Main Cast: HunHan
Support Cast: Cari sendiri
Rating: T
Genre: Hurt, ANGST, Romance.
Author: DugeunDugeun1214
[WARN !] BL, BoysLove, Shounen-ai, OOC, AU, typo berkeliaran
Happy Reading~~
Chapter 2: Hate You Love You
BRUKK…!
"Aishh!" ucap Luhan dengan nada kesal sambil memejamkan matanya.
Hebat kau Xi Luhan, ini adalah hari pertamamu sekolah disini dan kau bahkan telah sukses membuat dirimu sendiri terlihat seperti orang bodoh. Tidak tau dimana letak kelas sendiri, tidak tau dimana ruang kepala sekolah, dan sekarang kau sukses membuat dirimu malu dengan jatuh di gerbang sekolah dan dilihat oleh banyak orang. Oh, aku tidak sanggup. Ini sangat memalukan. Appa… help me!
"Apa kau baik-baik saja?" Tanya seorang namja sambil mengulurkan tangannya yang berniat untuk membantu Luhan berdiri.
"HAH! Singkirkan tanganmu itu dariku. Aku bisa berdiri sendiri tanpa bantuanmu!" bentak Luhan sambil menepis tangan namja yang ingin membantunya berdiri.
Luhan pun segera berdiri dan membersihkan belakang celananya yang kotor akibat terjatuh tadi. Kejadian tadi sungguh membuatnya merasa sangat malu sekaligus marah kepada namja itu.
"Ya! Kau! Lihat apa yang telah kau lakukan, hah? Dan apa yang kau tanyakan tadi? Apa aku baik-baik saja? Hah, pertanyaan macam apa itu? Jelas-jelas kau melihatku jatuh dan kau masih bisa bertanya 'Apa kau baik-baik saja'? Dasar kau bodoh!" maki Luhan kepada namja yang berada di depannya itu, tapi namja itu hanya terdiam menatap Luhan.
Saat Luhan menatap mata namja itu, Luhan merasa ada sesuatu yang aneh di dalam dirinya. Ia merasa seakan-akan dulu ia sangat mengenali tatapan itu, tatapan yang dapat membuatnya nyaman.
Luhan juga menyadari adanya perubahan ekspresi pada wajah namja itu. Ia tidak mengerti kenapa namja itu menatapnya dengan tatapan kepada seseorang yang seakan-akan baru ia lihat kembali setelah sekian lamanya. Luhan pun mulai risih dengan tatapan namja itu.
"Ya! Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa ada yang salah dengan ku? Orang sepertimu itu tidak pantas menatapku seperti itu!" ujar Luhan sambil mengacungkan jari telunjuknya di depan muka namja itu.
Kai yang geram melihat sahabatnya hanya diam saja saat diperlakukan seperti itu langsung ikut campur untuk membela sahabatnya itu.
"Ya! Bisakah kau sopan sedikit kalau bicara? Apakah seperti ini orang tuamu mendidikmu di rumah?" bentak Kai.
"Dan apa-apaan ini? Jangan sekali-kali kau menunjuk-nunjuk Sehun seperti tadi, jika kau melakukan itu lagi maka aku akan-..
"AKAN APA?" potong seseorang dari dalam sekolah. Mereka bertiga pun langsung menoleh ke sumber suara yang memang bukan berasal dari salah satu diantara mereka.
"Ya! Kris! Kenapa kau lama sekali datang, hah? Kau tau, aku sudah sangat muak disini bersama dua orang aneh ini." Ucap Luhan sambil menunjuk Sehun dan Kai.
"Kalian saling kenal?" Tanya Kai sambil menatap kedua orang dihadapannya.
"Ne, Kris adalah sepupuku. Memangnya kenapa?" Luhan menjawab dengan angkuh pertanyaan Kai.
"Hahaha, ini sangat lucu. Ternyata kalian berdua adalah sepupu? Pantas saja kalian ini sama-sama sombong dan angkuh. Cih, ternyata kalian satu spesies." cibir Kai.
"Ayo Sehun-ah, kita pergi saja dari sini, udara disini tidak baik untuk kita. Hidung kita akan sakit jika bernapas dengan udara yang sudah tercemar dengan kesombongan-kesombongan mereka ini." Kata kai mengejek Luhan dan Kris. Kai pun dengan cepat berlalu dari hadapan dua orang yang sedang menatapnya dengan pandangan murka diikuti Sehun dibelakangnya yang hanya diam saja sedari tadi.
"YA! Bukan udaranya yang tidak baik untukmu, tapi hidung pesekmu itu yang tidak baik untuk bernapas! Dasar kau pesek, hitam, buluk, dekil! Pergi saja kau sana!" Luhan meneriaki Kai yang tidak perduli dan tetap berjalan memasuki sekolah.
"Biarkan saja dia. Ayo, kuantar kau ke ruang kepala sekolah." Kris merangkul bahu Luhan dan berjalan masuk ke dalam sekolah.
