Haaiii, bertemu lagi dengan author alay nan gaje ini xD buat yang udah review, follow dan nunggu chap berikutnya arigatou gozaimasuuu ;)

Di chap ini mungkin sedikit OOC, gomen *bow

karena beberapa alasan author mengganti cerita di chapter ini, Semoga ini nggak mengecewakan yaaaa


Kuroko Tetsuna masih bergeming dan memandang gerbang sekolah yang bernama SMA Teiko. Untuk pertama kali baginya Ia melewati hari pertama sekolah tanpa diantar kaasannya,salahkan sifat keras kepala Tetsuna yang bersikeras agar tidak diantarkan kesekolah.

Flashback on

"kaasan, aku sudah besar. Aku ingin berangkat sekolah sendiri." Bujuk Tetsuna.

"Tapi bagaimana kalau dijalan ada yang berniat jahat dengan Tetchan?, bagaimana kalau Tetchan tidak ada teman berangkat dan pulangsekolah?,bagaiman-" Tetsuna langsung memotong kata-kata kaasannya.

"Ayolah kaasan, aku sudah besar." sambil menunjukkan badannya yang tidak seberapa tinggi itu.

Kaasan hanya terkikik geli melihat putrinya yang sudah mulai menginjak remaja itu, mungkin sudah saatnya untuk Tetsuna belajar mandiri.

"Baiklah kaasan izinkan, tapi Tetchan harus sering hubungi kaasan ya?". "Dan jangan sampai tersesat lagi." Kata kaasan dengan nada jahil. Memang sejujurnya Ia takut Tetsuna tersesat lagi. Tetsuna mudah sekali tersesat apalagi jika ditempat yang sangat ramai karena hawa kebaradaannya yang sangat tipis.

"Hai, aku janji kaasan." jawab Tetsuna sambil memeluk kaasannya. "Kaasan jangan khawatir".

'Bohong pada Tetchan adalah tindakan sia-sia.' Batin kaasan.

Flashback off

"Aku memang mencari sekolah paling dekat dengan rumah agar bisa pulang dan pergi kesekolah sendiri tanpa harus diantar kaasan. Tapi aku lupa, aku belum punya teman sama sekali disini." Gumam Tetsuna.

'ramai sekali.' batinnya.

Tetsuna mulai melangkah memasuki sekolah. Sial baginya saat Ia baru sampai setengah jalan, bel tanda masuk pun berbunyi. Semua siswa yang tadinya berjalan santai mulai mempercepat langkahnya. Tetsuna panik, Ia juga belum tahu letak kelasnya.

'kelas X – 2.'batinya lagi sambil mengingat – ingat nama kelasnya.

Dan benar saja, kekhawatiran kaasannya kalau Ia akan selalu bermasalah dengan yang namanya keramaian.

"Ayo ikut aku, kau pasti anak kelas sepuluh juga kan?" tiba – tiba Tetsuna dituntun menjauhi keramaian dan sekarang mereka berdua sudah sampai di lorong kelas sepuluh. Ya,mereka berdua.

"Kau kelas sepuluh berapa?" tanya orang yang membantunya keluar dari keramaian tadi.

"X – 2, Kuroko Tetsuna desu. Yoroshiku." "Sumimasen, kau siapa?" tanya Tetsuna.

"Berarti itu kelasmu, kelas kita bersebelahan. X – 1, Akashi Seijuurou." Jawab akashi.

"Arigatou gozaimasu superma- err.. A..Akashi-san" kata Tetsuna sambil membungkuk sebentar lalu tersenyum kikuk. sebenarnya Ia juga kaget dengan ucapannya, kata – kata itu meluncur begitu saja dari mulutnya.

Akashi tersentak, sepertinya Ia mengenali orang yang pernah memanggilnya begitu. Lalu akashi mengajak Tetsuna bersalaman.

"Ya, bukan masalah." Akashi terdiam sebentar. 'Dugaanku tepat.' Batinnya, lalu tersenyum pada Tetsuna. Pandangannya melembut.

"Hai. Akashi-san sepertinya wali kelasku sudah menuju kemari, sebaiknya aku harus cepat - cepat kekelas." Tetsuna membungkuk sebentar kemudian beranjak pergi.

"Tunggu.." "Bisakah kau tidak memanggilku dengan akhiran –san?".

"Hai, Akashi-kun" Tetsuna tersenyum lagi lalu melanjutkan langkahnya.

Kelas Tetsuna terdengar sunyi, hanya ada suara seorang wanita paruh baya yang sedang memperkenalkan diri.

"Watashi wa Aida Riko desu. Bisa panggil saya Riko sensei, mulai sekarang saya akan jadi wali kelas kalian." Wanita bersurai pendek dan berwana coklat itu pun mengakhiri perkenalannya.

Tok..tok..tok..

"Sumimasen sensei, saya telat" kata seorang siswi bersurai pink panjang memasuki kelas.

"Baiklah kali ini saya maaf kan, tapi lain kali jangan sampai melakukan hal seperti ini lagi." Jawab Riko sensei sambil menyapu pandangan ke seisi kelas. Semua murid -minus Tetsuna- yang ada di kelas menelan ludah dan berkeringat dingin.

