

Dengan segera dihapusnya jejak air mata di wajahnya, dia tak ingin orang lain mengasihinya.

"Haruno-san, ada tamu untukmu" suster Kyoko masuk diikuti Fugaku dan Mikoto di belakangnya.

Perlahan dia menatap siapa tamu yang dimaksud suster Kyoko. Pandanganya terhenti pada dua orang yang berdiri kaku di hadapannya.

Hening sesaat, kemudian wanita merah muda itu mencoba tersenyum pada kedua tamunya. "Maaf ... Bapak dan Ibu siapa?" Sakura bertanya pada keduanya.

Mikoto teriris hatinya mendengar suara Sakura yang begitu lembut.

"Saya Mikoto, dan ini suami saya Fugaku"

Sakura diam, wanita merah muda itu bingung. Dia sama sekali tak mengenal kedua tamunya.

Melihat Sakura yang kebingungan, cepat-cepat Fugaku menambahi.

"Orangtua Sasuke"

"Maaf, siapa?" nada suara Sakura berubah, sedikit tinggi. Tidak selembut saat pertama kali bertanya.

"Sasuke, Uchiha Sasuke. Ano ... " Mikoto bingung harus menjelaskan apa pada Sakura.

"Sasuke ..." Sakura bergumam. 'Ooo ... jadi nama laki-laki brengsek itu Sasuke, Uchiha Sasuke lebih tepatnya'. "Silahkan duduk. Maaf ... saya tidak mengenal Bapak dan Ibu" Sakura mencoba kembali tersenyum.

"Terima kasih, jangan meminta maaf Haruno-san ... "

"Ha ... harusnya kami yang meminta maaf, kami telah menimpakan malapetaka pada gadis cantik sepertimu. Kami telah gagal mendidik putra kami. Sekarang kami tak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Kami ..." kata-kata Mikoto tak sanggup ia teruskan. Wanita ayu itu menangis.

Sakura diam. Perasaannya tak menentu. Benci dan marah menjadi satu.

"Gadis baik sepertimu tak sepatutnya tertimpa malapetaka seperti ini ... "

Sakura menoleh pada Fugaku dan Mikoto. Haruskah dia membenci mereka? Haruskah dia mengusir dan memaki mereka?.

"Haruno-san, kau boleh menghukum Sasuke apapun, tapi kami mohon ..., jangan biarkan dia masuk penjara, masa depannya masih panjang ... dia ..."

"Tidak kah Bapak dan Ibu tahu!, akibat perbuatan putra Bapak dan Ibu ... saya ... saya ... bukan lagi seorang gadis!" potong Sakura dengan air mata yang mengalir.

Fugaku ataupun Mikoto tertegun. Suami istri itu tak mengira jika ucapan Fugaku tadi sukses membuat Sakura kembali menangis.

"Haruno-san ... kami minta maaf. Kami pasti akan menghukum Sasuke sekeras-kerasnya. Tapi kami mohon, jangan biarkan dia masuk penjara"

Sakura serasa ingin meledak!. Wanita bernetra emerlad itu marah bukan main. Bibir tipisnya terkatup rapat, dia tak kuasa untuk berkata-kata. Belum pernah, Sakura belum pernah bertemu dengan orang seegois mereka.

Akibat perbuatan putra merekalah dirinya kehilangan nama baiknya, akibat putra mereka pula dia bahkan tak bisa mengikuti ujian akhir semester, bahkan mungkin dia akan kehilangan Gaara. Dan yang lebih ditakutkan Sakura adalah, jika dirinya hamil.

Tapi ... lihatlah! Mereka begitu egois. Mereka hanya memikirkan putra mereka. Mereka sama sekali tak peduli dengan dirinya, mereka tak peduli dengan masa depannya. Apa memang egois adalah tabiat orang kaya seperti mereka?

"Haruno-san ... kasihannilah kami, kami sudah tua ... jangan biarkan Sasuke masuk penjara" Mikoto masih saja berbicara. Mencoba negosiasi, agar putra bungsunya tak masuk bui.

Wanita berusia kepala empat itu tak peduli jika harga dirinya turun karena mengemis maaf pada Sakura.

Tapi sungguh! Sakura sama sekali tak mendengarkan ocehan Mikoto. Tak sepatah katapun masuk ke telinganya. Wanita merah muda itu gelisah dan gusar, dia tak bisa membayangkan jika si brengsek Sasuke yang menjadi ayah dari anak-anaknya. Dia tak mau, benar-benar tak mau.