"Tak bisakah kau langsung mengantarku ke kelasku saja? Aku sudah sangat malas berkeliling di sekolah ini." Pinta Luhan seenaknya.
"Ya! Kau itu masih anak baru, jadi kau harus menghadap dulu di ruang kepala sekolah. Kalau kau mau, suruh saja appa mu membuatkanmu sekolah supaya kau tidak harus menghadap ke ruang kepala sekolah dulu jika ada sesuatu." Jawab Kris kepada Luhan yang memang sudah terlihat sangat malas untuk melakukan sesuatu. Luhan hanya diam mendengar perkataan Kris. Ia sudah sangat malas untuk membalas ocehan Kris yang menurutnya tidak penting itu.
Selama perjalanan menuju ruang kepala sekolah, Luhan hanya diam sambil bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Ada apa dengan namja tadi? Kenapa matanya berkaca-kaca saat menatapku? Apakah aku terlalu kasar memarahinya? Cih, dia itu namja atau yeoja, masa hanya gara-gara aku marahi seperti tadi ia langsung ingin menangis?
Eh.. tunggu dulu. Kenapa aku harus perduli kepadanya? Aku bahkan tidak pernah bertemu dengannya, jadi kenapa aku harus perduli. Ayolah Xi Luhan, dia bahkan sudah membuatmu malu tadi.
Luhan pun segera menghilangkan pikiran-pikiran yang sedari tadi mengganggunya dan kembali fokus berjalan menuju ruang kepala sekolah untuk menghadap.
Sesampainya di depan ruang kepala sekolah, Luhan menyuruh Kris saja yang masuk untuk menemui kepala sekolah sedangkan Luhan akan menunggunya di luar. Kris menuruti kemauan Luhan dan masuk ke dalam ruang kepala sekolah sendiri.
Sambil menunggu Kris keluar dari ruangan kepala sekolah, Luhan memutuskan untuk duduk dan beristirahat sejenak di kursi depan ruang kepala sekolah.
Luhan pun mengeluarkan earphone dari tasnya dan memakainya. Ia memandangi setiap sisi sekolahnya. Begitu banyak tanaman-tanaman kecil yang tertata di setiap sudut sekolahnya itu. Tak lupa pula mading-mading kecil yang tergantung di dinding sekolah membuat sekolah itu tampak lebih indah.
Sekolah barunya ini memang merupakan sekolah bertaraf internasional terbaik di Seoul. Hanya anak-anak pintar dan anak orang kaya saja yang bisa masuk di sekolah ini. Luhan sendiri pun bisa masuk ke sekolah ini karena kepala sekolah disini memang merupakan teman baik appanya. Tapi bukan berarti Luhan bodoh. Luhan juga merupakan anak yang berprestasi di sekolahnya yang dulu. Ia selalu mendapat juara satu di kelasnya. Itulah mengapa ia bisa dengan mudah masuk ke sekolah ini.
*Back to story*
"Kupikir sekolah ini cukup baik." Ucap Luhan sambil memejamkan matanya untuk beristirahat sejenak.
Belum lama Luhan memejamkan matanya, Kris sudah keluar bersama seseorang dari ruangan itu. Seseorang itu adalah kepala sekolah dari sekolah ini sekaligus teman baik dari appa Luhan.
Kris yang melihat Luhan tertidur pun segera mendekati Luhan dan menepuk pundak Luhan untuk membangunkannya. Luhan yang belum sepenuhnya tertidur pun membuka matanya dan ia sedikit terkejut melihat Kris sudah bersama dengan kepala sekolah.
Luhan melepaskan earphonenya dan memasukkan earphonenya ke dalam tas nya. Ia segera berdiri dan membungkuk untuk memberikan salam kepada kepala sekolah.
"Selamat pagi Luhan, lama tidak bertemu. Wah, kamu sudah besar rupanya. Bagaimana kabar appamu?" Tanya kepala sekolah tersebut sambil mengelus pelan rambut Luhan.
"Ne, appa baik-baik saja sajangnim." Balas Luhan sambil tersenyum kepada kepala sekolah itu.
"Kelihatannya kamu sangat lelah sampai-sampai kamu bisa tertidur disini. Apa yang sudah membuatmu lelah di hari yang masih pagi ini?"Tanya kepala sekolah yang memang melihat Luhan tadi tertidur.
"A-ah.. tidak. Tadi aku hanya memejamkan mataku sebentar selagi menunggu Kris." ucap Luhan sambil tersenyum.
"Aah, begitu. Oh iya Kris, kamu sekarang bisa kembali ke kelas. Biar bapak saja yang mengantar Luhan ke kelasnya." Perintah kepala sekolah kepada Kris. Kris pun segera pamit kepada kepala sekolahnya dan kembali ke kelasnya.