Siswi yang bernama Momoi Satsuki itu pun membungkuk sebentar sebagai ucapan terimakasih kemudian berjalan mencari tempat duduk yang kosong.

'Untung saja terlambat dihari pertama, jadi masih banyak toleransi.' batin Momoi sambil terkikik pelan takut ketahuan sang sensei.

Ia pun memilih duduk di bangku belakang yang hampir dekat dengan jendela,lalu...

"Kyaaaaa-" Momoi langsung menutup mulutnya dengan tangannya sendiri mengingat Ia habis di marahi oleh Riko sensei. "Se..sejak kapan ka..kau disitu?" Tanya Momoi di sela – sela rasa kagetnya.

"Sumimasen, aku sudah disini sebelum kau kesini." Jawab Tetsuna datar.

"Ah, maaf mungkin aku-" kata – kata Momoi terpotong oleh suaru Riko sensei.

"Momoi-san, sampai kapan kau akan berdiri disitu?" tanya Riko sensei yang dari tadi melihat Momoi berdiri di bangku paling belakang.

Momoi langsung duduk di sebelah Tetsuna dengan cepat, karena takut kena marah Riko sensei lagi.

"Anu.. maaf untuk yang tadi ya..err.. siapa namamu?" bisik Momoi.

"Kuroko Tetsuna desu" jawab Tetsuna.

Bel istirahat berbunyi.

Momoi yang sedari tadi sudah banyak bercerita saat Riko sensei sedang menerangkan dan beberapa kalli ketahuan dan dimarahi berulang – ulang pun mengajak Tetsuna berkeliling sekolah.

Awalnya Tetsuna menolak, namun karena Ia tidak tahan dengan rengekan teman barunya ini Ia akhirnya mengikuti Momoi.

Setelah lelah berkeliling, Tetsuna melirik jam tangannya.

"Momoi-san, sebentar lagi jam istirahat habis. Lebih baik kita cepat kembali kekelas" Tetsuna menarik tangan Momoi yang masih ingin berkeliling kesana kemari.

'Senang, bahagia atau terlalu bersemangat ya? Belum pernah aku merasakan perasaan yang seperti ini bahkan perasaan seperti ini bisa membuatku ikut bersemangat.' Batin Tetsuna bingung.

Braakk..

"Aduh.." Momoi menabrak seseorang, pria yang belum terlalu tua tapi bukan seperti seorang siswa. Tinggi, berkacamata, dan bersurai hijau.

"Ah sumimasen sensei" Momoi membungkuk lalu bergegas mengajak Tetsuna kembali kekelas.

Sesampainya dikelas.

"Daijobu desuka?" tanya Tetsuna.

"Hai, daijobu." "Ne, Tetchan. Kau tau dia itu siapa?" tanya Momoi tiba-tiba.

"Tidak, aku tidak mengenalnya Momoi-san" jawab Tetsuna, Ia masih tidak mengerti maksud Momoi. Sepertinya bukan pertanda bagus.

"Kau tau, dia adalah guru pembimbing OSIS SMA Teiko dan baru pindah kesini dua tahun yang lalu. Dia juga masih sangat muda. Tetchan, ayo kita daftar jadi pengurus OSIS. Kau mau kan? Ayolah Tetchan." Rengek Momoi.

'Ternyata benar kan, ini bukan pertanda bagus.' Batin Tetsuna.

"Kalau Tetchan diam, aku anggap kau menyetujuinya" Tetsuna hanya menggeleng - geleng pelan.

Momoi tertawa menang sampai akhirnya suara menginterupsi dari Riko sensei membuat Momoi diam seketika.

"Anak – anak perkenalkan ini guru pembimbing OSIS sekolah kita namanya Midorima Shintaro sensei, hari ini akan ada pemilihan perwakilan dari kelas kita untuk menjadi pengurus OSIS."

Berkat usaha dan upaya Momoi,hari ini berakhir dengan Tetsuna dan Momoi menjadi perwakilan dari kelas X – 2.

"Nanti kita mulai rapat sepulang sekolah di ruang OSIS di sebelah aula-nanodayo, kalian sudah tau kan dimana ruangannya?" tanya Midorima sensei.

"Hai" jawab Tetsuna dan Momoi kompak.

Braaakk(lagi)

"Aduh.." lagi – lagi Momoi menabrak orang, Tetsuna heran dengan teman barunya yang terlalu bersemangat ini.

Momoi melihat orang yang Ia tabrak.

"Daijobu desuka?" Tanya orang yang Momoi tabrak tadi.

"Da..daijobu" jawab Momoi, lalu Ia menatap Tetsuna dengan tatapan- menabrak- orang- itu membawa- berkah-loh- mau- coba?

Tetsuna hanya bergidik ngeri melihat tatapan temannya itu, siapa lagi yang ditabraknya kali ini?

.

.

.

TBC


Gomen ne minna, ceritanya kurang menarik *bow

Terimakasih untuk semua yang memberi kritik dan sarannya, itu sangat membantu saya yang masih pemula ini :)

Review please ^^