Disclaimer : Kamichama Karin By Koge Donbo

Story : Malam Minggu Karin

Pairing : Kazune Kujyo & Karin Hanazono.

Warning : Gaje, Typo, ancur, ngak nyambung, sulit dimengerti, OOT, dll.

.

.

HAPPY READING

Selamat membaca Fic aneh ini ya..., semoga aja ngak akan menimbulkan efek pusing berkelanjutan :D

.

.

"Huh, hari ini aku lelah sekali" ucap seorang gadis cantik sembari merebahkan tubunya di atas Kasur yang empuk.

Tok tok tok

"Siapa?" tanya sang pemilik iris mata emerald itu.

"Karin chan, apa Himeka boleh masuk?" tanya Himeka yang tengah berdiri di depan pintu kamar Karin.

"Iya Himeka chan, buka saja. Pintunya tidak aku kunci kok" jawab Karin.

Himeka kemudian segera membuka pintu kamar Karin dan masuk kedalam. Himekapun langsung duduk di samping Karin yang masih terbaring.

"Karin chan." Panggil Himeka.

"Hmb?" jawab Karin.

"Begini..., itu..., bagaimana ya?, emb.."

"Himeka chan ada apa? bicaralah dengan jelas" ucap Karin sambil memosisikan tubuhnya untuk duduk.

"Begini Karin chan, Kazune kun dia..."

"Huh..., aku tidak mau membahas apapun yang berhubungan dengan Kazune kun" ucap Karin sembari memalingkan wajahnya ke arah jendela kamarnya.

"Tapi Karin chan, hari ini kan..."

"Iya hari ini kan hari sabtu, dan pada hari ini Kazune kun akan pergi berkencan dengan Rika Karasuma di cafe Sweet Mocachino, itukan yang Himeka chan ingin katakan" potong Karin ogah-ogahan.

Himeka hanya membalasnya dengan sebuah anggukan kecil.

"Sudahlah Himeka chan, aku tahu bahwa Kazune kun tidak mungkin menyukai gadis seperti ku. Aku tidak akan berusaha lagi."

"Kenapa Karin chan bicara seperti itu?, Karin chan tidak boleh menyerah!"

"Lalu aku harus bagaimana Himeka chan? Sudah jelas-jelas hari ini Kazune kun akan berkencan dengan Rika Karasuma. Lalu apa lagi yang bisa aku harapkan" ucap Karin dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

"Karin chan."

"Aku sudah tidak punya harapan lagi. Sampai kapanpun diri ku mustahil bisa bersama dengan Kazune kun," ucap Karin.

Tanpa Karin sadari secara perlahan air matanya jatuh membasahi kedua pipinya.

"Lihatlah Himeka chan, betapa cegengnya diriku." Tambah Karin sembari menghapus air matanya yang keluar.

"Tidak Karin chan, Karin chan jangan menangis,"

Himeka lantas menggengam kedua tangan Karin.

"Bagaimana Karin chan tahu bagaimana persaan Kazune kun terhadap Karin chan, kalau Karin chan sendiri tidak menanyakannya langsung?" tanya Himeka mencoba untuk memberikan semangat kepada Karin.

Karinpun menggelengkan-gelengkan kepalanya pelan.

"Tanpa bertanyapun aku sudah tahu Himeka chan,"

"Mana mungkin Kazune kun menyukai ku jika setiap saat dia selalu meremehkan ku dan mengajakku bertengkar. Itu sangatlah mustahil" ucap Karin lagi.

Kini cucuran air mata yang karin keluarkan bertambah semakin deras.

"Kamu tahu Himeka chan, disini..." ucap Karin sembari menunjukkan telunjuknya ke dadanya.

"Disini rasanya sangat sakit." Ungkapnya dengan berusaha menguatkan hatinya.

Baru kali ini Himeka melihat sosok Hanazono Karin dengan keadaan seperti ini. Karin yang biasanya selalu ceria dan bersemangat justru sekarang tengah menangis. Himeka hanya bisa menatap Karin dengan sedih.

"Gomen Karin chan" ucap Himeka.