Baru beberapa langkah Kris berjalan, ia pun segera membalikkan badannya dan berkata kepada Luhan, "Hey Luhan-ah, karena aku sudah mengantarmu, jadi kau punya hutang budi padaku. Oke? Ingat itu!" Kris pun membalikkan badannya dan berlalu dari hadapan Luhan dan kepala sekolah tanpa menunggu jawaban dari Luhan.
Luhan mendelik kesal kepada Kris, kemudian ia menggerutu kecil, "Hal seperti ini dia sebut bantuan? Huh! Apa-apaan ini?" cibir Luhan.
Kepala sekolah hanya terkekeh kecil melihat kelakuan mereka berdua. Kepala sekolah pun akhirnya mengantar Luhan ke kelasnya.
.
.
.
[Sehun POV]
Aku menantap keluar jendela, tidak memperhatikan Kyuhyun saem yang sedang berbicara di depan kelas. Keadaan kelasku sekarang sangat ricuh. Aku tidak tau apa yang mereka bicarakan, tapi sepertinya kelasku kedatangan anak baru. Tapi aku tetap tidak perduli dengan itu karena yang kupikirkan sedari tadi hanyalah kejadian tadi.
Apakah orang yang kutabrak tadi adalah Luhan?
Pertanyaan itu terus mengganggu otakku. Aku terus melamun, sampai sebuah suara yang sangat familiar di telingaku membuatku tersadar. Suara itu berasal dari depan kelas. Aku pun segera mengalihkan pandanganku ke sumber suara.
"Perkenalkan, namaku Xi Luhan."
Suara itu.. suara yang sangat aku rindukan. Hatiku tiba-tiba merasa hangat dapat mendengar dan melihat seorang namja mungil pemilik mata rusa itu lagi. Sekarang aku sangat senang karena orang yang kutabrak tadi itu ternyata memang kau, Xi Luhan.
Mataku terus saja memperhatikan namja yang sedang berada di depan kelasku itu. Wajahnya sama sekali tidak berubah. Ia masih sama seperti dulu, masih tetap pendek dan… cantik.
"Eoh.. Sehun-ah, bukankah itu namja yang tadi?" Tanya Kai kepadaku. Aku tidak menjawab pertanyaan Kai. Aku masih terus memperhatikan rusa kecil itu. Aku tidak percaya kalau aku dan dia bisa bertemu kembali. Kurasa ini semua adalah takdir. Tanpa sadar aku telah menyunggingkan senyumku.
Kai yang melihatku sedari tadi tersenyum langsung menempelkan telapak tangannya di kening ku dan mengira kalau aku sedang sakit karena aku terus tersenyum. Tapi aku tidak menghiraukan kekonyolannya itu.
[Sehun POV End]
.
.
.
Selesai memperkenalkan dirinya, Kyuhyun sonsaengmin pun mempersilahkan Luhan duduk.
"Luhan-ah, kau bisa duduk di… emm…" Kyuhyun sonsaengnim mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kelas. Ia mencari kursi yang kosong untuk diduduki oleh Luhan.
"Luhan-ah, kau bisa duduk di samping Kyungsoo , tapi kursinya belum ada. Jadi… Ahh, Sehun-ah, sekarang kau temani Luhan ke gudang untuk mengambil kursi." Kyuhyun sonsaengnim menatap Luhan kemudian mengalihkan pandangannya ke Sehun dan menyuruhnya menemani Luhan untuk mengambil kursi.
"YA! Kau lagi? Jadi kita sekelas? Saem, apakah harus dia yang menemaniku? Kenapa bukan orang lain saja?" protes Luhan kepada Kyuhyun sonsaengnim sambil menyipitkan matanya kearah Sehun.
"Apa salahnya jika Sehun yang menemanimu? Dia adalah anak yang baikdan dia juga tidak makan orang kok." Canda Kyuhyun sambil menatap jahil kearah Luhan.
Luhan akhirnya mengalah dan menuruti perintah Kyuhyun sonsaengnim. Kyuhyun sonsaengnim memang terkenal dengan kejahilannya terhadap murid-muridnya.
.
.
.
Sehun dan Luhan berjalan di koridor sekolah menuju ke gudang. Sepanjang perjalanan hanya diisi oleh keluhan dari Luhan.
"Huh, katanya sekolah elit tapi kenapa anak baru harus mengambil kursi sendiri di gudang? Apa seperti ini kah pelayanan di sekolah elit?" Luhan terus berjalan dan diikuti oleh Sehun di belakangnya.
Sehun tengah memikirkan perkataan Luhan di kelas tadi. Awalnya ia sangat senang mengetahui bahwa ia sekelas dengan Luhan, tapi perkataan Luhan yang mengatakan bahwa ia tidak ingin bersama dengan Sehun membuat hati Sehun terluka.
Keheningan pun melanda mereka berdua. Tidak ada lagi gerutuan yang Luhan ucapkan dan Sehun pun hanya diam sedari tadi.