Raut wajah cemasnya disadari oleh Fugaku. Lelaki setengah abad kurang enam tahun itu menepuk bahu Mikoto. Dia berbisik pada istrinya. Disangkanya perubahan raut wajah Sakura adalah akibat perkataan istrinya.

Sakura tak peduli dengan apa yang dibisikkan Fugaku pada istrinya. Wanita merah muda itu memasukkan tangan kirinya kebawah bantal dan menekan bel.

Menit berikutnya suster Kyoko masuk ke ruang inapnya.

"Sumimasen ..." Kyoko masuk dengan senyum ramah mengembang di wajahnya.

Suster cantik itu sangat bersimpati pada Sakura. Sejak masuk ke rumah sakit dua hari lalu, suster yang masih terlihat muda walalupun usianya hampir berkepala tiga itu sudah menganggap Sakura seperti adiknya sendiri, sebab itulah dia bergegas ke kamar Sakura saat didengarnya suara bel berbunyi.

Sepasang suami istri itu—Mikoto dan Fugaku menjadi gugup saat suster Kyoko masuk ke kamar inap Sakura. Terlebih saat kedua orang berbeda gender itu dipersilakan keluar.

"Masih ada sedikit yang perlu saya bicarakan pada Haruno-san" Mikoto mencoba menenangkan diri.

"Maaf Ibu, pasien ini tidak boleh terlalu lama mendapat gangguan, mungkin lain waktu" Kyoko mencoba bersikap ramah.

"Tapi ... kami tidak mengganggunya, kami hanya ..." Suster Kyoko menggeleng. Wajahnya mengeras seketika. Membuat Mikoto tak berani melanjutkan kata-katanya.

"Lima menit lagi ..." Mikoto mengiba.

"Lain waktu Ibu bisa mengunjunginya lagi." Kyoko membuka pintu kamar, mempersilakan kedua tamu Sakura untuk keluar.

"Besok?"

"..."

Suster Kyoko diam, pura-pura tak mendengar ucapan Mikoto. Dia berjalan mendekati Sakura. mengabaikan suami istri yang berjalan gontai keluar ruangan.

.

.

Empat Hari di rumah sakit membuat Sakura rindu akan aktivitas hariannya di kampus. Dia sudah meminta suster Kyoko agar dapat keluar dari rumah sakit. Sayang, dokter yang menanganinya belum memperbolehkan dia pulang. Mahasiswa kedokteran semester lima itu malah disarankan beristirahat total. Bahkan belajarpun tak di perbolehkan.

Beruntung, beberapa hari belakangan ini teman kuliahnya bergantian menjenguknya. Sedikit mengurangi kebosanannya. Mereka datang untuk menghiburnya. Menceritakan sesuatu yang lucu, berharap Sakura dapat melupakan masalahnya.

"Saki ... kau tahu Mayuri?" Yuki, teman satu kelompok praktikum pathologi Sakura mulai bercerita

"Anak yang selalu memakai baju kebesaran itu ...?"

"Yupz ... Dia tak lulus ujian kemarin, kau tahu kenapa?" Sakura diam, wanita bernetra emerald itu menggeleng

"Kenapa?"

"Memang Kau tahu alasan dia tak lulus ...? " Sayaka mendekat pada Yuki dan Sakura di ranjang pasien

"So pasti ... aku mengupingnya di toilet saat dia bercerita pada temanya"

"Memang kenapa ...?" Sakura penasaran.

"Dia disemprot oleh dokter Kabuto. Hanya karena salah mendiagnosa ciri-ciri paseien yang disebutkan dokter Kabuto" Yuki berhenti sejenak, dia berusaha menahan tawanya.

"Jangan tertawa Yuki ... ceritamu belum selesai ... " Ayako protes

"Dia ... dia mengatkan jika pasien itu hamil, hanya karena pasien itu amenorrhoe dua bulan, perut gendut dan muntah-muntah setiap paginya" Yuki tertawa.

"Bukankah itu jawaban benar ..." Satomi menginterupsi tawa Yuki

"Iya itu benar jika pasien itu perempuan, jika pasien itu laki-laki ...?"

Dan

Gerrr ...

Tawa mereka memenuhi ruangan itu, Gadis yang beberapa hari yang lalu telah menjadi wanita itu mau tak mau juga tertawa.

"Jadi pasien yang ciri-cirinya disebutkan dokter Kabuto itu laki-laki ...?" dengan wajah sedikit bingunng Ayako bertanya untuk memastikan, jika pemahaman dia atas cerita Yuki tak salah.