"Tidak Himeka chan, Himeka chan tidak salah apa-apa. Ini memang aku sendirilah yang bersalah. Bagaimana mungkin aku bisa bermimpi bisa bersatu dengan Kazune kun?, Sekarang saat aku telah terbangun dari mimpiku, Kenyataan menjadi sangatlah menyakitkan." Ucapnya sedih.

"Karin chan, apa Karin chan tidak sebaiknya mengatakan semua ini kepada Kazune kun?" saran Himeka.

"Tidak," ucap Karin dengan memasang senyum yang dipaksakan.

"Aku tidak ingin menggangu hubungan mereka. Sudah ya Himeka chan, aku mau ke dapur dulu" ucap Karin dan langsung pergi meninggalkan Himeka sendirian di dalam Kamar.

Dengan langkah gontainya Karin berjalan dengan perlahan menuju dapur. Sesampainya di sana, Karin lantas mengambil sebuah gelas kaca dan menuangkan air mineral kedalamnya. Disaat itu pula Karin tengah di pusingkan dengan pikiran tentang Kazune.

"Apa ini semua adalah akhir dari perjuangan ku?" tanya Karin kepada dirinya sendiri.

"Dasar bodoh, apa yang kamu lakukan" ucap seorang laki-laki tampan yang telah lama menjadi pujaan hati seorang Hanazono Karin.

Karin hanya menatap Kazune dengan tatapan sayunya, tanpa mempedulikan air yang telah membasahi meja tempat Karin menuangkan air.

Kazune lantas menghampiri Karin dan membersihkan tumpahan air itu dengan kain.

"Aku tahu kalau kamu bodoh dalam hal pelajaran, tapi tak kusangka kalau kamu juga bodoh dalam hal seperti ini" omel Kazune sembari membersihkan meja.

Karin hanya diam membisu tanpa menanggapi perkataan Kazune. Kazune yang merasa aneh dengan tingkah Karin yang tidak seperti biasanya mulai cemas dengan keadaan Karin. Dilihatnya wajah Karin yang sedikit memucat dan didapatinya bekas air mata di pelupuk matanya.

"Karin, apa kamu baik-baik saja" tanya Kazune memastikan.

"Hmb" Hanya itulah yang Karin ucapkan.

Kemudian di ambilnya gelas yang berisi penuh dengan air itu. Akan tetapi Karin justru membuat gelas itu jatuh ke lantai dan memecahkannya dan saat ia hendak memunguti pecahan gelas itu, ia malah tergores salah satu serpihan gelas sehingga membuat jarinya berdarah.

"Sudah, biar aku saja" ucap Kazune yang langsung ikut memunguti pecahan itu.

Selesai itu Kazune langsung mengajak Karin ke ruang keluarga untuk mengobati luka Karin.

"Ada apa?" tanya Kazune pelan.

Sama dengan kejadian tadi, Karin masih tetap diam membisu.

"Huh," hela Kazune.

"Karin, apa kamu tidak bisa menjawab ku?" ucapnya dengan menatap wajah Karin.

Karin yang mendapatkan tatapan seperti itu dari Kazune hanya bisa menundukkan kepalanya. Sesungguhnya saat ini Karin tengah berusaha untuk menahan air mata yang telah memberontak di matanya. Kazune mulai tidak tahan lagi dengan semua tindakan Karin. Diangkatnya kepala Karin dengan kedua tangannya.

"Ada apa dengan mu? Jawablah" ucap Kazune dengan intonasi yang sedikit dinaikkan.

Himeka yang mendengar suara keras Kazune bergegas pergi ke ruang keluarga. Dan disaat yang bersamaan dengan kedatangan Himeka, saat itu pula Karin meneteskan air matanya.

"Karin chan," ucap Himeka terkejut.

Langsung saja Himeka berlari kearah mereka berdua dan Kazunepun segera melepaskan tangannya dari wajah Karin.

"Kazune kun, Kazune kun apakan Karin chan?" tanya Himeka dengan memeluk Karin yang masih menangis.

Kazunepun berdiri dari tempat duduknya saat ini.