Setelah beberapa lama keheningan melanda mereka, akhirnya suara Luhan memecah keheningan diantara mereka. Ia berbalik dan berkata, "YA! Kenapa jalanmu sangat lambat? Kau kan disuruh untuk mengantarkanku ke gudang oleh Kyuhyun saem, tapi kenapa aku yang berada di depan? Memangnya aku tau gudang disekolah ini berada dimana?" omel Luhan. Luhan menghampiri Sehun dan menarik lengan Sehun untuk menyuruhnya berjalan dengan cepat.
"Kau mau aku tersesat eoh? Kau kan tau kalo aku ini anak baru." Gerutu Luhan lagi. Perjalanan mereka pun akhirnya diisi oleh gerutuan Luhan lagi. Sehun hanya tersenyum melihat kelakuan little bambinya yang tidak pernah berubah. Perilakunya juga masih sama seperti dulu, masih tetap cerewet dan suka menggerutu.
.
.
.
Mereka akhirnya sampai di depan gudang yang terletak di atap sekolah. Sehun pun mengeluarkan kunci gudang yang ia dapatkan dari penjaga sekolah dan segera membuka pintu gudang tersebut.
"Masuklah. Kau tunggu apa lagi?" ucap Sehun saat melihat Luhan masih mematung di luar gudang.
"Aku juga?" Luhan mengerutkan dahinya sambil mengacungkan jari telunjuknya kearahnya.
"Iya. Memangnya ada siapa lagi selain kita berdua disini? Lagian kan yang mau ambil kursi itu kau bukan aku." balas Sehun. Sehun memang sedang mengerjai Luhan karena menurutnya Luhan itu sangat lucu jika sedang marah-marah.
"Aku tidak mau. Kau saja yang ambilkan kursinya untukku." balas Luhan santai.
"Memangnya siapa yang mau mengambilkan mu? Tadi dikelas kau bilang kau tidak mau bersamaku, tapi kenapa sekarang kau meminta bantuanku?" balas Sehun dengan sok cuek.
"Bantuan? Sejak kapan aku meminta bantuanmu? Aku kan menyuruhmu bukannya meminta bantuanmu. Dasar pabbo! Sudahlah, kau memang namja yang tidak bisa diandalkan." Luhan pun akhirnya masuk dan melewati Sehun begitu saja dengan muka yang cemberut. Sehun menyunggingkan senyum jahilnya kepada Luhan.
Luhan melihat ke sekeliling ruangan yang penuh dengan kursi dan meja yang disusun bertumpuk ke atas. Ruangan itu sangat rapi meskipun penuh dengan meja dan kursi.
Ah sial! Kenapa kursi itu tinggi sekali? Mana bisa aku mengambilnya. Oh Sehun, awas saja kau nanti!
Luhan pun berjalan menuju ke tumpukan kursi dan meja itu. Bagaimana pun caranya ia harus bisa mengambil kursi itu tanpa bantuan namja menyebalkan itu. Ia pun berusaha mengambil kursi itu, tapi hasilnya tetap saja nihil. Sehun hanya terkekeh melihat Luhan yang berusaha keras mengambil kursi itu tanpa bantuannya.
Luhan akhirnya mengalahkan gengsinya untuk meminta bantuan kepada Sehun. "YA! Oh Sehun! Tega sekali kau melihatku kesusahan sedangkan kau hanya tertawa disitu. Apakah begini caramu untuk balas dendam kepadaku eoh? Dasar kau namja menyebalkan!" omel Luhan karena Sehun hanya berdiri di belakangnya sambil menertawakannya.
"Apakah ini kode agar aku membantumu? Hahaha, ternyata begini yah cara Xi Luhan meminta bantuanku? Oke oke.. aku akan membantumu." Sehun pun mendekati Luhan dan membantu Luhan untuk mengambil kursi. Sehun dengan mudah menggapai kursi itu karena memang ia lebih tinggi daripada Luhan.
Sehun pun sekarang sudah tepat berada di samping Luhan. Luhan memandangi namja itu. Baru kali ini ia bisa memandangi wajah namja itu dari dekat. Tampan. Itulah kesan pertama saat melihat wajah namja itu dari dekat. Dagu v, hidung mancung dan alis nya yang hitam dan sangat tebal itu sangat cocok dengan mukanya. Ditambah lagi kulit putih susunya yang sangat cocok dengannya membuatnya menjadi lebih tampan.
Sehun sudah memegang satu kursi dan berniat untuk memberikannya ke Luhan, tapi ia mendapati Luhan sedang memandanginya. Sehun pun bertanya kepada Luhan, "Luhan.. Kenapa kau memandangi ku? Apakah ada yang salah dengan wajahku?" tanyanya membuyarkan lamunan Luhan.
"A..ah. Apa kau bilang? Apa ada yang salah dengan mukamu? Hah, tentu saja ada. Kau tau, mukamu itu sangat jelek. Aigoo, kenapa yah ada orang sejelek kau di dunia ini." Ejek Luhan sambil merebut kursi itu dari Sehun.