Yuki mengagguk, gadis dengan yaeba manis itu tak mampu mengeluarkan suara. Dia tengah asyik tertawa.

Dan, begitulah setiap harinya, teman-temannya tak pernah bosan untuk menjenguknya. menjadikannya sedikit dapat melupakan masalahanya sekaligus membuatnya semakin rindu suasana kampus.

.

.

"Ohayou, Sakura-Chan" Suster Kyoko masuk dengan peralatan medis dan sebuquet bunga mawar merah di tanganya.

"Ohayou" masih dengan suara paraunya Sakura menjawab

"Kau menangis lagi ...?" sembari memasang alat pengukur tekanan darah di lengan si pasien, Kyoko bertanya.

"Tidak, mungkin hanya kurang tidur"

"Jangan berbohong padaku Sakura, suara mu parau, dan hidungmu masih memerah"

Sakura hanya tersenyum menanggapi statment suster Kyoko.

"Saki ... keluarga Uchiha kembali mengirimimu bunga" mawar merah yang tadi diletakkan di rajang pasien kini telah berpidah kedalam vas buga di meja samping ranjang

"Sepertinya mereka menyukaimu" Suster Kyoko mencoba menggoda Sakura

"Aku tak peduli Kyoko-san, mereka sangat egois. Aku tak suka!"

"Jadi ... jika mereka tak egois kau menyukainya ...?"

"TIDAK AKAN! Putra mereka sudah menghacurka masa depanku! Aku benci mereka!" mimik wajah Sakura mengeras, wanita itu benar-benar marah.

"Oke-oke ... aku mengerti, lupakan mereka. Sekarang, makan sarapanmu lalu segera minum obatmu, sebentar lagi dokter Kawamaru akan ..."

Belum selesai suster Kyoko dengan ucapannya, dokter Kawamaru dan asistennya masuk ke ruang inap Sakura.

"Selamat pagi Haruno-san, "

"Selamat pagi dokter"

"Bagaimana keadaanmu?, Kau merasa lebih baik?" Dokter kawamaru bertanya sembari melihat daftar rekam medis di tangannya.

"Seperti yang dokter lihat. Aku lebih baik. Bahkan merasa lebih sehat. Apa aku boleh pulang hari ini?"

"Benar kau merasa lebih baik ...?"

"Sepertinya"

"Kau sudah bisa mengendalikan emosimu ...?"

"Aku sudah jarang berteriak histeris, tapi masih saja menangis saat mengingat kejadian itu"

"Baiklah. Untuk hari ini kau belum di perbolehkan pulang, tapi mungkin lusa kau boleh pulang dengan catatan kau harus benar-benar bisa mengendalikan emosimu" Dokter Kawamaru menyerahkan catatan medis Sakura pada asistennya.

"Benarkah dokter ...?" Dokter Kawamaru tersenyum menanggapi pertanyan pasiennya.

"Syukurlah ... Senin depan aku sudah bisa kembali ke kampus"

"Baiklah Haruno-san, jika kau membutuhkan sesuatu kau bisa memintanya pada suster Kyoko. Jangan lupa minum vitamin mu. Semoga lekas sembuh"

"Arigatou ... " bibir pink tipis miliknya tersenyum, mengiringi dokter Kawamaru keluar kamar inapnya

.

.

Siang ini wanita merah muda itu senang bukan main, lusa ia akan pulang dan kembali pada aktivitas harianya. Kuliah dan kerja part time. Lusa ia sudah bisa menggunakan ponsel pintarnya kembali. Dia sudah tak sabar ingin segera memeberitahu Gaara. Dan sangat-sangat ingin menginterogasi Ino, gadis yang telah memaksanya datang kepesta sialan itu. Berkat dialah kini sebutan gadis mungkin tak pantas di sandangnya.

Dan juga ... dia harus memutar otak, bagaimana cara dia memberitahu ayah dan ibunya di kampung halaman sana, bagaimana caranya agar ayah dan ibunya masih mau menerimanya setelah mendengar semua ceritanya. Masih banyak hal yang harus dia lakukan.

Semangat Sakura.

To Be Continue ...

Mind to review ...

Semarang-14-Desember-'16

Yuppi Candy

AN : buat balasan review di chap 1 ada di part 3 ya, sekalian review chap 2 *pdbangetadayangmaureviewceritalutong!

Terimakasih yang sudah mau baca dan review ini fic. :D. buat yang fav sama follow jugak .. sankyuu ... :D