"Aku sudah berusaha untuk bertanya baik-baik, tapi kamu sendiri yang membuatku bersikap kasar" ucap Kazune keras.

"Kazune kun tenanglah, Karin chan saat ini.."

"Tidak Himeka," potong Karin.

"Gomen Kazune kun, aku sudah membuat Kazune kun marah" ucap Karin tanpa memandang Kazune.

Sejujurnya Kazune sangatlah menghawatirkan Karin yang seperti ini. Namun apalah daya Kazune, jika Karin sendiri tidak mau memberitahunya. Kazune hanya bisa menyembunyikan semua perasaanya.

Karinpun menghapus air matanya dan berdiri. Ditatapnya sosok Kazune yang masih berdiri dengan menatapnya.

"Nee Kazune kun, kenapa Kazune kun tidak segera bersiap-siap. Bukankah hari ini Kazune kun ada kencan dengan Rika chan" ucap Karin dengan tersenyum.

Tentu saja senyum itu bukanlah sebuah senyuman tulus kebahagian, melainkah sebuah senyuman penyembunyi kepedihan.

"Itu bukan urusan mu" ucap Kazune dingin.

"Tentu saja. Memangnya aku siapa berani ikut campur dengan urusan Kazune kun. Aku benar-benar bodoh iya kan" ungkapnya masih tetap berusaha tersenyum, walaupun hatinya saat ini tengah teriris-iris.

"Cukup," ucap Kazune tiba-tiba.

"Sebenarnya ada apa denganmu Karin?" tanya Kazune cemas.

Karin langsung menggeleng-gelengkan kepalanya.

"emb~ Aku permisi ke kamar dan tolong jangan ada yang menggangguku untuk saat ini. Aku permisi." Setelah mengatakan itu Karin langsung berlari dan mengunci dirinya di dalam kamar.

.

.

"Ada apa dengan ku his hiks" tangis Karin di kamarnya.

Tok tok tok

"Karin chan, ini sudah jam 7 malam, sekarang waktunya makan malam" ucap Himeka dari balik pintu.

"Tidak apa Himeka chan, Himeka chan makan saja dulu" jawab Karin.

"Tapi Karin chan, Himeka tidak mau makan malam sendirian. Setengah jam yang lalu Kazune kun baru pergi dan Kazusa chan beserta Jin kun belum kembali dari konser musik mereka." Jelas Himeka.

"Kenapa Himeka chan tidak telepon Michiru kun saja"

"Himeka tidak mau, Himeka maunya Karin chan makan malam bersama Himeka" ucap Himeka.

"Panggillah Michiru kun" ucap Karin.

"Tapi Karin chan.."

"Lakukanlah Himeka chan" pinta Karin

"Apa setelah itu Karin chan mau keluar?" tanya Himeka.

"Hmb" jawab Karin singkat.

"Kalau begitu Himeka akan menelpon Michi kun, tapi sekarang Karin chan harus mau membuka pintu ini" pinta Himeka.

Beberapa saat kemudian Karin segera membuka pintu kamarnya.

"Karin chan" ditatapnya Karin saat ini yang keadaanya benar-benar membuat Himeka sedih.

"Sekarang Himeka chan, harus melakukannya" ucap Karin tanpa lemas.

"Baik, Sekarang Karin chan pergi dulu ke ruang makan. Himeka akan mengambil ponsel dulu dikamar dan memanggil Michi kun" ucap Himeka.

Karin tidak memberikan reaksi apa pun. Himeka kemudian segera pergi ke kamarnya yang terletak cukup jauh dari kamar Karin. Namun tanpa Himeka sadari, Karin justru memanfaatkan keadaan ini untuk pergi dari rumah tanpa memberitahu siapapun.

.

.

KARIN POV

"Maaf Himeka chan, tapi aku sedang ingin sendiri"

Akupun langsung berlari keluar meninggalkan rumah ini. Alasanku meminta Himeka chan memanggil Michiru kun adalah supaya Himeka chan tidak kesepian dirumah itu. Hanya dengan begini aku bisa tenang meninggalkan rumah ini.