Astaga Luhan, apa yang sedang kau pikirkan tadi? Sadar Xi Luhan.. sadar! –batin Luhan.
Luhan pun dengan cepat berjalan keluar gudang, karena jika ia terus berlama-lama di gudang itu pasti Sehun akan tau kalau muka Luhan sudah memerah. Sehun lagi-lagi tersenyum melihat kelakuan rusa kecil itu.
Sehun keluar dan mengunci gudang itu dengan cepat. Ia berlari menyusul Luhan yang belum terlalu jauh dan langkahnya yang besar membuatnya dengan mudah menyusul Luhan.
"Hei Luhan, kau salting kan? Hayo ngaku, tadi pasti kau mengagumi wajahku kan?" goda Sehun sambil berdiri di hadapan Luhan untuk menghalangi jalan Luhan. Ia sedikit membungkukkan badannya dan mendekatkan wajahnya ke Luhan. Luhan pun segera menundukkan wajahnya untuk menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah itu. Sehun yang menyadari kalau wajah Luhan memerah langsung mengangkat dagu Luhan sehingga membuat pandangan mereka bersatu.
"Lihat.. Lihat.. Muka mu memerah Xi Luhan..Ternyata orang sejelek aku bisa membuat mukamu memerah juga yah." goda Sehun lagi sambil memamerkan smirk nya.
"Siapa juga yang memerah karena mu? Kau itu sudah jelek, kepedean pula jadi orang. Aku ini memerah karena di gudang tadi sangat panas dan aku itu orang yang tidak tahan sama panas. Jadi jangan harap deh aku mau memerah karena mu. Sudahlah, sana minggir." Ucap Luhan berbohong untuk menutupi malunya. Ia segera berjalan dengan cepat melalui Sehun. Sehun hanya mengikutinya dari belakang.
"Apa kau tidak mau aku bantu untuk membawakan kursimu?" teriak Sehun.
"Aku tidak butuh bantuanmu lagi." Balas Luhan sambil berteriak juga.
Sehun melihatinya dari belakang. Walaupun sikap Luhan tidak seperti dulu, tapi ia sangat senang bisa dekat dengan Luhan lagi. Mereka berdua pun kembali ke kelas dan mengikuti pelajaran Kyuhyun saem.
.
.
.
Tett.. Tett.. Tett..
Bel istirahat berbunyi, seluruh siswa mulai berhamburan keluar kelas. Ada yang berjalan menuju kantin, perpustakaan dan ada juga yang berjalan menuju taman.
Tapi lain halnya dengan namja yang satu ini. Ia bahkan tidak punya niatan sedikitpun untuk pergi ke kantin.
"Oi albino, kau tidak mau ke kantin?" Tanya Kai yang sedang membereskan buku-buku pelajarannya dan memasukkan nya ke dalam tas.
"Aniya jong-jong. kau saja yang ke kantin, Aku tidak lapar." Kata Sehun sambil membereskan buku-bukunya.
"Aishh! Bisakah kau berhenti memanggilku dengan sebutan kamjong atau jong-jong itu? Bagaimana jika fans-fansku mendengarnya, pasti mereka akan ilfeel kepada ku." Protes Kai sambil menggembungkan pipinya.
"Ya! Ya! Ya! Hentikan aegyo mu itu! Kau bukannya terlihat imut tapi malah terlihat sangat menjijikkan."
"Dan siapa yang kau sebut fans? Jjangu? Monggu? Jjangah? Atau mbak yuni istri mas cahyo si penjual cendol di depan sekolah itu eoh?" ledek Sehun membalas protesan Kai.
"Ah sudahlah, terserah apa katamu saja. Daripada meladeni mu, lebih baik aku ke kantin saja menemui noona-noona ku. Mereka sekarang pasti sudah menunggu ku. Noona, I'm coming." Ucap Kai dengan lantang di akhir katanya dan segera pergi menuju kantin.
Setelah melihat sahabatnya berlalu dari hadapannya, Sehun pun bangkit dari tempat duduknya dan memutuskan untuk pergi keatap sekolah.
.
.
.
Kris melangkah ke luar kelas menuju kelas Luhan untuk mengajaknya pergi ke kantin, tapi belum beberapa langkah handphonenya bergetar. Ia segera merogoh kantong celananya untuk mengambil handphonenya dan melihat ada satu pesan masuk. Ia pun membuka pesan itu dan membacanya.
From: Luhan
Kris, kau dimana? Aku sudah ada di kantin sekarang. Cepatlah kesini, jangan membuatku menunggumu terlalu lama!
"Baguslah kalau dia sudah di kantin, jadi aku tidak perlu lagi susah-susah menjemputnya." Kris memasukkan handphonenya ke dalam kantong celananya dan berlari menuju kantin.
Kris akhirnya tiba di kantin. Ia segera mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kantin untuk mencari sepupunya itu. Sampai akhirnya pandangan Kris tertuju pada seorang namja berambut coklat yang sedang sibuk memperhatikan ponselnya. Namja itu tidak lain adalah Luhan.
Niat jahil Kris pun muncul saat melihat Luhan yang tengah serius memperhatikan handphonenya. Kris berjalan dengan pelan kearah Luhan agar Luhan tidak menyadari keberadaannya dan ia menepuk pundak Luhan dengan keras disertai teriakan yang nyaring tepat ditelinga Luhan.
Luhan sontak terkaget. Ia pun berdiri dan menjitak kepala Kris dengan kuat karena sangat geram melihat kelakuan sepupunya barusan.
"Aduh." Kris meringis sambil memegangi kepalanya yang tadi dijitak oleh Luhan.
"Rasakan itu! Siapa suruh kau mengagetkan ku hah? Kau kira itu lucu? Bagaimana jika aku terkena serangan jantung karena kelakuanmu tadi?" Omel Luhan.
"Yaa.. palingan kalau kau kena serangan jantung kau akan dilarikan ke rumah sakit atau bisa jadi kau langsung dimasukkan ke dalam peti."celoteh Kris seenaknya. Dan sekali lagi-..
PLETAK! Kali ini sebuah tinjuan kecil sukses Luhan layangkan ke kepala Kris.
"YA! Xi Luhan! Apa kau sudah puas memukul kepala ku?"
"Belum. Sini aku tambahkan lagi." Balas Luhan seraya mengepalkan tangannya seolah-olah ingin memukul Kris lagi. Kris yang melihat hal itu dengan cepat langsung menghindar.
Luhan pun akhirnya kembali duduk di bangkunya dan diikuti oleh Kris yang duduk di hadapannya.
"Awas saja kalau kau bicara seperti itu lagi, aku tidak akan segan-segan menjahit mulut berisikmu itu!"Ancam Luhan. Luhan pun kembali mengalihkan pandangan ke handphonenya.
"Ah iya iya Luhannie. Oh iya, kenapa kau belum memesan makanan?" Tanya Kris yang melihat meja yang ditempatinya dengan Luhan masih kosong, tidak ada makanan.
"Aku menunggu mu bodoh! Cepatlah pesankan aku makanan!" Luhan memerintah Sehun tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya.
"Hah, dasar kau anak manja. Apa-apa harus dilayani. Cepatlah, kau ingin pesan apa?" Tanya Kris dengan ketus dan segera berdiri dari kursinya.
"Mmmm, aku mau jus strawberry saja. Cepat sana!"
Kris pun pergi dari hadapan Luhan sambil mendengus kesal. Sepertinya ia benar-benar harus bersabar jika mempunyai sepupu seperti Luhan.
.
.
.
"Kemana tiang listrik itu? Kenapa dia lama sekali?" dengan wajah bosan Luhan mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kantin, tapi hasilnya nihil. Kris tidak terlihat dimanapun. Luhan yang sudah bosan pun menopangkan dagunya dan mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja.
15 menit kemudian…
"Luhan-ah!"
Kris, orang yang sedari tadi ditunggu-tunggu Luhan pun datang lengkap dengan cengiran tidak jelas yang terukir di wajahnya.
"Yak! Kau kemana saja eoh? Kau tau, aku sudah sangat bosan disini. Jika saja menunggu bisa membuat manusia mati, mungkin aku sudah jadi mayat disini, huh!" kata Luhan penuh emosi dengan mata yang terus mengikuti pergerakan Kris yang mulai mendekati Luhan.
"Mianhae.. mianhae.. Aku tau aku salah." Ucap Kris meminta maaf kepada Luhan dan kembali duduk di bangkunya.
"Baguslah kalau kau tau kesalahanmu. Sekarang mana jus strawberry ku?" Luhan menyodorkan tangannya kea rah Kris untuk meminta jus nya.
"Itu.. itu… Eh, bagaimana ya.. Sebenarnya jus strawberry nya sudah habis Luhan-ah, hehehe." Luhan menatap tak percaya kepada Kris dengan mata rusa nya yang membulat lucu.
"Apa kau bilang? Habis? Apakah sekolah ini benar0benar sekolah elit? Kursi saja tadi aku harus mengambilnya sendiri di gudang, mana ditemani dengan Sehun. Dan sekarang, jus straw…"
Mata Kris membelalak mendengar Luhan menyebut nama Sehun, "Sehun? maksudmu orang yang tadi menabrakmu di gerbang sekolah itu?" Tanya Kris memotong perkataan Luhan.
"Hemm. Sehun temannya si kulit arang itu loh. Huh, mereka jika bersama seperti kopi susu saja. Hahaha~" Luhan tertawa karena ucapannya sendiri yang menurutnya sangat lucu.
"Jangan dekat-dekat dengan Sehun lagi. Dia tidak baik untukmu." Ucap Kris dingin.