Terus dan terus aku berlari sampai aku tiba di stasiun kereta. Kuputuskan untuk pergi ke tempat itu. Tempat dimana aku bisa menenangkan diriku dalam kesendirian.

"Hari ini bulan sangatlah indah" ucapku sembari melihat bulan purnama yang bersinar dengan terang dari dalam kereta.

Kereta ini berjalan dengan kencangnya hingga dalam hitungan menit saja aku sudah sampai di stasiun tujuanku. Akupun segera turun dari dalam kereta dan pergi ke tempat itu.

Sekali lagi kucoba menatap bulan purnama itu, namun seakan mengikuti isi hati ku. Perlahan-lahan cahayanya menghilang tertutup oleh awan tebal.

"Bahkan bulan pun enggan menemaniku" ucapku dalam kesedihan.

Kulangkahkan kakiku secara perlahan menyusuri jalanan yang sepi. Tempat yang aku tuju saat ini adalah sebuah taman yang terletak jauh dari rumah kediam keluarga Kujyo. Sebuah taman dimana menjadi tempat pertemuan pertama ku dengan Kazune kun. Saat ku ingat kejadian itu rasanya sangatlah lucu hingga bisa membuatku tertawa. Tapi kenapa justru sekarang rasanya sangat sakit sehingga membuat air mata ku tidak bisa berhenti mengalir. Apakah sesakit ini rasanya patah hati?.

Kulewati deretan-deretan bunga yang bermekaran itu dan kulanjutkan langkahku menuju sebuah jembatan putih yang terletak di dalam taman itu. Kuposisikan diriku tepat di tengah-tengah jembatan dan kulihat remang-remang cahaya bulan yang terpantul diatas sungai kecil dibawah ku.

"Aku ingin melihat cahaya," ucap ku pelan.

"Apakah tidak ada setitik saja cahaya untuk ku?" ucapku dengan diiringi jatuhnya deretan air dari dalam mataku.

Kupejamkan kedua mataku dan kubiarkan diriku larut dalam kesedihan. Didalam kesunyian dan desiran angin malam hanya Kazune kun yang ada di dalam pikiran ku.

"Kenapa..., Kenapa harus kamu yang muncul di pikiran ku," ucapku dalam hati.

"Kenapa"

"KARIN..." Kudengar sebuah suara yang sangat indah ini. Tapi mungkinkah, mungkinkah Kazune kun akan datang kemari?.

Kubuka kembali mataku dan kucoba untuk menegarkan diriku untuk melihat sekeliling ku.

DEG DEG DEG ,Berdegup kencanglah hati ini saat melihat sesesosok laki-laki yang tengah berlari kencang ke arah ku.

"Ka-Kazune kun," ucapku tak percaya.

"Ka-Kazune kun, ba-bagaimana bisa?" tanyaku bingung setelah Kazune kun tepat berada di depan ku dan menghentikan langkahnya.

"DASAR BAKA," teriaknya keras.

Kulihat wajah Kazune kun yang penuh dengan emosi itu.

"KAU PIKIR KAU SIAPA?."

"a-aku.."

"BAGAIMANA BISA KAU MELAKUKAN SEMUA INI?" ucapnya masih dengan intonasi tinggi.

Aku takut, entah kenapa aku sangat takut melihat Kazune kun yang seperti ini. Tak bisa ku tahan air mata ku ini untuk tidak keluar.

"Hiks hiks hiks..., go-gomen Kazune kun hiks... a-aku..,"

HUG..., syok. Kini mataku berhasil dibuat membulat dengan sempurna oleh Kazune kun. Kazune kun yang datang dengan memarahi ku tiba-tiba saja memeluk ku.

"Ka-Kazune kun" ucapku kaget.

"Cukup Karin, tolong jangan siksa diri ku lagi," Ucapnya pelan.

"Tolong hentikan semua ini." ucapnya lagi.

Aku tidak tahu harus bereaksi seperti apa untuk menanggapi ucapan Kazune kun barusan. Saat ini aku sudah cukup terkejut karena Kazune kun memelukku.