"Kenapa aku tidak boleh dekat-dekat dengan Sehun? Apakah dia siswa berandal? Nakal? Pencari masalah? Perusuh? Atau apa?" kata Luhan parno sambil memajukan wajahnya.
"Tidak ada apa-apa. Tapi yang paling penting kau harus menjauhinya. Oke?" ucap Kris. Kris melirik jam tangannya dan berkata, "Umm, sepertinya aku masih ada urusan, jadi aku duluan yah. Bye Luhannie."
Kris pun berdiri dari duduknya dan menuju ke luar kantin dan meninggalkan Luhan sendiri.
"Tidak ada apa-apa tapi menyuruhku menjauhi Sehun? Dasar aneh."
Luhan yang juga sudah merasa bosan berada di kantin pun berdiri dan berjalan keluar kantin.
.
.
.
Setelah keluar dari kantin, Luhan terus saja memikirkan perkataan Kris saat di kantin tadi. Ia tidak tau apa maksud Kris mengatakan hal itu. Sebenarnya Sehun itu siapa? Karena terus memikirkan hal itu, Luhan tidak sadar bahwa ia sudah sampai di atap . ia memang sengaja pergi ke atap karena sewaktu bersekolah di Beijing dulu, Luhan memang selalu pergi ke atap jika ia membutuhkan waktu untuk sendiri.
Cklek!
Ia membuka pintu atap. Luhan pun berjalan ke tengah atap.
"Aishh, Kris membuatku pusing." Ucap Luhan kesal. Luhan terus berjalan menyusuri atap dan sesekali ia menendangi batu-batu kecil yang ada di hadapannya. Tapi saat ia menendang batu yang lumayan besar-..
"Aduh." Ringis seseorang membuat Luhan terkejut. Sepertinya batu yang tadi ditendang Luhan mengenai seseorang.
Luhan menoleh ke sumber suara dan benar saja, ia mendapati seorang namja tengah terduduk di lantai sambil memegangi dahinya yang berdarah.
Tungu..tunggu.. Dia berdarah? Oh tidak, matilah aku. Ini baru hari pertamaaku bersekolah disini, tapi kenapa kesialan terus saja menimpaku. Bagaimana kalau aku dikeluarkan dari sekolah ini?
Huh.. Tenanglah Luhan, kau tidak mungkin dikeluarkan dari sekolah ini, lagian kalau kau dikeluarkan kau kan punya Appa yang bisa kau andalkan.
Luhan berusaha menenangkan dirinya. Ia pun memutuskan untuk meninggalkan atap ini sebelum namja itu melihatnya. Luhan membalikkan badannya dan mengambil ancang-ancang untuk pergi secara diam-diam, tapi belum sempat ia pergi, sebuah suara sudah berhasil membuatnya mematung.
"Hei rusa tengil, kesini kau! Bisa-bisanya kau ingin kabur setelah membuatku terluka." Teriak seorang namja yang tidak lain adalah Sehun. Luhan yang tadinya mematung segera menenangkan dirinya kembali dan membalikkan badannya menanggapi teriakan dari Sehun.
"oh, kau rupanya." Luhan berjalan kearah Sehun dengan sok angkuh, seperti tidak terjadi apa-apa .
"Cepat obati aku! Kau tidak lihat aku terluka gara-gara kelakuanmu?" perintah Sehun sambil menunjuk luka di dahinya.
"Cih, memangnya kau siapa menyuruhku mengobatimu? Lagian siapa suruh kau berada di situ saat aku menendang batu?"cibir Luhan dan menyilangkan kedua lengannya didada.
"Ya! Memangnya aku tau kalau kau saat itu mau menendang batu? Sudahlah cepat obati aku." Sehun menarik tangan Luhan dan membuat Luhan terjatuh tepat dihadapan Sehun. wajah mereka sekarang sangat dekat.
Deg…
Deg…
Dia ini manusia atau bukan? Kenapa dia masih tetap tampan walaupun wajahnya berdarah seperti itu?
Luhan kagum dengan ketampanan Sehun. meskipun wajahnya berdarah, ia tetap saja tampan. Luhan bahkan sangat susah mengalihkan pandangannya dari Sehun.
"Kalau ka uterus-terusan mengagumi wajahku, kapan kau akan mengobatiku?" ledek Sehun yang berhasil membuat wajah Luhan memerah. Luhan pun segera membenarkan posisinya.
"Si-siapa yang mengagumi wajahmu? Kau masih ingat kana pa yang aku bilang saat di gudang tadi bahwa kau itu manusia terjelek di dunia ini eoh? Jadi kau tidak usah kepedean." Ucap Luhan gelagapan.
"Daripada kau terus-terusan mengomel, lebih baik kau obati aku. Darahku ini sudah mau habis gara-gara kau." Ucapnya.
Luhan akhirnya mengalahkan gengsinya dan mengobati Sehun. Ia mengeluarkan sapu tangannya dan sebuah plester luka. Luhan membersihkan darah Sehun terlebih dahulu dengan saputangannya.
"Dasar manja, hanya luka kecil begini saja kau tidak bisa tahan."
"Oh iya, aku mengobatimu bukan karena aku perduli kepada mu, tapi ini karena aku ingin membalas budi karena kau sudah menemaniku mengambil kursi di gudang tadi." Luhan terus saja berbicara saat membersihkan luka Sehun. Sehun yang melihatnya hanya tersenyum karena celotehan-celotehan Luhan.
Ia sangat bersyukur dapat melihat kembali orang yang ia rindukan selama ini. Dan sekarang orang itu ada tepat di depan matanya. Sudah lama sekali sejak terakhir kali ia mendengar celotehan-celotehan dari namja yang sangat ia sayangi ini.
Dia berharap bahwa dia dan Luhan kali ini bisa bersama lagi walaupun sifat Luhan tidak seperti dulu lagi. Tapi baginya Luhan tetaplah Luhan yang dulu. Luhan yang ia cintai.
Luhan akhirnya selesai membersihkan luka Sehun. Ia pun merebahkan badannya sembari meletakkan tangannya di belakang kepala, sedangkan Sehun hanya duduk di samping Luhan sambil melihat langit yang begitu cerah.
"Terima kasih Luhan." Ucap Sehun dengan senyuman yang terukir di wajahnya.
"Tidak usah berterima kasih." Balas Luhan ketus. Sehun lagi-lagi hanya tersenyum.
"Kenapa kau berada di sini? Bukankah tadi bel sudah berbunyi? Kau tidak bermaksud untuk membolos kan?" Tanya Sehun.
Bukannya menjawab, Luhan malah balik bertanya, "Memangnya kalau aku bolos urusannya denganmu apa? Daripada menanyaiku, justru kau yang kenapa berada disini?"
"Sudahlah, aku ingin tidur saja." Kata Sehun sambil membaringkan badannya di samping Luhan, Sehun pun memejamkan matanya. Luhan yang melihatnya pun ikut memejamkan matanya juga.
5 menit kemudian…
"Hei Luhan.. Luhan-ah.. Hei.. Heii.." Sehun menyiku pelan tangan Luhan untuk membuatnya bangun. Luhan yang merasa terganggu pun terbangun dan berkata, "APA? Kau ini sangat berisik! Kau tidak lihat aku sedang mencoba untuk tidur?" Bukannya menjawab pertanyaan Luhan, Sehun malah berdiri dan menarik tangan Luhan untuk mengikutinya.
.
.
.
Suara deru mobil yang saling bersahutan menambah kesan ramai kota Seoul pada siang hari yang terik ini.
"Ya! Berhenti! Seenaknya saja kau menarik tanganku." Luhan melepaskan tangannya dari genggaman Sehun.
"Lihat ini, tangan ku jadi memerah gara-gara kau." Luhan menyodorkan tangannya kehadapan Sehun. Sehun yang melihatnya segera mengambil tangan Luhan dan meniup-niupnya pelan.
"Huuff… huuff… Cha~ Tanganmu sudah sembuh kan?" Sehun tersenyum manis sambil memamerkan tangan Luhan yang sudah ditiupnya tadi.
"E-eh, apa yang kau lakukan?" Luhan menarik tangannya dan langsung berbalik memunggungi Sehun untuk menutupi pipinya yang tiba-tiba memerah.
Piipp.. Piipp..
"Luhan-ah, ayo naik. Bus nya sudah datang." Sehun menarik tangan Luhan untuk menginterupsi Luhan agar segera menaiki bus.
Belum sempat mereka berdua masuk ke dalam bus, Luhan membalikkan badannya ke hadapan Sehun dan bertanya, "Tunggu, sebenarnya kita ini mau kemana?"
"Sudahlah ikut saja. Yang penting hari ini akan menjadi hari yang menyenangkan." Sehun memegang bahu Luhan dan membalikkan badan Luhan agar Luhan segera menaiki bus.
"Nah, sekarang duduklah dengan tenang dan jangan banyak bertanya. jadilah anak yang manis untuk sehari ini." Ucap Sehun sambil mengusak rambut Luhan dengan lembut.
-TBC-
A/N: Annyeong Readers, Kami kembali^^
Maaf yah kami update chapter 2 nya lama, soalnya tugas-tugas sekolah kami lagi numpuk banget nihh :D Biasalahhh, anak sekolah :D
Maaf juga yah kalo ff nya kurang memuaskan dan bahasanya ada yang kurang sreg di hati, tapi nanti kdepannya kami akan berusaha perbaiki bahasa kami kok.. tenang aja :D
Makasih juga buat para Riders & Siders yang masih setia buat baca ff gaje ini J
Sekian dulu deh dari kami berdua.. Paipaii~
Jangan lupa RnR yah guys.. Salam DugeunDugeun :*
_HUNHAN FOREVER_