"Ka-kazune kun, tolong lepaskan aku. Aku tidak bisa berpikir dengan keadaan seperti ini." Pinta ku.

"Tidak" ucapnya tegas. Kazune kun justru mempererat pelukannya seakan tidak bersedia melepaskan diriku walaupun hanya sedetik.

"Karin tolong mengertilah, Kau sudah membuat ku sangat ketakutan" ucap Kazune kun dan dapat kudengar sebuah isakan diantara kata-katanya barusan.

Dan entah kenapa tangan ku seakan kehilangan kontrol dan balas mendekap Kazune kun. Rasanya aku ingin menumpahkan semua kesedihan ku sekarang, saat ini juga kepada Kazune kun. Kucoba untuk sekali lagi menegarkan diriku. Aku tidak mau jika ini hanyalah mimpi dan saat nanti aku terbangun semua ini akan menghilang.

"Kenapa kamu lakukan ini Kazune kun, kenapa kamu membuatku menjadi berharap padamu," ucapku sesenggukan.

"Biarkanlah diriku ini sendirian..., jauh darimu dan ..."

"Mana mungkin aku melakukan itu," potong Kazune kun.

"Mana mungkin aku akan membiarkan mu sendirian. Mana mungkin aku membiarkan mu jauh dari ku," ucapnya.

Kata-kata itu sangat indah seandainya itu semua adalah kenyataan, namun aku sudah tidak berani untuk berharap lagi.

"Dan..., dan mana mungkin aku bisa hidup jauh dari mu Karin"

"Ka-Kazune kun"

"Aishiteru Karin, aku sungguh sangat-sangat mencintai mu," ucapnya tiba-tiba yang sukses besar membuatku membeku.

"Ke-kenapa?... I-ini pasti hanya kebohongan" ujarku tak percaya.

Kazune kun lantas melepaskan pelukannya dan menatap kedua mata ku dengan kedua matanya.

"Apa sebenci itukah dirimu padaku sehingga kamu tidak bisa mempercayai ucapanku?," ucapnya dengan nada penuh kesedihan.

"Baiklah jika kamu memang sangat membenci ku. Aku tahu memang aku tidaklah pantas untuk seorang gadis baik seperti mu" ucapnya dengan menundukkan kepalanya.

"Itu tidak benar," ucapku.

Seketika itu Kazune kun kembali menatap wajah ku.

"Akulah yang tidak pantas untuk bersanding dengan seorang Kazune Kujyo. Akulah yang tidak pantas." ucapku dengan air mata yang masih tetap membasahi pipiku.

"Karin, tolong jangan menyiksa ku lagi. Tolong katakan kalau kamu juga mencintai ku. Tolong katakan walaupun hanya sedikit rasa yang dapat kamu berikan untuk ku. Setidaknya tolong katakan itu karin kumohon." Ucapnya dengan air mata yang juga membasahi pipinya.

"Tidak" ucap ku dan raut wajah Kazune kun langsung berubah menjadi sangat-sangat suram.

"Tidak. Karena rasa cintaku untuk Kazune kun sangatlah besar. Aku sangat-sangat mencintai Kazune kun, sangat" ungkapku.

Dan setelah itu Kazune kun kembali memelukku dan akupun balas memeluk Kazune kun.

"Terima kasih Karin, terima kasih" ucapnya dengan suara yang bergetar.

Sekarang dengan diiringi oleh cahaya rembulan yang terang benderang, Aku telah berhasil mendapatkan cahaya ku. Sebuah cahaya yang aku kira tidak akan mungkin aku dapatkan.

"Karin mulai sekarang jangan pernah tinggalkan aku lagi. Jangan pernah pergi jauh dari ku" pintanya lembut.

"Iya" jawab ku riang.

.

.

.

OWARI

.

.

.

Nah ceritanya berakhir sampai disini. Gomen ya kalau tidak sesuia harapan para readers. Walaupun begitu tolong jangan lupa untuk Review ya Plese...

Baiklah READERS REVIEW PLAESE ...

*Oke Readers tolong tunggu chapter bonusnya juga ya *